Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN TUTORIAL

MEKANISME SISTEM FAGOSITOSIT DALAM IMUN MUKOSA RONGGA MULUT Diajukan Untuk Memenuhi salah Satu Tugas Tutorial Blok Stogmatognasi II Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember

Pembimbing : DR. drg. Purwanto, M.Kes

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS JEMBER 2014

DAFTAR ANGGOTA KELOMPOK

Tutor Ketua Sciber Meja

: DR. drg. Purwanto, M.Kes : Lusi Hesti Pratiwisari : Rachel Priskila L. W (131610101058) (131610101049) (131610101051)

Sciber Papan : Fatimatuz Zahroh

Anggota

: (131610101013) (131610101037) (131610101039) (131610101043) (131610101050) (131610101055) (131610101056) (131610101057)

1. Afifanisa Dienda Rifani 2. Tadjul Arifin 3. Duati Mayangsari 4. Selvia Elga Zulfika 5. Ekimo Walterpost 6. Putri Dewi S 7. Cholida Rachmatia 8. Loly A. Sinaga

KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah NYA sehingga kami dapat menyelesaikan tugas laporan yang berjudul Mekanisme Sistem Fagositosit Dalam Imun Mukosa Rongga Mulut. Laporan ini disusun untuk memenuhi hasil diskusi tutorial kelompok V pada skenario ketiga. Penulisan makalah ini semuanya tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, oleh karena itu penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada: 1. DR. drg. Purwanto, M.Kes selaku tutor yang telah membimbing jalannya diskusi tutorial kelompok V Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember dan memberi masukan yang membantu bagi pengembangan ilmu yang telah didapatkan. 2. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini. Dalam penyusunan laporan ini tidak lepas dari kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan perbaikan di masa yang akan datang demi kesempurnaan laporan ini. Semoga laporan ini dapat berguna bagi kita semua.

Jember, 1 April 2014

Tim Penyusun

SKENARIO Siska, 18 tahun, datang ke RSGM untuk memeriksakan rongga mulutnya yang sariawan. Pada anamnesa diketahui bahwa sariawan sering terjadi hampir setiap bulan, apalagi kalau capek-capek. Penderita mengkonsumsi vitamin C, akan tetapi sariawan selalu muncul kembali. Pada pemeriksaan klinis diketahui bahwa ada sariawan di mukosa labial dan mukosa bukalnya. Selain diberi pengobatan, juga disarankan untuk mengkonsumsi makanan yang sehat dan menjaga kebersihan rongga mulutnya, agar mukosa rongga mulutnya lebih tahan terhadap bakteri. Dijelaskan juga bahwa rongga mulut merupakan bagian pertama yang terpapar oleh benda apapun sebelum masuk tubuh. Oleh karena itu bila ada benda asing yang masuk di rongga mulut, maka mukosa dirongga mulut akan melakukan perlawanan, yang salah satu caranya dengan memfagosit benda asing tersebut. Akibatnya bila daya tahan rongga mulut tidak baik, rongga mulut akan terluka yang menyebabkan saiawan.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rongga mulut merupakan bagian pertama dari saluran makanan dan bagian dari sistem pernafasan. Rongga mulut juga merupakan gerbang masuknya penyakit. Di dalam rongga mulut terdapat berbagai macam mikroorganisme yang meskipun bersifat komensal, pada keadaan tertentu bisa bersifat patogen apabila respon penjamu terganggu. Pembersihan mulut secara alamiah yang seharusnya dilakukan oleh lidah dan air liur, bila tidak bekerja dengan semestinya dapat menyebabkan terjadinya infeksi rongga mulut, misalnya penderita dengan sakit parah dan penderita yang tidak boleh atau tidak mampu memasukkan sesuatu melalui mulut mereka. Meskipun begitu, rongga mulut juga memiliki sistem imunitas. Sistem

imunitas rongga mulut salah satunya dipengaruhi oleh membran mukosa. Sistem imunitas mukosa merupakan bagian sistem imunitas yang penting dan berlawanan sifatnya dari sistem imunitas yang lain. Sistem imunitas mukosa lebih bersifat menekan imunitas, karena hal-hal berikut; mukosa berhubungan langsung dengan lingkungan luar dan berhadapan dengan banyak antigen yang terdiri dari bakteri komensal, antigen makanan dan virus dalam jumlah yang lebih besar

dibandingkan sistem imunitas sistemik. Antigen-antigen tersebut sedapat mungkin dicegah agar tidak menempel pada mukosa dengan pengikatan oleh IgA, barier fisik dan kimiawi dengan enzim-enzim mukosa. Mukosa rongga mulut terdiri atas epitel skuamosa yang berguna sebagai barier mekanik terhadap infeksi. Mekanisme proteksinya tergantung pada

deskuamasinya sehingga bakteri sulit melekat pada sel epitel dan derajat keratinisasinya yang sangat efisien menahan penetrasi mikrobial.

1.2 Rumusan Masalah 1. Apa saja komponen Sistem Imun mukosa rongga mulut ? 2. Bagaimana mekanisme fagositosis dalam rongga mulut ? 3. Faktor apa saja yang mempengaruhi Sistem Imunitas rongga mulut ?

1.3 Tujuan Pembelajaran 1. Mahasiswa diharapkan mampu mengetahui dan memahami komponen sistem imun mukosa rongga mulut. 2. Mahasiswa diharapkan mampu mengetahui dan memahami mekanisme fagositosis dalam rongga mulut. 3. Mahasiswa diharapkan mampu mengetahui dan memahami faktor faktor yang mempengaruhi Sistem Imunitas rongga mulut.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Imunitas adalah resistensi terhadap penyakit terutama penyakit infeksi. Gabungan sel, molekul dan jaringan yang berperan dalam resistensi terhadap infeksi disebut sistem imun dan reaksi yang dikoordinasi sel sel dan molekul molekul terhadap mikroba dan bahan lainnya disebut respon imun. Sistem imun diperlukan tubuh untuk mempertahankan keutuhannya terhadap bahaya yang dapat ditimbulkan berbagai bahan dalam lingkungan hidup.

2.1 Komponen Sistem Imunitas Rongga Mulut Menurut Roeslan (2002), sistem imunitas rongga mulut dipengaruhi oleh : a. Membran mukosa Mukosa rongga mulut terdiri atas epitel skuamosa yang berguna sebagai barier mekanik terhadap infeksi.Mekanisme proteksinya tergantung pada deskuamasinya sehingga bakteri sulit melekat pada sel epitel dan derajat keratinisasinya yang sangat efisien menahan penetrasi microbial. b. Nodus Limfatik Jaringan lunak rongga mulut berhubungan dengan nodus limfatik ekstra oral dan agregasi limfoid intra oral.Kapiler limfatik yang terdapat pada permukaan mukosa lidah, dasar mulut, palatum, pipi dan bibir, mirip yang berasal dari ginggiva dan pulpa gigi. Kapiler ini bersatu membentuk pembuluh limfatik besar dan bergabung dengan pembuluh limfatik yangberasal dari bagian dalam otot lidah dan struktur lainnya. Di dalam rongga mulut terdapat tonsil palatel. c. Saliva Sekresi saliva merupakan perlindungan alamiah karena fungsinya

memelihara jaringan keras dan lunak rongga mulut agar tetap dalam keadaan fisiologis.Saliva yang disekresikan oleh kalenjar parotis, submandibularis dan berperan dalam

beberapa kelenjar saliva kecil yang tersebar di bawah mukosa,

membersihkan rongga mulut dari debris dan mikroorganisme, selain bertindak sebagai pelumas pada saat mengunyah dan berbicara.

d. Celah Ginggiva Epitel jangsional dapat dilewati oleh komponen seluler dan humoral dari daerah dalam bentuk cairan celah ginggiva (CCG). Aliran CCG merupakan proses fisiologik atau merupakan respon terhadap inflamasi. (Ruslan, 2002 )

2.2 Sistem Imun Spesifik Kekebalan tubuh spesifik adalah system kekebalan yang diaktifkan oleh kekebalan tubuh nonspesifik dan merupakan system pertahanan tubuh yang ketiga. Ciri Sistem Imun Spesifik : Bersifat selektif terhadap benda asing yang masuk ke dalam tubuh Sistem reaksi ini tidak memiliki reaksi yang sama terhadap semua jenis benda asing Memiliki kemampuan untuk mengingat infeksi sebelumnya, melibatkan

pembentukan sel-sel tertentu dan zat kimia ( antibody ) Perlambatan, waktu antara eksposur dan respon maksimal Tanggap kebal seluler dikendalikan oleh sel-sel yang tersebar dalam jaringan submukosa, gingival, kelenjar ludah, epitel, cairan saku gusi, tonsil dan kelenjar getah bening ekstra oral. Komponen Sistem Imun Spesifik : 1. Agregasi Jaringan Limfoid Submukosa Sel-sel mononuclear (limfosit dan makrofag) ditemukan tersebar tepat dibawah epitel mulut, didaerah palatum lunak, dasar mulut, permukaan ventral dari lidah dan kadang-kadang di pipi dan di bibir. Secara histologik, massa jaringan ini seperti jaringan tonsil. 2. Jaringan Limfoid Gingival Melalui rangsang plak bakteri, jaringan ini menarik sel-sel terutama sel-sel limfosit yang dalam situasi radang berubah menjadi sel-sel plasma. Rasio sel T dan B dalam cairan saku gingival sehat akan meningkat menjadi 1:3 dibandingkan rasio dalam darah. Selain itu, dalam proporsinya, sel-sel ini mampu membuat antibody yang spesifik.Bagaimanapun juga kebanyakan sel-sel ini memproduksi zat-zat immunoglobulin non-reaktif.Makrofag hadir dalam gingiva, disamping memproses

antigen juga ikut membantu penghancuran plak gigi. Reaksi timbal balik antara merusak dan melindungi berlangsung jelas dalam limfoid gingiva. 3. Kelenjar Getah Bening Ekstraoral Anyaman halus saluran getah bening berjalan dari mucus saliva dasar mulut, palatum, bibir, dan pipi seperti juga dari gingival dan pulpa.Semuanya bergabung membentuk saluran yang lebih besar yang bersatu dengan saluran getah bening lainnya dari anyaman yang lebih dalam pada otot lidah.Saluran ini melayani pengangkutan antigen menuju kelenjar getah bening submental, submaksilaris, dan servikal.Tiap antigen yang berhasil masuk disebarkan langsung melalui getah bening ini ataupun melalui sel-sel fagosit. Lalu diteruskan ke kelenjarnya untuk dibangkitkan tanggap kebalnya. 4. Jaringan Limfoid Kelenjar Ludah Limfosit, makrofag dan sel-sel plasma ditemukan di dalam kelenjar baik yang besar ataupun kecil, tersebar dalam kelompok-kelompok dibawah mukosa

mulut.Kebanyakan sel plasma memproduksi IgA dan beberapa diantaranya IgG dan IgM.Tampak bawah kebanyakan IgA dalam saliva disintesis secara local oleh sel-sel plasma kelenjar yang bersangkutan dalam bentuk dimerik. 5. Sel-Sel Langerhans Antigen yang masuk melalui mukosa difagositosis oleh sel-sel ini yang tersebar di atas selaput dasar. Sel-sel ini merupakan sel-sel dendritik yang besar kemampuan kerja seperti makrofag, memiliki reseptor Fe dan C3 serta antigen permukaan seperti Ia, yaitu antigen transplantasi yang dtemukan terutama pada sel B dan makrofag yang identik dengan antigen HLA-D. (Gunarso W : 1988)

Sistem imun spesifik merupakan suatu sistem yang dapat mengenali suatu substansi asing yang masuk ke dalam tubuh dan dapat memacu perkembangan respon imun yang spesifik terhadap substansi tersebut.Sistem imun spesifik disebut juga dengan sistem imun yang didapat (adaptive immunity). Sel-sel imun yang berperan dalam respon imun spesifik adalah sel limfosit B dan sel limfosit T. Substansi yang dapat merangsang terjadinya respon imun spesifik disebut antigen. Sistem imun

merupakan reaksi hospes terhadap benda asing dengan tiga kekhasan yaitu spesifik, heterogen,memori. Spesifitas Respon imun dengan kepekaan yang tinggi akan bereaksi dengan benda yang sama yang telah memberi respon sebelumnya dan dapat membedakannya sehingga akan mendiferensiasi antigen yang berasal dari spesies, individual dan organ yang berbeda. Heterogenitas Respon berbagai sel dan produk sel terhadap benda asing akan

menghasilkan produk populasi sel yang heterogen (misal antibodi). Memori Mempercepat dan memperbesar respon spesifik dengan proliferasi dan diferensiasi sel yang telah disensitisasi pada respon sebelumnya. Limfosit B Limfosit B dapat berdiferensiasi menjadi sel plasma apabila ada rangsangan dari antigen dan akan membentuk antibody. Limfosit B merupakan respon imun humoral Limfosit T. Limfosit T terbentuk jika sel induk dari sumsum tulang pindah ke kelenjar timus, mengalami pembelahan dan pematangan. Di dalam kelenjar timus limfosit T belajar membedakan bahan asing (non self) dengan bahan bukan asing (self). Limfosit T dewasa akan meninggalkan kelenjar timus menuju kelenjar getah bening (sebagai bagian pengawasan sistem imun tubuh). Limfosit T merupakan respon imun seluler Antigen ( Ag) Antigen juga seringkali disebutimunogen. Antigen terdiri dari : protein dan polisakarida. (Baratawidjaya : 2000) Antibodi Protein yang diproduksi di dalam tubuh sebagai respon terhadap masuknya Ag, dapat mengenali dan mengikat Ag secara spesifik. Ada 5 klasifikasi antibodi , antara lain : Imunoglobulin A (IgA).

Imunoglobulin A adalah antibodi sekretori, ditemukan dalam saliva, keringat, air mata, cairan mukosa, susu, cairan lambung dan sebgainya. Yang aktiv adalah bentuk dimer (yy), sedangkan yang monomer (y) tidak aktif.Jaringan yang mensekresi bentuk bentuk dimer ini ialah sel epithel yang bertindak sebagai reseptor IgA, yang kemudian sel tersebut bersama IgA masuk kedalam lumen. Fungsi dari IgA ini ialah: Mencegah kuman patogen menyerang permukaan sel mukosa Tidak efektif dlam mengikat komplemen Bersifat bakterisida dengan kondisinya sebagai lysozim yang ada dalam cairan sekretori yang mengandung IgA Bersifat antiviral dan glutinin yang efektif Imunoglobulin D (IgD) Imunoglobulin D ini berjumlah sedikit dalam serum. IgD adalah penenda permukaan pada sel B yang matang.IgD dibentuk bersama dengan IgM oleh sel B normal.Sel B membentuk IgD dan IgM karena untuk membedakan unit dari RNA. Imunoglobulin E (IgE) Imunoglobulin E ditemukan sedikit dalam serum, terutama kalau berikatan dengan mast sel dan basophil secara efektif, tetapi kurang efektif dengan eosinpphil.IgE berikatan pada reseptor Fc pada sel-sel tersebut. Dengan adanya antigen yang spesifik untuk IgE, imunoglobulin ini menjadi bereaksi silang untuk memacu degranulasi dan membebaskan histamin dan komponen lainnya sehingga menyebabkan reaksi anaphylaksis.IgE sangat berguna untuk melawan parasit. Imunoglobulin M (IgM) Imunoglobulin m ditemukan pada permukaan sel B yang matang. IgM mempunyai waktu paroh biologi 5 hari, mempunyai bentuk pentamer dengan lima valensi. Imunoglobulin ini hanya dibentuk oleh faetus.Peningkatan jumlah IgM mencerminkan adanya infeksi baru atai adanya antigen (imunisasi/vaksinasi).IgM adalah merupakan aglutinin yang efisien dan merupakan isohem- aglutinin

alamiah.IgM sngat efisien dalam mengaktifkan komplemen.IgM dibentuk setelah terbentuk T-independen antigen, dan setelah imunisasi dengan T-dependent antigen. Imunoglobulin G (IgG)

Imunoglobulin G adalah divalen antigen. Antibodi ini adalah imunoglobulin yang paling sering/banyak ditemukan dalam sumsum tulang belakang, darah, lymfe dan cairan peritoneal.Ia mempunyai waktu paroh biologik selama 23 hari dan merupakan imunitas yang baik (sebagai serum transfer). Ia dapat

mengaglutinasi antigen yang tidak larut. IgG adalah satu-satunya imunoglobulin yang dapat melewati plasenta.

2.3 Sistem Imun Non Spesifik Sistem kekebalan tubuh atau imunitas adalah sistem mekanisme pada organisme yang melindungi tubuh terhadap pengaruh biologis luar dengan mengidentifikasi dan membunuh patogen serta sel tumor. Sistem ini mendeteksi berbagai macam pengaruh biologis luar yang luas, organisme akan melindungi tubuh dari infeksi, bakteri, virus sampai cacing parasit, serta menghancurkan zat zat asing lain dan memusnahkan mereka dari sel organisme yang sehat dan jaringan agar tetap dapat berfungsi seperti biasa. Respon imun nonspesifik merupakan salah satu upaya tubuh untuk mempertahankan diri terhadap masuknya antigen, misalnya antigen bakteri, adalah menghancurkan bakteri bersangkutan secara nonspesifik dengan proses fagositosis. Dalam hal ini leukosit yang termasuk fagosit memegang peranan peranan yang sangat penting, khususnya makrofag demikian pula neutrifil dan monosit.Supaya dapat terjadi fagositosis sel-sel fagosit tersebut harus berada dala jarak dekat dengan partikel bakteri, atau lebih tepat lagi bahwa partikel tersebut harus melekat pada permukaan fagosit. Komponen Imunitas Non Spesifik : 1. Barrier epitel Contoh barrier eksternal adalah mukosa dalam rongga mulut yang dapat menekan atau membunuh mikroorganisme. 2. Sel natural killer (NK) Sel natural killer (NK) adalah suatu limfosit yang berespons terhadap mikroba intraselular dengan cara membunuh sel yang terinfeksi dan memproduksi sitokin untuk mengaktivasi makrofag yaitu IFN-. Sel ini tidak mengekspresikan

imunoglobulin atau reseptor sel T. Sel NK dapat mengenali sel pejamu yang sudah berubah akibat terinfeksi mikroba. 3. System komplemen Melibatkan kurang lebih 20 serum protein. Prinsip kerjanya sebagai media terjadinya reaksi inflamasi akut dan kemudian mengeliminasi mikoroorganisme yang menginvasi. 4. Sitokin pada imunitas non spesifik Sebagai respons terhadap mikroba, makrofag dan sel lainnya mensekresi sitokin untuk memperantarai reaksi selular pada imunitas non spesifik.Sitokin merupakan protein yang mudah larut (soluble protein), yang berfungsi komunikasi antar leukosit dan antara leukosit dengan sel lainnya. 5. Protein plasma lainnya pada imunitas non spesifik Berbagai protein plasma diperlukan untuk membantu komplemen pada pertahanan melawan infeksi.Mannose-binding lectin (MBL) di plasma bekerja dengan cara mengenali karbohidrat untuk pada glikoprotein permukaan mikroba dan untuk

menyelubungi

mikroba

mempermudah

fagositosis,

atau mengaktivasi

komplemen melalui jalur lectin.

Penghindaran mikroba dari imunitas non spesifik Mikroba patogen dapat mengubah diri menjadi resisten terhadap imunitas non spesifik sehingga dapat memasuki sel pejamu.Beberapa bakteri intraselular tidak dapat didestruksi di dalam fagosit. Lysteria monocytogenes menghasilkan suatu protein yang membuatnya lepas dari vesikel fagosit dan masuk ke sitoplasma sel fagosit (Geo, 2005).

2.4 Komponen Sistem Imun Mukosa 1. Sistem Imun Spesifik Humoral Dalam sistem ini yang berperan adalah limfosit B atau sel B. Sel B berasal dari sel asal multiprotein.Pada unggas, sel asal tersebut berdiferensiasi menjadi sel B, di dalam organ yang disebut bursa fabrisius yang letaknya dekat kloaka. Bila sel B dirangsang oleh benda asing maka sel tersebut akan berproliferasi dan berkembang

menjadi sel plasma yang dapat membentuk antibodi. Antibodi yang dilepas dapat ditemukan di dalam serum.Fungsi utama antibodi ialah mempertahankan tubuh terhadap infeksi bakteri, virus, dan menetralisasi toksin. 2. Sistem imun spesifik seluler Yang berperan dalam sistem ini adalah limfosit T atau sel T. Sel tersebut juga berasal dari sel asal yang sama seperti sel B. Pada orang dewasa sel T dibentuk di dalam sumsum tulang, tetapi proliferasi dan diferensiasinya terjadi di dalam kelenjar timus. Fungsi umum sel T ialah membantu sel B dalam memproduksi antibodi, mengenal dan menghancurkan sel yang terkena infeksi virus, mengaktifkan makrofag dalam fagositosis dan mengontrol ambang serta kualitas sistem imun. Berbeda dengan sel B, sel T terdiri atas 4 subset, yaitu: a. Sel Th (T helper), sel ini menolong sel B dalam memproduksi antibodi. b. Sel Ts (T supresor), sel ini menekan aktivitas sel T tertentu dan sel Ts nonspesifik c. Sel Tdh atau Td (delayed hypersensitivity), sel yang berperan pada

pengerahan makrofag dan sel inflamasi lainnya ke tempat terjadinya reaksi lambat. d. Sel Tc (T cytotoxic) mempunyai kemampuan untuk menghancurkan sel alogenik dan sel sasaran yang mengandung virus. . 3. Komponen Cairan (Humoral) Non Spesifik a. Protein Enzim Lisosim Lisosim terdapat hampir di semua cairan tubuh dan terdeteksi pada manusia umur 9 12 minggu.Sumber lisosim saliva berasal dari glandula salivarius mayor dan minor, sel fagosit maupun cairan krevikular gingiva. Fungsi Lisosim : o Aktivitas muramidase, lisosim mampu menghidrolisa ikatan Beta (1-4) antara asam N-asetil muramik dan N-asetilglukosamin pada lapisan dinding sel bakteri. peptidoglikan

o Aktivitas bakterial autolisin tergantung pada kationik. Oleh karena lisosim merupakan kationik, liosim dapat merusak membran bakteri dan

mengaktifkan mekanisme bakterial autolisis karena aktivasi muramidase dan autolisin. o Menyebabkan agregasi bakteri. o Mencegah perlekatan bakteri pada permukaan gigi. o Mencegah penggunaan glukosa oleh bakteri, sehingga mencegah produksi asam. o Memecah rantai streptokokus. Laktoferin Laktoferin adalah glikoprotein, BM 76 kilodalton, mengikat

besi.Dikeluarkan oleh sel serosa dan glandula salivarius minor. Namun ditemukan juga pada air mata, dan ASI.Sumber LF dalam RM adalah cairan

gingiva.Diperkirakan berasal dari aktivitas fagositosis / rusaknya sel PMN. Oleh karena itu, level LF saliva sangat tergantung pada influks sel PMN ke dalam RM. Fungsi : ditentukan oleh tingginya afinitas LF untuk mengikat ion bes, sehingga mLF mampu menurunkan level ion besi. Laktoperoksidase Sumber utama sistem peroksidase saliva adalah glandula salivarius dan sel leukosit.SPS yang berasal dari glandula salivarius disebut salivari peroksidase, sedangkan SPS yang berasal dari leukosit disebut mieloperoksidase. Salivari peroksidase manusi kadang disebut pula laktoperoksidase karena kesamaannya

dengan laktoperoksidase susu sapi.

2.5 Mekanisme Fagositosis Fagositosis adalah suatu mekanisme pertahanan yang dilakukan oleh sel-sel fagosit, dengan jalan mencerna mikroorganisme atau partikel asing hingga

menghancurkannya berkeping-keping. Sel fagosit ini terdiri dari 2 jenis, yaitu fagosit mononuclear dan polimorfonuklear. Proses fagositosis adalah sebagai berikut :

1. Pengenalan (recognition), yaitu proses di mana mikroorganisme atau partikel asing terdeteksi oleh sel-sel fagosit. 2. Pergerakan (chemotaxis), setelah suatu partikel mikroorganisme dikenali, maka sel fagosit akan bergerak menuju partikel tersebut. Proses ini sebenarnya belum dapat dijelaskan, akan tetapi kemungkinan adalah karena bakteri atau mikroorganisme mengeluarkan semacam zat chemo-attract seperti kemokin yang dapat memikat sel hidup seperti fagosit untuk

menghampirinya. 3. Perlekatan (adhesion), setelah sel fagosit bergerak menuju partikel asing, partikel tersebut akan melekat dengan reseptor pada membrane sel fagosit. Proses ini akan dipermudah apabila mikroorganisme tersebut berlekatan dengan mediator komplemen seperti opsonin yang dihasilkan komplemen C3b di dalam plasma (opsonisasi). 4. Penelanan (ingestion), ketika partikel asing telah berikatan dengan reseptor di membrane plasma sel fagosit, seketika membrane sel fagosit tersebut akan menyelubungi seluruh permukaan partikel asing dan menelannya ke dalam sitoplasma. Sekali telan, partikel tersebut akan masuk ke sitoplasma di dalam sebuah gelembung mirip vakuola yang disebut fagosom. 5. Pencernaan (digestion), fagosom yang berisi parrtikel asing di dalam sitoplasma sel fagosit, dengan segera mengundang kedatangan lisosom. Lisosom yang berisi enzim-enzim penghancur seperti acid hydrolase dan peroksidase, berfusi dengan fagosom membentuk fagolisosom. Enzim enzim tersebut pun tumpah ke dalam fagosom dan mencerna seluruh permukaan partikel asing hingga hancur berkeping-keping. Sebagian epitop/ bagian dari partikel asing tersebut, akan berikatan dengan sebuah molekul kompleks yang bertugas mempresentasikan epitop tersebut ke permukaan, molekul ini dikenal dengan MHC (Major Histocompatibility Complex) untuk dikenali oleh sistem imunitas spesifik. 6. Pengeluaran (releasing), produk sisa partikel asing yang tidak dicerna akan dikeluarkan oleh sel fagosit.

2.6 Faktor-faktor yang bertanggung jawab dalam system pertahanan rongga mulut 1. Selaput mukosa Keratin merupakan salah satu pertahanan yang diperhitungkan, tetapi bibir, pipi, dasar mulut, dan langit-langit lunak tidak dilapisi keratin. Pada lapisan granular, selaput yang membungkus granular dilepaskkan ke rongga mulut dan ini berkaitan dengan pembentukan penangkal terhadap zat seperti antigen, kemingkinan antibodi menurunkan penetrasi imun.Selaput basal merupakan melalui mukosa yang dengan lain membentuk terhadap komplek

penangkal

bahan-bahan

berbahaya. Pada lamina propria mukosa yang berbatasan dengan selaput basal terdapat beberapa sel limfoid yang akan mengahadapi bahan-bahan lain yang dapat melewati keempat lapisan penang. Lapisan epitel mukosa terdiri dari sel-sel epitel yang termodifikasi yang disebut FAE (Follicle Associated Epithelial Cell).Sel tersebut mampu mentransport makromolekul dari lumen jaringan dibawahnya. FAE sangat penting dalam menentukan efektifitas respon imun mukosa. 2. Saliva Komponen imunitas saliva dalam saliva yang berperan adalah IgA sekretori. IgA sekretori adalah immunoglobulin penting dalam saliva dan akan berperan dalam mencegah infeksi mikroba pada mukosa. Hasil akhir dari IgA sekretori adalah SIgA yang nantinya dibawa ke lumen. 3. Crevicular Gingival Fluid Komponen darah humoral seluler dapat mencapai permukaan gigi dan epitel dalam rongga mulut melalui aliran cairan menembus epitel perlekatan gingival. Struktur dan fungsi epitel perlekatan adalah dalam pengertian hubungan biologi antara komponen vaskular dan struktur periodontal. ( Izzata, 2007 )

DAFTAR PUSTAKA

Baratawidjaya, Karnen Garna. 2000. Imunologi Dasar. Jakarta : Balai Penerbit Kedokteran Universitas Indonesia. Barid, Izzata, dkk. 2007. Biologi Mulut I untuk Kedokteran Gigi.Jember : Jember University Press. Carranza. 2006. Clinical Periodontology Tenth Edition. Los Angeles : Saunders Elsevier. Guyton, Arthur C., Hall, John E., 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11. Alihbahasa: Irawati, et al. Jakarta : EGC. Nurhayati, Diana.2001.Imunomodulator pada Infeksi Bakteri. Semarang. Tjakronegoro, Arjatmo.2002.Imunologi Oral.Jakarta : Kedokteran Universitas Indonesia.