Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Sindrom kompartemen adalah sebuah kondisi yang mengancam anggota tubuh dan jiwa yang dapat diamati ketika tekanan perfusi dibawah jaringan yang tertutup mengalami penurunan. Saat sindrom kompartemen tidak teratasi maka tubuh akan mengalami nekrosis jaringan dan gangguan fungsi yang permanen, dan jika semakin berat dapat terjadi gagal ginjal dan kematian. Lokasi yang dapat mengalami sindrom kompartemen telah ditemukan di tangan, lengan bawah, lengan atas, perut, pantat, dan seluruh ekstremitas bawah. Hampir semua cedera dapat menyebabkan sindrom ini, termasuk cedera akibat olahraga berat.1,2 Munculnya sindrom kompartemen disebabkan oleh gangguan perfusi jaringan yang diawali dengan peningkatan tekanan intra kompartemen mengakibatkan berkurangnya perfusi jaringan dan tekanan oksigen jaringan, sehingga terjadi gangguan sirkulasi dan fungsi jaringan di dalam ruangan tersebut. Ruangan tersebut berisi otot, saraf dan pembuluh darah yang dibungkus oleh tulang dan fascia serta otot-otot individual yang dibungkus oleh epimisium. Ditandai dengan keluhan nyeri hebat, parestesi, paresis, pucat, disertai denyut nadi yang hilang. Secara anatomi sebagian besar kompartemen terletak di anggota gerak. Paling sering disebabkan oleh trauma, terutama mengenai daerah tungkai bawah dan tungkai atas.1 Pada proses terjadinya sindrom kompartemen diharapkan mengetahui munculnya gejala yang timbul dari pasien dengan riwayat trauma berat terutama bila terjadi kerusakan vaskuler sehingga diperlukan suatu pemeriksaan lebih lanjut dan penatalaksanaan yang baik. Kerusakan vaskuler dapat mengakibatkan suatu risiko tinggi terhadap suatu kegagalan fungsi organ pada ginjal dan kematian jaringan karena kondisi hipoksia jaringan.2,3

1.2 Perumusan Masalah Perumusan masalah dalam pembuatan referat ini, yaitu : a. Mengetahui sindrom kompartemen pada riwayat trauma. b. Mengetahui gejala klinis dari sindrom kompartemen dengan riwayat trauma. c. Mengetahui penatalaksanaan dari sindrom kompartemen dengan riwayat trauma.

1.3 Tujuan Adapun dalam pembuatan referat ini memiliki tujuan, yaitu : a. Tujuan Umum Mengetahui gejala klinis, dan penatalaksanaan dari sindrom kompartemen pada pasien dengan riwayat trauma.

b. Tujuan Khusus Mengetahui gejala klinis dari sindrom kompartemen dengan riwayat trauma yang dapat mengancam anggota organ tubuh lainnya dan jiwa. Mengetahui penatalaksanaan dari sindrom kompartemen.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Definisi Sindrom kompartemen merupakan suatu kondisi terjadinya peningkatan tekanan interstitial dalam sebuah ruangan terbatas, yakni kompartemen osteofasial yang tertutup. Hal ini dapat mengawali terjadinya kekurangan oksigen akibat penekanan pembuluh darah sehingga mengakibatkan berkurangnya perfusi jaringan dan diikuti dengan kematian jaringan.2,3

2.2 Anatomi Kompartemen adalah merupakan daerah tertutup yang dibatasi oleh tulang, interosseus membran dan fascia yang melibatkan jaringan otot, saraf dan pembuluh darah. Otot mempunyai perlindungan khusus, yaitu fascia yang berfungsi melindungi semua serabut otot dalam satu kelompok. Secara anatomik, sebagian besar kompartemen terletak di anggota gerak. Terletak di lengan atas (kompartemen anterior dan posterior), dilengan bawah (yaitu kompartemen flexor superficial, fleksor profundus, dan kompartemen ekstensor). Di anggota gerak bawah, terdapat tiga kompartemen ditungkai atas (kompartemen anterior, medial, dan kompartemen posterior), empat ditungkai bawah (kompartemen anterior, lateral, posterior superfisial, posterior profundus). Sindrom kompartemen yang paling sering di daerah tungkai bawah (yaitu kompartemen anterior, lateral, posterior superficial, dan posterior profundus) serta lengan atas (kompartemen volar dan dorsal).3,4 Setiap kompartemen pada tungkai bawah memiliki satu nervus mayor. Kompartemen anterior memiliki nervus peroneus profundus, kompartemen lateral memiliki nervus peroneus superficial, kompartemen posterior profunda memiliki nervus tibialis posterior dan kompartemen posterior superficial memiliki nervus suralis. Apabila terjadi peningkatan tekanan intra kompartemen akan mengakibatkan berkurangnya perfusi jaringan dan tekanan oksigen jaringan, sehingga terjadi gangguan sirkulasi disertai suplai vaskuler ke nervus berkurang serta gangguan fungsi jaringan di dalam ruangan tersebut. Ditandai dengan nyeri yang hebat, parestesi, paresis, pucat, dan denyut nadi yang hilang. Secara anatomi sebagian besar kompartemen terletak di anggota gerak.5,6

Gambar 1. Kompartemen Tungkai Bawah

2.3 Klasifikasi Sindroma kompartemen dapat di klasifikasikan berdasarkan etiologinya yaitu penurunan volume kompartemen dan peningkatan tekanan struktur kompartemen serta lamanya gejala, yaitu akut dan kronik. Penyebab umum terjadinya sindroma kompartemen akut adalah fraktur, trauma jaringan lunak, kerusakan pada arteri, dan luka bakar. Sedangkan sindroma kompartemen kronik biasa terjadi akibat melakukan aktivitas yang berulang-ulang, misalnya pelari jarak jauh, pemain basket, pemain sepak bola, dan militer.1,2,3

2.4 Etiologi Penyebab terjadinya sindroma kompartemen adalah tekanan di dalam kompartemen yang terlalu tinggi, > 30 mmHg. Penyebab terjadinya peningkatan tekanan intra kompartemen adalah peningkatan volume cairan dalam kompartemen atau penurunan volume kompartemen, yaitu antara lain :4,5,6 1. Penurunan volume kompartemen. Kondisi ini disebabkan oleh : Penutupan defek fascia Traksi internal berlebihan pada fraktur ekstremitas 2. Peningkatan tekanan eksternal. Kondisi ini disebabkan oleh : Balutan yang terlalu ketat Berbaring di atas lengan Gips
4

3. Peningkatan tekanan pada struktur komparteman. Beberapa hal yang bisa menyebabkan kondisi ini antara lain : Pendarahan atau trauma vaskuler Peningkatan permeabilitas kapiler Penggunaan otot yang berlebihan Luka bakar Operasi Gigitan ular Obstruksi vena

Selama ini penyebab sindroma kompartemen yang paling sering adalah cedera, 45 % kasus akibat fraktur, dan 80% kasus terjadi di anggota gerak bawah. Pada keadaan kronik, gejala juga timbul akibat aktifitas fisik berulang seperti berenang, lari, dan bersepeda sehingga menyebabkan exertional compartment syndrome. Tetapi kondisi tersebut bukan merupakan keadaan emergensi.4

2.5 Epidemiologi Dari penelitian McQueen (2000), sindrom kompartemen lebih sering pada pria dari pada wanita karena pria lebih sering mengalami luka trauma. McQueen memeriksa 164 pasien yang didiagnosis sindrom kompartemen, 69% berhubungan dengan fraktur dan sebagian adalah fraktur tibia.4

2.6 Patofisiologi Fasia merupakan sebuah jaringan yang tidak elastis dan tidak dapat meregang, sehingga pembengkakan pada fasia dapat meningkatkan tekanan intra kompartemen dan menyebabkan penekanan pada pembuluh darah, otot dan saraf. Pembengkakan tersebut dapat diakibatkan oleh fraktur yang kompleks atau cedera jaringan akibat trauma dan operasi. Aktifitas fisik yang dilakukan secara rutin juga dapat menyebabkan pembengkakan pada fasia, namun umumnya hanya berlangsung selama aktifitas.5,6 Patofisiologi sindrom kompartemen mengarah pada suatu ischemic injury. Struktur intra kompartemen memiliki batasan tekanan yang dapat ditoleransi. Apabila cairan bertambah dalam suatu ruang yang tetap, maupun penurunan volume kompartemen dengan komponen yang tetap, akan mengakibatkan pada peningkatan tekanan dalam kompartemen tersebut.1
5

Terdapat tiga teori yang menyebabkan hipoksia pada sindrom kompartemen, yaitu : a. Spasme arteri akibat peningkatan tekanan kompartemen b. Theori of critical closing pressure Hal ini disebabkan oleh diameter pembuluh darah yang kecil dan tekanan mural arteriol yang tinggi. Tekanan trans mural secara signifikan berbeda (tekanan arteriol-tekanan jaringan), ini dibutuhkan untuk memelihara patensi aliran darah. Bila tekanan jaringan meningkat atau tekanan arteriol menurun maka tidak ada lagi perbedaan tekanan. Kondisi seperti ini dinamakan dengan tercapainya critical closing pressure. Akibat selanjutnya adalah arteriol akan menutup. c. Tipisnya dinding vena Karena dinding vena tipis, maka ketika tekanan jaringan melebihi tekanan vena maka dapat terjadi kolaps. Apabila kemudian darah mengalir secara kontinyu dari kapiler, maka tekanan vena akan meningkat lagi melebihi tekanan jaringan, sehingga drainase vena terbentuk kembali.2

Sindrom kompartemen menyebabkan peningkatan tekanan jaringan, penurunan aliran darah kapiler, dan nekrosis jaringan lokal. Peningkatan tekanan jaringan menyebabkan obstruksi vena dalam ruang yang tertutup. Peningkatan tekanan secara terus menerus menyebabkan tekanan arteriolar intra muskuler bagian bawah meninggi. Pada kondisi ini, tidak ada lagi darah yang akan masuk ke kapiler sehingga menyebabkan kebocoran ke dalam kompartemen, yang diikuti oleh meningkatnya tekanan dalam kompartemen.3,4 Perfusi darah melewati kapiler yang terhenti akan menyebabkan hipoksia jaringan. Hipoksia jaringan akan membebaskan substansi vasoaktif (histamin, serotonin) yang akan meningkatkan permeabilitas kapiler dengan meningkatkan eksudasi cairan dan

mengakibatkan peningkatkan tekanan dan cedera yang lebih hebat. Akibatnya konduksi saraf akan melemah, pH jaringan akan menurun akibat dari metabolisme anaerobik, dan kerusakan jaringan sekitar yang hebat. Bila berlanjut, otot-otot akan mengalami nekrosis dan membebaskan mioglobin. Akhirnya, fungsi ekstremitas akan hilang dan dalam keadaan terburuk dapat mengancam jiwa.1 Penekanan terhadap saraf perifer disekitarnya akan menimbulkan nyeri hebat. Metsen mempelihatkan bahwa bila terjadi peningkatan intra kompartemen, tekanan vena meningkat. Setelah itu, aliran darah melalui kapiler akan berhenti. Dalam keadaan ini penghantaran oksigen juga akan terhenti, sehingga terjadi hipoksia jaringan. Jika hal ini terus berlanjut,

maka terjadi iskemia otot dan nervus, yang akan menyebabkan kerusakan ireversibel komponen tersebut.1,2 Pada keadaan aktivitas berat yang dilakukan secara rutin, kontraksi otot berulang dapat meningkatkan tekanan pada komponen intra muskular. Hal ini disebabkan otot dapat membesar sekitar 20% selama latihan, dan akan menambah peningkatan dalam tekanan intra kompartemen untuk sementara. Sindroma kompartemen kronik terjadi ketika tekanan kontraksi yang terus-menerus tetap tinggi dan mengganggu aliran darah. Sebaliknya, aliran arteri selama relaksasi otot akan semakin menurun, dan pasien akan mengalami kram otot. Bagian yang sering mengalami gejala adalah kompartemen anterior dan lateral dari tungkai bagian bawah.2

Gambar 2. Patofisiologi Sindrom Kompartemen

2.7 Manifestasi Klinis Gejala sindrom kompartemen, klinisnya didapatkan 6 P, yaitu : pain, paresthesia, pallor (pucat), paralysis, pulselessness, dan puffiness. Berikut ini penjelasan dari gejala yang terjadi pada sindrom kompartemen.7,8 1. Pain (nyeri) : - Nyeri terjadi saat peregangan pasif pada otot-otot yang terkena, ketika ada trauma langsung. Nyeri merupakan gejala dini yang paling penting. Terutama jika munculnya nyeri tidak sebanding dengan keadaan klinik (pada anak-anak tampak
7

semakin gelisah atau memerlukan analgesia lebih banyak dari biasanya). Otot yang tegang pada kompartemen merupakan gejala yang spesifik dan sering. - Nyeri dirasakan seperti kram akibat dari vasokonstriksi pembuluh darah sehingga darah dan oksigen tidak dapat mencapai otot-otot tersebut. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan permanen pada jaringan. Biasanya, nyeri bersifat sementara atau tidak menetap dan akan sembuh dengan beristirahat dalam waktu 15-30 menit dari penghentian latihan. 2. Pallor (pucat) : kulit terasa dingin jika di palpasi, warna kulit biasanya pucat, abuabu atau keputihan. 3. Pulselesness (berkurang atau hilangnya denyut nadi) 4. Parestesia : biasanya memberikan gejala rasa panas dan gatal pada daerah lesi. Parestesia dari saraf pada kompartemen bilateral pada sekitar 82% pasien. Dapat juga terjadi kelemahan dan atrofi otot. Regangan pasif pada otot yang terkena setelah latihan dapat meningkatkan nyeri. Dan yang paling pasti bahwa dapat terjadi peningkatan tekanan kompartemen. 5. Paralysis : biasanya diawali dengan ketidakmampuan untuk menggerakkan sendi, merupakan tanda lambat akibat menurunnya sensasi saraf yang berlanjut dengan hilangnya fungsi. 6. Puffines : Kulit yang tegang, bengkak dan mengkilat.

2.8 Diagnosis Penegakkan diagnosis diawali dengan anamnesis yang baik dan tepat. Anamnesis dilakukan dengan menanyakan riwayat dari keluhan subjektif, adanya suatu tanda-tanda fisik, dan gejala klinis yang dirasakan. Penilaian dapat dilakukan berdasarkan tanda-tanda gejala klinisnya, yaitu 6 P.3,4,5 Gejala terpenting pada pasien yang sadar dan koheren adalah nyeri yang proporsinya tidak sesuai dengan beratnya trauma. Paresthesi berkenaan dengan saraf yang melintang pada kompartemen yang bermasalah merupakan tanda lanjutan dari sindrom kompartemen. Palpasi dapat menunjukkan ekstremitas yang tegang dan keras. Pallor dan pulselessness adalah tanda yang jarang jika tidak disertai cedera vaskuler. Paralysis dan kelemahan motorik adalah tanda yang amat lanjut yang mengarah pada sindrom kompartemen.3,4 Jika diagnosis sindrom kompartemen belum dapat ditegakkan atau jika data objektif diperlukan, maka tekanan kompartemen harus diukur. Cara ini paling berguna jika diagnosis belum dapat disimpulkan dari gejala klinis, pada pasien multiple trauma (cedera kepala,
8

medulla spinalis, dan trauma saraf perifer), pasien dengan penurunan kesadaran, dan pasien tidak kooperatif. Normalnya tekanan kompartemen adalah nol. Perfusi yang tidak adekuat dan iskemia relatif ketika tekanan meningkat antara 10-30 mmHg dari tekanan diastolik. Tidak ada perfusi yang efektif ketika tekanannya sama dengan tekanan diastolik.7,8 Prosedur pengukuran tekanan kompartemen antara lain : a. Teknik pengukuran langsung dengan teknik injeksi Jarum ukuran 18 dihubungkan dengan spoit 20 cc melalui saluran saline dan udara. Saluran ini kemudian dihubungkan dengan manometer air raksa standar. Setelah jarum disuntikkan ke dalam kompartemen, tekanan udara dalam spuit akan meningkat sehingga meniskus saline-udara tampak bergerak. Kemudian tekanan dalam kompartemen dapat dibaca pada manometer air raksa. b. Teknik Wick kateter Wick kateter dan sarung plastiknya dihubungkan ke transducer dan recorder. Kateter dan tabungnya diisi oleh three-way yang dihubungkan dengan transducer. Sangat perlu untuk memastikan bahwa tidak ada gelembung udara dalam sistem tersebut karena memberi hasil yang rendah atau mengaburkan pengukuran. Ujung kateter harus dapat menghentikan suatu meniskus air sehingga dapat dipastikan dan diketahui bahwa dalam jaringan tersebut dilewati suatu trocar besar, kemudian jarumnya ditarik dan kateter dibalut ke kulit. Pemeriksaan lainnya dapat dilakukan dengan Pulse oximetry sangat membantu dalam mengidentifikasi hipoperfusi ekstremitas. Namun tidak cukup sensitif untuk mendiagnosis sindrom kompartemen.3

Gambar 3. Teknik Wick Kateter dan Teknik Injeksi

2.9 Diagnosis Banding Pada sindrom kompartemen kronik didapatkan nyeri yang hilang timbul, dimana nyeri muncul pada saat berolahraga dan berkurang pada saat beristirahat. Sindrom kompartemen kronik dibedakan dengan claudikasio intermitten yang merupakan nyeri otot atau kelemahan otot pada tungkai bawah karena latihan dan berkurang dengan istirahat, biasanya nyeri berhenti 2-5 menit setelah beraktivitas.3 Hal ini disebabkan oleh adanya oklusi atau obstruksi pada arteri bagian proksimal, tidak ada peningkatan tekanan kompartemen. Sedangkan sindrom kompartemen kronik adanya kontraksi otot berulang-ulang yang dapat meningkatkan tekanan intramuskuler sehingga menyebabkan iskemia kemudian menurunkan aliran darah dan otot menjadi kram. Diagnosis banding dari sindrom kompartemen antara lain :5,6 1. Selulitis 2. Coelenterate dan Jellyfish Envenomations 3. Deep Vein Trombosis dan Thrombophlebitis 4. Gas Ganggrene 5. Necrotizing Fasciitis 6. Peripheral Vascular Injuries 7. Rhabdomyolis

2.10 Penatalaksanaan Tujuan dari terapi sindrom kompartemen adalah mengurangi defisit fungsi neurologis dengan lebih dulu mengembalikan aliran darah lokal, biasanya dengan bedah dekompresi. Walaupun fasciotomi disepakati sebagai terapi yang terbaik, namun beberapa hal, seperti timing, masih diperdebatkan. Semua ahli bedah setuju bahwa adanya disfungsi neuromuskular adalah indikasi mutlak untuk melakukan fasciotomi. Penanganan sindrom kompartemen meliputi :7,8 1. Terapi medikamentosa/non operatif Pemilihan terapi secara medikamentosa digunakan apabila masih menduga suatu sindrom kompartemen, yaitu : a. Menempatkan ekstremitas yang terkena setinggi jantung, untuk mempertahankan ketinggian kompartemen yang minimal, elevasi dihindari karena dapat menurunkan aliran darah dan akan lebih memperberat iskemia. b. Pada kasus penurunan ukuran kompartemen, gips harus di buka dan pembalut konstriksi dilepas.
10

c. Pada kasus gigitan ular berbisa, pemberian anti racun dapat menghambat perkembangan sindrom kompartemen. d. Mengoreksi hipoperfusi dengan cairan kristaloid dan produk darah. e. Pada peningkatan isi kompartemen, diuretik dan pemakaian manitol dapat mengurangi tekanan kompartemen. Manitol mereduksi edema seluler, dengan memproduksi kembali energi seluler yang normal dan mereduksi sel otot yang nekrosis melalui kemampuan dari radikal bebas. f. HBO (Hyperbaric oxygen) Merupakan pilihan yang logis untuk kompartemen sindrom berkaitan dengan ischemic injury. HBO memiliki banyak manfaat, antara lain dapat mengurangi pembengkakan melalui vasokonstriksi oleh oksigen dan mendukung

penyembuhan jaringan. Mekanismenya ialah ketika tekanan perfusi rendah, oksigen dapat diterima sehingga dapat terjadi penyembuhan jaringan.1,2 2. Terapi Bedah Fasciotomi dilakukan jika tekanan intra-kompartemen mencapai >30 mmHg. Tujuan dilakukan tindakan ini adalah menurunkan tekanan dengan memperbaiki perfusi otot. Jika tekanannya <30 mm Hg maka tungkai cukup diobservasi dengan cermat dan diperiksa lagi pada jam-jam berikutnya. Kalau keadaan tungkai membaik, evaluasi terus dilakukan hingga fase berbahaya terlewati. Akan tetapi jika memburuk maka segera lakukan fasciotomi. Keberhasilan dekompresi untuk perbaikan perfusi adalah 6 jam. Terdapat dua teknik dalam fasciotomi yaitu teknik insisi tunggal dan insisi ganda .Insisi ganda pada tungkai bawah paling sering digunakan karena lebih aman dan lebih efektif, sedangkan insisi tunggal membutuhkan diseksi yang lebih luas dan resiko kerusakan arteri dan vena peroneal.1,2

2.11 Prognosis Dengan diagnosis dan pengobatan yang tepat, umumnya menberikan hasil yang baik. Namun umumnya prognosis ditentukan oleh trauma penyebab. Diagnosis yang terlambat dapat menyababkan kerusakan saraf yang permanen serta malfungsi dari otot yang terlibat. Hal ini sering terjadi pada penderita dengan penurunan kesadaran atau dengan pemberian sedasi yang menyebabkan penderita tidak mengeluhkan nyeri. Umunya kerusakan permanen dapat timbul setelah 12-24 jam setelah terjadi kompresi.5

11

2.12 Komplikasi Komplikasi terjadi akibat trauma permanen yang mengenai otot dan saraf yang dapat mengurangi fungsinya. Apabila sindrom kompartemen lebih dari 8 jam dapat mengakibatkan nekrosis dari saraf dan otot dalam kompartemen. Saraf dapat beregenerasi sedangkan otot tidak sehingga jika terjadi infark tidak dapat pulih kembali dan digantikan dengan jaringan fibrosa yang tidak elastic, yaitu kontraktur iskemik Volkmann yang merupakan kelanjutan dari sindrom kompartemen akut yang tidak mendapat terapi selama lebih dari beberapa minggu atau bulan. Kira-kira 1-10% dari semua kasus sindrom kompartemen berkembang menjadi kontraktur volkmann.3,4 Iskemia berat yang berlangsung selama 6-8 jam dapat menyebabkan kematian otot dan nervus, yang kemudian menyebabkan terjadinya kontraktur Volkmann. Kontraktur Volkmann adalah deformitas pada tangan, jari dan pergelangan tangan karena adanya trauma pada lengan bawah. Disebabkan oleh iskemia yang biasanya disebabkan oleh peningkatan tekanan (sindrom kompartemen). Trauma vaskuler menyebabkan infark otot dan kematian serat otot, kemudian otot digantikan oleh jaringan ikat.5 Sedangkan komplikasi sistemik yang dapat timbul dari sindrom kompartemen meliputi gagal ginjal akut, sepsis dan acute respiratory distress syndrome (ARDS) yang fatal jika terjadi sepsis kegagalan organ secara multi sistem.6,7

12

BAB III PENUTUP


III.1 Kesimpulan Sindrom kompartemen adalah sebuah kondisi emergensi yang mengancam anggota tubuh dan jiwa yang paling sering terjadi pada daerah tungkai bawah. Penyebab sindroma kompartemen yang paling sering adalah cedera, dimana 45% kasus terjadi akibat fraktur, dan 80% darinya terjadi di anggota gerak bawah. Gejala klinis yang terjadi pada sindrom kompartemen dikenal dengan 6 P, yaitu : Pain (nyeri), Pallor (pucat), Pulselesness (berkurang atau hilangnya denyut nadi), Parestesia (rasa kesemutan), Paralysis, dan Puffines. Penatalaksanaan pada sindrom kompartemen bertujuan untuk mengurangi defisit fungsi neurologis dengan lebih dulu mengembalikan aliran darah lokal, melalui bedah dekompresi dan dilakukan jika tekanan intra-kompartemen mencapai >30 mmHg. Pemberian terapi non bedah seperti posisi kaki diletakkan setinggi jantung, pemberian cairan diuretik dan manitol, serta terapi penunjang HBO (hyperbaric oxygen). Prognosis ditentukan oleh trauma penyebab. Diagnosis dan penatalaksanaan yang tepat, umumnya memberikan hasil yang baik dan diagnosis yang terlambat dapat menyababkan kerusakan saraf yang permanen serta malfungsi dari otot yang terlibat.

13

DAFTAR PUSTAKA
1. Solomon Louis, Warwick David. 2001. Compartment syndrome in Appley`s system of orthopaedics and fractures. Ed 8th. Oxford University Press. New York.

2. Paula, Richard. 2009. Compartment Syndrome in Emergency Medicine. Diunduh dari: http://emedicine.medscape.com/article/828456-overview.

3. Sjamsuhidajat, R dan Wim De Jong,1997. Buku Ajar Ilmu Bedah edisi revisi. EGC. Jakarta.

4. Salter, R.B. 2009. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskeletal System. Ed 3rd. Maryland: Lippincott Williams & Wilkins.

5. Rasjad, C. 2007. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Yarsif Watampone, Jakarta.

6. Abukalyadi.

2010.

Sindrom

Kompartemen.

Diunduh

dari

http://www.scribd.com/doc/44029028/sindrom-kompartemen.

7. American Acedemy of Orthopaedic Surgeons. 2009. Compartement Syndrome. Diunduh dari: http://orthoinfo.aaos.org/topic.cfm?topic=a00204.

8. Medlineplus.

2011.

Compartement

Syndrome.

Diunduh

dari:

http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001224.htm.

14