Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA DASAR ACARA I KARBOHIDRAT

Disusun oleh : Kelompok XXXVI Qorina Shellyn Melvina Numan Firdaus Indah Hidayati Asisten PT / 06257 PT / 06277 PT / 06281 PT / 06377 : Dianestu Putra

LABORATORIUM BIOKIMIA NUTRISI BAGIAN NUTRISI DAN MAKANAN TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2013

ACARA I

KARBOHIDRAT

Tujuan Praktikum

Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui adanya gugus reduksi pada karbohidrat, pengaruh asam pada karbohidrat, gugus keton (fruktosa) pada karbohidrat, sehingga dapat digunakan untuk membedakan glukosa dan fruktosa, identifikasi karbohidrat berdasar bentuk fisik, mengetahui hasil hidrolisis dengan melihat adanya gugus reduksi pada karbohidrat, dan mengetahui tahapan hidrolisis amilum.

Tinjauan Pustaka

Secara alami karbohidrat dibagi menjadi 2 golongan utama, yaitu gula dan non-gula. Pada golongan gula dibagi lagi menjadi 2 golongan, yaitu monosakarida dan oligosakarida. Untuk non- gula dibagi menjadi 2 golongan juga, yaitu polisakarida dan karbohidrat kompleks. Untuk bagannya sebagai berikut,
monosakarida gula oligosakarida Karbohidrat polisakarida non-gula karbohidrat kompleks

(Mc Donald, P., et al, 1995)

Menurut Martoharsono (1998), karbohidrat merupakan polihidroksi aldehida (golongan aldosa) dan polihidroksi keton (golongan ketosa) yang mempunyai rumus molekul umun (CH2O)n. Karbohidrat merupakan suatu polimer yang terdiri dari monomer-monomer. Berdasarkan jumlah monomer yang menyusunnya, karbohidrat dapat digolongkan menjadi monosakarida, oligosakarida yang mengandun 2 sampai 10 monomer, dan polisakarida. Menurut Mc Donald (1995), onosakarida adalah gula yang berdiri tunggal dengan penggolongan berdasarkan panjang gugus C yang berikatan. Contohnya triose (C3H6O3), tetrose (C4H9O4), pentose (C5H10O5), dan heksose (C6H12O6). Monosakarida (Tillman, 1998) hanya ditemukan sedikit di alam, kebanyakan didapat dari hasil hidrolisis atau fermentasi karbohidrat yang lebih kompleks. Menurut Tillman (1998), jika ditelaah memiliki dua kemungkinan gugus fungsi / reduksi, yaitu aldehid dan keton. Pada aldehid, gula yang mengandung gugus reduksi ini digolongkan menjadi gugus aldosa. Contohnya glukosa dan galaktosa. Untuk gugus keton, gula yang mengandung gugus reduksi ini digolongkan menjadi gula ketosa. Contoh gugus ini, yaitu fruktosa. Menurut Mc Donald (1995), oligosakarida terbentuk dari

monosakarida- monosakarida yang saling bergabung. Ikatan yang terjadi antara monosakarida-monosakarida harus mengorbankan satu partikel air. 2 C6H12O6 -----------> C12H22O11 + H2O Menurut Tillman (1998), oligosakarida terdapat di alam dalam beberapa varian tergantung oleh monosakarida yang membentuknya. Contohnya adalah sukrosa. Sukrosa terbentuk dari satu molekul glukosa dan satu molekul frukstosa. Disakarida ini tidak memiliki sifat reduksi. Menurut Tillman (1998) ,polisakarida dapat dibagi menjadi dua, yaitu homo-polisakarida dan hetero-polisakarida. Penggolongan ini didasarkan pada monosakarida pembentuknya.

Homo-polisakarida adalah golongan polisakarida ini pada hidrolisis, hanya menghasilkan satu macam molekul-molekul monosakarida.

Sedangkan, Hetero-polisakarida adalah golongan polisakarida ini pada hidrolisis dapat menghasilkan lebih dari satu macam molekul-molekul monosakarida (Tillman, 1998). Karbohidrat memiliki sifat-sifak kimia antara lain, sifat mereduksi, pembentukan osazon, pembentukan furfural. Sifat mereduksi meliputi uji benedict dan uji luff, inti uji ini adalah gigis mereduksi yang dimiliki oleh sakarida dapat mereduksi Cu+. Pembentukan osazon adalah terbentuknya osazon dari reaksi antara gugus reduksi dengan fenilhidrazin berlebih. Pembentukan furfural akan terjadi jika sakarida diberi asam pekat lalu di panaskan dan akan terbentuk cicin ungu jika bereakssi dengan pereaksi molisch (Poedjiaji, 2010).

Materi dan Metode Materi Alat. Alat yang digunakan dalam praktikum ini antara lain tabung reaksi, pipet, pemanas, mikroskop, gelas ukur, cawan porselin, corong, dan kertas saring, penjepit tabung reaksi, kertas label, lampu spritus, pengaduk. Bahan. Bahan yang digunakan dalam praktikum ini antara lain larutan Benedict, glukosa, fruktosa, laktosa, sakarosa, pati 1%, larutan luff, selulosa, furfural, asam sulfat pekat, larutan molisch 5%, asam klorida pekat, pereaksi Selliwanof 0,5%, resorsinol, naftol, alkohol, asam asetat glasial, fenilhidrazin padat, natrium asetat padat, arabinosa, Na2CO3 2%, maltosa, larutan amilum, air, akrodekstrin, larutan yod, timol blue, HCl encer, dan HCl pekat. Metode Daya Mereduksi Uji Benedict. Tabung 1 diisi 3ml larutan Benedict, kemudian ditambahkan 1ml larutan glukosa 0,01M dan dididhkan selama 10 menit. Tabung 2 diisi dengan 3ml larutan Benedict, ditambahkan 1ml glukosa 0,02M kemudian didihkan selama 10 menit. Tabung 3 diisi larutan Benedict 3ml kemudian ditambahkan glukosa 0,04M dan dididhkan selama 10 menit. Tabung tersebut diamati perubahannya dan dibandingkan kecepatan perubahannnya. Uji Luff. Tabung 1 diisi 2ml 0,02M fruktosa, ditambahkan 1ml larutan Luff encer dan didihkan selama 15 menit. Tabung 2 diisi 2ml glukosa 0,02M, kemudian ditambahkan 1ml larutan Luff encer dan dididhkan selama 15 menit. Tabung 3 diisi dengan 2ml laktosa 0,02M, ditambahkan 1ml larutan

Luff encer dan didihkan selama 15 menit. Tabung 4 diisi dengan sakarosa 0,02M kemudian ditambahkan 1ml larutan Luff encer dan dididihkan selama 15 menit. Tabung 5 diisi dengan 2 ml 0,7% larutan pati 0,02M, kemudian ditambahkan larutan Luff dan dididihkan selama 15 menit. Kelima tabung tersebut diamati perubahan dan kecepatan perubahannya. Pengaruh Asam Uji Molisch. Tabung 1 diisi glukosa 0,02M, kemudian ditambah 2 tetes R.Molisch 5% lalu ditambahkan 3ml larutan H2SO4 pekat lewat dinding tabung, tabung 2 diisi 1ml selulosa 0,02M, ditambahkan 2 tetes R.Molisch 5% dan ditambahkan H2SO4 pekat lewat dinding tabung. Tabung 3 diisi 0,3% larutan pati, ditambah 2 tetes R,Molisch dan 3ml H2SO4 lewat dinding tabung. Tabung keempat diisi dengan 1ml furfural 0,01M kemudian ditambah 2 tetes R.Molisch 5% lalu ditambah 3ml H2SO4 pekat lewat dinding tabung. Keempat tabung tersebut diamati perubahan warna yang terjadi. Uji Selliwanof. Tabung 1 diisi glukosa 0,01M sebanyak 2ml. Ditambahakan 2ml HCl pekat, kemudian dicampur dengan baik dan dididihkan selama 30 menit, ditambahka 0.5ml larutan resorsinol 0,5%. Tabung 2 diisi dengan 2ml fruktosa 0,01M. Kemudian ditambah 2ml HCl pekat, kemudian dicampur dengan baik dan dididihkan selama 30 menit kemudian ditambahkan 0,5ml larutan resorsinol 0,5%. Setiap tabung diamatai perubahan yang terjadi dan di catat hasilnya. Pembentukan Osazon Uji Fenilhidrazina. Tabung 1 diisi dengan 5ml glukosa 0,01M ditambahkan 10 tetes asam asetat anhidrida, ditambahkan lagi dengan fenilhidrazina padat kemudian ditambahkan Na-asetat padat sebanyak dua kali fenilhidrazina, lalu dipanaskan selama 5 menit ditunggu sampai semua

padatan larut. Tabung dua diisi dengan fruktosa 0,01M, ditambahkan 10 tetes asam asetat anhidrida, ditambah lagi fenilhidrazina padat lalu ditambah Naasetat padat sebanyak dua kali fenilhidrazina, kemudian dipanaskan selama 5 menit ditunggu sampai semua padatan larut. Tabung 3 diisi dengan 5ml arabinosa 0,03M, ditambah 10 tetes asam asetat anhidrida, ditambah fenilhidrazina padat kemudian Na-asetat padat sebanyak dua kali

fenilhidrazina yang kemudian dipanaskan selama 5 menit ditunggu sampai semua padatan larut. Setiap larutan dalam tabung reaksi disaring dalam tabung kosong menggunakan kertas saring, kemudian dipanaskan dalam pengangas air selama 30 menit, lalu didinginkan kemudian diamati dengan mikroskop. Hasil Hidrolisis Uji Benedict. Tabung 1 diisi dengan 5ml larutan maltosa ditambah 1 tetes timol blue juga ditambah 1 sampai 2 tetes HCl encer sampai larutan tersebut menjadi merah muda. Campuran tersebut dibagi mejadi dua dan dimasukkan ke dalam dua tabung tersissa dengan perlakuan yang berbeda. Tabung 2, campuran tersebut dididihkan selama 30 menit dan didinginkan, setelah dingin ditambahkan Na2CO3 dan juga 2ml larutan Benedict, kemudian diamati perubahan yang terjadi. Langkah selajutnya 3 buah tabung reaksi disiapkan. Tabung 1 diisi dengan 5ml larutan laktosa ditambah 1 tetes timol blue dan juga 1-2 tetes larutan HCl pekat. Larutan tersebut dibagi dua dan dimasukkan ke dalam tabung 2 dan 3 dengan perlakuan berbeda. Larutan dalam tabung 2 dididihkan selama 30 menit, didinginkan dan ditambahkan 5 tetes Na2CO3 2% dan juga larutan Benedict, kemudian diamati

perubahannya. Tabung 3 ditambah 5 tetes Na2CO3 2% dan larutan Benedict, kemudian diamati perubahannya.

Uji Selliwanof. Uji Selliwanof hasil hidrolisis, diambil 3 buah tabung reaksi, pada tabung 1 diisi dengan 2ml sukrosa dan juga 2 ml HCl pekat. Apabila telah tercampur dididihkan pada penangas air selama 30 menit, didinginkan, dan ditambah 0,5 ml selliwanof 0,5%, kemudian diamati perubahannya. Tabung 2 diisi maltosa yang ditambahkan dengan 2 ml HCl pekat, apabila telah tercampur dididihkan pada penangas air selama 30 menit dan didinginkan, setelah dingin ditambahkan 0,5ml 0,5% selliwanof, kemudian diamati perubahannya. Tabung 3 diisi dengan 2 ml laktosa dan 2 ml HCl pekat, kemudian campuran tersebut didihkan selama 30 menit dan didinginkan, paabila sedah dingin ditambah dengan selliwanoff, kemudian diamati perubahannya. Jika semua proses telah dilakukan, maka hal yang terakhir dilakukan yaitu dibandingkan hasil percobaannya. Polisakarida Uji hasil hidrolisis amilum. Uji hasil hidrolisis amilum disiapkan sebuah tabung reaksi yang diisi dengan 10 ml amilum 1%, kemudian ditambahkan dengan 3 ml HCl 3M. Campuran tersebut kemudian didihkan dengan penangas air, kemudian diuji dengan larutan iod setiap 3 menit dengan perbandingan 1:1, pengujian dihentikan apabila campuran tersebut bila ditambahkan larutan iod warnanya sama dengan larutan iod tersebut, kemudian diamati warna yang timbul. Hasil pengujian yang telah mencapai hasil negatif ditambah dengan 5 tetes Na2CO3 dan juga larutan Benedict dan diamati perubahan yang terjadi.

Hasil dan Pembahasan

Berdasarkan uji yang dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut:

Daya Mereduksi Uji Benedict didapatkan hasil sebagai berikut: Tabel 1. Hasil Uji Bennedict Larutan Hasil (endapan merah bata) Glukosa 0,01 M 1ml + Glukosa 0,02 M 1ml ++ Glukosa 0,04 M 1ml +++ Sample glukosa tersebut ditambahkan dengan reagen bennedict dan dipanaskan selama 10 menit. Reagen benedict memiliki gugus Cu 2+ yang berfungsi untuk menangkap OH- dari gugus reduksi glukosa. Hal ini dapat terjadi dengan bantuan pemanasan dari lampu spritus. Hasil tersebut membuktikan bahwa glukosa memiliki gugus reduksi karena dapat mereduksi Cu2+ pada pereaksi benedict menjadi Cu+ membentuk endapan Cu2O (endapan merah bata). Menurut Poedjiaji (2010), emakin besar Molaritas semakin banyak endapan merah bata terbentuk, hal ini dikarenakan semakin banyak OH- yang dapat mereduksi Cu2+ pada pereaksi Benedict . Secara teori: 2 Cu+ + 2 OH- Cu2O + H2O. Cu2O adalah endapan merah bata.

Uji Luff didapatkan hasil sebagai berikut: Tabel 2. Hasil Uji Luff Larutan Fruktosa 0,02 M 2 ml Glukosa 0,02 M 2 ml Laktosa 0,02 M 2 ml Larutan pati 1% 0,02 M 2 ml Hasil (endapan merah bata) +++ +++ ++ -

Sample glukosa tersebut ditambahkan dengan reagen bennedict dan dipanaskan selama 10 menit. Reagen benedict memiliki gugus Cu 2+ yang berfungsi untuk menangkap OH- dari gugus reduksi glukosa. Hal ini dapat terjadi dengan bantuan pemanasan dari lampu spritus. Hasil tersebut membuktikan bahwa monosakarida (fruktosa dan glukosa) akan lebih menghasilkan endapan merah bata dari pada oligosakarida (laktosa) dan polisakarida (pati). Menurut Poedjiaji (2010), hal ini disebabkan oleh keberadaan gugus reduksi yang lebih bebas (tidak digunakan untuk ikatan glikosidik) pada monosakarida yang dapat mereduksi Cu2+ pada pereaksi Luff menjadi Cu+ membentuk endapan Cu2O, sedangkan oligosakarida dan polisakarida harus melewati proses hidrolisis agar menjadi monosakarida. Seperti terjadi pada laktosa, senyawa ini tergolong oligo sakarida sehingga diantara monomer-monomernya terdapat ikatan 14 glikosidik sehingga terdapat gugus reduksi yang digunakan untuk berikatan. Hal ini berakibat pada endapan yang terjadi tidak sebanyak larutan lain. Secara teori: 2 Cu+ + 2 OH- Cu2O + H2O. Cu2O adalah endapan merah bata.

Pengaruh Asam (dehidrasi) Uji Molisch didapatkan hasil sebagai berikut: Tabel 3. Hasil Uji Molisch Larutan Hasil Glukosa 0,02 M 1 ml Selulosa 0,02 M 1 ml Larutan pati 1% 1 ml Furfural 0,01 M 1 ml Hasil tersebut membuktikan bahwa jika +++ ++ + ++++ sakarida direaksikan dengan

asam maka akan terjadi reaksi dehidrasi yang akan menyebabkannya berubah menjadi furfural yang jika bereaksi dengan alfa-naftol (timol) maka akan terbentuk cincin ungu. Data pada tabel memperlihatkan bahwa cincin

ungu pada larutan furfural paling tebal jika dibandingkan dengan larutan yang lain karena furfural tidak perlu terdehidrasi lagi untuk membentuk cincin ungu, sedangkan hasil pada glukosa, selulosa, dan larutan pati kurang tebal karena senyawa tersebut harus berubah menjadi furfural terlebih dahulu agar dapat membentuk cincin ungu. Menurut Poedjiaji (2010), uji ini dapat digunakan untuk mengetahui gugus sakarida dalam suatu zat. Sakarida akan terdehidrasi menjadi furfural dan bereaksi dengan timol jika terdapat cincin ungu maka terdapat gugus sakarida bila tidak maka tidak ada gugus sakarida.

Uji Seliwanof didapatkan hasil sebagai berikut: Tabel 4. Hasil Uji Bennedict Larutan Hasil (warna merah) Glukosa 0,01 M 2 ml Fruktosa 0,01 M 2 ml + Hasil tersebut membuktikan bahwa fruktosa memiliki gugus keton (gula ketosa) karena akan berubah menjadi hidroksimetil furfural yang selanjutnya akan bereaksi dengan resorsinol membentuk senyawa warna merah dan membuktikan bahwa glukosa termasuk ke dalam golongan gula aldosa. Menurut Poedjiaji (2010), reaksi selliwanof (larutan resorsinol dalam alkohol) akan mengubah fruktosa menjadi hidroksimetilfurfural yang akan membentuk senyawa berwarna setelah bereaksi dengan resorsinol.

Sebenarnya gula aldosa dapat bereaksi menjadi senyawa berwarna merah namun dengan kecepatan reaksi yang lebih lama.

Pembentukan Osazon Uji Fenilhidrazina didapatkan hasil sebagai berikut:

Gambar 1. Glukosazon Gambar 2. Fruktosazon Gambar 3. Arabinosazon

Gambar 3. Glukosazon Gambar 4. Fruktosazon Gambar 5. Arabinosazon (Ranjna, 2003). Hasil tersebut membuktikan bahwa karbohidrat dapat diidentifikasi secara fisik melalui penambahan fenilhidrazina berlebih dan akan

membentuk fenil-osazon yang dapat diamati melalui mikroskop.

Gambar 6. Pembentukan Osazon (Poedjiaji, 2010).

Gambar tersebut memperlihatkan bahwa dua atom C di awal tertutup oleh fenil hidrazin. Fruktosa dan Glukosa jika tertutup di kedua atom C itu maka hasil akan sama karena bentuk rantai hampir sama.

Hasil Hidrolisis Uji Benedict didapatkan hasil sebagai berikut: Tabel 5. Hasil Uji Bennedict Larutan Hasil (endapan merah bata) Maltosa 5 ml (pemanasan) ++ Maltosa 5 ml + Laktosa 5 ml (pemanasan) ++ Laktosa 5 ml + Hasil tersebut membuktikan bahwa maltosa dan laktosa memiliki gula pereduksi karena dapat mereduksi pereaksi Benedict. Tetapi maltosa dan laktosa yang mendapat perlakuan pemanasan menghasilkan lebih banyak endapan merah bata karena telah terjadi reaksi hidrolisis yang menyebabkan mereka terpecah menjadi monosakarida, Maltosa menjadi glukosa + glukosa (keduanya gula aldosa) sedangkan Laktosa menjadi glukosa + galaktosa (keduanya gula aldosa). Monosakarida memiliki lebih banyak gugus pereduksi karena tidak digunakan untuk ikatan glikosidik. Secara teori: 2 Cu+ + 2 OH- Cu2O + H2O. Cu2O adalah endapan merah bata (Poedjiaji, 2010). Uji Seliwanof. Dari percobaan yang dilakukan didapatkan hasil sebagai berikut: Tabel 6. Hasil Uji Seliwanof Larutan Sukrosa 2 ml Maltosa 2 ml Laktosa 2 ml Hasil (warna merah) + -

Uji ini memerlukan pemanasan pada setiap larutan. Hal ini dimaksutkan untuk menghidrolisis larutan menjadi bentuk monosakarida.Hasil hidrolisis Sukrosa adalah fruktosa + glukosa. Fruktosa memiliki gugus keton sehingga dapat menghasilkan warna merah dalam reaksi dengan pereaksi seliwanof. Sedangkan laktosa (glukosa + galaktosa) dan maltosa (glukosa + glukosa) menunjukan hasil negatif tidak menghasilkan senyawa warna merah. Menurut Poedjiaji (2010), reaksi selliwanof (larutan resorsinol dalam alkohol) akan mengubah fruktosa menjadi hidroksimetilfurfural yang akan membentuk senyawa berwarna setelah bereaksi dengan resorsinol.

Sebenarnya gula aldosa dapat bereaksi menjadi senyawa berwarna merah namun dengan kecepatan reaksi yang lebih lama.

Polisakarida Uji hidrolisis amilum didapatkan hasil sebagai berikut: Tabel 7. Hasil Hidrolisis Amilum Menit keWarna 12 Biru 30 Ungu 51 Merah 54 Tidak berwarna Uji ini memerlukan pemanasan pada setiap larutan. Hal ini dimaksutkan untuk menghidrolisis amilum menjadi bentuk sakarida yang lebih sederhana. Tahapan hidrolisis amilum dapat dicek mengunakan uji Yod. Uji ini pada awalnya menggunakan pereaksi Yod dan akan menghasilkan warna, Biru menunjukan masih dalam tahap amilum, ungu menunjukan tahap amilodextrin, merah menunjukan tahap eritrodextrin, jika uji Yod menunjukan hasil negatif maka tahap hidroslisis sudah mencapai akrodextrin, maltosa, atau glukosa.

Gambar 8. Tahapan Hidrolisis Amilum (Poedjiaji, 1020) Tahapan hidrolisis amilum dan di uji dengan iod (Poedjiaji, 2010). Bila sudah tidak berwarna maka dilanjutkan dengan uji Bennedict. Hasil yang didapatkan adalah negatif untuk uji iod dan uji Bennedict maka hasil yang di dapat adalah akrodekstrin.

Kesimpulan

Hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa sakarida memiliki gugus mereduksi yang akan menghasilkan endapan merah bata bila diberi reagen benedict atau reagen luff, sakarida yang meliputi glukosa, selulosa, larutan pati akan menjadi furfural jika dipanaskan dan direaksikan dengan asam pekat. Sakarida yang termasuk aldosa adalah glukosa, laktosa, dan maltosa. Sakarida yang termasuk dalam ketosa adalah fruktosa dan sukrosa, sakarida dapat diidentifikasi secara fisik melalui pembentukan osazonnya, dan amilum terhidrolisis menjadi akrodextrin.

Daftar Pustaka Chawla, Ranjna. 2003. Practical Clinical Biochemistry : Methods and Interpretations. Jaypee Brothers Publishers. New Delhi. Martoharsono,Soeharsono.1998. Biokimia Jilid 1. Gadjah Mada University Press .Yogyakarta. McDonald,P., R.A. Edwadrs, J.F.D Greenhalgh, C.A. Morgan. 1995. Animal Nutrition fifth edition. Longman Singapore publisher (Pte) Ltd. Singapore Poedjiaji, Anna. 2010. Dasar-Dasar Biokimia edisi Revisi. UI Press. Jakarta Tillman, Allen D., Hari Hartadi, Soedomo Reksohadipradjo, Soeharto Prawirokusunto, Soekanto Lebdosoekajo. 1998. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

Anda mungkin juga menyukai