Anda di halaman 1dari 19

Reaksi Inti

Dalam reaksi inti yang khas seberkas partikel


jenis a dijatuhkan pada sebuah sasaran yang
mengandung inti jenis x. Setelah reaksi, keluar
sebuah partikel jenis b dan sebuah inti sisa y.

partikel
atau ( , ) a x b y x a b y
proyektil
+
+ +
+
14 17 4 14 17 1
2 7 8 1
7 4
2
4 9 12 1
2 4 6 0
4 14 1
2 5 7 0
2 63 1 64
1 29 34 0 30 34
misal : atau F. Rutherford
J. Cockeroft Walton
N O p He N O H
p Li He
He Be C n
He Be N n
He Cu Zm
o
o o
q
+ + + +
+ +
+ +
+ +
+ +
( )
( )
( )
Jika proyektil dan yang dipancari ,
Jika proyektil netron dan yang dipancar ,
Jika proyektil dan yang dipancari ,
p x y
x n y
p x y
o o |

o o |

( )
14 17 14 17
Pada reaksi inti seperti dalam reaksi kimia, ruas kiri
dan ruas kanan harus seimbang
misal : atau ,
ruas kiri : 2 7 ruas kanan : 8 1
n 2 7
N O p N p O
p p
o o + +
= + = +
= + n 9 =
Energi Reaksi Inti
Energi reaksi inti (Q) adalah perbedaan energi
massa keadaan akhir dengan energi massa
keadaan awal.

( )
( )
2
2



awal akhir
x a y b
akhir awal
y b x a
Q m m c
m m m m c
T T
T T T T
=
= +
=
= +
: energi kinetik
: massa inti induk
: massa inti proyektil
: massa inti anak
: massa partikel yang dipancar
x
a
y
b
T
m
m
m
m
2 2 2 2
Hukum Kekekalan Energi :
x x a a y y b b
m c T m c T m c T m c T + + + = + + +
Jika inti yang tertinggal maupun partikel yang
terpancar tidak pada keadaan eksitasi, untuk
menghitung energi y dapat menggunakan
hukum kekekalan energi dan momentum. Jika
inti y berada pada keadaan eksitasi, maka
energi kinetik y berkurang sebanyak (kurang
lebih) energi kedaan eksitasi di atas keadaan
dasar, energi total yang tersedia dipakai
bersama oleh y dan b.
Energi reaksi (Q) bida positif, negatif, atau nol.
Probabilitas reaksi biasanya diungkapkan
dalam besaran penampang (cross section),
yaitu semacam luas efektif yang dihadangkan
inti sasaran pada proyektil bagi reaksi
tertentu. Cross section dinyatakan dalam .
Jika 0 , disebut reaksi eksotermik exoergic
energi ikat dilepaskan
0 , disebut reaksi endotermik atau endoergic
energi kinetik dikonversikan
ke dalam energi ikat
i f f i
i f f i
Q m m T T
Q m m T T
> > >
< < <
Geometri Reaksi Inti
gambar
: proyektil
: momentum dari
: momentum partikel yang dipancar
: momentum inti yang tersisa
: sudut hambur
: sudut hambatan dari Y
a
b
y
a
P a
P
P
b u

( ) ( ) ( )
{ }
1/ 2
1/ 2
2
1/ 2
Diperoleh hubungan
cos cos
: energi kinetik partikel yang dipancar
: energi kinetik proyektil
a b a a b a y b y y a a
b
a b
b
a
m m T m m T m m m m m T
T
m m
T
T
u u u
(
+ + +

=
+
Reaksi yang menghasilkan Q>0 mengubah reaksi
inti menjadi energi kinetik dari b dan Y,
sedangkan reaksi yang menghasilkan Q<0,
memerlukan masukan energi dalam bentuk
energi kinetik x untuk diubah menjadi energi ikat
inti.
Pada reaksi endoergic, sekurang-kurangnya harus
memasok sejumlah energi kinetik tertentu untuk
memberikan tambahan massa diam pada
partikel-partikel hasil reaksi. Dengan demikian
terdapat nilai minimum atau nilai ambang bagi
energi kinetik proyektil (a). (Threshold)
( )
( )
( )
'
'
'
'
Dalam keadaan ini 0 dan 0
Untuk 0 tidak ada nilai ambang
Energi tertinggi dari proyektil
Batas energi dua keadaan , aproksimasi
1
y b
th
y b a
o o
a
y
a
y a
a th
a b
a th th
y y a
m m
T Q
m m m
Q
T
m
T Q
m m
T T
m m m
T T T
m m m
u
+
=
+
= =
>
=

b
m
| |
|
\ .
( )
Sudut maksimum yang menghasilkan nilai range
dengan sudut antara 0 dan 90 .
Untuk mendekati hanya sudut 0 .
Persamaan untuk menentukan sebagai berikut:
m a a b
o o
m
o
a th m
a
T T P
T T
T
u u
u u
u
=
= =
=
( ) ( )
2
sudut maksimum
cos
Untuk reaksi inti dengan 0, tidak mempunyai nilai ambang
dan tidak ada nilai ganda dp (lihat gambar 11.3 hal 384)
jika kita melakukan penggabungan
y b y y a a
a b a
a
m m m Q m m T
m m T
Q
T
u
u
(
+ +

=
>
1/ 2
, , dan ditentukan dan
, , dan diketahui, maka dapat dicari:
1 1 2 cos
b a
a b x
b a a b
b a a b
y y y y
T T
m m m Q
m m m m
Q T T T T
m m m m
u
u
| | | | | |
= +
| | |
| | |
\ . \ . \ .
( )
* 2
* 2 2
Jika dari reaksi inti yang tersisa dalam keadaan eksitasi.

: nilai pada keadaan dasar inti Y
: Energi massa dalam keadaan eksitasi
: Energi eks
ex x x y b
o ax
o
y y ex
ex
Q m m m m c
Q E
Q q
m c m c E
E
= +
=
= +
itasi di atas keadaan dasar
Reaksi Inti Gabungan
Pada reaksi inti tidak bisa dianggap semacam tumbukan bola bilyard antara
partikel dan nukelus tinggal dalam inti atom sasaran. Yang memadai adalah
bahwa proyektil membagikan energinya kepada semua nukleon-nukleon dalam
inti atom. Ada suatu tahap antara dalam reaksi inti, setelah partikel datang
diserap dan membagikan habis energinya, tetapi sebelum partikel dipancar. Inti
atom pada tahap ini disebut inti gabung (compound nucleus). Waktu antara inti
ini sangat singkat ( 10
-15
s ).
Simbol reaksi inti gabung
*
*: inti gabung
contoh:
a x c y b
c
+ +
Fissi Nuklei
Sebagian besar energi ikat akan dilepaskan jika
dapat memecahkan inti besar menjadi inti-inti
yang lebih kecil, akan tetapi inti besarnya tidak
mudah dipecahkan.
Pada proses inti, sebuah inti berat misal uranium
terbelah menjadi dua inti yang lebih ringan.

238
238
92
119
46
Energi ikat per nukleon adalah 7,6 MeV,
energi ikat 238 7, 6 1809 MeV, setelah proses
fissi menjadi 2 bagian energi ikat adalah
2 119 8, 5 MeV 2033 MeV
U
U
Pd
= =

=
Suatu inti yang stabil ibarat setetes air dengan
bentuk keseimbanga yang agak sedikit
melonjong, apabila inti tersebut diganggu, misal
menyerap sebuah netron atau proton berenergi
tinggi, tetesan inti bergetar.
235
92
235 236
92 92
Pada tahun 1939 ditemukan inti isotop yang mengalami fissi bila
ditumbuk oleh nukelon.
Inti menyerap nukelon menjadi inti yang baru ini tidak stabil,
kemudian pecah menjadi dua bagi
U
U U
2
235 1 236 140 94 1 1
92 0 92 54 38 0 0
235 1 93 140
92 0 37 56 55 36
an.
Contoh reaksi fissi:
2
U U Xe Sn
U Rb Cs
q
q q q
q q
+ + + +
+ + +
Bentuk inti berubah dengan cepat berulang kali dari
bentuk yang lebih lonjong ke yang agak bundar. Bila
inti tertarik ke yang lebih lonjong, energi Coulomb
tidak berubah banyak tetapi gaya inti melemah,
karena bertambah luas permukaan inti. Dengan
penambahan yang cukup luas, bagian tengah
tetesan inti menjadi hampir lepas, sehingga inti
dengan mudah terbelah menjadi dua bagian dan
oleh tolakan Coulomb kedua bagian ini saling
terdorong jauh. (seperti terlihat pada gambar).


( )
238
2
1 2
0
1/ 3
1 2
1 2
1
2
Jika dalam reaksi fissi misal pecah menjadi dua bagian
yang identik, potensial Coulomb nya (perhitungan kasar)
1
(potensial Barrier)
4
1, 25 119 6,1 fm
46
jari-jari pec
U
z z e
V
R
R R R
z z
R
R
tc
=
= + = =
= = 463
1, 44 MeVfm. 250 MeV
12,2fm
ahan
kedua permukaan dianggap
saling bersentuhan
V

= =
`

)
Barrier potensialnya 250 MeV sedangkan energi reaksi yang
dilepas 214 Mev.
Sekitar 80% energi dilepaskan dalam fisi berubah
menjadi energi kinetik kedua pecahan dan sekitar
20% muncul sebagai hasil peluruhan ( dan ). |
3
2
R
Untuk perhitungan yang lebi mendetil, diformasi (dari bentuk bola menjadi bentuk elips)
4
Volume : ab
3
( )
( )
1/ 2
1
1
5/ 4 eccenticity
persamaan diformasi
a R
b R
c
c
c | t
|

= +
= +
=
=
( ) ( )
2/ 3 2 2 1/ 3 2 2/ 3 2 1/ 3
3 3
2/ 3 2 1/ 3 2
3
Perbedaan energi (bentuk bola dan bentuk elips)
0
2 1
1 1
5 5
2 1

5 5
e e
e
E
a A a Z A a A a Z A
a A a Z A
| c | c
c c
c

A = =
| | | |
= + + + + + +
| |
\ . \ .
| |
~ +
|
\ .
Energi Reaksi Fusi
( ) ( )
| |
235
236 *
236 * 236 2
236 * 236 2
Ketika menangkap satu neutron untuk pembentukan
keadaan gabungan , energi eksitasinya adalah
235, 043924 1, 008665
236, 052589
236, 052
ex
ex
U
U
E m U m U c
U U
U
E m U m U c
(
=

= +
=
( =

=
| |
235 236 * 93 141
236
236
589 236, 045563 931, 502 MeV/
6, 5 MeV
misal
2

keadaan eksitasi dari (inti gabungan)
Energi aktivasi adalah 6,2 MeV (lihat t
s
U U U
U U Rb C
U
U
q q

=
+ + +
+
abel 13.1 hal 990 Kenneth Krane)
maka untuk reaksi D-T yang dihasilkan 80% energi netron.
Untuk reaksi D-D yang dihasilkan 75% energi proton atau netron.
Reaksi Fusi
2 2 4
2 2 3
2 2 3
2 3 4
reaksi detron atau reaksi D-T
Contoh :
3, 3 MeV
biasa dikenal dengan reaksi detron detron (D-D)
4, 0 MeV

H H He
H H He Q
H H He p Q
H H He

q
q
+ +
+ + =

+ + =

+ + 17, 6 MeV Q =
Karakteristik Fusi
2 2
2 2
2
2
2
2
Energi reaksi setara dengan energi total akhir
1 1
2 2
: partikel yang dipanen
y : inti keadaan akhir
1
maka :
2
1
1

2
1
1
2
1
2
b b y y
b b y y
b b
b
y
y y
y
b
b b
y
b
y y
Q m v m v
b
m v m v
Q
m v
m
m
Q
m v
m
m
m v
m
m
m v
~ +
=
~
+
~
+
=