Anda di halaman 1dari 24

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi Prostat adalah suatu organ kelenjar yang fibromuskular, yang terletak persis dibawah kandung kemih. Berat prostat pada orang dewasa normal kira-kira 20 gram, didalamnya terdapat uretra posterior dengan panjangnya 2,5 !m.

"Weineth,1992#. Pada bagian anterior disokong oleh ligamentum pubo-prostatika yang melekatkan prostat pada simpisis pubis. Pada bagian posterior prostat terdapat $esikula seminalis, $as deferen, fasia denon$illiers dan re!tum. Pada bagian posterior ini, prostat dimasuki oleh du!tus ejakulatorius yang berjalan se!ara obli%ue dan bermuara pada $eromentanum didasar uretra prostatika persis dibagian proksimal spingter eksterna. Pada permukaan superior, prostat melekat pada bladder outlet dan spingter interna sedangkan dibagian inferiornya terdapat diafragama urogenitalis yang dibentuk oleh lapisan kuat fasia pel$is, dan perineal membungkus otot le$ator ani yang tebal. "5#.

&ambar '.' (natomi kelenjar prostat dan uretra ")#

B. Definisi Benigna Prostat Hiperplasia *iperplasia adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan adanya replikasi sel yang berlebihan. BP* adalah pertumbuhan non-kanker dari glandula prostat "+# C. Etiologi *ingga sekarang masih belum diketahui se!ara pasti. ,aktor resiko yang dominan untuk berkembangnya BP* adalah bertambahnya usia pada pria dan adanya androgen atau dengan kata lain berfungsi baiknya testis oleh karena sel -eydig di testis merupakan penghasil androgen yang utama. ".# Beberapa hipotesis yang menyebutkan bahwa BP* erat kaitannya dengan peningkatan kadar /*0 dan proses aging. Beberapa hipotesisnya antara lain1 "'# teori /*0, "2# adanya ketidakseimbangan antara estrogen-testosteron, " #

interaksi antara sel stroma dan sel epitel prostat, ".# berkurangnya kematian sel "apoptosis#, dan "5# teori stem sel. ".# a. 0eori /*0 /*0 adalah metabolit androgen yang sangat penting pada pertumbuhan sel kelenjar prostat. /*0 dihasilkan dari reaksi perubahan testosteron di dalam sel prostat oleh en2im 5alfa reduktase dengan bantuan koen2im 3(/P*. /*0 yang telah terbentuk berikatan dengan respetor androgen "4(# membentuk kompleks /*0-4( pada inti sel dan selanjutnya terjadi sintesis protein growth fa!tor yang menstimulasi pertumbuhan sel prostat. "5# Pada berbagai penelitian dikatakan bahwa kadar /*0 pada BP* tidak jauh berbeda dengan kadarnya pada prostat normal, hanya saja pada BP*, akti$itas en2im 5alfa-reduktase dan jumlah reseptor androgen lebih banyak pada BP*. *al ini menyebabkan sel prostat pada BP* lebih sensitif terhadap /*0 sehingga replikasi sel lebih banyak terjadi dibandingkan dengan prostat normal. ".# b. 5etidakseimbangan antara estrogen-testosteron Pada usia semakin tua, kadar testosteron menurun, sedangkan kadar estrogen relatif tetap sehingga perbandingan antara estrogen1 testosteron relatif meningkat. 0elah diketahui bahwa estrogen di dalam prostat berperan dalam terjadinya proliferasi sel-sel kelenjar prostat dengan !ara meningkatkan sensitifitas sel-sel prostat terhadap rangsangan hormon androgen,

meningkatkan jumlah reseptor androgen, menurunkan jumlah kematian sel-sel prostat "apoptosis#. *asil akhir dari semua keadaan ini adalah, meskipun

rangsangan terbentuknya sel-sel baru akibat rangsangan testosteron menurun, tetapi sel-sel prostat yang telah ada mempunyai umur yang lebih panjang sehingga massa prostat jadi lebih besar. ".# !. 6nteraksi stroma-epitel 7unha "'8+ # membuktikan bahwa diferensiasi dan pertumbuhan sel epitel prostat se!ara tidak langsung dikontrol oleh sel-sel stroma melalui suatu mediator "growth fa!tor# tertentu. 9etelah sel-sel stroma mendapatkan stiimulasi dari /*0 dan estradiol, sel-sel stroma mensintesis suatu growth fa!tor yang selanjutnya mempengaruhi sel-sel epitel se!ara parakrin. 9timulasi itu menyebabkan terjadinya proliferasi sel-sel epitel maupun sel stroma. ".# d. Berkurangnya kematian sel prostat Program apoptosis pada sel prostat adalah mekanisme fisiologik untuk mempertahankan homeostasis kelenjar prostat. Pada apoptosis terjadi kondensasi dan fragmentasi sel yang selanjutnya sel-sel yang mengalami apoptosis akan difagosit oleh sel-sel disekitarnya kemudian didegradasi oleh lisosom. ".# Pada jaringan normal terdapat keseimbangan antara laju proliferasi sel dengan kematian sel. Pada saat terjadi pertumbuhan prostat sampai pada prostat dewasa, penambahan jumlah sel-sel prostat baru dengan yang mati dalam keadaan seimbang. Berkurangnya jumlah sel-sel prostat yang mengalami apoptosis menyebabkan jumlah sel-sel prostat se!ara keseluruhan menjadi meningkat sehingga menyebabkan pertambahan massa prostat. ".#

e. 0eori stem sel :ntuk mengganti sel-sel yang telah mengalami apoptosis, selalu dibentuk sel-sel baru. /i dalam kelenjar prosta dikenal suatu stem sel, yaitu sel yang mempunyai kemampuan berproliferasi sangat ekstensif. 5ehidupan sel ini sangat tergantung pada keberadaan hormon androgen, sehingga jika hormon ini kadarnya menurun seperti yang terjadi pada kastrasi, menyebabkan terjadinya apoptosis. 0erjadinya proliferasi sel-sel pada BP* dipostulasikan sebagai ketidaktepatnya akti$itas sel stem sehingga terjadi produksi berlebih sel stroma maupun sel epitel. ".# D. Patofisiologi Pembesaran prostat menyebabkan penyempitan lumen uretra pars prostatika dan akan menghambat aliran urine. 5eadaan ini menyebabkan peningkatan tekanan intra$esikal. :ntuk dapat mengeluarkan urin, buli-buli harus berkontraksi lebih kuat guna melawan tahanan itu. 5ontraksi yang terus-menerus ini menyebabkan perubahan anatomik dari buli-buli berupa hipertrofi otot detrusor, trabekulasi, terbentuknya selula, sakula, dan di$ertikel buli-buli. Perubahan struktur pada buli-buli dirasakan oleh pasien sebagai keluhan pada saluran kemih sebelah bawah atau lower urinary tra!t symptom "-:09# yang dahulu dikenal dengan gejala-gejala prostatismus. ".#. /engan semakin meningkatnya resistensi uretra, otot detrusor masuk ke dalam fase dekompensasi dan akhirnya tidak mampu lagi untuk berkontraksi sehingga terjadi retensi urin. 0ekanan intra$esikal yang semakin tinggi akan diteruskan ke seluruh bagian buli-buli tidak terke!uali pada kedua muara ureter.

0ekanan pada kedua muara ureter ini dapat menimbulkan aliran balik urin dari buli-buli ke ureter atau terjadi refluks $esi!o-ureter. 5eadaan ini jika berlangsung terus akan mengakibatkan hidroureter, hidronefrosis, bahkan akhirnya dapat jatuh ke dalam gagal ginjal. ".#

&ambar 2.2. Bagan pengaruh hiperplasia prostat pada saluran kemih E. Epidimiologi Pembesaran prostat jinak "BP*# merupakan penyakit pada laki-laki usia diatas 50 tahun yang sering dijumpai. 5arena letak anatominya yang mengelilingi uretra, pembesaran dari prostat akan menekan lumen uretra yang menyebabkan sumbatan dari aliran kandung kemih. 9ignifikan meningkat dengan meningkatnya usia. Pada pria berusia 50 tahun angka kejadiannya sekitar 50;, dan pada usia <0 tahun sekitar <0;. 9ekitar 50; dari angka tersebut diatas akan menyebabkan gejala dan tanda klinik. 5arena proses pembesaran prostat terjadi se!ara perlahanlahan maka efek perubahan juga terjadi perlahan-lahan "8#.

/i 6ndonesia BP* merupakan urutan kedua setelah batu saluran kemih dan diperkirakan ditemukan pada 50; pria berusia diatas 50 tahun dengan angka harapan hidup rata-rata di 6ndonesia yang sudah men!apai )5 tahun dan diperkirakan bahwa lebih kurang 5; pria 6ndonesia sudah berumur )0 tahun atau lebih. 5alau dihitung dari seluruh penduduk 6ndonesia yang berjumlah 200 juta lebih, kira-kira '00 juta terdiri dari pria, dan yang berumur )0 tahun atau lebih kira-kira 5 juta, sehingga diperkirakan ada 2,5 juta laki-laki 6ndonesia yang menderita BP*. (10). F. e!ala Klini" &ejala hiperplasia prostat dapat menimbulkan keluhan pada saluran kemih maupun keluhan di luar saluran kemih. ".# &ejala pada saluran kemih bagian bawah 5eluhan pada saluran kemih sebelah bawah "LUTS# menurut 6nternational 7ontinen!e 9o!iety "679# 2002 terdiri atas gejala $oiding "obstruktif#, gejala storage "iritatif#, dan post miksi &ejala $oiding disebabkan oleh karena penyempitan uretara pars prostatika karena didesak oleh prostat yang membesar dan kegagalan otot detrusor untuk berkontraksi !ukup kuat dan atau !ukup lama sehingga kontraksi terputus-putus. &ejalanya ialah 1 ".,' # *arus menunggu pada permulaan miksi "Hesistency# Pan!aran miksi yang lemah "Poor stream# =iksi terputus "Intermittency# =enetes pada akhir miksi "Termina !ri"" in##

9ulit untuk mengosongkan $u "Strainin# to $oi!). S% ittin# atau s%rayin# "menyemprot# =anifestasi klinis berupa obstruksi pada penderita hipeplasia prostat masih tergantung tiga faktor yaitu 1 ".# >olume kelenjar periuretral ?lastisitas leher $esika, otot polos prostat dan kapsul prostat 5ekuatan kontraksi otot detrusor 0idak semua prostat yang membesar akan menimbulkan gejala obstruksi, sehingga meskipun $olume kelenjar periuretal sudah membesar dan elastisitas leher $esika, otot polos prostat dan kapsul prostat menurun, tetapi apabila masih dikompensasi dengan kenaikan daya kontraksi otot detrusor maka gejala obstruksi belum dirasakan. ".# &ejala storage disebabkan oleh karena pengosongan $esi!a urinaris yang tidak sempurna pada saat miksi atau disebabkan oleh karena hipersensitifitas otot detrusor karena pembesaran prostat menyebabkan rangsangan pada $esi!a, sehingga $esi!a sering berkontraksi meskipun belum penuh., gejalanya ialah 1 ".,' # Bertambahnya frekuensi miksi ",re%uen!y# 3okturia =iksi sulit ditahan ":rgen!y# 6nkontinensia "stress, urge, mi@ed, enuresis, !ontinues, dan inkontinensia lainnya#

10

&ejala iritatif yang sering dijumpai ialah bertambahnya frekuensi miksi yang biasanya lebih dirasakan pada malam hari. 9ering miksi pada malam hari disebut no!turia, hal ini disebabkan oleh menurunnya hambatan kortikal selama tidur dan juga menurunnya tonus spingter dan uretra. 9imptom obstruksi biasanya lebih disebabkan oleh karena prostat dengan $olume besar. (pabila $esi!a menjadi dekompensasi maka akan terjadi retensi urin sehingga pada akhir miksi masih ditemukan sisa urin didalam $esi!a, hal ini menyebabkan rasa tidak bebas pada akhir miksi. Aika keadaan ini berlanjut pada suatu saat akan terjadi kema!etan total, sehingga penderita tidak mampu lagi miksi. Bleh karena produksi urin akan terus terjadi maka pada suatu saat $esi!a tidak mampu lagi menampung urin sehingga tekanan intra$esi!a akan naik terus dan apabila tekanan $esi!a menjadi lebih tinggi daripada tekanan spingter akan terjadi inkontinensia paradoks "o$er flow in!ontinen!e#. 4etensi kronik dapat menyebabkan terjadinya refluk $esi!o uretra dan meyebabkan dilatasi ureter dan sistem pel$iokalises ginjal dan akibat tekanan intra$esi!al yang diteruskam ke ureter dari ginjal maka ginjal akan rusak dan terjadi gagal ginjal. Proses kerusakan ginjal dapat diper!epat bila ada infeksi. /isamping kerusakan tra!tus urinarius bagian atas akibat dari obstruksi kronik penderita harus selalu mengedan pada waktu miksi, maka tekanan intra abdomen dapat menjadi meningkat dan lama kelamaan akan menyebabkan terjadinya hernia, hemoroid. Bleh karena selalu terdapat sisa urin dalam $esi!a maka dapat terbentuk batu endapan didalam $esi!a dan batu ini dapat menambah keluhan iritasi dan menimbulkan hematuri. /isamping pembentukan batu, retensi

11

kronik dapat pula menyebabkan terjadinya infeksi sehingga terjadi systitis dan apabila terjadi refluk dapat terjadi juga pielonefritis. ".# &ejala -:09 yang ketiga yaitu gejala post miksi yang terdiri dari tidak lampias "&ee in# o& incom% ete em%tyin## dan ken!ing masih menetes setelah ken!ing "%ost mict'rition !ri"" e#. 5eluhan-keluhan diatas biasanya disusun dalam bentuk skor simtom. 0erdapat beberapa jenis klasifikasi yang dapat digunakan untuk membantu diagnosis dan menentukan tingkat beratnya penyakit, diantaranya adalah skor internasional gejala-gajala prostat C*B "Internationa Prostate Sym%tom Score, 6P99#. ".# 5eluhan pada bulan 0idak terakhir sama sekali (dakah anda merasa buli-buli tidak kosong setelah buang air ke!il Berapa kali anda hendak buang air ke!il lagi dalam waktu 2 jam setelah buang air ke!il Berapa kali terjadi air ken!ing berhenti sewaktu buang air ke!il Berapa kali anda tidak dapat menahan keinginan buang air ke!il Berapa kali arus air seni lemah sekali sewaktu buang ke!il Berapa kali terjadi anda mengalami 0 D'-5 kali ' 2 E5-'5 kali '5 kali E'5 kali . *ampi r selalu 5

'

'

'

0 0

' '

2 2

. .

5 5

12

kesulitan memulai buang air ke!il "harus mengejan# Berapa kali anda 0 ' bangun untuk buang air ka!il di waktu malam (ndaikata hal yang 9angat 7ukup anda alami sekarang senang senag akan tetap berlangsung seumur hidup, bagaimana perasaan anda 6nterpretasi1 4ingan 1 skor 0-+ 9edang 1 skor <-'8 Berat 1 skor 20- 5 &ejala pada saluran kemih bagian atas

Biasa saja

(gak 0idak 9angat tidak menyen tidak senang angkan menye nangka n

5eluhan akibat penyulit hiperplasi prostat pada saluran kemih bagian atas berupa gejala obstruksi antara lain nyeri pinggang, benjolan di pinggang "yang merupakan tanda dari hidronefrosis#., atau demam yang merupakan tanda dari infeksi atau urosepsis. ".# &ejala di luar saluran kemih 0idak jarang pasien berobat ke dokter karena mengeluh adanya hernia inguinalis atau hemoroid. 0imbulnya kedua penyakit ini karena sering mengejan pada saat miksi sehingga mengakibatkan peningkatan tekanan intraabdominal. ".# F. Penega"an Diagnosis :ntuk menegakkan diagnosis, dapat dilakukan dengan anamnesa,

13

pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan radiologi.

'.

(namnesis Pemeriksaan awal terhadap pasien BP* adalah melakukan anamnesis yang

meliputi. 5eluhan yang dirasakan dan seberapa lama keluhan itu telah mengganggu 4iwayat penyakit lain dan penyakit pada saluran urogenitalia "pernah mengalami !edera, infeksi, atau pembedahan# 4iwayat kesehatan se!ara umum dan keadaan fungsi seksual Bbat-obatan yang saat ini dikonsumsi yang dapat menimbulkan keluhan miksi 0ingkat kebugaran pasien yang mungkin diperlukan untuk tindakan pembedahan. 9alah satu pemandu yang tepat untuk mengarahkan adalah Internationa Prostate Sym%tom Score "6P99#. C*B dan (:( telah mengembangkan dan mensahkan %rostate sym%tom score yang telah distandarisasi. ".,<# 2. Pemeriksaan ,isik 7olok dubur atau !i#ita recta e(amination "/4?# merupakan pemeriksaan yang penting pada pasien BP*, disamping pemeriksaan fisik pada regio suprapubik untuk men!ari kemungkinan adanya distensi buli-buli. /ari pemeriksaan !olok dubur ini dapat diperkirakan adanya pembesaran prostat, konsistensi prostat, dan adanya nodul yang merupakan salah satu tanda dari keganasan prostat. =engukur $olume prostat dengan /4? !enderung

'n!erestimate daripada pengukuran dengan metode lain, sehingga jika prostat

14

teraba besar, hampir pasti bahwa ukuran sebenarnya memang besar. 5e!urigaan suatu keganasan pada pemeriksaan !olok dubur, ternyata hanya 2)- .; yang positif kanker prostat pada pemeriksaan biopsi. 9ensitifitas pemeriksaan ini dalam menentukan adanya karsinoma prostat sebesar ;.".,<#

Pemeriksaan fisik apabila sudah terjadi kelainan pada traktus urinaria bagian atas kadang-kadang ginjal dapat teraba dan apabila sudah terjadi pielonefritis akan disertai sakit pinggang dan nyeri ketok pada pinggang. >esi!a urinaria dapat teraba apabila sudah terjadi retensi total, daerah inguinal harus mulai diperhatikan untuk mengetahui adanya hernia. &enitalia eksterna harus pula diperiksa untuk melihat adanya kemungkinan sebab yang lain yang dapat menyebabkan gangguan miksi seperti batu di fossa na$ikularis atau uretra anterior, fibrosis daerah uretra, fimosis, !ondiloma di daerah meatus. "'0# Pada pemeriksaan abdomen ditemukan kandung ken!ing yang terisi penuh dan teraba masa kistus di daerah supra simfisis akibat retensio urin dan kadang terdapat nyeri tekan supra simfisis. "'0# . -aboratorium :rinalisis Pemeriksaan urinalisis dapat mengungkapkan adanya leukosituria dan hematuria. Pada pasien BP* yang sudah mengalami retensi urine dan telah memakai kateter, pemeriksaan urinalisis tidak banyak manfaatnya karena seringkali telah ada leukosituria maupun eritostiruria akibat pemasangan kateter. "'0# Pemeriksaan fungsi ginjal

15

pemeriksaan faal ginjal ini berguna sebagai petunjuk perlu tidaknya melakukan pemeriksaan pen!itraan pada saluran kemih bagian atas. "'0# Pemeriksaan P9( "Prostate 9pe!ifi! (ntigen# P9( disintesis oleh sel epitel prostat dan bersifat or#an s%eci&ic tetapi bukan cancer s%eci&ic. 9erum P9( dapat dipakai untuk meramalkan perjalanan penyakit dari BP*F dalam hal ini jika kadar P9( tinggi berarti1 "a# pertumbuhan $olume prostat lebih !epat, "b# keluhan akibat BP*Glaju pan!aran urine lebih jelek, dan "!# lebih mudah terjadinya retensi urine akut.. 5adar P9( di dalam serum dapat mengalami peningkatan pada keradangan, setelah manipulasi pada prostat "biopsi prostat atau 0:4P#, pada retensi urine akut, kateterisasi, keganasan prostat, dan usia yang makin tua. 9esuai yang dikemukakan oleh Cijanarko et al "200 # bahwa serum P9( meningkat pada saat terjadi retensi urine akut dan kadarnya perlahanlahan menurun terutama setelah +2 jam dilakukan kateterisasi. 4entang kadar P9( yang dianggap normal berdasarkan usia adalah1 .0-.8 tahun "0-2,5 ngGml#, 50-58 tahun "0- ,5 ngGml#, )0-)8 tahun "0-.,5 ngGml#, +0-+8 tahun "0-),5 ngGml#. "'0# Pemeriksaan P9( bersamaan dengan !olok dubur lebih superior daripada pemeriksaan !olok dubur saja dalam mendeteksi adanya karsinoma prostat. "'0# .. Pemeriksaan pen!itraan traktus urinarius Pemeriksaan pen!itraan terhadap pasien BP* dengan memakai 6>P atau :9&, ternyata bahwa +0-+5; tidak menunjukkan adanya kelainan pada saluran

16

kemih bagian atas, oleh karena itu pen!itraan saluran kemih bagian atas tidak direkomendasikan sebagai pemeriksaan pada BP*, ke!uali jika pada pemeriksaan awal diketemukan adanya1 "a# hematuria, "b# infeksi saluran kemih, "!# insufisiensi renal "dengan melakukan pemeriksaan :9&#, "d# riwayat urolitiasis, dan "e# riwayat pernah menjalani pembedahan pada saluran urogenitalia. "'0# Pemeriksaan sistografi maupun uretrografi retrograd guna memperkirakan besarnya prostat atau men!ari kelainan pada buli-buli saat ini tidak direkomendasikan. 3amun pemeriksaan itu masih berguna jika di!urigai adanya striktura uretra. "'0# Pemeriksaan :9& prostat bertujuan untuk menilai bentuk, besar prostat, dan men!ari kemungkinan adanya karsinoma prostat. =enilai bentuk dan ukuran kelenjar prostat dapat dilakukan melalui pemeriksaan transabdominal "0(:9# ataupun transrektal "04:9#. Aika terdapat peningkatan kadar P9(, pemeriksaan :9& melalui transrektal "04:9# sangat dibutuhkan guna menilai kemungkinan adanya karsinoma prostat. "'0# :retrosistoskopi se!ara $isual dapat mengetahui keadaan uretra prostatika dan bulibuli. :retrosistoskopi dikerjakan pada saat akan dilakukan tindakan pembedahan untuk menentukan perlunya dilakukan 0:6P, 0:4P, atau prostatektomi terbuka. /isamping itu pada kasus yang disertai dengan hematuria atau dugaan adanya karsinoma buli-buli sistoskopi sangat membantu dalam men!ari lesi pada buli-buli. "'0# . Penatala"sanaan

17

0ujuan terapi pada pasien BP* adalah mengembalikan kualitas hidup pasien. 0erapi yang ditawarkan pada pasien tergantung pada derajat keluhan, keadaan pasien, maupun kondisi obyektif kesehatan pasien yang diakibatkan oleh penyakitnya. "5# Pilihannya adalah mulai dari1 "'# tanpa terapi ")atch&' )aitin##, "2# medikamentosa, dan " # terapi inter$ensi "0abel '#. /i 6ndonesia, tindakan Trans'rethra *esection o& the %rostate "0:4P# masih merupakan pengobatan terpilih untuk pasien BP*. ".#

1. Watch&' )aitin# Watch&' )aitin# artinya pasien tidak mendapatkan terapi apapun tetapi perkembangan penyakitnya keadaannya tetap diawasi oleh dokter. Pilihan tanpa terapi ini ditujukan untuk pasien BP* dengan skor 6P99 dibawah +, yaitu keluhan ringan yang tidak menggangu akti$itas seharihari. Pada )atch&' )aitin# ini, pasien tidak mendapatkan terapi apapun dan hanya diberi penjelasan mengenai sesuatu hal yang mungkin dapat memperburuk keluhannya, misalnya "'# jangan banyak minum dan mengkonsumsi kopi atau alkohol setelah makan malam, "2# kurangi konsumsi makanan atau minuman yang menyebabkan iritasi pada buli buli "kopi atau !okelat#, " # batasi penggunaan obat-obat influen2a yang

18

mengandung fenilpropanolamin, ".# kurangi makanan pedas dan asin, dan "5# jangan menahan ken!ing terlalu lama. 9etiap ) bulan, pasien diminta untuk datang kontrol dengan ditanya dan diperiksa tentang perubahan keluhan yang dirasakan, 6P99, pemeriksaan laju pan!aran urine, maupun $olume residual urine. Aika keluhan miksi bertambah jelek daripada sebelumnya, mungkin perlu difikirkan untuk memilih terapi yang lain. ".# 2. =edikamentosa Pada saat BP* mulai menyebabkan perasaan yang mengganggu, apalagi membahayakan kesehatannya, direkomendasikan pemberian medikamentosa. /alam menentukan pengobatan perlu diperhatikan beberapa hal, yaitu dasar pertimbangan terapi medikamentosa, jenis obat yang digunakan, pemilihan obat, dan e$aluasi selama pemberian obat.. ".# /engan memakai piranti skoring 6P99 dapat ditentukan kapan seorang pasien memerlukan terapi. 9ebagai patokan jika skoring E+ berarti pasien perlu mendapatkan terapi medikamentosa atau terapi lain. ".# 0ujuan terapi medikamentosa adalah berusaha untuk1 "'# mengurangi resistensi otot polos prostat sebagai komponen dinamik atau "2# mengurangi $olume prostat sebagai komponen statik. Aenis obat yang digunakan adalah1 ".# (ntagonis reseptor adrenergik-H Pengobatan dengan antagonis adrenergik H bertujuan menghambat kontraksi otot polos prostat sehingga mengurangi resistensi tonus leher buli-buli dan uretra. ,enoksiben2amine adalah obat antagonis

19

adrenergik-H non selektif yang pertama kali diketahui mampu memper-baiki laju pan!aran miksi dan mengurangi keluhan miksi. 3amun obat ini tidak disenangi oleh pasien karena menyebab-kan komplikasi sistemik yang tidak diharapkan, di antaranya adalah hipotensi postural dan menyebabkan penyulit lain pada sistem kardio$askuler. ".# (ntagonis adrenergik reseptor H yang dapat berupa1 preparat non selektif1 fenoksiben2amin preparat selektif masa kerja pendek1 pra2osin, aflu2osin, dan indoramin preparat selektif dengan masa kerja lama1 doksa2osin, tera2osin, dan tamsulosin /iketemukannya obat antagonis adrener-gik- H' dapat mengurangi penyulit sistemik yang diakibatkan oleh efek hambatan pada-H2 dari fenoksiben2amin. Beberapa golongan obat antagonis adrenergik H' yang selektif mempu-nyai durasi obat yang pendek "short actin## di antaranya adalah pra2osin yang diberikan dua kali sehari, dan on# actin# yaitu, tera2osin, doksa2osin, dan tamsulosin yang !ukup diberikan sekali sehari. ".# 6nhibitor 5 H redukstase, yaitu finasteride dan dutasteride ,inasteride adalah obat inhibitor 5-H reduktase pertama yang dipakai untuk mengobati BP*. Bbat ini bekerja dengan !ara

20

menghambat pembentukan dihidrotestosteron "/*0# dari testosteron, yang dikatalisis oleh en2im 5 H- redukstase di dalam sel-sel prostat. Pada penelitian yang dilakukan oleh =!7onnell et a "'88<# tentang efek finasteride terhadap pasien BP* bergejala, didapatkan bahwa pemberian finasteride 5 mg per hari selama . tahun ternyata mampu menurunkan $olume prostat, meningkatkan pan!aran urine, menurunkan kejadian retensi urine akut, dan menekan kemungkinan tindakan pembedahan hingga 50;. ,inasteride digunakan bila $olume prostat E.0 !m . ?fek samping yang terjadi pada pemberian finasteride ini minimal, di antaranya dapat terjadi impotensia, penurunan libido, ginekomastia, atau timbul ber!ak-ber!ak kemerahan di kulit. ,itofarmaka Beberapa ekstrak tumbuh-tumbuhan tertentu dapat dipakai untuk memperbaiki gejala akibat obstruksi prostat, tetapi data-data farmakologik tentang kandungan 2at aktif yang mendukung mekanisme kerja obat fitoterapi sampai saat ini belum diketahui dengan pasti. 5emungkinan fitoterapi bekerja sebagai1 anti-estrogen, antiandrogen, menurunkan kadar se( hormone "in!in# # o"' in "9*B&#, inhibisi "asic &i"ro" ast #ro)th &actor "b,&,# dan e%i!erma #ro)th &actor "?&,#, menga!aukan metabolisme

prostaglandin, efek anti-inflam-masi, menurunkan o't& o) resistance, dan memperke!il $olume prostat. /i antara fito-terapi yang banyak

21

dipasarkan adalah1 Py#e'm a&rican'm, Serenoa re%ens, Hy%o(is roo%eri, *a!i( 'rtica dan masih banyak lainnya. ".#

. 6nter$ensi Bedah a. Pembedahan =ungkin sampai saat ini solusi terbaik pada BP* yang telah mengganggu adalah pembedahan, yakni mengangkat bagian kelenjar prostat yang menyebabkan obstruksi. 7ara ini memberikan perbaikan skor 6P99 dan se!ara obyektif meningkatkan laju pan!aran urine. Pembedahan direkomendasikan pada pasien-pasien BP* yang1 "'# tidak menunjukkan perbaikan setelah terapi medikamentosa, "2# mengalami retensi urine, " # infeksi saluran kemih berulang, ".# hematuria, "5# gagal ginjal, dan ")# timbulnya batu saluran kemih atau penyulit lain akibat obstruksi saluran kemih bagian bawah.. 0erdapat tiga ma!am teknik pembedahan yang

direkomendasikan di berbagai negara, yaitu prostatektomi terbuka, insisi prostat transuretra "0:6P#, dan reseksi prostat transuretra "0:4P#. ".# Prostatektomi terbuka merupakan !ara yang paling tua, paling in$asif, dan paling efisien di antara tindakan pada BP* yang lain dan memberikan perbaikan gejala BP* 8<;. /ilaporkan bahwa

prostatektomi terbuka menimbulkan komplikasi striktura uretra dan

22

inkontinensia urine yang lebih sering dibandingkan dengan 0:4P ataupun 0:6P. ".,'0# Prosedur 0:4P merupakan 80; dari semua tindakan pembedahan prostat pada pasien BP*. =enurut Casson et a "'885# pada pasien dengan keluhan derajat sedang, 0:4P lebih bermanfaat daripada )atch&' )aitin#. 0:4P lebih sedikit menimbulkan trauma

dibandingkan prosedur bedah terbuka dan memerlukan masa pemulihan yang lebih singkat. 9e!ara umum 0:4P dapat memperbaiki gejala BP* hingga 80;, meningkatkan laju pan!aran urine hingga '00;.".,'0# 0:6P atau insisi leher buli-buli "" a!!er nec+ insicion# direkomendasikan pada prostat yang ukurannya ke!il "kurang dari 0 !m #, tidak dijumpai pembesaran lobus medius, dan tidak diketemukan adanya ke!urigaan karsinoma prostat. Caktu yang dibutuhkan lebih !epat, dan lebih sedikit menimbulkan komplikasi dibandingkan dengan 0:4P. b. -aser Prostatektomi Aika dibandingkan dengan pembedahan, pemakaian -aser ternyata lebih sedikit menimbulkan komplikasi dan penyembuhan lebih !epat, tetapi kemampuan dalam meningkatkan perbaikan gejala miksi maupun Ima@ tidak sebaik 0:4P. /isamping itu terapi ini membutuhkan terapi ulang 2; setiap tahun. 5ekurangannya adalah1 tidak dapat diperoleh jaringan untuk pemeriksaan patologi "ke!uali

23

pada *o1J(&#, sering banyak menimbulkan disuria pas!a bedah yang dapat berlangsung sampai 2 bulan, tidak langsung dapat miksi spontan setelah operasi, dan %ea+ & o) rate lebih rendah dari pada pas!a 0:4P ".,'0#. !. 0indakan in$asif minimal 9elain tindakan in$asif seperti yang telah disebutkan di atas, saat ini sedang dikembangkan tindakan in$asif minimal yang terutama ditujukan untuk pasien yang mempunyai resiko tinggi terhadap pembedahan. 0indakan in$asif minimal itu diantaranya adalah1 "'# thermoterapi, "2# 0:3( "0ransurethral needle ablation of the prostate#, " # pemasangan stent "prosta!ath#, *6,: "*igh 6ntensity fo!used ultrasound#, dan dilatasi dengan balon "transurethral

balloon dilatation# ".#. H. Kompli"asi (pabila gejala -:09 oleh karena pembesaran prostat jinak dibiarkan tanpa pengobatan maka dapat menimbulkan komplikasi seperti trabekulasi yaitu penebalan serat-serat detrusor akibat tekanan intra$esika yang selalu tinggi akibat obstruksi, dapat terjadi sakulasi mukosa buli-buli menerobos diantara serat-serat detrusor, dan apabila sakulasi menjadi besar dapat menjadi di$ertikel. "8# 5omplikasi lain ialah pembentukan batu $esikaakibat selalu terdapat sisa ken!ing post miksi, sehingga terjadi pengendapan batu. 9elain itu, apabila tekanan intra $esikal yang selalu tinggi tersebut diteruskan ke ureter dan ginjal akan terjadi

24

hidroureter dan hidronefrosis yang akan menyebabkan penurunan fungsi ginjal. "8# 0ahap akhir adalah tahap dekompensasi dari detrusor, dimana buli-buli sama sekali tidak dapat mengosongkan diri dan terjadi retensi urin total dan apabila tidak segera ditolong akan terjadi o$erflow in!ontinen!e. "8#

25

26