Anda di halaman 1dari 17

DISUSUN OLEH : KELOMPOK 3

ANGGOTA KELOMPOK 3
JATU ELSA FEBRIANA JULIANI KARTIKA SARI KHAIDIR UMAR MOHAMAD AMINUDIN

TUJUAN

Mahasiswa diharapkan dapat mengenal rute dan cara pemberian obat. Mahasiswa mengetahui pengaruh rute pemberian terhadap efek farmakologi obat. Mahasiswa memahami konsekuensi praktis dari pengaruh rute pemberian obat. Mahasiswa mengenal manifetasi berbagai efek obat yang di berikan

Dasar teori
Rute pemberian obat ( Routes of Administration) merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi efek obat, karena karakteristik lingkungan fisiologis anatomi dan biokimia yang berbeda pada daerah kontak obat dan tubuh karakteristik ini berbeda karena jumlah suplaidarah yang berbeda; enzim-enzim dan getah-getah fisiologis yang terdapat dilingkungan tersebut berbeda. Hal-hal ini menyebabkan bahwa jumlah obat yang dapat mencapai lokasi kerjanya dalam waktu tertentu akan berbeda, tergantung dari rute pemberian obat (Katzug, B.G, 1989) Rute penggunaan obat dapat dengan cara: a. Melalui rute oral b. Melalui rute parenteral c. Melalui rute inhalasi d. Melalui rute membran mukosa seperti mata, hidung, telinga, vagina dan sebagainya e. Melalui rute kulit (Anief, 1990).

MENCIT (Mus musculus)


Mencit merupakan hewan yang tidak mempunyai kelenjar keringat, jantungterdiri dari empat ruang dengan dinding atrium yang tipis dan dinding ventrikel yanglebih tebal. Percobaan dalam menangani hewan yang akan diuji cenderung memilikikarakteristik yang berbeda, seperti mencit lebih penakut dan fotofobik, cenderungsembunyi dan berkumpul dengan sesama, mudah di tangani, lebih aktif pada malamhari (nocturnal), aktivitas terganggu dengan adanya manusia, suhu normal 37,40 C, lajurespirasi 163/ menit sedangkan pada hewan tikus sangat cerdas, mudah ditangani, tidak bersifat fotofobik, lebih resisten terhadap infeksi, kecenderungan berkumpul dengansesama sangat kurang, jika makanan kurang atau diperlakukan secara kasar akanmenjadi liar dan galak, suhu normal 37,50 C, laju respirasi 210/ menit pada mencit dantikus persamaannya gigi seri pada keduanya sering digunakan untuk mengerat /menggigit benda-benda yang keras.

PEMBERIAN

OBAT INTRAPERITONIAL

Mencit dipegang pada kulit punggungnya sehingga kulit abdomennya tegang,kemudian jarum disuntikkkan dengan membentuk sudut 10 dengan abdomen pada bagian tepi abdomen dan tidak terlalu ke arah kepala untuk

menghindariterkenanya kandung kemih dan hati. (Sukati,


2010)

Alat dan bahan :

Alat :
1. Jarum oral. 2. Jarum no.24.

Bahan :
1. Luminal Na 2. Mencit 3. Aquadest 4. Etanol 70 %

Prosedur Kerja :

Rute Pemberian Obat Secara Intra Peritoneal Memegang mencit pada tengkuknya sedemikian hingga posisi abdomen lebih tinggi dari kepala.

Menyuntikan larutan obat ke dalam abdomen bawah dari tikus disebelah garis midsagital. Melakukan pengamatan efek obat.

Memberikan Obat Secara Intraperitoneal

Perhitungan dosis.

Konfersi dosis manusia ke mencit Mencit 20 g = 0,0026 x 300 mg = 0,78 mg Dosis mencit : Mencit 1 = 29.06 / 20 x 0,78 = 1,13 mg Mencit 2 = 36,71 / 20 x 0,78 = 1,43 mg Mencit 3 = 34,77 / 20 x 0,78 = 1,35 mg

Larutan stock Larutan stock , 3,5 %

= 3,5 g / 100 ml = 3500 mg / 100 ml = 35 mg / ml Larutan stock untuk mencit : Mencit 1 = 1,13 / 35 x 1 ml = 0,03 ml Mencit 2 = 1,43 / 35 x 1 ml = 0,04 ml Mencit 3 = 1,35 / 35 x 1 ml = 0,03 ml

Hasil pengamatan :
WAKTU
HEWAN 5 Menit MENCIT 1 garuk garuk, masih aktif garuk garuk, masih aktif, garuk garuk, masih aktif 10 Menit mulai lemas 15 Menit masih terus bergerak tetapi kurang aktif. tidur tidur

MENCIT 2 MENCIT 3

mulai lemas, diam saja. mulai lemas, diam saja

Pembahasan
Praktikum kali ini mempalajari tentang pengaruh cara pemberian obat terhadap absorpsi obat dalam tubuh (dalam hal ini pada tubuh hewan uji). Mencit dipilih sebagai hewan uji karena proses metabolisme dalam tubuhnya berlangsung cepat sehingga sangat cocok untuk dijadikan sebagai objek pengamatan. Pada proses praktikum ini melalui beberapa tahap yaitu konfrensi dosis dari manusia ke hewan uji dan juga perhitungan dosis karna setiap hewan uji (mencit) mempunyai berat yang berbeda sehingga memerlukan dosis yang berbeda pula, pembuatan larutan stok bertujuan memudahkan dalam pemberian kehewan uji dan juga pengenceran kandungan dosis sehingga volume larutan yang digunakan bisa di takar dengan sped 1ml, selanjutnya yaitu pemberian obat, pada percobaan digunakan rute pemberian secara intra peritoneal (rongga perut) sebelum menyuntikan dilakukanlah pembersihan perut mencit dengan alkohol 70% bertujuan membunuh bakteri pada bagian perut sehingga pada saat penyuntikan tidak ada bakteri yang masuk bersama jarum suntik (menghindari infeksi). Tahap terakhir yaitu pengamatan perilaku hewan uji (mencit) meliputi waktu timbulnya efek dan hilangnya efek.

Prinsip pemberian obat secara I.P yaitu mencit dipegang dan diposisikan telentang, pada penyuntikan posisi kepala lebih rendah dari abdomen. Jarum disuntikkan dari abdomen yaitu, pada daerah yang menepi dari garis tengah, agar jarum suntik tidak terkena kandung kemih dan tidak terlalu tinggi supaya tidak terkena penyuntikan pada hati. Intra peritoneal termasuk dalam pemberian obat parenteral. Pada rongga peritonerum mempunyai permukaan absorbs yang sangat luas sehingga obat dapat masuk kedalam sirkulasi sistemik secara cepat, untuk merangsang atau rusak oleh getah lambung atau tidak di reabsorbsi usus, pemberian parenteral ini sangat tepat. Tetapi kerugiannya adalah cara ini lebih mahal dan nyeri srta sukar dingunakan oleh pasien sendiri. Selain itu, ada pula bahaya terkena infeksi kuman (harus steril) dan bahaya merusak pembuluh atau syaraf jika tempat injeksi tidak di pilih dengan tepat.

Hasil pengamatan dipatkan efek obat berlansung cepat yaitu pada mencit 2 dan 3 sekitar 5 menit zat obat (luminal) mulai bekerja ditandai dengan perilaku mencit yang berubah menjadi kurang aktif dan sekitar waktu 10 menit mencit sudah mulai tidur. Hal ini di karenakan pada mencit diberikan obat secara intraperitoneal dimana obat langsung disuntikkan ke dalam rongga perut. Penyerapan cepat terjadi karena penyerapan langsung ke pembuluh darah usus yang memiliki luas permukaan besar maka respon dari luminal natrium. Sedangkan pada mencit 1 menunjukan efek yang berbeda, efek dapat terlihat setelah waktu kira kira 10 menit setelah pemberian , mencit berubah perilakunya menjadi kurang aktif. Hal ini mungkin disebabkan karena kondisi mencit itu sendiri atau kesalahan prosedural pada waktu pemberian / penyuntikan obat terjadi kesalahan (tidak sempurna) dan pada saat pengambilan larutan stok tidak didapati keseragaman dosis (tidak homogen) karena pada saat pengambilan juga larutan tidak diaduk. Menurut (Tanu,2007) juga dikatakan dariasi onset dan durasi dari tiap-tiap cara pemberian dapat disebabkan oleh beberapa hal, meliputi: Kondisi hewan uji dimana masing-masing hewan uji sangat bervariasi yang meliputi produksi enzim, berat badan dan luas dinding usus, serta proses absorbsi pada saluran cerna dan factor teknis yang meliputi ketetapan pada tempat penyuntikan dan banyaknya volume pemberian zat obat pada hewan uji.

1. 2.

3.

Rute pemberian obat mempengaruhi kecepatan efek farmakologis obat. Rute pemberian obat pada digolongkan menjadi 2 yaitu : a. Jalur Enternal : Melalui saluran gastrionestial (GI) yaitu melalui oral, Sublingual, bukal, dan rektal. b. Jalur parenteral : Tidak Melalui saluran (GI) yaitu transdermal (topikal), injeksi (IV,IP,IM), endrotakeal, dan Inhalasi. Pada rute pemberian intra peritonial didapat efek sistemik (karena obat masuk sistem ke dalam darah) yang cepat karena didalam rongga perut banyak pembuluh darah yang cepat mengabsorpsi obat.

Daftar pustaka.

Anief, Moh. 1990. Perjalanan dan Nasib Obat dalam Badan.Gajah Mada University Press : Yogyakarta Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia, Edisi IV. Departemen Kesehatan RI : Jakarta Katzung, bertram G. 1989. Farmakologi Dasar dan Klinik. Salemba Medika : Jakarta

TERIMA KASIH