Anda di halaman 1dari 13

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Beberapa tahun terakhir ini kita dikejutkan oleh pemberitaan media cetak serta elektronik tentang kasus-kasus kekerasan pada anak, dan beberapa di antaranya harus mengembuskan napasnya yang terakhir. Bila kekerasan pada anak sering dialami oleh anak maka akan menimbulkan luka yang mendalam pada fisik dan batinnya. Sehingga akan menimbulkan trauma pada anak. hal ini akan mempengaruhi rasa percaya diri anak yang seharusnya terbangun sejak kecil. Apa yang dialaminya akan membuat anak meniru kekerasan dan bertingkah laku agresif dengan cara memukul atau membentak bila timbul rasa kesal didalam dirinya. Akibat lain anak akan selalu cemas, mengalami mimpi buruk, depresi atau masalah-masalah disekolah. Wikipedia Indonesia (2006) memberikan pengertian bahwa kekerasan merujuk pada tindakan agresi dan pelanggaran (penyiksaan, pemerkosaan, pemukulan, dll.) yang menyebabkan atau dimaksudkan untuk menyebabkan penderitaan atau menyakiti orang lain. Sedangkan Menurut Andez (2006) kekerasan pada anak adalah segala bentuk tindakan yang melukai dan merugikan fisik, mental, dan seksual termasuk hinaan meliputi: Penelantaran dan perlakuan buruk, Eksploitasi termasuk eksploitasi seksual, serta trafficking/ jual-beli anak. Berdasarkan definisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa Kekerasan terhadap anak adalah segala bentuk perlakuan baik secara fisik maupun psikis yang berakibat penderitaan terhadap anak. Pada kekerasan anak terdapat 4 macam kekerasan terhadap anak, yaitu : Penyiksaan Fisik (Physical Abuse), Penyiksaan Emosi (Psychological/Emotional Abuse), Pelecehan Seksual (Sexual Abuse), dan Pengabaian (Child Neglect). Dari ke 4 macam kekerasan tersebut menulis akan membahas lebih mendalam tentang Pelecehan Seksual (Sexual Abuse). Karena menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebut 2013 merupakan tahun yang tidak terlalu bersahabat bagi anak-anak di Indonesia. Sebab, pada tahun itu banyak anak yang mengalami kekerasan secara seksual, hingga mencapai 525 kasus. Hal tersebut membuat penulis tertarik untuk membuat makalah mengenai Kekerasan / Pelecehan Seksual pada Anak. 1

B. Rumusan Masalah Apa Pengertian Pelecehan Seksual Terhadap Anak? Bagaimana Kategori Berdasarkan Identitas Pelaku Pada Pelecehan/Kekerasan Seksual Terhadap Anak? Apa penyebab Pelecehan Seksual Terhadap Anak? Bagaimana Efek/Dampak dari Pelecehan Seksual Terhadap Anak? Bagaimana Penanganan Pada Anak yang Mengalami Pelecehan Seksual?

C. Tujuan Mengetahui pengertian Pelecehan Seksual Terhadap Anak. Mengetahui Kategori Berdasarkan Identitas Pelaku Pada Pelecehan/Kekerasan Seksual Terhadap Anak Mengetahui penyebab Pelecehan Seksual Terhadap Anak. Menjelaskan Efek/Dampak dari Pelecehan Seksual Terhadap Anak. Menjelaskan Penanganan Pada Anak yang Mengalami Pelecehan Seksual.

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Pelecehan Seksual Terhadap Anak Wikipedia memberi pengertian bahwa Pelecehan seksual terhadap anak adalah suatu bentuk penyiksaan anak di mana orang dewasa atau remaja yang lebih tua menggunakan anak untuk rangsangan seksual. Bentuk pelecehan seksual anak termasuk meminta atau menekan seorang anak untuk melakukan aktivitas seksual (terlepas dari hasilnya), memberikan paparan yang tidak senonoh dari alat kelamin untuk anak, menampilkan pornografi untuk anak, melakukan hubungan seksual terhadap anak-anak, kontak fisik dengan alat kelamin anak (kecuali dalam konteks non-seksual tertentu seperti pemeriksaan medis), melihat alat kelamin anak tanpa kontak fisik (kecuali dalam konteks non-seksual seperti pemeriksaan medis), atau menggunakan anak untuk memproduksi pornografi anak. Kekerasan seksual merupakan bentuk kontak seksual atau bentuk lain yang tidak diinginkan secara seksual. Kekerasan seksual biasanya disertai dengan tekanan psikologis atau fisik (OBarnett et al., dalam Matlin, 2008). Perkosaan merupakan jenis kekerasan seksual yang spesifik. Perkosaan dapat didefiniskan sebagai penetrasi seksual tanpa izin atau dengan paksaan, disertai oleh kekerasan fisik (Tobach,dkk dalam Matlin, 2008). Sexual abuse meliputi pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut (seperti istri, anak dan pekerja rumah tangga). Selanjutnya dijelaskan bahwa sexual abuse adalah setiap perbuatan yang berupa pemaksaan hubungan seksual, pemaksaan hubungan seksual dengan cara tidak wajar dan atau tidak disukai, pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain untuk tujuan komersil dan atau tujuan tertentu.

B. Kategori Berdasarkan Identitas Pelaku Pada Pelecehan / Kekerasan Seksual Terhadap Anak Kekerasan seksual (sexual abuse) merupakan jenis penganiayaan yang biasanya dibagi dalam kategori berdasar identitas pelaku (Tower, 2002), terdiri dari: Familial Abuse Incest merupakan sexual abuse yang masih dalam hubungan darah, menjadi bagian dalam keluarga inti. Seseorang yang menjadi pengganti orang tua, misalnya ayah tiri, atau kekasih, termasuk dalam pengertian incest. Mayer (dalam Tower, 2002) menyebutkan kategori incest dalam keluarga dan mengaitkan dengan kekerasan pada anak. Kategori pertama, sexual molestation (penganiayaan). Hal ini meliputi interaksi noncoitus, petting, fondling, exhibitionism, dan voyeurism, semua hal yang berkaitan untuk menstimulasi pelaku secara seksual. Kategori kedua, sexual assault (perkosaan), berupa oral atau hubungan dengan alat kelamin, masturbasi, fellatio (stimulasi oral pada penis), dan cunnilingus (stimulasi oral pada klitoris). Kategori terakhir yang paling fatal disebut forcible rape (perkosaan secara paksa), meliputi kontak seksual. Rasa takut, kekerasan, dan ancaman menjadi sulit bagi korban. Mayer mengatakan bahwa paling banyak ada dua kategori terakhir yang menimbulkan trauma terberat bagi anak-anak, namun korban-korban sebelumnya tidak mengatakan demikian. Mayer berpendapat derajat trauma tergantung pada tipe dari kekerasan seksual, korban dan survivor mengalami hal yang sangat berbeda. Survivor yang mengalami perkosaan mungkin mengalami hal yang berbeda dibanding korban yang diperkosa secara paksa. Extrafamilial Abuse Extrafamilial Abuse, dilakukan oleh orang lain di luar keluarga korban, dan hanya 40% yang melaporkan peristiwa kekerasan. Kekerasan seksual yang dilakukan oleh orang dewasa disebut pedophile, yang menjadi korban utamanya adalah anakanak. Pedophilia diartikan menyukai anak-anak (deYong dalam Tower, 2002). Pedetrasy merupakan hubungan seksual antara pria dewasa dengan anak laki-laki (Struve & Rush dalam Tower, 2002). Pornografi anak menggunakan anak-anak sebagai sarana untuk menghasilkan gambar, foto, slide,majalah, dan buku (OBrien, Trivelpiece, Pecora et al., dalam Tower, 2002). Biasanya ada tahapan yang terlihat 4

dalam melakukan kekerasan seksual Kemungkinan pelaku mencoba perilaku untuk mengukur kenyamanan korban. Jika korban menuruti, kekerasan akan berlanjut dan intensif, berupa: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Nudity (dilakukan oleh orang dewasa). Disrobing (orang dewasa membuka pakaian di depan anak). Genital exposure (dilakukan oleh orang dewasa). Observation of the child (saat mandi, telanjang, dan saat membuang air). Mencium anak yang memakai pakaian dalam. Fondling (meraba-raba dada korban, alat genital, paha, dan bokong). Masturbasi Fellatio (stimulasi pada penis, korban atau pelaku sendiri). Cunnilingus (stimulasi pada vulva atau area vagina, pada korban atau pelaku).

10. Digital penetration (pada anus atau rectum). 11. Penile penetration (pada vagina). 12. Digital penetration (pada vagina). 13. Penile penetration (pada anus atau rectum) 14. Dry intercourse (mengelus-elus penis pelaku atau area genital lainnya, paha, atau bokong korban) (Sgroi dalam Tower, 2002).

C. Penyebab Pelecehan Seksual Terhadap Anak Faktor utama pelecehan seksual terhadap bocah karena adanya pergeseran nilainilai sosial di masyarakat. Menurut Kriminolog dari Universitas Indonesia, Profesor Bambang Widodo Umar, nilai-nilai etika, moral yang sebelumnya dipegang masyarakat sudah tidak lagi dianggap, Dengan demikian tidak ada lagi patokan-patokan yang menentukan suatu hal boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan, atau patokan baik dan buruk di kalangan masyarakat, dan menyebabkan setiap orang saling tidak peduli terhadap perbuatan orang lain. Selain itu, menurut Magdalena Sitorus (Perwakilan Yayasan Sapa (Sahabat Anak dan Perempuan Indonesia )) akibat orangtua tidak pernah mau terbuka membicarakan seksualitas kepada anaknya. Orangtua menganggap ini tabu. Andai orangtua mau terbuka berbicara tentang seks kepada anaknya, maka mereka dapat mengajarkan anak-anak bagaimana caranya menjaga diri sendiri agar terhindar dari kekerasan seksual itu. Sehingga kejadian pelecehan seksual kemungkinan kecil akan terjadi. 5

Sedangkan Berdasarkan informasi pada laman childmolestationprevention.org terdapat empat penyebab orang melakukan pelecehan seksual pada anak, diantaranya sebagai berikut : Waktu kecil mereka adalah anak atau remaja yang sangat tertarik dengan seks. Dari rasa tertarik dan ingin tahu itu seorang remaja bisa menggunakan anak kecil sebagai sebuah eksperimen seks. Eksperimen macam ini jika tidak dihentikan bisa terbawa hingga si remaja dewasa. Pelaku pelecehan seksual pada anak sejak awal menderita sakit mental. Pemantauan yang secara intensif dan dekat dengan penderita serta penggunaan obat secara berkala diketahui dapat menghentikan kelainan seks pelaku dalam melakukan pelecehan seksual pada anak. Pelaku pelecehan seksual mempunyai perilaku anti-sosial sehingga akhirnya ia mencari kesempatan untuk menyentuh anak kecil. Sikap anti-sosial yang dimaksud lebih kepada ketidakpercayaan akan aturan yang ada di masyarakat Mereka menganggap orang lain (termasuk anak-anak) selain diri mereka sendiri sebagai sesuatu yang harus "digunakan" (dalam hal ini dilecehkan). Kegemaran melakukan seks dengan anak-anak. Penderita yang berumur 16 tahun ke atas biasa disebut pedophilia. Perawatan yang intensif dari spesialis di bidangnya merupakan peluang yang lebih tinggi untuk menyembuhkan si pelaku. Terapi dan obat-obatan bisa juga membantu penyembuhan para penderita pedophilia.

D. Efek/Dampak dari Pelecehan Seksual Terhadap Anak Kerusakan Psikologis Kebanyakan korban Pelecehan Seksual merasakan kriteria psychological disorder yang disebut post-traumatic stress disorder (PTSD), simtom-simtomnya berupa ketakutan yang intens terjadi, kecemasan yang tinggi, emosi yang kaku setelah peristiwa traumatis. Beitch-man et al (dalam Tower, 2002), korban yang mengalami kekerasan membutuhkan waktu satu hingga tiga tahun untuk terbuka pada orang lain. Finkelhor dan Browne (dalam Tower, 2002) menggagas empat jenis dari efek trauma akibat kekerasan seksual, yaitu: 6

1) Betrayal (penghianatan) Kepercayaan merupakan dasar utama bagi korban kekerasan seksual. Sebagai anak, individu percaya kepada orangtua dan kepercayaan itu dimengerti dan dipahami. Namun, kepercayaan anak dan otoritas orangtua menjadi hal yang mengancam anak.

2) Traumatic sexualization (trauma secara seksual) Russel (dalam Tower, 2002) menemukan bahwa perempuan yang mengalami kekerasan seksual cenderung menolak hubungan seksual, dan sebagai konsekuensinya menjadi korban kekerasan seksual dalam rumah tangga. Finkelhor (dalam Tower, 2002) mencatat bahwa korban lebih memilih pasangan sesama jenis karena menganggap laki-laki tidak dapat dipercaya.

3) Powerlessness (merasa tidak berdaya) Rasa takut menembus kehidupan korban. Mimpi buruk, fobia, dan kecemasan dialami oleh korban disertai dengan rasa sakit. Perasaan tidak berdaya mengakibatkan individu merasa lemah. Korban merasa dirinya tidak mampu dan kurang efektif dalam bekerja. Beberapa korban juga merasa sakit pada tubuhnya. Sebaliknya, pada korban lain memiliki intensitas dan dorongan yang berlebihan dalam dirinya (Finkelhor dan Browne, Briere dalam Tower, 2002).

4) Stigmatization Korban kekerasan seksual merasa bersalah, malu, memiliki gambaran diri yang buruk. Rasa bersalah dan malu terbentuk akibat ketidakberdayaan dan merasa bahwa mereka tidak memiliki kekuatan untuk mengontrol dirinya. Korban sering merasa berbeda dengan orang lain, dan beberapa korban marah pada tubuhnya akibat penganiayaan yang dialami. Korban lainnya menggunakan obat-obatan dan minuman alkohol untuk menghukum tubuhnya, menumpulkan inderanya, atau berusaha menghindari memori kejadian tersebut (Gelinas, Kinzl dan Biebl dalam Tower, 2002).

Kerusakan Fisik Cedera Tergantung pada umur dan ukuran anak, serta tingkat kekuatan yang digunakan, pelecehan seksual anak dapat menyebabkan luka internal dan pendarahan. Pada kasus yang parah, kerusakan organ internal dapat terjadi dan dalam beberapa kasus dapat menyebabkan kematian. Herman-Giddens dan lainnya menemukan enam hal tertentu dan enam kasus kemungkinan kematian akibat pelecehan seksual anak di Carolina Utara antara tahun 1985 dan 1994. Para korban berkisar di usia dari 2 bulan sampai 10 tahun. Penyebab kematian termasuk trauma pada alat kelamin atau dubur dan mutilasi seksual. Infeksi Pelecehan seksual pada anak dapat menyebabkan infeksi dan penyakit menular seksual. Tergantung pada umur anak, karena kurangnya cairan vagina yang cukup, kemungkinan infeksi lebih tinggi. Kerusakan neurologis Penelitian telah menunjukkan bahwa stres traumatis, termasuk stres yang disebabkan oleh pelecehan seksual menyebabkan perubahan penting dalam fungsi dan perkembangan otak. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pelecehan seksual anak yang parah mungkin memiliki efek yang merusak pada perkembangan otak. Ito et al. (1998) menemukan "perbedaan besaran otak sebelah kiri dan kanan secara asimetris dan otak kiri lebih besar terjadi pada subyek yang mengalami pelecehan;" Teicher et al. (1993) menemukan bahwa kemungkinan peningkatan "gejala seperti epilepsi lobus temporal" pada subyek yang mengalami pelecehan; Anderson et all. (2002) mencatat perbedaan relaksasi yang tidak normal sewaktu pemeriksaan NMR (Nuclear magnetic resonance) cerebellar vermis pada otak orang dewasa yang mengalami pelecehan seksual masa kecil. Teicher et al. (1993) menemukan bahwa anak pelecehan seksual dapat dikaitkan dengan berkurangnya luas corpus callosum; berbagai studi telah menemukan hubungan berkurangnya volume dari hippocampus kiri dengan pelecehan seksual anak; dan Ito et al. (1993) menemukan kelainan 8

elektrofisiologi meningkat pada anak-anak yang mengalami pelecehan seksual. Navalta et al. (2006) menemukan bahwa dari Scholastic Aptitude Test matematika yang dilaporkan sendiri dari puluhan sampel perempuan dengan riwayat pelecehan seksual sewaktu anak-anak berulang-ulang secara signifikan mendapatkan nilai matematika yang lebih rendah daripada yang dilaporkan sendiri dengan menggunakan nilai SAT dengan sampel yang tidak pernah dilecehkan. Karena subyek pelecehan verbal mendapatkan nilai SAT yang tinggi, mereka berhipotesis bahwa nilai matematika yang rendah dari SAT bisa "berasal dari sebuah cacat dalam integrasi belahan otak." Mereka juga menemukan hubungan kuat antara gangguan memori jangka pendek untuk semua kategori diuji (verbal, visual, dan global) dan durasi dari pelecehan.

E. Penanganan Pada Anak yang Mengalami Pelecehan Seksual Pendekatan awal untuk mengobati seseorang yang telah menjadi korban pelecehan seksual tergantung pada beberapa faktor penting:

Umur pada saat pemberian arahan Keadaan pada saat pemberian arahan pada saat perawatan Kondisi yang tidak wajar

Tujuan pengobatan tidak hanya untuk mengobati masalah-masalah kesehatan mental yang ada pada saat ini, tetapi juga untuk mencegah hal yang sama pada masa yang akan datang. Tiga modalitas utama untuk terapi dengan anak-anak dan remaja yaitu terapi keluarga, terapi kelompok, dan terapi individu. Yang tentu saja digunakan tergantung pada berbagai faktor yang harus dinilai berdasarkan kasus per kasus. Misalnya, pengobatan anak-anak biasanya memerlukan keterlibatan orang tua yang kuat dan akan mendapatkan manfaat dari terapi keluarga. Remaja cenderung lebih mandiri dan bisa mendapatkan keuntungan dari terapi individu atau kelompok. Modalitas ini juga bergeser selama pengobatan, misalnya untuk terapi kelompok jarang digunakan dalam tahap awal sebagai subyek sangat pribadi. Faktor utama yang mempengaruhi baik patologi dan

respon terhadap pengobatan termasuk jenis dan tingkat keparahan dari tindakan seksual, frekuensi, usia di mana hal itu terjadi, dan keluarga asal anak. Seseorang dengan riwayat pelecehan seksual sering datang untuk pengobatan dengan masalah kesehatan mental sekunder yang dapat mencakup penyalahgunaan obatobatan, gangguan makan, gangguan kepribadian, trauma, depresi, dan konflik dalam hubungan romantis atau interpersonal. Umumnya pendekatan ini hanya untuk masalah yang ada pada saat ini saja daripada masalah pelecehan itu sendiri. Pengobatan sangat bervariasi dan tergantung pada isu-isu spesifik orang tersebut. Misalnya, orang dengan sejarah menderita karena pelecehan seksual dari depresi berat akan dirawat karena depresi. Namun, sering terjadi penekanan pada restrukturisasi kognitif karena sifat trauma mendalam (Post Traumatic Stress Disorder atau PTSD). Adapun teknik penanganan yang dapat membantu penyembuhan pada penderita PTSD yaitu dengan Farmakoterapi dan Psikoterapi. Penanganan dengan menggunakan farmakoterapi dapat berupa terapi obat. Obat yang biasa digunakan adalah benzodiazepin, litium, camcolit dan zat pemblok beta seperti propranolol, klonidin, dan karbamazepin. Sedangkan penanganan dengan Psikoterapi yaitu dengan Gerakan Mata Desensitisasi dan pengolahan (Eye movement desensitization and reprocessing - EMDR) telah terbukti efektif. Atau dapat pula dengan anxiety management, cognitive therapy, exposure therapy. Pada anxiety management, terapis akan mengajarkan beberapa ketrampilan untuk membantu mengatasi gejala PTSD dengan lebih baik melalui: 1) relaxation training, yaitu belajar mengontrol ketakutan dan kecemasan secara sistematis dan merelaksasikan kelompok otot-otot utama, 2) breathing retraining, yaitu belajar bernafas dengan perut secara perlahan - lahan, santai dan menghindari bernafas dengan tergesa - gesa yang menimbulkan perasaan tidak nyaman, bahkan reaksi fisik yang tidak baik seperti jantung berdebar dan sakit kepala, 3) positive thinking dan self-talk, yaitu belajar untuk menghilangkan pikiran negatif dan mengganti dengan pikiran positif ketika menghadapi hal-halyang membuat stress (stresor), 4) assertiveness training, yaitu belajar bagaimana mengekspresikan harapan, opini dan emosi tanpa menyalahkan atau menyakiti orang lain, 5) thought stopping, yaitu belajar bagaimana mengalihkan pikiran ketika kita sedang memikirkan hal-hal yang membuat kita stress (Anonim, 2005b).

10

Dalam cognitive therapy, terapis membantu untuk merubah kepercayaan yang tidak rasional yang mengganggu emosi dan mengganggu kegiatan - kegiatan kita. Misalnya seorang korban kejahatan mungkin menyalahkan diri sendiri karena tidak hati hati. Tujuan kognitif terapi adalah mengidentifikasi pikiran - pikiran yang tidak rasional, mengumpulkan bukti bahwa pikiran tersebut tidak rasional untuk melawan pikiran tersebut yang kemudian mengadopsi pikiran yang lebih realistik untuk membantu mencapai emosi yang lebih seimbang (Anonim, 2005b). Sementara itu, dalam exposure therapy para terapis membantu menghadapi situasi yang khusus, orang lain, obyek, memori atau emosi yang mengingatkan pada trauma dan menimbulkan ketakutan yang tidak realistik dalam kehidupannya. Terapi dapat berjalan dengan cara: exposure in the imagination, yaitu bertanya pada penderita untuk mengulang cerita secara detail sampai tidak mengalami hambatan menceritakan; atau exposure in reality, yaitu membantu menghadapi situasi yang sekarang aman tetapi ingin dihindari karena menyebabkan ketakutan yang sangat kuat (misal: kembali ke rumah setelah terjadi perampokan di rumah). Ketakutan bertambah kuat jika kita berusaha mengingat situasi tersebut dibanding berusaha melupakannya. Pengulangan situasi disertai penyadaran yang berulang akan membantu menyadari situasi lampau yang menakutkan tidak lagi berbahaya dan dapat diatasi (Anonim, 2005b). Di samping itu, didapatkan pula terapi bermain (play therapy) mungkin berguna pada penyembuhan anak dengan PTSD. Terapi bermain dipakai untuk menerapi anak dengan PTSD. Terapis memakai permainan untuk memulai topik yang tidak dapat dimulai secara langsung. Hal ini dapat membantu anak lebih merasa nyaman dalam berproses dengan pengalaman traumatiknya (Anonim, 2005b).

11

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Kekerasan seksual merupakan bentuk kontak seksual atau bentuk lain yang tidak diinginkan secara seksual. Kekerasan seksual biasanya disertai dengan tekanan psikologis atau fisik (OBarnett et al., dalam Matlin, 2008). Perkosaan merupakan jenis kekerasan seksual yang spesifik. Perkosaan dapat didefiniskan sebagai penetrasi seksual tanpa izin atau dengan paksaan, disertai oleh kekerasan fisik (Tobach,dkk dalam Matlin, 2008). Kategori Identitas Pelaku kekerasan/Pelecehan Seksual dapat di bagi 2 yaitu : Extrafamilial Abuse dan Familial Abuse. Adapun Faktor utama pelecehan seksual terhadap bocah karena adanya pergeseran nilai-nilai sosial di masyarakat. Dengan demikian tidak ada lagi patokan-patokan yang menentukan suatu hal boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan, atau patokan baik dan buruk di kalangan masyarakat, dan menyebabkan setiap orang saling tidak peduli terhadap perbuatan orang lain. Dampak dari Pelecehan/Kekerasan Seksual bisa berupa Kerusakan Psikologis dan Kerusakan Fisik, oleh karena itu ketika seseorang mengalami kekerasan atau pelecehan seksual secara fisik maupun psikologis, maka kejadian tersebut dapat menimbulkan suatu trauma yang sangat mendalam dalam pada diri seseorang tersebut terutama pada anak anak dan remaja. Kejadian traumatis tersebut dapat mengakibatkan gangguan secara mental, yaitu PTSD. Tingkatan gangguan stress pasca trauma berbeda - beda bergantung seberapa parah kejadian tersebut mempengaruhi kondisi psikologis dari korban, begitu juga dengan penyembuhannya.

12

DAFTAR PUSTAKA

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22787/4/Chapter%20II.pdf diakses 31/03/2014 http://id.wikipedia.org/wiki/Pelecehan_seksual_terhadap_anak diakses 31/03/2014

http://health.liputan6.com/read/772744/anak-jadi-korban-kekerasan-seksual-itu-salahorangtua diakses 31/03/2014

http://geraldinyesi.blogspot.com/2012/06/karya-ilmiah-tentang-kekerasan-terhadap.html diakses 31/03/2014

http://www.vemale.com/relationship/intim/37824-empat-penyebab-orang-melakukanpelecehan-seksual-pada-anak.html diakses 31/03/2014

http://www.beritasatu.com/megapolitan/144251-dekadensi-moral-penyebab-kekerasanseksual-pada-anak.html diakses 31/03/2014

http://journal.unair.ac.id/filerPDF/Gangguan%20Stres%20Pasca%20Trauma%20pada%20Ko rban.pdf diakses 31/03/2014 Anonim,PelecehanSeksual,http://situs.kesrepro.info/gendervaw/materi/pelecehan.htm, diakses 31/03/2014. Anonim,PelecehanSeksualdanPemerkosaan,http://hqweb01.bkkbn.go.id/hqweb/ceria/penge lolaceria/pp3pelecehan-seksual.html, diakses 31/03/2014

13

Anda mungkin juga menyukai