Anda di halaman 1dari 10

FORMULASI TABIR SURYA DARI EKSTRAK DAUN SINGKONG

I.

TUJUAN PRAKTIKUM

Membuat sediaan krim tabir surya dari bahan alam ekstrak daun singkong

II. DASAR TEORI a. Sediaan Tabir Surya Sediaan tabir surya adalah sediaan kosmetik yang digunakan untuk membaurkan atau menyerap secara efektif sinar matahari, terutama daerah emisi gelombang ultraviolet dan inframerah, sehingga dapat mencegah terjadinya gangguan kulit karena cahaya matahari. Efek nyata penyinaran matahari yang merugikan adalah eritema kulit yang diikuti oleh warna coklat kemerahan, penyinaran ultraviolet dengan panjang gelombang di atas 330 nm dapat menyebabkan kulit menjadi kecoklatan. Eritema timbul bersamaan dengan warna coklat. Tabir surya tersedia dalam bentuk lotion, krim, salep, gel, dan larutan (solution). Efektivitas penggunaannya tergantung dari bahan kimia, daya larut dalam vehikulum (bahan pembawa) lipofilik atau hidrofilik, kemampuan absorbsi UV, konsentrasi bahan kimia, dan jumlah tabir surya yang dioleskan. Untuk hasil terbaik, disarankan pemakaian tabir surya dilakukan secara tipis pada permukaan kulit. Berdasarkan ketentuan yang ditetapkan standar international, pemakaian tabir surya hanya sebanyak 2 mg/ cm2. Ada dua jenis tabir surya, yaitu tabir surya kimia seperti PABA, PABA ester, benzofenon, salisilat, dan antranilat, dan tabir surya fisik seperti titanium dioksida, Mg silikat, seng oksida, red petrolatum dan kaolin. Tabir surya kimia bekerja dengan cara mengabsorbsi energi radiasi, sedangkan tabir surya fisik bekerja dengan cara memantulkan sinar. Kedua jenis tabir surya ini sering dikombinasikan untuk mendapatkan tabir surya yang bekerja optimal. Tabir surya yang baik adalah dapat mengabsorbsi 99% gelombang UV dengan panjang gelombang 297 nm pada ketebalan 0,001 dan dapat meneruskan radiasi eritemogenik 15 20%. Dapat melindungi radiasi UV paling sedikit 25 kali dosis eritema minimal, dapat menahan radiasi selama 8 jam. Kemampuan menahan sinar UV dari tabir surya dinilai dalam faktor proteksi sinar (SPF/ Sun Protecting Factor) yaitu perbandingan dosis minimal yang diperlukan untuk meminbulkan eritema pada kulit yang diolesi tabir surya dengan yang tidak. Nilai SPF ini berkisar antara 0 sampai 100. kemampuan tabir surya yang dianggap baik berada diatas 15.

b. Flavonoid Flavonoid mengandung sistem aromatik yang terkonyugasi dan karena itu menunjukan pita serapan kuat pada spektrum UV dan spektrum tampak. Flavonoid umumnya terdapat dalam tumbuhan, terikat pada gula sebagai glikosida dan aglikon flavonoid. Flavonoid terdapat dalam semua tumbuhan berpembuluh tetapi beberapa kelas lebih tersebar daripada yang lainnya. Flavonoid terdapat dalam tumbuhan sebagai campuran, jarang sekali dijumpai hanya flavonoid tunggal dalam jaringan tumbuhan. Disamping itu, sering terdapat campuran yang terdiri atas flavonoid yang berbeda kelas. Antosianin berwarna yang terdapat dalam daun bunga hampir selalu disertai oleh flavon dan flavonolol tanwarna. Flavonoid mempunyai rumus umum, C6C3C6. Aktivitas biologi flavonoid antara lain, - anti kanker - anti oksidant - anti inflamasi - anti alergi - anti hipertensi - anti virus : kuersetin, mirisetin : kuersetin, antosianidin, dan prosianidin : apigenin, taksifolin, luteolin, kuersetin : nobeletin, tangeretin : prosianidin : amentiflavum, skutellarein, kuersetin

Klasifikasi flavonoid umumnya didasarkan atas inti molekul, *Harbone membagi flavonoid kedalam kelompok Antosianin Proantosianidin Flavonol Flavon Khalkon dan auron Flavanon Glikoflavon Isoflavon Biflavonil

c. Identifikasi Flavonoid Spektrofotometer UV-Vis Spektroskopi serapan ultraviolet dan serapan tampak merupakan cara utama yang berguna untuk menentukan/menganalisis struktur flavonoid spektrum flavonoid dalam metanol memberikan 2 panjang gelombang serapan maksimum yang khas yaitu Pita I 300-550 nm, Pita II 240-285 nm,Untuk menentukan pola oksigenasi, kedudukan gugus hidroksil fenol, kedudukan gula atau metil yang terikat pada gugus hidroksil fenol dapat ditentukan dengan menambahkan pereaksi geser dan mengamati pergeseran puncak serapan yang terjadi. 2

Pereaksi geser yang digunakan: - Natrium metoksida (NaO Me) - Natrium asetat (NaO Ac) - Natrium asetat/asamborat (NaOAc/H3BO3) - Aluminium klorida (AlCl3) - Aluminium klorida/HCl (AlCl3/HCl).

Kromatografi flavonoid (KKt) Fase diam : air yang terikat pada selulose. Fase gerak : - BAA n Bu OH HO Ac H2O (4 : 1 : 5) - Forestal HO Ac H2O HCl (30 : 10 : 3) - HO AC Penampak bercak : 1) Uap NH3 2) AlCl3 5% dalam metanol menunjukkan 5-hidroksi flavonoid sebagai bercak berfluoresensi kuning dibawah sinar UV 366 nm. 3) Kompleks difenil-as. Borat-etanol amin. 4) Asam sulfanilat yang terdiazotasi. 5) Vanilin-HCl.

d. Rutin Kuersetin merupakan salah satu flavonoid yang banyak terdapat di alam dan diketahui mampu menghambat enzim sitokrom P-450 yang berperan dalam metabolisme parsetamol. Senyawa rutin berasal dari daun singkong, bersifat polar dan akan mengalami hidrolisis bila direaksikan dengan asam kuat seperti HCl, dan akan terurai menjadi quersetin yang bersifat nonpolar dan glukosa yang bersifat polar. Hasil penelitian menunjukkan kadar parasetamol dalam darah tidak dipengaruhi oleh dosis kuersetin yang diberikan. Derajat nekrosis hati karena pemberian parasetamol dosis toksik lebih rendah pada pemberian kuersetin. Kuersetin dosis dapat menghambat aktivitas sitokrom P450 yang tinggi karena parasetamol dosis toksik. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan kuersetin dosis 750 mg/kg BB dapat menurunkan efek hepatotoksik parasetamol, dan menurunkan aktivitas enzim sitokrom P-450.

III. PRAFORMULASI 1) Asam stearat : emulgator, solubilizing agent. : kristal atau serbuk putih atau kuning, bau lemah : benzen larut,etanol larut, propilen glikol larut, air praktis tidak larut : agen pengoksidasi

Fungsi Pemerian Kelarutan OTT

% lazim untuk ointments dan creams: 1-20%

2)

Cera Alba : Bahan dasar, alat penstabil emulsi, agen pengerasan. : Lempeng atau potongan, berwarna putih atau putih kekuningan;jika tipis bening

Fungsi Pemerian

dengan butiran halus, tidak mengkilat, serpihan bukan hablur. Kelarutan : Larut dalam minyak atsiri dan minyak lemak; agak sukar larut dalam

etanol(90%)P dan eter P; praktis tidak larut dalam air.

3)

Vaselin Album : Basis krim : Massa lunak, bening, lengket; warna putih, sifat ini tetap pada penyimpanan dan

Fungsi Pemerian

setelah dilebur dan dibiarkan dingin tanpa diaduk. Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dan etanol(95%)P; larut dalam kloroformP, eterP, dan

eter minyak tanah P, larutan kadang-kadang berpotensi lemah.

4)

TEA/Triethanolamine : agen pengemulsi. : cairan bening tidak berwarna sampai kuning pucat, bau amoniak lemah : etanol 95% larut, metanol larut, water larut : golongan amin dan hidroksi

Fungsi Pemerian Kelarutan OTT

5)

Nipagin/Methylparaben : antimikroba untuk sediaan topikal 0,02%-0,3% : kristal putih, tidak berbau, panas : etanol 1:2, gliserin 1:60, air 1:400, : besi, hidrolisis basa lemah dan asam kuat

Fungsi Pemerian Kelarutan OTT

6)

Gliserin : Antimikroba>20% 4

Fungsi

Emolient up to 30 Humektan up to 30 Plasticizer Solvent Pemanis Agen pengion Pemerian : larutan bening tidak berwarna, tidak berbau, kental, larutan higroskopis, rasa

manis seperti sukrosa. Kelarutan OTT : etanol 95% mudah larut, minyak praktis tidak larut, air mudah larut. : agen pengoksidasi seperti potasium klorat atau potasium permanganat.

7)

Adeps Lanae : Massa lembek, liat; warna kuning; tidak tengik, bau lemah, khas. : mudah larut dalam kloroform P dan eter P; agak sukar larut dalam etanol(95%) P

Pemerian Kelarutan

dingin; lebih larut dalam etanol (95%) P panas; tidak larut`dalam air, tetapi bercampur tanpa memisah dengan lebih kurang dua kali bobotnya dengan air. Fungsi OTT : Emolien, penstabil emulsi, bahan dasar salep, perawatan kulit dan rambut. : Pro-oxidant, obat-obat aktif tertentu.

8)

BHT/Butylated Hydroxytoluene : antioksidan untuk sediaan topikal 0,0075-0,1%. : kristal putih atau kuning pucat, bau lemah. : pengoksidasi kuat seperti peroksida dan permanganat.

Fungsi Pemerian OTT

9)

Propil paraben : Serbuk hablur; warna putih : Mudah larut dalam etanol (95%) P, metanol P, dan eter P, sangat sukar larut dalam

Pemerian Kelarutan air. Fungsi OTT

: Pengawet. : besi, hidrolisis basa lemah dan asam kuat

10) BHA/Butylated Hidroksianisol Pemerian : serbuk hablur warna putih atau hampir putih, atau padat seperti malam, berwarna

putih kekuningan, bau aromatic. Kelarutan : larut dalm etanol (95%) P, propilenglikol P, minyak kacang P, dan larutan alkali

hidroksida; praktis tidak larut dalm air. Fungsi : antioksidan. 5

11) Propilenglikol OTT Fungsi Kelarutan : regen pengoksidasi seperti potassium permanganate : antimikroba, humektan, desinfektan, bahan pelarut, stabilizer untuk vitamin : gunakan pereaksi dengan kualitas yang cocok

12) NaCMC/ Sodium Cyclamate Sinonim Fungsi : Assugrin, Sucaryl sodium, Sucrosa : suspending agent.

13) Gelatin Pemerian : Lembaran, irisan, serbuk atau butiran; bening; warna kuning gading sampai kuning

pucat; bau lemah. Kelarutan Fungsi : Larut dalam air panas, pada pendinginan membentuk gel. : Peningkat viskositas (pengental), emolient.

14) Asam salisilat Pemerian : Hablur, umumnya berbentuk jarum halus, atau serbuk hablur ringan; warna putih,

rasa agak manis, diikuti rasa tajam; stabil di udara. Kelarutan : Mudah larut dalam etanol (95%) P dan eter P; larut dalam air mendidih, sukar larut

dalam air dan benzen P, agak sukar larut dalam kloroform P. Fungsi : Perawatan kulit dan rambut, anti jerawat, anti ketombe.

IV. FORMULASI A. Formula Krim Tabir Surya ( 100 gram ) Formula Kelompok Ekstrak daun singkong 1,5% Asam stearat 10 % Cera alba 2% Vaselin album 8% Adeps lanae 1% BHA 0,01% BHT 0,02% TEA 1,2% Propilen glikol 7% Metil paraben 0,1% Propel paraben 0,05% Parfum qs Air suling ad 100%

V. ALAT DAN BAHAN a. Pembuatan krim Alat: Mortar besar & alu Gelas ukur 100 ml Gelas ukur 5 ml Erlenmeyer 10 ml Beaker glass 10 ml Cawan penguap Pipet tetes Batang pengaduk Spatula 1 buah 1 buah 1 buah 2 buah 2 buah 1 buah secukupnya 1 buah 2 buah

Cover dan objek glass @ 1 buah Sudip Pot obat 50 ml 2 buah 2 buah

Viskometer Brookfield

Nomor spindle 5 (R5) Timbangan dan anak timbangan Penangas air

Bahan: Formula Krim Tabir Surya 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Ekstrak daun singkong Asam salisilat Asam stearat Cera alba Vaselin album Adeps lanae BHA BHT TEA

10. Propilen glikol 11. Metil paraben 12. Propel paraben 13. Parfum 14. Air suling

VI. PROSEDUR KERJA a. Pembuatan ekstrak daun singkong

1. Daun singkong dicucisampai bersih dengan air mengalir.. 2. Setelah itu ditiriskan sambil dilakukan sortasi basah. 3. Bahan-bahan yang telah disortasi basah, dirajang untuk memperkecil ukuran partikel. 4. Daun singkong dan kencur yang telah dirajang dimasukkan ke dalam erlenmeyer, kemudian ditambahkan etanol 96% sampai bahan terendam semua. 5. Kemudian dimaserasi selama 1 hari, setelah itu disaring dengan kapas dan disaring dengan kertas saring sampai diperoleh filtrat yang bersih.(filtrat 1) 6. Ampasnya diberi etanol 96% dan dimaserasi kembali selama 1 hari. Setelah itu filtrat disaring dengan kapas dan disaring dengan kertas saring, sampai diperoleh filtrat yang bersih.(filtrat 2) 7. Filtrat 1 dan filtrat 2 digabung dan dikentalkan dengan vakum rotavaporator sampai diperoleh ekstrak kental.

b.

Pembuatan krim tabir surya

1. Fase minyak (asam stearat, cera alba, vaselin album, adeps lanae, propil paraben, BHA, dan BHT) dilebur diatas penangas air pada suhu 70 0C sampai semua bahan lebur. 2. Pada saat yang bersamaan, fase air (aquades) dipanaskan pada suhu 50 0C ditambahkan metil paraben hingga larut, kemudian ditambahkan TEA dan propilen glikol. Campuran fase air dipanaskan kembali hingga suhu 70 0C. 3. Fase minyak dan fase air dicampurkan dalam mortar panas, digerus kuat sampai terbentuk massa krim (basis) putih seperti susu. 4. Setelah dingin ( 40 0C) ditambahkan ekstrak etanol daun singkong sedikit demi sedikit ke dalam basis samil diaduk terus sampai homogen. 5. Sediaan krim yang sudah jadi ditambahkan parfum, diaduk hingga homogen, dan dimasukkan ke dalam wadah yang telah diberi etiket.

DAFTAR PUSTAKA

Anief, Muhammad. 1997. Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta : UGM press. Anief, Muhammad. 1993. Farmaseutika Dasar. Yogyakarta : UGM press. Ansel, Howard.1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, Edisi IV. Jakarta : UI press. Harjasaputra, Purwanto, dkk. 2002. Data Obat di Indonesia. Jakarta : Grafidian Medipress. Panitia Farmakope Indonesia. 1978. Farmakope Indonesia.Edisi III. Jakarta : Depatemen Kesehatan RI. Panitia Farmakope Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta : Departemen Kesehatan RI. Reynold, James E F. 1982. Martindale The Extra Pharmacopoeia. Twenty Eight edition. London : The Pharmaseutical Press. Waide, Ainley, and Waller, Paul J. 1994. Handbook of Pharmaseutical Exipients. Second edition. Washington : American Pharmaseutical Association Depkes RI. 1993. Kodeks Komestika Indonesia Edisi 2. Jakarta

10