Anda di halaman 1dari 168

DAFTAR ISI

PENGANTAR.................................................... BAB I. Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia ............................... BAB II. Penulisan Huruf, Kata, dan Tanda Baca ................................. BAB III. Analisis Kesalahan Kalimat ............................................... BAB IV. Paragraf dan Pengembangannya ........ BAB V. Topik dan Pembatasannya .................. BAB VI. Kerangka Karangan dan Pengembangannya BAB VII. Kutipan dan Daftar Pustaka BAB VIII.Tata Persuratan BAB IX. Penulisan Esail

PENGANTAR

Alhamdullillah, kami bersyukur kepada Allah SWT yang telah mengaruniakan rahmat dan petunjukNya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas menyusun materi Buku Ajar MPK Bahasa Indonesia ini. Tugas penyusunan materi ini sebenarnya sudah pernah dilakukan oleh sebuah tim yang ditunjuk oleh Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah FKIP Unsri sebelum mata kuliah Bahasa Indonesia dipusatkan di UPT MPK Universitas Sriwijaya. Akan tetapi, hasik kerja tim tersebut tidak dapat diterbitkan dalam bentuk buku karena berbagai kendala teknis. Alhamdulillah melalui Penataran dan Lokakarya selama dua hari yang dilaksanakan oleh UPT MPK Universitas Sriwijaya, gagasan penerbitan buku itu dapat direalisasikan oleh tim sembilan yang mengikuti penataran dan lokakarya tersebut. Pada kesempatan yang baik ini, tidak lupa kami sampaikan terima kasih kepada Bapak Mulyadi Eko Purnomo yang telah membantu mengoreksi materi dan penulisan modul ini. Selain itu, terima kasih kami sampaikan juga kepada Ketua MPK Universitas Sriwijaya, Bapak Achmad Burhan yang telah memfasilitasi tempat dan sarana dan prasarana sehingga buku ini dapat diterbitkan. Penyusun mengharapkan adanya masukan dan kritik dari pembaca, khususnya para pengampu MPK bahasa Indonesia yang menggunakan modul ini. Dengan demikian, modul ini dapat diperbaiki lagi. Agustus 2006 2

Penyusun

BAB I. SEJARAH PERKEMBANGAN BAHASA INDONESIA


Kompetensi Dasar Mahasiswa dapat mengetahui sejarah perkembangan bahasa Indonesia. Indikator 1) Mahasiswa dapat mengetahui perkembangan bahasa Indonesia 2) Mahasiswa dapat menerapkan Ejaan yang Disempurnakan (EYD) Materi Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia 1.1. Bahasa Melayu Dikukuhkan sebagai Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia bersumber dari bahasa Melayu. Bahasa Melayu yang digunakan sebagai sumber bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu Riau. Bahasa Melayu dikukuhkan sebagai bahasa persatuan diikrarkan pada peristiwa Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 di Jakarta. Untuk mengembangkan bahasa Indonesia, bahasa Indonesia menyerap kosa kata dari bahasa daerah maupun bahasa asing. Penyerapan itu dikarenakan dalam bahasa Indonesia tidak ada padanannya. Bahasa Melayu dikukuhkan sebagai bahasa Nasional pada tanggal 28 Oktober 1928 pada peristiwa Sumpah Pemuda

1.2. Kongres Bahasa Indonesia Dalam pembinaan bahasa Indonesia dilakukan adanya kongres bahasa Indonesia yang dilakukan pertama di Solo tahun 1938, kongres Bahasa Indonesia yang kedua di Medan tahun 1954, kongres bahasa Indonesia yang ketiga di Jakarta tahun l968, kongres bahasa Indonesia keempat tahun 1973 di Jakarta. Kongres Bahasa Indonesia yang kelima tahun 1978, kongres bahasa Indonesia yang keenam tahun 1983, kongres bahasa Indonesia yang ketujuh tahun 1993, kongres bahasa Indonesia yang kedelapan tahun 1998, dan kongres bahasa Indonesia yang kesembilan tahun 2003 di Jakarta. Pelaksanaan kongres Bahasa Indonesia dari tahun 1938 s.d. 2003 2 1.3. Ejaan Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia mengalami beberapa kali penerapan ejaan yaitu ejaan Van Opuysen 1902 sampai dengan 1947, Ejaan Soewandi (Ejaan Republik) tahun 1947 sampai dengan 1972, dan Ejaan yang Disempurnakan tahun 1972 sampai dengan sekarang. Ejaan Van Opuysen Ejaan Suwandi oe u j j tj tj dj dj nj nj EYD u y c j ny k

Pemberlakuan Ejaan Bahasa Indonesia Ejaan Van Opuysen (1902 1947), Republik (Soewandi) (19471972), dan EYD (1972sekarang) 4

1.4. Kedudukan Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa nasional, berfungsi sebagai (1) lambang kebanggaan nasional, (2) lambang jatidiri (identitas) nasional, (3) alat pemersatu berbagai masyarakat yang berbeda latar belakang sosial budaya dan bahasanya, dan (4) alat perhubungan antarbudaya antardaerah. Bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa negara, berfungsi sebagai (1) bahasa resmi negara, (2) bahasa pengantar resmi di lembaga-lembaga pendidikan, (3) bahasa resmi dalam perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintahan, dan (4) bahasa resmi di dalam pembangunan kebudayaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan serta teknologi. Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional dan sebagai bahasa negara 3 1.5. Kekuatan Hukum Bahasa Indonesia Pada tahun 1928 bahasa Melayu dikukuhkan sebagai bahasa Nasional dan pada tahun 1945 secara konstitusional dikukuhkan sebagai bahasa negara tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945 Bab XV pasal 36. Untuk pembinaan bahasa Indonesia sejalan dengan ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) tahun 1966 yaitu Meningkatkan penggunaan bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu yang ampuh. Upaya pembinaan bahasa nasional juga dirumuskan dalam ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) tahun 1983 yaitu 5

Pembinaan dan Pengembangan bahasa Indonesia dilaksanakan dengan mewajibkan penggunaan secara baik dan benar (MPR 1978 dan 983 Butir 3, bidang Kebudayaan). Selain itu dalam ketetapan MPR no 983 tahun 1978 dinyatakan, Pendidikan dan pengajaran bahasa Indonesia perlu makin ditingkatkan dan diperluas sehingga mencakup semua lembaga pendidikan dan menjangkau masyarakat luas. Dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara tahun 1988 diarahkan bahwa usaha pembinaan bahasa Indonesia akan ditingkatkan melalui jalur pendidikan formal dan non formal. Maka dari itu, pemerintah akan meningkatkan usaha pemasyarakatan Pedoman Ejaan Yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah. Selain itu akan meningkatkan kemampuan dan keterampilan berbahasa Indonesia yang baik dan benar di kalangan petugas pemerintah, khususnya yang berhubungan dengan masyarakat (GBHN: Bab 21). Kekuatan hukum bahasa Indonesia adalah dalam UUD 1945 Bab XV pasal 36 dan keketapan MPRS, MPR

1.6. Slogan Pembinaan Bahasa Indonesia Pencanangan slogan gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam upaya pembinaan bahasa Indonesia mendapat tanggapan yang positif dari warga Indonesia. Slogan tersebut berisi anjuran kepada masyarakat untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik sesuai dengan lingkungan dan keadaan yang dihadapi dan benar sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.

Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar

DAFTAR PUSTAKA :

Arifin, E Zaenal, dan S. Amran Tasai. 1999. Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Penerbit Akademika Pressindo. Halim, Amran. Editor. 1976a. Politik Bahasa Nasional. Jilid 2. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Halim, Amran. 1982. Pembinaan Bahasa Indonesia. Makalah dalam Pertemuan Bahasa dan Sastra. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Saadie, Mamur, H.M. Idris Suryana, dan Eddy Sapardi.1997/1998. Bahasa Bantu. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Bagian Proyek Penataran Guru SLTP Setara DIII Widagdho, Djoko. 1997. Bahasa Indonesia : Pengantar Kemahiran bahasa di Perguruan Tinggi. Jakarta: Manajemen PT Raja Grafindo Persada. Tugas dan Latihan a. Jelaskan kapan bahasa Melayu dikukuhkan sebagai bahasa nasional ! Jawab:

5 b. Jelaskan kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara dan sebagai bahasa nasional ! Jawab:

c. Jelaskan berapa kali perubahan Ejaan dan ejaan apa saja yang digunakan dalam ejaan bahasa Indonesia dan berikan contoh ejaan tersebut! Jawab:

6 d. Jelaskan kekuatan hukum yang menyangkut kedudukan, pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia! Jawab: e. Jelaskan Slogan dalam Pembinaan dan Pengembangan Bahasa dan berikan contohnya! Jawab:

BAB II. PENULISAN HURUF, KATA, DAN TANDA BACA


Kompetensi Dasar Mahasiswa dapat menuliskan huruf, kata, dan tanda baca dengan benar, sesuai dengan kaidah ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan sehingga dapat menyampaikan gagasannya dengan benar pula dalam memperlancar tugas-tugas perkuliahannya. Indikator 1) Mahasiswa dapat menerapkan penggunaan huruf kapital dan huruf miring dalam sebuah kalimat. 2) Mahasiswa dapat membedakan penggunaan kata yang dirangkaikan dan yang dipisahkan dalam sebuah kalimat. 3) Mahasiswa dapat menggunakan tanda baca dengan benar dalam sebuah kalimat. Materi Penulisan Huruf Dalam ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, penulisan huruf menyangkut dua masalah, yaitu (1) penulisan huruf besar atau huruf kapital dan (2) penulisan huruf miring. 1. Penulisan Huruf Besar atau Huruf Kapital Penulisan huruf kapital yang kita jumpai dalam tulisan-tulisan resmi kadang-kadang menyimpang dari kaidah-kaidah yang berlaku. Kaidah penulisan huruf kapital itu adalah sebagai berikut. 10

a. Huruf besar atau kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam kalimat yang berupa petikan langsung. Misalnya : 1) Adik bertanya, Kapan kita pulang ? 2) Kemarin Engkau terlambat, katanya. 3) Pak Guru menasihatkan ,Rajin-rajinlah belajar agar lulus dalam ujian. 4) Menko Perekonomian menyatakan,Perekonomian dunia kini belum sepenuhnya lepas dari cengkeraman resesi dunia. 5) Archimedes berkata, Setiap benda yang dimasukkan ke dalam zat cair akan mendapat tekanan ke atas sehingga beratnya berkurang seberat zat cair yang dipindahkannya. Dalam karya ilmiah, khususnya dalam ucapan terima kasih, contohnya. Selain itu, penulis juga mengucapkan terima kasih kepada abah yang selalu memompa semangat penulis dengan ucapan, Mengapa orang bisa, kita tidak?. Catatan: Tanda baca sebelum tanda petik awal adalah tanda koma (,), bukan titik dua (:). Tanda baca akhir (tanda titik, tanda seru, dan tanda tanya) dibubuhkan sebelum tanda petik penutup. b. Huruf besar atau kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan hal-hal keagamaan, kitab suci, dan nama Tuhan, termasuk kata ganti-Nya. Huruf pertama pada kata ganti ku, mu, dan nya, sebagai kata ganti Tuhan, harus dituliskan 11

dengan huruf kapital, dirangkaikan dengan tanda hubung (-). Hal-hal keagamaan itu hanya terbatas pada nama diri, sedangkan kata-kata yang menunjukkan nama jenis, seperti jin, iblis, surga, malaikat, mahsyar, zakat, dan puasa meskipun bertalian dengan keagamaan tidak diawali dengan huruf kapital. Misalnya: 1) Limpahkanlah rahmat-Mu, ya Allah. 2) Dalam Alquran terdapat ayat-ayat yang menganjurkan agar manusia berakhlak terpuji. Kata-kata keagamaan lainnya yang harus ditulis dengan huruf kapital adalah nama agama dan kitab suci, seperti Islam, Kristen, Hindu, Budha, Injil, dan Weda. c. Huruf besar atau kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar (kehormatan, keturunan, agama), jabatan, dan pangkat yang diikuti nama orang. Akan tetapi, jika di dalam rangkaian tulisan itu sudah ditafsirkan bahwa penyebutan yang tanpa nama mengacu kepada orangnya, gelar atau jabatan itu harus menggunakan huruf kapital. Misalnya: 1) Pergerakan itu dipimpin oleh Haji Agus Salim. 2) Nabi Ismail adalah anak Nabi Ibrahim alaihissalam. Jika tidak diikuti oleh nama orang, gelar, jabatan, dan pangkat itu harus dituliskan dengan huruf kecil. Misalnya: 1) Calon jemaah haji Sumsel tahun ini berjumlah 525 orang. 12

2) Seorang presiden akan diperhatikan oleh rakyatnya. Akan tetapi, jika mengacu kepada orang tertentu, nama gelar, jabatan, dan pangkat itu dituliskan dengan huruf kapital. Misalnya: 1) Pagi ini Menteri Perdagangan terbang ke Nusa Penida. Di Nusa Penida Menteri meresmikan sebuah kolam renang. Pada sore hari beliau kembali ke Jakarta. d. Kata-kata van, den, da, de, di, bin, dan ibnu yang digunakan sebagai nama orang, tetap ditulis dengan huruf kecil, kecuali kata-kata itu terletak pada awal kalimat. Misalnya: 1) Tanam Paksa di Indonesia diselenggarakan oleh Van den Bosch. 2) Perdagangan rempah-rempah itu dipimpin oleh Mursid bin Hatim. e. Huruf besar atau huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa. Misalnya: 1) Dalam bahasa Sunda terdapat kata lahan. 2) Kita bangsa Indonesia, harus bertekad untuk menyukseskan pembangunan. Seperti contoh di atas, kata bangsa dan bahasa tetap dituliskan dengan huruf awal kecil. Akan tetapi, jika nama bangsa, suku, dan bahasa itu sudah diberi awalan dan akhiran sekaligus, ia harus ditulis dengan huruf kecil. Misalnya: Lafal ucapannya masih menampakkan kesunda-sundaan. 13

Demikian juga, kalau tidak membawa nama suku, nama itu harus dituliskan dengan huruf kecil. Misalnya: petai cina, jeruk bali, dodol garut. f. Huruf besar atau huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah. Misalnya: Pada bulan Agustus terdapat hari yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia. g. Huruf besar atau kapital dipakai sebagai huruf pertama nama khas geografi. Misalnya: Salah satu daerah pariwisata di Sumatera adalah Danau Toba. Akan tetapi, jika tidak menunjukkan nama khas geografi, kata-kata seperti selat, teluk, terusan, gunung, kali, danau, dan bukit ditulis dengan huruf kecil. Misalnya: Nelayan itu berlayar sampai ke teluk. h. Huruf besar atau kapital dipakai sebagai huruf pertama nama resmi badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi. Misalnya: Program Orang Tua Asuh dikampanyekan oleh Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia. Akan tetapi, jika tidak menunjukkan nama resmi, kata-kata seperti itu ditulis dengan huruf kecil. Misalnya: 14

Menurut undang-undang dasar kita, semua warga negara mempunyai kedudukan yang sama. i. Huruf besar atau huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan, kecuali kata partikel seperti: di, ke, dari, untuk, dan yang, yang tidak terletak pada posisi awal. Misalnya: Idrus mengarang buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma. Huruf besar atau huruf kapital dipakai dalam singkatan nama gelar dan sapaan, kecuali gelar dokter. Misalnya: Proyek itu dipimpin oleh Dra. Jasika Murni. Catatan: Ada perbedaan antara gelar Dr. dan dr. (doktor dituliskan dengan D kapital dan r kecil jadi Dr., sedangkan dokter, yang memeriksa penyakit dan mengobati orang sakit, singkatannya ditulis dengan d dan r kecil, jadi dr). k. Huruf besar atau huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan, seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman yang dipakai sebagai kata ganti atau sapaan. Kata Anda juga diawali huruf kapital. Misalnya: Surat Saudara sudah saya terima. 15

j.

Samsi bertanya kepada ibunya, Pagi tadi Ibu menjemput siapa di pelabuhan?. Akan tetapi, jika tidak dipakai sebagai kata ganti atau sapaan, kata penunjuk hubungan kekerabatan itu ditulis dengan huruf kecil. Misalnya: Kita harus menghormati ibu kita dan bapak kita. 2. Penulisan Huruf Miring a. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam karangan. Dalam tulisan tangan atau ketikan, kata yang harus ditulis dengan huruf miring ditandai oleh garis bawah satu. Misalnya: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa menerbitkan majalah Bahasa dan Kesusastraan. Catatan: Garis bawah satu, sebagai tanda kata yang dicetak miring, harus terputus-putus, kata demi kata. b. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, atau kelompok kata. Misalnya: Bab ini tidak membicarakan penulisan huruf besar. c. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata nama-nama ilmiah atau ungkapan bahasa asing atau bahasa daerah, kecuali yang sudah disesuaikan ejaannya. Misalnya: Apakah tidak sebaiknya kita menggunakan kata penataran untuk kata upgrading? Catatan: Dalam tulisan tangan atau ketikan, huruf atau kata yang akan dicetak miring diberi satu garis di 16

bawahnya. Sebenarnya, banyak penulisan huruf miring yang lain ataupun penandaan suatu maksud dengan memakai bentuk huruf tertentu (ditebalkan dan sebagainya). Akan tetapi, soal itu lebih menyangkut masalah tipografi pencetakan. B. Penulisan Kata a. Kita mengenal bentuk kata dasar, kata turunan atau kata berimbuhan, kata ulang, dan gabungan kata. Kata dasar ditulis sebagai satu satuan yang berdiri sendiri, sedangkan pada kata turunan, imbuhan (awalan, sisipan, atau akhiran) dituliskan serangkai dengan kata dasarnya. Kalau gabungan kata, hanya mendapat awalan atau akhiran saja, awalan atau akhiran itu dituliskan serangkai dengan kata yang bersangkutan saja. Misalnya: Bentuk Tidak Baku Bentuk Baku beritahukan beri tahukan memberitahu memberi tahu Kalau gabungan kata sekaligus mendapat awalan dan akhiran, bentuk kata turunannya itu harus dituliskan serangkai. Misalnya: Bentuk Tidak Baku Bentuk Baku menghancur leburkan menghancurleburkan pemberi tahuan pemberitahuan dianak-tirikan dianaktirikan menguji-cobakan mengujicobakan b. Kata ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung. Pemakaian angka dua untuk menyatakan bentuk perulangan, hendaknya dibatasi pada tulisan cepat atau 17

pencatatan saja. Pada tulisan yang memerlukan keresmian, kata ulang ditulis secara lengkap. c. Gabungan kata, termasuk yang lazim disebut kata majemuk, bagian-bagiannya ditulis terpisah. Misalnya: Bentuk Tidak Baku ibukota tatabahasa kerjasama lokakarya dutabesar sepakbola d. Bentuk Baku ibu kota tata bahasa kerja sama loka karya duta besar sepak bola

Gabungan kata yang sudah dianggap sebagai satu kata ditulis serangkai. Misalnya: Bentuk Tidak Baku mana kala sekali gus bila mana dari pada apa bila pada hal barang kali mata hari hulu balang bagai mana sapu tangan Bentuk Baku manakala sekaligus bilamana daripada apabila padahal barangkali matahari hulubalang bagaimana saputangan

e.

Kalau salah satu unsurnya tidak dapat berdiri sendiri sebagai suatu kata yang mengandung arti

18

penuh, hanya muncul dalam kombinasi, haruslah dituliskan serangkai dengan unsur lainnya. Misalnya: Bentuk Tidak Baku a moral antar warga antar pulau catur tunggal dasa darma dwi warna ekstra kurikuler maha siswa kontra revolusi purna bakti purna wirawan sapta krida sub bagian sub sistem tuna netra tuna rungu pasca sarjana poli gami poli teknik non formal non muslim non RRC non Indonesia peri bahasa peri laku perikemanusiaan perikeadilan f. Bentuk Baku amoral antarwarga antarpulau caturtunggal dasadarma dwiwarna ekstrakurikuler mahasiswa kontrarevolusi purnabakti purnawirawan saptakrida subbagian subsistem tunanetra tunarungu pascasarjana poligami politeknik nonformal nonmuslim non-RRC non-Indonesia peribahasa perilaku peri kemanusaiaan peri keadilan

Penulisan ku, kau, mu, dan nya: Misalnya: 19

Sepatuku, kauambil g.

sepatumu,

dan

sepatunya

boleh

Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali jika berupa gabungan kata yang sudah padu benar seperti kepada dan daripada. Misalnya: 1) Ia terpaksa diungsikan di tempat yang aman ketika terjadi gempa bumi. 2) Saya akan pergi ke Jakarta untuk menghadiri wisuda adik bungsu saya. 3) Surat pemberitahuan pengunduran diri itu sudah saya sampaikan kepada Dekan. 4) Lebih baik menjadi raja di negeri sendiri daripada menjadi buruh di negeri orang. Partikel pun dipisahkan dari kata yang mendahuluinya karena pun sudah hampir seperti kata lepas. Misalnya: 1) Jika saya berangkat, ia pun ingin berangkat. 2) Siapa pun yang terpilih harus kita dukung. 3) Tidak satu pun orang rela diperkosa haknya. Akan tetapi, kelompok kata berikut ini, yang sudah dianggap padu benar, ditulis serangkai. Jumlah kata seperti itu terbatas, hanya dua belas kata, yaitu adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun (yang berarti walaupun), sungguhpun, dan walaupun. Misalnya: 1) Sekalipun rumah kami berdekatan, tak sekali pun kami bertegur sapa. 2) Bagaimanapun juga akan dicobanya mengemban amanat berat itu. 20

h.

3)

Walaupun tidak mempunyai uang, ia tetap gembira. 4) Kendatipun hari hujan, ia tetap berangkat menuju tempatnya bekerja. 5) Biarpun banyak rintangan, mereka tetap menikah sesuai dengan rencana. i. Partikel per yang berarti 'mulai', 'demi', atau 'tiap' ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendampinginya. Misalnya: 1) Harga kain itu Rp10.000,00 per meter. 2) Saya diangkat menjadi pegawai negeri per Oktober 1987. 3) Calon kepala dan wakil kepala sekolah itu dipanggil satu per satu. Angka lazim dipakai untuk menandai nomor jalan, rumah, apartemen, atau kamar pada alamat dan digunakan juga menomori karangan atau bagianbagian karangan. Misalnya: Hotel Swarna Dwipa, Kamar 13 Bab XV, Pasal 26 Surat Ali Imron, Ayat 12 Penulisan kata bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut. 1) Abad XX ini dikenal juga dengan abad teknologi. 2) Abad ke-20 ini ditandai dengan banyaknya jumlah perempuan daripada laki-laki. 3) Abad kedua puluh ini diwarnai dengan adanya perang saudara.

j.

k.

21

l.

Penulisan kata bilangan yang mendapat akhiran -an mengikuti cara berikut. 1) A. A. Navis adalah pujangga angkatan 60-an. 2) Saya menukar uang dengan lembaran 1.000an. 3) Meskipun keluaran tahun 80-an, mesin mobil ini masih bagus. Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf, kecuali jika beberapa lambing dipakai secara berurutan, seperti dalam perincian atau pemaparan. 1) Dia sudah memesan dua ratus batang bibit kayu jati. 2) Ada sekitar seribu calon mahasiswa yang tidak diterima di Unsri. 3) Sriwijaya Post memberitakan 70 perkara yang terdiri atas 20 perkara pencurian, 25 perkara tanah, dan 25 perkara kawin cerai. Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu susunan kalimat diubah sehingga yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata tidak terdapat lagi pada awal kalimat. 1) Dua belas orang menderita luka berat dalam kecelakaan itu. 2) Sebanyak 150 orang tamu tamu diundang dalam reoni Unsri itu. 3) Sedikitnya 250 orang meninggal dalam serangan Israel ke Lebanon Selatan. Kecuali di dalam dokumen resmi, seperti akta dan kuitansi, bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus. Contoh berikut salah: 22

m.

n.

o.

1) Jumlah pegawai di perusahaan itu 12 (dua belas) orang. 2) Di perpustakaan kami terdapat 100 (seratus) judul buku. 3) Sebanyak 350 (tiga ratus lima puluh) orang perserta mengikuti lomba itu. C. Pemakaian Tanda Baca 1. Tanda Titik a. Tanda titik dipakai pada akhir singkatan nama orang Misalnya 1) W. S. Rendra 2) Abdul Hadi W. M. 3) Endang S. b. Tanda titik dipakai pada singkatan gelar, jabatan, pangkat, dan sapaan. Misalnya: Prof. Dr. Ir. H. Ahmad Munif, M.Sc.Ed. Sdr. Abdullah Ahmad Nawawi Kol. Burlian c. Tanda titik dipakai pada singkatan kata atau ungkapan yang sudah umum, yang ditulis dengan huruf kecil. Singkatan yang terdiri atas dua huruf diberi dua titik, sedangkan singkatan yang terdiri atas tiga huruf atau lebih hanya diberi satu tanda titik. Misalnya: 1) s.d. (sampai dengan) 2) a.n. (atas nama) 3) d.a. (dengan alamat) 4) u.p. (untuk perhatian) 5) dkk. (dan kawan-kawan) 6) dst. (dan seterusnya)

23

d.

Tanda titik dugunakan pada angka yang menyatakan jumlah, untuk memisahkan ribuan, jutaan, dst. Misalnya: 1) Tebal buku itu 1.250 halaman. 2) Minyak tanah 2.500 liter tumpah. 3) Jarak dari desa ke kota 30.000 meter. 4) NIP 131694732 5) Dia membuka buku halaman 1250.

e. Tanda titik tidak digunakan pada singkatan yang terdiri atas huruf-huruf awal kata atau suku kata dan pada singkatan yang dieja seperti kata (akronim). Misalnya: 1) DPR 2) SMA Negeri 1 Palembang 3) Sekjen Depdagri 4) tilang f. Tanda titik tidak dipakai di belakang singkatan lambang kimia, satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang. Misalnya: 1) Harga kertas kuarto itu Rp30.000,00 per pak. 2) Cu adalah lambang kuprum. 3) Seorang pialang membeli 10 kg emas batangan. g. Tanda titik tidak digunakan di belakang judul yang merupakan kepala karangan, kepala ilustrasi tabel, dan sebagainya. Misalnya: 1) Acara Orientasi Mahasiswa 24

2) 1.1 Latar Belakang 3) Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma h. Tanda titik tidak digunakan di belakang alamat pengirim dan tanggal surat dan di belakang nama dan alamat penerima surat. Misalnya: 1) Jalan Seduduk Putih I RT 18 Nomor 4 Palembang 2) Palembang, 29 Agustus 2006 3) Yth. Sdr. Eduwar Jaya Kesuma Jalan R. Soeprapto 13 Palembang 2. Tanda Koma a. Tanda koma harus digunakan di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan. Jika perincian itu hanya terdiri dari dua unsur, sebelum kata dan tidak perlu dibubuhi tanda koma. Misalnya: 1) Alat tulis yang digunakan dalam kegiatan itu adalah pena, kertas, dan tinta. 2) Satu, dua, . tiga. 3) Kegiatan itu hanya membutuhkan tenaga dan pikiran. b. Tanda koma harus digunakan untuk memisahkan kalimat setara yang satu dengan kalimat setara yang lain yang didahului oleh kata tetapi, melainkan, dan sedangkan. Misalnya: 1) Dia bukan mahasiswa Unsri, melainkan mahasiswa Unpal. 2) Saya bersedia membantu, tetapi Anda harus berusaha lebih dahulu. 25

3) Ia mempunyai seperangkat komputer, sedangkan temannya mempunyai kemampuan mengoperasikannya. c. Tanda koma harus digunakan untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut mendahului induknya. Jika anak kalimat tersebut mengikuti induknya, tanda koma tidak digunakan. Biasanya anak kalimat didahului oleh kata penghubung seperti: bahwa, karena, agar, sehingga, walaupun, apabila, jika, meskipun, dan sebagainya. Misalnya: 1) Karena sibuk, ia lupa makan. 2) Ia lupa makan karena sibuk. 3) Apabila belajar sungguh-sungguh, ia akan berhasil. 4) Ia akan berhasil apabila belajar sungguhsungguh. 5) Jika tidak hujan, saya akan berangkat. 6) Saya akan berangkat jika tidak hujan. d. Tanda koma harus digunakan di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi, namun, meskipun demikian, dalam hubungan itu, sementara itu, sehubungan dengan itu, dalam pada itu, oleh sebab itu, sebaliknya, selanjutnya, pertama, kedua, misalnya, sebenarnya, selain itu, kalau begitu, kemudian, malah, dan sebagainya. Misalnya: 1) Oleh karena itu, kita harus menghormati pendapat orang lain. 26

2) Jadi, hak-hak sipil di Indonesia belum sepenuhnya dilindungi. 3) Namun, kita harus tetap waspada. e. Tanda koma harus digunakan di belakang kata-kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan, yang terdapat pada awal kalimat. Misalnya: 1) O, kalau begitu saya setuju. 2) Ya, Anda boleh mencobanya lebih dahulu. 3) Wah, selamat Anda sukses mengelola kegitan itu. f. Tanda koma digunakan untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat. Misalnya: 1) "Saya sedih sekali," kata paman, "karena kamu tidak lulus". 2) Kata petugas LLAJ itu, "Anda telah melanggar Perda No. 18 tahun 2002". 3) "Kami akan mengusut masalah ini sampai tuntas," kata polisi itu. Tanda koma digunakan untuk memisahkan (1) nama dan alamat, (2) bagian-bagian alamat, (3) tempat dan tanggal, dan (4) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan. Misalnya: 1) Keponakan saya kuliah di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas PGRI Palembang, Jalan Gotong Royong, 9 Ulu, Palembang. 27

g.

2) Abdan Syakuron, Jalan Musyawarah, Griya Mitra 2 Tahap 4 Blok B No. 007, Bukit Lama, Palembang, Sumatera Selatan 3) Palembang, 30 Agustus 2006 h. Tanda koma digunakan untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka. Misalnya: 1) Nurgiantoro, Burhan. 2002. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 2) Mukmin, Suhardi. 2005. Transformasi Akhlak dalam Sastra: Kajian Semiotika Robohnya Surau Kami. Palembang: Penerbit Universitas Sriwijaya. 3) Mukmin, Suhardi (Ed.). 2006. Puspa Ragam Bahasa dan Sastra: Seuntai Tulisan untuk Drs. H. Zainal Abidin Gaffar. Palembang: Penerbit Universitas Sriwijaya. Tanda koma digunakan di antara nama orang dengan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dengan singkatan nama keluarga atau marga. Misalnya: 1) Agus Saripudin, M.Ed. 2) Izzah, S.Pd., M.Pd. 3) Surip Suwandi, M.Hum. Tanda koma digunakan untuk mengapit keterangan tambahan. Misalnya: 1) Seorang dosen, yang cantik itu, disenangi mahasiwa. 28

i.

j.

2) Di Program Studi Bahasa Indonesia, misalnya, masih ada mahasiswa yang mengeluhkan nilai akhir semester. 3) Pada tahun ini, kalau saya tidak salah, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni memperoleh PHK A2. 3. Tanda Titik Koma Tanda tidik koma dapat dipakai untuk memisahkan kalimat setara di dalam suatu kalimat majemuk sebagai pengganti kata penghubung. Misalnya: Para pemikir mengatur strategi yang harus ditempuh; para pelaksana melakukan tugas sebikbaiknya; para penyandang dana menyediakan biaya yang diperlukan.

4. Tanda Titik Dua a. Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap bila diikuti rangkaian atau pemerian. Misalnya: Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, FKIP, Universitas Sriwijaya mempunyai dua program studi: Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah dan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. b. Tanda titik dua tidak dipakai jika rangkaian atau pemerian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan. Misalnya: Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, FKIP, Universitas Sriwijaya mempunyai Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah dan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. 29

5. Tanda Hubung a. Tanda hubung dapat digunakan untuk memperjelas hubungan bagian-bagian ungkapan. Misalnya: 1) mesin-potong tangan (mesin potong yang digunakan dengan tangan) 2) mesin potong-tangan (mesin khusus untuk memotong tangan) b. Tanda hubung digunakan untuk merangkaikan (1) se- dengan kata berikutnya yang didahului dengan huruf kapital, (2) ke- dengan angka, (3) angka dengan an, dan (4) singkatan huruf kapital dengan imbuhan atau kata. Misalnya: 1) Lomba baca puisi itu diikuti oleh murid SD se-Sumatera Selatan. 2) Rakyat sekarang sudah mulai sadar berKTP. 3) Siapa sesungguhnya dalang G-30-S PKI itu? 6. Tanda Pisah Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan khusus di luar bangun kalimat, menjelaskan adanya aposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas, dan dipakai di antara dua bilangan atau tanggal yang berarti 'sampai dengan' atau di antara dua nama kota yang berarti 'ke' atau 'sampai'. Misalnya: 1) Buku itumenurut hemat sayaakan terbit dalam waktu dekat ini. 2) Universitas Sriwijaya berada di Jalan Raya PalembangPrabumulih km 32. 30

3) Acara itu berlangsung tanggal September 2006 di Indralaya.

12

7. Tanda Petik Tanda petik digunakan untuk mengapit petikan langsung, judul syair, karangan, istilah yang mempunyai arti khusus atau kurang dikenal. Misalnya: 1) Ia memakai celana "cutbrai". 2) Sajak "Aku" karya Chairil Anwar itu telah mendunia. 8. Tanda Petik Tunggal Tanda petik tunggal mengapit terjemahan atau penjelasan kata atau ungkapan bahasa daerah atau asing. Misalnya: Ia berjaga-jaga pada malam lailatul qodar 'malam bernilai' itu. DAFTAR PUSTAKA Arifin, E. Zainal dan S. Amran Tasai. 2004. Cermat Berbahasa Indonesia. Yogyakarta: NSP. Arifin, E. Zainal dan Farid Hadi. 2000. 1001 Kesalahan Berbahasa. Jakarta: CV Akademika Pressindo. Arifin E. Zainal. 2000. Berbahasa Indonesia dengan Benar. Yogyakarta: NSP. Supadmo dan Muhammad Yunus. 2002. Keterampilan Dasar Menulis. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka. 31

Tugas dan Latihan Latihan: Tulislah kembali kalimat berikut dengan benar! 1. buku itu dikarang oleh prof dr ir h m iskandar msc

2. terlambat melakukan sesuatu lebih baik dari pada tidak sama sekali

3. korban banjir itu menerima dua kg. beras dua m. kain dan dua l. minyak tanah

4. sekalipun rumah berdekatan kami tidak sekalipun saling mengunjungi

5. cerpen terkenal yang dikarang a a navis berjudul robohnya surau kami

6. banyak pejabat-pejabat yang dimutasikan mem PTUN kan atasannya

32

7. harga formulir caleg parpol itu rp. 10000000 perlembar

8. indonesia dan filipina telah menandatangani perjanjian non agresi

9. apa kabar paman? tanyaku ketika itu

10. beliau menjawab paman akan segera menikah

11. pak ali dosen kami akan segera menikah

12. 300 ekor ayam potong di musnahkan karena terjangkit flu burung

13. mahasiswa yang sedang mengikuti ujian tidak boleh melihat kekiri 33

14. parpol sekarang didominasi oleh mahasiswa tahun 80 an

15. pada hal banyak gadis-gadis lain yang memujanya

16. jadi persoalannya tidak semudah itu

17. kita harus menghindari kesimpang siuran berita

18. mahasiswa unsri berpeluang besar untuk bekerja di p.t. aman sejahtera

34

19. pasien itu terpaksa di rumah sakitkan karena terjangkit penyakit menular

20. perahu itu sudah 2 hari terdampar disungai sekanak

21. penyusun undang undang dasar 1945 mengamanatkan agar kekayaan negara dimanfaatkan sebanyak banyaknya untuk kepentingan rakyat

22. kongres bahasa indonesia ke VII di jakarta berlangsung dengan tertib

35

23. surat itu dialamatkan kepada simatupang mahasiswa unsri jalan raya palembang prabumulih indralaya ogan ilir sum-sel

24. kita bersyukur atas rahmatnya berupa hujan yang datang secara tiba-tiba

25. walau pun soal ini sulit kami harus menyelesaikannya dengan benar

36

Tugas: 1. Klipinglah sebuah berita di dalam surat kabar terbitan Palembang!

37

2. Kemukakanlah kesalahan penulisan huruf, kata, dan tanda bacanya!

3. Buatlah perbaikannya!

38

KUNCI JAWABAN
1. Buku itu dikarang oleh Prof. Dr. Ir. H. M. Iskandar, M.Sc. 2. Terlambat melakukan sesuatu lebih baik daripada tidak sama sekali. 3. Korban banjir itu menerima 2 kg beras, 2 m kain dan 2 l minyak tanah. 4. Sekalipun rumah berdekatan, kami tidak sekali pun saling mengunjungi. 5. Cerpen terkenal yang dikarang A. A. Navis berjudul Robohnya Surau Kami. 6. Banyak pejabat yang dimutasikan mem-PTUN-kan atasannya. 7. Harga formulir caleg parpol itu Rp10.000.000,00 per lembar. 8. Indonesia dan Filipina telah menandatangani perjanjian nonagresi. 9. "Apa kabar paman?" tanyaku ketika itu. 10. Beliau menjawab, "Paman akan segera menikah." 11. Pak Ali, dosen kami, akan segera menikah. 12. Tiga ratus ekor ayam potong dimusnahkan karena terjangkit flu burung. 13. Mahasiswa yang sedang mengikuti ujian tidak boleh melihat ke kiri. 14. Parpol sekarang didominasi oleh mahasiswa tahun 80-an. 15. Padahal banyak gadis lain yang memujanya. 16. Jadi, persoalannya tidak semudah itu. 17. Kita harus menghindari kesimpangsiuran berita. 18. Mahasiswa Unsri berpeluang besar untuk bekerja di PT Aman Sejahtera. 19. Pasien itu terpaksa dirumahsakitkan karena terjangkit penyakit menular.

39

20. Perahu itu sudah dua hari terdampar di Sungai Sekanak. 21. Penyusun Undang-Undang Dasar 1945 mengamanatkan agar kekayaan negara dimanfaatkan sebanyak-banyaknya untuk kepentingan rakyat. 22. Kongres Bahasa Indonesia ke VII di Jakarta berlangsung dengan tertib. 23. Surat itu dialamatkan kepada Simatupang, mahasiswa Unsri, Jalan Raya Palembang Prabumulih, Insralaya, Ogan Ilir, Sumatera Selatan. 24. Kita bersyukur atas rahmat-Nya berupa hujan yang datang secara tiba-tiba. 25. Walaupun soal ini sulit, kami harus menyelesaikannya dengan benar.

40

BAB III. ANALISIS KESALAHAN KALIMAT


Kompetensi Dasar Mahasiswa dapat menyusun kalimat bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Indikator Mahasiswa dapat menerapkan struktur kalimat bahasa Indonesia dalam ragam formal. Materi 1. Struktur Kalimat 1.1. Pola Struktur Bahasa Indonesia Ketika calon penutur ingin menyampaikan pesan melalui suatu kalimat, maka penutur harus mampu mengidentifikasikan apakah kalimat yang disusunnya sudah memenuhi syarat pola struktur kalimat bahasa Indonesia: ( S - P ), ( S - P - O ), atau ( S - P - O - K ). Pesan atau informasi yang disampaikan tidak banyak membantu mengetahui apakah kalimat tersebut sudah memenuhi pola kalimat baku. 1.2. Kalimat yang Berpola Struktur ( S - P ) Apabila suatu pernyataan terdiri lebih dari satu kelompok, berarti pernyataan tersebut telah memiliki lebih dari satu fungsi. Setiap kelompok akan menduduki satu fungsi yang kemudian di antara kelompok atau fungsi tersebut memungkinkan untuk dipermutasikan, sedangkan pernyataan yang hanya terdiri dari satu kelompok tidak bisa dipermutasikan karena distribusinya yang tetap. Contoh berikut akan memperjelasnya. 41

1a. Saya menangis S P 1b. Dia mahasiswa S P


1c. Yang bertandatangan di bawah ini dosen FKIP Satu kelompok Satu kelompok 1 2 S P

Kalimat 1a, 1b, 1c, bisa dipermutasikan menjadi kalimat 2a, 2b, 2c.

2a.

Menangis saya P S

2b.

Mahasiswa dia P S Satu kelompok 1


P

2c. Saya dosen FKIP yang bertandatangan di bawah ini

Satu kelompok 2
S

3a. Kebun percobaan jurusan Biologi FKIP Satu kelompok Pernyataan 3a merupakan pernyataan satu kelompok karena tidak mungkin dipermutasikan, sehingga kejanggalan itu akan terlihat pada pernyataan 3b, 3c. 3b. Jurusan Biologi FKIP kebun percobaan 3c. FKIP kebun percobaan jurusan Biologi

42

1.3. Pernyataan yang Hanya Terdiri dari Satu Fungsi Pola struktur kalimat ragam formal, minimal memiliki unsur S - P atau P - S. Pernyataan yang masih berupa frase dapat juga dikenali melalui intonasi. Frase berintonasi datar dan tidak ada jeda perhentian diantara frase itu sendiri, dari suku pertama sampai suku terakhir berintonasi 2. Hanya suku kedua dari belakang berintonasi 3. Lihat contoh berikut: 1a. Tuti yang memakai ba ju biru i tu 22 2 2 2 2 2 23 2

Intonasi 1a adalah intonasi frase berbeda dengan intonasi pada kalimat 1b yang berpola S - P: 1b. Yang berbaju merah itu / Tuti 2 2 2 2 2 2 32 3 1 1.4. Kalimat yang Berverba Transitif Kalimat yang berpola struktur S P - O - (K) dalam bahasa Indonesia ditandai oleh kehadiran objek yang diisyaratkan oleh verba transitif pengisi predikat. Contoh: Tuti membawa payung S P Verba transitif 43 O Kita akan menggunakan preposisi tertentu

1.5. Preposisi dalam Bahasa Indonesia Preposisi dalam bahasa Indonesia jumlahnya cukup banyak dan frekuensi pemakaiannya pun cukup tinggi. Kesalahan pemakaian preposisi tampaknya cukup banyak. Ketidakpahaman tentang preposisi merupakan faktor utama terjadinya kesalahan. 1.6. Preposisi sebagai Penanda Frase Eksosentrik Preposisi sebagai penanda frase eksosentrik berarti kehadirannya selalu bervalensi dengan unsurnya, dengan kata lain kehadirannya wajib, tidak bersifat mana suka, dan letaknya selalu di awal frase. Lihat contoh: 1a. Ia marah terhadap saya 2a. Melalui surat ini kami sampaikan salam sejahtera terhadap pada kalimat 1a adalah preposisi yang tidak bisa dihilangkan sehingga bisa dikatakan kehadirannya wajib, demikian juga kata melalui. Lihat kalimat 1b di bawah menjadi tidak berterima; 0 1b. Ia marah saya bandingkan kalimat 1a dengan kalimat 3a berikut: 3a. Ia membicarakan tentang masalah ini

44

kata tentang pada kalimat 3a harus dihilangkan karena kata membicarakan adalah verba transitif sehingga bisa langsung diberi objek masalah. 1.7. Preposisi sebagai Penanda Hubungan Makna Tertentu Setiap preposisi selalu menyatakan makna tertentu, sedangkan makna yang dimaksud di sini adalah makna yang muncul dari hubungan antar unsurnya. Lihat contoh: 1a. Kalender itu terletak di ruang tamu kalimat 1a menggunakan kata depan di yang menyatakan makna berada. Kata depan di tidak sama maknanya dengan kata depan pada, sehingga kalimat 1a tidak bisa diubah menjadi kalimat 1b karena makna pada menyatakan arah. Lihat di bawah: 1a. Kalender itu terletak pada ruang tamu 1.8. Preposisi Memiliki Valensi Tertentu Pemakaian preposisi tidak hanya dilihat dari aspek wajib dan tidaknya serta maknanya saja, tetapi unsur yang mengikutinya juga harus diperhatikan. Lihat contoh di bawah: 1a. Ia berbicara kepada saya

45

pemakaian kata kepada kalimat 1a bila dilihat unsur yang mengikutinya berupa kategori bernyawa / manusia bisa dikatakan benar. Akan tetapi kata kepada tidak bisa diganti ke karena ke harus diikuti oleh kategori yang menyatakan tempat walaupun ke dan kepada sama-sama bermakna menyatakan arah tetapi dilihat dari valensinya berbeda. Lihat kalimat 1b berikut yang tidak berterima: 1b. Ia berbicara ke saya 1.9. Kehadiran Preposisi di awal Subyek dan Obyek Selalu Bersifat Opsional Pola struktur kalimat bahasa Indonesia tidak selalu dimulai dengan subyek, namun terdapat juga pola struktur yang diawali keterangan sehingga dimungkinkan terjadi pola struktur ( K - S - P - O ), ( K - S - P ). Preposisi biasanya selalu mengawali frase yang mengisi fungsi keterangan, sehingga dimungkinkan preposisi di awal kalimat. Lihat contoh berikut: 1a. Sejak tahun 1994 Indonesia sudah mengalami krisis ekonomi 1b. Mengenai hal itu saya tidak mengerti sejak pada kalimat 1a dan mengenai pada kalimat 1b adalah preposisi di awal kalimat.

46

1.10. Kata Penghubung atau Konjungsi dalam Bahasa Indonesia Konjungsi termasuk salah satu jenis kata yang bersifat non referensial, maksudnya kata yang tidak dapat dijelaskan maknanya tanpa kehadiran unsur lain. Konjungsi meiliki fungsi gramatik menghubungkan dua klausa / predikat atau lebih. 1.11. Fungsi Konjungsi Kalimat yang memiliki dua klausa / predikat atau lebih sering dikatakan kalimat luas. Adapun konjungsi berfungsi untuk menghubungkannya. Lihat contoh berikut: Ia cantik S P Ia pelit S P

Ia cantik tapi pelit S Predikat Konjungsi Predikat

Peterpan naik panggung S P Penonton histeris S P Lampu menyala dari segala penjuru

47

Ketika Peterpan naik panggung penonton histeris S S P3 P1 Ket S P2 dan lampu pun menyala dari segala penjuru.

Ketika, adalah penghubung antara P1 dan P2, dan sebagai penghubung P2 dan P3. 1.12. Makna yang Dinyatakan oleh Konjungsi Kalimat yang terdiri dari dua klausa atau lebih memiliki hubungan makna antar klausanya, adapun makna yang dinyatakan oleh hubungan antar kalusa ditandai suatu konjungsi tertentu, lihat contoh berikut:

Ia mendendangkan lagu S P O

Ia menghentak-hentakkan kakinya S P O Penonton histeris S P

Ia mendendangkan lagu sambil menghentakhentakkan kaki, sehingga penonton histeris.

48

Pernyataan 1 dan 2 menyatakan hubungan makna kebersamaan. Kata penghubung yang digunakan yaitu sambil. Pernyataan 1,2 dan 3 menyatakan hubungan makna sebab akibat sehingga menggunakan kata sehingga.

DAFTAR PUSTAKA Ramlan, M. 1985. Sintaksis Bahasa Indonesia. Gadjah Mada Express. Pusat Bahasa Indonesia. 1985. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Kaswanti, Bambang. 1980. Untaian Sintaksis. Arcan.

Tugas dan Latihan 1. Perbaikilah kalimat-kalimat di bawah ini dengan menghilangkan kata depan yang terletak di depan objek! a. Kami menyarankan untuk tindakan prophylaxis pasca pada penderita-penderita. Jawab:

` b. Seminar ini akan membahas mengenai masalah lingkungan hidup. Jawab:

49

c.

Akhiran kan mempengaruhi terhadap makna verba yang dilekatinya. Jawab:

d.

Tujuan penelitian ini semata-mata hanya akan berusaha mendeskripsikan tentang afiks kan dalam pemakaian bahasa Indonesia dewasa ini. Jawab:

e.

Sangatlah tepat apabila pemerintah memperhatikan mengenai pariwisata. Jawab:

f.

Orang tua wajib mengawasi tentang perilaku anaknya.

50

Jawab:

g.

Orang tua wajib mengawasi langsung kepada putra-putrinya. Jawab:

2. Dalam kalimat-kalimat di bawah ini terdapat kesalahan penggunaan penghubung. Betulkan atau ganti dengan penghubung yang lebih tepat! a. Sebuah benturan memang terjadi, tetapi Glagat Putih harus terdorong dua langkah. Jawab:

b.

Pemimpin kelompok Sidat Macan itu melihat serangan Glagat putih, tetapi ia sama sekali tidak menghindar. Jawab:

51

c.

Sugih tanpa bandha diberi arti kaya tanpa harta dan Sekti tanpa pusaka atau diungkapkan dalam bahasa Indonesia sebagai sakti tanpa pusaka. Jawab:

d.

Di negeri saya ajaran itu sulit diterima dan sukar untuk dilaksanakan karena logika orang Jepang ajaran itu tidak logis. Jawab:

e.

Menurut pendapat saya, ajaran itu merupakan penegasan, sesungguhnya kekayaan itu tidak didukung oleh harta karena harta itu bersifat tidak abadi. Jawab:

52

f.

Lelaki itu menatapku aneh dan sulit dimengerti. Jawab:

g.

Bila Max Braddy tidak datang, maka saya mencarinya. Jawab:

h.

Dia seorang pelukis, pula seorang penari. Jawab:

53

BAB IV.
WACANA DAN PENGGOLONGANNYA Kompetensi Dasar
(1) Mahasiswa dapat menulis bermacam-macam wacana, yaitu eksposisi, argumentasi, persuasi, narasi dan deskripsi. (2) Mahasiswa dapat membedakan berbagai wacana itu berdasarkan ciri khas tiap-tiap wacana. Indikator (1) Mahasiswa dapat menulis/membuat 5 macam jenis wacana/karangan, yaitu eksposisi, argumentasi, persuasi, narasi dan deskripsi. (2) Mahasiswa dapat membedakan kelima macam wacana itu berdasarkan ciri khas tiap-tiap wacana.

Materi
Secara garis besar Keraf (1995) membagi wacana dalam 2 bagian, yakni wacana ilmiah dan wacana nonilmiah. Pengertian tulisan/wacana ilmiah dapat dilihat dari dua sudut, yaitu sudut bahasa dan sudut analisisnya. Dari sudut bahasa, tulisan ilmiah menggunakan bahasa teknis yang diwarnai dengan istilah-istilah sesuai dengan bidang garapan/topik yang dibicarakan. Pilihan kata (diksi) pada wacana ini tidak mengandung ambiguitas. Dengan demikian, bahasa yang digunakan pun adalah bahasa yang objektif dan rasional. Bahasa yang demikian ini, cenderung memungkinkan dibaca oleh pembaca dengan pendidikan dan pengetahuan yang tinggi. 54

Dari sudut analisis, tulisan ilmiah harus menggunakan metode dan teknik analisis berdasarkan kerangka teori atau acuan tertentu. Penyajiannya pun harus didukung oleh data yang akurat dan disajikan secara logis dan sistematis. Setiap karya ilmiah menuntut penulisnya menguasai sejumlah syarat, antara lain sebagai berikut. (1) Menguasai aspek kebahasaan : kosa kata, tata bahasa, sintaksis, dan gaya bahasa yang lugas. (2) Menguasai topik bahasan dengan baik serta menguasai kerangka acuan atau prinsip ilmiah sesuai dengan topik dan bidang yang ditulisnya. (3) Memiliki kemampuan penalaran yang baik untuk menganalisis dan memecahkan persoalanpersoalan yang dihadapi serta mampu menyusun semua hasil analisis dan pemecahan masalahnya secara sistematik. (4) Menguasai kemampuan analisis bidang ilmunya untuk memecahkan objek garapan secara kritis. (5) Menguasai dan menerapkan metode-metode dan teknik pengumpulan dan pengolahan data secara tepat. (6) Mengetahui, menguasai, dan menggunakan konvensi-konvensi pernaskahan yang berlaku, sehingga dapat menyajikan tulisannya dalam bentuk dan perwajahan yang menarik. 1.1. Wacana sebagai Bentuk Bahasa Pengertian wacana dapat dibatasi dari dua sudut yang berlainan. Pertama dari sudut bentuk bahasa dan kedua dari sudut tujuan umum sebuah karangan yang utuh atau sebagai bentuk sebuah komposisi. 55

Dari sudut bentuk bahasa atau yang bertalian dengan hierarki bahasa, yang dimaksud wacana adalah bentuk bahasa di atas kalimat yang mengandung sebuah tema. Satuan bentuk yang mengandung tema ini biasanya terdiri atas paragrafparagraf, bab-bab, atau karangan-karangan utuh, baik yang terdiri atas bab-bab maupun tidak. Jadi, tema merupakan ciri sebuah wacana. Tanpa tema tidak akan ada wacana. Berdasarkan tujuannya, karangan yang utuh dapat dibedakan menjadi 5 macam, yakni sebagai berikut. (1) Eksposisi : Ditinjau dari sudut penulis wacana ini bertujuan memenuhi keinginan manusia untuk memberi informasi kepada orang lain, sedangkan dari sudut pembaca wacana ini berkeinginan untuk memperoleh informasi dari orang lain mengenai suatu hal. (2) Argumentasi Wacana ini jika ditinjau dari sudut penulis memiliki tujuan meyakinkan pendengar atau pembaca mengenai suatu kebenaran dan lebih jauh mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain. Sebaliknya, jika dilihat dari pihak pembaca atau pendengar, mereka ingin mendapatkan kepastian tentang kebenaran itu. (3) Persuasi Wacana persuasif sebenarnya merupakan sebuah varian dari argumentasi. Wacana ini lebih cenderung mempengaruhi manusia (sasaran) daripada mempertahankan kebenaran mengenai suatu objek tertentu. Walaupun tidak seratus persen mempertahankan kebenaran, bentuk wacana ini masih termasuk dalam wacana ilmiah, bukan wacana fiksi. 56

(4)

Deskripsi Penulis atau pembicara dalam wacana ini berkeinginan untuk menggambarkan atau menceritakan bagaimana bentuk atau wujud suatu barang atau objek. Selain itu, wacana ini juga dipergunakan untuk mendeskripsikan cita rasa sesuatu, menggambarkan peristiwa, atau mencandrakan suatu bunyi. (5) Narasi Dalam wacana ini penulis atau pembicara ingin menceritakan pada orang lain kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa yang terjadi, baik yang dialami sendiri maupun yang didengarnya dari orang lain. Dengan cara ini, penulis/pembicara memenuhi pula kebutuhan para pendengar atau pembacanya untuk memperoleh cerita tentang kejadian itu. Perlu dicatat bahwa ciri khas wacana ini adalah kronologisnya. Artinya, sebuah cerita dari awal hingga akhir atau sebaliknya diceritakan secara runut atau dengan urutan waktu tertentu. 1.2. Jenis Wacana dan Penjelasannya 1.2.1. Eksposisi 1.2.1.1. Pengertian Eksposisi Eksposisi adalah suatu bentuk wacana yang berusaha menguraikan suatu obyek sehingga memperluas pandangan atau pengetahuan pembaca. Bentuk wacana ini menyajikan penjelasan yang akurat dan padu mengenai topik-topik yang mungkin rumit, menyampaikan pernyataan yang lengkap dan dapat dipercaya, serta dilengkapi dengan penjelasan tentang suatu objek. Secara singkat dapat dikatakan bahwa eksposisi adalah bentuk wacana yang tujuan utamanya memberitahukan atau memberi informasi 57

mengenai objek tertentu. Melalui informasi itu, pengetahuan para pembaca diharapkan menjadi bertambah luas. Apakah pembaca menerima semua informasi yang disampaikan penulisnya atau tidak, tidak menjadi masalah. Karena itu, jenis wacana ini sama sekali tidak bermaksud mempengaruhi atau mengubah sikap dan pendapat orang lain/pembacanya. Wacana eksposisi mengandung tiga bagian utama, yaitu sebuah pendahuluan, tubuh/isi eksposisi, dan simpulan. 1.2.1.2. Teknik Penulisan Eksposisi Pada bagian pendahuluan dikemukakan latar belakang, alasan memilih topik/pentingnya topik itu, permasalahan, tujuan, dan kerangka acuan yang digunakan. Selanjutnya, untuk menulis bagian isi/tubuh eksposisi terlebih dahulu dibuat kerangka karangan yang berupa pengembangan topik yang dipilih itu. Setelah itu, penulis menyajikan secara rinci tiap-tiap bagian dari kerangka karangan. Bagian-bagian ini ditulis secara sistematis, sehingga informasi yang diberikan dapat dipahami oleh pembaca. Penulisan eksposisi dapat menggunakan salah satu atau perpaduan dari beberapa metode yang ditawarkan. Beberapa metode itu adalah (1) identifikasi, (2) analisis (analisis umum, analisis bagian, analisis kausal, analisis fungsi, dan analisis proses), (3) klasifikasi, dan (4) definisi Pada bagian akhir atau simpulan dikemukakan mengenai hal-hal yang telah disajikan, tidak berisi saran untuk mempengaruhi pembaca. 1.2.1.3. Contoh Eksposisi Variabel merupakan karakteristik atau ciri-ciri dari orang, benda-benda atau keadaan yang 58

mempunyai nilai-nilai yang berbeda, seperti usia, pendidikan, kedudukan sosial, kedudukan ekonomi, jenis kelamin. Ada dua bentuk variabel: 1) Variabel Kategorikal ( Categorical Variable ) yaitu: Variabel yang membagi responden menjadi dua kategori atau beberapa kategori. Variabel yang terdiri dari dua kategori disebut variabel dikotomi sedangkan variabel yang terdiri dari banyak kategori disebut politomi. 2) Variabel Bersambungan Variabel yang nilai-nilainya merupakan suatu skala, baik bersifat ordinal maupun rasio. Contoh: umur, jumlah pendapatan, jumlah pengeluaran rumah tangga, tingkata efektifitas, tingkat prevalensi, kontrasepsi modern, tingkat sentuhan media masa, tingkat kriminalitas (Djojosuroto dan M.L.A. Sumaryati:2004). 1.2.2. Argumentasi 1.2.2.1. Pengertian Argumentasi Argumentasi adalah bentuk wacana yang berusaha membuktikan suatu kebenaran. Lebih jauh dapat dikatakan bahwa sebuah argumentasi berusaha mempengaruhi serta mengubah sikap dan pendapat orang lain untuk menerima suatu kebenaran yang didukung bukti-bukti mengenai objek yang diargumentasikan itu. Argumentasi dilihat dari sudut proses berpikir adalah suatu tindakan untuk membentuk penalaran dan menurunkan simpulan serta menerapkannya pada suatu kasus, misalnya perdebatan. Argumentasi dibedakan dari bentuk wacana yang lain karena fungsi utamanya adalah membuktikan. Pertama, metode pembuktian dalam argumentasi direduksi atau disusutkan hingga menjadi 59

atau berdasarkan suatu ilmu, yang dikenal sebagai logika. Kedua, argumentasi sering bertalian dengan masalah-masalah kebijaksanaan. Masalah kebijaksanaan dibedakan dari masalah fakta. Artinya, kebijaksanaan bertalian dengan apa yang seharusnya dilakukan berdasarkan standar tertentu, bukan pada apa yang dianggap benar. Secara singkat dapat disimpulkan bahwa argumentasi adalah bentuk wacana yang bertujuan mengubah pikiran, sikap, dan pandangan, seseorang dengan menyodorkan sejumlah data dan bukti . 1.2.2.2. Teknik Penulisan Argumentasi Seperti jenis tulisan lainnya, argumentasi selalu terdiri dari tiga bagian utama, yaitu pendahuluan, isi argumentasi, dan simpulan. (1) Pendahuluan Pendahuluan berfungsi menarik perhatian pembaca dengan menyajikan fakta-fakta pendahuluan untuk memusatkan perhatian untuk memahami argumentasi yang akan disampaikan nanti dalam isi karangan. (2) Isi Argumentasi Seluruh isi argumentasi diarahkan kepada usaha penulis untuk meyakinkan pembaca mengenai kebenaran dari masalah yang dikemukakan, sehingga kesimpulannya juga benar. (3) Simpulan Penulis harus memperhatikan bahwa kesimpulan yang diturunkan tetap menjaga pencapaian tujuan, yaitu membuktikan kebenaran untuk mengubah sikap dan pendapat pembaca. 60

1.2.2.3. Contoh Argumentasi Di pihak lain, kualitas hasil pendidikan kita mulai dari SD sampai Perguruan Tinggi, dirasakan sangat rendah. Hal ini, bukan dikarenakan guru dan dosen kita tidak berkualitas, tetapi intensitas pengajaran dan perkualiahan kita kurang. Kekurangan Intensitas ini tidak lain Karena guru dan dosen itu tidak memberikan waktu cukup didalam pemberian pengajaran dan perkuliahan, karena mereka terpaksa mengajar atau bekerja lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bukan rahasia lagi jika ada guru yang mengojek, untuk menambah kebutuhannya, karena dari gaji sebagai guru atau dosen, sulit untuk hidup mereka bersama keluarganya (Mimbar Masyarakat, No. 9, Juli 2006). 1.2.3. Persuasi 1.2.3.1. Pengertian dan Dasar Persuasi Persuasi adalah suatu bentuk wacana yang merupakan penyimpangan dari argumentasi , dan khusus berusaha mempengaruhi orang lain atau para pembaca, agar para pendengar atau pembaca melakukan sesuatu bagi orang yang mengadakan persuasi, walaupun yang dipersuasi sebenarnya tidak terlalu percaya akan apa yang dikatakan itu. Karena itu, persuasi lebih condong menggunakan atau memanfaatkan aspek-aspek psikologis untuk mempengaruhi orang lain. Argumentasi bertujuan membuktikan suatu kebenaran, dank arena itu akan berusaha sekuat tenaga dengan teknik-teknik yang rasional untuk mempertahankan kebenaran itu. Karena itu sasaran selanjutnya adalah mencapai persesuaian rasional mengenai kebenaran itu dengan orang lain. Sebaliknya, persuasi bertujuan mencapai kesepakatan 61

dengan orang yang dipersuasi dengan menggunakan pendekatan psikologis. 1.2.3.2. Teknik Penyajian Yang membedakan persuasi dari argumentasi adalah teknik penyajiannya. Beberapa teknik penyajian yang biasa digunakan dalam persuasi adalah rasionalisasi, identifikasi, sugesti, konformitas, kompensasi, penggantian, dan proyeksi. Teknik yang dipilih tentu harus disesuaikan dengan masalah yang dihadapi. Beberapa teknik penyajian persuasi dapat dibaca pada uraian di bawah ini. (1) Rasionalisasi (2) Identifikasi (3) Sugesti (4) Konformitas (5) Kompensasi (6) Penggantian Ciri khas persuasi dimulai dari judul yang dibuat secara provokatif, yang membuat pembaca "tergiur" untuk melihat, bahkan memiliki dan menggunakan produk/iklan/promosi tertentu. Selain itu, gaya penulisan juga mengandung data dan fakta yang bertujuan supaya pembaca tertarik dan mengikuti apa yang ditulis. Gaya bahasa ini didukung dengan diksi yang "menggoda" pembaca. Di samping itu, penulis juga menampilkan bukti-bukti secara konkret, detil, dan masuk akal. 1.2.3.3. Contoh Persuasi:

Pesona Pulau Paling Eksotis


Chrismas Island tampak mungil di peta, namun kenyataannya adalah pulau karang yang kokoh di 62

Samudera India. Alam tropis di Chrismas Island menghadirkan pesona eksotis yang menakjubkan dan tak dimiliki oleh pulau lainnya. Chrismas Island Resort, sebuah resort berbintang 5 dengan kemewahan eksklusifnya, menambah suasana liburan Anda di Chrismas Island lebih menyenangkan dan bergairah. Hanya 45 menit dari Jakarta, berarti kurang dari satu jam Anda sudah berada di Chrismas Island melalui jadwal penerbangan 5 kali seminggu bersama Sempati Air. Aneka petualangan rekreatif dapat Anda lakukan sendiri seperti, melakukan kegiatan yang menantang keberanian Anda: memancing di laut lepas (game fishing), berolah raga bukit karang sekaligus menikmati keindahan pemandangan di laut, menyelam di dasar Samudera India untuk mengagumi pesona karang dan kekayaan lain miliknya (scuba diving), atau bersantai dalam kemewahan resort eksklusif bertaraf internasional (dalam Suparno dan Mohammad Yunus, 2002). Melalui contoh di atas, jelas terlihat bahwa wacana ini tergolong persuasi. Judulnya benar-benar diplih, sehingga membuat pembaca :tergiur. Demikian pula pilihan katanya. Penulis sengaja memilih diksi, seperti menghadirkan pesona eksotis yang menakjubkan dan tak dimiliki oleh pulau lainnya, dengan harapan supaya pembaca makin tergiur berkunjung ke pulau itu. Selain itu, pada paragraph kedua sengaja ditulis Hanya 45 menit dari Jakarta, berarti kurang dari satu jam Anda sudah berada di Chrismas Island melalui jadwal penerbangan 5 kali seminggu bersama Sempati Air. Yang demikian ini, benar-benar menggiring pembaca untuk sampai ke pulau itu. 63

Contoh lain dalam bentuk iklan berbahasa Palembang berikut ini.

FIF
Motornyo wonk qito
Lahkeren, Hargo Enteng pulok

DP. 1,5 Juta, hanya.

( Lah pacak bawa balek motor HONDA )


HADIAH LANGSUNG : Jaket Vinyl Semi Kulit & Potongan Angsuran s.d. Rp.30.000,-/Bln Via FIF

Hubungi : , Tempatnyo.wonk qito


Jl. A. Yani Palembang 200-201, 8 Ulu Jl. Lintas Sumatera KM. 32 Indralaya

Telp. 512551,

511078

Telp. 7084278,

7082702
Di dalam iklan di atas dipromosikan hal-hal seperti keren, hargo enteng harga enteng, dengan membayar hanya Rp700.000,00 motor tersebut dapat dibawa pulang. Hal-hal yang ditulis ini adalah diksi yang sengaja dipilih untuk menjerat pembaca supaya membeli produk yang dimaksudkan itu.

64

1.2.4. Deskripsi 1.2.4.1. Pengertian Deskripsi Deskripsi adalah bentuk wacana yang berusaha menyajikan suatu objek atau suatu hal sedemikian rupa, sehingga objek itu seolah-olah berada di depan mata pembaca, seakan-akan para pembaca melihat sendiri objek itu. Deskripsi memberi suatu citra mental mengenai suatu hal yang dialami, misalnya pemandangan, orang, ruang, atau sensasi. Deskripsi dibedakan dari eksposisi dalam hal bahwa fungsi utamanya adalah membuat para pembacanya seolah-olah melihat, menyaksikan, atau merasakan suatu benda, orang, keadaan, atau barang-barang yang digambarkan dalam suatu wacana. 1.2.4.2. Cara Menulis Wacana Deskripsi Yang paling utama harus dilakukan penulis untuk menulis wacana deskripsi adalah mengidentifikasi dan menyusun detil-detil objek atau sesuatu yang akan dideskripsikan itu. Ada beberapa macam yang dapat dideskripsikan, yaitu (1) deskripsi orang yang meliputi fisiknya, keadaan sekitar orang itu, watak atau tingkah lakunya, dan gagasan-gagasan orang/tokoh yang dideskripsikan itu. (2) Deskripsi tempat, yaitu gambaran tentang lingkungan atau ruang tertentu. Berdasarkan uraian di atas, maka langkahlangkah yang perlu dilakukan dalam penulisan deskripsi adalah sebagai berikut: 1) Menentukan apa yang akan dideskripsikan 2) Merumuskan tujuan deskripsi (sebagai alat Bantu karangan eksposisi, argumentasi, narasi, atau persuasi). 65

3) Menetapkan bagian apa saja yang akan dideskripsikan (fisik, watak, dll.) 4) Merinci hal-hal apa saja yang harus dideskripsikan sehingga membuat pembaca tergambar mengenai apa yang diceritakan penulis. 1.2.4.3. Contoh Wacana Deskripsi: Laki-laki itu diam. Dan manakala aku mengerling baru aku ingat bahwa dia tadinya duduk di bangku paling belakang, dekat seorang laki-laki sebayanya yang memakai jaket biru, yang kini sudah di seberang. Kukira dia sedang mengenangkan sesuatu, jelas tampak pada air mukanya yang tenang, bersih, tak berkumis ataupun jenggot., tapi dikotori debu. Kata-kataku seperti tak didengarnya. Hanya kepalanya digerakkannya, meletakkan dagunya pada belakang tangannya atas besi-besi terali, sedangkan matanya mamandang lebih tenang ke bawah (B. Yass dalam Sastrawan Bertanya Siswa Menjawab, 2006). 1.2.5. Narasi 1.2.5.1. Pengertian Narasi Narasi adalah bentuk wacana yang berusaha menyajikan suatu peristiwa atau kejadian, sehingga peristiwa itu tampak seolah-olah dialami sendiri oleh pembaca. Secara singkat dapat dikatakan bahwa narasi bertujuan menyajikan suatu peristiwa kepada pembaca, mengisahkan apa yang terjadi, dan bagaimana kejadian itu berlangsung. Yang perlu digarisbawahi bahwa untuk membedakan narasi dari jenis wacana lainnya adalah bahwa narasi ditulis secara kronologis, sesuai dengan urutan waktu tertentu. 66

1.2.5.2. Cara Penulisan Narasi Cara menulis narasi adalah sebagai berikut. (1) Menentukan tema dan amanat (2) Menetapkan sasaran pembaca: dewasa, anakanak, atau secara umum (3) Merancang peristiwa secara kronologis (4) Membagi peristiwa ke dalam 3 tahap: awal, perkembangan, dan akhir cerita (5) Merinci detil-detil peristiwa/kejadian sebagai pendukung cerita (6) Menuliskan tokoh, watak, latar, dan sudut pandang penulisan 1.2.5.3. Contoh Narasi Ada dua tengkorak kepala yang sampai saat ini masih membuat aku harus menghela napas dalamdalam. Dua tengkorak kepala manusia yang paling memberikan arti bagi hidupku. Aku harus berurusan dengan dua tengkorak kepala itu. Ini bermula dari telepon interlokal Umi, ibuku: aku harus segera berangkat ke Lhok Seumawe, Aceh. Umi telah dua kali menginterlokalku. Kata beliau, aku telah diangkat menjadi Ketua Panitia pemindahan kuburan kakekku. Aku sudah paham benar, umi jangan sampai menginterlokal yang ketiga kali. Aku tentu tak mau menjadi anak durhaka. Kali ini aku memilih pulang kampong lewat jalan darat. Dalam perjalanan dari Lampung hingga ke Aceh Selatan, banyak sekali jalan raya yang buruk. Lagi pula, kota-kota yang kulewati tak memberikan suasana batin bagiku (Busye dalam Dua Tengkorak Kepala, 2000). 67

DAFTAR PUSTAKA Djojosuroto, K. dan M. L. A. Sumaryati. 2004. PrinsipPrinsip Dasar Penelitian Bahasa dan SastraBandung: Nuansa. Suparno dan Mohammad Yunus. 2002. Keterampilan Dasar Menulis. Jakarta: Universitas Terbuka. Keraf, G. 1995. Eksposisi: Komposisi Lanjutan II. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia. Departemen Pendidikan Nasional. 2006. Sastrawan Bicara Siswa Bertanya. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. Majalah Mimbar Masyarakat No. 9, Juli 2006. "Dunia Pendidikan Kita Sekarang". Busye, M. 2000. "Dua Tengkorak Kepala" dalam Kumpulan Cerpen Dua Tengkorak Kepala. Kenedi Nurhan (ed.). Jakarta: Harian Kompas.

68

Latihan dan Tugas Latihan (1) Buatlah sebuah karangan eksposisi dengan memilih salah satu kata kunci berikut ini: a) berkebun cabe

rRRR

69

b) memasak nasi goreng

70

c) membuat karangan

71

(2) Secara sepintas tampaknya argumentasi dan persuasi itu sama. Apakah yang membedakan kedua wacana itu?

(3) Deskripsikanlah salah satu ruang di rumah Saudara, sehingga pembaca seolah-olah melihat secara langsung ruang yang digambarkan itu!

72

(4) Dari kelima wacana itu, manakah wacana yang cenderung ilmiah dan mana pula yang sebaliknya. Jelaskan dengan bukti-bukti.

73

Tugas dan Bahan Diskusi (1) Carilah cuplikan atau karangan utuh yang berbentuk wacana eksposisi, argumentasi, persuasi, deskripsi, dan narasi.

74

75

76

77

78

(2) Amatilah kelima macam contoh wacana yang Anda temukan itu, lalu carilah perbedaan satu sama lain.

79

BAB V. TOPIK DAN PEMBATASANNYA


Modul ini akan berbicara tentang topik yang dirinci menjadi (1) pengertian topik, (2) hal yang harus diperhatikan ketika menentukan topik, (3) dan cara membatasi topik. Setelah Anda mempelajari modul ini diharapkan Anda dapat: 1. Mengemukakan pengertian topik karangan. 2. Mengemukakan hal yang harus diperhatikan ketika Anda akan menentukan topik tulisan. 3. Membatasi topik tulisan yang telah Anda tentukan dengan menggunakan salah satu cara yang biasa digunakan. KEGIATAN BELAJAR Sebelum Anda menuangkan ide atau gagasan Anda dalam bentuk tulisan, Anda harus melakukan langkah persiapan atau yang biasa disebut tahap prapenulisan. Satu di antara tahap prapenulisan itu adalah menentukan topik tulisan. Apakah topik tulisan itu? Secara sempit topik dapat disebut sebagai hal pokok yang dibicarakan. Secara luas topik dapat dikatakan sebagai hal pokok yang dituliskan atau diungkapkan dalam karangan. Oleh sebab itu, topik karangan harus ditentukan sebelum seorang penulis memulai tulisannya. Untuk mencari topik tulisan bukan hal yang mudah. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika kita akan menentukan topik tulisan/karangan kita. Topik karangan harus ditentukan dengan sejumlah pertimbangan. Apa sajakah yang perlu dipertimbangkan penulis ketika ia akan menentukan 80

topik karangan/tulisannya? Setidaknya ada lima hal yang harus kita perhatikan. Kelima hal itu adalah sebagai berikut. a. Kemanfaatan dan Kelayakan Dibahas Ketika Anda akan menentukan topik karangan, Anda harus memperhatikan pembaca yang akan membaca tulisannya. Oleh sebab itu, penulis harus mempertimbangkan manfaat apakah yang dapat diterima pembaca tulisannya. Dalam hal ini, penulis tentu saja harus melakukan analisis kebutuhan pembaca. Sebuah topik akan bermanfaat bagi pembaca apabila topik itu berkaitan dengan kebutuhan pembacanya. Sebagai contohnya, jika pembaca tulisan Anda adalah para remaja, tentu saja topik yang menarik bagi mereka adalah masalah seputar remaja. Selain itu, topik yang dipilih harus layak dibahas. Kelayakan ini baik dipandang dari sudut penulis dan sudut pembacanya. b. Kemenarikan Selain bermanfaat, topik yang dipilih juga harus menarik. Diharapkan topik yang dipilih tidak saja menarik bagi penulis, tetapi yang lebih penting lagi adalah bahwa topik itu menarik bagi pembaca. Kemenarikan ini berkaitan erat dengan kemanfaatan. Pembaca akan tertarik pada sebuah tulisan jika tulisan itu dirasakan pembaca bermanfaat bagi dirinya. Sebagai contohnya, hal yang bermanfaat bagi para petani di pedesaan adalah cara meningkatkan produksi pertanian. Dengan adanya manfaat yang akan diperoleh pembaca, mereka akan tertarik kepada bacaan/tulisan itu.

81

c. Keaktualan Selain bermanfaat dan menarik, topik yang dipilih juga harus bersifat aktual. Artinya, topik itu merupakan hal yang hangat dibicarakan. Oleh sebab itu, topik terkini merupkan topik yang harus dipertimbangkan untuk dipilih. d. Dikenal dengan Baik Topik yang dipilih hendaklah merupakan topik yang tidak asing bagi penulis. Hal ini menyangkut penguasaan terhadap topik yang akan ditulisnya. Dengan dikenalnya topik itu oleh penulis, diharapkan penulis mengetahui segala sesuatu tentang topik itu. e. Ketersediaan Bahan Ketersediaan bahan ini harus diperhatikan mengingat bahan merupakan hal yang penting dalam menulis. Ketersediaan bahan memungkinkan penulis mengembangkan topik itu ke dalam tulisan secara luas dan dalam. Sebaliknya, jika topik itu tidak didukung oleh ketersediaan bahan, penulis akan mengalami kesulitan ketika ia harus mengembangkan topik itu ke dalam tulisannya. f. Tidak terlalu luas dan atau terlalu sempit Topik yang terlalu luas akan menyulitkan penulis. Konsekwensinya penulis harus memiliki pengetahuan yang sebanyak-banyaknya tentang topik itu. Jika tidak, tulisannya menjadi tidak dalam dan luas.Hal ini akan menyebabkan pembaca menjadi bosan. Sebaliknya, topik yang terlalu sempit juga harus dihindari. Topik yang terlalu sempit akan berakibat penulis akan membahas topik itu secara berulangulang. Jika hal ini terjadi, pembaca juga akan mengalami kebosanan. 82

3. Cara Membatasi Topik Mengingat topik perlu dibatasi, berikut ini disajikan beberapa cara yang biasa digunakan untuk membatasi topik karangan. Cara itu adalah sebagai berikut. a. Menggunakan Diagram Jarum Jam Diagram ini disebut diagram jarum jam karena bentuk pembatasannya menyerupai jarum jam. Cara ini dilakukan dengan menempatkan topik yang masih luas sebagai pusatnya. Di sekelilingnya ditempatkan topik-topik yang merupakan pembatasan topik itu ditinjau dari berbagai sudut. Penggunaan pembatasan topik berdasarkan diagram jarum jam ini dapat dilihat dari contoh berikut. Diagram Jarum Jam Ilmu kelautan Kekayaan di lautan Laut sebagai sumber energi masa depan

Laut sebagai lapangan kerja

LAUT

Laut Atlantik

Kehidupan dalam laut Peranan laut dalam hubungan antarbangsa

Kandungan kimia air laut

83

Diagram Pohon Lautan

Laut sebagai sumber energi

Lautan sebagai lapangan kerja yang potensial fauna flora

Kekayaan di lautan

mineral Kerang mutiara

ikan udang

Pembudiyaannya Pemasarannya

84

Piramida Terbalik

laut

Lautan Indonesia

Kekayaan laut Indonesia

fauna kerang
Pembudidayaan kerang mutiara di Maluku Selatan

85

BAB VI.
PARAGRAF DAN PENGEMBANGANNYA
KOMPETENSI DASAR: Mahasiswa dapat membuat karangan ilmiah dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mahasiswa dapat membuat paragraf yang baik yang memiliki kesatuan, kepaduan, dan kelengkapan. INDIKATOR: Mahasiswa dapat membuat paragraf yang baik yang memiliki kesatuan, kepaduan, dan kelengkapan. Mahasiswa dapat menentukan topik suatu paragraf; 1) mahasiswa dapat menunjukkan letak kalimat topik suatu paragraf; 2) mahasiswa dapat membedakan paragraf yang baik dan yang tidak/kurang baik; 3) mahasiswa dapat membuat contoh paragraf yang baik. MATERI PARAGRAF Istilah paragraf sering disejajarkan dengan istilah alenia. Kedua istilah itu sebenarnya dapat dibedakan. Paragraf dapat diartikan sebagai suautu karangan mini, berisi satu kesatuan ide yang dibangun dari kalimat atau beberapa kalimat yang saling berhubungan. Sedangkan alenia adalah 86

penanda suatu paragraf ada alenia menjorok ke dalam, alenia menggantung, alenia penuh. Tulisan ini menggunakan alenia menjorok ke dalam. Berapa panjang paragraf yang baik itu? Pertanyaan ini tidak dapat dijawab dengan mutlak karena panjang atau pendek paragraf tidak mencirikan bahwa paragraf itu baik atau tidak. Ada paragraf yang panjang, baik; dan ada pula paragraf yang panjang tapi tidak baik. Baik atau tidaknya suatu paragraf ditentukan oleh syarat-syarat yang harus dipenuhinya. SYARAT PEMBENTUKAN PARAGRAF Suatu paragraf yang baik yang disebut juga paragraf efektif harus memenuhi 3 syarat berikut. 1) Kesatuan (unity) Satu paragraf hanya mengandung satu pokok pikiran. Paragraf dikatakan memiliki kesatuan bila seluruh kalimat yang membangun paragraf itu membicarakan hal yang sama, satu pokok pikiran. Bila dalam satu paragraf terdapat dua atau lebih ide pokok, maka paragraf tersebut harus dijabarkan menjadi dua atau lebih paragraf. Jadi, paragraf memiliki kesatuan bila paragraf itu memiliki satu pokok pikiran. 2) Kepaduan (kohesi) Kalimat-kalimat yang membangun suatu paragraf harus padu, adanya kekompakan hubungan antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lain. Kekompakan hubungan tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan penanda kohesi atau dengan menggunakan keruntutan hubungan semantis. Beberapa penanda kebahasaan yang dapat digunakan untuk membangun paragraf adalah: 87

(1) Penunjukan, yaitu penggunaan kata untuk menunjukkan/mengacu atau suatu acuan yang sudah disebutkan. Misalnya: kata itu, tersebut, demikian, ini. (2) Penggantian, yaitu penanda hubungan kalimat yang menggunakan kata yang lain yang sudah disebutkan sebelumnya. Misalnya: menggunakan kata ganti orang (dia, mereka), hal itu, begitu, begini, sana, sini, itulah. (3) Pelesapan, yaitu melesapkan/ menghilangkan unsur suatu kalimat pada kalimat berikutnya karena kehadiran unsur itu dapat diperkirakan dan untuk penghematan/ efektifitas. (4) Perangkaian, yaitu penggunaan katakata perangkai/transisi untuk menghubungan antarkalimat dalam paragraf. Misalnya: seperti, sebaliknya, walaupun demikian, oleh karena itu. (5) Pengulangan, yaitu mengulangi suatu kata/bentukan yang terdapat dalam suatu kalimat pada kalimat selanjutnya. Tujuannya adalah untuk penekanan atau pementingan. 3) Kelengkapan Suatu paragraf yang memiliki satu pokok pikiran yang dikembangkan harus memiliki kelengkapan, ada ketuntasan pembicaraan pada paragraf itu. Suatu paragraf tidak memiliki kelengkapan bila pada pokok pikiran dinyatakan ada dua masalah utama pembelajaran bahasa Indonesia, tetapi dalam paragraf itu hanya dijelaskan satu masalah.

88

Contoh paragraf yang baik: Dunia tumbuhan terbagi atas empat divisi yang besar, yaitu tumbuhan daun (talofita), lumut (briofita), paku-pakuan (pteridofita), dan tumbuhan bunga (spermatofita). Setiap divisi itu terbagi lagi atas kelas, kelas atas bangsa, bangsa atas marga, dan marga atas jenis. Setiap jenis mempunyai satu varietas atau lebih. (paragraf di atas memiliki kesatuan, kepaduan, dan kelengkapan) Contoh paragraf yang tidak baik: Hukum memegang peranan sentral dalam menciptakan dan mempertahankan persaingan yang sehat dalam berusaha. Peran itu dapat ditentukan dalam tiga fungsi hukum, yaitu sebagai alat untuk menciptakan tumbuhnya persaingan yang sehat, dan alat kontrol terhadap perilaku-perilaku yang menyimpang. Oleh karena itu, kehadiran peraturan persaingan yang sehat patut disambut dalam rangka pembangunan ekonomi nasional, tanpa mengabaikan kepentingan penegakan hukum. Adapun kredibilitas suatu peraturan dapat diuji di dalam praktik atau penegakannya di tengah masyarakat oleh anggota masyarakat, khususnya para pelaku ekonomi, aparatur pemerintah, dan penegak hukum. Di sini hukum harus benar-benar ditegakkan untuk mencapai tujuan hukum. Demikian peranan hukum sebagai alat pengendali perilaku-perilaku curang dalam persaingan. (paragraf di atas kurang padu dan tidak lengkap)

89

LETAK KALIMAT TOPIK DALAM SUATU PARAGRAF Suatu paragraf memiliki topik, penjelas, kalimat topik, dan kalimat penjelas. Topik suatu paragraf diletakkan dalam suatu kalimat topik. Letak kalimat topik dalam suatu paragraf dapat di awal, di akhir, di awal dan di akhir, di tengah, atau di seluruh paragraf. 1) Contoh letak kalimat topik di awal paragraf (paragraf deduktif): Saat ini banyak sekali hewan yang mendiami bumi dan banyak pula yang hidup pada zaman yang telah silam. Kekaburan orang tentang hewan yang hidup di darat dan di laut kini dapat dihindarkan. Jenis-jenis hewan itu saat ini sudah dapat ditentukan. Angka yang menyatakan beberapa jumlah hewan di muka bumi ini peratama kali dikemukakan oleh Linaeus tahun 1758, yaitu 4.236 jenis. Pada tahun 1859 Agassiz dan Brown menghitung ada 129.370 jenis dan masih banyak yang belum diberi nama. 2) Contoh letak kalimat topik di akhir paragraf (paragraf induktif) Bulu domba dapat dipakai sebagai sumber bahan pakaian, benang sutera dari ulat sutera juga sebagai bahan pakaian. Kelenjar-kelenjar dari alatalat hewan merupakan bahan pembuatan hormon atau obat-obatan lain. Madu tawon, kulit penyu, spons alam merupakan hasil hewan yang digunakan manusia. Penyediaan daging, pengawetan ikan dan daging, pengalengan daging dan ikan merupakan kegiatan yang berhubungan dengan hasil hewan. Memang hewan tidak saja merupakan sumber protein, tetapi juga sebagai 90

sumber bahan pakaian atau sumber bahan keperluan lain. 3) Contoh letak kalimat topik di awal dan di akhir paragraf (paragraf campuran) Dalam kehidupan tiada satu hewan pun yang hidup sendiri, mereka selalu bergantung pada faktor-faktor lingkungan, baik yang biotik maupun yang abiotik. Sebagian hewan mempunyai hubungan yang erat dengan musuhmusuhnya, penyakit, dan saingannya. Seluruh interaksi antara faktor-faktor itu menimbulkan jaringan hidup atau keseimbangan alam, termasuk di dalamnya manusia. Memang semua hewan yang hidup selalu bergantung pada faktor lingkungan, baik yang biotik maupun yang abiotik. 4) Contoh letak kalimat topik di tengah paragraf Jam meja yang biasanya berdering pukul 04.30 untuk membangunkan saya, sekali ini membisu karena lupa diputar. Akibatnya, saya terlambat bangun. Cepat-cepat saya pergi ke kamar mandi, ternyata sabun mandi habis. Mau sarapan, nasi hangus. Sial benar nasib saya hari ini. Ditambah lagi, mau berpakaian, semua baju kotor sehingga saya terpaksa memakai baju bekas kemarin. Pada saat naik kendaraan ke sekolah mogok pula. Ketika turun dari kendaraan, hujan lebat sehingga badan saya basah kuyup. 5) Contoh 6) 7) letak kalimat topik di seluruh paragraf (paragraf deskriptif) 91

Sandal ITB adalah sandal yang terbuat dari ban bekar. ITB singkatan dari Ieu tilas ban (ini bekas ban). Sandal ini sangat menarik karena dibuat dari ban bekas yang dilengkapi dengan aksesori yang menarik sehingga memikat hati pembelinya. Dari satu ban dapat dibuat 10 pasang sandal cantik yang laku dijual seharga Rp10.000,-/pasang.

Sebuah karangan terdiri atas beberapa paragraf. Jenis paragraf yang dibuat untuk suatu tulisan/karangan, baik karangan eksposisi, argumentasi, narasi, deskripsi, maupun persuasi, dapat dibedakan atas paragraf pembuka, paragraf isi, dan paragraf penutup PENGEMBANGAN PARAGRAF Pengembangan paragraf berkaitan erat dengan kemudahan pemahaman terhadap paragraf tersebut. Paragraf yang dikembangkan dengan baik akan memberikan kemudahan kepada pembaca untuk memahami maksud/isi paragraf tersebut. Sebaliknya, pembaca akan mengalami kesulitan memahami maksud suatu paragraf karena paragraf itu tidak dikembangkan dengan baik. Beberapa model pengembangan paragraf, yaitu: paragraf contoh, paragraf klasifikasi, paragraf definisi, paragraf perbandingan, paragraf klimaks dan anti klimak, paragraf deduksi, dan paragraf induksi. Berikut disampaikan beberapa contoh. 1) Contoh paragraf yang dikembangkan melalui definisi: Reaksi redoks adalah gabungan reaksi oksidasi dan reaksi reduksi yang berjalan secara bersamaan. Reaksi oksidasi adalah proses 92

pelepasan elektron oleh sesuatu reaktan sehingga reaktan tersebut akan mengalami kenaikan nilai bilangan oksidasinya. Adapun reaksi reduksi adalah reaksi penangkapan elektron oleh suatu reaktan, sehingga reaktan tersebut akan mengalami penurunan bilangan oksidasinya. 2) Contoh paragraf yang dikembangkan melalui perbandingan: Bila ditinjau dari segi bangunnya, paragraf dan esai itu memiliki kesamaan. Misalnya, paragraf diawali dengan kalimat topik. Dalam esai, paragraf pertama merupakan pendahuluan yang memperkenalkan bahan bahasan dan menetapkan fokus topik. Begitu pula tubuh karangan terdiri atas rangkaian paragraf yang memperluas dan menunjang gagasan yang dikemukakan dalam paragraf pendahuluan. Akhir sebuah paragraf dapat berisi penegasan kembali, kesimpulan, atau pengamatan. Demikianjuga dengan sebuah karangan, mempunyai sarana yang memberi ketuntasan gagasannya, khususnya pada wacana eksposisi. 3) Contoh paragraf yang dikembangkan dengan contoh: Saat ini pelbagai upaya pemerataan itu sudah dilakukan. Misalnya, program-program inpres, kemitraaan usaha antara bapak angkat dan anak angkat, serta penyebaran proyek pembangunan di semua daerah. Hal yang lebih baru dan mendasar adalah pengalihan saham dari perusahaan besar dan sehat-kepada koperasi serta penyediaan kredit usaha kecil oleh perbankan.

93

DAFTAR PUSTAKA
Dra.Hj. Zahra Alwi, M.PD, S. Dardjowidjojo, H. Lapoliwa, dan A.M. Moeliono. 1998. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka. Arifin, E. Zainal. 1987. Penulisan Karangan Ilmiah dengan Bahasa Indonesia yang Benar. Jakarta: PT Melton Putra. Arifin, E. Zainal dan S. Amran Tasai. 1999. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta: Akapres. Depdikbud. 1995. Bahan Penyuluhan Bahasa Indonesia. 1995. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Depdikbud. 1997. Petunjuk Praktis Berbahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Depdiknas. 2000. Ikhtisar Sejarah Ejaan Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Depdiknas. 2002. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Jakarta: Balai Pustaka 94

Halim, Amran. 1988. Politik Bahasa Nasional. Jakarta: Depdikbud, PPPB.

Keraf, Goris. 1988. Komposisi. Ende, Flores: Nusa Indah. Sugono, D. 1994. Inilah Bahasa Indonesia yang Benar. Jakarta: Gramedia. Zakaria, Syofyan. 1998. Wisata Bahasa:Kapita Selekta Bahasa Indonesia. Bandung: Humaniora Utama Press.

TUGAS DAN LATIHAN 1. Silakan Saudara mengkliping 4 contoh paragraf dari koran atau majalah, bacalah paragraf tersebut kemudian: 1) tentukan dan tuliskan topik dari setiap paragraf; 2) tuliskan letak kalimat topik dari setiap paragraf; 3) analisislah paragraf tersebut, sudah memilikikesatuan, kepaduan dan kelengkapankah? 4) Tuliskanlah jenis pengembangan paragraf tersebut! 2. Buatlah 2 contoh paragraf yang baik, dapat Saudara kembangkan dari hasil 1.4!
95

LEMBAR JAWABAN: 1.Tempelkan paragraf yang dikliping di sini!

96

97

NILAI

NAMA NIM Fak.

: ............................... DOSEN : : ............................... : ...............................

1) a. Topik paragraf 1 adalah:


Jawab:

b. Topik paragraf 2 adalah:


Jawab:

c. Topik paragraf 3 adalah:


Jawab:

98

d. Topik paragraf 4 adalah:


Jawab:

2) a. letak kalimat topik paragraf 1:


Jawab:

b. letak kalimat topik paragraf 2:


Jawab:

c. letak kalimat topik paragraf 3:


Jawab:

99

d. letak kalimat topik paragraf 4:


Jawab:

3) Analisis paragraf:
Paragraf Kesatuan Kepaduan Kelengkapan

1 2 3 4 4) a. Jenis pengembangan paragraf 1:


Jawab:

b. Jenis pengembangan paragraf 2:


Jawab:

100

c. Jenis pengembangan paragraf 3:


Jawab:

d. Jenis pengembangan paragraf 4:


Jawab:

101

2. Contoh paragraf yang baik:


Jawab:

102

Jawab:

103

BAB VII. KERANGKA KARANGAN

KOMPETENSI DASAR Mahasiswa dapat membuat karangan ilmiah dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. INDIKATOR Mahasiswa dapat membuat kerangka karangan ilmiah dengan benar. MATERI 1. Kerangka Karangan Kerangka karangan (out line) adalah kerangka tulisan yang menggambarkan bagian-bagian atau butir-butir isi karangan dalam tataan yang sistematis. Tataannya yang sistematis ini menggambarkan organisasi isi karangan. Gambaran isi yang demikian itu menampakkan butir-butir isi karangan dalam hubungannya dengan butir-butir yang lain. Dalam kerangka karangan itu akan tampak butir-butir isi karangan yang menggambarkan (1) sub-subtopik karangan baik dari segi jumlah maupun dari segi jenisnya, (2) urutan sub-subtopik isi karangan, (3) hubungan antarsubtopik dalam karangan: hubungan logis atau kronologis, dan hubungan setara atau hubungan bertingkat. 2. Kegunaan Kerangka Karangan Penyusunan kerangka karangan sanngat dianjurkan karena akan menghindarkan penulis dari kesalahan-kesalahan yan tidak perlu terjadi. Secara 104

rinci kegunaan kerangka karangan dikemukakan oleh Suparno dan Yunus (2002:3.8) sebagai berikut. 1) Kerangka karangan memungkinkan Anda dapat mengarang secara terarah karena isi karangan sebenarnya mengambarkan arah sebuah karangan. Arah yang jelas itu akan tampak pada bab-bab karangan, sub-subbab karangan beserta isi karangan yang perlu dituliskan, urutan sub-subbab karangan, dan hubungan antarisi karangan. Akhadiah (1989:25) menegaskan bahwa kerangka karangan dapat membantu penulis menyusun karangan secara teratur dan tidak membahas satu gagasan dua kali dan mencegah penulis keluar dari sasaran yang sudah dirumuskan dalam topik atau judul. 2) Kerangka karangan memungkinkan Anda dapat memasukkan dan menempatkan materi tulisan yang baru Anda temukan dalam bab atau subbab tertentu, bahkan dalam bab atau subbab yang baru. Dengan demikian, penulis dapat memperluas isi tulisan jika diperlukan untuk memperjelas isi tulisan. 3) Kerangka karangan memungkinkan Anda dapat bekerja lebih feksibel dari segi penyelesaian bagian karangan. Karangan tidak harus dimulai dari bagian awal. Anda dapat memulainya dari bagian tengah, bahkan dari bagian belakang. Anda juga dapat menulis bagian tertentu tidak sampai tuntas karena terkendala materi misalnya. Bahkan karena hanya ingin melakukan variasi berpikir dalam proses mengarang, antara lain karena kejenuhan, Anda dapat menuliskan karangan dengan variasi pindah ke bagian karangan lain. Dengan teknologi komputer, fleksibelitas kerja dapat 105

Anda lakukan dengan mudah dan tanpa resiko dalam penataan isi karangan. 4) Kerangka karangan akan memperlihatkan kepada penulis bahan-bahan atau materi yang diperlukan dalam pembahasan isi karangan (Akhadiah, 1989:26). 5) Kerangka karangan yang berfungsi sebagai miniatur atau prototipe tulisan akan memudahkan pembaca melihat wujud, gagasan, struktur, serta nilai umum sebuah tulisan. Kerangka karangan akan menjadi daftar isi karya ilmiah yang Anda buat (Utorodewo, dkk. 2004:71). 3. Syarat-syarat Kerangka Karangan Ada empat syarat kerangka karangan yaitu (1) tema/tesis harus jelas, (2)tiap unit mengandung satu gagasan, (3) topik-topik disusun secara logis, (4) sistem penomoran konsisten. Penjelasan yang lebih rinci diuraikan sebagai berikut. 1) Tema/tesis harus dirumuskan dengan jelas karena rumusan yang jelas membantu penulis mengungkapkan gagasan dengan mudah dan lancar. 2) Tiap unit dalam kerangka karangan hanya mengandung satu gagasan yang akan diuraikan secara tuntas. Rangkaian antara gagasan sentral dan gagasan bawahan tersusun dengan baik. Gagasan bawahan harus mengandung dukungan dan alasan bagi gagasan sentralnya. Dengan demikian, fakta yang terhimpun dapat menjelaskan dengan baik gejala/topik yang ditulis. 3) Pokok-pokok dalam kerangka karangan harus disusun secara logis. Hanya dengan penyusunan yang logis, Anda dapat mencapai 106

tujuan dengan baik. Rangkaian sebab-akibat harus tersusun dengan baik agar pembaca mudah menarik kesimpulan. 4) Setiap topik, sub-subtopik harus menggunakan penomoran yang konsisten, misal I, A, 1, a dan seterusnya. 4. Bentuk Kerangka Karangan Bentuk kerangka karangan dapat dibedakan menjadi dua yaitu kerangka karangan kalimat dan kerangka karangan topik. Menurut Suparno dan Yunus (2002:3.8) dua bentuk kerangka karangan ini dibedakan berdasarkan redaksi kerangka karangan tersebut. Kerangka karangan kalimat yaitu kerangka karangan yang mengunakan kalimat lengkap untuk merumuskan setiap topik, subtopik maupun subsubtopik. Contoh dapat dilihat sebagai berikut. Judul Karangan : Pupuk Alam Kerangka Kalimat : 1. Pupuk Alam dapat dikategorikan menjadi dua macam yaitu pupuk kandang dan pupuk buatan. 2. Pupuk alam memiliki keuntungan-keuntungan. 3. Pupuk alam lebih murah daripada pupuk buatan. 4. Pupuk alam tidak merusak daya kesuburan tanah. 5. Pupuk alam tidak mematikan organisme di lahan. 6. Pupuk kandang berguna untuk menghamorniskan sistem ekologi. Sebaliknya, kerangka karangan topik adalah kerangka karangan yang diredaksikan dengan kata atau frasa. Setiap bagian karangan diungkapkan dengan kata atau frasa. Pada umumnya, kata atau frasa yang digunakan dalam kerangka karangan adalah kata benda s(nomina) atau frasa benda (frasa nominal). 107

Perhatikan contoh berikut. Judul Karangan : Budaya Baca dalam Masyarakat Modern Kerangka Topik : 1. Pembinaan Minat Baca 2. Peran Lingkungan terhadap Budaya Baca 3. Tipe-tipe Membaca 4. Penerapan Strategi Membaca 5. Pentingnya Pengembangan Budaya Baca Pada umumnya, penulis menggunakan bentuk kerangka topik karena dua pertimbangan. Pertama, kerangka topik lebih sederhana karena rumusanna lebih singkat. Kedua, karena kesederhanaannya itu, kerangka topik lebih mudah dibuat daripada kerangka kalimat. Namun demikian, Anda dapat memilih kedua bentuk kerangka karangan ini dalam membuat tulisan ilmiah yang menurut Anda mudah. Kerangka karangan harus sudah menunjukkan sistematika karangan yang akan diwujudkan. Sistematika itu terwujud dalam kerangka yang sistematis pula. Dalam kerangka karangan yang demikian, urutan karangan secara berjenjang akan tampak pula. Sebagai contoh kerangka karangan topik berikut menunjukkan jenjang sistematika tataan isi karangan dengan menambah bagian-bagian yang memperjelas topik-topik yang akan ditulis. Judul Karangan : Poses Mengarang Kerangka Topik : 1. Kegiatan Prapenulisan 1.1 Penentuan Topik Karangan 1.2 Penentuan Tujuan Karangan 108

1.3 Penyusunan Kerangka Karangan 2. Kegiatan Penulisan 2.1 Penulisan Draf Bagian Karangan 2.2 Penulisan Draf Karangan Utuh 3. Kegiatan Pascapenulisan 3.1 Kegiatan Pemeriksaan Kesalahan Draf Karangan 3.2 Revisi Draf Karangan 3.3 Penyuntingan Draf Karangan 3.4 Penulisan Karangan Utuh Dengan menggunakan kerangka karangan yang mengacu pada uraian di atas akan membantu penulis mengembangkan kerangka karangan yang akan dibahas pada BAB. VIII.

109

DAFTAR PUSTAKA Akhadiah, Sabarti, Maidar G. Arsjad, dan Sakura H. Ridwan. 1989. Pembinaan Kemampuan Menulis. Jakarta: Erlangga. Arifin, E. Zainal. 1987. Penulisan Karangan Ilmiah dengan Bahasa Indonesia yang Benar. Jakarta: PT Melton Putra. Arifin, E. Zainal dan S. Amran Tasai. 1999. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta: Akapres. Depdikbud. 1995. Bahan Penyuluhan Bahasa Indonesia. 1995. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Depdikbud. 1997. Petunjuk Praktis Berbahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Keraf, Goris. 1988. Komposisi. Ende, Flores: Nusa Indah. Sugono, D. 1994. Inilah Bahasa Indonesia yang Benar. Jakarta: Gramedia. Suparno dan M. Yunus. 2002. Ketrampilan Dasar Menulis.Jakarta UT. Utoro Dewo, Felicia N., Lucy R. Montolu, dan L. Pamela Kawira. 2004. Bahasa Indonesia. Sebuah Pengantar Penulisan Ilmiah.Jakarta:UI

110

TUGAS DAN LATIHAN 1. Carilah sebuah tulisan ilmiah dan temukan topik-topik yang dibahas pada tulisan tersebut! 2. Buatlah kerangka karangan berupa kerangka topik atau kerangka kalimat! 3. Buatlah kelompok diskusi yang terdiri dari 3 - 5 orang untuk membahas topik yang terdapat pada tulisan yang Anda baca dan kerangka karangan yang sudah Anda buat! Pilihlah salah satu tulisan dari kelompok Anda untuk didiskusikan!

LEMBAR JAWABAN 1. Tempelkan tulisan yang Anda bahas di bawah ini!

111

2. Kerangka karangan dari tulisan di atas

112

BAB VIII.
PENGEMBANGAN KERANGKA KARANGAN

KOMPETENSI DASAR Mahasiswa dapat membuat karangan ilmiah dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. INDIKATOR Mahasiswa dapat mengembangkan kerangka karangan menjadi karangan utuh dengan benar. MATERI 1. Pengembangan Kerangka Karangan Kerangka karangan yang sudah dibuat baik dalam bentuk kerangka topik maupun kerangka kalimat dapat dikembangkan dalam bentuk paragrafparagraf. Bagaimana mengembangkan topik dalam bentuk paragraf-paragraf, Anda dapat menggunakan materi yang sudah dibahas pada modul 6. Pengembangan kerangka karangan ilmiah dapat dibagi menjadi dua yaitu pengembangan kerangka karangan secara alamiah dan pengembangan kerangka karangan secara logis (Utorodewo, dkk. 2004:75). 1) Pengembangan kerangka karangan secara alamiah. Pengembangan kerangka karangan secara alamiah adalah pengurutan pokok pikiran sesuai dengan kenyataan/apa adanya seperti yang bisa diamati dalam kehidupan manusia. Dalam hal ini, pengembangan kerangka karangan dapat dilakukan 113

dengan cara (1) pengembangan spasial atau ruang yaitu pengembangan kerangka tulisan yang berkaitan dengan lokasi kejadian. Sifat uraiannya lebih deskriptif, (2) pengembangan kronologis atau waktu adalah pengembangan kerangka tulisan berdasarkan urutan kejadian suatu peristiwa atau tahap kejadian, (3) pengembangan berdasarkan topik yang ada yaitu pengembangan kerangka tulisan berdasarkan hal-hal yang sudah diketahui bagian-bagiannya dan dijelaskan secara berturut-turut dan logis ((Utorodewo, dkk. 2004:75). 2. Pengembangan kerangka karangan secara logis Pengembangan kerangka karangan secara logis adalah pengurutan pokok-pokok pikiran yang sesuai dengan penalaran dan berdasarkan kepentingan tujuan penulisan. Pengembangan kerangka karangan secara logis dapat dilakukan dengan cara pengembangan klimak-antiklimaks, pengembangan umum-khusus-khusus-umum, pengembangan perbandingan dan pertentangan, pengembangan sebab-akibat dan lain-lain. 3. Contoh pengembangan topik kerangka karangan Topik: Perekonomian Sektor Informal Awal tahun 1970-an, kota-kota di dunia ketiga ditandai dengan tumbuhnya kegiatan ekonomi sektor informal yang fenomenal. Kegiatan ekonomi itu muncul dari inisiatif masyarakat sendiri sebagai respon terhadap sistem ekonomi yang cenderung birokratis. Dalam hal ini, era negara maju dominan dalam mengontrol dan mendinamisasikan kehidupan ekonomi. Dengan demikian, kelompok masyarakat yang dapat masuk dan memperbesar skala kegiatan ekonomi adalah mereka yang mampu membangun atau telah memiliki relasi dengan birokrasi. 114

Sebaliknya, kelompok masyarakat, yang tidak dapat membangun hubungan dengan birokrasi, merespon dinamika ekonomi dengan cara mereka sendiri, yakni dengan menciptakan kegiatan ekonomi yang bergerak di luar jalur pengakuan resmi birokrasi negara. Dengan kata lain, kegiatan sektor informal ini merupakan strategi dari sebagian warga negara untuk mengisi peluang yang masih tersisa dari pertumbuhan ekonomi yang dimotori negara itu. Melihat kenyataan ini, tidak keliru bila sektor informal ini diletakkan sebagai kegiatan ekonomi pinggiran. Mengapa demikian? Karena meskipun lapangan pekerjaan itu digeluti oleh banyak orang, ia merupakan usaha kecil-kecilan yang didukung oleh individu-individu yang memiliki tingkat pendidikan, keahlian dan keterampilan yang rendah serta modal usaha kecil. Apabila dikomparasikan denan kegiatan ekonomi sektor formal dari segi skala usaha, maka jumlah produksi, jangkauan pasar, dan pemasukan pajak untuk pemerintah memang tidak sebanding. Namun bila dilihat dari segi jumlah tenaga kerja yang diserap, kegiatan ekonomi ini ternyata menyerap tenaga kerja yang lebih banyak dan dapat memberikan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan subsistem ekonomi rumah tangga bagi mereka yang menggelutinya. Selain itu, sektor informal ini memiliki kaitan dengan kegiatan ekonomi sektor formal. Untuk pasar dalam negeri, hasil produksi sektor formal di samping dipasarkan di supermarket, departemen store, tokotoko besar lainnya, juga di pasarkan di sektor informal, meskipun mungkin dengan kualitas barang yang lebih rendah. Kemunculan dan pertumbuhan sektor informal perlu dikorelasikan dengan migrasi desa-kota karena 115

sektor pertanian di pedesaan telah terbatas dalam menyerap tenaga kerja akibat dari pertumbuhan penduduk yang tinggi, kemudian juga dibarengi oleh pembaruan pertanian dengan mekanisme teknologi yang mengurangi penyerapan tenaga kerja (labour displacing). Akibatnya sebagian penduduk pedesaan yang kehilangan lapangan pekerjaan terdorong ( push factor) bermigrasi ke kota untuk mencari peluang berusaha dan bekerja. Kegiatan ekonomi sektor informal ini timbul sebagai akibat dari transformasi ekonomi di pedesaan, ditambah dengan kegiatan ekonomi formal di kota yang juga tidak dapat menyerap tenaga kerja. Dengan kata lain, ia terbentuk sebagai implikasi dan keterbatasan situasi dan kondisi ekonomi formal di pedesaan, sekaligus juga di perkotaan yang tidak dapat menampung tenaga kerja.

116

DAFTAR PUSTAKA Akhadiah, Sabarti, Maidar G. Arsjad, dan Sakura H. Ridwan. 1989. Pembinaan Kemampuan Menulis. Jakarta: Erlangga. Arifin, E. Zainal. 1987. Penulisan Karangan Ilmiah dengan Bahasa Indonesia yang Benar. Jakarta: PT Melton Putra. Arifin, E. Zainal dan S. Amran Tasai. 1999. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta: Akapres. Depdikbud. 1995. Bahan Penyuluhan Bahasa Indonesia. 1995. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Depdikbud. 1997. Petunjuk Praktis Berbahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Keraf, Goris. 1988. Komposisi. Ende, Flores: Nusa Indah. Sugono, D. 1994. Inilah Bahasa Indonesia yang Benar. Jakarta: Gramedia. Suparno dan M. Yunus. 2002. Ketrampilan Dasar Menulis.Jakarta UT. Utoro Dewo, Felicia N., Lucy R. Montolu, dan L. Pamela Kawira. 2004. Bahasa Indonesia. Sebuah Pengantar Penulisan Ilmiah.Jakarta:UI

117

TUGAS DAN LATIHAN 1. Carilah sebuah topik tulisan yang akan Anda kembangkan menjadi tulisan ilmiah! 2. Buatlah kerangka karangan berupa kerangka topik atau kerangka kalimat berdasarkan topik yang sudah Anda temukan pada nomor 1! 3. Kembangkanlah kerangka karangan topik yang sudah Anda buat pada nomor 2 menjadi karangan utuh dan beri judul yang tepat. LEMBAR JAWABAN 1. Topik

2. Kerangka karangan topik

118

3. Karangan Utuh Judul

Nama Penulis

119

BAB IX. KUTIPAN DAN DAFTAR PUSTAKA


Kompetensi Dasar Menulis kutipan langsung dan tak langsung serta menulis daftar pustaka Indikator Setelah mempelajari materi ini diharapkan mahasiswa dapat: 1) membuat kutipan langsung yang kurang dari 40 kata, 2) membuat kutipan langsung yang lebih dari 40 kata, 3) membuat kutipan tidak langsung yang kurang dari 40 kata, 4) membuat kutipan langsung yang lebih dari 40 kata, dan 5) menulis belbagai jenis daftar pustaka. Materi 1. Kutipan Kutipan adalah pengambilan bagian dari pernyataan, buah pikiran, definisi, rumusan, atau hasil penelitian dari tulisan orang lain atau tulisan penulis sendiri yang telah terdokumentasi yang bertujuan untuk memberikan ilustrasi atau memperkokoh argumen dalam tulisan. Kutipan terdiri atas kutipan langsung dan kutipan tidak langsung. Kutipan lanagsung adalah cuplikan tulisan orang lain tanpa perubahan ke dalam karya tulis kita. Hal-hal yang harus diperhatikan ketika mengutip langsung adalah sebagai berikut. 120

1) Tidak boleh mengadakan perubahan terhadap teks asli yang dikutip. 2) Harus menggunakan tanda [ sic!] jika ada kesalahan dalam teks asli. 3) Menggunakan tiga titik berspasi [] jika ada bagian dari kutipan yang dihilangkan. 4) Mencantumkan sumber kutipan dengan sistem MLA, APA, atau sistem yang berlaku sesuai dengan selingkung bidang. Selain itu, dalam mengutip perlu diperhatikan juga butir-butir ini. Pengutipan atau perujukan dilakukan dengan menggunakan nama akhir dan tahun di antara tanda kurung. Jika ada dua penulis, perujukan dilakukan dengan cara menyebut nama akhir kedua penulis tersebut. Jika penulisnya lebih dari dua, penulisan rujukan dilakukan dengan cara menulis nama pertama dari penulis tersebut diikuti dengan dkk. Jika nama penulis tidak disebutkan, yang dicantumkan dalam rujukan adalah nama lembaga yang menerbitkan, nama dokumen yang diterbitkan, atau nama koran. Untuk karya terjemahan, perujukan dilakukan dengan cara menyebutkan nama penulis aslinya. Rujukan dari dua sumber atau lebih yang ditulis oleh penulis yang berbeda dicantumkan dalam satu tanda kurung dengan titik koma sebgaai tanda pemisahnya. A. Kutipan Langsung Kutipan langsung pendek atau kurang dari 4 baris atau ada yang mengatakan kurang dari 40 kata dilakukan cara 1) diintegrasikan dengan teks, 2) diapit oleh tanda petik, 3) diberi berjarak antarbaris yang sama dengan teks, 4) disebut sumber kutipan. 121

Contoh: Chaer dan Agustina (1995:15) mengatakan bahasa adalah sebuah sistem, bahasa itu dibentuk oleh sejumlah komponen yang berpola secara tetap dan dikaidahkan. Bahasa adalah sebuah sistem, bahasa itu dibentuk oleh sejumlah komponen yang berpola secara tetap dan dikaidahkan (Chaer dan Agustina, 1995:15). . Kutipan langsung panjang (lebih dari 4 baris atau 40 kata) dilakukan dengan cara: 1) ditulis tanpa kutip, 2) terpisah dari teks dengan spasi (jarak antarbaris) lebih dari teks, 3) diberi jarak rapat antarbaris dalam kutipan, 4) disebut sumber kutipan, dan 5) boleh diapit tanda kutip, boleh juga tidak. Contoh: Istilah dan cakupan etnografi komunikasi dikemukakan oleh Hymes (yang dikutip oleh Sumarsono dan Patana, 2004:311) berikut ini. Istilah etnografi komunikasi itu sendiri menunjukkan cakupan kajiannya, yaitu etnografis landasannya dan komunikatif rentangannya dan jenis kerumitannya yang terkait. Dalam cakupan kajian, orang tidak dapat hanya secara terpisah mengambil 122

hasil-hasil kajian dari linguistik, psikologi, sosiologi, etnologi dan menghubung-hubungkannya. Jika kita ingin mengutip sebagian pernyataan dari suatu teks atau ada sebagian kutipan yang dihilangkan, kata-kata yang dibuang itu dapat diganti dengan tiga titik. Contoh: Bagi instrumen yang belum ada persediaaan di Lembaga Pengukuran dan penilaian, peneliti harus menyususn sendiri, mulai dari merencanakan, mencoba, merevisi (Arikunto, 1989:134) Apabila ada kalimat yang dibuang, kalimat yang dibuang diganti dengan empat titik. Contoh: Gerak manipulatif adalah keterampilan yang memerlukan koordinasi antara mata, tangan, atau bagian tubuh lain . Yang termasuk gerak manipulatif antara lain adalah menangkap bola, menendang bola, dan menggambar (Asim, 1995:315).

B. Kutipan Tidak Langsung Kutipan tidak langsung adalah kutipan yang dikemukakan dengan menggunakan kata-kata sendiri. Untuk itu, pengutip harus memahami inti sari dari bagian yang dikutip secara tidak langung. Kutipan tidak

123

langsung dapat dibuat secara pendek maupun panjang dengan cara 1) diintegrasikan dengan teks, 2) diberi jarak antarbaris yang sama dengan teks, 3) tanpa diapit tanda petik, dan 4) dicantumkan sumber rujukan dengan sistem MLA atau APA. Contoh: Eriyanto (2001:61) mengemukakan bahwa analisis paradigmatik kritis menitikberatkan penginterpretasian teks pada peneliti itu sendiri. 2. Daftar Pustaka Daftar pustaka diletakkan di bagian akhir sebuah tulisan. Daftar pustaka merupakan rujukan penulis selama ia melakukan dan menyusun penelitian atau laporannya. Daftar pustaka berisi buku, makalah, artikel, atau bahan cetakan lainnya yang dikutip, baik secara lansung maupun tidak langsung. Daftar pustaka berfungsi untuk 1) membantu pembaca mengenal ruang lingkup studi penulis, 2) memberi informasi kepada pembaca untuk memperoleh pengetahuan yang lebih lengkap dan mendalam daripada kutipan yang digunakan oleh penulis, dan 3) membantu pembaca memilih referensi dan materi dasar untuk studinya. Daftar pustaka dapat disusun dengan berbagai format. Ada format yang diuraikan dengan menggunakan MLA (The Modern Language Assosiaciation) dan format APA (American Psychological Association). Akan tetapi, ada berbagai format daftar pustaka yang berlaku selingkung bidang ilmu. Misalnya, bahwa format daftar pustaka untuk 124

bidang ilmu biologi, kedokteran, hukum, dan lain-lain. Dalam modul ini akan dibahas teknik penulisan daftar pustaka yang berlaku secara umum dalam penulisan karya ilmiah di Indonesia. Teknik penulisan daftar pustaka adalah sebagai berikut. 1. Baris pertama dimulai pada pias (margin) sebelah kiri, baris kedua dan selanjutnya dimulai dengan 3 ketukan ke dalam 2. Jarak antarbaris adalah 1,5 spasi 3. Daftar pustaka diurut berdasarkan abjad huruf pertama nama keluarga penulis. (Akan teta[pi, cara mengurutkan daftar pustaka amat bergantung pada ilmu. Setiap bidang ilmu memiliki gaya selingkun). 4. Jika penulis yang sama menulis beberapakarya ilmiah yang dikutip, nama penulis itu harus dicantumkan ulang. Unsur yang harus dicantumkan dalam daftar pustaka adalah: 1) nama penulis ditulis dengan urutan nama akhir, nama awal, dan nama tengah, tanpa gelar akademik, 2) tahun penerbitan, 3) judul, , termasuk anak judul (subjudul), 4) kota tempat penerbiatan, dan 5) nama penerbit. Jika penulisnya lebih dari satu, cara penulisan namanya sama dengan penulis pertama. Nama penulis yang terdiri dari dua bagian ditulis dengan urutan: nama akhir diikuti koma, nama awal (disingkat atau tidak 125

disingkat, tetapi harus konsisten dalam satu karya ilmiah) diakhiri dengan titik. Apabila sumber yang dirujuk ditulis oleh tim ( lebih dari 3 penulis), semua nama penulisnya harus dicantumkan dalam rujukan .* Berikut contoh perbedaan penulisan daftar pustaka yang menggunakan MLA dan APA. Jenis Rujukan
Satu Penulis

Format MLA
Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Bina Aksara, 1989. Sumarsono, dan Paina Partana. Sosiolinguistik. Yogyakarta: Sabda, 2004. Akhadiah, Sabarti, Maidar G. Arsjad, dan Sakura H. Ridwan. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Penerbit Erlangga, 1989. Alwi, Hasan, et al. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Ed. ke-3. Jakarta: Balai Pustaka, 2003.

Format APA
Arikunto, S. (1989). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Bina Aksara Sumarsono, dan Partana, P. (2004). Sosiolinguistik. Jakarta: Bina Aksara.

Dua Penulis

Tiga Penulis

Akhadiah, S., Arsjad, M.G., dan Ridwan, S.H. (1989). Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Alwi, H., et al. (2003). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. (Ed. ke-3). Jakarta: Balai Pustaka.

Lebih dari Tiga Penulis

ATAU
Alwi, Hasan, dkk. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Ed. ke-3. Jakarta: Balai Pustaka, 2003. Keraf, Gorys. Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Berbahasa. Ende, Flores:

ATAU
Alwi, H., dkk. (2003). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. (Ed. ke-3). Jakarta: Balai Pustaka. Keraf, G. (1982). Argumentasi dan Narasi. Jakarta: Penerbit Gramedia Pustaka

Penulis dengan beberapa buku

126

MLA: pencantuman buku didasarkan urutan tahun terbit APA: pencantuman buku didasarkan abjad.

Penerbit Nusa Indah, 1997. -------. Argumentasi dan Narasi. Jakarta: Penerbit Gramedia Pustaka Umum, 1982.

Umum Keraf, G. (1997). Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Berbahasa. Ende, Flores: Penerbit Nusa Indah.

ATAU
Keraf, Gorys. Argumentasi dan Narasi. Jakarta: Penerbit Gramedia Pustaka Umum, 1982. ------. Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Berbahasa. Ende, Flores: Penerbit Nusa Indah, 1997.

Penulis Tidak Diketahui/Lem baga

Buku Terjemahan

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Sriwijaya. Buku Pedoman FKIP Unsri. Palembang: Percetakan Unsri., 2005. Creswell, Jhon W. Research Design: Qualitative and Quantitative Approaches. Terj. Angkatan III dan IV KIKUI bekerja sama dengan Nur Habibah. Eds. Chryshnanda DL dan Bambang Hastobroto. Jakarta: KIK Press, 2002

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Sriwijaya. (2005). Buku Pedoman FKIP Unsri. Palembang: Percetakan Unsri. Creswell, J.W. (2002). Research Design: Qualitative and Quantitative Approaches. (Terj. Angkatan III dan IV KIK-UI bekerja sama dengan Nur Khabibah). Eds. Chrysnanda DL dan Bambang Hastobroto. Jakarta: KIK Press.

ATAU
DL, Chrysnanda dan Bambang Hastobroto, Eds. Desain Penelitian: Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif terj. dr. Jhon W Creswell. Jakarta: KIK Press, 2002

ATAU
Creswell, J.W. (2002). Research Design: Qualitative and Quantitative Approaches. (Terj. Angkatan III dan IV KIK-UI bekerja

127

Sugono, Dendy, peny. Bahasa Indonesia Menuju Masyarakat Madani. Jakarta: Penerbit Progres bekerja sama dengan Pusat Bahasa, 2003. Buku dengan Penyunting/Edi tor

sana dengan Nur Khabibah). Jakarta: KIK Press. Sugono, D., (peny.). (2003). Bahasa Indonesia Menuju Masyarakat Madani. Jakarta: Penerbit Progres bekerja sama dengan Pusat Bahasa.

ATAU
Sugono, Dendy, ed. Bahasa Indonesia Menuju Masyarakat Madani. Jakarta: Penerbit Progres bekerja sama dengan Pusat Bahasa, 2003. Sadie, Stanley, ed. The New Grove Dictionary of Music and Musicians. Vol. 15. London: Macmilan, 1980.

ATAU
Sugono, D., (ed.). (2003). Bahasa Indonesia Menuju Masyarakat Madani. Jakarta: Penerbit Progres bekerja sama dengan Pusat Bahasa. Sadie, S., (ed.). (1980). The New Grove Dictionary of Music and Musicians. Vol. 15. London: Macmilan.

Serial/Berjilid

ATAU
Sadie, Stanley, ed. The New Grove Dictionary of Music and Musicians. Vol. 15. London: Macmilan, 1980 Indrawati, Sri dan Santi Oktarina. Pemerolehan Bahasa Anak TK: Sebuah Kajian Fungsi Bahasa. Lingua: Jurnal Bahasa dan Sastra 7 (2005): 2139. Asa, Syubah. PKS: Sayap Ulama dan Sayap Idealis, Tempo, 511 Juli 2004, 38 39. Syifaa, Ika Nurul. Klub

ATAU
Sadie, S., (ed.). (1980). The New Grove Dictionary of Music and Musicians. (Vol. 15, hlm. 366). London: Macmilan. Indrawati, S. dan Oktarina, S. (2005). Pemerolehan Bahasa Anak TK: Sebuah Kajian Fungsi Bahasa. Lingua: Jurnal Bahasa dan Sastra 7, 2139. Asa, S. (2004, 511 Juli). PKS: Sayap Ulama dan Sayap Idealis, Tempo, 38 39. Syifaa, I. N. (2004, 2228

Jurnal

Majalah

128

Profesi, Perlukah Dimasuki? Femina, No. 30, 2228 Juli 2004, 5455. Suwartono, Antonius. Keanekaan Hayati Mikro-organisme: Menghargai Mikroba Bangsa. Kompas, 24 Des. 1995, 11. Potret Industri Nasional: Tak Berdaya Dihantam Impor Komponen dan Disortasi Pasar. Kompas, 23 Des. 1995, 13. Menyambut Terbentuknya Badan Pengurus Kemitraan Deklarasi Bali. Tajuk Rencana (editorial). Kompas, 22 Des. 1995, 4. Biro Pusat Statistik. Struktur Ongkos Usaha Tani Padi dan Palawija 1990. Jakarta: BPS, 1993. Ibrahim. M.D., P. Tjiptopratomo, dan Y. Slameka. National Network of Information Services in Indonesia: A Design Study. Makalah tidak diterbitkan, 1993. Budiman, Meilani. The Relevance of Multiculturalism to Indonesia. Makalah pada Seminar Sehari tentang Multikulturalisme di Inggris, Amerika, dan Australia, Universitas Indonesia. Depok, Maret 1996. Rismala. The Role of Paper Tutor in Group Work to Develeop the

Juli). Klub Profesi, Perlukah Dimasuki? Femina, No. 30, 54 55. Suwartono, A. Keanekaan Hayati Mikroorganisme: Menghargai Mikroba Bangsa. (1995, 24 Desember). Kompas, 11. Potret Industri Nasional: Tak Berdaya Dihantam Impor Komponen dan Disortasi Pasar. ( 1995, 23 Desember). Kompas, 13. Menyambut Terbentuknya Badan Pengurus Kemitraan Deklarasi Bali. Tajuk Rencana (editorial). (1995, 22 Desember). Kompas, 4. Biro Pusat Statistik. (1993.) Struktur Ongkos Usaha Tani Padi dan Palawija 1990.Jakarta: BPS. Ibrahim. M.D., Tjiptopratomo, P., dan Slameka Y. (1993). National Network of Information Services in Indonesia: A Design Study. Makalah tidak diterbitkan. Budiman, M. (1996, Maret). The Relevance of Multiculturalism to Indonesia. Makalah pada Seminar Sehari tentang Multikulturalisme di Inggris, Amerika, dan Australia, Universitas Indonesia. Depok, Rismala. (2006). The Role of Paper Tutor in Group Work to Develop

Surat kabar

Dokumentasi Pemerintah

Naskah yang Belum Diterbitkan

Skripsi, Tesis, Disertasi

129

Students Oral Interpersonal Meaning at Class HI-5 SMPN 41 Palembang. Skripsi tidak diterbitkan. Palembang, FKIP Unsri, 2006.

the Students Oral Interpersonal Meaning at Class HI-5 SMPN 41 Palembang. Skripsi tidak diterbitkan. Palembang: FKIP Unsri.

Selain kedua format di atas, terdapat format lain selingkung dengan fakultas masing-masing. Salah satu format yang umum dipakai asalah sebagai berikut! Jenis Rujukan
Satu Buku Buku ada editor Rujukan dari artikel dalam Jurnal Rujukan dari Artikel dalam Majalah dan Koran Rujukan dari Internet Berupa Karya Individual Rujukan dari Internet berupa artikel dari Jurnal Rujukan dari Internet berupa Bahan Diskusi Rujukan dari Internet berupa Email Pribadi

Format FKIP Unsri


Dekker, N. 1992. Pancasila sebagai Ideologi Bangsa: dari Pilihan Satu-satunya ke Satu-satunya Asas. Malang: FPIPS IKIP Malang. Aminuddin (Ed.). 1990. Pengembanagan Penelitian Kualitatif dalam Bidang Bahasa dan Sastra. Malang: HISKI Komisariat Malang dan YA3. Hanafi, A. 1989. Partisipasi dalam Siaran Pedesaan dan Pengadopsian Inovasi. Forum Penelitian, 1 (1): 33-47. Gadner, H. 1981. Do Babies Sing a Universal Song? Pschology Today, hlm. 70-76. Suryadarma, S.V.C. 1990. Prosesor dan Interface: Komunikasi Data. Info Komputer, IV(4): 45-48. Hitchcock, S., Carr, L.& Hal, W. 1996. A Survey of STM Online Jornals, 1990-95: The Calm before the Strom, (Online), (http://jornal.ecs.uk/survey.html, diakses 121 Juni 1996). Kumaidi. 1998. Pengukuran Bekal Awal Belajar dan Pengembangan Tesnya. Jurnal Ilmu Pendidikan, (Online), Jilid 5, No. 4, (http://malang.ac.id, diakses 29 Januari 2000). Wilson, D. 20 November 1995. Summary of Citing Internet Sites. NETTRAIN Discussion List, (Online), (NETTRAIN@ubvm.cc.buffalo.edu, diakses 22 November 1995). Naga, Dali S. (ikip-jkt@indo.net.id.). 1 Oktober 1997. Artikel untuk JIP. E-mail kepada Ali Saukah (jipsi@mlg.ywen.or.id).

130

Latihan A. Bacalah teks Bahasa Televisi Indonesia oleh Sumita Tobing. Buatlah kutipan langsung (kurang dari 4 baris dan lebih 4 baris) dan tidak langsung (kurang dari 4 baris).

131

B. Buatlah daftar pustaka sesuai dengan lingkup yang umum! 1. Artikel Nini Hidayat Jusuf yang berjudul Margueite Duras (1914-1986) pengarang yang bertualang dalam Novel, Film dan Jurnalisme muncul di halaman 133-151 dalam buku berjudul Wanita dalam Kesusastraan Prancis yang disunting Apsanti Djosujatno dan diterbitkan Indonesia Tera di Magelang pada tahun 2003.

132

2. Sebuah buku yang tebalnya 240 halaman dan didahului 9 halaman pendahuluan diterbitkan UI-Press di Jakarta pada tahun 1993 dan ditulis Koentjoroningrat dengan judul Masalah Kesubangsaan dan Integrasi Nasional.

3. Dalam majalah Biodata Vol. VII, No.2, bulan Juni 2002, tercetak artikel Rully Adi Nugroho dan Soenarto Notosoedarmo berjudul Concentrations of Metals (Cu, Mn, and Zn) in Terrestrial Slug Parmarion puppilaris Humb. Sampled from Gintungan, Central Java di halaman 67-72.

133

4. Buku penuntun diet anak, terbitan rumah sakit cipto mangunkusumo dan persatuan ahli gizi Indonesia yang diterbitkan Gramedia. Persatuan Ahli Gizi Indonesia. Buku Penuntun Diet Anak. Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo: Gramedia. RS.Cipto Mangunkusumo dan Persatuan Ahli Gizi Indonesia. Buku Penuntun Diet Anak. Gramedia.

134

BAB X. TATA PERSURATAN


Kompetensi Dasar Dengan mempelajari modul ini, mahasiswa diharapkan dapat memahami konsep-konsep dan menerapkan dalam menulis surat dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Indikator Setelah mempelajari modul ini , mahasiswa diharapkan dapat: 1. memahami arti surat 2. memahami berbagai jenis surat 3. memahami bentuk surat 4. memahami bagian-bagian surat dan fungsinya 5. memahami bahasa surat 6. menulis surat dengan mentaati peraturan peraturan yang telah ditentukan dan dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. 7. menulis surat lamaran kerja. Uraian 1. Arti, Jenis, dan Bentuk Surat Arti Surat adalah alat untuk menyampaikan suatu maksud secara tertulis kepada pihak lain.Maksud yang disampaikan melalui surat dapat berupa permintaan, pertanyaan, pertimbangan, lamaran, dan sebagainya. Pihak lain yang dimaksud dapat diartikan atas nama perseorangan (pribadi) dan dapat atas nama jabatan dalam sustu organisasi. 135

Surat dan jenisnya Sebagai alat komunikasi tulis, surat sangat beraneka ragam yaitu: 1 ) Surat menurut wujudnya, yaitu surat bersampul, kartu pos, warkat pos, telegram dan teleks, memo dan nota, dan surat tanda bukti. 2) Surat menurut ruang lingkup kegiatannya adalah: a. surat intern, yaitu surat yang dipakai untuk hubungan dalam lingkungan sendiri atau lingkungan suatu kantor; b. surat ekstern, yaitu surat yang dipakai untuk kegiatan-kegiatan ke instansi/pihakpihak di luar kantor. 3) Surat menurut pemakaiannya yaitu surat pribadi (prive) dan surat resmi (resmi dinas pemerintah dan swasta). 4) Surat menurut sifatnya dibagi atas tiga golongan, yaitu surat biasa, surat konfidensial (terbatas), surat rahasia. Perbedaan itu didsarkan pada segi keamanan isinya. Bentuk Surat Yang dimaksud dengan bentuk surat adalah pola atau patron sebuah surat yang ditentukan oleh tataletak (layout) bagian-bagian surat. Penempatan bagian-bagian surat pada posisi tertentu akan membentuk model (style) yang tertentu pula Bentuk surat dalam surat-menyurat Indonesia sangat beragam. Keberagaman itu sangat bergantung pada hasil kesepakatan (konvensi). Kesepakatan yang diambil hendaknya mempertimbangkan teknis pengetikan dan penampilan surat secara keseluruhan. Oleh karena itu, bentuk surat yang ideal seyogianya didasarkan atas penalaran seni dan tata ruang sehingga tercipta kepaduan seni dan kebenaran ilmu. 136

Bentuk surat harus dibedakan dahulu antara surat berperihal dan surat berjudul. Yang dimaksud dengan surat berperihal adalah surat yang memakai notasi perihal dan tidak berjudul, sedangkan surat berjudul adalah surat yang memakai judul dan tidak berperihal. Jadi, perbedaan antara surat berperihal dan surat berjudul terletak pada sistem penulisan. Seluruh surat berperihal harus ditulis dengan menggunakan tiga bentuk utama, yaitu 1) bentuk resmi Indonesia (official style); 2) bentuk lurus (block); dan 3) bentuk bertakuk (indented style) Selanjutnya, pada halaman-halaman berikut ini dapat dilihat gambar bentuk surat berperihal dan gambar bentuk surat berjudul, masing-masing disertai uraian singkat tentang posisi bagian-bagian suratnya. 2. Bagian Surat, Fungsi, dan Cara Menuliskannya Setiap surat terdiri atas bagian-bagian. Dari gabungan bagian surat itulah terbentuk sebuah surat. Penempatan bagian-bagian surat pada posisi tertentu akan membentuk model (style) yang tertentu pula. Bagian-bagian surat resmi pada umumnya adalah: 1. kepala (kop); 2. nomor; 3. tanggal; 4. lampiran; 5. hal/perihal; 6. alamat tujuan; 7. salam pembuka; 8. isi; 9. salam penutup; 10.nama organisasi/unit organisasi yang mengeluarkan surat; 11.jabatan penanda tangan; 137

12.tanda tangan dan nama penanggung jawab; 13.tembusan; 14.inisial pengonsep dan pengetik; 15.sifat Beberapa instansi ada yang menambahkan sifat atau klasifikasi surat, umpamanya sifat biasa, segera, penting, atau rahasia dalam surat yang umumnya memakai bentuk resmi Indonesia. Notasi itu umumnya ditempatkan setelah nomor surat. Pada bagian akhir sebuah surat, sebelum inisial, dapat dicantumkan tambahan untuk menambahkan sesuatu yang mungkin terlupa.Tambahan itu dapat dituliskan dengan notasi catatan, N.B. (Nota Bene), atau P.S. (Post Scriptum). Khusus di dalam undangan, pada bagian akhir surat lazim dituliskan RSVP (Respondes sil Vouz Plait). Misalnya, RSVP 4893095 berarti melalui telepon itu orang yang diundang dapat memberi respon apakah ia akan hadir atau tidak. Setiap bagian surat mempunyai fungsi tertentu. Di bawah ini diuraikan fungsi masing-masing bagian, cara penempatan, dan teknis penulisannya. (1) Kepala (kop) Surat resmi umumnya ditulis pada kertas yang memakai kepala surat. Biasanya kepala surat disusun dengan tata letak yang menarik, terutama kepala surat perusahaan. Pada kepala surat dapat dicetak hal-hal yang merupakan identitas organisasi, yaitu a) nama organisasi atau lembaga; b) alamat kantor pusat dan kantor cabang; c) nomor telepon; d) nomor faksimili; e) nomor kotak pos atau tromol pos; f) alamat kawat; dan 138

g) lambang (logo) Khusus surat perusahaan, pada kepala suratnya juga sering dicantumkan macam usaha atau bidang kegiatan dan nama banker sebagai referensi. Setelah menilik isinya dapat diketahui guna kepala surat adalah untuk 1) identitas organisasi, 2) mengetahui nama dan alamat kantor suatu organisasi. 3) memberi informasi atau keterangan tentang organisasi dan 4) alat promosi (bagi perusahaan) Harus diingat, kertas berkepala surat hanya dipakai untuk kepentingan organisasi. Kertas berkepala surat tidak boleh dipakai untuk keperluan pribadi, kecuali kertas berkepala surat untuk tujuan promosi, misalnya kertas surat yang disediakan di kamar-kamar hotel yang besar. Perseorangan yang dalam keadaan tertentu akan menggunakan kertas berkepala surat resmi terlebih dahulu harus mencoret tulisan pada kepala surat tersebut sebagai pertanda surat itu tidak mewakili organisasi. (2) Nomor Setiap surat resmi terutama yang dikirim ke luar lingkungan organisasi hendaknya diberi nomor dan kode tertentu. Nomor tersebut adalah nomor verbal. Guna nomor surat: a. untuk mempermudah mencari surat itu kembali jika sewaktu-waktu dibutuhkan b. untuk mempermudah penunjukkan dalam suratmenyurat c. untuk mempermudah pengarsipan d. untuk mengetahui jumlah surat yang telah dibuat

139

(3) Tanggal Penulisan tanggal surat hendaklah ditulis dengan penuh, tidak boleh disingkat dan untuk penulisan bulan tidak boleh memakai angka, baik angka Arab maupun Romawi. Penulisa tanggal surat tidak perlu disertai kota tempat surat itu ditulis apabila surat itu ditulis pada kertas yang berkepala surat. (4) Lampiran Kata lampiran dapat disingkat Lamp.: dan jika ada yang dilampirkan. Kata bilangan yang menyatakan jumlah yang dilampirkan itu ditulis dengan huruf awal kapital tampa diakhiri tanda baca. Contoh; Lampiran: tiga lembar Lampiran: -Lampiran: satu berkas Lampiran: Satu bundel (5) Perihal atau Hal: Perihal atau Hal adalah sebagai petunjuk mengenai pokok isi surat. Perihal sama pengertiannya dengan judul pada karangan lain. Cara penulisan perihal dapat dibedakan untuk masingmasing bentuk surat, yaitu: a. untuk surat resmi dinas pemerintah penulisan perihal sesudah lampiran

140

Contoh: Nomor : .. Lampiran: . Perihal : Undangan lokakarya b. untuk surat bentuk lurus (block style) Contoh: Hal : Lamaran untuk Jabatan Sekretaris Dengan hormat, .. (6) Alamat Tujuan Petunjuk dalam menulis alatmat tujuan, yaitu: a) Dalam penulisan alamat tujuan, kata kepada dan sejenisnya tidak wajib ditulis asalkan alamat tujuan ditempatkan pada posisi yang tepat. b) Ungkapan yang terhormat (disingkat yth.) juga tidak selalu dipakai dalam penulisan alamat tujuan. Ungkapan yth. dipakai: 1. jika surat ditujukan kepada seseorang yang dihormati; jika seorang bawahan mengirim surat kepada atasannya; atau jika sebuah perusahaan mengirim surat kepada relasinya. 2. jika surat ditujukan kepada seseorang dengan menuliskan nama jabatannya yang diikuti nama organisasi atau unit organisasi. Contoh: I. Yth. Rektor Unsri II. Yth. Kabag Personalia PT. III. Yth. Ketua. IV. Yth. Ibu.. Tetapi, jika surat ditujukan kepada organisasi, ungkapan yth. tidak dipakai; dan pada 141

amplopnya langsung dituliskan nama organisasi beserta alamatnya. Contoh : PT Aero Wisata Jln. Pemuda No. 53 Medan 15320 Sumatra Utara c) Pada akhir setiap baris, termasuk setelah baris terakhir yang biasanya berisi nama kota, nama daerah, termasuk nama negara, tidak diberi tanda titik, kecuali bila ada singkatan. d) Dalam penulisan alamat tujuan dapat dipakai singkatan yang lazim dengan mengindahkan ketentuan penulisan singkatan yang berlaku (lihat pedoman EYD). e) Kode pos hanya ditulis pada alamat luar. Kode pos perlu dicantumkan untuk memudahkan petugas pos mengetahui wilayah/lokasi alamat yang dituju. Agar lebih jelas, dibawah ini diberikan beberapa contoh penulisan alamat tujuan. a. Cara penulisan alamat tujuan pada sampul surat b. Kepada perseorangan Yth. Sdr. Wawan Ruswanto Jln. Persatuan No. 35 Ciputat, Kebayoran Lama Jakarta 12230 c. Kepada pejabat pemerintah Yth. Rektor UT u.p. Kepala Pusat pengujian Jalan Cabe Raya, Ciputat, Tanggerang 15418 d. Kepada organisasi/perusahaan Bagian Pemasaran CV Sinar Kemilau Jln. Jend. Sudirman 10 Ujung Pandang 14250 Sulawesi Selatan 142

e. Kepada pimpinan organisasi/perusahaan Yth. Direktur PT Sentosa Jln. Tunjungan No. 57 Surabaya 17812 f. Kepada pemasang iklan Yth. Pemasang Iklan Harian Kompas (Kode: S-01) d.a. Palmerah Selatan 86 Jakarta 11480 g. Alamat yang memakai u.p. (untuk perhatian) Yth. Direktur Perum Astek Jln. Letjen Suprapto 139 Jakarta 10530 u.p. Bpk. Suratno, S.H. h. Kepada kotak pos (P.O. Box) Kotak Pos 247/JKS Jakarta 12160 (7) Salam Pembuka Salam pembuka hanya dipakai dalam surat berita. Gunanya agar surat tidak terasa kaku. Secara teoritis pemakaian salam pembuka sifatnya tidak wajib. Surat berita tanpa salam pembuka, sama sekali tidak salah. Namun, dalam praktik pemakaian kita menemukan fakta bahwa surat pribadi selalu memakai salam pembuka, surat niaga umumnya memakai salam pembuka, dan surat dinas pemerintah jarang memakai salam pembuka. Khusus tentang pemakaian salam pembuka di dalam surat dinas pemerintah, ada orang yang berpendapat bahwa surat dinas pemerintah tidak boleh memakai salam pembuka. Pendapat yang demikian itu kiranya perlu diluruskan. Tidak ada ketentuan yang melarang penulis surat dinas pemerintah mencantumkan salam pembuka di dalam suratnya. 143

Inulah beberapa contoh salam pembuka pada surat resmi. 1. Dengan hormat, 2. Bapak (Pak).. yang terhormat, 3. Ibu (Bu) yang terhormat, 4. Saudarayang saya/kami hormati, 5. Salam sejahtera, 6. Assalamualaikum Wr. Wb. (8) Isi Surat Ditinjau dari segi komposisi, isi surat yang paling ideal adalah yang terdiri atas tiga macam alinea, yaitu alinea pembuka, alinea transisi, dan alinea penutup. Ketiga jenis alinea tersebut akan menjalankan fungsi tertentu di dalam suatu karangan, termasuk di dalam surat. Memang isi surat dapat dibuat singkat, terdiri atas dua atau bahkan satu alinea. Tetapi, sebagai suatu karangan, surat yang demikian terasa kurang lengkap atau kurang ideal. 1. Alinea Pembuka Alinea pembuka pada sebuah surat berfungsi sebagai pengantar bagi pembaca untuk segera mengetahui masalah pokok surat. Di dalam surat resmi, alinea pembuka harus telah mengandung masalah pokok surat. Setelah membaca alinea pembuka, pembaca surat hendaknya tidak lagi bertanya-tanya atau merasa heran akan surat yang diterimanya. Contoh alinea pembuka untuk memberitahukan, menanyakan, meminta, melaporkan dan menyampaikan sesuatu dapat dipergunakan bentukbentuk di bawah ini setelah disesuaikan dengan maksud suratnya. 1) Kami beri tahukan bahwa 2) Dengan ini kami kabarkan bahwa. 144

3) Dengan sangat menyesal kami beritahukan.. 4) Pada kesempatan ini kami bermaksud menanyakan.. 5) Dengan ini kami menanyakan 6) Kami mohon bantuan saudara untuk.. 7) Perkenankanlah kami melaporkan.. 8) Sebagai tindak lanjut pertemuan kita 9) Sebagai realisasi perundingan kita. 10) Bersama ini kami kirimkan daftar.. 11) Sesuai dengan pembicaraan kita minggu yang lalu Jika menjawab atau membalas surat dan menunjuk surat/iklan tertentu, untuk awal alinea pembukanya dapat dipergunakan bentuk-bentuk dibawah ini. 1. Untuk menjawab surat Saudara Nomor. 2. Untuk membalas surat Saudara Nomor. 3. Sehubungan dengan surat Saudara Nomor 4. Berkenaan dengan surat Saudara Nomor.. 5. Untuk memenuhi permintaan Saudara melalui surat Nomor. 6. Menunjuk surat Anda Nomor. 7. Setelah membaca iklan perusahaan Bapak dalam harian Sebagai lanjutan dari awal alinea pembuka yang diperkenalkan di atas dapat dipakai beberapa pilihan anak kalimat yang sesuai dengan kasus dan konteks permasalahan. Kenyataan menunjukkan bahwa anak kalimat itu sering diawali dengan frase dengan ini atau bersama ini sebagai alternatif. Misalnya: i. Sebagai tindak lanjut pertemuan kita tanggal .. dengan ini/ bersama ini.(harus dipilih salah satu frase).

145

ii. Untuk menjawab surat Saudara Nomor.dengan ini/bersama ini.(harus dipilih salah satu frase). 2. Alinea Transisi Yang dimaksud dengan alinea transisi adalah seluruh alinea yang terdapat antara alinea pembuka dan alinea penutup. Alinea transisi berisi uraian, keterangan, atau penjelasan tentang masalah pokok surat yang sudah terdapat dalam alinea pembuka. Alinea transisi sangat penting karena di dalamnya terdapat isi surat yang sesungguhnya berupa pesanpesan yang ingin disampaikan oleh pengirim surat. Karena itu, alinea transisi juga sering disebut alinea isi atau alinea pesan. Contoh : a) Dengan cara repetisi Yang dimaksud dengan repetisi adalah pengulangan sebagian unsur alinea sebelumnya untuk memulai alinea baru ( alinea transisi). Contoh (i): alinea awal (alinea pembuka): Dengan ini kami kabarkan bahwa direktur kami sedang menderita sakit, dan kini beliau dirawat di Rumah Sakit Islam, Jakarta. alinea lanjutan (alinea transisi): Karena direktur kami sakit, pertemuan yang semula dijadwalkan berlangsung tanggal.. terpaksa ditunda. Contoh (ii): alinea awal (alinea pembuka): Pada kesempatan ini kami memperkenalkan perusahaan kami PT XYZ. Kami bergerak dalam bidang jasa asuransi kerugian, khususnya asuransi kebakaran. 146

Alinea lanjutan (alinea transisi): Asuransi kerugian, khususnya asuransi kebakaran telah menjadi spesialisasi kami selama 15 tahun, mulai tahun 1980 sampai sekarang. Kami telah ..dst. b)Dengan bantuan Frase Transisi Frase adalah kelompok kata dengan konstruksi nonprediktif yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan dalam membentuk kalimat atau alinea. Salah satu jenis frase yang cukup produktif pemakaiannya didalam surat-menyurat adalah frase transisi, yaitu frase penghubung yang berfungsi untuk mempererat hubungan antaralinea. Dengan bantuan frase transisi, hubungan antar alinea akan terasa lebih padu. Di bawah ini diberikan sebagian contoh frase transisi. 1) Oleh sebab itu,.. 2) Sehubungan dengan itu,. 3) Sehubungan dengan hal tersebut,. 4) Akan tetapi,. 5) Walaupun demikian,.. 6) Dalam pada itu, 7) Di samping itu,.. 8) Selain itu, 9) Berkenaan dengan hal tersebut,. 10) Berkaitan dengan hal di atas,. c)Dengan Bantuan Kata Penghubung Kata-kata penghubung seperti meskipun, berhubungan, tetapi, namun, sebaliknya, kemudian, selanjutnya, dan jadi, dapat dipakai untuk memulai alinea transisi, asal disesuaikan dengan fungsi masing masing kata tersebut.

147

Contoh (i): alinea awal (alinea pembuka): Menurut catatan kami, ternyata Saudara belum melunasi faktur No. 357/A/90 tanggal 15 Oktober 2005 sebesar Rp. 975.000,00. Utang tersebut sebenarnya sudah harus Saudara bayar pada akhir bulan Desember (jatuh tempo tanggal 28 Desember 2005). alinea lanjutan (alinea transisi): Meskipun keterlambatan itu mungkin tidak sengaja, tetapi untuk menjaga kelancaran perputaran uang kami, kami mengharap agar Saudara segera melunasi utang tersebut. Contoh (ii): alinea transisi: Pada hari tersebut akan diadakan testing dan wawancara. Untuk itu, kami harap Saudara membawa ijazah asli dan surat keterangan lain yang diperlukan. 3. Alinea Penutup Alinea penutup harus singkat dan tegas serta tidak berisi basa-basi yang berlebihan. Alinea penutup harus selaras dengan misi surat. Bunyi alinea penutup untuk sebuah surat berita dengan sendirinya berbeda dari bunyi alinea penutup surat-surat nonberita. Di bawah ini disajikan beberapa contoh alinea penutup yang pemakaiannya dapat sesuai dengan isi dan sifat surat yang akan dibuat. 1. Atas perhatian Saudara, kami ucapkan terima kasih. 2. Atas bantuan dan perhatian saudara, kami ucapkan terima kasih. 3. Demikianlah agar saudara maklum, dan atas perhatian saudara, kami ucapkan terima kasih. 4. Harapan kami semoga kerja sama yang telah kita bina dapat ditingkatkan terus. 148

5. Mudah-mudahan bahan pertimbangan yang kami kemukakan di atas bermanfaat bagi saudara. 6. Kami menunggu kabar lebih lanjut, dan atas perhatian saudara, kami ucapkan terima kasih. 7. Kami harap hal ini mendapat perhatian saudara sepenuhnya, dan tak lupa kami ucapkan terima kasih. 8. Perhatian saudara terhadap hal ini sangat kami hargai 9. Demikian agar instruksi ini dilaksanakan dengan penuh rasa tanggun gjawab (9) Salam Penutup Seperti halnya salam pembuka, pemakaian salam penutup di dalam surat sifatnya tidak wajib. Dalam praktik pemakaian, surat pribadi dan surat niaga selalu memakai salam penutup, sedangkan surat dinas pemerintah jarang memakai salam penutup. Contoh: a. Hormat kami, b. Salam kami, c. Salam hormat, d. Teriring salam, e. Disertai salam, f. Salam takzim, g. Wasalam, (10) Nama Organisasi yang Mengeluarkan Surat Dalam surat niaga, setelah salam penutup masih sering dicantumkan nama organisasi yang mengeluarkan surat. Hal ini dimaksudkan untuk menegaskan bahwa surat yang dikirim mewakili organisasi, bukan mewakili pribadi. Namun, setelah ditimbang-timbang manfaatnya, terasa nama organisasi tidak perlu dicantumkan lagi karena telah terdapat pada kepala surat. Lain halnya bila surat 149

menggunakan lebih dari satu lembar kertas. Lembar kedua, ketiga, dan seterusnya tidak lagi memakai kertas berkepala surat, cukup memakai kertas polos saja. Untuk itu, nama organisasi perlu dicantumkan lagi. Pencantuman itu memang bukan sesuatu yang wajib karena nama organisasi telah ada pada kepala surat. Contoh (i): Hormat kami, H. Ali Imron Direktur Utama Contoh (ii): Hormat kami, Divisi Pemasaran Robby Tumewu Manajer Pemasaran Di dalam surat dinas pemerintah, setelah isi surat langsung dicantumkan nama jabatan penanda tangan surat. Kadang-kadang saja dicantumkan nama organisasi yang mengeluarkan surat. Hal ini terjadi karena dalam surat dinas pemerintah penggunaan kepala surat sangat banyak variasinya. Hampir setiap unit organisasi, bahkan proyek-proyek khusus, menggunakan kertas berkepala surat tersendiri. Contoh (i): Wakil Kepala Desa Asmarani, B.A. NIP..

150

Contoh (ii): Kepala Biro Kepegawaian Dr. Andhika Saputra NIP (11) Jabatan Penanda Tangan Contoh: Yours Faithfully, Rina Rotinsulu Secretary to Mr. Brown Cara seperti itulah yang dipakai dalam surat-surat niaga di Indonesia, terutama dalam penggunaan bentuk lurus. Contoh: Hormat kami, PT Mawar Melati Dewi Sekar Taji Sekretaris Direksi Dalam surat dinas pemerintah, di bawah nama penanda tangan dicantumkan nomor induk pegawai (NIP). Contoh: Kabag Rumah Tangga Adi Sumitro, S.H. NIP 130699321

(12) Tanda Tangan dan Nama Penanggung Jawab a Atas nama Cara ini dipakai bila pejabat utama melimpahkan kekuasaan kepada bawahannya untuk menandatangani surat atas nama pejabat utama. 151

Pemberian kuasa harus sesuai dengan bidang tugas rutin dari pejabat yang diberi kuasa, kecuali untuk hal-hal yang bersifat khusus. Batas wewenang penandatanganan dan jenis-jenis surat yang boleh ditandatangani dengan atas nama, tentu harus diatur dengan jelas dalam ketentuan tersendiri. Atas dasar ketentuan tersebut, surat yang ditandatangani pejabat bawahan dengan mengatasnamakan atasannya tidak perlu lagi mendapat persetujuan atasan terlebih dahulu karena atas nama telah mengandung pengertian mewakili atasan, termasuk kekuasaan dan tanggung jawab untuk surat yang ditandatangani. Contoh (i): a.n. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Sekretaris Jenderal Dr. Roni Saleh NIP Contoh (ii): a.n. Direktur PT Kencana Bahari Ahmad Faisal, S.H. Manajer Pemasaran b. Untuk beliau Contoh (i): a.n. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Kepala Biro Kepegawaian u.b. Kepala Bagian Mutasi Tenaga Edukatif

Bagus Setiawan, S.H. NIP. 152

13. Tembusan Sebuah surat akan mempunyai tembusan bila kopi surat dikirimkan kepada pihak ketiga yang ada sangkut-paut atau keterkaitannya dengan surat yang dikeluarkan. Dengan cara itu, orang yang dikirimi tembusan ikut mengetahui permasalahan surat, dan orang yang dikirimi surat juga mengetahui kepada siapa saja surat yang diterimanya itu ditembuskan. Notasi tembusan dapat ditulis tindasan atau carbon copy (c. c.) ditempatkan disebelah kiri bawah kertas surat pada margin kiri, lurus ke atas dengan nomor surat (pada bentuk lurus)dan lurus ke atas dengan nomor, lampiran, prihal (pada bentuk resmi). Teknis penulisan tembusan ada 2 macam: 1) tembusan ysng objeknya hanya satu, dituliskan sebaris atau sejajar dengan notasi nya. Contoh: Tembusan: Kepala Biro Perencanaan 2) Tembusan yang obyeknya lebih dari satu, dituliskan berderet ke bawah, dan diberi diberi nomor urut. Contoh: Tembusan: 1. Kabag Kepegawayan 2. Kabag Keuangan 3. Kabag Rumah Tangga Bentuk salah penulisan tembusan Contoh: Tindasan: Arsip atau C.C: File Maksudnya tentu mengigatkan kepada pembaca surat bahwa ada kopi surat tersebut yang disimpan oleh 153

instansi pengirimnya. Bukankah hal itu sudah otomatis? Jadi, dengan sendirinya tidak perlu ditulis. Contoh: tembusan yang salah Tembusan: 1.KabagUmum 2.KabagTataUsaha 3. Arsip Tembusan nomor 3 jelas salah. Notasi tembusan dimaksudkan untuk menyatakan untuk menyatakan bahwa kopi surat disampaikan kepada pihak lain yang terkait ikut yang ikut berkepentingan. Tentu arsip dan pertinggal di sini bukan merupakan pihak yang dimaksud. Contoh: tembusan yang salah Tembusan: 1. Direktur (sebagai laporan) 2. Karo Adum (untuk diketahui) Penambahan kata-kata sebagai laporan atau untuk di ketahui tidak diperlukan. Bahasa Surat Surat berfungsi sebagai sesulih/pengganti diri dari orang yang menyurati untuk menyampaikan sesuatu kepada orang yang disurati /dikirimi surat. Oleh karena itu, bahasa yang digunakan di dalam menulis surat seyogianya bahasa yang memiliki tingkat kesopanan yang tinggi dan halus. Sopan berarti santun sehingga pilihan katanya dalam berbahasa tidak menyinggung perasaan orang lain. Selain itu, kesopanan berbahasa kesantunan dalam menggunakan laras atau ragam bahasa tertentu sebagai sarana komunikasi yang sesuai dengan adat serta ranah bahasa. Oleh karena itu, penulis surat hendaknya menggunakan bahasa yang benar, yang sesuai dengan kaidah bahasa secara umum dan kaidah bahasa surat secara 154

khusus. Sebagai suatu karangan, surat juga harus tunduk pada kaidah komposisi atau kaidah karangmengarang pada umumnya. Ciri-Ciri Bahasa Surat 1) Bahasa yang jelas Agar informasi yang disampaikan dapat dipahami dengan tepat, bahasa yang dipakai harus jelas. Jelas tidak hanya berati mudah dimengeri, tetapi juga bebas dari kemungkinan salah tafsir. Bahasa yang jelas tidak taksa, tidak meragukan, tidak kabur sehingga dapat mengalihkan gagasan kepada pembaca tepat seperti yang dimaksud oleh penulis. Contoh bentuk salah a. Bersama ini kami beritahukan b. Demikian agar maklum. Contoh bentuk benar a. Bersama ini kami kirimkan b. Demikian agar Bapak maklum Kata bersama ini pada (a) dipakai untuk menyatakan surat sebagai pengantar sesuatu yang disertakan bersama surat misalnya barang, dokumen dll..Pada (b) kehilangan subjek. 2) Bahasa yang lugas Lugas dapat diartikan sederhana bersahaja (simple0, langsung pada permasalahan (strig to the poin ) atau (busineeslike), yaitu praktis, cekatan, dan cepat Kata lugas jika diterapkan dalam kalimat berarti langsung menunjukkan perssoalan yang pokok-pokok saja , tidak bertele-tele, dan tidak menimbulkan penapfsiran ganda. Contoh: Lugas Berlebihan adalah merupakan adalah 155

agar supaya demi untuk disebabkan oleh karena keputusan daripada rapat membicarakan tentang sejak dari seperti misalnya

merupakan agar supaya demi untuk disebabkan oleh karena keputusan rapat membicarakan sejak dari seperti misalnya

4) Bahasa yang umum Yang dimaksud bahasa umum adalah bahasa ragam resmi. Kaidah bahasa resmi berlaku pula dalam surat-menyurat resmi. Hal itu tidak bisa ditawar lagi. Memang dalam surat-menyurat resmi dipakai kata-kata atau ungkapan yang khas, tetapi kata-kata dan ungkapan itu tetap berlaku umum karena dipakai bersama-sama oleh penulis surat. Karena itulah ragam bahasa surat tergolong ragam resmi khas suratmenyura Jika sesorang akan bergabung ke dalam situasi pemakaian ragam khas surat-menyurat, ia harus mengikuti arus artinya ia harus tunduk pada kaidah bahasa surat, yaitu kaidah yang disepakati oleh pemakai bahasa surat, termasuk pemakaian kata/ungkapan khas surat-menyurat. Berikut ini contoh kata-kata ungkapan yang dimaksud.

bersama ini dengan hormat dengan ini

nota bene (N.B.) salinan terlampir 156

dengan alamat (d.a) hal/perihal hormat kami/hormat saya lampiran

tembusan tertanda untuk perhatian (u.p.) untuk beliau (u.b.)

Kata-kata dan ungkapan di atas sudah mendominasi bahasa surat. Bentuk-bentuk tersebut telah menjadi kesepakatan (konvensi) di kalangan penulis surat. Para penulis surat harus mengikuti dengan jalan turut memakai ungkapan khas tersebut. Dalam pemilihan kata-kata penulis surat peerlu memperhatikan unsur kelaziman jangan mencoba menentang arus akan menghadapi resiko yaitu bahasa suratnya tidak komunikatif. Bahasa surat terasa asing, aneh, dan tidak umum. Perhatikan salah satu contoh kalimat penutup surat berikut ini. Kami tunggu balasan Saudara selekasnya, dan untuk itu sebelumnya kami ucapkan terima kasih. Pemakaian kata selekasnya dan sebelumnya di dalam kalimat di atas tidak umum dan tidak lazim dipakai dalam konteks tersebut. Sehingga perbaikan kalimat tersebut sebagai berikut: a) Kami tunggu balasan Saudara secepatnya, dan untuk itu kami ucapkan terima kasih b) Kami tunggu balasan Saudara secepat mungkin, dan c) Kami tunggu balasan Saudara segera, dan

5) Kata yang Baku Yang dimaksud kata yang baku atau standar adalah kata yang dianggap paling benar ditinjau dari 157

segi penulisan dan pengucapannya. Kata yang sudah dibakukan sepenuhnya menjadi kata bahasa Indonesia. Berikut ini daftar sebagian kata-kata baku yang sering dipakai dalam surat-menyurat. Baku Agustus a.n. (atas nama) bertanda tangan berterima kasih CV Februari d. a. jadwal Jumat Kuitansi Tidak Baku Augustus a. n bertandatangan berterimakasih C. V. Pebruari d/a jadual Jumat kwitansi

6) Ungkapan Tetap Ungkapan tetap (stam) atau dapat juga disebut ungkapan idiomatic adalah ungkapan yang unsurnya terdiri atas dua kata atau lebih yang berpola tetap . Susunannya baku dan permanent sehingga unsurnya tidak boleh dipertukarkan, ditambah, atau dikurangi. Berikut ini contoh ungkapan tetap yang dipakai dalam surat-menyurat. berbicara tentang sehubungan dengan, berdiskusi tentang sesuai dengan, bergantung pada disebabkan oleh bertalian dengan terjadi dari berpasangan dengan terdiri atas berkaitan dengan sejalan dengan, 7) Pemakaian Ejaan yang Disempurnakan Ejaan yang berlaku untuk bahasa Indonesia sekarang ini adalah Ejaan yang Disempurnakan 158

(EYD). Ketentuan pemakaian ejaan ini terdapat dalam buku tersendiri: Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Adapun ruang lingkupnya meliputi (1) pemakaian huruf , (2) penulisan huruf capital dan huruf miring, (3) penulisan kata, (4) penulisan unsur serapan, dan (5) pemakaian tanda baca. Oleh karena itu, bahasa surat-menyurat harus tunduk pada kaidah EYD. Surat Lamaran Kerja Surat lamaran kerja yaitu surat permohonan seseorang yang ditujukan kepada instansi untuk mendapatkan pekerjaan atau jabatan sesuai dengan kualifikasi yang dimiliki. 1. Syarat Penyusunan Surat Lamaran Pekerjaan: a. Surat lamaran yang ditulis tangan harus ditulis oleh pelamar sendiri pada kertas yang berkualitas baik, tidak boleh timbal balik dan tidak harus pada kertas bergaris b. Penampilan surat lamaran harus necis, bebas dari coretan atau koreksian. c. Isi surat lamaran harus menggambarkan sikap optimis bahwa pelamar akan mampu bekerja dengan baik d. Isi surat lamaran tidak boleh bernada memelas atau minta dikasihani. e. Sapaan yang dipergunakan: 1. Bapak/Ibu, jika melamar pada instansi pemerintah atau perusahaan swasta nasional. 2. Tuan, jika melamar pada perusahaan swasta asing. 2. Riwayat hidup dan Teknis Penulisan Isi riwayat hidup dapat dikelompokkan atas empat sampai lima subjudul, yaitu (1) data pribadi, (2) pendidikan, (3) pengalaman bekerja, (4) keterangan 159

lain, dan (5) referensi pribadi. Referensi pribadi dalam riwayat hidup boleh dicantumkan, boleh juga tidak. 3. Untuk menyusun surat lamaran ada dua cara yaitu: 1. Surat lamaran dijadikan satu dengan daftar riwayat hidup 2. Surat lamaran terpisah dengan daftar riwayat hidup Contoh Surat Lamaran Model Terpisah dengan Daftar Riwayat Hidup Jalan Ahmad Yani 12 Kompleks Bina Marga Jakarta 13420 3 April 1994 Yth. Manajer Personalia PT Tunas Muda Pratama Jalan Senarai Raya 16 Jakarta Selatan Hal: Lamaran Kerja sebagai Sekretaris Dengan hormat, Dengan ini saya, Ayu Werawati, 20 tahun, lulusan Lembaga Pendidikan Keterampilan Sekretaris YANTI tahun 2005 mengajukan lamaran pekerjaan sebagai sekretaris. Saya mampu melaksanakan tugas-tugas kesekretarisan dengan baik, mengetik 200 HPM, computer (WS 05, Lotus, dan D-base III), steno 75 KPM, serta akuntansi. Saya juga menguasai bahasa Inggris dan Mandari baik lisan maupun tulisan. 160

Sebagai bahan pertimbangan, saya lampirkan riwayat hidup, salinan sertifikat ketrampilan sekretaris, fotocopy KTP, dan dua lembar pasfoto terbaru. Atas perhatian Bapak, saya ucapkan terima kasih. Hormat saya, Ayu Werawati

161

GAMBAR BENTUK RESMI INDONESIA BARU (NEW OFFICIAL STYLE) (1) (1) kepala surat

(2) (4) (5) (6)

(3)

(2) nomor surat (3) tanggal (4) lampiran (5) hal/perihal (6) alamat tujuan (7) salam pembuka

(7)

(8)

(8) isi surat

(9) (9) salam penutup (10) (10) nama organisasi yang mengeluarkan surat (11) (11) nama penanda tangan (12) (12) jabatan penanda tangan (13) tembusan (14) inisial pengonsep dan pengetik / (14)

(13)

162

DAFTAR PUSTAKA 163

Arifin, E. Zainal. 1996. Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Surat Dinas. Edisi Revisi Ketiga, Cetakan V. Jakarta: Akademika Pressindo. Arifin, Zainal dan Hadi, Farid. 1991. Aneka Surat Sekretaris dan Surat Bisnis. Jakarta: Akademika Pressindo. Bratawijaya, Thomas wijasa. 1987. Petunjuk Baru Korespondensi Niaga Bahasa Indonesia. Jakarta: Pradnya Paramita. Finoza, Lahmudin.dkk. 1991. Aneka Surat Sekretaris dan Surat Bisnis. Jakarta: Nina Dinamika.

Lembar Tes 164

Tugas 1) Carilah sebuah surat dinas pemerintah atau surat bisnis. Tempelkan pada lembaran ini! Kemudian komentarilah bentuk dan bahasa surat tersebut! Bila dalam bahasa surat tersebut terdapat kekeliruan, perbaikilah sehingga menjadi surat yang baik! 2) Buatlah surat lamaran kerja atas nama saudara sendiri berdasarkan iklan di bawah ini. Tulislah surat lamaran kerja dengan memperhatikan ketentuan berikut. a. model bergabung dengan daftar riwayat hidup b. kaidah surat-menyurat
Lowongan Keja Perusahaan properti yang sedang berkembang butuh tenaga kerja: 1. Tenaga sekretaris Wanita usia min. 22 tahun Lulusan SMEA/SMA Jurusan Sosial Kursus Pembukuan Dasar I & II Dapat mengoprasikan Komputer (WS & Lotus). Diutamakan pengalaman kerja min 1 tahun 2. Sales Pria usia min. 23 tahun Lulusan SMA/STM. Pengalaman kerja min. 3-4 tahun (building Material) 3. Estimator Pria usia max. 25 tahun Lulusan D3 Komputer (Manajemen Informatika) Menguasai Spreadsheed, Database, Windows. Dapat berbahasa Inggris min. pasif Pengalaman kerja min. 2 tahun. Kirim lamaran berikut CV ke: P.O. BOX 7318 JKS PM 12073 JKT Paling lambat 10 hari setelah iklan ini.

165

Jawab:

4) Saudara, Anda diminta tolong Ketua Jurusan untuk membuat surat kepada Dekan . Surat itu berisi permohanan dana akan mengadakan seminar dalam rangka peringatan Hardiknas. Saudara ditunjuk sebagai ketua pelaksana. Tugas Anda sekarang, buatlah sebuah surat resmi dengan rambu-rambu di yang telah dipelajari! Kelengkapan surat silahkan tambah sendiri!Silahkan tempel di sini

Jawab: 166

167

168