Anda di halaman 1dari 16

PERANCANGAN MODUL PENGASUTAN MOTOR INDUKSI TIGA FASA

METODE SOFT-STARTI NG PADA PRAKTIKUM MESIN ELEKTRIK




MAKALAH SEMINAR HASIL SKRIPSI
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO


Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan
Memperoleh Gelar Sarjana Teknik




Disusun oleh:
MUH. IQBAL DIAS PRIMA
NIM. 0610630068



KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS TEKNIK
MALANG
2011


LEMBAR PERSETUJUAN
PERANCANGAN MODUL PENGASUTAN MOTOR INDUKSI TIGA FASA
METODE SOFT-STARTI NG PADA PRAKTIKUM MESIN ELEKTRIK



MAKALAH SEMINAR HASIL
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO



Disusun oleh:
MUH. IQBAL DIAS PRIMA
NIM. 0610630068



Telah diperiksa dan disetujui oleh :


Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II





Ir. Hery Purnomo, MT.
NIP. 19550708 198212 1 001






Ir. Chairuzzaini
NIP. 19500627 197803 1 001


1

Perancangan Modul Pengasutan Motor Induksi Tiga Fasa Metode Soft-Starting
Pada Praktikum Mesin Elektrik

ABSTRAK

Muh. Iqbal Dias Prima, Ir. Hery Purnomo, MT., Ir. Chairuzzaini
Mahasiswa Teknik Elektro, Dosen Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya
Jalan MT. Haryono 167, Malang 65145, Indonesia
E-mail: iqbal_teub06@yahoo.com

Salah satu sub pokok bahasan dalam Praktikum Mesin Elektrik adalah pengasutan motor induksi
untuk mempelajari karakteristik lonjakan arus saat proses pengasutan. Praktikum pengasutan motor
induksi tiga fasa masih dapat dikembangkan jika ditinjau dari segi metode pengasutan dengan metode
soft-starting. Pengasutan motor induksi tiga fasa metode soft-starting pada dasarnya memberikan
tegangan awal yang kecil dan dinaikkan secara perlahan menggunakan komponen elektronika daya
dengan tujuan membatasi arus stator. Tujuan dari penelitian ini untuk merancang dan membuat modul
pengasutan motor induksi tiga fasa metode soft-starting pada Praktikum Mesin Elektrik dengan
komponen utama TRIAC untuk mengurangi arus pengasutan. Modul yang dirancang berdasarkan
spesifikasi motor induksi tiga fasa rotor sangkar merek AEG hubungan Y/A; 380/220 V; I 3,7/6,4 A; 50
Hz; n = 1420 rpm daya 1,5 kW yang terhubung bintang. Modul yang dirancang menggunakan
mikrokontroler ATMega16 sebagai kontrol utama untuk mengatur sudut penyalaan gate TRIAC BTA-
16B dengan optocoupler MOC-3021 sebagai isolasi antar rangkaian. Pengasutan motor induksi tanpa
beban menggunakan metode soft-starting mampu menurunkan arus pengasutan menjadi dua kali arus
kondisi mantap saat sudut penyalaan awal 135, pengasutan berbeban braker mampu menurunkan arus
pengasutan menjadi empat kali arus kondisi mantap saat sudut penyalaan awal 100, untuk pengasutan
berbeban generator sinkron mampu menurunkan arus pengasutan menjadi tiga kali arus kondisi mantap
saat sudut penyalaan awal 120. Modul soft-starter mampu menurunkan arus dan kejut mekanik pada saat
pengasutan baik dalam kondisi tanpa beban atau berbeban.
Kata kunci : soft-starting, TRIAC, sudut penyalaan, arus pengasutan.

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Praktikum Mesin Elektrik merupakan
salah satu kegiatan praktikum di Jurusan Teknik
Elektro Universitas Brawijaya yang
dilaksanakan di Laboratorium Mesin Elektrik.
Salah satu sub pokok bahasan dalam Praktikum
Mesin Elektrik mempelajari karakteristik
lonjakan arus saat proses pengasutan motor
induksi tiga fasa. Tujuan dari praktikum
pengasutan motor induksi tiga fasa untuk
mempelajari berbagai metode pengasutan pada
motor induksi tiga fasa dan karakteristik
peralihan arus ketika motor induksi diasut dari
keadaan diam menuju keadaan mantapnya.
Praktikum pengasutan motor induksi tiga
fasa masih dapat dikembangkan dengan
semakin berkembangnya metode-metode
pengasutan motor induksi tiga fasa dan
kemajuan perangkat elektronika saat ini.
Pengembangan mungkin dilakukan jika ditinjau
dari segi metode pengasutan motor induksi
metode soft starting. Pengasutan motor induksi
tiga fasa metode soft-starting pada dasarnya
memberikan tegangan rms awal yang kecil dan
dinaikkan secara perlahan menggunakan
komponen elektronika daya dengan tujuan
membatasi arus stator pada saat proses
pengasutan.

Kontrol analog pada rangkaian elektronika
daya mulai tergantikan dengan berkembangnya
rangkaian digital. Pengontrolan tegangan AC
pada aplikasi modern saat ini menggunakan
mikrokontroler karena lebih flesibel dalam
pengaplikasiannya. Penggunaan mikrokontroler
pada modul soft-starter sebagai pengaturan
tegangan pada komponen elektronika daya akan
memudahkan pengembangan di masa yang akan
datang.
Pengembangan praktikum pengasutan
motor induksi tiga fasa merupakan hal yang
mungkin untuk dilaksanakan, karena metode
pengasutan yang diujicobakan masih kurang.
Semoga dengan penambahan modul pengasutan
motor induksi tiga fasa yang baru dapat
bermanfaat dan memperkaya wawasan dalam
bidang pengasutan motor induksi tiga fasa.

1.2 Rumusan Masalah
Sesuai dengan latar belakang di atas, maka
rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana menurunkan tegangan AC
menggunakan komponen elektronika
daya.
2. Bagaimana memicu komponen
elektronika daya menggunakan
reverensi sinyal logika.

2

3. Bagaimana mikrokontroler mendeteksi
tegangan AC tiga fasa sebagai
reverensi tegangan nol.
4. Bagaimana merancang modul soft-
starting motor induksi tiga fasa
menggunakan komponen elektronika
daya berbasis mikrokontroler.
5. Bagaimana pengaruh sudut penyalaan
komponen elektronika daya terhadap
arus pengasutan motor induksi tiga fasa
dalam kondisi tanpa beban dan
berbeban.

1.3 Ruang Lingkup
Penyusunan penelitian ini menggunakan
batasan masalah sebagai berikut:
1. Motor induksi yang digunakan berupa
motor induksi tiga fasa rotor sangkar
merek AEG hubungan Y/A; 380/220
V; I 3,7/6,4 A; 50 Hz; n = 1420 rpm
daya 1,5 kW yang terhubung bintang.
2. Motor induksi tiga fasa yang digunakan
dioperasikan tanpa beban dan
berbeban.
3. Mikrokontroler yang digunakan
ATMega 16.
4. Parameter yang diamati hanya respon
arus pada saat pengasutan motor
induksi tiga fasa secara langsung dan
menggunakan modul soft-starter.

1.4 Tujuan
Tujuan dari penelitian ini untuk merancang
dan membuat modul pengasutan motor induksi
tiga fasa metode soft-starting pada Praktikum
Mesin Elektrik dengan komponen utama
TRIAC untuk mengurangi arus pengasutan.

1.5 Tinjauan Pustaka
1.5.1 Prinsip Kerja Motor Induksi
Motor induksi merupakan motor yang
umum digunakan dalam dunia industri dan
rumah tangga. Motor induksi sering digunakan
karena motor induksi merupakan mesin yang
ekonomis, handal, dan tersedia untuk berbagai
aplikasi dan lingkungan kerja dengan jangkauan
daya mulai dari beberapa watt sampai megawatt
(Bose, 2002: 30).
Salah satu prinsip dasar motor induksi
ialah proses terciptanya medan yang berputar di
celah udara. Medan putar merupakan resultan
fluksi yang berputar akibat dari kumparan stator
yang disuplai dengan sumber tiga fasa. Ketika
sumber tiga fasa digunakan sebagai catu daya
menyebabkan arus sinus tiga fasa mengalir pada
kumparan stator tiga fasa yang ditunjukkan pada
persamaan sebagai berikut :
cos
a m e
I I t e =
(1-1)
( ) cos 120
b m e
I I t e = (1-2)
( ) cos 240
c m e
I I t e = (1-3)
Akibat adanya arus yang mengalir di setiap
kumparan tiap fasa, maka dihasilkan GGM
(gaya gerak magnetik). GGM yang dihasilkan
tiap kumparan terdistribusi di setiap titik celah
udara dan membentuk gelombang sinus jika
ditinjau dari sumbu kumparan tersebut (Bose,
2002: 31).
GGM yang terdistribusi memiliki nilai
puncak sebesar
3
2
m
NI yang berputar di celah
udara dengan kecepatan sudut sinkron e
e
.

Dengan kata lain, rotor pada motor induksi tiga
fasa dua kutub berputar penuh satu putaran
setiap satu siklus gelombang arus sinusoidal.
Dengan demikian untuk motor induksi dengan
jumlah kutub sebanyak P-kutub, kecepatan
sinkron mesin tersebut menjadi:
120
s
f
n
P
= (1-4)
Ketika rotor dalam keadaan diam, medan
putar akan memotong batang konduktor dengan
kecepatan sinkron sehingga muncul beda
potensial yang besar di rotor. Namun ketika
rotor berputar dalam kecepatan sinkron tidak
ada perbedaan kecepatan sehingga tidak muncul
beda potensial yang terinduksi di rotor (Huges,
2006: 185). Perbedaan antara kecepatan medan
putar (n
s
) dengan kecepetan rotor (n
r
) disebut
kecepatan slip dan dinyatakan dengan rumus:
100%
s r
s
n n
s
n

= (1-5)
Tegangan terinduksi akan menghasilkan
arus pada batang rotor karena konduktor
dihubung singkat di ujungnya. Arus yg mengalir
pada jalur tertutup dan arus tersebut akan
berinteraksi dengan fluksi untuk menghasilkan
torsi pada motor, dengan arah putaran yang
sama dengan arah medan putar. Ketika
kecepatan sinkron n
s
sama dengan kecepatan
rotor n
r
maka rotor tidak terinduksi sehingga
torsi tidak dapat dibangkitkan. Namun pada saat
kecepatan rotor berbeda dengan kecepatan
sinkron, (n
s
n
r
) kecepatan slip muncul dan
torsi pun dapat dibangkitkan (Bose, 2002: 33).

3


Gambar 1.1 Distribusi GGM tiga fasa pada
kumparan stator pada saat t =
0.
Sumber: Bose, 2002:32

1.5.2 Pengasutan Langsung Motor Induksi
Proses pengasutan merupakan proses
pencatuan motor induksi baik secara langsung
maupun tidak langsung dengan sumber
tegangan, sehingga berimbas pada variasi
kecepatan, arus, dan torsi yang dihasilkan
(Boldea, 2002: 1 Bab 8). Arus yang besar pada
saat proses pengasutan merupakan kelemahan
motor induksi karena menyebabkan turunnya
tegangan seketika yang tidak diharapkan pada
sistem tegangan. Kurva arus dan torsi sebagai
fungsi dari slip untuk pengasutan langsung pada
motor induksi secara umum ditunjukkan pada
Gambar 1.2.

Gambar 1.2 Kurva torsi-kecepatan dan
arus-kecepatan untuk motor
induksi rotor sangkar. Dengan
torsi dan arus pada saat beban
penuh (full-load)
Sumber: Huges, 2006:195

Torsi per ampere yang mengalir berada
pada nilai yang rendah (ketika slip tinggi) dan
mencapai nilai yang tinggi pada daerah kerjanya
(ketika slip rendah) sehingga arus yang besar
pada saat pengasutan tidak diimbangi dengan
torsi starting yang besar pula (Huges, 2006:
195).
Kekurangan dari metode pengasutan
langsung (D.O.L) ialah arus yang mengalir
ketika proses akselerasi sangat besar, yaitu
mencapai enam sampai tujuh kali arus nominal
dari motor. Selama proses pengasutan torsi dari
motor yang besar akan memberikan tekanan
pada peralatan kopel mekanik dan penggerak
(Kjellberg, 2003: 9).

1.5.3 Pengasutan Metode Soft-Starting
Metode sederhana dalam pengontrolan
pengasutan pada motor induksi dengan
menurunkan tegangan AC melalui kontroler
tegangan disebut metode soft-starter. Softstarter
digunakan secara luas dalam pengasutan motor
induksi karena menghasilkan laju kenaikan arus
dan torsi yang halus dengan laju yang bisa
diatur (Huges, 2006: 204).
Dua konfigurasi dasar dari perancangan
soft-starter ditunjukkan pada Gambar 1.3.
konfigurasi thyristor dipasang antiparalel satu
sama lain, dan terpasang seri dengan sumber
listrik tiga fasa dan kumparan stator.
Konfigurasi thyristor yang terpasang bintang
merupakan standar pembentukan perancangan
soft-starter di dunia industri (Boldea, 2002: 8
Bab 8).


Gambar 1.3 Soft-starter motor induksi
(a) hubungan bintang
(b) hubungan segitiga
Sumber : Boldea, 2002:8 Bab 8

Sudut pemicuan dihitung terhadap titik
persinggungan titik nol (zero crossing) jika
motor memiliki sudut faktor daya dengan notasi

1
dan bentuk gelombang masukan dan luaran
ditunjukkan pada Gambar 1.4 di bawah ini.


4

Gambar 1.4 Kurva tegangan fasa dan arus
pada Soft-starter
Sumber: Boldea, 2002:9 Bab 8

Bentuk gelombang arus sinusoidal tidak
murni menunjukkan berbentuk arus yang
terdistorsi oleh harmonisa namun motor
menerima arus tersebut. Arus stator akan
kontinyu jika sudut pemicuan lebih kecil dari
sudut faktor daya motor (<
1
) dan sebaliknya
arus stator akan diskontinyu jika sudut
pemicuan lebih besar dari sudut faktor daya
motor (<
1
). Sudut penyalaan pada kondisi
arus tidak kontiyu tetap dibutuhkan pada proses
pengasutan meskipun harmonisa yang
ditimbulkan mengganggu peralatan lain yang
satu sumber (Boldea, 2002: 9 Bab 8).

1.5.4 TRIAC (Bidirectional Thyristor)
TRIAC merupakan dua thyristor yang
terpasang antiparalel yang terintegrasi dalam
satu komponen dengan terminal gate menjadi
satu. Aplikasi praktis dari penggunaan TRIAC
sebagai saklar elektronik pada umumnya pada
pengaturan tegangan AC, antara lain: VAR
kompensator, saklar statis, soft-starter dan
driver motor (Rashid, 2001: 44). Potongan
melintang dan simbol dari TRIAC ditunjukan
pada Gambar 1.5.

Gambar 1.5 Simbol dan karakteristik v i
dari TRIAC
Sumber: Bose, 2002:10

Secara umum TRIAC lebih ekonomis dan
lebih mudah dalam pengontrolannya dibanding
sepasang thyristor yang terpasang anti-paralel,
namun dikarenakan konstruksinya yang
terintegrasi menimbulkan beberapa kekurangan.
Kekurangan TRIAC jika dibandingkan thyristor
antara lain sensitivitas arus gate TRIAC lebih
buruk dan waktu pemutusan (turn-off time)
lebih lama dan dengan alasan yang sama, nilai
dv/dt lebih rendah, sehingga sulit untuk
diaplikasikan pada beban induktif. Karena itu,
rangkaian snubber RC diperlukan pada
rangkaian TRIAC.

1.5.5 Phase Control Beban induktif
Phase control merupakan rangkaian
dimana daya yang disalurkan ke rangkaian
dikontrol dengan menunda sudut penyalaan dari
thyristor atau TRIAC (Rashid, 2001: 309).
Phase control digunakan pada aplikasi kontrol
lampu atau pengontrol kecepatan motor.

(a)

(b)
Gambar 1.6 (a) Rangkaian phase control
(b) Bentuk gelombang luaran

Sering kali terjadi kegagalan pemicuan
saat beban induktif karena pemicuan yang
sempit saat thyristor masih konduksi. Kegagalan
akibat pemicuan akibat beban induktif dapat
diatasi dengan pemicuan thyristor yang
kontinyu atau menggunakan pulsa train untuk
menurunkan disipasi daya seperti ditunjukkan
pada Gambar 1.7.


(a)

(b)
Gambar 1.7 (a) Kegagalan pemicuan
menggunakan pulsa tunggal.
(b) Pemicuan menggunakan
pulsa kontinyu atau
menggunakan pulsa train

1.5.6 Zero Crossing Detector
Proses timbulnya gangguan harmonisa
selama proses pensaklaran pada dasarnya
bergantung pada amplitudo tegangan AC yang
disaklar pada titik tersebut (Atmel, 2002: 1).
Pensaklaran ideal dilakukan ketika amplitudo
tegangan AC nol volt demi mendapatkan
gangguan serendah mungkin. Proses
pendeteksian titik tegangan AC nol disebut zero
crossing detector.
Bentuk gelombang zero crossing detector
ditunjukkan pada Gambar 1.8. Sinyal kotak
sefasa dengan sinyal sinusoida tegangan AC,
dengan mendeteksi tepi naik mikrokontroler
dapat menunjukkan secara akurat kapan zero
cross itu terjadi. Mikrokotroler dapat menjadi
pendeteksi zero cross yang akurat dengan
menggunakan sinyal tersebut dan dengan kode
pemrograman yang singkat berbasiskan
interupsi. Sinyal kotak sebenarnya adalah sinyal
sinusoida AC dengan puncak positifnya

5

terpotong pada tegangan VCC + 0,5V dan GND
0,5.

Gambar 1.8 Bentuk gelombang masukan
PIN eksternal interupt
Sumber: Atmel, 2002:3

II. METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan dalam
penelitian ini secara umum tersusun sebagai
berikut:
1. Studi literatur
2. Perancangan alat
3. pembuatan alat
4. Pengujian alat
5. Pengambilan kesimpulan dan saran

III. PERANCANGAN DAN PEMBUATAN
ALAT
Berdasarkan spesifikasi yang telah
ditentukan, modul pengasutan motor induksi
tiga fasa metode soft-starting digambarkan
secara garis besar dalam sebuah blok diagram
seperti ditunjukkan pada Gambar 3.1.
Mikrokontroler Optocoupler TRIAC
Motor
Induksi
Saklar,potensio
dan
Push button
Zero crossing
detector

Gambar 3.1 Blok diagram keseluruhan
sistem
Sumber: Penulis

Penjelasan blok diagram di atas:
1. Rangkaian zero crossing detector
berfungsi sebagai rangkaian pendeteksi
tegangan AC nol tiga fasa agar mampu
dideteksi oleh mikrokontroler.
2. Mikrokontroler sebagai pengolah data
utama yang bersumber dari rangkaian
sebelumnya (rangkaian zero crossing
detector dan reverensi masukan) dan
meneruskan hasil perhitungan internal
berupa logika digital digunakan
sebagai sinyal pemicuan.
3. Optocoupler berfungsi untuk
mengisolasi sinyal listrik yang ada
pada bagian pengontrol konponen daya
dan komponen daya itu sendiri dan
sebagai rangkaian penyalur pulsa
pemicuan gate TRIAC.
4. TRIAC merupakan komponen utama
pengontrol tegangan bolak-balik AC
dan difungsikan sebagai pengontrol
tegangan pada saat pengasutan motor
induksi dengan metode soft-starting.
5. Motor induksi tiga fasa nantinya diasut
dari keadaan diam ke keadaan mantab
berputar menggunakan metode soft-
starting.

3.1 Perancangan Perangkat Keras
Perancangan perangkat keras modul
pengasutan motor induksi tiga fasa metode soft-
starting terbagi menjadi beberapa langkah
antara lain:
1. Perancangan perangkat keras soft-
starter menggunakan komponen
TRIAC.
2. Perancangan rangkaian pendeteksi
tegangan AC zero crossing detector
3. Perancangan rangkaian pemicuan gate
komponen daya TRIAC
4. Perancangan antar muka rangkaian
menggunakan mikrokontroler
ATMega16
5. Perancangan perangkat unit pelindung

3.1.1 Penentuan Komponen TRIAC
Motor induksi yang digunakan memiliki
rating sebagai berikut:
arus beban nominal Y/A : 3,7/6,4 A
tegangan beban nominal Y/A:
380/220 V
Motor induksi tiga fasa nantinya
dihubungkan dengan sumber tiga fasa dalam
hubungan bintang. Reverensi nilai arus dan
tegangan yang digunakan dalam perhitungan
selanjutnya ialah saat motor dihubung bintang.
Arus pada saat pengasutan yang melewati
komponen TRIAC dibatasi dua kali arus
nominal maka arus maksimum sebesar 7,4 A.
Sedangkan tegangan maksimum yang mampu
ditahan oleh TRIAC pada saat off state (kondisi
mati) sebesar:
2 220
maks
V =
=
311,126 volt
Berdasarkan perhitungan dan estimasi di atas,
setelah disesuaikan dengan ketersediaan
komponen di lapangan maka TRIAC yang
digunakan adalah BTA-16B dengan rating arus
dan tegangan sebesar 16 A dan 600 V. TRIAC
yang digunakan nantinya berjumlah tiga buah
yaitu satu buah TRIAC untuk tiap fasa sesuai
dengan skematik rangkaian pada Gambar 3.2.

6


Gambar 3.2 Konfigurasi antara motor
induksi hubungan bintang
dengan komponen TRIAC.
Sumber: Penulis

3.1.2 Perancangan Rangkaian Zero Crossing
Detector
Rangkaian zero crossing detector
digunakan sebagai rangkaian acuan tegangan
AC ketika menyinggung titik nol. Rangkaian
zero crossing detector yang dibuat nantinya
berjumlah tiga buah sesuai dengan jumlah fasa
sumber motor induksi yaitu tiga buah.
Rangkaian yang dibuat mempergunakan tiga
buah external interrupt dimana masing-masing
external interrupt dihubungkan dengan resistor
1 MO. Bentuk rangkaian zero crossing detector
untuk sumber tiga fasa ditunjukkan pada
Gambar 3.3.

Gambar 3.3 Rangkaian zero crossing
detector untuk tiga fasa.
Sumber: Penulis

3.1.3 Perancangan Rangkaian Pemicuan Gate
TRI AC
TRIAC merupakan komponen elektronika
daya yang digunakan untuk mengatur tegangan
AC sehingga pemicuan dari gate TRIAC juga
dapat dilakukan dengan pulsa negatif atau pulsa
positif (sesuai tegangan AC). Sinyal pemicuan
berasal dari luaran logika mikrokontroler harus
diteruskan ke rangkaian daya menggunakan
komponen tambahan berupa optocoupler.
Rangkaian optocoupler berfungsi untuk
mengisolasi rangkaian logika sebagai masukan
dan rangkaian daya sebagai luaran. Opto-
TRIAC menggunakan TRIAC sebagai detektor
optiknya sehingga arus mampu mengalir baik
positif maupun negatif. Karakteristik tersebut
membuat opto-TRIAC mampu memicu
komponen daya TRIAC. Komponen opto-
TRIAC yang digunakan bertipe MOC 3021
berjumlah tiga buah sesuai dengan komponen
daya TRIAC yang dipicu gate-nya. Rangkaian
pemicuan gate TRIAC ditunjukkan pada
Gambar 3.4.

Gambar 3.4 Rangkaian pemicuan gate
TRIAC berjumlah tiga buah.
Sumber: Penulis

3.1.4 Perancangan Antarmuka Rangkaian
Mikrokontroler
Mikrokontroler yang digunakan tipe
ATMega16 yang memiliki 32 kaki
masukan/luaran (PORT I/O) yang terbagi
menjadi 4 PORT (PORTA, PORTB, PORTC,
dan PORTD). Jumlah kaki tersebut harus
mampu mencakupi fitur dari spesifikasi alat
yang dirancang, alokasi kaki-kaki
mikrokontroler dan fungsi :
Tiga kaki (PORTD.2, PORTD.3, dan
PORTB.2) difungsikan masukan untuk
rangkaian zero crossing detector.
Tiga kaki difungsikan sebagai masukan
dihubungkan dengan tiga buah push
button (masukan data, mulai proses
pengasutan, dan stop)
Tiga kaki (PORTA.5, PORTA.6, dan
PORTA.7) difungsikan sebagai LED
indikator menandakan tiga keadaan,
yaitu masukan data, mulai proses
pengasutan, dan stop proses
pengasutan.
Dua kaki difungsikan sebagai masukan
potensio (PORTA.0 dan PORTA.1)
Satu PORT yaitu PORTC difungsikan
sebagai antarmuka tampilan LCD
Tiga kaki (PORTD.5, PORTD.6, dan
PORTD.7) difungsikan sebagai

7

antarmuka pemicuan dengan rangkaian
opto-TRIAC berjumlah tiga buah.
Sesuai dengan acuan pengalokasian kaki-kaki
mikrokontroler diatas maka rangkaian
antarmuka mikrokontroler ditunjukkan pada
Gambar 3.5.

Gambar 3.5 Rangkaian antarmuka
mikrokontroler.
Sumber: Penulis

3.1.5 Pengaman Terhadap Laju di/dt
Kerusakan TRIAC yang disebabkan oleh
di/dt yang tinggi dapat dihindari dengan
memasang induktor terpasang seri dengan
baban. Dalam perancangan pengaman terhadap
laju pertambahan arus di/dt harus di bawah
spesifikasi di/dt maksimum komponen. Secara
pendekatan, di/dt maksimum dapat dihitung
melalui persamaan:
volt
di
V L
dt
= (3-1)
Ampere/detik
maks
V
di
dt
L
=
2 220
0, 02565
maks
di
dt

=
= 12129,7 Ampere/detik
= 0,01213 Ampere/detik
di/dt komponen TRIAC mengacu pada
datasheet yang digunakan sebesar 50 A/s
sehingga tidak diperlukan lagi pengaman di/dt
tiap fasa.

3.1.6 Pengaman Terhadap Laju dv/dt
Pengaman terhadap laju kenaikan tegangan
dv/dt perlu dilakukan, karena apabila dv/dt dari
TRIAC dilampaui TRIAC akan terkonduksi
meskipun tidak ada arus trigger pada terminal
gate TRIAC. Setiap TRIAC mempunyai
spesifikasi dv/dt maksimumnya yang tertera
pada setiap datasheet komponen. dv/dt pada
datasheet TRIAC BTA16 tertera sebesar
10V/detik. Perhitungan rangkaian snubber
sebagai berikut:
2
maks
p
dv
dt
f
v t
=

(3-2)
6
10 10
220 2 2t


5,1 kHz =
nilai C
s
ditentukan dengan perhitungan
sebagai berikut:
1
2
f
LC t
=
(3-3)
2
1
(2 )
C
f L t
=
3 2
1
(2 5,1 10 ) 0, 02565 t
=


9
37, 96 10 F

=
nilai dari R
s
ditentukan dengan
perhitungan sebagai berikut:
S
S
L
R
C
=
(3-4)
9
0, 02565
37, 96 10


822, 01 = O

Berdasarkan perhitungan di atas dan
disesuaikan dengan komponen yang ada
dilapangan maka nilai kapasitor dan resistor
yang digunakan sebesar C = 33nF dan R=820
O.

3.2 Perancangan Perangkat Lunak
Perancangan perangkat lunak disusun
untuk mendukung perangkat keras yang telah
dirancang sebelumnya. Perangkat lunak yang
dirancang diharapkan sesuai dengan tujuan awal
penelitian mengenai pengasutan motor induksi
tiga fasa metode soft-starting.
Kalkulasi perangkat lunak didasarkan pada
referensi tegangan nol pada tegangan AC.
Ketika tegangan nol telah terdeteksi, sudut
penyalaan diperoleh dengan membuat fungsi
tunda (delay) sesuai dengan perhitungan yang
dibuat. Bentuk gelombang tegangan AC, letak
titik deteksi rangkaian zero cross, dan perkiraan
fungsi tunda (delay) dijelaskan pada Gambar
3.6.

8


Gambar 3.6 Letak deteksi zero cross dan
proses kalkulasi fungsi tunda
Sumber: Penulis

Perancangan perangkat lunak modul
soft-starter motor induksi tiga fasa terbagi
menjadi beberapa langkah antara lain:
1. Perancangan diagram alir fungsi utama
2. Perancangan diagram alir deteksi zero
cross
3. Perancangan diagram alir pemicuan
TRIAC

3.2.1 Perancangan Diagram Alir Fungsi
Utama
Perancangan diagram alir fungsi utama
sistem kerja pengendalian sudut penyalaan
TRIAC dengan referensi deteksi zero cross
dirancang berdasarkan diagram alir yang
ditunjukkan pada Gambar 3.7. Penjelasan
diagram alir fungsi utama antara lain:
1. Diagram alir diawali dengan
memberikan referensi masukan berupa
sudut penyalaan awal dan durasi
pewaktu yang digunakan.
2. Dalam perulangan fungsi utama setelah
ditentukan variabel awal berupa
masukan, proses pendeteksian
tegangan nol AC dilakukan oleh sub
fungsi Deteksi zero cross.
3. Jika umpan balik dari sub fungsi
menyatakan terdeteksi tegangan nol
AC maka proses perhitungan dan
pemicuan TRIAC dilakukan dengan
menjalankan sub fungsi Pemicuan
TRIAC.
Mulai
While=1
Deteksi zero
cross?
Pemicuan
TRIAC
ya
tidak
selesai
Deteksi
Zero cross
Masukan
Sudut penyalaan,
durasi pewaktu

Gambar 3.7 Diagram alir fungsi utama
Sumber: Penulis

3.2.2 Perancangan Diagram Alir Deteksi
Zero Cross
Perancangan diagram alir sub fungsi
deteksi zero cross dirancang berdasarkan
diagram alir yang ditunjukkan pada Gambar 3.8.
Penjelasan diagram alir sub fungsi deteksi zero
cross antara lain:
1. Sinyal masukan pada PORT interrupt
merupakan sinyal tegangan AC yang
telah terkondisi berupa sinyal logika (1
dan 0) menggunakan rangkaian zero
crossing detector. tepi naik pada sinyal
masukan PORT interrupt secara tidak
langsung menandakan tegangan nol
AC
2. Jika terdeteksi tepi naik pada PORT
interrupt maka sub fungsi deteksi zero
cross memberikan umpan balik ke
program utama baik terdeteksi atau
tidak untuk diteruskan ke perhitungan
selanjutnya.


9

Deteksi
Zero cross
Terdeteksi tepi naik
PORT interupt ?
Terdeteksi
tegangan nol AC
ya
Tidak terdeteksi
tegangan nol AC
kembali
tidak

Gambar 3.8 Diagram alir deteksi zero
cross
Sumber: Penulis

3.2.3 Perancangan Diagram Alir Pemicuan
TRIAC
Perancangan diagram alir sub fungsi
pemicuan TRIAC dirancang berdasarkan
diagram alir yang ditunjukkan pada Gambar 3.9.
Pemicuan
TRIAC
Hitung
delay_1
Pemicuan
TRIAC
Hitung
delay_2
Pemicuan
TRIAC
kembali

Diagram alir pemicuan TRIAC
Sumber: Penulis

Penjelasan diagram alir sub fungsi
pemicuan TRIAC antara lain:
1. Sub fungsi pemicuan TRIAC dipanggil
ketika telah terdeteksi tegangan nol
AC.
2. Pemicuan TRIAC harus dilakukan
sebanyak dua kali selama satu siklus
tegangan AC. Fungsi tunda 1 (delay_1)
dan fungsi tunda 2 (delay_2)
digunakan sebagai representasi sudut
penyalaan TRIAC.
3. Sudut penyalaan TRIAC ditentukan
oleh dua variabel yaitu titik awal sudut
pemicuan TRIAC (
0
) dan durasi
pewaktu hingga sudut pemicuan
mencapai titik nol (t
durasi
). Jika setelah
satu siklus nilai fungsi tunda 1
(delay_1) selalu berkurang sehingga
pada suatu waktu nilai fungsi tunda 1
(delay_1) sama dengan nol, perlu
untuk menambah satu variabel lain
yaitu faktor pengurang. Faktor
pengurang merupakan variabel yang
perlu untuk didefinisikan berdasarkan
nilai awal sudut pemicuan TRIAC (
0
)
dan durasi pewaktu hingga sudut
pemicuan mencapai titik nol (t
durasi
).
Nilai fungsi tunda 1 (delay_1)
dirumuskan menjadi:
0
sudut penyalaan awal( )
delay_1= 10 ms
180
o

(3-5)
delay_1 delay_1 - pengurang =
(3-6)
( )
0
durasi
sudut penyalaan awal( )
10
180
Pengurang = ms
t
o

(3-7)
Dengan penambahan faktor pengurang
setiap siklus tegangan AC, maka nilai
fungsi tunda 1 (delay_1) akan
berkurang hingga bernilai nol. Proses
berkurangnya nilai fungsi tunda
(delay_1) akan membuat sudut
penyalaan dari TRIAC bergerak dari
titik awal (
0
) ke titik nol dengan
durasi yang telah ditentukan (t
durasi
).
4. Nilai fungsi pewaktu 2 (delay_2)
ditentukan oleh durasi pemicuan yang
dipilih (t
ON
) namun nilainya tetap
dikarenakan jarak antara pemicuan
TRIAC siklus tegangan positif dan
negatif sebesar 180 atau 10 ms.
ON
delay_2 = (10 - ) ms t
(3-8)
5. Pemicuan TRIAC dilakukan dengan
memberikan logika 1 pada PORT
luaran ke opto-TRIAC sebagai sinyal
pemicuan selama durasi tertentu (t
ON
).


VI. PENGUJIAN DAN ANALISIS
Pengujian dan analisis dilakukan untuk
mengetahui apakah sistem telah bekerja sesuai
perancangan. Pengujian yang dilakukan dibagi
menjadi beberapa tahapan yaitu:
1. Pengujian blok rangkaian zero-
crossing detector
2. Pengujian blok rangkaian
optocoupler
3. Pengujian blok sudut penyalaan
TRIAC

10

4. Pengujian keseluruhan sistem soft-
starting motor induksi tiga fasa

4.1 Hasil Pengujian Rangkaian zero crossing
detector
Tujuan pengujian rangkaian zero cross
detector untuk mengetahui apakah rangkaian
zero cross detector sudah berfungsi dengan baik
sebagai rangakaian sensor tegangan AC yang
digunakan untuk mendeteksi tegangan nol yang
akan dideteksi oleh mikrokontroler.
Hasil pengujian rangkaian zero crossing
detector ditunjukkan oleh oscilloscope pada
Gambar 4.1

Gambar 4.1 Bentuk tegangan AC dan
PORTD.7

Berdasarkan data hasil pengujian
menunjukkan bahwa tegangan PORTD.7
mengikuti bentuk tegangan AC berupa tegangan
5 volt dan 0 volt, sehingga level tegangan
PORTD.7 dapat dijadikan acuan mikrokontroler
Rangkaian zero crossing detector mampu
mengkondisikan sinyal sinusoida tegangan AC
menjadi tegangan kotak bagi mikrokontroler
untuk mendeteksi tegangan AC.

4.2 Hasil Pengujian Rangkaian Optocoupler
Tujuan pengujian rangkaian optocoupler
untuk mengetahui apakah rangkaian mampu
bekerja sebagai rangkaian pemicu gate TRIAC
dengan masukan berasal dari level logika
mikrokontroler.
Hasil pengujian rangkaian optocoupler
didapatkan data berupa bentuk gelombang dari
sinyal kotak sebagai sinyal masukan
optocoupler dan bentuk gelombang tegangan
pada beban yang ditunjukkan pada Gambar 4.2.

Gambar 4.2 Bentuk gelombang tegangan
masukan optocoupler dan
luaran dari TRIAC
Berdasarkan data hasil pengujian
ditunjukkan bahwa sesaat setelah sinyal
masukan optocoupler berlogika tinggi maka
TRIAC akan konduksi ditandai dengan adanya
beda potensial pada beban, dan ketika sinyal
masukan optocoupler dihilangkan (logika
rendah) TRIAC tetap konduksi (sesuai dengan
karakteristik TRIAC) ditunjukkan dengan masih
ada beda potensial pada beban.

4.3 Hasil Pengujian Sudut Penyalaan TRIAC
Tujuan dari pengujian sudut penyalaan
TRIAC ialah mengetahui kesesuaian dari
perhitungan dan kalkulasi internal sudut
penyalaan yang dilakukan oleh mikrokontroler
dengan bentuk tegangan dari hasil penyalaan
TRIAC dengan sudut penyalaan tertentu.
Hasil pengujian secara keseluruhan
diberikan ditunjukkan pada Tabel 4.1 dengan
sudut penyalaan () mulai dari 90-135.

Tabel 4.1 Rangkuman Hasil Pengujian dan
Perhitungan Error
Pengujian
ke-n
Sudut
penyalaan
()
Perhitungan
fungsi tunda
(ms)
Pengujian
fungsi
tunda(ms)
error(ms) error(%)
1 135 7,50 7,50 0,00 0,00%
2 130 7,22 7,20 0,02 0,31%
3 125 6,94 6,90 0,04 0,64%
4 120 6,67 6,60 0,07 1,00%
5 115 6,39 6,30 0,09 1,39%
6 110 6,11 6,10 0,01 0,18%
7 105 5,83 5,80 0,03 0,57%
8 100 5,56 5,60 0,04 0,80%
9 95 5,28 5,20 0,08 1,47%
10 90 5,00 5,00 0,00 0,00%

Error rata-rata 0,64%

Dari Tabel 4.1 didapatkan nilai error
selisih keseluruhan hasil perhitungan sudut
penyalaan internal mikrokontroler cukup kecil
dengan nilai error sebesar 0,64%. Error yang
kecil menandakan hasil kalkulasi dan
perhitungan internal mikrokontroler mampu
menghasilkan sudut penyalaan yang sesuai
dengan yang diberikan.

4.4 Hasil Pengujian Keseluruhan Sistem Soft-
Starting Motor Induksi Tiga Fasa
Tujuan dari pengujian keseluruhan sistem
soft-starting motor induksi tiga untuk
mengetahui kinerja keseluruhan sistem yang
telah dirancang sebelumnya. Pengujian
keandalan alat yang telah dirancang dengan
mengasut motor induksi tiga dalam kondisi

11

tanpa beban dan berbeban. Beban braker
mekanik dengan daya 300 watt dan generator
sinkron berbeban lampu 15 watt dua belas buah.
Setelah itu Membandingkan arus peralihan
antara metode pengasutan langsung dengan
metode soft-starting untuk tiap data pengujian
sehingga titik optimum pengaturan sudut
penyalaan metode soft-starting motor induksi
tiga fasa untuk tiap pengujian dapat ditentukan.
Hasil pengujian keseluruhan sistem soft-
starting motor induksi tiga fasa didapatkan data
saat kondisi mantap berupa data arus, daya
masukan, dan kecepatan putaran motor induksi
tiga fasa untuk pengujian tanpa beban, berbeban
braker mekanik, dan berbeban generator
sinkron adalah:
1. Pengujian tanpa beban:
I
L
= 1,9 A
P
IN
(1 fasa) = 105 watt
2. Pengujian berbeban braker mekanik:
I
L
= 2,05 A
P
IN
(1 fasa) = 250 watt
n = 1480 rpm

1,9 Nm
beban
t =

3. Pengujian berbeban generator sinkron:
I
L
= 2,4 A
P
IN
(1 fasa) = 210 watt
n = 1485 rpm
P
OUT
= 252,2 watt

1, 62 Nm
beban
t =


Bentuk gelombang arus peralihan
pengasutan motor induksi untuk pengujian
tanpa beban ditunjukkan pada Gambar 4.3,
untuk pengujian beban braker mekanik
ditunjukkan pada Gambar 4.4, dan untuk
pengujian beban generator sinkron ditunjukkan
pada Gambar 4.5.
Berdasarkan data hasil pengujian
keseluruhan sistem soft-starting motor induksi
tiga fasa terlihat bahwa terjadi penurunan arus
pengasutan motor induksi untuk tiap-tiap hasil
percobaan. Penurunan arus terjadi akibat dari
penurunan tegangan efektif tiga fasa (V
RMS
)
yang masuk ke motor induksit tiga fasa akibat
dari sudut penyalaan TRIAC yang diubah-ubah.
Menurunnya arus pengasutan juga diimbangi
dengan waktu peralihan ke kondisi mantap
menjadi lebih lama, dikarenakan torsi dari
motor induksi yang berkurang namun masih
cukup untuk memutar beban. Torsi yang
menurun diakibatkan oleh tegangan efektif yang
menurun pula.



(a)

(b)
Gambar 4.3 Hasil pengujian pengasutan
motor induksi tanpa beban
(a) Pengasutan langsung
(b) Metode soft-start ( =
120)


(a)

(b)
Gambar 4.4 Hasil pengujian pengasutan
motor induksi beban braker
mekanik
(a) Pengasutan langsung
(b) Metode soft-start ( =
110)


(a)

(b)
Gambar 4.5 Hasil pengujian pengasutan
motor induksi beban generator
sinkron
(a) Pengasutan langsung
(b) Metode soft-start ( =
115)

Berdasarkan hasil pengujian
pengasutan motor induksi tiga fasa tanpa beban,
penurunan arus pengasutan untuk pengujian
motor induksi tanpa beban ditunjukkan pada
Gambar 4.6 dan untuk waktu peralihan dari
proses pengasutan motor induksi ditunjukkan
pada Gambar 4.7.



12


Gambar 4.6 Penurunan arus pengasutan
motor induksi tiga fasa tanpa
beban.


Gambar 4.7 Waktu peralihan proses
pengasutan motor induksi tiga
fasa tanpa beban.

Berdasarkan data penurunan arus
pengasutan dan waktu peralihan motor induksi
tanpa beban, didapatkan bahwa proses
pengasutan tanpa beban menggunakan metode
soft-starting mampu menurunkan arus
pengasutan mencapai dua kali arus kondisi
mantap, kondisi tersebut dicapai pada sudut
penyalaan 135. Namun dengan waktu peralihan
pengasutan yang mencapai 0,8 detik.
Berdasarkan data di diatas pula diambil titik
maksimum yaitu pada saat sudut penyalaan
125. Kondisi dimana arus pengasutan tidak
terlalu besar dengan waktu peralihan yang
dicapai tidak terlalu besar pula.
Pengujian selanjutnya ialah pengujian
motor induksi tiga fasa berbeban braker
mekanis, penurunan arus pengasutan untuk
pengujian motor induksi ditunjukkan pada
Gambar 4.8 dan untuk waktu peralihan dari
proses pengasutan motor induksi ditunjukkan
pada Gambar 4.9.


Gambar 4.8 Penurunan arus pengasutan
motor induksi tiga fasa
berbeban braker mekanik.

Gambar 4.9 Waktu peralihan proses
pengasutan motor induksi tiga
fasa berbeban braker
mekanis.

Berdasarkan data penurunan arus
pengasutan dan waktu peralihan motor induksi
berbeban braker mekanik, didapatkan bahwa
proses pengasutan berbeban menggunakan
metode soft-starting mampu menurunkan arus
pengasutan mencapai empat kali arus kondisi
mantap, kondisi tersebut dicapai pada sudut
penyalaan 100 dengan waktu peralihan
pengasutan yang mencapai 0,5 detik.
Berdasarkan data di diatas pula diambil titik
maksimum yaitu pada saat sudut penyalaan
100. Kondisi dimana arus pengasutan tidak
terlalu besar dengan waktu peralihan yang
dicapai tidak terlalu besar pula.
Pada pengujian selanjutnya pengujian
motor induksi tiga fasa berbeban generator
sinkron, penurunan arus pengasutan untuk
pengujian motor induksi ditunjukkan pada
Gambar 4.10 dan untuk waktu peralihan dari
proses pengasutan motor induksi ditunjukkan
pada Gambar 4.11.

Gambar 4.10 Penurunan arus pengasutan
motor induksi tiga fasa
berbeban generator sinkron.



13


Gambar 4.11 Waktu peralihan proses
pengasutan motor induksi tiga
fasa berbeban generator
sinkron.

Berdasarkan data penurunan arus
pengasutan dan waktu peralihan motor induksi
berbeban generator sinkron, didapatkan bahwa
proses pengasutan berbeban menggunakan
metode soft-starting mampu menurunkan arus
pengasutan mencapai tiga kali arus kondisi
mantap, kondisi tersebut dicapai pada sudut
penyalaan 120. Namun dengan waktu peralihan
pengasutan yang mencapai 1,5 detik.
Berdasarkan data di diatas pula diambil titik
maksimum yaitu pada saat sudut penyalaan 95.
Kondisi dimana arus pengasutan tidak terlalu
besar dengan waktu peralihan yang dicapai
tidak terlalu besar pula.
Hasil pengujian dan analisis modul
pengasutan motor induksi metode soft-starting
mampu untuk menurunkan arus pengasutan
motor induksi tiga fasa, dengan waktu peralihan
yang cukup berdasarkan sudut penyalaan
tertentu. Metode soft-starting juga mampu
untuk meredam kejut mekanik saat proses
pengasutan terbukti proses pengasutan menjadi
lebih halus. Berdasarkan hasil analisis pengujian
ini modul soft-starter yang telah dirancang
mampu untuk bekerja sesuai dengan tujuan awal
ditulisnya penelitian ini yaitu menghasilkan alat
yang mampu menurunkan arus dan mengurangi
kejut meknik saat proses pengasutan dengan
menggunakan komponen elektronika daya
TRIAC.

V. KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan
1. Komponen elektronika daya TRIAC
mampu menurunkan tegangan dengan
mengatur sudut penyalaan pada gate
yang menjadi dasar dari metode soft-
starting.
2. Komponen optocoupler MOC3021
mampu memicu gate TRIAC
berdasarkan reverensi sinyal logika 1
atau 0 dari mikrokontroler.
3. Rangaian zero crossing detector
mampu mengkondisikan sinyal
sinusoida tegangan AC menjadi sinyal
persegi bagi mikrokontroler untuk
mendeteksi tegangan AC nol.
4. Prinsip kerja modul soft-starter ialah
tegangan dinaikkan seiring waktu
dengan mengatur sudut penyalaan
TRIAC menggunakan mikrokontroler
dengan optocoupler sebagai rangkaian
isolasi untuk mendapatkan lonjakan
arus yang halus.
5. Modul soft-starter mampu menurunkan
arus dan kejut mekanik pada saat
pengasutan baik dalam kondisi
berbeban atau tanpa beban.

5.2 Saran
Penggantian media motor induksi tiga fasa
yang digunakan pada praktikum pengasutan
motor induksi tiga fasa dengan motor induksi
yang memiliki daya lebih kecil agar mampu
dibebani mendekati beban nominal motor untuk
lebih mengetahui karakteristik saat pegasutan
beban penuh.

VI. DAFTAR PUSTAKA
Atmel. 2002. AVR182: Zero Cross Detector.
California: Atmel.
Atmel. 2006. ATmega8535/ATmega8535L, 8-bit
AVR Microcontroller with 8 Kbytes in-
System Programmable Flash.
California: Atmel.
Boldea, Ion dan Syed A. Nasar. 2002. The
Induction Machine Handbook. Florida:
CRC Press.
Bose, Bimal K. 2002. Modern Power
Electronics and AC Drives. New
Jersey: Prentice Hall PTR.
Huges, Austin. 2006. Electric Motors and
Drives Fundamentals, Types and
Applications Third Edition. Oxford:
Elsevier Ltd.
Kjellberg, Magnus dan Soren Kling. 2003.
Softstarter Handbook. Kanada : ABB.
Krause, Paul C. dan Oleg Wasynczuk. 2005.
Analysis of Electric Machinery and
Drive Systems 2
nd
Edition. New York:
Willey-Interscience
Mazda, Fraidoon. 1997. Power Electronics
Handbook 3
rd
Edition. Oxford:
Newnes.
Rashid, Muhammad H. 2001. Power
Electronics Handbook. London:
Academic Press.
Fairchild. 2002. Application Note AN-3004:
Applications of Zero Voltage crossing
Optically Isolated Triac Drivers.
Fairchild Semiconductor Corporation.