Anda di halaman 1dari 38

sejarah farmakologi

2.1 Definisi Farmakologi (pharmacology) berasal dari bahasa Yunani, yaitu pharmacon adalah obat dan logos adalah ilmu. Obat adalah setiap zat kimia yang dapat mempengaruhi proses hidup pada tingkat molekular. Farmakologi sendiri dapat didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari interaksi obat dengan konstituen (unsur pokok) tubuh untuk menghasilkan efek terapi (therapeutic). Banyak definisi tentang farmakologi yang dirumuskan olah para ahli, antara lain: Farmakologi dapat dirumuskan sebagai kajian terhadap bahan-bahan yang berinteraksi dengan sistem kehidupan melalui proses kimia, khususnya melalui pengikatan molekulmolekul regulator yang mengaktifkan atau menghambat proses-proses tubuh yang normal (Betran G. Katzung). Ilmu yang mempelajari mengenai obat, mencakup sejarah, sumber, sifat kimia dan fisik, komponen, efek fisiologi dan biokimia, mekanisme kerja, absorpsi, distribusi, biotransformasi, ekskresi dan penggunaan obat (Farmakologi dan Terapi UI). Dengan demikian, farmakologi merupakan ilmu pengetahuan yang sangat luas cakupannya. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, beberapa bagian dari farmakologi ini telah berkembang menjadi disiplin ilmu tersendiri dalam ruang lingkup yang lebih sempit, tetapi tidak terlepas sama sekali dari farmakologi, misalnya farmakologi klinik, farmasi, toksikologi, dan lain-lain. Umumnya, para ahli farmakologi menggabungkan antara farmakologi kedokteran atau farmakologi medis (ilmu yang berkaitan dengan diagnosis, pencegahan, dan pengobatan penyakit) dengan toksikologi (ilmu yang mempelajari efek-efek yang tidak diinginkan dari suatu obat dan zat kimia lain).

Klasifikasi Farmakologi: 1. Farmakognosi Cabang ilmu farmakologi yang mempelajari sifat-sifat tumbuhan dan bahan lain yang merupakan sumber obat. 2. Farmakokinetik Cabang Ilmu farmakologi yang mempelajari perjalanan obat dalam tubuh 3. Farmakodinamik Cabang ilmu farmakologi yang mempelajari tentang efek obat terhadap fisiologi dan biokimia dari sel jaringan/organ tubuh beserta mekanisme kerjanya

4. Farmakologiklinik Cabang ilmu farmakologi yang mempelajari efek obat pada manusia 5. Farmakoterapi Cabang ilmu farmakologi yang berhubungan dengan penggunaan obat dalam pencegahan dan pengobatan penyakit 6. Toksikologi Ilmu yang mempelajari keracunan zat kimia. Zat kimia yang dimaksud tersebut termasuk obat atau zat yg digunakan dalam rumah tangga, industri, maupun lingkungan hidup lain (contoh: insektisida, pestisida, zat pengawet, dll) 7. Farmakoekonomi Cabang ilmu yang khusus mempelajari hubungan antara obat dan nilai ekonomis yg dapat dihasilkan oleh obat tersebut Hubungan antara dosis suatu obat yang diberikan pada seorang pasien dan penggunaan obat dalam pengobatan penyakit digambarkan dengan dua bidang khusus farmakologi yaitu: farmakokinetik dan farmakodinamik. Farmakodinamik mempelajari apa pengaruh obat pada tubuh. Farmakodinamik berkaitan dengan efek-efek obat, bagaimana mekanisme kerjanya dan organ-organ apa yang dipengaruhi. Farmakokinetik mempelajari proses apa yang dialami obat dalam tubuh. Farmakokinetik berkaitan dengan absorpsi, distribusi, biotransformasi, dan ekskresi obat-obat. Faktor-faktor ini dirangkaikan dengan dosis, penentuan konsentrasi suatu obat pada tempat kerjanya, dan penentuan intensitas efek obat sebagai fungsi dari waktu paruh. Banyak prinsip biokimia, enzimologi, fisik, dan kimia yang menentukan transfer aktif dan pasif, serta distribusi zat melewati membran-membran biologi yang dapat dipakai untuk dapat mengerti aspek penting dalam farmakoogi. Farmakodinamik berkaitan dengan efek-efek biokimia, fisiologi, dan mekanisme kerja obat-obatan. Farmakodinamik dan farmakokinetik akan dijelaskan sebagai berikut: 1. Farmakodinamik Farmakodinamik adalah subdisiplin farmakologi yang mempelajari efek biokimiawi dan fisiologi obat, serta mekanisme kerjanya. Tujuan mempelajari farmakodinamik adalah untuk meneliti efek utama obat, mengetahui interaksi obat dengan sel, dan mengetahui urutan peristiwa serta spektrum efek dan respons yang terjadi. a. Mekanisme Kerja Obat

kebanyakan obat menimbulkan efek melalui interaksi dengan reseptornya pada sel organism. Interaksi obat dengan reseptornya dapat menimbulkan perubahan dan biokimiawi yang merupakan respon khas dari obat tersebut. Obat yang efeknya menyerupai senyawa endogen disebut agonis, obat yang tidak mempunyai aktifitas intrinsik sehingga menimbulkan efek dengan menghambat kerja suatu agonis disebut antagonis. b. Reseptor Obat Protein merupakan reseptor obat yang paling penting. Asam nukleat juga dapat merupakan reseptor obat yang penting, misalnya untuk sitotastik. Ikatan obatreseptor dapat berupa ikatan ion, hydrogen, hidrofobik, vanderwalls, atau kovalen. Perubahan kecil dalam molekul obat, misalnya perubahan stereoisomer dapat menimbulkan perubahan besar dalam sifat farmakologinya. c. Transmisi Sinyal Biologis Penghantaran sinyal biologis adalah proses yang menyebabkan suatu substansi ekstraseluler yang menimbulkan respon seluler fisiologis yang spesifik. Reseptor yang terdapat di permukaan sel terdiri atas reseptor dalam bentuk enzim. Reseptor tidak hanya berfungsi dalam pengaturan fisiologis dan biokimia, tetapi juga diatur atau dipengaruhi oleh mekanisme homeostatic lain. Bila suatu sel di rangsang oleh agonisnya secara terus-menerus maka akan terjadi desentisasi yang menyebabkan efek perangsangan. d. Interaksi Obat-Reseptor Ikatan antara obat dengan resptor biasanya terdiri dari berbagai ikatan lemah (ikatan ion, hydrogen, hidrofilik), mirip ikatan antara subtract dengan enzim dan jarang terjadi ikatan kovalen. 2. Farmakokinetik Farmakokinetik mencakup 4 proses, yaitu proses absorpsi distribusi metabolisme dan ekskresi. Metabolisme atau biotransformasi dan ekskresi bentuk utuh atau bentuk aktif merupakan proses eliminasi obat a. Absorpsi Absorpsi merupakan proses masuknya obat dari tempat pemberian ke dalam darah. Bergantung pada cara pemberiannya, tempat pemberian obat adalah saluran cerna (mulut sampai rektum), kulit, paru, otot, dan lain-lain. Yang terpenting adalah cara pemberian obat per oral, dengan cara ini tempat absorpsi utama adalah usus halus karena memiliki permukaan absorpsi yang sangat luas, yakni 200 meter persegi

(panjang 280 cm, diameter 4 cm, disertai dengan vili dan mikrovili ). Obat yang diserap oleh usus halus ditransport ke hepar sebelum beredar ke seluruh tubuh. Hepar memetabolisme banyak obat sebelum masuk ke sirkulasi. Hal ini yang disebut dengan efek first-pass. Metabolisme hepar dapat menyebabkan obat menjadi inaktif sehingga menurunkan jumlah obat yang sampai ke sirkulasi sistemik, jadi dosis obat yang diberikan harus banyak. b. Distribusi Distribusi obat adalah proses obat dihantarkan dari sirkulasi sistemik ke jaringan dan cairan tubuh, meliputi: aliran darah, permiabilitas kapiler, dan ikatan kovalen. c. Metabolisme Metabolisme atau biotransformasi obat adalah proses tubuh merubah komposisi obat sehingga menjadi lebih larut air untuk dapat dibuang keluar tubuh. Obat dapat dimetabolisme melalui beberapa cara yaitu: metabolisme inaktif kemudian diekskresikan dan metabolisme aktif yang memiliki kerja farmakologi tersendiri dan dimetabolisme lanjutan d. Ekskresi Ekskresi obat artinya eliminasi obat dari tubuh. Sebagian besar obat dibuang dari tubuh oleh ginjal dan melalui urin. Obat jugadapat dibuang melalui paru-paru, eksokrin (keringat, ludah, payudara), kulit dan taraktusintestinal. e. Hal-hal lain terkait Farmakokinetik, meliputi: Waktu Paruh Waktu paruh adalah waktu yang dibutuhkan sehingga setengah dari obat dibuang dari tubuh. Faktor yang mempengaruhi waktu paruh adalah absorpsi, metabolism dan ekskresi. Waktu paruh penting diketahui untuk menetapkan berapa sering obat harus diberikan. Onset, puncak, and durasi Onset adalah waktu dari saat obat diberikan hingga obat terasa kerjanya. Sangat tergantung rute pemberian dan farmakokinetik obat. Puncak adalah setelah tubuh menyerap semakin banyak obat maka konsentrasinya di dalam tubuh semakin meningkat. Durasi adalah kerja lama obat menghasilkan suatu efek terapi.

2.2 Sejarah Farmakologi Sejarah farmakologi dibagi menjadi 2 periode yaitu periode kuno dan periode modern. Periode kuno (sebelum tahun 1700) ditandai dengan observasi empirik

penggunaan obat dapat dilihat di Materia Medika. Catatan tertua dijumpai pada pengobatan Cina dan Mesir. Claudius Galen (129200 A.D.), orang pertama yg mengenalkan bahwa teori dan pengalaman empirik berkontribusi seimbang dalam penggunaan obat. Theophrastus von Hohenheim (14931541 A.D.), atau Paracelsus: All things are poison, nothing is without poison; the dose alone causes a thing not to be poison. Johann Jakob Wepfer (16201695) the first to verify by animal experimentation assertions about pharmacological or toxicological actions. Periode modern dimulai Pada abad 18-19, mulai dilakukan penelitian eksperimental tentang perkembangan obat, tempat dan cara kerja obat, pada tingkat organ dan jaringan. Rudolf Buchheim (18201879) mendirikan the first institute of Pharmacology di the University of Dorpat (Tartu, Estonia) in 1847 pharmacology as an independent scientific discipline. Oswald Schmiedeberg (18381921), bersama seorang internist, Bernhard Naunyn (18391925), menerbitkan jurnal farmakologi pertama. John J. Abel (18571938) The Father of American Pharmacology, was among the first Americans to train in Schmiedebergs laboratory and was founder of the Journal of Pharmacology and Experimental Therapeutics (published from 1909 until the present). Regulasi obat bertujuan menjamin hanya obat yang efektif dan aman, yang tersedia di pasaran. Tahun 1937 lebih dari 100 orang meninggal karena gagal ginjal akibat eliksir sulfanilamid yang dilarutkan dalam etilenglikol. Kejadian ini memicu diwajibkannya melakukan uji toksisitas praklinis untuk pertama kali. Selain itu industri diwajibkan melaporkan data klinis tentang keamanan obat sebelum dipasarkan. Tahun 1950-an, ditemukan kloramfenikol dapat menyebabkan anemia aplastis. Tahun 1952 pertama kali diterbitkan buku tentang efek samping obat. Tahun 1960 dimulai program MESO (Monitoring Efek Samping Obat). Tahun 1961, bencana thalidomid, hipnotik lemah tanpa efek samping dibandingkan golongannya, namun ternyata menyebabkan cacat janin. Studi epidemiologi di Utero memastikan penyebabnya adalah thalidomid, sehingga dinyatakan thalidomid ditarik dari peredaran karena bersifat teratogen. Tahun 1962, diperketat harus dilakukannya uji toksikologi sebelum diuji pada manusia. Setelah itu (tahun 1970-an hingga 1990an) mulai banyak dilaporkan kasus efek samping obat yang sudah lama beredar. Tahun 1970-an Klioquinol dilaporkan menyebabkan neuropati subakut mielo-optik. Efek samping ini baru diketahui setelah 40 tahun digunakan. Dietilstilbestrol diketahui menyebabkan adenocarcinoma serviks (setelah 20 tahun digunakan secara luas). Selain itu masih banyak lagi penemuan ESO (Efek Samping Obat) yang menyebabkan pencabutan ijin edar atau pembatasan

pemakaian. Berbagai kejadian ESO yang dilaporkan memicu pencarian metode baru untuk studi ESO pada sejumlah besar pasien. Hal ini memicu pergeseran dari studi efek samping ke studi kejadian ESO. Tahun 1990an dimulai penggunaan

Farmakoepidemiologi untuk mempelajari efek obat yang menguntungkan, aplikasi ekonomi kesehatan untuk studi efek obat, studi kualitas hidup, dan lain-lain. Studi Farmakoepidemiologi semakin bekembang, dan pada tahun 1996 dikeluarkanlah Guidelines for Good Epidemiology Practices for Drug, Device, and Vaccine Research di USA

2.1

Definisi Obat Obat merupakan sediaan atau paduan bahan-bahan yang siap untuk digunakan

untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan, kesehatan dan kontrasepsi (Kebijakan Obat Nasional, Departemen Kesehatan RI, 2005). Obat adalah sediaan atau paduan-paduan yang siap digunakan untuk

mempengaruhi atau menyelidiki secara fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosa, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi (PerMenKes 917/Menkes/Per/x/1993). Bahan aktif obat agar digunakan nyaman, aman, efisien dan optimal dikemas dalam bentuk sediaan obat (BSO) atau disebut sediaan farmasi. Bentuk sediaan obat (BSO) dapat mengandung satu atau lebih komponen bahan aktif. Bentuk sediaan obat ini beragam jenisnya, mulai dari yang padat, cair, aerosol, serbuk dan sebagainya. Bermacam jenis obat tersebut memiliki fungsi tertentu atau digunakan untuk terapi obat tertentu.

2.2

Sediaan Obat Padat Sediaan padat adalah sediaan yang mempunyai bentuk dan tekstur yang padat dan

kompak. Macam-macam sediaan padat pada obat antara lain serbuk, granul, tablet, dan kapsul. 2.2.1 Serbuk

a. Pengertian Menurut FI ed. IV serbuk adalah campuran kering bahan obat atau zat kimia yang dihaluskan untuk pemakaian dalam secara oral atau untuk pemakaian luar. Serbuk merupakan campuran homogen dua atau lebih obat yang diserbukkan. b. Kegunaan

1) Serbuk lebih mudah terdispersi dan lebih larut daripada sediaan yang dipadatkan. 2) Anak-anak atau orang tua yang sukar menelan kapsul atau tablet lebih mudah menggunakan obat dalam bentuk serbuk. 3) Masalah stabilitas yang sering dihadapi dalam sediaan cair tidak ditemukan di serbuk. 4) Obat yang tidak stabil dalam suspense atau larutan air dapat dibuat dalam bentuk serbuk. 5) Obat yang volumenya terlalu besar untuk dibuat tablet atau kapsul dapat dibuat dalam bentuk serbuk. c. Jenis 1) Serbuk terbagi (pulveres) Pulveres (divided powder) adalah serbuk yang dibagi dalam bobot yang kurang lebih sama dengan yang dibungkus, dikemas dalam suatu bungkus/sachet/perkamen atau bahan pengemas lain yang cocok untuk dosis tungal 2) Serbuk tak terbagi (pulvis) a. Bulk powder tersedia sebagai sirup oral antibiotik dan serbuk kering lainnya yang tidak poten (antasida, makanan diet). Untuk multiple dosis. b. Pulvis adspersorium (serbuk tabur/bedak) adalah serbuk ringan untuk penggunaan obat tropical memudahkan penggunaan pada kulit. c. Pulvis dentifriciius (serbuk gigi). Serbuk yang bisa mengobati sakit gigi, penggunaannya dengan cara di taburkan para gigi yang sakit atau brlubang. d. Pulvis sternutatorius (serbuk bersin). Pengunaannya dihisap melalui hidung sehingg serbuk tersebut harus halus sekali

e. Pulvis effervescent. Serbuk biasa yang sebelum ditelan harus dilarutkan dulu dalam air dingin atau air hangat , dan menghasilkan gas CO2 kemudian membentuk larutan yang umumnya jernih.serbuk ini merupakan campuran senyawa asam dan basa. Bentuk serbuk ini banyak ditemukan pada minuman berenergi yang banyak beredar. f. Powder for injection (serbuk injeksi) 2.2.2 Granul

a. Pengertian

Granul merupakan sediaan multi unit berbentuk agglomerate dari partikel kecil serbuk. Granul merupakan hasil dari proses granulasi yang bertujuan untuk meningkatkan aliran serbuk dengan jalan membentuknya menjadi bulatan-bulatan atau agregat-agregat dalam bentuk yang beraturan. Granul adalah sediaan padat berbentuk bulat seperti kelereng yang mengandung satu atau lebih bahan obat.Granul beratnya 30 mg dan yang beratnya lebih dari 500 mg disebut boli. b. Keuntungan dan Kerugian Keuntungan dan kerugian granul Sediaan granul (multunit) memiliki beberapa keunmtungan dan kerugian di bandingkan dengan sediaan tunggal.

Keuntungannya antara lain, lebih mudah diperkirakan waktu pengosongannya dilambung, variasi absorpsinya rendah, dan memiliki resiko yang lebih rendah untuk terjadinya dose dumping. Beberapa keerugian sediaan granul (multiunit) di bandingkan sediaan tunggal antara lain, proses pembuatannya lebih sulit dan lebih mahal, dan proses pengisian kekapsul gelatin sulit terutama untuk partikel yang berbeda ukuran. 2.2.3 Tablet

a. Pengertian Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi. Harus merupakan produk menarik yang mempunyai identitas sendiri serta bebas dari serpihan, keretakan, pemucatan, kontaminasi. Harus mempunyai permukaan yang halus, baik dalam penampilan dan harus kompak sehingga tidak akan mengalami friabilitas, pengelupasan dalam wadah dan sanggup menahan guncangan mekanik selama produksi dan pengepakan. Harus mempunyai stabilitas kimia dan fisika untuk mempertahankan sediaan dari pengaruh lingkungan dan penurunan mutu zat berkhasiat. b. Macam-macam tablet antara lain: 1) Berdasarkan teknik pembuatannya dikenal 2 macam (Anonim, 1995) a. Tablet cetak b. Tablet kempa 2) Berdasarkan penggunaannya (Anonim, 1995) a. Bolus b. Tablet triturat c. Tablet hipodermik d. Tablet bukal

10

e. Tablet sublingual f. Tablet efervesen (tablet buih) g. Tablet kunyah (chewable tablet) h. Tablet Hisap (Lozenges) 3) Berdasarkan formulasinya maka tablet dibedakan menjadi: a. Tablet Salut Gula (Tsg) (Dragee, Sugar Coated Tablet) b. Tablet Salut Film (Tsf) (Film Coated Tablet, Fct) c. Tablet Salut Enterik (Enteric Coated Tablet) d. Sediaan Retard (Sustained Released, Form Prolonged Action, Form Timesapan, Spanful) 4) Berdasarkan bentuknya maka tablet dibedakan menjadi: a. Bulat pipih b. Silindris seperti kapsul

2.2.4 Kapsul a. Pengertian Kapsul adalah sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat larut. Kapsul harus mudah ditelan dan tidak memiliki rasa dan bau yang tidak enak. Sifat penting dari bahan aktif adalah ukuran partikel dan kelarutan, formulasi kandungan kapsul lunak, baik cairan, larutan dan suspensi yang diisikan ke dalam kapsul harus homogen. Bahan aktif berbentuk padat/setengah padat dengan/tanpa bahan tambahan & terbungkus cangkang yang terbuat dari gelatin dengan/tanpa bahan tambahan. Ukuran kapsul 000, 00, 0, 1, 2, 3, 4, 5. Ukuran 000 mempunyai volume terbesar (1,36 ml) dan ukuran5 mempunyai volume terkecil (0,12 ml). Tujuan sediaan kapsul menghilangkan bau obat dan menghilangkan rasa. Kapsul dapat dipecah

dalam lambung dan bisa juga dipecah dalam usus. Penyimpanan kapsul harus dalam wadah tertutup rapat dan sebaiknya diberikan zat pengering serta ditaruh ditempat yang sejuk. b. Macam-macam kapsul antara lain: 1) Kapsul cangkang keras (Hard capsule)

11

kapsul ini konsistensinya padat atau keras . Contoh: kapsul tetrasiklin, kapsul ampisilin, kapsul kloramfenikol, dll. 2) Kapsul cangkang lunak (Soft capsule) Kapsul ini dibuat dari gelatin. contoh: hemaviton dan sangobion. a. Sustained Release Capsule Obat dalam bentuk ini di lepas secara pelan-pelan dan umumnya dimasukan obat-obat dalam bentuk granul. b. Enteric Capsul Obat ini di pecah di dalam usus yang bertujuan agar tidak dirusak dilambung atau tidak mengiritasi lambung. Agar kapsulnya keras dimasukkan dalam larutan formal dehide 2.3 Sediaan Obat Cair

2.3.1 Pengertian Pengertian bentuk sediaan obat cair Saturai dan Naturalisasi. Saturasi adalah larutan yang mengandung CO2 jenuh biasanya diperoleh juga dari reaksi asam dan garam karbonat, naturalisasi adalah larutan netral yang dibuat dengan mereaksikan asam dan basa. Bila basanya adalah asam karbonat (NaCO3/NaHCO3) yang direaksikan dengan suatu asam, menghasilkan CO2. Semua gas CO2 yang terbentuk tsb harus dihilangkan semuanya. 2.3.2 Kegunaan Kegunaan dari obat saturai dan naturalisasi untuk menutupi rasa garam yang tidak enak, CO2 mempercepat absorbsi, merangsang keluarnya getah pencernaan yang banyak, sebagai carminativum atau laxans, untuk antioxydant, memberi efek psiokologi bahwa obat tersebut kuat. 2.3.3 Jenis a. Solutiones (Larutan) Merupakan sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang dapat larut, biasanya dilarutkan dalam air, yang karena bahan-bahannya, cara peracikan atau penggunaannya, tidak dimasukkan dalam golongan produk lainnya (Ansel). Dapat juga dikatakan sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang larut, misalnya terdispersi secara molekuler dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur. Cara penggunaannya

12

yaitu larutan oral (diminum) dan larutan topikal (kulit). Sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang terlarut. Terbagi atas : 1) Larutan Oral Sediaan cair yang dimasukan untuk pemberian oral. mengandung satu atau lebih zat dengan atau tanpa bahan pengaroma, pemanis atau pewarna yang larut dalam air atau campuran kosolven air. Jenis-jenis larutan Oral:

a. Sirup adalah larutan oral yang mengandung sukrosa atau gula lain dalam kadar tinggi (sirop simplex adalah sirop yang hampir jenuh dengan sukrosa). Larutan oral yang tidak mengandung gula tetapi bahan pemanis buatan seperti sorbitol atau aspartam, dan bahan pengental, seperti gom selulosa, sering digunakan untuk penderita diabetes. Misalnys potio alba contra tussim (obat batuk putih/OBP) dan potio nigra contra tussim (obat batuk hitam/OBH). b. Eliksir adalah larutan oral yang mengandung etanol 90% yang berfungsi sebagai kosolven (pelarut) dan untuk mempertinggi kelarutan obat. Kadar etanol berkisar antara 3% dan 4%, dan biasanya eliksir mengandung etanol 5-10%. Untuk mengurangi kadar etanol yang dibutuhkan untuk pelarut, dapat ditambahkan kosolven lain seperti gliserin, sorbitol dan propilen glikol. c. Sirop adalah larutan oral yang mengandung sukrosa atau gula lain yang berkadar tinggi (sirop simpleks adalah sirop yang hampir jenuh dengan sukrosa). Kadar sukrosa dalam sirop adalah 64-66%, kecuali dinyatakan lain.Selain sukrosa dan gula lain, pada larutan oral ini dapat ditambahkan senyawa poliol seperti sorbitol dan gliserin untuk menghambat penghabluran dan mengubah kelarutan, rasaa dan sifaat lain zat pembawa. Umumnya juga ditambahkan zat antimikroba untuk mencegah pertumbuhan bakteri, jamur, dan ragi. Jenis-jenis Sirup 1. Sirop simpleks: mengandung 65% gula dalam larutan nipagin 0,25% b/v. 2. Sirop obat: mengandung satu jenis obaat atau lebih dengan atau tanpa zat tambahan dan digunakan untuk pengobatan.

13

3. Sirop pewangi: tidak mengandung obat tetapi mengandung zat pewangi atau zat penyedap lain. Tujuan pengembangan sirop ini adalah untuk menutupi rasa tidak enak dan bau obat yang tidak enak.

d. Netralisasi Netralisasi adalah obat minum yang dibuat dengan mencampurkan bagian asam dan bagian basa sampai reaksi selesai dan larutan bersifat netral. Contoh : solution citratis magnesici, amygdalat ammonicus. 2) Larutan topikal Larutan topikal adalah larutan yang biasanya mengandung air, tetapi sering kali mengandung pelarut lain seperti etanol dan poliol untuk penggunaan pada kulit, atau dalam larutan lidokain oral topikal. Jenis-jenis Larutan Topikal: a. Lotio atau obat gosok adalah sediaan cair berupa suspense atau disperse, digunakan sebagai obat luar. Dapat berbentuk suspense bahan padat dalam bentuk halus dengan bahn pensuspensi yang cocok atau tipe emulsi minyak dalam air (M/A) dengan surfaktan yang cocok. Pada penyimpanan mungkin terjadi pemisahan. Dapat ditambahkan zat warna, zat pengawet, dan zat pewangi yang cocok. 3) Larutan Otik larutan yang mengandung air atau gliserin atau pelarut lain dan bahan pendispersi. Penggunaan telinga luar, misalnya larutan otik benzokain dan antipirin, larutan otik neomisin B sulfat, dan larutan otik hidrokortison. (Syamsuni, A. 2006)Larutan yang dipakai ke dalam telinga ini biasanya mengandung antibiotic, sulfonamida, anestetik local, peroksida (H2O2), fungisida, asam borat, NaCl, gliserin dan propilen glikol. Gliserin dan propilen glikol sering dipakai sebagai pelarut, karena dapat melekat dengan baik pada bagian dalam telinga sehingga obat lebih lama kontak dengan jaringan telinga, sedangkan alkohol dan minyak nabati hanya kadang kadang dipakai.

4) Larutan Optalmik

14

Larutan Optalmik sediaan cair steril yang mengandung partikel-partikel yang terdispersi dalam cairan pembawa untuk pemakaian pada mata. Obat dalam suspensi harus dalam bentuk termikronisasi agar tidak menimbulkan iritasi atau goresan pada kornea. Suspensi obat mata tidak boleh digunakan bila terjadi massa yang mengeras atau penggumpalan. b. Suspensi Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut yang terdispersi dalam fase cair. Suspensi dapat dibagi dalam dua jenis, yaitu suspensi yang siap digunakan atau suspense yang direkonstitusikan dengan sejumlah air atau pelarut lain yang sesuai sebelum digunakan. Jenis produk ini umumnya campuran serbuk yang mengandung obat dan bahan pensuspensi yang dengan melarutkan dan pengocokan dalam sejumlah cairan pembawa (biasanya air murni) menghasilkan bentuk suspensi yang cocok untuk diberikan.Suspensi kering adalah suatu campuran padat yang ditambahkan air pada saat akan digunakan. Agar campuran setelah ditambah air membentuk dispersi yang homogen maka dalam formulanya digunakan bahan pensuspensi. Komposisi suspensi kering biasanya terdiri dari bahan pensuspensi pembasah, pemanis, pengawet, penambah rasa atau aroma, buffer, dan zat warna. Obat yang biasa dibuat dalam sediaan suspense kering adalah obat yang tidak stabil untuk disimpan dalam periode waktu tertentu dengan adanya pembawa air (sebagai contoh obat-obat antibiotic) sehingga lebih sering diberikan sebagai campuran kering untuk dibuat suspense pada waktu akan digunakan. Biasanya suspensi kering hanya digunakan untuk pemakaian selama satu minggu dan dengan demikian maka penyimpanan dalam bentuk cairan tidak terlalu lama.

1) Kegunaan a. Baik digunakan bagi pasien yang sukar menerima tab / kap terutama anakanak. b. Homogenitas tinggi c. Lebih mudah diabsorpsi dari pada tablet atau kap (karena luas permukaan kontak antara zat aktif dengan saluran cerna meningkat) d. Dapat menutupi rasa tidak enak / pahit obat (dari larut atau tdk nya)

15

e. Mengurangi penguraian zat aktif yang tidak stabil dalam air kecil (canister). 2) Jenis Suspensi terdapat dalam berbagai macam bentuk, hal ini terkait dengan cara dan tujuan penggunaan sediaan suspensi tersebut. Beberapa bentuk sediaan suspensi antara lain: a. Suspensi injeksi intramuskuler (misalnya: suspensi penisilin) b. Suspensi sub kutan c. Suspensi tetes mata (misalnya suspensi hidrokortison asetat) d. Per oral (misalnya suspensi amoksillin) e. Rektal (misalnya suspensi para nito sulfatiazol) f. Sebagai reservoir obat g. Patch transdermal h. Formulasi topikal konvensional c. Emulsi Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau cairan obat terdispersi dalam cairan pembawa distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang cocok. Emulsi adalah suatu sistem heterogen yang tidak stabil secara termodinamika, yang terdiri dari paling sedikit dua fase cairan yang tidak bercampur, dimana salah satunya terdispersi dalam cairan lainnya dalam bentuk tetesantetesan kecil, yang berukuran 0,1-100 mm, yang distabilkan dengan emulgator/surfaktan yang cocok. Komponen - komponen dari emulsi dapat digolongkan menjadi 2 macam yaitu : 1) Komponen Dasar Adalah bahan pembentuk emulsi yang harus terdapat didalam emulsi, biasanya terdiri dari : a. Fase dispers / fase internal / fase diskontinyu Yaitu zat cair yang terbagi-bagi menjadi butiran kecil kedalam zat cair lain. b. Fase kontinyu / fase eksternal / fase luar Yaitu zat cair dalam emulsi yang berfungsi sebagai bahan dasar (pendukung) dari emulsi tersebut. c. Emulgator Adalah bagian Berupa zat yang berfungsi untuk menstabilkan emulsi. 2) Komponen Tambahan

16

Bahan tambahan yang sering ditambahkan pada emulsi untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Misalnya corrigen saporis,odoris, colouris, preservatif (pengawet), antoksidant. a. Tipe Emulsi Berdasarkan macam zat cair yang berfungsi sebagai fase internal ataupun eksternal, maka emulsi digolongkan menjadi dua macam yaitu: 1. Emulsi tipe O/W (oil in water) atau M/A (minyak dalam air). Adalah emulsi yang terdiri dari butiran minyak yang tersebar kedalam air. Minyak sebagai fase internal dan air fase eksternal. 2. Emulsi tipe W/O (water in oil) atau A/M (air dalam minak). Adalah emulsi yang terdiri dari butiran air yang tersebar kedalam minyak. Air sebagai fase internal sedangkan fase minyak sebagai fase eksternal. b. Tujuan Pemakaian Emulsi 1. Dipergunakan sebagai obat dalam / peroal. Umumnya emulsi tipe O/W. 2. Dipergunakan sebagai obat luar. Bisa tipe O/W maupun W/O tergantung banyak faktor misalnya sifat zat atau jenis efek terapi yang dikehendaki.

2.4

Sediaan Obat Aerosol Berbagai jenis bahan obat dapat digunakan atau diberikan pada tubuh dalam bentuk

sediaan aerosol. Bentuk sediaan ini dapat digunakan baik secara oral maupun topikal. Bukan hanya sediaan farmasi saja dapat ditemukan dalam bentuk aerosol, berbagai jenis kosmetik juga saat ini dengan mudah ditemukan dalam bentuk aerosol. Bentuk sediaan ini pada umumnya sering ditemukan untuk pengobatan saluran pernafasan misalnya untuk penanganan simptomatis pada penyakit astma, aerosol topical untuk pengobatan akne (jerawat), dan kosmetik seperti styling foam untuk penataan rambut. Aerosol adalah bentuk sediaan yang mengandung satu atau lebih zat aktif dalam wadah kemas tekan, berisi propelan yang dapat memancarkan isinya, berupa kabut hingga habis, dapat digunakan untuk obat dalam atau obat luar dengan menggunakan propelan yang cocok. Aerosol farmasi adalah bentuk sediaan yang diberi tekanan, mengandung satu atau lebih bahan aktif yang bila diaktifkan memancarkan butiran-butiran cairan dan/atau bahan-bahan padat dalam media gas. Aerosol didefinisikan sebagai sistem koloid yang mengandung partikel-partikel padat atau cairan yang sangat halus yang terbagi-bagi didalam dandikelilingi oleh gas. 2.4.1 Kegunaan

17

Aerosol dapat digunakan sebagai berikut : a. Topikal pada kulit Meliputi preparat yang digunakan sebagai antiseptic, antimikotik,

antipruriginosis, antialergik luka bakar dan anastesi lokal. Contoh sediaan yang beredar di masyarakat adalah Rogaine

Foammengandung 5% minoxidil yang telah terbukti secara klinis dapat menumbuhkan kembali 85% rambut pria dalam 16 minggu dengan pemakaian 2 kali sehari. b. Lokal hidung ( Aerosol intranasal) Aerosol inhalasi memiliki kerja lokal pada selaput mukosa saluran pernafasan Ukuran partikel berkisar antara 10 50 m. Ukuran partikel Aaerosol inhalasi lebih kecil dari 10 m. c. d. Lokal Mulut (Aerosol lingual) Lokal Paru-paru (Aerosol inhalasi)

Tiga tipe bentuk sediaan untuk saluran pernafasan, yaitu : metered-dose Inhaler (MDIs), dry-powder Inhaler dan nebulizers. MDIs adalah system yang paling umum digunakan selama lebih dari 50 tahun. Volume produk biasanya 25-100 m, yang dikemas dalam wadah kaleng kecil (canister). 2.4.2 Jenis Sistem Aerosol a. Sistem dua fase : sistem aerosol yang paling sederhana, terdiri dari fase cair yang mengandung propelan cair dan cairan pekat produk,serta fase gas. Sistem ini digunakan untuk formulasi aerosol penggunaan inhalasi atau penggunaan intranasal. Space spray terdiri dari 2% hingga 20% bahan aktif dan 80% hingga 98% propelan. Ukuran partikel yang dihasilkan kurang dari 1 hingga 50 m. Surface Coating spray merupakan produk konsentrat yang terdiri dari 20% hingga 75% bahan aktif dan 25% hingga 80% propelan. Ukuran partikel yang dihasilkan berkisar antara 50 hingga 200 m. b. Sistem tiga fase : sistem yang terdiri dari lapisan air-cairan propelan yang tidak bercampur, lapisan pekat produk yang sangat berair, serta gas. 1) Sistem dua lapisan, pada system ini propelan cair, propelan gas dan larutan bahan aktif akan membentuk tiga fase. Propelan cair dan air, tidak bercampur, propelan cair akan terpisah sebagai lapisan yang tidak bercampur.

18

2) Sistem foam/busa, terdiri dari sistem tiga fase dimana propelan cair tidak lebih dari 10% bobotnya, yang diemulsifikasikan dengan propelan. Jika katup atau valve ditekan, emulsi akan dikeluarkan melalui nozel dan dengan adanya udara hangat dan tekanan atmosfer, propelan yang terperangkap berubah menjadi bentuk gas yang menguap dan mengubah emulsi menjad foam/busa. c. Sistem gas bertekanan. (psia, pound per inci persegi) Digunakan untuk produk padat, spray kering atau foam. Produk ini menggunakan gas inert seperti nitrogen, karbon dioksida, atau nitrogen oksida sebagai propelan.

2.1 Pengertian Farmakodinamik Secara umum, farmakodinamik ialah subdisiplin farmakologi yang mempelajari efek biokimiawi dan fisiologi obat, serta mekanisme kerjanya di dalam tubuh. Secara khusus, farmakodinamik mempelajari interaksi molekular antara obat dan unsur-unsur tubuh yang setelah melalui serentanan kejadian akan menghasilkan respons farmakologik. Sering juga mekanisme molekular kerja obat tidak diketahui maka untuk obat tersebut respon farmakologiknya dijelaskan dengan adanya perubahan proses-proses biokimia dan fisiologi. Tujuan mempelajari mekanisme kerja obat ialah untuk meneliti efek utama obat, mengetahui interaksi obat dengan sel, dan mengetahui urutan peristiwa serta sprektum efek dan respon yang terjadi. Pengetahuan yang baik mengenai hal ini merupakan dasar terapi yang rasional dan berguna dalam sintesis obat baru yang lebih baik dan lebih unggulo sebagai obat.

2.2 Mekanisme Kerja Obat Kebanyakan obat menimbulkan efek melalui interaksi dengan reseptornya pada sel organisme. Interaksi obat dengan reseptornya ini mencetuskan perubahan biokimiawi dan fisiologi yang merupakan respons khas untuk obat tersebut. Respons obat dapat menyebabkan efek fisiologis primer atau sekunder atau keduanya. Efek primer adalah efek yang diinginkan, dan efek sekunder bisa diinginkan atau tidak diinginkan. Reseptor obat merupakan komponen makromolekul fungsional; hal ini mencakup dua konsep penting. Pertama, obat dapat mengubah kecepatan kegiatan faal tubuh. Kedua, obat tidak menimbulkan fungsi baru, tetapi hanya memodulasi fungsi yang sudah ada. Walaupun

19

tidak berlaku bagi terapi gen, secara umum konsep ini masih berlaku sampai sekarang. Setiap komponen makromolekul fungsional dapat berperan sebagai reseptor obat, tetapi sekelompok reseptor obat berperan sebagai reseptor fisiologis untuk ligand endogen (hormaon, neurotransmiter). Obat yang efeknya menyerupai senyawa endogen disebut agonis. Sebaliknya, obat yang tidak mempunyai aktivitas intrinsik sehingga menimbulkan efek dengan menghambat kerja suatu agonis disebut antagonis. Disamping itu, ada obat yang jika berikatan denagn reseptor fisiologik akan menimbulkan efek intrinsik yang berlawanan dengan efek agonis, yang disebut agonis negatif. 2.3 Reseptor Obat Reseptor obat adalah suatu makromolekul target khusus yang mengikat suatu obat dan memediasi kerja farmakologis obat. Reseptor obat dapat berupa enzim, asam nulkeat, atau protein terikat membran khusus. Protein merupakan reseptor obat yang penting (misalnya reseptor fisiologis, asetilkolinesterase, Na+, K+-ATPase, tubulin, dan sebagainya). Asam nulkeat merupakan reseproe obat yang penting terutama untuk sitostatik. Ikatan obat reseptor dapat berupa ikatan ion, hidrogen, hidrofobik, van der walls, atau kovalen, namun pada umumnya adalah campuran dari ikatan tersebut. Struktur kimia suatu obat berhubungan erat dengan afinitasnya terhadap reseptor dan aktivitas instrinsiknya sehingga perubahan kecil dalam molekul obat dapat terjadi. Afinitas adalah kemampuan untuk mengikat reseptor. Aktifitas intrinsik adalah kemampuan suatu obat untuk menimbulkan suatu efek. Reseptor fisiologik adalah protein selular yang secara normal berfungsi sebagai reseptor ligand endogen terutama hormon, neurotransmiter, growth factor, dan autakoid. Fungsi dari resepror fisiologik adalah pengikatan ligand yang sesuai (oleh ligand binding domain) dan penghantaran sinyal (oleh effector domain) yang secara langsung menimbulkan efek intrasel atau secara tidak langsung memulai sintesis atau pengelepasan molekul intrasel yang disebut sebagai second messenger.

2.4 Transmisi Sinyal Biologis Penghantaran sinyal biologis ialah proses yang menyebabkan suatu substansi ekstraseluler (extracellular chemical messenger) menimbulkan suatu respons seluler fisiologis yang spesifik. Sistem hantaran ini dimulai dengan penempatan hormon atau neurotransmiter pada reseptor yang terdapat di membran sel atau di dalam sitoplasma. Saat ini dikenal 5 jenis reseptor fisiologik. Empat dari reseptor ini terdapat di permukaan sel, sedangkan satu terdapat dalam sitoplasma. Dari 4 reseptor di permukaan sel, satu

20

reseptor meneruskan sinyal yang disampaikan ligandnya dari permukaan sel ke dalam sitoplasma dan inti sel. Reseptor yang terdapat di permukaan sel terdiri atas reseptor dalam bentuk enzim , kanal ion dan G-protein coupled receptor (G-PCR). Reseptor bentuk enzim terdiri atas 2 jenis, pertama yang menimbulkan fosforilasi protein efektor yang merupakan bagian reseptor tersebut pada membran sel bagian dalam, berupa tirosin kinase, tirosin fosfatase, serin kinase atau guanilil kinase. Ligand endogen untuk reseptor ini antara lain insulin, epidermal growth factor (EGF), platelet-derived growth factor, atrial natriuretic factor (ANF), transforming growth factor-beta (TGF), dan lain-lain. Reseptor bentuk enzim jenis kedua adalah reseptor sitokin yang mempunyai ligand growth hormone, eritropoeitin, interferon dan ligand lain yang mengatur pertumbuhan dan diferensiasi. Pada jenis reseptor ini, aktivitas fosforilasi dilangsungkan lewat protein kinase lain (Janus-kinase, JAK) yang terikat secara nonkovalen pada reseptor tersebut. Protein JAK ini akan menimbulkan fosforilasi protein STAT akan masuk ke nukleus untuk mengatur transkripsi gen tertentu. Sejumlah reseptor untuk neurotransmiter tertentu membentuk kanal ion selektif di membran plasma dan menyampaikan sinyal biologisnya dengan cara mengubah potensial membran atau komposisi ion. Contoh kelompok ini adalah reseptor nikotinik, reseptor untuk gamaaminobutirat tipe A, glutamat, aspartat, dan glisin. Reseptor ini merupakan protein multisubunit yang rantainya menembus membran beberapa kali membentuk kanal ion. Bagaimana ikatan suatu transmitor dengan ujung kanal yang terdapat di bagian ekstrasel menyebabkan kanal terbuka, belum diketahui. Sejumlah besar reseptor di membran plasma bekerja mengatur protein efektor tertentu dengan perantaraan sekelompok GTP binding protein yang dikenal sebagai protein G. Yang termasuk kelompok ini ialah reseptor untuk amin biogenik, eikosanoid, dan hormon peptida lainnya. Reseptor ini bekerja dengan memacu terikatnya GTP pada protein G spesifik yang selanjutnya mengatur aktivitas efektor-efektor spesifik misalnya adenilat siklase, fosfolipase A2 dan C, kanal Ca2+, K+ atau Na+, dan beberapa protein yang berfungsi dalam transportasi. Protein G merupakan kompleks heterotrimerik yang terdiri atas 3 subunit (, , dan ). Jika agonis menempati reseptor in i, maka terjadi disosiasi antara subunit dengan subunit dan . Suatu sel dapat mempunyai 5 atau lebih protein G yang masing-masing dapat memberikan respons terhadap beberapa reseptor yang berbeda dan mengatur beberapa efektor yang berbeda pula. Reseptor yang terdapat dalam sitoplasma merupakan protein terlarut pengikat DNA (soluble DNA-binding protein) yang

21

mengatur transkripsi gen-gen tertentu. Pendudukan reseptor oleh hormon yang sesuai akan meningkatkan sintesis protein tertentu. Second messenger sitoplasma merupakan penghantaran sinyal biologis dalam sitoplasma dilangsungkan dengan kerja second messenger antara lain berupa siklik-AMP (cAMP), ion Ca2+, 1,4,5-inositol trifosfat (IP3), diasilgliserol (DAG), dan NO. Substansi ini memenuhi kriteria sebagai second messenger yaitu diproduksi dengan sangat cepat, bekerja pada kadar yang sangat rendah, dan setelah sinyal eksternalnya tidak ada, mengalami penyingkiran secara spesifik serta mengalami daur ulang. Siklik-AMP (cAMP) ialah second messenger yang pertama kali ditemukan. Substansi ini dihasilkan melalui stimulasi adenilat siklase sebagai respons terhadap aktivasi bermacam-macam reseptor (mialnya reseptor adrenergik). Stimulasi adenilat siklase dilangsungkan lewat protein GS dan inhibisinya lewat protein Gi. Adenilat siklase juga dapat distimulasi oleh Ca2+ (terutama pada neuron), toksin kolera, atau ion fluorida (F). Siklik AMP berfungsi mengaktifkan cAMP-dependent protein kinase (protein kinase A) yang mengatur faal protein intrasel dengan cara fosforilasi. Siklik-AMP didegradasi dengan cara hidrolisis yang dikatalisis oleh fosfodiesterase menjadi 5-AMP yang bukan suatu second mssenger. Fosfodiesterase diaktifkan oleh Ca2+ dan kalmodulin, atau oleh cAMP sendiri. Siklik-AMP juga dikeluarkan dari dalam sel melalui transport aktif. Ion Ca2+ sitoplasma merupakan second messenger lain yang berfungsi dalam aktivasi beberapa jenis enzim (misalnya fosfolipase), menggiatkan aparat kontraktil sel otot, mencetuskan penglepasan histamin, dan sebagainya. Kadar Ca2+ sitoplasma diatur oleh kanal Ca2+, ATP-ase yang terdapat di membran plasma, dan depot Ca2+ intrasel (misalnya retikulum sarkoplasmik). Kanal Ca2+ di membran sel dapat diatur oleh depolarisasi, interaksi dengan Gs, fosforilasi oleh c-AMP dependent protein kinase, atau oleh K+ dan Ca2+. Inositol triphosphate (IP3) dan diasilgliserol (DAG), merupakan second messenger pada transmisi sinyal di 1 adrenoseptor, reseptor vasopresin, asetilkolin, histamin, plateled-derived growth factor, dan sebagainya. Stimulasi adrenoseptor 1 (dan beberapa reseptor lain) meningkatkan kadar Ca2+ intrasel dengan beberapa cara. Salah satu mekanisme yang paling diterima saat ini ialah bahwa akibat pengikatan agonis pada reseptor terjadi hidrolisis fosfatidil inositol 4,5-bifosfat (PIP2) yang terdapat di membran sel oleh fosfolipase C (PLC), sehingga terbentuk IP3 dan DAG. Kelompok reseptor yang melangsungkan sinyal biologis dengan perantaraan IP3 dan DAG sebagai second messenger disebut juga sebagai Ca-mobilizing receptors. Sistem ini dapat berhubungan

22

dengan sintesis prostaglandin; di sini DAG mengalami hidrolisis lebih lanjut oleh fosfolipase A2 yang diaktifkan oleh meningkatnya kadar Ca2+ seperti juga second messenger yang lain, setelah respons biologis terjadi maka IP3 dan DAG mengalami metabolisme di bawah pengaruh kinase tertentu. NO (nitric oxide) berperan dalam pengaturan dalam sistem kardiovaskuler, imunologi dan susunan saraf. Di samping sebagai perantara dalam fungsi sel normal, NO juga berperan dalam sejumlah proses patologis seperti syok septik, hipertensi, stroke, dan penyakit neurodegeneratif. Pada sistem vaskuler NO berperan dalam menstimulasi guanili siklase untuk memproduksi Cgmp yang merupakan vasodilator. Reseptor tidak hanya berfungsi dalam pengaturan fisiologi dan biokimia, tetapi juga diatur atau dipengaruhi oleh mekanisme homeostatik lain. Bila suatu sel dirangsang oleh agonisnya secara terus menerus maka akan terjadi desensitisasi (refrakterisasi atau down regulation) yang menyebabkan efek perangsangan selanjutnya oleh kadar obat yang sama berkurang atau menghilang. Sebaliknya bila rangsangan pada reseptor berkurang secara kronik, misalnya pada pemberian -bloker jangka panjang, seringkali terjadi hipereaktivitas karena supersensitivitas terhadap agonis.

2.5 Interaksi Obat pada Reseptor Interaksi farmakodinamik adalah interaksi antara obat yang bekerja pada sistem reseptor, tempat kerja atau sistem fisiologik yang sama sehingga terjadi efek yang aditif, sinergistik atau antagonistik, tanpa terjadi perubahan kadar obat dalam plasma. Interaksi farmakodinamik merupakan sebagian besar dari interaksi obat yang penting dalam klinik. Berbeda dengan interaksi farmakokinetik, interaksi farmakodinamik seringkali dapat diekstrapolasikan ke obat lain yang segolongan dengan obat yang berinteraksi, karena penggolongan obat memang berdasarkan persamaan efek farmakodinamiknya. Hal ini terjadi karena kompetisi pada reseptor yang sama atau interaksi obat pada sistem fisiologi yang sama. Interaksi jenis ini tidak mudah dikelompokkan seperti interaksi-interaksi yang mempengaruhi konsentrasi obat dalam tubuh, tetapi terjadinya interaksi tersebut lebih mudah diperkirakan dari efek farmakologi. Oleh karena itu, kebanyakan interaksi farmakodinamik dapat diramalkan kejadiannya, sehingga dapat dihindarkan jika dokter mengetahui mekanisme kerja obat yang bersangkutan dan menggunakan logikanya. Interaksi pada sistem reseptor yang sama biasanya merupakan antagonisme antara agonis dan antagonis/blocker dari reseptor yang bersangkutan. Interaksi farmakodinamik yang paling umum terjadi adalah sinergisme antara dua obat yang bekerja pada sistem, organ,

23

sel, enzim yang sama dengan efek farmakologi yang sama. Semua obat yang mempunyai fungsi depresi pada susunan saraf pusat. Contohnya adalah etanol, antihistamin, benzodiazepin, dan fenotiazin yang dapat meningkatkan efek sedasi. Semua obat antiinflamasi non steroid dapat mengurangi daya lekat platelet dan dapat meningkatkan efek antikoagulan. Suplemen kalium dapat menyebabkan hiperkalemia yang sangat berbahaya bagi pasien yang memperoleh pengobatan dengan diuretik hemat kalium. Antagonisme terjadi bila obat yang berinteraksi memiliki efek farmakologi yang berlawanan. Hal ini mengakibatkan pengurangan hasil yang diinginkan dari satu atau lebih obat. Sebagai contohnya adalah contoh penggunaan secara bersamaan obat yang bersifat beta agonis dengan obat yang bersifat pemblok beta. Beberapa antibiotika tertentu berinteraksi dengan mekanisme antagonis. Situasi ini tidak akan terjadi dengan adanya antibiotika yang berkhasiat bakteriostatik, seperti tetrasiklin yang menghambat sintesa protein dan juga pertumbuhan bakteri. 2.6 Antagonisme Farmakodinamik Secara farmakodinamik dapat dibedakan 2 jenis antagonisme farmakodinamik, yakni : 1. Antagonisme fisiologik, yaitu antagonisme pada sistem fisiologik yang sama, tetapi pada sistem reseptor yang berlainan. Misalnya, efek histamin dan autakoid lainnya yang dilepaskan tubuh sewaktu terjadi syok anafilaktik dapat diantagonisasi dengan pemberian adrenalin. 2. Antagonisme pada reseptor, yaitu antagonisme melalui sistem reseptor yang sama (antagonisme antara agonis dengan antagonisnya). Misalnya, efek histamin yang dilepaskan dalam reaksi alergi dapat dicegah dengan pemberian antihistamin, yang menduduki reseptor yang sama. Pembahasan selanjutnya dibatasi pada antagonisme pada reseptor, yang dapat dikuantifikasi berdasarkan interaksi obat-reseptor. Telah disebutkan bahwa agonis adalah obat yang jika menduduki reseptornya mampu secara intrinsik menimbulkan efek farmakologik, sedangkan antagonis adalah obat yang menduduki reseptor yang sama tetapi tidak mampu secara intrinsik menimbulkan efek farmakologik. Dengan demikian antagonis menghalangi ikatan reseptor dengan agonisnya sehingga terjadi hambatan kerja agonis. Oleh karena itu antagonis seringkali juga disebut receptor blocker atau bloker saja. Jadi, bloker tidak menimbulkan efek langsung, tetapi efek tidak langsung akibat hambatan kerja agonisnya.

24

Antagonisme pada reseptor dapat bersifat kompetitif atau nonkompetitif. Kompetitif, dalam hal ini, antagonis mengikat reseptor di tempat ikatan agonis (receptor site atau active site) secara reversibel sehingga dapat digeser oleh agonis kadar tinggi. Dengan demikian hambatan efek agonis dapat diatasi dengan meningkatkan kadar agonis sampai akhirnya dicapai efek maksimal yang sama. Jadi, diperlukan kadar agonis yang lebih tinggi untuk memperoleh efek yang sama. Ini berarti afinitas agonis terhadap reseptornya menurun. Contoh antagonis kompetitif adalah -bloker dan antihistamin. Kadang-kadang suatu antagonis mengikat reseptor di tempat lain dari receptor site agonis dan menyebabkan perubahan konformasi reseptor sedemikian sehingga afinitas terhadap agonisnya menurun. Jika penurunan afinitas agonis ini dapat diatasi dengan meningkatkan dosis agonis, maka keadaan ini tidak disebut antagonisme kompetitif (meskipun gambat kurvanya sama) tetapi disebut kooperativitas negatif. Antagonisme nonkompetitif, hambatan efek agonis olehh antagonis

nonkompetitif tidak dapat diatasi dengan meningkatkan kadar agonis. Akibatnya, efek maksimal yang dicapai akan berkurang, tetapi afinitas agonis terhadap reseptornya tidak berubah. Antagonisme nonkompetitif terjadi jika : 1. Antagonis mengikat reseptor secara ireversibel, di receptor site maupun di tempat lain, sehingga menghalangi ikatan agonis dengan reseptornya. Dengan demikian antagonis mengurangi jumlah reseptor yang tersedia untuk berikatan dengan agonisnya, sehingga efek maksimal akan berkurang. Tetapi afinitas agonis terhadap reseptor yang bebas tidak berubah. Contoh : fenoksibenzamin mengikat reseptor adrenergik di receptor site secara ireversibel. 2. Antagonis mengikat bukan pada molekulnya sendiri tetapi pada komponen lain dalam sistem reseptor, yakni pada molekul lain yang meneruskan fungsi reseptor dalam sel target, misalnya molekul enzim adenilat siklase atau molekul protein yang membentuk kanal ion. Ikatan antagonis pada molekul-molekul tersebut, secara reversibel maupun ireversibel, akan mengurangi efek yang dapat ditimbulkan oleh kompleks agonis-reseptor (mengurangi Emax) tanpa menggangu ikatan agonis dengan molekul reseptornya (afinitas agonis terhadap reseptornya tidak berubah). Agonis parsialadalah agonis yang lemah, artinya agonis yang mempunyai aktivitas intrinsik atau efektivitas yang rendah sehingga menimbulkan efek maksimal

25

yang lemah. Akan tetapi, obat ini akan mengurangi efek maksimal yang ditimbulkan oleh agonis penuh. Oleh karena itu agonis parsial disebut juga antagonis parsial. Contoh : nalorfin adalah agonis parsial atau antagonis parsial, dengan morfin sebagai agonis penuh dan nalokson sebagai antagonis kompetitif yang murni. Nalorfin dapat digunakan sebagai antagonis pada keracunan morfin, tetapi jika diberikan sendiri nalorfin juga menimbulkan berbagai efek opiat dengan derajat yang lebih ringan. Nalokson, yang tidak mempunyai efek agonis, akan mengantagonisasi dengan sempurna semua efek opiat dari morfin. 2.7 Kerja Obat Yang Tidak Diperantarai Reseptor Reseptor adalah molekul khusus pada permukaan sel yang merespon sinyal eksternal. Ketika reseptor menerima utusan kimia atau obat pengikat reseptor, berbagai fungsi sel diaktifkan atau dihambat. Virus harus mengikat reseptor dalam rangka untuk memasuki sel. Efek terapeutik obat dan efek toksik obat adalah hasil dari interaksi obat tersebut dengan molekul di dalam tubuh pasien. Sebagian besar obat bekerja melalui penggabungan dengan makromolekul khusus dengan cara mengubah aktivitas biokimia dan biofisika makromolekul, hal ini dikenal dengan istilah reseptor. Pada umunya reseptor menentukan hubungan kuantitatif antara dosis atau konsentrasi obat dan efek farmakologi. Ternyata tidak semua obat dapat dikatakan bekerja tanpa berkombinasi dengan reseptor. Hal ini disebabkan karena gangguan fungsi membran, interaksi obat dengan molekul kecilatau ion dan masuk ke dalam komponen sel. Contoh obat yang bekerja secara nonspesifik antara lain: a. anastetik umum yang volatil (misalnya eter, kloroform, halotan) yang berinteraksi dengan membran sel untuk menekan eksitabilitas sampaitercapai keadaan anastesi; b. metralisasi asam lambung oleh suatu basa (antasid); c. obat-obat yang bekerja dengan cara yang disebut counterfeit incorporation meschanism, dengan obat tersebut merupakan analog dari konstituen biologisyang digabungkan ke dalam komponen sel sehinggga mengubah fungsinya. Contoh obat analog purin (mMerkaptopurin) dan analog pirimidin (fluorourasil) yang dipakai dalam terapi kanker; d. manitol, bila diberikan dalam jumlah tertentu akan meningkatkan osmolaritas cairan tubuh dan dapat dipakai untuk meningkatkan osmolaritas cairan tubuh dan

26

dapat dipakai untuk meningkatkan diuresis ataupun untuk mengurangi edema otak. 2.1 Pengertian Farmakokinetik Farmakokinetik adalah proses pergerakan obat untuk mencapai kerja obat. Empat proses yang termasuk di dalamnya absorpsi, distribusi, metabolisme atau biotransformasi, dan ekskresi atau eliminasi (Kee & Hayes, 1996: 6). Untuk menghasilkan efek, suatu obat harus terdapat dalam kadar yang tepat pada tempat obat itu bekerja. Untuk mencapai tempat kerja, suatu obat harus melewati berbagai membran sel tubuh. Respon yang diinginkan dari suatu obat biasanya berkaitan dengan kadar obat pada tempat kerjanya sehingga tujuan terapi adalah mempertahankan kadar obat yang cukup pada tempat kerja obat tersebut. Dalam praktiknya, sangat sulit untuk mengukur kadar obat dalam plasma darah, dan menghubungkan kadar obat dalam plasma dengan respon yang diperoleh. Jadi, dapat dikatakan bahwa tujuan terapi dengan pemberian obat adalah untuk mempertahnkan kadar obat yang cukup dalam darah yang akan memberikan hasil pengobatan yang kita inginkan. OBAT DARAH (PLASMA) TEMPAT KERJA EFEK

Setiap individu mempunyai gambaran farmakokinetik obat yang berbeda-beda. Dosis yang sama dari suatu obat bila diberikan pada sekelompok orang dapat menunjukkan gambaran kadar dalam darah yang berbeda-beda dengan intensitas respons yang berlainan pula. Kenyataan hubungan konsentrasi obat dalam darah dengan respons yang dihasilkan tidak banyak bervariasi dibanding dengan hubungan dosis dengan respons. Dengan menganggap bahwa respons terhadap obat bergantung pada kadar obat dalam darah, kita mengenal 3 macam kadar obat, yaitu kadar efektif minimum, pada kadar dibawahnya tidak jelas adanya efek obat; kadar toksik, pada kadar ini adalah efek samping yang tidak diinginkan mulai timbul; dan kadar obat yang terletak di antara kadar efektif minimum dan kadar toksik yang dikenal sebagai jendela terapeutik. Tujuan dari terapi adalah untuk mempertahankan kadar obat dalam batas-batas therapeutic window sehingga efek yang diinginkan didapat dan efek samping minimal. 2.2 Proses-Proses Farmakokinetik

a. Absorpsi

27

Absorpsi merupakan proses masuknya obat dari tempat pemberian ke dalam darah. Bergantung pada cara pemberiannya, tempat pemberian obat adalah saluran obat di bawah lidah hanya untuk obat yang sangat larut dalam lemak, karena luas permukaan absorpsinya kecil sehingga obat harus melarut dan diabsorpsi dengan sangat cepat, contohnya nitrogliserin. Karena darah dari mulut langsung menuju ke vena kava superior dan tidak melalui vena porta, maka obat yang diberikan melalui sublingual ini tidak mengalami metabolisme lintas pertama oleh hati. Pada pemberian obat melalui rektal, misalnya untuk pasien yang tidak sadar atau muntah, hanya 50% darah dari rektum yang melalui vena porta, sehingga eliminasi lintas pertama oleh hati juga hanya 50%. Akan tetapi, absorpsi obat melalui mukosa rektum seringkali tidak teratur dan tidak lengkap, dan banyak obat yang menyebabkan iritasi mukosa rektum. Absorpsi sebagian besar obat secara difusi pasif, maka sebagai barier absorpsi adalah sel epitel saluran cerna. Dengan demikian, agar dapat melintasi membrane tersebut, molekul obat harus mempunyai kelarutan lemak(setelah terlebih dulu larut dalam air). Kecepatan difusi berbanding lurus dengan derajat kelarutan lemak molekul obat (selain dengan perbedaan kadarobat lintas membrane, yang merupakan driving force proses difusi, dan dengan luasnya area permukaan membran tempat difusi). b. Distribusi Distribusi obat dapat didefinisikan sebagai proses meninggalkan aliran sirkulasi darah dan masuk ke dalam cairan ekstraseluler dan jaringan-jaringan. Suatu obat harus berdifusi 3 menembus membran sel apabila tempat kerjanya adalah intraseluler. Dalam hal ini, kelarutan obat dalam lipid sangat penting untuk terjadinya distribusi yang efektif. Dengan kata lain, distribusi obat adalah transfer obat yang reversibel dari darah ke berbagai jaringan tubuh. Setelah obat masuk sirkulasi darah (sesudah absorpsi). Obat akan dibawa ke seluruh oleh aliran darah dan kontak dengan jaringan-jaringan tubuh saat distribusi terjadi. Sesaat sebelum terjadi distribusi, mula-mula tidak ada obat di dalam jaringan, tetapi dengan berlangsungnya distribusi, kadar obat dalam jaringan akan meningkat. Kecepatan distribusi obat masuk ke jaringan sama dengan kecepatan distribusi obat keluar dari jaringan tersebut. Pada keadaan ini, perbandingan kadar obat dalam jaringan dengan kadar dalam darah dan menjadi konstan dan keadaan ini disebut keseimbangan distribusi. c. Metabolisme

28

Metabolisme obat terutama terjadi di hati, yaitu membran endoplasmic reticulum (mikrosom) dan di cytosol. Tempat metabolism yang lain (ekstra-hepatik) adalah : dinding usus, ginjal, paru, darah, otak dan kulit juga di lumen kolon (oleh flora usus). Tujuan metabolisme obat adalah mengubah obat yang nonpolar (larut lemak) menjadi polar (larut air) agar dapat dieksresi melalui ginjal atau empedu. Dengan perubahan ini obat aktif umumnya diubah menjadi inaktif, tetapi sebagian berubah menjadi lebih aktif, kurang aktif, atau menjadi toksik. Reaksi metabolism terdiri atas reaksi fase I dan reaksi fase II. Reaksi fase I terdiri dari oksidasi, reduksi dan hidrolisis yang mengubah obat menjadi lebih polar, dengan akibat menjadi inaktif, lebih aktif atau kurang aktif. Sedangkan reaksi fase II merupakan reaksi konjugasi dengn substrat endogen: asam glukuronat, asam sulfat, asam asetat, atau asam amino dan hasilnya akan menjadi sangat polar, dengan demikian hamper selalu tidak aktif. Obat dapat mengalami reaksi fase I atau reaksi fase II saja, atau reaksi fase I dan diikuti dengan fase II. Pada reaksi fase I, obat dibubuhi gugus polar seperti gugus amino, karboksil, sulfhidril untuk dapat bereaksi dengan substrat endogen pada reaksi fase II. Oleh karena itu obat yang sudah mempunyai gugus-gugus tersebut dapat langsung bereaksi dengan substrat endogen (reaksi fase II). Hasil reaksi fase I dapat juga sudah 4 cukup polar untuk langsung diekskresi melewati ginjal tanpa harus melalui reaksi fase II lebih dulu. Reaksi metabolism yang terpenting adalah oksidasi oleh enzim cytochrome P450 (CYP), yang disebut juga enzim mono-oksigenasi atau MFO (mixed-function oxidase) dalam endoplasmic reticulum (mikrosom) hati. Ada sekitar 50 jenis isoenzim CYP yang aktif pada manusia, tetapi hanya beberapa yang penting untuk metabolisme obat. d. Ekskresi Rute utama dari eliminasi obat adalah melalui ginjal, rute-rute lain meliputi empedu, feses, paru-paru, saliva, keringat dan air susu ibu. Obat bebas, yang tidak berikatan, yang larut dalam air, dan obat-obat yang tidak di ubah, difiltrasi oleh ginjal. Obat-obat yang berikatan dengan protein, maka obat menjadi bebas dan akhirnya akan diekskresikan melalui urin. Organ terpenting untuk ekskresi obat adalah ginjal. Obat diekskresi melalui ginjal dalam bentuk utuh maupun bentuk metabolitnya. Ekskresi dalam bentuk utuh atau bentuk aktif merupakan cara eliminasi obat melui ginjal. Ekskresi melalui ginjal melibatkan 3 proses, yakni filtrasi glomerulus, sekresi aktif di tubulus dan difusi pasif melalui epitel tubuh.

29

Fungsi ginjal mengalami kematangan pada usia 6-12 bulan, dan setelah dewasa menurun 1% per tahun. Filtrasi glomerulus menghasilkan ultrafiltrat, yakni plasma minus protein, jadi semua obat bebas akan keluar dalam ultrafiltrat sedangkan yang terikat protein tetap tinggal dalam darah. Sekresi aktif dari dalam darah ke lumen tubulus proksimal terjadi melalui transporter membran P-glikoprotein (P-gp) dan MRP (Multidrug-Resistance Protein) yang terdapat di membran sel epitel dengan selektivitas berbeda, yakni MRP untuk anion organik dan anion konyugat(mis. Penisilin, probenesid, glukonorat, sulfat, dan konyugat glutation), dan P-gp untuk kation organic dan zat netral(mis.kuinidin, dogoxin). Dengan
5

demikian terjadi kompetisi antara asam-asam organic maupun antra basa-basa organic untuk disekresi. Hal ini dimanfaatkan untuk pengobatan gonorea dengan derivate penisilin. Untuk memperpanjang kerjanya, ampisilin dosis tunggal diberikan bersama probenesid(probenesid akan menghambat sekresi sktif amplisilin di tubulus ginjal karena berkompetisi transporter membrane yang sama, MRP). Reabsorpsi pasif terjadi di sepanjang tubulus untuk bentuk nonion obat yang larut lemak. Oleh Karena derajat ionisasi bergantung pada pH larutan, maka hal ini dimanfaatkan untuk mempercepat ekskresi ginjal pada keracunan suatu obat asam atau obat basa. Obat asam yang relative kuat (pKa 2) dan obat basa yang relative kuat (pKa 12, misalnya guanetidin) terionisasi sempurna pada PH ekstrim urin akibat asdifikasi dan alakaliniasasi paksa (4,5 7,5). Obat asam yang sangat lemah (pKa > 8, misalnya fenitoin) dan obat basa yang sangat lemah (Pka 6, misalnya propoksifen) tidak terionisasi sama sekali pada semua PH urin. Hanya obat asam dengan pKa antara 6 dan 12, yang dapat dipengaruhi oleh PH urin. Misalnya pada keracunan fenobarbital (asam, pka = 7,2) atau salisilat (asam, pKa = 3,0) diberikan NaHCO3 untuk membasakan urin agar ionisasi meningkat sehingga bentuk nonion yang akan direabsorbsi akan berkurang dan bentuk ion yang akan diekskressi meningkat. Demikian juga pada keracunan amfetamin (basa, pKa = 9,8) diberikan NH4Cl untuk meningkatkan ekskresinya. Di tubulus distal juga terdapat protein transporter yang berfungsi untuk reabsorpsi aktif dari lumen tubulus kembali ke dalam darah (untuk obat-obaat dan zat endogen tertentu). Ekskresi melalui ginjal akan berkurang jika terdapat gangguan fungsi ginjal. Berbeda dengan pengurangan fungsi hati yang tidak dapat dihitung, pengurangan fungsi ginjal dapat dihitung berdasarkan pengurangan klirens kreatinin. Dengan demikian pengurangan dosis obat pada gangguan fungsi ginjal dapat dihitung.

6 30

Ekskresi obat yang kedua penting adalah melalui empedu ke dalam usus dan keluar bersama feses. Transporter membrane P-gp dan MRP terdapat di membrane kanalikulus sel hati dan mensekresi aktif obat-obat dan metabolit kedalam empedu drngan selektivitas berbeda, yakni MRP untuk anion organic dan konyugat (glukuronat dan konyugat lain), dan P-gp untuk kation organic, steroid, kolesterol dan garap empedu. P-gp dan MRP juga terdapat di membrane sel usus, maka sekresi langsung obat dan metabolit dari darah ke lumen usus juga terjadi. Obat dan metabilit yang larut lemak dapat direabsorbsi kembali ke dalam tubuh dari lumen usus. Metabolit dalam bentuk glukuronat dapat dipecah dulu oleh enim glukuronidase yang dihasilkan oleh flora usus menjadi bentuk obat awalnya (parent compound) yang mudah diabsorpsi kembali. Akan tetapi, bentuk konyugat juga dapat langsung diabsorpsi melalui transporter membrane OATP di dinding usus, dan baru dipecahdalam darah oleh enzim esterase. Siklus enterohepatik ini dapat memperpanjang efek obat, misalnya esterogen dalam kontraseptif oral. Ekskresi melalui paru terutama untuk eliminasi gas anastetik umum. Akskresi dalam ASI, saliva, keringat, dan air mata secara kuantitatif tidak penting. Ekskresi ini bergantung terutama pada difusi pasif dari bentuk nonion yang larut lemak melalui sel epitel kelenjar, dan pada PH. Ekskresi dalam ASI meskipun sedikit, penting artinya karena dapat menimbulkan efek samping pada bayi yang menyusu pada ibunya. ASI lebih asam dari plasma, maka lebih banyak obat-obaat basa dan lebih sedikit obat-obat asam terdapat dalam ASI dari pada dalam plasma. Ekskresi dalam saliva:kadar obat dalam saliva sama dengan kadar obat bebas dalam plasma, maka saliva dapat digunakan untuk mengukur kadar obat jika sukar untu memperoleh darah. Ekskresike rambut dan kulit: mempunyai kepentingan forensik. 2.3 Peran Perawat dalam Pemberian Obat Pemberian obat kepada pasien bukan hanya menjadi peran dokter dan farmasis melainkan juga menjadi peran perawat. Peran perawat dapat dibedakan ,menjadi peran secara umum dan peran yang didasarkan atas 12 prinsip benar pengobatan. Peran perawat 7 secara umum terhadap pemberian obat kepada pasien antara lain: 1. Melakukan pemantauan (follow up) terhadap program pengobatan yang sedang dijalani pasien mengenai respon pasien terhadap pengobatan.

31

Perawat memiliki peran untuk mengamati dan memantau bagaimana respon klien terhadap pengobatan yang telah diberikan. Jika pasien menunjukkan respon yang baik pengobatan akan dilanjutkan. Sebaliknya jika pasien menunjukkan penolakan terhadap suatu obat akan dilakukan evaluasi dan dicari obat alternatif sebagai penggantinya. Oleh karena itu, seorang perawat harus memiliki dasar yang kuat mengenai farmakologi dan toksikologi khususnya tentang manfaat dan efek samping suatu obat. 2. Mendorong klien untuk lebih proaktif jika membutuhkan pengobatan. Peran berperan menstimulasi pasien agar lebih kooperatif dan proaktif terhadap program pengobatan yang sedang dijalankannya. Adapun cara yang dapat dilakukan adalah membantu klien dalam membangun pengertian yang benar dan jelas tentang pengobatan. Pengertian-pengertian tersebut dapat meliputi: nama obat, manfaat obat, efek samping obat hingga kontraindikasi obat. Memberikan pendidikan pada psien mengenai program pengobatan yang akan dijalankan merupakan manifestasi perawat dalam menjalankan perannya sebagai perawat pendidik (educator). 3. Mengkonsultasikan setiap obat yang dipesankan dan turut serta bertanggungjawab dalam pengambilan keputusan tentang pengobatan bersama dengan tenaga kesehatan lain. Pemberian obat kepada pasien bukan hanya wewenang satu pihak, melainkan beberapa pihak yang tergabung dalam sebuah tim. Oleh karenanya, dalam memberikan obat kepada pasien seorang perawat juga harus berelaborasi dengan tenaga kesehatan lain seperti dokter dan farmasis dalam menentukan pengobatan yang tepat untuk pasien. 4. Memberikan obat dengan tepat sesuai prinsip 12 benar, antara lain: 1) Benar Pasien (right client) Perawat harus selalu memeriksa identitas pasien dengan memeriksa gelang identifikasi dan meminta menyebutkan namanya sendiri. Hal ini dilakukan untuk menghindari kesalahan pemberian obat pada dua pasien dengan nama sama yang membutuhkan pengobatan dengan jadwal yang sama pula. 2) Benar Obat (right drug) Dalam rangka menghindari kesalahan pemberian jenis obat yang akan diberikan pada pasien perawat harus melakukan triple checking yang dilakukan pada waktu: a. melihat botol atau kemasan obat; b. sebelum menuang atau menghisap obat; c. setelah menuang atau mengisap obat.

32

Selain itu, perawat juga berperan dalam memeriksa apakah perintah pengobatan lengkap dan sah dan memberikan obat-obatan tanda: nama obat, tanggal kadaluarsa. 3) Benar Dosis Obat (right dose) Perawat harus memastikan bahwa obat diberikan dengan dosis yang telah disesuaikan dengan kondisi pasien. Selain itu perawat juga harus harus teliti dalam melihat batas yang direkomendasikan bagi dosis obat tertentu menghitung secara akurat jumlah dosis yang akan diberikan. Penghitungan jumlah dosis dapat dilakukan mempertimbangkan beberapa hal antara lain: tersedianya obat dan dosis obat yang diresepkan atau diminta, pertimbangan berat badan klien (mg/KgBB/hari), jika ragu-ragu dosisi obat harus dihitung kembali dan diperiksa oleh perawat lain. 4) Benar Waktu Pemberian (right time) Perawat hendaknya memberikan obat sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. Dosis obat harian diberikan pada waktu tertentu dalam sehari. Misalnya seperti 2 kali sehari, 3 kali sehari, 4 kali kali sehari dan sebagainya sehingga kadar obat dalam plasma tubuh dapat dipertimbangkan. Pemberian obat harus sesuai dengan waktu paruh obat (t= ). Obat yang mempunyai waktu paruh panjang diberikan sekali sehari, dan untuk obat yang memiliki waktu paruh pendek diberikan beberapa kali sehari pada selang waktu tertentu. Perawat juga harus memperhatikan apakah obat tersebut diberikan sebelum, sesudah, atau bersama makanan. Obat-obatan seperti kalium dan aspirin yang dapat mengiritasi mukosa lambung dapat diberikan bersama-sama dengan makanan. 5) Benar Cara Pemberian (right route) Dalam menerapkan prinsip ini seorang perawat harus memperhatikan proses absorbsi obat dalam tubuh harus tepat dan memadai. Kemampuan pasien dalam menelan sebelum memberikan obat peroral juga perlu dikaji. Selain itu, perawat juga harus mempertahankan tehnik aseptic sewaktu memberikan obat khususnya pemberian secara parenteral. 6) Benar Dokumentasi (right documentation) Perawat harus memberikan obat sesuai dengan standar prosedur yang berlaku di rumah sakit dan selalu mencatat informasi yang sesuai mengenai obat yang telah diberikan serta respon klien terhadap pengobatan.

33

7) Benar pendidikan kesehatan perihal pengobatan pasien (clients right to education) Peran perawat sebenarnya juga merupakan aplikasi dari peran perawat sebagai educator dimana perawat melakukan pendidikan kesehatan pada pasien, keluarga dan masyarakat luas. Pendidikan kesehatan tersebut akan meliputi manfaat obat secara umum, penggunaan obat yang baik dan benar, alasan terapi obat dan kesehatan yang menyeluruh, hasil yang diharapkan setelah pemberian obat, efek samping dan reaksi yang merugikan dari obat, interaksi obat dengan obat dan obat dengan makanan, perubahan-perubahan yang diperlukan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari selama sakit. 8) Hak klien untuk menolak (clients right to refuse) Sebelum memberikan obat, perawat harus memberikan Informed consent sebagai bukti legal bahwa pasien menerima atau menolak program pengobatan yang disarankan. 9) Benar evaluasi (right evaluation) Perawat harus mampu menilai setiap hasil kerja obat terhadap pasien. Apakah hasil tersebut positif dan memberikan progress bagi pasien atau malah sebaliknya. Kejelian perawat dalam mengevaluasi hasil program pengobatan terhadap pasien akan menentukan keberhasilan program pengobatan tersebut. 10) Benar Pengkajian (right assessment) Perawat selalu memeriksa TTV (Tanda-tanda vital) sebelum pemberian obat. 11) Benar Reaksi Terhadap Makanan (drug-food interactions) Obat memiliki efektivitas jika diberikan pada waktu yang tepat. Jika obat itu harus diminum sebelum makan untuk memperoleh kadar yang diperlukan harus diberi satu jam sebelum makan misalnya tetrasiklin, dan sebaiknya ada obat yang harus diminum setelah makan misalnya indometasin. 12) Benar Reaksi Dengan Obat Lain (Be aware of potential drug-drug) Pada penggunaan obat seperti chloramphenicol diberikan dengan omeprazol penggunaan pada penyakit kronis.

2.4 Kesalahan dalam Pemberian Obat Obat adalah substansi yang berhubungan dengan fungsi fisiologi tubuh dan berpotensi mempengaruhi status kesehatan. Kesalahan pemberian obat adalah suatu

34

kesalahan atau tindakan dalam memberikan obat yang tidak sesuai dengan prinsip enam benar yang dapat merugikan klien. Faktor Penyebab Kesalahan pemberian obat 1. Kurang menginterpretasikan dengan tepat resep obat yang dibutuhkan. Perawat juga sering tidak bertanggung jawab untuk melakukan interpretasi yang tepat terhadap orde obat yang diberikan. Saat orde obat yang, dituliskan tidak dapat dibaca, maka dapat terjadi misinterpretasi terhadap order obat yang akan diberikan. 2. Kurang tepat dalam menghitung dosis obat yang akan diberikan dosis merupakan faktor penting, baik kekurangan atau kelebihan obat dapat menyebabkan dan bisa membehayakan, sehingga perhitungan dosis yang kurang tepat dapat

membahayakan klien. 3. Kurang tepat mengetahui dan memahami prinsip enam benar dalam memberikan pengobatan, kita sebagai perawat sering melakukan kesalahan yang fatal, hal tersebut bisa terjadi apabila kita kurang mengetahui dan memahami prinsip enem benar dalam pemberian obat. Kesalahan pemberian obat, selain memberi obat yang salah,mencakup factor lain yang sekaligus sebagai konpensasi,memberi obat yang benar pada waktu yang salah atau memberi obat yang benar pada rute yang salah. jika terjadi kesalahan pemberian obat,perawat yang bersangkutan harus segera menghubungi dokternya atau kepala perawat atau perawat senior setelah kesalahan itu diketahuinya. 2.5 Pedoman KIE Pemberian Obat Kepatuhan seorang pasien terjadi jika aturan menggunakan obat yang diresepkan serta pemberiannya di rumah sakit diikuti dengan benar. Jika terapi pengobatan akan dilanjutkan setelah pasien pulang maka penting untuk pasien mengerti dan dapat meneruskan terapi itu dengan benar tanpa pengawasan. Hal ini sangat penting terutama untuk penyakit-penyakit menahun, seperti asma, artritis rematoid, hipertensi, TBC, diabetes melitus, dan penyakit lainnya. Terapi pengobatan yang efektif dan aman hanya dapat dicapai bila pasien mengetahui dasar pengobatan dan kegunaanya. Untuk itu sebelum pasien pulang ke rumah, perawat perlu memberikan KEI (konfirmasi, informasi, edukasi) kepada pasien maupun keluarga tentang : 1. 2. 3. 4. Nama obatnya. Kegunaan obat. Jumlah obat untuk dosis tunggal. Jumlah seluruh obat yang diminum.

35

5.

Waktu ketika obat iu harus diminum (sebelum atau sesudah makan, antibiotik tidak diminum bersama susu)

6. 7. 8. 9.

Untuk berapa hari obat itu harus diminum. Apakah harus sampai habis atau berhenti setelah keluhan menghilang. Rute pemberian obat. Efek samping atau alergi obat dan cara mengatasinya

10. Jangan mengoperasikan mesin yang rumit atau mengendarai kendaraan bermotor pada terapi obat tertentu misalnya sedatif, antihistamin. 11. Cara penyimpanan obat 12. Setelah obat habis apakah perlu kontrol kembali atau tidak 2.1 Undang-undang yang Mengatur Pembuatan, Pemasokan, dan Penggunaan obat di Inggris 2.1.1 The Medicies Act (1968) Undang-undang ini mengartikan medicinal products sebagai substansi yang dijual atau dipasok untuk pemakaian pada manusia atau binatang dengan tujuan pengobatan. Untuk tujuan ini dibuat klasifikasi obat secara luas menjadi tiga kelas, yaitu: a. Obat hanya didapat lewat resep dokter (POM; Prescription Only Medicines) b. Obat farmasi (P; Pharmacy Medicines) c. Obat daftar bebas (GSL; General Sales List medicines) Berbagai persyaratan berlaku bagi penjualan, pemasokan, dan perlabelan masing-masing kelas. Pada rumah sakit serta institusi lainnya, semua obat harus disimpan dengan tepat dan tertib untuk menjamin agar obat-obatan tersebut tetap aman serta efektif pemakaiannya, dan untuk mencegah pengambilan obat oleh orang yang tidak berwenang serta penyalahgunaan obat (Departemen Kesehatan, 1988) 2.1.2 The Misuse of drugs Act 1971 Undang-undang penyalahgunaan obat ini menetapkan dan mengartikan obat terkendali sebgai substansi yang berbahaya atau yang membahayakan

kesehatan.Substansi tersebut merupakan preparat yang dapat diperoleh hanya dengan resep dokter di bawah Medicie Act.Tujuan utama Undang-undang penyalahgunaan obat ini adalah mencegah penyalahgunaan obat terkendali dengan menghalangi pembuatan atau pemasokannya, kecuali jika dilakukan menurut peraturan yang ada dalam undang-undang tersebut.Peraturan lainnya mengatur persyaratan bagi penjagaan keamanan, pemusnahan, dan pemasokan pada orang-orang yang adiktif.

36

Untuk memenuhi tujuan ini, maka dalam peraturan mutakhir, obat terkendali diklasifikasikan ke dalam limaSchedule yang masing-masing menyatakan tingkat pengendalian yang berbeda. a. Ditulis dengan tangan, diparaf dan diberi tanggal oleh dokter yang menulis resep b. Ditulis dengan tinta atau bahan lain yang tidak bisa dihapus c. Mencangkup nama dan alamat pasien d. Menyatakan (dengan kata-kata dan bilangan ) jumlah total obat yang diberikan e. Menyatakan dosis yang diberikan Di rumah sakit, permintaan, pemasokan, dan penyimpanan obat terkendali berada di bawah control yang ketat. a. Obat-obat tersebut harus disimpan terpisah dalam lemari terkunci, sehingga pengambilannya sangat dibatasi b. Pemasokan dari apotek ke bangsal atau bagian rumah sakit hanya dilakukan berdasarkan perintah tertulis yang ditandatangani oleh perawat yang bertanggung jawab c. Catat stok disimpan dan rincian dosisnya dicantumkan. Harus dibuat buku register khusus untuk keperluan ini dan bukan untuk tujuan lainnya; biasanya setiap pemasukan obat ke dalam lemari ditandatangani lagi oleh dua orang perawat. Catatan harus diperiksa secara teratur oleh perawat kepala dan apoteker menurut kebijakan Depkes setempat. Singkatan yang biasa digunakan dalam peresepan yaitu sebagai berikut: Singkatan a.c. Latin Ante cibum Inggris (Indonesia) Before makan) ad lib. Ad libitum To the desired amount (jumlahnya pasien) b.d atau b.i.d Bis in die Twice a day (dua kali sehari) c. o.m. cum Omni mane With (dengan) Every pagi) o.n. Omni nocte Every night (setiap malam) morning (setiap sekehendak food (sebelum

37

p.c.

Post cibum

After makan)

food

(sesudah

p.r.n.

Pro re nata

Whenever necasary (jika perlu)

q.d. q.d.s.

Quaque die Quaque die sumendum

Every day (setiap hari) Four times daily (empat kali sehari)

q.i.d.

Quarter in die

Four times daily (empat kali sehari)

q.q.h.

Quarter quque hora

Every four hours (setiap empat jam sekali)

R s.o.s Stat. t.d.s

recipe Si opus sil sttim Ter die sumendum

Take (ambillah) If necessary (jika perlu) At once (sekaligus) Three times a day (tiga kali sehari)

t.i.d

Ter in die

Three times a day (tiga kali sehari)

2.2 Standar Pemberian obat UKCC (United Kingdom Central Council) dalam jurnalnya tentang pemberian obat menyatakan dengan jelas peranan dan tanggung jawab perawat, bidan, dan pengunjung rumah dalam memberikan obat-obat yang diresepkan oleh dokter. 2.2.1 Standar ini menggantikan the Councils advisory paper: Administration of Medicines (UKCC, 1985). Standar ini dibuat untuk membantu para praktisi dalam memenuhi harapan agar mereka dapat bekerja lebih efektif untuk melayani kepentingan pasien serta klien untuk mempetahankan serta meningkatkan standar pelayanan 2.2.2 Pemberian obat merupakan aspek penting praktik profesional profesi. Tugas ini bukan bersifat otomatis untuk dilaksanakan dengan kepatuhan yang mutlak menurut resep yang ditulis oleh seorang dokter. Tugas ini memerlukan pemikiran dan penilaian professional yang diarahkan kepada hal-hal berikut:

38

a. Memastikan kebenaran resep b. Menilai kesesuian pemberian dengan waktu pemberian yang dijadwalkan c. Menguatkan kembali efek pengobatan yang positif d. Meningkatkan pemahaman pasien terhadap obat yang direepkan dan menghindari penyalahgunaan obat ini serta obat lainnya 2.2.3 Mengetahui dengan baik proses permintaan obat institusional dan sistem pemberiannya (floor stock disbanding dosis unit). 2.2.4 Mengetahui kemana mencari informasi mengenai obat. Sumber informasi termasuk dokter, apoteker, perpustakaan, dan referensi obat. 2.2.5 Verifikasi setiap instruksi pemberian obat sesering mungkin. Proses penyalinan harus lengkap sesuai potensi kesalahan. 2.2.6 Menggunakan waktu pemberian obat standar. Hal ini membantu menghindari kebingungan, khususnya bila pemantauan tes laboratorium harus dilakukan pada waktu tertentu setelah pemberian obat. 2.2.7 Pada saat memberikan obat, periksa produk obat untuk kemungkinan adanya kerusakan (retak pada kapsul, obat suntik yang keruh, endapan dalam larutan). Laporkan hal ini sesegera mungkin. Pastikan identitas pasien sebelum

pemberian obat. Jaga agar obat berlabel jelas selama mungkin (tempatkan dalam kemasan dosis unit tepat di sisi tempat tidur). Dokumentasikan pemberian obat dalam catatan yang tepat. Bila suatu obat ternyata tidak tersedia pada saat pemberian, jangan meminjamnya dari pasien yang lain. Selidiki mengapa obat tidak ada. Pasti ada alasan memaksa sehingga obat tidak diberikan sampai diperoleh informasi yang pasti (interaksi potensial, riwayat reaksi sebelumnya). 2.2.8 Observasi adanya efek obat, termasuk reaksi merugikan. Mendokumentasikan hasil terapeutik yang diinginkan merupakan hal yang sangat pemtimg seperti halnya melaporkaan adanya ruam. 2.2.9 Bila kalkulasi obat diperlukan, sangat bijaksana untuk memeriksanya kembali dengan orang lain (Apoteker atau perawat). Penggunaan kosentrasi standar atau label kecepatan infus sangat bermanfaat. 2.2.10 Biasakan diri dengan alat pemberian obat sebelum menggunakannya dan pahami keuntunga dan kerugiannya. Berbagai sistem pemberian obat berteknologi tinggi (pompa infus, inhaler, patch) membutuhkan perhatian khusus mengenai penggunaannya yang tepat.

39

2.2.11 Ajarkan pada pasien mengenai obat mereka sebanyak mungkin. Berikan informasi ini dalam format yang dapat dipahami pasien. Berikan informasi dengan huruf berukuran besar, terjemahan, gambar, atau cara apapun agar konsumen benar-benar mengerti. Lakukan penyuluhan pada pemberian dosis pertama dan perkuat informasi pada pemberian dosis berikutnya. 2.2.12 Bila obat tidak diberikan sesuai instruksi, untuk alasan apapun, hal ini harus didokumentasikan. 2.3.1 Benar Rute Pada pemberiannya, proses absorbsi obat dalam tubuh harus tepat dan memadai.Perawat harus memperhatikan kemampuan klien dalam menelan sebelum memberikan obat-obat peroral dan mampu menggunakan teknik aseptik sewaktu memberikan obat melalui rute parenteral.Oleh karena itu, perawat dituntut untuk memberikan obat pada tempat yang sesuai dan tetap bersama dengan klien sampai obat dalam sediaan oral telah ditelan oleh klien.

Rute yang lebih sering digunakan dalam pemberian obat adalah: a. oral ( melalui mulut ): cairan, suspensi, pil, kaplet, atau kapsul . b. sublingual ( di bawah lidah untuk absorpsi vena ). c. bukal (diantara gusi dan pipi). d. topikal ( dipakai pada kulit ). e. inhalasi ( semprot aerosol ). f. instilasi ( pada mata, hidung, telinga, rektum atau vagina ). g. parenteral: intradermal, subkutan, intramuskular, dan intravena.

40