Anda di halaman 1dari 62

KULTIVASI DAN PENYEBARAN VIRUS

Kultivasi Virus bersifat parasit intraseluler obligat / hanya bisa hidup pada media yang hidup. Berkaitan dengan sifatnya tersebut, virus hanya dapat dibiakan pada sel hidup. Pemilihan media yang digunakan tergantung dari jenis virusnya dan organ target dari virus tersebut.

Untuk menumbuhkan virus dapat dilakukan secara : 1. in ovo 2. in vivo 3. in vitro

Telur Berembrio=Telur Embrio Tunas

Penting ! dapat ditemukan bermacam-macam tipe sel yang mampu ditumbuhi/menjadi media tumbuhnya berbagai jenis virus.

Macam-macam sel tersebut adalah : 1.Sel epitel khorion yang berada pada membran khorion 2.Sel epitel alantois yang merupakan sel penyusun pada membran khorioalantaois. 3.Sel epitel amnion yang melapisi ruang amnion 4.sel pada kantong kuning telur ( Yolk sac)dan sel endotel pada pembuluh darah 5.Sel dari embrionya itu sendiri yang umumnya adalah sel fibroblast.

Growing Viruses
Animal viruses may be grown in living animals or in embryonated eggs

Figure 13.7

Virus-induced pocks on the chorioallantoic membrane of a chick embryo. From Buxton and Fraser (1977) Animal Microbiology, Volume 2, Blackwell Scientific Publications. Reproduced by permission of the publisher.

Keberhasilan isolasi dan propagasi viruspada telur dipengaruhi oleh : 1. Rute inokulasi
Rute inokulasi yang dapat dilakukan antara lain adalah kedalam ruang amnion(amnionic cavity), ruang alantois (allantoiccavity), membran khorio alantois, kantong kuning telur (yolk sac), intravena(pembuluh darah ) & kedalam otak embrio.

2. Umur embrio pada telur


umur telur juga harus diperhatikan,sebab pada umur tertentu, pada daerah tertentu kondisinya optimal. Bila akan menginokulasi kedaerah ruang amnion , pembuluh darah (intra vena) dan kantong kuning telur sebaiknya digunakan telur yang berumur 5-7 hari karena pada umur tersebut embrio masih muda dan kecil sehingga kuning telur masih cukup besar ukurannya demikian juga ruang amnionnya.

Untuk menginokulasi ke daerah ruang alantois dilakukan pada tekur yang berumur 9-12 hari karena pada saat itu luas ruang alantois yang optimal dan bila akan menginokulasi ke membran khorioalantois sebaiknya pada telur yang berumur 12-14 hari sebab pada umur tersebut mambran cukup kuat untuk ditarikdan dibuat kantung udara buatan. contoh pemanfaatan TET misanya untuk memperbanyak virus ND ataupun Pox.

3. Temperatur/suhu inkubasi 4. Lamanya waktu inkubasi setelah inokulasi 5. Volume dan pengenceran inokulum yangdigunakan 6. Status kekebalan flok dari induk tempat telur berasal

Kultur jaringan sel hewan monolayer a. Kerusakan sel dapat dilokalisasi jika sel yang terinfeksi ditutup dengan lapisan agar yang mengandung mengandung virus, area tersebut disebut plaque b. Pertumbuhan virus tidak selalu menghasilkan lisisnya sel dalam bentuk plaque, pengaruh degeneratif mikroskopis/makroskopis sekali waktu dapat nampak , hal itu berkaitan dg pengaruh cytopathic

BACTERIOPHAGE
Bacteriophage pada umumnya dikultivasi dalam kultur cairan kaldu atau agar; kultur cairan biasanya jernih, plaque dalam kultur agar

Growing Viruses
Virus harus hidup dalam sel hidup
Bacteriophage form plaques on a lawn of bacteria

Figure 13.6

Plaques formed by a phage in a bacterial lawn. The control plate on the left was inoculated with only the bacterial host. The plate on the right was inoculated with phage and bacterial host. Photograph courtesy of PhilipOGrady.

Plaque assay

Plaque merupakan bercak-bercak terbatas (terlokalisasi) dari infeksi yang ditunjukkan dengan zona lisis atau efek sitopatik (CPE) di dalam sel monolayer di antara sel-sel yang sehat pada kultur jariangan. Masing-masing plaque berasal dari satu infeksi virion, sehingga hal ini memungkinkan untuk menghitung titer virus

Growing Viruses
Animal and plant viruses may be grown in cell culture Continuous cell lines may be maintained indefinitely

Figure 13.8

Virus tanaman dapat dikultivasi 1. Jaringan tanaman 2. Bagian sel tanaman 3. Keseluruhan tanaman yang nekrotik lokal atau gejala infeksi secara umum 4. Kultur protoplas tanaman

lesi daun hasil inokulasi dengan potato virus Y.

Infeksi dan Penyebaran Virus

Infeksi virus dimulai ketika genom (kumpulan gen) virus memasuki sel inang . Mekanisme yang digunakan tergantung tipe virus Contoh: Faga T genap menggunakan ekornya untuk menginjeksikan DNA ke dalam bakteri. Setelah masuk genom memerintahkan inangnya untuk memprogram ulang sel tersebut untuk membuat salinan asam nukleat virus dan menghasilkan protein virus. Virus DNA menggunakan DNA polimerase dari sel inang untuk mensintesis genom-genom baru yang cetakannya dari DNA virus

Virus RNA menggunakan polimerase khusus yang dikode oleh virus yaitu polimerase yang menggunakan RNA sebagai cetakan Inang menyediakan: Nukleotida nukleotida untuk mensintesis asam nukleat Ribosom t RNA Asam amino ATP dan komponen lain yang dibutuhkan untuk membuat protein virus yang diarahkan oleh m RNA yang ditranskripsi oleh gen-gen virus.

Masuk ,kontak dan replikasi Langkah pertama proses infeksi adalah penempelan dan masuknya virus ke dalam inang yang rentan dan sel inang. Masuknya kedalam inang melalui satu dari permukaan tubuh (kulit, sistem respirasi, sistem gastrointestinal, urogenital ) Beberapa virus lain masuk ke dalam inang melalui jarum suntik, tranfusi darah dan transplantasi organ ataupun melalui vektor insekta Beberapa virus berreplikasi pada tempat dimana masuk, dan menyebabkan sakit di tempat yang sama ( infeksi saluran pernapasan, saluran gastrointestinal)

Virus yang lain menyebar jauh dari tempat virus masuk, dan berreplikasi di tempat tersebut. Contoh : Enterovirus masuk melalui saluran gastrointestinal tetapi menyebabkan penyakit di dalam sistem saraf pusat
Sel tidak lisis? Bakteri mempunyai reseptor yang tidak dikenal oleh faga. Faga masuk dan DNA dipotong oleh enzim restriksi nuklease

Dasar proses Infeksi virus diekspresikan pada replikasi di dalam sel inang. langkah-langkah tersebut meliputi: 1. Masuk ke inang 2. Kontak dan masuk ke dalam sel yang rentan 3. Replikasi di dalam sel 4. Penyebaran ke dalam sel yang berdekatan 5. Menyebabkan kerusakan sel 6. Menyebabkan respon immun dari inang 7. Dapat bebas dari inang, tetap menginfeksi atau mematikan inang 8. Kembali ke lingkungan

Transmisi Virus

Transmisi virus

Penggolongan Virus manusia berdasar rute transmisi


Grup virus Mekanisme transmisi

Enteric
Respiratory

Fecal oral route


Respiratory or salivary route Vector such as arthropoda Animal to human directly Sexual contact

Enterovirus (polio) Rotavirus (diare)


Influenza, measles, rhinovirus (cold)

zoonotic

Dengue

Rabies, cowpox
Herpes simplex virus 2 (genital virus), HIV

Sexually transmitted

Mumps, Measles, Influenza, and Poliomyelitis

Bagaimana virus masuk tanaman dan menimbulkan gejala? 1. Virus masuk melalui luka yang terjadi secara mekanis maupun melalui serangga vektor (insekta, nematode) jadi tidak dapat menerobos secara aktif. Sebagai tanda penyerangannya ialah adanya becak becak nekrotik di sekitar luka primer. 2. Setelah masuk dalam inang, mantel protein dilepaskan dan mereplikasi asam nukleat. Virus dan asam nukleat menyebar dari sel ke sel lain.

3. Beberapa

virus hanya menyebabkan lesion local, namun sebagian besar adalah sitemik

Bagaimana Virus menyebabkan gejala? Virus menyebabkan bermacam-macam gejala, tergantung virus ataupun inangnya. Beberapa virus menyebabkan satu tipe gejala di suatu inang tetapi menimbulkan gejala pada inang yang lain. Biasanya tidak mematikan sel inangnya.

Gejala penyakit virus tumbuhan 1. Gejala lokal 2. Gejala sistemik : klorosis, nekrosis, stunting 1 2

Chlorosis

Stunting

Necrosis

Soybean mosaic

Bean (Phaseolus vulgaris) terinfeksi virus mosaik kuning kacang (BYMV )

Leaf lesions resulting from infection with potato virus Y. The leaf on the right is a control inoculated with sterile buffer. Copyright INRA, France/Didier Spire; reproduced with permission.

Strains of TMV infect tomato and cause poor yield, distorted fruits, delayed fruit ripening and various fruit discoloration problems that affect market values

Necrosis

Tissue Deformation

From Carrington et al. (1996) Plant Cell Vol. 8 (10):1669-1681

Didalam tanaman virus harus melalui tiga tahap untuk menginfeksi tanaman yang rentan
Infection iof single cell Cell-to-cell movement Long-distance movement

Replication

Replication Movement to adjacent cells

Replication Movement to adjacent cells Movement to cells throughout the plant

Penyebaran Virus dapat dilakukan oleh 1.Insekta :Aphids, leafhoppers, planthoppers, beetles, thrips, whiteflies, etc.

Lalat putih (Whiteflies)

Thrips

Leafhopper

Plant Hoppers

Hubungan Virus dengan Vektor


Banyak jenis virus yang memperbanyak diri terlebih dahulu di dalam tractus digestivus hewan-hewan vektornya. Setelah masa inkubasi tertentu dapat menyebabkan infeksi pada tumbuh-tumbuhan lagi. Virus semacam itu dikenal sebagai virus yang persisten a.Non-propagative-: tidak memperbanyak di dalam vektor b. Propagative : virus memperbanyak didalam vektor insekta

Virus yang nonpersisten dapat segera ditularkan dengan gigitan (sengatan) serangga

Relationships 1. Non-persistent virus is simply a contaminant on the mouthparts of insect. It is transmitted immediately and for a fairly short time. Insect vectors = aphids, beetles, etc. 2. Persistent insect can transmit the virus for a long time after acquisition. a. Non-propagative-: tidak memperbanyak di dalam vektor b. Propagative virus multiplies in the insect vector Circulative Transovarial

Occlusion bodies as vehicles for baculovirus transmission. Putrefaction of insects that have been killed by virus infection results in the deposit of occlusion bodies on leaves. Occlusion bodies ingested by insects are dissolved in the midgut, releasing virions. Photograph courtesy of Dr. Flavio Moscardi.

Perkembangbiakan vegetatif 3. Penularan secara mekanik tanaman sakit 4. Melalui biji dan serbuk sari 5. Tanaman Cuscuta sp
2.

dengan

sap

6. Nematoda merupakan hewan tanah memindahkan virus dengan menembus sel akar. Tobraviruses (rod-shaped virions) dipindahkan oleh nematoda family Trichodoridae, Nepoviruses (isometric virions) dipindahkan oleh nematoda family Longidoridae. 7. Beberapa fungi parasit tanaman dapat berperan sebagai vektor virus. Spongospora subterranea, menginfeksi kentang menyebabkan powdery scab disease,juga sebagai vektor virus kentang mop-top virus

Transmisi Virus tumbuhan dapat dibedakan Transmisi vertikal : biji terinfeksi yang diteruskan ke generasi berikutnya (embrio) nepoviruses tobraviruses Transmisi horizontal/artifisial : pemotongan tanaman

Siklus TMV

Viroid ?

Viroid Diseases

Potato spindle tuber viroid (PSTVd) Pertumbuhan terhambat Viroid pertama yang diketahui karakterisi

Apple crinkle fruit viroid Avocado sun blotch viroid

Citrus exocortis viroid