Anda di halaman 1dari 36

LAPORAN TUTORIAL SKENARIO 1 BLOK MATA

MATANYA TENANG.. KOK VISUSNYA TURUN..??

Disusun Oleh : Kelompok 11 Aulia Khoirunnisa Hera Amalia U Johanna Tania Naila Shofwati P Ratna Oktaviani Sani Widya F G0011044 G0011106 G0011122 G0011146 G0011164 G0011190 Rika Ernawati Bayu Prasetyo Maestro Rahmandika Wahyu Pamungkas Selvia Anggraeni Blandina G0011172 G0011050 G0011130 G0011208 G0011194 G0009038

PROGAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET 2013 1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pada blok Mata ini terdapat 3 skenario yang akan dibahas pada tutorial. Pada kesempatan ini, kami akan membahas mengenai skenario 1. Berikut skenario tersebut : Matanya tenang. Kok visusnya turun?? Pada saat stase di Poliklinik Mata RSUD Dr. Moewardi, koas Mita mendapatkan 2 pasien dengan keluhan yang sama yaitu penurunan visus. Pasien pertama, seorang perempuan usia 45 tahun dengan keluhan susah membaca meskipun sudah memakai kacamata sejak 2 minggu yang lalu. Pasien tidak mengeluhkan mata merah. Setelah dilakukan pemeriksaan didapatkan kondisi: VOD 6/15, VOS 4/60 mata tenang, setelah dilakukan koreksi OD dengan S-5.25 D visus mencapai 6/6, koreksi OS dengan S -0.75 D C 0.50 D axis visus mencapai 6/6. Untuk membaca dekat dikoreksi dengan S +1.50 D. Setelah lapor kepada senior, dan mendapatkan resep, Pasien kedua, seorang laki-laki usia 40 tahun dengan kondisi mata kanan: visus 6/6 E mata tenang. Adapun kondisi mata kiri; visus 3/60, mata tenang, dan sering merasa nyeri pada bola mata. Pada mata kiri dilakukan pemeriksaan uji pinhole tidak maju, dan setlah dilakukan koreksi juga tidak mengalami kemajuan. Keemudian senior meminta untuk dilakukan pemeriksaan; persepsi warna, proyeksi sinar, tonometri, konfrontasi dan reflex fundus.

Mita berpikir mengapa pasien dengan keluhan yang sama (penurunan visus) mendapat pemeriksaan yang berbeda, kelainan apa saja yang dapat menurunkan visus pada kondisi mata tenang, dan apakah kedua pasien akan mendapat penatalaksanaan yang sama atau berbeda.

BAB II DISKUSI DAN STUDI PUSTAKA

JUMP 1 skenario -

: Membaca skenario dan memahami pengertian beberapa istilah dalam

Visus : ketajaman penglihatan. Urutan pemeriksaan visus adalah pemeriksaan dengan snellen card pemeriksaan dengan hitung jari (/60m) pemeriksaan dengan lambaian tangan (/300m) pemeriksaan dengan berkas cahaya (/).

VOS 6/15

: (Visus Oculi Sinistra) hasil pemeriksaan visus mata kiri dengan

menggunakan snellen card pada jarak 6 meter penderita dapat membaca huruf pada snellen card sampai baris ke-15. VOD 4/60 : (Visus Oculi Dextra) hasil pemeriksaan visus mata kanan dengan

menggunakan hitung jari, penderita dapat menyebutkan jumlah jari pemeriksa dengan benar pada jarak 4 meter. Mata tenang : mata tidak merah, mata dari penampakan luarnya tidak terdapat kelainan S -0.75 D C -0.50 D axis 90 : lensa spheris negatif dengan kekuatan 0.75 dioptri dan lensa silindris negatif dengan kekuatan 0.50 dioptri dengan axis 90 (vertikal). Visus 6/6 E Uji pinhole : ketajaman penglihatan penderita 6/6 mata emetrop (mata normal) : pemeriksaan visus dengan menggunakan alat kerucut berlubang dengan

diameter 0.75 mm yang dilakukan pada visus kurang dari normal yang tidak dapat dikoreksi dengan lagi dengan lensa spheris. Uji pinhole membaik merupakan indikasi adanya kelainan refraksi yang belum terkoreksi (astigmatisme) yang perlu dilanjutkan dengan pemeriksaan astigmat dial. Uji pinhole tidak membaik merupakan indikasi adanya kelainan organik di media refrakta (kornea, aqueous humour, lensa, vitreous humour), retina, dan lintasan visual. Pemeriksaan persepsi warna warna. Pemeriksaan proyeksi sinar : pemeriksaan dengan menggunakan berkas cahaya dari berbagai arah. Jika pasien dapat menerangkan semua arah datang cahaya dengan benar maka retina perifer pasien adalah normal. 3 : pemeriksaan untuk mengetahui adanya buta

Pemeriksaan tonometri

pemeriksaan

untuk

mengetahui

tekanan

intraokuler. Bisa dilakukan dengan tonometer Schiotz, tonometer aplanasi, tonometer digital, maupun metode palpasi Pemeriksaan konfrontasi : pemeriksaan lapang pandang.

Pemeriksaan refleks fundus : pemeriksaan untuk melihat fundus okuli dengan menggunakan ophtalmoscope.

JUMP 2 Pasien 1

: Menentukan/ mendefinisikan permasalahan

1. Seorang perempuan berusia 45 tahun. 2. Susah membaca meskipun sudah memakai kacamata sejak 2 minggu yang lalu. 3. Tidak mengeluhkan mata merah. 4. Hasil pemeriksaan: VOS 6/15, VOD 4/60, mata tenang. 5. Dilakukan koreksi OD dengan S -5.25 D visus mencapai 6/6, koreksi OS dengan S -0.75 D C -0.50 D axis 90 visus mencapai 6/6. Untuk membaca dekat dikoreksi dengan S +1.50 D. 6. Pasien mendapatkan resep dan diperbolehkan pulang. Pasien 2 1. Seorang laki-laki berusia 40 tahun 2. Kondisi mata kanan: visus 6/6 E, mata tenang. 3. Kondisi mata kiri: visus 3/60, mata tenang, dan sering merasa nyeri pada bola mata. 4. Pada mata kiri dilakukan uji pinhole tidak maju, dikoreksi juga tidak mengalami kemajuan. 5. Diminta melakukan pemeriksaan: persepsi warna, proyeksi sinar, tonometri, konfrontasi, dan refleks fundus.

JUMP 3

: Menganalisis permasalahan dan membuat pernyataan sementara mengenai

permasalahan (tersebut dalam langkah 2) 1. Adakah hubungan usia dan jenis kelamin dengan kasus pada pasien 1 dan 2? 2. Jelaskan anatomi dan fisiologi mata! 3. Apa saja penyebab terjadinya penurunan visus? 4. Apa saja kelainan penurunan visus pada mata tenang? 5. Mengapa kelainan mata kanan dan kiri pada pasien 1 berbeda? 6. Mengapa pada pasien 2 hanya terjadi kelainan pada mata kiri saja? 7. Apa tatalaksana pada pasien 1? Resep apa yang dimaksud pada pasien 1? 8. Bagaimana mekanisme terjadinya nyeri pada bola mata? Apa saja kelainannya? 9. Mengapa pada pasien 2 setelah dilakukan uji pinhole tidak ada kemajuan? 10. Mengapa penatalaksanaan pasien 1 dan 2 berbeda? 11. Apa diferensial diagnosis pada pasien 1 dan 2?

JUMP 4

: Menginventarisasi permasalahan-peermasalahan secara sistematis dan

pernyataan sementara mengenai permasalahan-permasalahan pada langkah 3 1. Jelaskan anatomi dan fisiologi mata!

FISIOLOGI Penerapan prinsip pembiasan pada lensa konkas konveks Lensa konveks memfokuskan berkas cahaya Berkas cahaya yang melalui bagian tengah menembus lensa tepat tegak lurus terhadap permukaan lensa, sehingga cahaya tidak dibiaskan. Makin dekat ke bagian tepi lensa, berkas cahaya akan semakin membuat sudut yang lebih besar. Cahaya yang terletak lebih ke tepi akan semakin dibelokkan kearah tengah, yang dikenal dengan konvergensi cahaya. Separoh dari pembelokan terjadi sewaktu cahaya memasuki lensa, dan separuh lagi waktu cahayanya keluar dari lensa. Akhirnya bila lensa memiliki kelengkungan yang sempurna, cahaya sejajar yang melalui bernagai bagian lensa akan dibelokkan sedemikian rupa sehingga semua cahaya akan menuju suatu titik, yang disebut titik focus (Guyton et al, 2008). 5

Lensa konkaf menyebarkan berkas cahaya Cahaya yang mengenai bagian paling tengah dari lensa membentur permukaan yang benar-benar tegak lurus terhadap berkas, sehingga tidak dibiaskan. Cahaya dibagian tepi memasuki lensa lebih dulu sebelum cahaya yang memasuki bagian tengah. Hal ini berlawanan dengan efek lensa konveks, dan ini menyebabkan cahaya di bagian pereifer mengalami divergensi atau menyebar menjauhi cahaya yang memasuki bagian tengah lensa. Jadi, lensa konkaf menyebarkan (diverfgensi) berkas cahaya, sedangkan lensa konveks memusatkan (konvergensi) berkas cahaya (Guyton et al, 2008).

Susunan Optik Mata Mata sebagai kamera. Mata mempunyai system lensa, system aperturayang dapat berubah-ubah(pipil), dan retina yang dapat disamakan dengan film. System lensa mata terdiri atas empat perbatasan refraksi : (1) perbatasan antara permukaan anterior kornea dan udara, (2) perbatasan antara permukaan posterior kornea dan humor aquosus, (3) perbatasan antara humor aquosus san permukaan anterior lensa mata, dan (4) perbatasan antara permukaan posterior lensa dan humor vitreous (Guyton et al., 2008). Pembentukan bayangan di retina Sama seperti pembentukan bayangan oleh lensa kaca pada secarik kertas, system lensa mata juga dapat membentuk bayangan di retina. Bayangan ini terbalik dari benda aslinya. Namun demikina persepsi otak terhadap benda tetap dalam keadaan tegak, tidak terbalik seperti bayangan yang terjadi di retina, karena otak sudah dilatih menangkap bayangan yang terbalik itu sebagai keadaan normal (Guyton et al., 2008).

Mekanisme akomodasi Pada anak-anak,daya bias lensa mata dapat ditingkatkan dari 20 dioptri menjadi kira-kira 34 dioptri; ini berarti terjadi akomodasi sebesar 14 dioptri. Untuk mencapai ini, bentuk lensa diubah dari yang tadinya konveks sedang menjadi lensa yang sangat konveks mekanismenya adalah sebagai berikut : pada orang muda lensa terdiri atas kapsul elastic yang kuat dan berisi cairan kental yang mengandung banyak protein namun transparan. Bila berada dalam keadaan relaksasi tanpa tarikan terhadap kapsulnya lensa dianggap berbentuk hamper sferis, terutama akibat retraksi elastic dari kapsul lensa. Terdapat kira-kira 70 ligamen suspensorium yang melekat disekeliling lensa, menarik tepi lensa kea rah lingkar bola mata. Ligament ini secara konstan diregangkan oleh perlekatannya oleh tepi anterior koroid dan retina. Regangan pada ligament ini lensa tetap relative dapat dalam keadaan mata istirahat (Guyton et al., 2008). Walaupun demikian, tempat perlekatan leteral ligament lensa pada bola mata juga dilekati oleh otot siliaris, ynga memiliki 2 set serat otot polos yang terpisah serabut meridional dan serabut sirkular. Serabut meridional membantang dari ujung perifer ligament suspensorium sampai peralihan kornea sclera. Kalau serabut otot ini berkontraksi bagian perifer dari ligament lensa tadi akan tertarik secara medial kearah tepi kornea, sehingga regangan ligament terhadap lensa 7

akan berkurang. Serabut sirkuler tersusun melingkar mengelilingi perlekatan ligamen, sehingga pada waktu berkontraksi terjadi gerak seperti sfingter, mengurangi diameter lingkar perlekatan ligament; hal ini juga menyebabkan regangan ligament terhadap kapsul lensa berkutang (Guyton et al., 2008). Jadi kontraksi kontraksi salah satu set serabut otot polos dalam otot siliaris akan mengendurkan ligament kapsul lensa, dan lensa akan berbentuk lebih cembung, seperti balon, akibat sifat elastisitas alami kapsul lensa (Guyton et al., 2008).

Pengaturan akomodasi oleh saraf parasimpatis Otot siliaris hampir seluruhnya diatur oleh sinyal saraf parasimpatis yang dijalarkan ke mata melalui saraf cranial III dari nucleus saraf III pada batang otak.perangsangan saraf parasimpatis menimbulkan kontraksi kedua set serabut otot siliaris, yang akan mengendurkan ligament lensa, sehingga menyebabkan lensa menjadi semakin tebal dan meningkatkan daya biasnya. Dengan meningkatkan daya bias, mata mampu melihat objek lebih dekat disbanding sewaktu daya biasnya rendah. Akibatnya dengan mendekatnya objek ke arah mata, jumlah impuls parasimpatis ke otot siliaris harus ditingkatkan secara progresif agar objek tetap dapat dilihat dengan jelas (Guyton et al., 2008).

Pembentukan humor aquosus oleh badan siliaris

Humor aquosus di bentuk dalam mata dengan rata-rata 2 sampai 3 mikrometer tiap menit. Pada dasarnya, seluruh cairan ini dibentuk oleh prosesus siliaris, yang merupakan sebuah lipatan linier yang menonjol dari badan siliar ke ruang belakang iris tempat ligament-ligamen lensa dan otototot siliaris melekat pada bola mata. Karena struktur lipatan prosesus tersebut, daerah permukaan prosesus siliaris mempunyai luas kurang lebih 6 cm pada setiap mata sebuah daerah yang besar bila dibandingkan dengan ukuran badan siliar yang kecil. Permukaan dari prosesus ini ditutupi oleh sel epitel yang bersifat sangat sekretoris , dan tepat di bawahnya, terdapat daerah yang memiliki banyak pembuluh darah. Aquosus hamper seluruhnya terbentuk sebagai sekresi aktif dari lapisan endotel prosesus silisris. Sekresi dimulai dengan transpor aktif ion natrium ke dalam ruangan di antara sel-sel epitel. Ion natrium kemudian menarik ion klorida dan bikarbonat, dan bersama-sama mempertahankan sifat netralitas listrik. Kemudian semua ion ini bersama-sama menyebabkan osmosis air dari kapiler darah yang terletak di bawahnya ke dalam ruangan intraseluler epitel yang sama, dan larutan yang dihasilkan membersihkan ruangnan prosesus silisris sampai ke kamera okuli anterior mata. Selain itu, beberapa nutrient juga dibawa melalui 9

epitel-epitel dengan transport aktif atau difusi terfasilitasi; nutrient ini termasuk asam amino, asam askorbat dan glukosa (Guyton et al., 2008).

Aliran keluar humor aquosus dari mata Setelah dibentuk oleh prosesus silisris, humor aquosusmengalir melalui pupil ke dalam kemera okuli anterior. Dari sini cairan mengalir ke bagian depan lensa an ke dalam sudut antara kornea dan iris, kemudian melalui reticulum trabekula, dan akhirnya masuk ke dalam kanalis schlemm, yang kemudian di alirkan ke dalam vena ekstraokular.kanalis schlemm adalah sebuah vena berdinding tipis yang meluas secara sirkumferensial ke seluruh arah pada mata. Membrane endotelnya berpori-pori sehingga bahkan molekul protein yang besar dan juga partikel kecil sampai seukuran sel darah merah, dapat lewat dari ruang anterior ke dalam kanalis schlemm (Guyton et al., 2008).

10

JUMP 5

: Merumuskan tujuan pembelajaran

1. Adakah hubungan usia dan jenis kelamin dengan kasus pada pasien 1 dan 2? 2. Jelaskan anatomi dan fisiologi mata! 3. Apa saja penyebab terjadinya penurunan visus? 4. Apa saja kelainan penurunan visus pada mata tenang? 5. Mengapa kelainan mata kanan dan kiri pada pasien 1 berbeda? 6. Mengapa pada pasien 2 hanya terjadi kelainan pada mata kiri saja? 7. Apa tatalaksana pada pasien 1? Resep apa yang dimaksud pada pasien 1? 8. Bagaimana mekanisme terjadinya nyeri pada bola mata? Apa saja kelainannya? 9. Mengapa pada pasien 2 setelah dilakukan uji pinhole tidak ada kemajuan? 10. Mengapa penatalaksanaan pasien 1 dan 2 berbeda? 11. Apa diferensial diagnosis pada pasien 1 dan 2? 12. Apa saja uji persepsi warna yang sederhana?

JUMP 6

:Mengumpulkan informasi baru (belajar mandiri)

11

JUMP 7 diperoleh)

:Melaporkan, membahas, dan menata kembali informasi baru yang

1. Adakah hubungan usia dan jenis kelamin dengan kasus pada pasien 1 dan 2? Kelainan refraksi dapat terjadi dan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain umur, jenis kelamin, ras, dan lingkungannya. Oleh HammondCJ, dkk dalam penelitiannya mengenai pengaruh genetik dan lingkungan terhadap pasangan-pasangan kembar yang tinggal di lingkungan yang berbeda menyatakan, genetik memegang peranan besar pada miopia dan hipermetropia. Oleh Goh P.P, dkk dalam Malaysian study (2003) pada anak usia sekolah, didapatkan prevalensi miopia lebih tinggi pada anak usia lebih tua, jenis kelamin perempuan, anak dengan tingkat pendidikan orang tua yang lebih tinggi, dan ras Tionghoa. Hypermetropia lebih banyak ditemukan pada anak usia lebih muda dan pada etnik lainnya. Saad A, El-Bayoumy BM (2007) pada anak sekolah di Mesir mendapatkan tingkat pendidikan, aktivitas (kegiatan membaca dekat), status ekonomi, dan riwayat keluarga memiliki hubungan terhadap terjadinya kelainan refraksi. Prevalensi kelainan refraksi diberbagai negara yakni di Amerika Serikat, sekitar 25% dari penduduk dewasa menderita miopia, di Jepang, Singapura, dan Taiwan, persentasenya jauh lebih besar, yakni mencapai sekitar 44%. Di Australia, secara keseluruhan prevalensi miopia telah diperkirakan 17%, di Brazil pada tahun 2005 diperkirakan sebanyak 6,4% antara usia 12- 59 tahun (Nurrobbi, 2010). Sekitar 148 juta atau 51 penduduk di Amerika Serikat memakai alat pengkoreksi refraksi. Angka kejadian rabun jauh meningkat sesuai dengan pertambahan usia. Jumlah penderita rabun jaun di Amerika Serikat berkisar 3% antara usia 5-7 tahun, 8% antara usia 8-10 tahun, 14% antara usia 11-12 tahuan dan 25% antara usia 12-17 tahun. Cina memiliki insiden rabun jauh lebih tinggi pada seluruh usia 16-18 tahun (Patu, 2010) Sedangkan prevalensi penderita kelainan refraksi selama periode 7 Juli 2008 7Juli 2010 di RSUP H. Adam Malik Medan 6,19% yaitu 283 pasien denganpersentase terbanyak terdapat pada miopia 70.31% yaitu 199 orang, pada jeniskelamin perempuan 58,30% yaitu 165 penderita dan pada kelompok umur 45tahun 64 tahun dengan jumlah 97 pasien (34,28%) (Bastanta, 2010).Kelainan refraksi banyak dijumpai pada kelompok umur 31-40 tahun (102orang/24,58%), diikuti kelompok umur 41-50 tahun (96 orang/23,13%) dankelompok umur 11-20 tahun (74 orang/17,83%). 12

Miopia paling banyak pada kelompok umur 11-20 tahun, yaitu 45orang (10,84%), astigmatisme pada kelompok umur 31-40 tahun, yaitu 38orang (9,12%), hipermetropia pada kelompok umur 41-50 tahun, yaitu 57orang (13,37%) dan anisometropia pada kelompok umur 31-40 tahun, yaitu 7orang (1,69%). Kelainan refraksi yang terbanyak adalah miopia yaitu 160 orang atau38,55% dari seluruh kelainan refraksi atau 8,82% dari seluruh penderita baru.Kasus miopia ditemukan lebih banyak pada perempuan (97 orang atau60,62%) daripada penderita laki-laki (63 orang atau 39,38%) (Yunita, 1997). Presbiopia. Dengan meningkatnya usia, lensa semakin besar dan menebal serta menjadi kurang elastik, sebagian disebabkan oleh denaturasi protein lensa yang progresif. Kemampuan lensa Untuk berubah bentuk akan berkurang seiring dengan bertambahnya usia. Daya akomodasi akan berkurang seiring dengan bertambahnya usia. Daya akomdasi berkurang dari 14 dioptri pada usia anak-anak menjadi kurang dari 2 dioptri pada saat kita mencapai usia 45 sampai 50 tahi; kemudian daya akomodasi berkurang menjadi 0 dioptri pada usia 70 tahun. Sesudah itu, dapat dikatakan lensa hampir sama sekali tidak dapat berakomodasi, dan keadaan itu disebut presbiopia (Guyton et al., 2008). Sekali orang mengalami presbiopia, matanya akan terfokus secara permanen pada suatu jarak yang hampir tidak berubah-ubah; jarak ini bergantung pada keadaan fisik mata orang tersebut. Matanya tidak akan dapat berakomodasi lagi dengan baik untuk melihat jauh maupun dekat. Agar dapat melihat jauh dan dekat dengan jelas, orang itu harus memakai kacamata bifokus, bagian atas untuk penglihatan jauh, bagian bawah untuk pengllihatan dekat (misal untuk membaca) (Guyton et al., 2008).

2. Jelaskan anatomi dan fisiologi mata! ANATOMI KELOPAK MATA Kelopak atau palpebra mempunyai fungsi melindungi bola mata, serta mengeluarkan sekresi kelenjar yang membentuk film air mata di depan kornea. Kelopak merupakan alat menutup mata yang berguna untuk melindungi bola mata terhadap trauma, trauma sinar, dan pengeringan bola mata. Kelopak mempunyai lapis kulit yang tipis pada bagian depan sedang di bagian belakang ditutupi selaput lendir tarsus yang disebut konjungtiva tarsal. Gangguan penutupan 13

kelopak akan mengakibatkan keringnya permukaan bola mata sehingga terjadi keratitis et lagoftalmos. Pada kelopak terdapat bagian - bagian: a. Kelenjar Ex: kelenjar sebasea, kelenjar Moll atau kelenjar keringat, kelenjar Zeis pada pangkal rambut, dan kelenjar Meibom pada tarsus b. Otot Ex: M. orbikularis okuli berjalan melingkar di dalam kelopak atas dan bawah, dan terletak di bawah kulit kelopak, berfungsi menutup bola mata, dipersarafi oleh N. Fasial M. levator palpebra berorigo pada annulus foramen orbita dan berinsersi pada tarsus atas atas dengan sebagian menembus M. orbikularis okuli menuju kulit kelopak bagian tengah. Bagian kulit tempat insersi M. levator palpebra terlihat sebagai sulkus (lipatan) palpebra. Otot ini dipersarafi oleh N. III yang berfungsi untuk mengangkat kelopak mata atau membuka mata. c. Tarsus Tasrsus terdiri atas jaringan ikat yang merupakan jaringan penyokong kelopak dengan kelenjar Meibom (40 di kelopak atas dan 20 di kelopak bawah) yang bermuara pada margo palpebra. Tarsus ditahan oleh septum orbita yang melekat pada rima orbita pada seluruh lingkaran pembukaan rongga orbita. d. Septum orbita Jaringan fibrosis berasal dari rima orbita merupakan pembatas isi orbita dengan kelopak depan. e. Pembuluh darah yang memperdarahinya adalah a. palpebra f. Persarafan sensorik kelopak mata atas didapatkan dari ramus frontal N.V, sedang kelopak bawah oleh cabang ke II saraf ke V. Konjungtiva tarsal yang terletak di belakang kelopak hanya dapat terlihat dengan melakukan eversi kelopak. Konjungtiva tarsal melalui forniks menutup bulbus okuli.

14

Konjungtiva merupakan membran mukosa yang mempunyai sel Goblet yang menghasilkan musin.

ANATOMI SISTEM LAKRIMAL Sistem sekresi air mata atau lakrimal terletak di daerah temporal bola mata. Sistem ekskresi mulai pada pungtum lakrimal, kanalikuli lakrimal, sakus lakrimal, duktus nasolakrimal, samapai meatus nasi inferior. Sistem lakrimal terdiri atas 2 bagian, yaitu: a. Sistem produksi atau glandula lakrimal Glandula lakrimal terletak di temporo antero superior rongga orbita. b. Sistem ekskresi Terdiri atas pungtum lakrimal, kanalikuli lakrimal, sakus lakrimal dan duktus nasolakrimal. Sakus lakrimal terletak di bagian depan rongga orbita. Air mata dari duktus lakrimal akan mengalir ke dalam rongga hidung di dalam meatus inferior. Film air mata sangat berguna untuk kesehatan mata. Air mata akan masuk ke dalam sakus lakrimal melalui pungtum lakrimal. Bila pungtum lakrimal tidak menyinggung bola mata, maka air mata akan keluar melalui margo palpebra yang disebut epifora. Epifora juga akan terjadi akibat pengeluaran air mata yang berlebih dari kelenjar lakrimal. Untuk melihat adanya sumbatan pada duktus nasolakrimal, maka sebaiknya dilakukan penekanan pada sakus lakrimal. Bila terdapat penyumbatan yang disertai dakriosistitis, maka cairan berlendir kental akan keluar melalui pungtum lakrimal.

ANATOMI KONJUNGTIVA Konjungtiva merupakan membran yang menutupi sklera dan kelopak mata bagian belakang. Bemacam-macam obat mata dapat diserap melalui konjungtiva ini. Konjungtiva mengandung kelenjar musin yang dihasilkan oleh sel Goblet. Musin bersifat membasahi bola mata terutama kornea. Konjungtiva terdiri atas tiga bagian, yaitu: a. Konjungtiva tarsal menutupi tarsus dan sukar digerakkan digerakkan dari tarsus b. Konjungtiva bulbi menutupi sklera dan mudah digerakkan dari sklera dibawahnya.

15

c. Konjungtiva fornises atau forniks konjungtiva merupakan tempat peralihan konjungtiva tarsal dengan konjungtiva bulbi. Konjungtiva bulbi dan forniks berhubungan dengan sangat longgar dengan jaringan dibawahnya sehingga bola mata mudah bergerak (Ilyas et. al, 2012)

Yang termasuk media refraksi antara lain kornea, pupil, lensa, dan vitreous. Media refraksi targetnya di retina sentral (macula). Gangguan media refraksi menyebabkan visus turun (baik mendadak aupun perlahan) (Marieb EN & Hoehn K, 2007). Bagian berpigmen pada mata: uvea bagian iris, warna yang tampak tergantung pada pigmen melanin di lapisan anterior iris (banyak pigmen = coklat, sedikit pigmen = biru, tidak ada pigmen = merah / pada albino) (Marieb EN & Hoehn K, 2007).

16

Media Refraksi Hasil pembiasan sinar pada mata ditentukan oleh media penglihatan yang terdiri atas kornea, aqueous humor (cairan mata), lensa, badan vitreous (badan kaca), dan panjangnya bola mata. Pada orang normal susunan pembiasan oleh media penglihatan dan panjang bola mata sedemikian seimbang sehingga bayangan benda setelah melalui media penglihatan dibiaskan tepat di daerah makula lutea. Mata yang normal disebut sebagai mata emetropia dan akan menempatkan bayangan benda tepat di retinanya pada keadaan mata tidak melakukan akomodasi atau istirahat melihat jauh (H. Sidarta Ilyas, 2004).

1. Kornea Kornea (Latin cornum=seperti tanduk) adalah selaput bening mata, bagian selaput mata yang tembus cahaya. Kornea merupakan lapisan jaringan yang menutupi bola mata sebelah depan dan terdiri atas 5 lapis, yaitu: a. Epitel Tebalnya 50 m, terdiri atas 5 lapis selepitel tidak bertanduk yang saling tumpang tindih; satu lapis sel basal, sel poligonal dan sel gepeng. Pada sel basal sering terlihat mitosis sel, dan sel muda ini terdorong ke depan menjadi lapis sel sayap dan semakin maju ke depan menjadi sel gepeng, sel basal berikatan erat berikatan erat dengan sel basal di sampingnya dan sel poligonal di depannya melalui desmosom dan makula okluden; ikatan ini menghambat pengaliran air, eliktrolit, dan glukosa yang merupakan barrier. Sel basal menghasilkan membran basal yang melekat erat kepadanya. Bila terjadi gangguan akan mengakibatkan erosi rekuren. Epitel berasal dari ektoderm permukaan

b. Membran Bowman Terletak di bawah membran basal epitel kornea yang merupakan kolagen yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan stroma. Lapisan ini tidak mempunyai daya regenerasi c. Stroma

17

Terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen yang sejajar satu dengan lainnya, pada permukaan terlihat anyaman yang teratur sadangkan dibagian perifer serat kolagen ini bercabang; terbentuknya kembali serat kolagen memakan waktu lama yang kadang-kadang sampai 15 bulan. Keratosit merupakan sel stroma kornea yang merupakan fibroblas terletak di antara serat kolagen stroma. Diduga keratosit membentuk bahan dasar dan serat kolagen dalam perkembangan embrio atau sesudah trauma.

d. Membran Descement Merupakan membran aselular dan merupakan batas belakang stroma kornea dihasilkan sel endotel dan merupakan membran basalnya Bersifat sangat elastis dan berkembang terus seumur hidup, mempunyai tebal 40 m. Berasal dari mesotelium, berlapis satu,bentuk heksagonal, besar 20-40 m. Endotel melekat pada membran descement melalui hemi desmosom dan zonula okluden (H. Sidarta Ilyas, 2004).

e. Endotel

Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensoris terutama berasal dari saraf siliar longus, saraf nasosiliar, saraf V. saraf siliar longus berjalan supra koroid, masuk ke dalam stroma kornea, menembus membran Boeman melepaskan selubung Schwannya. Seluruh lapis epitel dipersarafi samapai kepada kedua lapis terdepan tanpa ada akhir saraf. Bulbus Krause untuk sensasi dingin ditemukan di daerah limbus. Daya regenerasi saraf sesudah dipotong di daerah limbus terjadi dalam waktu 3 bulan (H. Sidarta Ilyas, 2004). Trauma atau panyakkit yang merusak endotel akan mengakibatkan sistem pompa endotel terganggu sehingga dekompresi endotel dan terjadi edema kornea. Endotel tidak mempunya daya regenerasi (H. Sidarta Ilyas, 2004). Kornea merupakan bagian mata yang tembus cahaya dan menutup bola mata di sebelah depan. Pembiasan sinar terkuat dilakukan oleh kornea, dimana 40 dioptri dari 50 dioptri pembiasan sinar masuk kornea dilakukan oleh kornea (H. Sidarta Ilyas, 2004). 2. Aqueous Humor (Cairan Mata)

18

Aqueous humor mengandung zat-zat gizi untuk kornea dan lensa, keduanya tidak memiliki pasokan darah. Adanya pembuluh darah di kedua struktur ini akan mengganggu lewatnya cahaya ke fotoreseptor. Aqueous humor dibentuk dengan kecepatan 5 ml/hari oleh jaringan kapiler di dalam korpus siliaris, turunan khusus lapisan koroid di sebelah anterior. Cairan ini mengalir ke suatu saluran di tepi kornea dan akhirnya masuk ke darah. Jika aqueous humor tidak dikeluarkan sama cepatnya dengan pembentukannya (sebagai contoh, karena sumbatan pada saluran keluar), kelebihan cairan akan tertimbun di rongga anterior dan menyebabkan peningkatan tekanan intraokuler (di dalam mata). Keadaan ini dikenal sebagai glaukoma. Kelebihan aqueous humor akan mendorong lensa ke belakang ke dalam vitreous humor, yang kemudian terdorong menekan lapisan saraf dalam retina. Penekanan ini menyebabkan kerusakan retina dan saraf optikus yang dapat menimbulkan kebutaan jika tidak diatasi (Lauralee Sherwood, 1996).

3. Lensa Jaringan ini berasal dari ektoderm permukaan yang berbentuk lensa di dalam bola mata dan bersifat bening. Lensa di dalam bola mata terletak di belakang iris dan terdiri dari zat tembus cahaya (transparan) berbentuk seperti cakram yang dapat menebal dan menipis pada saat terjadinya akomodasi (H. Sidarta Ilyas, 2004). Lensa berbentuk lempeng cakram bikonveks dan terletak di dalam bilik mata belakang. Lensa akan dibentuk oleh sel epitel lensa yang membentuk serat lensa di dalam kapsul lensa. Epitel lensa akan membentuk serat lensa terus-menerus sehingga mengakibatkan memadatnya serat lensa di bagian sentral lensa sehingga membentuk nukleus lensa. Bagian sentral lensa merupakan serat lensa yang paling dahulu dibentuk atau serat lensa yang tertua di dalam kapsul lensa. Di dalam lensa dapat dibedakan nukleus embrional, fetal dan dewasa. Di bagian luar nukleus ini terdapat serat lensa yang lebih muda dan disebut sebagai korteks lensa. Korteks yang terletak di sebelah depan nukleus lensa disebut sebagai korteks anterior, sedangkan dibelakangnya korteks posterior. Nukleus lensa mempunyai konsistensi lebih keras dibanding korteks lensa yang lebih muda. Di bagian perifer kapsul lensa terdapat zonula Zinn yang menggantungkan lensa di seluruh ekuatornya pada badan siliar (H. Sidarta Ilyas, 2004). Secara fisiologis lensa mempunyai sifat tertentu, yaitu:

19

Kenyal atau lentur karena memegang peranan terpenting dalam akomodasi untuk menjadi cembung Jernih atau transparan karena diperlukan sebagai media penglihatan, Terletak ditempatnya, yaitu berada antara posterior chamber dan vitreous body dan berada di sumbu mata. (H. Sidarta Ilyas, 2004).

Keadaan patologik lensa ini dapat berupa: Tidak kenyal pada orang dewasa yang mengakibatkan presbiopia, Keruh atau apa yang disebut katarak, Tidak berada di tempat atau subluksasi dan dislokasi (H. Sidarta Ilyas, 2004). Lensa orang dewasa dalam perjalanan hidupnya akan menjadi bertambah besar dan berat (H. Sidarta Ilyas, 2004).

4. Badan Vitreous (Badan Kaca) Badan vitreous menempati daerah mata di balakang lensa. Struktur ini merupakan gel transparan yang terdiri atas air (lebih kurang 99%), sedikit kolagen, dan molekul asam hialuronat yang sangat terhidrasi. Badan vitreous mengandung sangat sedikit sel yang menyintesis kolagen dan asam hialuronat (Luiz Carlos Junqueira, 2003). Peranannya mengisi ruang untuk meneruskan sinar dari lensa ke retina. Kebeningan badan vitreous disebabkan tidak terdapatnya pembuluh darah dan sel. Pada pemeriksaan tidak terdapatnya kekeruhanbadan vitreous akan memudahkan melihat bagian retina pada pemeriksaan oftalmoskopi (H. Sidarta Ilyas, 2004). Vitreous humor penting untuk mempertahankan bentuk bola mata yang sferis (Lauralee Sherwood, 1996).

CAVUM ORBITA Cavum orbita adalah organ yang penting karena selain ditemati oleh organon visus juga ditempati oleh arteri-arteri, vena-vena, dan nervus yang penting dalam proses penglihatan. Cavum orbita merupakan suatu ruang berbentuk piramida empat sisi, dengan aditus orbitae

20

sebagai basisi dan puncaknya di foramen opticum. Sumbu kedua orbitae memusat ke occipital dan bertemu di sebelah kranial dari sella tursica dengan membentuk sudut yang tajam. Dinding orbita: Dinding mediale : Processus frontalis os maxillaris Os lacrimale Lamina orbitalis ossis ethmoidalis Dinding laterale : Facies orbitalis os zygomaticus Ala major os sphenolidalis Dinding cranial : Facies orbitalis os frontalis Ala minor os sphenoidalis Dinding caudal : Facies orbitalis os maxillaris Os zygomaticus Processues orbitalis os palatine Lubang-lubang dan celah-celah yang terdapat di dalam dinding cavum orbita adalah: 1. Foramen opticum Dilalui : N. Opticus dan A. Opthalmica 2. Fissura orbitalis superior Dilalui: N Oculomotorius, N Trochlearis, N Abducens, N Ophtalmicus cabang N. V, N. Nasociliaris cabang N. Ophtalmicus, V. Opthalmicus superior et inferior, dan R. Recurrens A. Meningea media 3. Fissura orbitalis inferior Dilalui : N. Maxillaris dan A/V Infraorbitalis 4. Foramen ethmoidale anterius Dilalui : A/V/N Ethmoidalis Anterior dan N. Nasociliaris 5. Foramen ethmoidale posterius 21

Dilalui: A/V/N Ethmoidalis Posterior 6. Foramen zygomatico-orbitale Dilalui: N. Zygomaticofaciale dan N. Zygomaticotemporale FISIOLOGI MATA Jumlah cahaya yang masuk ke mata dikontrol oleh iris. Tidak semua cahaya yang melewati kornea mencapai fotoreseptor, karena adanya iris, suatu otot polos tipis berpigmen, pigmen tersebut memmberi warna pada iris. Lubang bundar di bagian tengah iris tempat masuknya cahaya ke interior mata adalah pupil. Iris mengandung dua set anyaman otot polos, sirkular (serat otot seperti cincin di dalam iris) dan radial (serat mengarah ke luar dari tepi pupil seperti jari-jari roda). Karena serat otot memendek ketika berkonstraksi maka pupil menjadi lebih kecil ketika otot sirkular (konstriktor) berkontraksi dan membentuk cincin lebih kecil, keadaan ini terjadi pada sinar terang untuk mengurangi cahaya yang masuk. Jika otot radial (dilator) berkontraksi maka ukuran pupil bertambah, ini terjadi pada cahaya temaram agar sinar yang masuk ke mata lebih banyak. Serat saraf parasimpatis menyarafi otot sirkular sementara simpatis menyarafi otot radial. (Sherwood, 2011) Proses Refraksi Sinar berjalan lebih cepat melalui udara. arah berkas berubah jika cahaya tersebut mengenai permukaan medium baru dalam sudut tidak tegak lurus. Berbeloknya berkas sinar ini dikenal sebagai refraksi (pembiasan). Pada lensa, semakin besar kelengkungan, semakin besar derajat pembelokan dan semakin kuat lensa. Jenis permukaan terdiri dari, konveks melengkung keluar (cembung) dan permukaan konkaf melengkung ke dalam (cekung). Permukaan konveks menyebabkan konvergensi berkas sinar, membawa berkas sinar berdekatan, sehingga membawa ke titik focus. Permukaan konkaf membuyarkan berkas sinar (divergensi). Struktur paling penting pada refraksi mata yaitu kornea dan lensa. Permukaan kornea yang melengkung merupakan struktur pertama yang dilewati sinar, dan kemampuan rekraksi kornea selalu konstan. Sedangkan kemampuan refraksi lensa dapat diubah berdasarkann kelenngkungannya. (Sherwood, 2011) Sinar harus melewati beberapa lapisan retina sebelum mencapai fotoresptor 22

Bagian saraf retina terdiri dari tiga lapisan sel peka rangsangan (1) lapisan luar mengandung sel batang dan sel kerucut (2) tengah mengandung sel bipolar (3) dalam mengandng sel ganglion. Akson sel ganglion akan menyatu untuk membentuk saraf optic. Titik di retina tempat saraf optic keluar disebut diskus optikus atau titik buta, karena didalamnya tidak terdapat sel batang maupun sel kerucut. Sinar harus melewati lapisan ganglion dan bipolar sebelum mencapai fotoreseptor disemua bagian retina kecuali di fovea. Fovea merupakan cekungan yang terletak tepat ditengah retina, lapisan sel ganglion dan bipolar tersisih ke tepi sehingga cahaya langsung mengenai fotoresptor. Hal ini ditambah dengan keaadaan hanya sel kerucut saja yang terdapat di retina (dengan ketajaman atau kemampuan diskriminatif yang lebih besar daripada sel batang). Keadaan tersebut menyebabkan fovea menjadi titik penglihatan paling jelas. Daerah disekiar fovea, disebut macula lutea, juga memiliki konsentrasi sel kerucut yang tinggi. Namun, ketajaman macula lebih rendah, karena macula ditutupi oleh sel ganglion dan bipolar. Fotoreseptor memiliki fotopigmen yang akan melalukan proses fototransduksi, yaitu proses pengubahan rangsangan cahaya menjadi sinyal listrik, dan akan meneruskan transmisi ke sel bipolar dan ganglion, sehingga menimbulkan potensial aksi yang akan diteruskan ke pusat penglihatan di SSP. Fotopigmen terdiri dari dua komponen: Opsin dan retinen, retinen adalah fotopigmen yang menyerap cahaya. Terdapat empat fotopigmen yang berbeda, Rodopsin yang terdapat pada sel batang, dan tiga fotopigmen yang terdapat pada sel kerucut. (Sherwood, 2011) Aktivitas fotoreseptor pada keadaan gelap

23

Aktivitas fotoreseptor pada keadaan terang

3. Apa saja penyebab terjadinya penurunan visus? A. Faktor Penyebab Penurunan Visus Kerusakan penglihatan mencakup semua masalah pada penglihatan yang mempengaruhi lapang pandang dan/atau kemampuan untuk melihat benda dekat dan jauh dengan jelas, untuk menilai kedalaman, untuk membedakan warna, dan untuk melihat satu bayangan secara bersamaan (penglihatan warna). Penyebab kerusakan penglihatan mencakup: a. Kelainan kongenital (misalnya kelainan genetik); b. Anomali perkembangan [misalnya strabismus (juling); c. Akibat sekunder penyakit sistemik (misalnya retinopati diabetes); d. Penyakit primer pada mata itu sendiri (misalnya glaukoma, degenerasi makula terkait usia) (Brooker, 2008); Glaukoma - peningkatan tekanan dalam mata, yang paling sering menyakitkan. Visi akan normal pada awalnya, tapi seiring waktu Anda dapat mengembangkan visi miskin malam, bintik-bintik buta, dan kehilangan penglihatan untuk kedua sisi. Glaukoma juga dapat terjadi tiba-tiba, yang merupakan keadaan darurat medis. 24

e. Kelainan refraksi (misalnya miopia, hipermetropia, astigmatisme); Kelainan refraksi adalah suatu kondisi ketika sinar datang sejajar pada sumbu mata dalam keadaan tidak berakomodasi yang seharusnya direfraksikan oleh mata tepat pada retina sehingga tajam penglihatan maksimum tidak direfraksikan oleh mata tepat pada retina baik itu di depan, di belakang maupun tidak dibiaskan pada satu titik. Kelainan ini merupakan bentuk kelainan visual yang paling sering dan dapat terjadi akibat kelainan pada lensa ataupun bentuk bola mata (Istiqomah, 2004). Kelainan refraksi adalah keadaan dimana bayangan tegas tidak dibentuk pada retina (Ilyas, 2004). f. Trauma (misalnya cedera tembus); g. Kerusakan pada jalur penglihatan (misalnya setelah stroke); h. Trakoma disebabkan oleh Chlamydia trachomatis; i. Defisiensi vitamin A (xeroftalmia) (Brooker, 2008) 4. Apa saja kelainan penurunan visus pada mata tenang? Berdasarkan etiloginya gangguan visus pada mata tenang dibagi atas: A. B. Penyebab kelainan vaskuler Oklusi Pembuluh Darah Retina Amaurosis vugaks Penyakit Eales Neuropati optic akut iskemik Penyakit kelainan sistemik Retinopati diabetik Retinopati hipertensi Penyebab degenerasi retina Ablatio retina regmatogen Degenerasi macula senile/disform.

5.

Mengapa kelainan mata kanan dan kiri pada pasien 1 berbeda?

25

Kelainan pada proses refraksi mata seperti miopi dan hiperopia, dapat berbeda pada mata kanan dan kiri. Dapat berbeda ukuran ataupun adanya silindris atau tidak. Salah satu faktor nya adalah kelengkungan lensa yang berdampak pada kekuatan lensa yang berbeda dan keadaan permukaan kornea salah satu mata yang nantinya akan mengganggu proses refraksi. Faktor lain adalah sumbu panjangnya bola mata yang dapat berbeda pada mata kanan dan kiri.

6.

Mengapa pada pasien 2 hanya terjadi kelainan pada mata kiri saja? Kelainan pada media refrakta bisa saja hanya mengenai sebelah mata saja, sesuai dengan kausa utama apa yang menyebakan kerusakan, misalnya iritasi atau infeksi dan juga tergantung dari seberapa besar kausa tersebut menyebabkan kerusakan.

7. Apa tatalaksana pada pasien 1? Resep apa yang dimaksud pada pasien 1? Pada pasien 1 yang mengalami kelainan pada refraksi, penatalaksanaan dengan pemberian kacamata. Untuk mata kanan diberi kacamata dengan ukuran -5.25. Dan mata kiri: -0.75 dengan silindris -0.50 axis . Untuk membantu membaca dekat ditambah ukuran +1.50.

8. Bagaimana mekanisme terjadinya nyeri pada bola mata? Apa saja kelainannya? Pengaturan tekanan intraokular Tekanan intraokular tetap konstan pada mata yang normal, biasanya 2mmHg dari nilai normalnya, yang rata-rata sekitar 15 mmHg. Besarnya tekanan ini ditentukan terutama oleh tahanan terhadap aliran keluar humor aquosus dari kamera okuli anterior ke dalam kanalis Schlemm. Tahanan aliran keluar ini dihasilkan dari retikulum trabekula yang dilewati, tempat penyaringan cairan yang mengalir dari sudut lateral ruang anterior ke dalam dinding kanalis Schlemm. Trabekula ini mempunyai celah terbuka yang sangat kecil, yaitu antara 2 sampai 3 mikromete. Kecepatan aliran cairan ke dalam kanalis meningkat secara nyata karena tekanan yang meningkat. Dengan tekanan kurang lebih 15 mm Hg pada mata normal, biasanya jumlah cairan yang meninggalkan mata melalui kanalis Schlemm rata-rata 2,5 l/meni (Guyton et al., 2008).

26

Sehingga keadaan pada tekanan intraokuler meningkat yang bisa disebabkan berlebihnya humor aqueous atau aliran yang tidak baik dapat menyebabkan penekanan pada bola mata, dan bermanifestasi nyeri pada bola mata. Glaukoma, Penyebab utama kebutaan. Glaukoma adalah suatu keadaan tekanan intraokuler/tekanan dalam bola mata relatif cukup besar untuk menyebabkan kerusakan papil saraf optik dan menyebabkan kelainan lapang pandang. Berdasarkan Survei Kesehatan Indera Penglihatan tahun 1993-1996 yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia didapatkan bahwa glaukoma merupakan penyebab kebutaan nomer 2 sesudah katarak (prevalensi 0,16%). Katarak 1,02%, Glaukoma 0,16%, Refraksi 0,11% dan Retina 0,09%. Akibat dari kebutaan itu akan mempengaruhi kualitas hidup penderita terutama pada usia produktif, sehingga akan berpengaruh juga terhadap sumberdaya manusia pada umumnya dan khususnya Indonesia (Rumah Sakit Mata dr. Yap, 2008). Kebutaan akibat glaukoma bersifat irreversibel/menetap tidak seperti kebutaan karena katarak yang dapat diatasi setelah dilakukan operasi pengambilan lensa katarak. Jadi usaha pencegahan kebutaan pada glaukoma bersifat prevensi/pencegahan kebutaan dengan jalan menemukan dan mengobati/ menangani penderita sedini mungkin. Sayangnya tidak mudah untuk menemukan glaukoma dalam stadium awal karena sebagian besar kasus glaukoma awal tidak memberikan gejala yang berarti bahkan asimptomatik, kalaupun ada gejala biasanya hanya berupa rasa tidak enak di mata, pegal-pegal di mata atau sakit kepala separoh yang ringan. Gejala-gejala tersebut tidak menyebabkan penderita memeriksakan ke dokter atau paramedis (Rumah Sakit Mata dr. Yap, 2008). 9. Mengapa pada pasien 2 setelah dilakukan uji pinhole tidak ada kemajuan? Pasien dengan penurunan visus yang disebabkan oleh kelainan refraksi, jika dilakukan pemeriksaan pinhole akan mengalami kemajuan. Sebaliknya, pasien dengan penurunan visus akibat kelainan media refrakta atau retina, jika dilakukan uji pinhole tidak akan mengalami kemajuan. Pada pasien 2, kemungkinan bukan disebabkan kelainan refraksi dikarenakan keadaan visus yang masih baik. Namun dengan adanya keluhan nyeri pada bola mata, yang mengindikasikan terjadinya kelainan pada media refrakta yaitu humor aqueous nya maka dengan uji pinhole tidak akan mengalami kemajuan. 27

10. Mengapa penatalaksanaan pasien 1 dan 2 berbeda? Kedua pasien menderita sumber kelainan yang berbeda, walaupun sama-sama penurunan visus. Pada pasien 1 yang mengalami kelainan pada refraksi, penatalaksanaan dengan pemberian kaca mata menurut keadaan miopi atau hiperopia. Sedangkan pasien 2 mengalami kelainan pada media refraktanya, akan ditanganin sesuai dengan kausa media refrakta mana yang mengalami kelainan.

11. Apa diferensial diagnosis pada pasien 1 dan 2? Pasien 1 Mata kanan: miopi -5.25 Mata kiri: miopi -0.75 silindris -0.50 dengan axis Hiperopia +1.50 Hiperopia Hiperopia dikenal sebagai penglihatan jauh, biasanya akibat bola mata terlalu pendek, atau kadang-kadang system lensa terlalu lemah pada keadaan ini bagian tengah, terlihat bahwa cahaya sejajar kurang dibelokkan oleh system lensa tidak terfokus di retina. Untuk mengatasi kelainan ini, otot silisris berkontraksi untuk meningkatkan kekuatan lensa. Dengan menggunakan mekanisme akomodasi, pasien hiperopia dapat memfokuskan bayangan dari objek jauh di retina. Bila pasien menggunakan sebagian otot siliarisnya untuk melakukan akomodasi jarak jauh, ia tetap masih mempunyai sisa daya akomodasi untuk melihat dengan tegas objek yang mendekati mata sampai otot siliaris telah berkontraksi maksimum. Pada orang tua, sewaktu lensa menjadi presbiop, paisen hiperopia sering tidak dapat berakomodasi cukup kuat untuk memfokuskan objek jauh sekalipun, apalagi untuk memfokuskan objek dekat (Guyton et al., 2008).

Myopia Pada myopia atau penglihatan dekat, sewaktu otot siliaris relaksasi total, cahaya dari objek jauh difokuskan di depan retina. Keadaan ini biasanya akibat bola mata yang terlalu panjang, atau kadang-kadang karena daya bias system lensa terlalu kuat (Guyton et al., 2008).

28

Tidak ada mekanisme bagi myopia untuk mengurangi kekuatan lensanya karena memang otot siliaris dalam keadaan relaksasi sempurna. Pasien myopia tidak mempunyai mekanisme untuk memfokuskan bayangan dari objek jauh dengan tegas di retina. Namun, bila objek di dekatkan ke mata, bayangan akhirnya akan menjadi cukup dekat sehingga dapat di fokuskan di retina. Kemudian bila objek terus didekatkan ke mata, pasien myopia dapat menggunakan mekanisme akomodasi agar bayangan yang terbentuk tetap terfokus secara jelas. Seorang pasien myopia mempunyai titik jauh yang terbatas untuk penglihatan jelas (Guyton et al., 2008).

Pasien 2 Glaukoma PEMBAGIAN GLAUKOMA Berdasarkan penyebab, glaukoma dibagi menjadi 3 golongan yaitu : 1. Glaukoma primer, jenis ini dibagi menjadi 2 jenis berdasarkan mekanisme terjadinya glaukoma yaitu
o o

a) Glaukoma primer sudut terbuka dan b) Glaukoma primer sudut tertutup

2. Glaukoma sekunder 3. Glaukoma kongenital. GLAUKOMA PRIMER SUDUT TERBUKA Gejala: Awal :

mungkin tanpa gejala rasa capai pada mata rasa pegal pada mata fluktuasi tajam penglihatan 29

kadang-kadang melihat seperti pelangi sekitar lampu Lanjut :

penyempitan lapang pandang - buta Pemeriksaan :

visus mungkin masih baik, kecuali pada stadium lanjut mata tenang bilik mata depan dalam 0,5)oftalmoskopik: tampak penggaungan yang melebar (CD ratio gonioskopik: sudut terbuka dan normal 21 mmHgtonometrik: tekanan pemeriksaan lapang pandang: kelainan lapang pandang ( skotoma Bjerrum, skotoma Seidel, skotoma arcuata atau nasal step)

OCT: terdapat penipisan serabut saraf . LOW TENSION GLAUKOMA/ NORMOTENSION GLAUKOMA Terdapat glaukoma dengan tekanan tidak tinggi, mungkin hanya sekitar 20 mmHg atau di bawahnya, tetapi terdapat kerusakan papil saraf optik dan kelainan lapang pandang yang berciri kerusakan karena tekanan tinggi, dan pada pemeriksaan OCT terdapat penipisan serabut saraf. Keadaan ini mempunyai gejala dan tanda seperti glaukoma primer sudut terbuka, terapi sama dengan glaukoma primer sudut terbuka. GLAUKOMA PRIMER SUDUT TERTUTUP Gejala: Akut :

rasa sakit berat (cekot-cekot) di mata, dapat sampai sakit kepala dan muntah-muntah. mata merah, berair 30

penglihatan kabur Kronik :

gejala hampir sama dengan yang akut tetapi rasa sakit, merah dan kabur dapat hilang dengan sendirinya, dan terjadi serangan berulang beberapa kali. Biasanya rasa sakit kurang berat dibandingkan dengan yang akut. Pemeriksaan: Akut :

visus turun konjungtiva hiperemi kornea keruh/udem bilik mata depan dangkal pupil lebar/lonjong dengan diameter ? 6-7 mm oftalmoskopik: papil mungkin masih normal tonometrik : tekanan intraokuler tinggi, bisa sampai 60 mmHg gonioskopik: sudut tertutup lapang pandang: terdapat kelainan yang tidak khas, atau mungkin masih normal. Kronik:

seperti tanda akut tetapi biasanya lebih ringan dijumpai tanda-tanda bahwa proses telah berlangsung berulang dan lama yaitu: degenerasi koenea, atrofi iris, neovaskularisasi iris,glaukoma flecken dan sinekia anterior perifer. GLAUKOMA SEKUNDER Pada glaukoma jenis ini terjadi akibat penyakit/kelainan mata yang lain misalnya: 12. Inflamasi mata/ uveitis

31

13. Trauma yang merusak sudut iridokornea atau menyebabkan iris menutup sudut atau menyebabkan blok pupil atau blok silier. 14. Kelainan lensa. Misal lensa maju akibat katarak insipien. 15. Obat-obatan, misal pemakaian steroid yang lama. 16. Neovaskularisasi sudut, misal pada penderita Diabetes Melitus. 17. Sindroma pigmentari, disini terdapat sumbatan trabekulum oleh pigmen iris. 18. Sindroma eksfoliatif, terdapat sumbatan pada trabekulum oleh bahan yang lepas pada sindroma ini. 19. Kenaikan tahanan vena episklera, misal adanya fistula karotiko-kavernosa.

GLAUKOMA KONGENITAL Glaukoma ini disebut juga glaukoma infantil, terjadi pada bayi dan anak yang disebabkan oleh kelainan pembentukan sudut iridokornea. Gejala dan tanda dapat terlihat pada saat lahir atau pada tahun awal kehidupan. 12. Apa saja uji persepsi warna yang sederhana?

32

Ishihara test adalah sebuah metode pengetesan buta warna yang dikembangkan oleh Dr. Shinobu Ishihara. Tes ini pertama kali dipublikasi pada tahun 1917 di Jepang.Sejak saat itu, tes ini terus digunakan di seluruh dunia, sampai sekarang. Tes buta warna Ishihara terdiri dari lembaran yang didalamnya terdapat titik-titik dengan berbagai warna dan ukuran.Titik berwarna tersebut disusun sehingga membentuk lingkaran. Warna titik itu dibuat sedemikian rupa sehingga orang buta warna tidak akan melihat perbedaan warna seperti yang dilihat orang normal.

Tes berikutnya adalah tes Farnsworth munsell. Tes ini berfungsi sebagai tes lanjutan dari tes Ishihara yang hanya dapat menentukan kelainan partial atau tidaknya. Sedangkan tes farnsworth munsell, bisa melakukan screening kelemahan warna tertentu, seperti kelemahan terhadap warna merah (protan), kelemahan terhadap warna hijau (deutan), dan kelemahan terhadap warna biru (tritan).

Ishihara Test Peralatan untuk tes buta wana ini berupa buku yang berisi plate-plate warna yang disusun dari bulatan-bulatan kecil berwarna-warni sehingga membentuk sebuah image berupa angka. Untuk pengujiannya pun tidaklah sulit, karena hanya dengan menunjukkan gambar-gambar yang ada kepada pasien lalu pasien di minta untuk menyebutkan angka yang ada.Untuk lebih jelas mengenai plate-plate warna tersebut, bisa kita lihat pada gambar 6.

Gambar 6. Plate-plate Ishihara test Farnsworth Munsell test Peralatan berikutnya adalah tes farnsworth munsell. Tes ini merupakan tes kelanjutan dari tes ishihara.Pada tes ishihara, hasil yang didapat hanyalah mendiagnosa apakah pasien mengalami buta warna parsial atau tidak. Sedangkan pada tes farnsworth munsell, tes ini bisa mendiagnosa dengan melakukan screening kelemahan warna tertentu, seperti kelemahan terhadap warna 33

merah (protan), kelemahan terhadap warna hijau (deutan), dan kelemahan terhadap warna biru (tritan) (Birch, 2001).

Untuk pengujian tes farnsworth munsell D-15 ini pun tidaklah sulit. Pasien diminta untuk menghafal urutan-urutan warna pada koin-koin yang sudah disiapkan.Lalu kita melakukan acak warna pada koin-koin warna tersebut.Setelah koin-koin warna tersebut di acak, maka pasien di minta untuk mengurutkan kembali warna-warna yang ada.Setelah selesai, maka kita bisa menyocokkan urutan warna yang telah di susun kembali oleh pasien.Untuk lebih jelas mengenai koin-koin warna pada tes farnsworh munsell, bisa di lihat pada gambar 7.

13. Gambar 7. Koin-koin warna farnsworth munsell Holmgren Test Kemampuan membedakan warna Sekumpulan benang wol yg dicampur, kemudian dapat menyamakan benang satuan dan memisahkan dari campuran benang wol serta dapat mengurutkan dari warna muda ke warna tua dan sebaliknya.

34

BAB III PENUTUP A. Simpulan a. Pasien pertama dalam skenario menderita presbiopi sedangkan pasien kedua belum bisa dipastikan diagnosisnya karena harus dilakukan pemeriksaan penunjang terlebih dahulu. b. Usia pasien pertama (45 tahun) merupakan faktor risiko terjadinya presbiopi karena usianya yang semakin lanjut menyebabkan menurunnya kemampuan media refrakter untuk membiaskan cahaya tepat pada retina dan juga berkurangnya elastisitas pada lensa mata yang menyebabkan berkurangnya kemampuan lensa mata untuk berakomodasi. c. Pasien kedua harus dilakukan pemeriksaan persepsi warna, proyeksi sinar, tonometri, konfrontasi dan refleks fundus terlebih dahulu untuk mengetahui diagnosis yang lebih pasti.

B. Saran a. Pada pasien pertama, untuk membantu penderita agar bisa membaca dekat kembali, bisa dikombinasikan dengan kacamata lensa cembung (+) untuk membantu lensa mata berakomodasi. b. Pada pasien kedua, pemeriksaan lanjutan harus segera dilaksanakan agar dokter lebih cepat menegakkan diagnosis, untuk penatalaksanaan sementara bisa diberikan analgesik untuk mengurangi rasa nyeri pada mata.

35

DAFTAR PUSTAKA

Birch, J. (2001). Diagnosis of detective color vision. London: oxford university press Brooker, C. 2008. Ensiklopedia Keperawatan. Jakarta: EGC. Guyton, Arthur C. Hall, John E. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Ilyas, S. and Yulianti, S. R. 2012. Ilmu Penyakit Mata Edisi Keempat. Jakarta: Badan Penerbit FKUI. Ilyas, S. 2004. Ilmu Perawatan Mata. Jakarta: Sagung Seto. Istiqomah, I. 2004. Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Mata. Jakarta: EGC Rumah Sakit Mata dr. Yap. 2008. http://www.rsmyap.com/content/view/70/38/ (diakses pada Jumat, 19 September 2013). Sherwood, Lauralee. 2011. Fisiologi Manusia Dari Sel ke Sistem Edisi 6. Jakarta: EGC. Yanoff M, Cameron d.2011. Diseases of the visual system. In: Goldman L, Schafer AI, eds. Cecil Medicine. 24th ed. Philadelphia, Pa: Saunders Elsevier

36