Anda di halaman 1dari 4

EMFISEMA

Emfisema adalah penyakit yang gejala utamanya adalah penyempitan (obstruksi) saluran napas, karena kantung udara di paru menggelembung secara berlebihan dan mengalami kerusakan yang luas. (pdpersi, 2013)(Alsagaf, 2005)

Pada awal gejalanya serupa dengan bronkhitis Kronis seperti napas terengah-engah disertai dengan suara seperti peluit, dada berbentuk seperti tong, otot leher tampak menonjol, penderita sampai membungkuk, bibir tampak kebiruan, berat badan menurun akibat nafsu makan menurun, batuk menahun.(pdpersi, 2013). Eksaserbasi akut ini dapat dibagikan menjadi dua yaitu gejala respirasi dan gejala sistemik. Gejala respirasi berupa sesak nafas yang semakin bertambah berat, peningkatan volume dan purulensi sputum, batuk yang semakin sering, dan nafas yang dangkal dan cepat. Gejala sistemik ditandai dengan peningkatan suhu tubuh, peningkatan denyut nadi serta gangguan status mental pasien (Riyanto, Hisyam, 2006).

Penyebab dari Emfisema maupun Bronkhitis Kronis yang berkaitan dengan merokok seperti Mengisap asap rokok/debu dan juga pengaruh usia.

Konsep pathogenesis menurut Perhimpunan Dokter Paru Indonesia dari terjadinya emfisema adalah sebagai berikut :

Emfisema ditandai oleh pelebaran rongga udara distal bronkiolus terminal, disertai kerusakan dinding alveoli. Sehingga secara anatomik dibedakan tiga jenis emfisema: 1. Emfisema sentriasinar, dimulai dari bronkiolus respiratori dan meluas ke perifer, terutama mengenai bagian atas paru sering akibat kebiasaan merokok lama 2. Emfisema panasinar (panlobuler), melibatkan seluruh alveoli secara merata dan terbanyak pada paru bagian bawah 3. Emfisema asinar distal (paraseptal), lebih banyak mengenai saluran napas distal, duktus dan sakus alveoler. Proses terlokalisir di septa atau dekat pleura

Menurut PDPI dalam menegakkan diagnosis kasus PPOK khususnya emfisema adalah sebagai berikut A. Anamnesis : 1. Riwayat merokok atau bekas perokok dengan atau tanpa gejala pernapasan 2. Riwayat terpajan zat iritan yang bermakna di tempat kerja 3. Riwayat penyakit emfisema pada keluarga a. Terdapat faktor predisposisi pada masa bayi/anak, mis berat badan lahir rendah (BBLR), infeksi b. saluran napas berulang, lingkungan asap rokok dan polusi udara 4. Batuk berulang dengan atau tanpa dahak 5. Sesak dengan atau tanpa bunyi mengi

B. Pemeriksaan Fisik 1. Inspeksi 1. Pursed - lips breathing (mulut setengah terkatup mencucu) 2. Barrel chest(diameter antero - posterior dan transversal sebanding) 3. Penggunaan otot bantu napas 4. Hipertropi otot bantu napas 5. Pelebaran sela iga 6. Bila telah terjadi gagal jantung kanan terlihat denyut vena jugularis di leher dan edema tungkai 2. Palpasi Pada emfisema fremitus melemah, sela iga melebar 3. Perkusi

Pada emfisema hipersonor dan batas jantung mengecil, letak diafragma rendah, hepar terdorong ke bawah 4. Auskultasi 1. suara napas vesikuler normal, atau melemah 2. terdapat ronki dan atau mengi pada waktu bernapas biasa atau pada ekspirasi paksa 3. ekspirasi memanjang 4. bunyi jantung terdengar jauh 5. Pink puffer C. Pemeriksaan Penunjang 1. Radiologi 1. Foto toraks PA dan lateral berguna untuk menyingkirkan penyakit paru lain 2. Pada emfisema terlihat gambaran : Hiperinflasi Hiperlusen Ruang retrosternal melebar Diafragma mendatar

Dan untuk catatan gambaran yang khas pada emfisema, penderita kurus, kulit kemerahan dan pernapasan pursed - lips breathing.

Dari kejadian emfisema dapat menimbulkan komplikasi akibat dari sering mengalami infeksi ulang pada saluran pernapasan, daya tahan tubuh kurang sempurna, proses peradangan yang kronis di saluran napas, tingkat kerusakan paru makin parah.(pdpersi, 2013)

Penatalaksanaan menurut PDPI untuk kasus emfisema dapat menggunakan 1. Bronkodilator Diberikan secara tunggal atau kombinasi dari ketiga jenis bronkodilator dan disesuaikan dengan klasifikasi derajat berat penyakit 2. Antiinflamasi Digunakan bila terjadi eksaserbasi akut dalam bentuk oral atau injeksi intravena, berfungsi menekan inflamasi yang terjadi, dipilih golongan metilprednisolon atau prednison. Bentuk inhalasi sebagai terapi jangka panjang diberikan bila terbukti uji kortikosteroid positif yaitu terdapat perbaikan VEP1pascabronkodilator meningkat > 20% dan minimal 250 mg. 3. Antibiotik

4. Antioksidan 5. Mukolitik

Untuk upaya preventif sepertihalnya dalam penanganan PPOK dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : 1. Mencegah terjadinya PPOK a. Hindari asap rokok b. Hindari polusi udara c. Hindari infeksi saluran napas berulang

2. Mencegah perburukan PPOK a. Berhenti merokok b. Gunakan obat-obatan adekuat c. Mencegah eksaserbasi berulang (pdpersi ,2013)

Referensi

Alsagaf, Hood, dkk. 2005. Dasar dasar Ilmu Penyakit Paru. Cetakan ke 3, Airlangga University Press, Surabaya. PDPI, 2003. Buku Pedoman dan Penatalaksanaan Penyakit Paru Obstruktif Kronik. http://www.klikpdpi.com/ tanggal akses 10 Maret 2014 Sigitrianto B., Hisyam B., 2006. Obstruksi Saluran Pernafasan. Dalam: Sudoyo et al. ed. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi ke-4. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

PDPERSI, 2013 diakses di

http://www.pdpersi.co.id/content/ajax_popular_science.php?psid=33
tanggal akses 10 Maret 2014