Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH FARMAKOGNOSI

Coffee Semen (Coffea arabica L.)

OLEH : AKHMAD ARDIANSYAH IDRIS 1243057022

FAKUTAS FARMASI UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA 2014 - 2015

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT. atas segala rahmat-Nya, sehingga kami sebagai penyusun dapat menyelesaikan Makalah Farmakognosi yang berjudul Coffee Semen (Coffea arabica L). Makalah ini disusun sebagai salah satu syarat penilaian tugas dalam mata kuliah Farmakognosi II. Dengan adanya makalah ini, diharapkan mahasiswa akan mengerti lebih dalam tentang Farmakognosi dengan simplisia biji kopi serta semua aspeknya. Penyusun mengucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah Farmakognosi yang telah membimbing dan teman-teman seangkatan sehingga makalah ini dapat diselesaikan dengan baik. Kami menyadari bahwa makalah ini masih memerlukan perbaikan, untuk itu sebagai penyusun, kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk meningkatkan kualitas makalah ini dan kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Jakarta, 19 Maret 2014

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................ 1 DAFTAR ISI .......................................................................................................... 2 BAB I BAB II PENDAHULUAN .......................................................................... 3 ISI ................................................................................................... 5

A. Deskripsi Tanaman Kopi ............................................................................ 5 B. Klasifikasi Tanaman .................................................................................. 5 C. Khasiat Tanaman Kopi ............................................................................... 6 D. Kandungan Kimia ....................................................................................... 8 E. Simplisia Biji Kopi .................................................................................... 12 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 16

BAB I PENDAHULUAN

Di dalam sejarah perkembangannya, farmakognosi sejak dahulu adalah merupakan bahagian dari apa yang disebut seni dan ilmu kedokteran, yaitu sejak manusia mengenal cara penyembuhan terhadap sesuatu penyakit. Dengan sendirinya farmakognosi ini juga merupakan hasil perkembangan dari cara pengobatan pada peradaban kuno, bahkan dari penyembuhan secara misterius yang dilakukan oleh dukundukun. Berkembang dari suatu abad dimana obat-obat digunakan secara empiris menjadi suatu pengetahuan tentang obat-obatan yang digunakan secara spesifik dan therapeutis,sehingga menjadi salah satu pengetahuan yang terpenting diantara pengetahuanpengetahuan pokok pada pendidikan farmasi. Farmakognosi mempelajari tentang bahan-bahan farmasetis yang berasal dari makhluk hidup, meliputi dimana terdapatnya di alam, biosintesanya, identifikasinya dan penentuan kadar secara kuantitatif di dalam bahan alam dan dari mana bahan tersebut berasal, juga cara isolasinya, struktur kimianya, sifatsifat fisis dan kimianya dan juga penggunaannya. Makhluk hidup, baik tumbuhan, hewan maupun manusia terdiri atas unitunit kecil yang disebut sel. Selama makhluk itu masih hidup banyak sekali proses atau perubahan yang terjadi dalam sel. Aktivitas yang terjadi dalam sel inilah yang menyunjang terlaksana fungsi makhluk hidup itu sendiri. Kopi arabika berasal dari pegunungan Ethiopia (Afrika). Di daerah asalnya kopi arabika tumbuh baik secara alami di hutan-hutan pada dataran tinggi sekitar 1500-2000an meter dari permukaan laut. Mulai tahun 1450 kopi dijadikan sebagai minuman sampai sekarang. Pada tahun 1696 seseorang berkebangsaan Belanda membawa tumbuhan kopi masuk ke Jawa (Aak, 1988). Selama beberapa abad ini kopi menjadi bahan perdagangan karena kopi dapat diolah menjadi minuman yang lezat rasanya. Dengan kata lain kopi adalah

sebagai penyegar badan dan pikiran. Badan yang lemah dan rasa kantuk dapat hilang setelah minum kopi panas. Lebih-lebih orang yang sudah menjadi pecandu kopi, bila tidak minum kopi rasanya akan capai dan tidak dapat berpikir. Kandungan kopi yang dimaksud untuk penyegar badan tersebut adalah kafein. Kafein mempunyai efek farmakogis terhadap CNS dan sistem kardiovaskular. Aktivitas terhadap CNS meliputi stimulasi kortikal, meningkatkan kewaspadaan, dan menurunkan rasa lelah. Pada dosis yang sangat tinggi dapat menginduksi sistem saraf, insomnia, dan tremor. Menstimulasi pusat respirasi pada batang otak dengan meningkatkan sensistivitas terhadap karbondioksida. Aktivitas terhadap sistem kardiovaskular meliputi aksi positif inotropik dan menyebabkan takikardia, meningkatkan kardiak output, mengakibatkan

vasodilatasi ringan dan memiliki efek diuretik sedang (Bruneton, 1999). Secara non farmakologis kafein dimanfaatkan sebagai bahan dalam minuman non alkoholik dan digunakan juga dalam minuman berenergi. Efek samping kafein yang diberikan secara per oral yang muncul pada dosis tinggi yaitu sinus takikardia, nyeri epigastrik, mual muntah, sakit kepala, gelisah, insomnia dan tremor (Bruneton, 1999). Efek farmakologis dan non farmakologis tersebut yang membuat kafein perlu di identifikasi dan dipisahkan dari biji kopi karena pada biji mengandung kafein paling banyak.

BAB II ISI
A. Deskripsi Tanaman Kopi

Gambar 1. Tanaman Kopi (Coffea arabica L.) Tanaman kopi berbentuk perdu, dengan tinggi 2-3 m. Batangnya tegak, bulat, bercabang, percabangan monopodial, permukaan kasar, kuning kotor. Daun tunggal, berhadapan, lonjong, tepi rata, ujung meruncing, lonjong, pangkal tumpul, panjang 8-15 cm, lebar 4-7 cm, bertangkai pendek, hijau, pertulangan menyirip, hijau. Bunganya majemuk, bentuk payung, di ketiak daun, kelopak lonjong, lima helai, panjang 3 mm, hijau, tangkai benang sari berlekatan membentuk tabung, panjang 8 mm, putih, tangkai putik menjulang keluar tabung, putih, mahkota berbentuk bintang, lima helai, panjang 7-9 mm, putih. Buah berbentuk batu, bulat telur, diameter 0,5-1 cm, masih muda hijau setelah tua merah. Biji memiliki bentuk bola, salah satu permukaan beralur, panjang 0,5-1 cm, putih kehijauan. Akarnya tunggang, kuning muda (Hutapea, 1993). B. Klasifikasi Tanaman Kingdom Divisi Subdivisi : Plantae : Spermatophyta : Angiospermae

Kelas Bangsa Suku Marga Jenis

: Dicotyledoneae : Rubiales : Rubiaceae : Coffea : Coffea arabica L. (Hutapea, 1993).

C. Khasiat Tanaman Kopi Daun dan biji Coffea arabica berkhasiat untuk penyegar badan. Untuk penyegar badan dipakai 15 gram daun muda Coffea arabica, dicuci dan dimakan sebagai lalapan atau urapan.

Kopi yang diminum sesuai dengan dosis aman untuk tubuh, maka manfaat kopi sangan banyak, diantaranya adalah: 1. Mencegah Batu Empedu Penelitian di Harvard University tahun 2002

menyimpulkan, meminum empat cangkir sehari membuat seseorang mengalami penurunan risiko terkena batu empedu hingga 25% pada pria.

2. Mencegah depresi Dengan minum 2-3 cangkir kopi per hari dapat menurunkan kemungkinan depresi sampai 15%. Saat minum empat cangkir, risiko depresi turun 20%. Demikian menurut studi yang dimuat dalam Archives of Internal Medicine pada tahun 2011 lalu. Namun, disarankan tidak lebih banyak dari takaran tersebut. 3. Kopi membantu meningkatkan kemampuan memori jangka pendek dan panjang Dengan minum dua cangkir kopi berkafein per hari, manfaat tersebut bisa dirasakan. Demikian hasil studi Masyarakat Radiologi Amerika Utara di tahun 2005. Selain itu, kopi membantu mencegah penyakit Alzheimer. 4. Risiko diabetes menurun karena minum kopi Dengan empat cangkir kopi per hari menurunkan risiko diabetes sampai separuhnya. Penyebabnya adalah senyawa kopi dapat menghalangi kerja hIAPP, yaitu suatu polipeptida yang menghasilkan serat protein abnormal pencetus diabetes tipe 2. 5. Mencegah beberapa jenis kanker Studi di Swedia pada 2008 menemukan kaitan

mengonsumsi kopi dengan penurunan risiko beberapa kanker yang terkait estrogen, obesitas , dan insulin. Jenis kanker tersebut yaitu kanker payudara, prostat, endometrium, dan hati. 6. Meningkatkan proses metabolisme tubuh sehingga dapat menurunkan atau mempertahankan berat badan Pada studi di tahun 2006 dikatakan, asam cholorogenic pada kopi bisa mengurangi penyerapan glukosa. 7. Mencegah penyakit Parkinson Penyakit yang ditandai gemetarnya bagian tubuh ini bisa dicegah hingga 25% nya dengan minum 2-3 cangkir kopi per hari menurut sebuah studi di tahun 2010.

8. Kopi juga punya kandungan antioksidan tinggi Riset yang dilakukan Hardvard University mengungkap bahwa kopi punya antioksidan lebih tinggi dari kebanyakan sayuran dan buah-buahan. 9. Mencegah penyakit asam urat Studi di tahun 2007 mengungkapkan, mereka yang minum enam cangkir kopi sehari dapat menjadi alasan seseorang memiliki risiko terkena asam urat lebih rendah hingga 60%.

D. Kandungan Kimia Daun, buah dan akar Coffea arabica mengandung Saponin, Flavonoida, dan Polifenol, disamping itu buahnya juga mengandung Alkaloida. Kopi mengandung banyak komponen kimia yang dapat dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu Komponen Alifatik, Komponen Alisiklik, Komponen Aromatik, Komponen Heterosiklik, Protein, Asam Amino, Dan Asam Nukleat, Karbohidrat, Lemak, Alkaloid, Vitamin, dan komponen anorganik (Spiller, 1998). Salah satu komponen kimia yang banyak terdapat dalam kopi adalah kafein. Kafein merupakan xantin yang paling kuat, menghasilkan stimulasi korteks dan medula dan bahkan stimulasi spiral pada dosis yang besar, kafein juga memperpanjang waktu kemampuan seseorang untuk melakukan pekerjaan yang melelahkan tubuh. Sedangkan teobromin merupakan stimulan sistem saraf pusat yang paling lemah dan bahkan mungkin tidak aktif pada manusia. Orang yang mengkonsumsi kafein merasakan kekurangan rasa mengantuk, lelah dan daya pikirannya lebih cepat dan lebih jernih. Kafein berguna untuk menghilangkan rasa letih dan lesu, menyegarkan menghilangkan rasa kantuk dan meningkatkan semangat maupun kewaspadaan. Kafein termasuk kelompok perangsang otak (stimulansia) juga bekerja terhadap jantung yaitu memperkuat dan

mempercepat pukulan jantung, memperbaiki peredaran darah. Biasanya yang mengandung kafein antara lain kopi, teh, kakao, dan cola. Efek dominan pada pusat psikis menyebabkan kenaikan alur penalaran, kurang mengantuk dan kelelahan mental, memberi rasa nyaman, dan perasaan enak. Kafein telah digunakan dalam pengobatan sepanjang sejarah, pada sekitar tahun 1950, orang-orang Eropa menggunakan minuman yang mengandung kafein untuk mengobati sakit kepala, batuk, rasa pusing bahkan mencegah plag dan penyakitpenyakit lain. Beberapa ahli antropologi percaya bahwa kafein digunakan sejak zaman batu. Kafein memberikan aksi stimulant sistem saraf pusat, menstimulasi jantung dan pelebaran bronkus. Konsumsi minuman yang mengandung kafein sebaiknya tidak lebih dari 100 mg kafein sehari, sebab konsumsi kafein 100 mg dalam sehari dapat membuat ketagihan apabila dikonsumsi setiap hari. Ketagihan kafein menyebabkan sakit kepala, penat pening, perasaan mudah terganggu, mual muntah, dan ketegangan otot apabila tidak mengkonsumsi minuman mengandung kafein. Kafein relatif tidak toksik, perkiraan dosis kafein pada manusia adalah sekitar 10 g. Meskipun kelebihan dosis mematikan jarang terjadi, gejala yang tidak menyenangkan dapat terjadi dengan dosis besar (250 mg atau lebih besar). Efek pusat menyerupai keadaan cemas dan meliputi gejala sukar tidur, mudah tersinggung, gemetaran, gugup kemampuan tereksitasi yang berlebih, hipertermia, dan sakit kepala. Gangguan toksik pada indera berupa kepekaan yang tinggi, telinga berdengung, silau mata, ketidakteraturan jantung, aritmia, dan hipotensi yang nyata akibat vasodilitasi langsung. Secara farmakokinetik kafein didistribusikan keseluruhan tubuh, melewati plasenta dan masuk ke air susu ibu, volume distribusi kafein adalah antar 400 dan 600 ml/kg. Eliminasi kafein terutama melalui metabolisme dalam hati. Sebagian besar disekresi bersama urin dalam

bentuk asam metil urat atau metil xantin. Kurang dari 5% kafein akan ditemukan di urin dalam bentuk utuh. Waktu paruh plasma antara 3-7 jam nilai ini akan menjadi dua kali lipat pada wanita hamil tua atau wanita yang menggunakan pil kontrasepsi jangka panjang. Intoksikasi pada manusia, kematian akibat keracunan kafein jarang terjadi. Kafein merupakan salah satu senyawa golongan xantin, selain tobromin dan teofilin. Gambar struktur turunan metil xantin tersebut dapat dilihat sebagai berikut.

Gambar 2. Struktur Turunan Metil Xantin (Mutschler, 1986). Keterangan: R1, R2, R3 = CH3 = Kafein R1, R3 = CH3, R2 = Teofilin R1 = H, R2, R3 = CH3 = Teobromin Turunan xantin yang ada dalam tanaman yaitu kafein, teofilin dan teobromin, kafein memiliki kerja psikotonik yang paling kuat. Agak kurang kerjanya adalah teofilin sedangkan pada teobromin tidak mempunyai efek stimulasi pusat. Struktur xantin serupa dengan nukleotida purin, banyak penelitian yang diarahkan pada penentuan efek mutagenik Kafein. Kafein dapat bersifat mutagenic pada

mikroorganisme, kapang, tanaman, serangga buah, mencit dan pada selsel manusia. Secara in vitro dapat memperkuat efek mutagenik bahan kimia. Namun berdasarkan informasi terbaru, pemakaian kafein tidak mendatangkan bahaya mutagenik yang berarti bagi manusia. Meskipun telah menunjukkan bahwa kafein bersifat teratogenik pada manusia, tidak ada laporan yang menghubungkan kafein dengan pengaruh teratogenik pada manusia.

10

Kafein diduga merupakan bagian dari sistem pertahanan benih kopi terhadap serangga, karena kafein telah diakui sebagai suatu antijamur, sebuah selektif fitotoksin, dan agen sterilisasi kimia terhadap serangga. Kadar kafein dalam biji kopi (Coffea sp.) ialah 0.2% 2.2%. Untuk bermacam-macam kopi kadar kafeinnya berbeda-beda. Misalnya kadar kafein pada kopi robusta 1.5% 2.5%, kopi arabika 1.0%- 1.2%, kopi leberia 1.4 1.6% dan kopi mokka 1.4 1.6%. Nama Lain RM Bobot Molekulnya Pemerian : 1,3,7 trimetil xanthin : C8H10N4O2 : 194,19 gram/mol : Serbuk putih atau berbentuk jarum

mengkilat putih; biasanya menggunpal; tidak berbau; rasa pahit; bentuk hidratnya mekar di udara (Anonim b, 1995) . Kelarutan : Agak sukar larut dalam air, dalam etanol; mudah larut dalam kloroform; sukar larut dalam eter (Anonim b, 1995) Konstanta dissosiasi : pKa 14.0 (25), 10.4 (40). Titik Lebur Identifikasi : 238 C :

KLT (Kromatografi Lapis Tipis)

Sistem TARf 52; sistem TBRf 03; sistem TCRf 58; sistem TDRf 15; sistem TERf 52; sistem TFRf 10; sistem TLRf 25; sistem TADRf 55; sistem TAERf 59; sistem TAFRf 55; sistem TAJRf 54; sistem TAKRf 18; sistem TALRf 81

11

Tabel 1. Daftar Sistem Pelarut Sistem TA TB TC TD TE TF TL TAD TAE TAF TAJ TAK TAL Fase Gerak Methanol : larutan amonia pekat Sikloheksana : toluen : dietilamin Kloroform : methanol Kloroform : aseton Etil asetat : methanol : larutan amonia kuat Etil asetat Aseton Kloroform : methanol Methanol Methanol : n-butanol Kloroform : etanol Kloroform : sikloheksana : asam asetat Kloroform : methanol : asam propionat (Moffat, 2005) Spektrum Serapan UV Larutan asam273 nm (A11=504a) E. Simplisia Biji Kopi a. Pemerian b. Makroskopik : Bau aromatik, khas, dan rasa pahit. : Biji berbentuk hampir setengah bulat atau (Moffat, 2005) Perbandingan 100 : 1,5 75 : 15 : 10 90 : 10 80 : 20 85 : 10 : 5

90 : 10 60 : 40 (ditambahkan 0,1 mol/L NaBr) 90 : 10 4:4:2 72 : 18 : 10

jorong, bagian punggung cembung, bagian perut datar, pada bagian perut terdapat sebuah alur yang dalam dan membujur, di dalam alur terdapat sisa kulit biji, berwarna coklat tua sampai coklat tua kehitaman.

12

c. Mikroskopik : Pada penampang melintang tampak spermoderm terdiri dari satu lapis sel batu, dinding tebal, lumen lebar, bernoktah, bentuk dan ukuran bermacam-macam, tunggal atau berkelompok. Perisperm terdiri dari sel parenkim berbentuk hampir segi empat, dinding tebal, lumen lebar. Pada sel yang lebih besar dinding berpenebalan tak rata, berisi tetes minyak dan aleuron, kadang-kadang butir-butir pati. Serbuk berwarna coklat

kehitaman. Fragmen pengenal adalah sel batu lumen lebar bernoktah parenkim dinding tipis, lapisan pigmen parenkim tetes minyak. (Anonim, 1989)

Gambar 3. Penampang melintang biji Coffea arabica L. Keterangan gambar: 1 = lapisan sel batu 2 = parenkim dinding tipis 3 = lapisan sel pigmen 4 = perisperm dengan tetes minyak (Anonim, 1989)

13

Gambar 4. Penampang melintang serbuk biji Coffea arabica L Keterangan : 1 = sel batu 2 = perisperm dengan tetes minyak (Anonim, 1989)

d. Identifikasi Serbuk Biji Kopi Menurut Materia Medika Indonesia, identifikasi untuk biji kopi adalah sebagai berikut: a) Pada 2 mg serbuk biji tambahkan 5 tetes asam sulfat P; terjadi warna coklat tua. b) Pada 2 mg serbuk biji tambahkan 5 tetes asam sulfat 10 N; terjadi warna coklat tua. c) Pada 2 mg serbuk biji tambahkan 5 tetes larutan natrium hidroksida P 5% b/v dalam etanol terjadi warna coklat. d) Pada 2 mg serbuk biji tambahkan 5 tetes ammonia (25%) P; terjadi warna coklat tua. e) Pada 2 mg serbuk biji tambahkan 5 tetes larutan besi(III)klorida P 5%; terjadi warna biru kehitaman. f) Timbang 300 mg serbuk biji campur dengan 5 mL metanol P dan panaskan di atas tangas air selama menit, dinginkan dan saring. Cuci endapan dengan metanol P secukupnya sehingga diperoleh 5 mL filtrate. Pada titik pertama, kedua dan ketiga lempeng KLT tutulkan masing-masing sebanyak 40l filtrate. Pada titik keempat tutulkan 5 l zat warna I LP. Elusi dengan dikloroetana P dengan jarak rambat 15 cm. Keringkan lempeng tersebut di udara selama 10 menit, elusi lagi dengan toluene P dengan arah elusi dan jarak rambat yang sama, Amati dnegan sinar biasa dan dengan sinar ultraviolet 366 nm. Selanjutnya disemprot dengan pereaksi anisaldehida-asam sulfat LP, panaskan pada suhu 110o C selama 10 menit. Amati lagi dengan

14

sinar biasa dan sinar ultraviolet 366 nm. Dengan perlakuan yang sama seperti cara kerja diatas dilakuakn penyemprotan dnegan pereaksi AlCl3 LP. Pasa Kromatogram tampak bercak-bercak dengan warna dan hRf sebagai berikut : Tabel 2. Kromatografi tampak bercak bercak dengan warna dan hRx No. hRx Dengan sinar biasa Tanpa pereaksi 1 2 3 4 5 6 2-12 25-29 43-48 89-93 93-101 125-131 Dengan pereaksi I Violet Violet Violet Violet Violet Violet II Dengan sinar UV 366 nm Tanpa pereaksi Biru violet Dengan pereaksi I Ungu Violet Merah Merah Ungu ungu II Violet Hijau Biru Biru -

Catatan : harga Rx dihitung terhadap bercak warna merah yang teramati dengan sinar biasa atau warna ungu dengan sinar UV 366 nm. hRf bercak warna merah = 65 Tanda I = Pereaksi anisaldehida-asam sulfat LP Tanda II = pereaksi AlCl3 LP (Anonim, 1979)

15

DAFTAR PUSTAKA
Aak. 1998. Budidaya Tanaman Kopi. Yogyakarta: Kanisius. Anonim. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Anonim. 1986. Sediaan Galenik. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia . Anonim. 1989. Materia Medika Indonesia, Jilid V. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Anonim. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Anonim. 2009. Scheme for Identification of Unknown Alkaloid Solution. Available at : http://www.pua.cc/PUASite/uploads/file/Pharmacy/Courses/PHR344/Practical %205.pdf Openned : 24 Desember 2010 Bruneton , J. ,1999, Pharmacognosy Phytochemistry Medicinal Plants, Second, Lavoisier Pub. Inc. c/o Springer Verlag, Secausus USA. Claus.P.Edward,1961,Pharmacognosy, United States of America: Lea & Febiger Evans,W.C. and Evans,D., 2002, Trease and Evans Pharmacognosy, 15 th Edition, W.B.Saunders, Edinburg, London. Gomberg, M. 2009. Estimation of Caffein by Meansof Wagners Reagent. Available at : http://www.rsc.org/ejarchive/AN/1896/AN8962100192.pdf Opened : 24 Desember 2010 Harbone, J.B. 1987. Metode Fitokimia. Bandung: ITB . Hutapea, J.R. 1993. Inventaris Tanaman Obat Indonesia III. Jakarta: Depkes RI Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Kristianti, A.N, N.S. Aminah, M. Tanjung, B.Kurniadi. 2008. Buku Ajar Fitokimia. Surabaya: Jurusan Kimia Laboratorium Kimia Organik FMIPA Universitas Airlangga. Kusmardiani,S dan A. Nawawi.1992. Kimia Bahan Alam. Jakarta: Pusat Antar Universitas Bidang Ilmu Hayati Moffat, A.C., M.D. Osselton, and B. Widdop. 2005. Clarke's Analysis of Drugs and Poisons. 3rd Edition. London: Pharmaceutical Press.

16

Tim Penyusun. 2008. Buku Ajar Farmakognosi. Bukit Jimbaran: Jurusan Farmasi Fakultas MIPA Universitas Udayana. Sherma, J. and B. Fried. 1996. Handbook of Thin-Layer Chromatography. Third Edition. New York: Marcel Dekker Inc. P.147-149 Spiller, G. A. 1998. Caffeine. USA: CRC Press. Sthal, E. 1985. Analisis Obat Secara Kromatografi dan Mikroskopi. Bandung : ITB. Samuellsson G.. 1999. Drugs of Natural Origin A Textbook of Pharmacognosy. 4 th Revised Edition, Apotekarsocieteten, Stockholm, Sweden. Tyler,V.E, Brady.L R.. Robbers J.E., 1988. Pharmacognosy, Ninth Edition, Lea & Febiger. Philadephia.

17