Anda di halaman 1dari 5

TUGAS PENYAKIT NAMA NIM JUDUL : AMELIA PRATIWI : 0907101010153 : ALERGI MAKANAN & KERACUNAN MAKANAN

ALERGI MAKANAN
Definisi : suatu penyakit yang disebabkan oleh suatu alergen yang biasanya merupakan protein yang mempunyai kemampuan menginduksi

pembentukan antibodi IgE jika diingesti (wong, 2008) Etiologi Prevalensi : Alergen, biasanya berupa kelainan yang bersifat genetik : 1,4 2,5% (dewasa) dan 0,3 0,7% merupakan anak-anak, 6-8% anak berumur dibawah 3 tahun. Patofisiologi : ketika alergen dari makanan mensensitasi, sejumlah besar histamin akan diproduksi. Efeknya berupa vasodilatasi yang menyebabkan lidah dan tenggorokkan membengkak, memotong aliran oksigen ke paru-paru, menyebabkan bersin dak sakit dada. Selain itu juga menyebabkan pembuluh darah melebar dan cairan tubuh hilang dari sirkulasi sehingga tekanan darah turun secara dramatis . Racun-racun akan dikeluarkan melalui otot-otot bronkio (saluran pernafasan) mengejang yang akan menimbulkan efek sesak atau tercekik. akhirnya dapat menyebabkan syok anfilaktik dan

mengakibatan kematian. Gejala klinis : 1. kulit terasa gatal dan merah 2. sakit perut 3. muntah dan diare 4. eskim dan urtikaria 5. asma 6. udem bibir dan mulut 7. rinitis konjungtivitis 8. radang tenggorokkan (arisman, 2009) Pemeriksaan Penunjang :

a. Tes tusuk kulit (skin prick test) dengan pasien tanpa penggunaan antihistamin b. Tes RAST untuk mengukur IgE spesifik terhadap antigen tersangka (Davey, 2005)

Diagnosis : A. Anamnesis : 1. Riwayat alergi makanan pada pasien 2. Jenis makanan yang dikonsumsi selama 1-2 minggu terakhir 3. Apakah terdapat gatal dan kemerahan pada kulit, muntah dan diare, asma, udem bibir dan mulut serta rinitis konjungtivitis dan radang tenggorokkan. B. Pemeriksaan fisik ; 1. Denyut nadi, takikardi atau bahkan bradikardi 2. Td : menurun dengan perubahan posisi jika hipotensif 3. Warna kulit pucat dan suhu 4. Apakah terdapat merah pada mata 5. Apakah terdapat bengkak pada bagian mulut dan lidah serta tenggorokkan 6. Kelainan pada kulit berupa: kemerahan, eskim dan urtikaria atau bekas garukan 7. Apakah pasien terlihat sesak Diferential Diagonse Tatalaksana : a. Hindari makanan yang menyebabkan alergi b. Suntikan Adrenalin bagi pasien syok anfilaktik (pada kondisi darurat) c. Makan-makan cukup gizi untuk meningkatkan imun Komplikasi Prognosis Pencegahan cara Tes Eliminasi ; Tahap 1 Tentukan makanan yang dicurigai sebagai alergen. Biasanya makanan ini cukup sering di konsumsi ( 5 kali perminggu), bahkan makanan ini sering membuat kecanduan. Tahap 2 Jangan memakan makanan tersebut selama sekitar 28 hari (untuk anak tidak lebih dari 7 hari), mbisa lebih dari satu jenis. Dalam tahap ini catatlah bila ada peningkatan suasana hati dan kemampuan konsentrasi. Tahap 3 Pada hari ke-28, duduklah selama 5 menit, lalu hitung denyut nadi selama 1 menit. Cara terbaik adalah dengan menyentuh arteri karotis. Tahap 4 Konsumsi makanan yang dihindari sebelumnya dalam porsi biasa, lebih baik tanpa kombinasi Tahap 5 Hitung kembali denyut nadi setelah 10, 30 dan 60 menit ; : sesak dan kematian : Baik bila penanganan cepat dan tepat (Marsde, 2008). : lakukan identifikasi makanan yang meneybabkan alergi pada pasien dengan : Syok, Obstruksi jalan nafas, pelepasan mediator, angioderma recuren.

1. Jika denyut bertambah lebih dari 10 ali permenit pada setiap penghitungan, curigai makanan tersebut penyebab perubahan reaksi mental dan fisik yang muncul 2. Jika denyut tidak bertambah, tetapi pasien merasa lelah, sakit kepala, depresi, hiperaktif atau mengalami masalah pencernaan selama 48 jam berikutnya, maka makanan tersbut bisa dianggap bertanggung jawab atas munculnya reaksi tersbut 3. Jika denyut nadi tidak meningkat dan tida mengalami reaksi alergen khusus, emungkinan makanan tadi bukan penyebab alergi Tahap 6 Jika anda menghindari lebih dari satu jenis makanan, tunggulah sampai 48 jam setelah mengonsumsi kembali makanan pertama sebelum mengulangi semua tahap yang sama untuk jenis makanan berikutnya .

Keracunan makanan
Definisi : penyakit gastroenteritis akut yang disebabkan oleh makanan terkontaminasi oleh bakteri hidup atau oleh toksin yang dihasilkannya atau oleh sebab zat-zat anorganik dan racun yang berasal dari tanaman dan binatang
:

etiologi

1. Keracunan makanan akibat bakteri (bacterial food poisoning), terjadi setelah menyantap makanan yang terkontaminasi oleh toksin yang dihasilkan oleh ; a. Salmonella b. Stafilokokkus c. Botulisme d. Cl perfringens 2. Keracunan makanan bukan akibat bakteri (non bacteri food poisoning), bukan disebabkan oleh bakteri hidup maupun toksin yang dihasilkannya, antara lain ; a. Keracunan oleh tumbuh-tumbuhan, seperti ; singkong, jengkol, jamur beracun, atropa belladona, datura stromonium (apel), b. Keracunan karang dan ikan laut c. Keracunan bahan-bahan kimia (Budiman, 2009) Gejala Klinis : biasa nya timbul mendadak berupa diare/ diare berdarah , muntah, nyeri perut, demam, nyeri kepala, mialgia, parestesi, gangguan penglihatan dan reaksi anafilaktik :

Diagnosis

1. Anamnesis ; a. Sudah berapa lama gejala timbul dan lama timbul setelah memakan makanan b. Jenis makanan yang di makan oleh pasien c. Tempat / lokasi makan d. Frekuensi muntan dan diare

2. pemeriksaan fisik, beberapa hal yang perlu diperhatikan daintaranya ; a. mulut kering b. tak ada keringat di ketiak c. kencing berkurang 3. pemeriksaan laboratorium berupa pemeriksaan airseni, darah dan tinja. Kultur tinja dilakukan dengan indikasi pasien diare berdarah, nyeri perut hebat atau dalam keadaan immunocompromise. 4. pemeriksaan penunjang seperti radiologi(foto polos abdomen) untuk pasien dengan keluhan perut kembung, nyeri hebat atau dicurigai terjadi obstruksi atau perforasi. Jika diare bercampur darah dilakukan simoidoskopi untuk mengeleminasi penyakit lain seperti Infamatory bowel desease, shigellosis, disentri amoeba atau diare yang terkait dengan penggunaan antibiotik (arisman, 2009) Diferential Diagnose : kolera, disentri basiler akut dan keracunan zat arsenik

Pemeriksaan penunjang : pada kasus berat dapat dilakukan kultur tunja dan darah, hitung darah lengkap, elektronik dan foto abdomen. Jika diare menetap > 3 minggu, petimbangkan untuk melakukan sigmoidoskopi, biopsi rektum dan rujuk ke klinik gastroenterologi Tatalaksana dan prognosis : kasus ringan tidak membutuhkan terapi selain anjuran rehidrasi oral. Kasus yang lebih berat mungkin perlu mendapat cairanintravena. Jika pasien dicurigai termakan racunan tertentu dilakukan pembilasan lambung. Indikasi pemberian antibiotik adalah septikemia(demam dan kultur darah positif). Siprofloksasin adalah antibiotik lini pertama yang baik (samonella, shogella dan campylobacter spp) (davey, 2003)

DAFTAR PUSTAKA
Arisman. 2009. Keracunan makanan ; buku ajar ilmu gizi. Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta. Davey, P. 2005. At a glance MEDICINE. Penerbit Erlangga. Jakarta. Hal 105 dan 204. Budiman, C. 2009. Ilmu Kedokteran Pencegahan dan komunitas. Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta. Hal 276. Marsden, K. 2008. The Complet book of food combining : panduan diet sehat terlengkap, terbaru, dan mudah sekali diprkatikkan. Penerbit Qanita. Bandung. Hal 261 Wong, D., L. 2008. Buku Ajar keperawatan pediatrik Wong. Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta. Hal 446.