Anda di halaman 1dari 5

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 1, No. 1, (Sept.

2012) ISSN: 2301-9271

D-67

Analisa Perbandingan Penggunaan Bekisting Semi Konvensional Dengan Bekisting Sistem Table Form Pada Konstruksi Gedung Bertingkat
Yevi Novi Dwi Saraswati, Retno Indryani Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 E-mail: retno_i@ce.its.ac.id
Semakin cepat produktifitas pekerjaan bekisting maka akan semakin cepat pula pekerjaan beton terselesaikan. Seiring berkembangnya teknologi dalam dunia konstruksi di Indonesia, teknologi cetakan beton atau bekisting juga berkembang dengan banyaknya alternatif metode. Diantaranya yang beredar di Indonesia antara lain Paschal, KHK, MESA dan PERI [3]. Teknologi bekisting berkembang dari sistem tradisional (rakit di tempat) menjadi sistem prafabrikasi. Untuk gedung High Rise Building yang tipikal bentuk strukturnya, bekisting sistem cenderung akan lebih ekonomis karena volume pengecoran akan besar. Untuk gedung Low Rise Building yang volume pengecorannya cenderung lebih sedikit dan bentuk strukturnya cenderung kurang tipikal, bekisting semi konvensional akan cenderung lebih ekonomis. Kecenderungan tersebut perlu diteliti. Oleh karena itu, dalam penelitian ini dilakukan analisa perbandingan bekisting konvensional dengan bekisting sistem table form pada gedung High Rise Building dan gedung Low Rise Building. II. METODA PENELITIAN A. Data Penelitian Data-data yang diperlukan dalam penelitian ini terdapat dalam Tabel 1.
Tabel 1. Jenis dan Sumber Data Penelitian

Abstrak Pekerjaan bekisting memberikan kontribusi yang cukup besar dalam hal proporsi biaya pekerjaan beton. Produktifitas dan siklus dari pekerjaan bekisting juga mempengaruhi waktu pekerjaan beton. Oleh karena itu, dalam merencanakan pekerjaan bekisting harus ditentukan jenis bekisting yang terbaik dan sesuai dengan kondisi proyek. Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan penggunaan bekisting semi konvensional dengan bekisting table form system untuk low rise building dan high rise building. Masing-masing bekisting untuk kedua tipe gedung dihitung waktu pelaksanaan dan biaya pelaksanaan untuk low rise building dan high rise building. Dari hasil perhitungan akan dilakukan analisa perbandingan dengan menggunakan metode matriks evaluasi untuk menentukan bekisting mana yang lebih baik untuk low rise building dan high rise building berdasarkan kriteria biaya dan waktu pelaksanaan. Digunakan 5 ( lima ) skenario perbandingan antara biaya dan waktu yaitu 30%:70%, 40%:60%, 50%:50%, 60%:40%, 60%:40% dan 70%:30%. Gedung Sekolah Anak Panah digunakan sebagai contoh kasus low rise building. Hotel Ibis digunakan sebagai contoh kasus high rise building. Dari analisa perbandingan pada gedung Sekolah Anak Panah didapatkan bekisting yang terbaik untuk skenario 1, 2 dan 3 adalah bekisting semi konvensional, dan skenario 4 dan 5 adalah bekisting sistem table form. Dari analisa pada gedung Hotel Ibis didapatkan bekisting yang terbaik untuk skenario 1 dan 2 adalah bekisting semi konvensional, skenario 3 adalah keduanya, dan skenario 4 dan 5 adalah bekisting sistem table form. Kata Kunci bekisting, bekisting semi konvensional, bekisting Table Form System, biaya, waktu.

No 1 2 3 4 5

I. PENDAHULUAN

Data Gambar perencanaan struktur Penjadwalan proyek Harga material Spesifikasi dan perencanaan bekisting semi konvensional Spesifikasi dan perencanaan bekisting sistem table form

ALAM pekerjaan konstruksi beton, ada tiga komponen utama yang harus direncanakan dengan matang karena akan mempengaruhi keberhasilan suatu pekerjaan struktur. Ketiga komponen tersebut adalah campuran beton, penulangan beton dan bekisting. Komponen bekisting pada pelaksanaannya juga membutuhkan biaya yang besar [1]. Oleh karena itu perencanaannya harus dipertimbangkan faktor ekonomisnya. Pekerjaan bekisting juga memberikan pengaruh dalam hal durasi pelaksanaan dalam pekerjaan beton karena siklus pekerjaan bekisting beririsan dengan pekerjaan beton [2].

Sumber data Proyek yang ditinjau Proyek yang ditinjau Proyek yang ditinjau Proyek yang ditinjau Studi literatur

Jenis data Sekunder Sekunder Sekunder Sekunder Sekunder

B. Tahapan Penelitian Langkah-langkah yang akan digunakan dalam penelitian terdapat dalam diagram alir pada Gambar 1.

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 1, No. 1, (Sept. 2012) ISSN: 2301-9271


Latar Belakang

D-68 5. Setelah tulangan balok terpasang, kemudian dipasang side form bekisting balok dan Balok pengaku (balok pengaku) berukuran 5/7. 6. Untuk bekisting pelat dipasang setelah pemasangan bekisting balok. Dimulai dari pemasangan balok gelagar berukuran 6/12 diatas U-head sejarak 1,25 m. 7. Kemudian balok suri berukuran 6/12 dipasang sejarak 30cm. 8. Selanjutnya dapat dipasang plywood 12 mm sesuai ukuran pelat. 9. Penulangan pelat dapat dipasang setelah plywood untuk pelat terpasang. 10. Pekerjaan pengecoran dapat dilakukan jika pekerjaan penulangan sudah selesai. 11. Pembongkaran bekisting dapat dilakukan 7 hari setelah pengecoran.
Tabel 2. Material bekisting semi konvensional beserta pengulangan pemakaian

Permasalahan Tujuan

Analisa Data

Low Rise Building

High Rise Building

Bekisting Semi Konvensional

Bekisting Sistem Table Form

Bekisting Semi Konvensional

Bekisting Sistem Table Form

Metode Pelaksanaan

Metode Pelaksanaan

Metode Pelaksanaan

Metode Pelaksanaan

No. 1

Waktu Pelaksanaan

Waktu Pelaksanaan

Waktu Pelaksanaan

Waktu Pelaksanaan

Rencana Biaya

Rencana Biaya

Rencana Biaya

Rencana Biaya

2 3

Perbandingan Antara Kedua Tipe Bekisting

Perbandingan Antara Kedua Tipe Bekisting

Nama Scaffolding Base jack Main Frame Ladder Frame Cross Brace Cross Head Jack/U-head Joint Pin Plywood 12mm Kayu Kayu 5/7 Kayu 6/12 Paku

Pengulangan Berulang-ulang Berulang-ulang Berulang-ulang Berulang-ulang Berulang-ulang Berulang-ulang 5 kali pakai 5 kali pakai 5 kali pakai 5 kali pakai 1 kali pakai

Sumber : wawancara lapangan, 2012


Kesimpulan Gambar. 1. Diagram alir penelitian.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Bekisting Semi Konvensional 1. Metode pelaksanaan Penggunaan berulang material bekisting ditujukan untuk memperoleh biaya yang ekonomis. Apalagi pekerjaan bekisting hanya sebuah kontruksi sementara. Komponen bekisting semi konvensional dan jumlah pemakaian berulang material dapat dilihat dalam Tabel 2. Urutan pekerjaan untuk bekisting semi konvensional adalah sebagai berikut. 1. Setelah scaffolding terpasang, balok gelagar (memanjang) berukuran 6/12 dipasang di atas U-head dengan jarak antar balok sama dengan lebar scaffolding yaitu 1.25 m. 2. Di atas balok memanjang dipasang balok suri (melintang) berukuran 6/12 dengan jarak antar balok 30 cm. 3. Kemudian dipasang bottom form bekisting yang terbuat dari plywood 12 mm sesuai dengan ukuran balok. 4. Tulangan balok dipasang setelah bottom form.

2. Proyek low rise building Perhitungan durasi total pekerjaan bekisting dimulai dari perhitungan durasi masing-masing pekerjaan. Durasi tersebut diperoleh dari hasil perkalian volume pekerjaan dengan produktivitas pekerja. Perhitungan durasi masing-masing pekerjaan dapat dilihat dalam Tabel 3. Setelah didapat durasi masing-masing pekerjaan, selanjutnya penjadwalan disusun dengan metode bar chart. Penjadwalan pekerjaan bekisting didasarkan pada perputaran material bekisting. Material baru hanya ada pada lantai 1 zona 1 dan zona 2 yang selanjutnya dipindah ke lantai berikutnya. Pekerjaan bekisting lantai 2 dapat dimulai setelah bekisting pada lantai 1 selesai dibongkar. Begitu pula pekerjaan bekisting lantai 3 dan 4 dapat dimulai setelah bekisting pada lantai sebelumnya selesai dibongkar. Dari penjadwalan didapat durasi total pekerjaan bekisting adalah 119 hari. Biaya total pekerjaan bekisting didapat dari material, upah (pasang dan bongkar) dan sewa alat. Biaya total material bekisting tidak didapat dari semua kebutuhan material bekisting melainkan hanya biaya material baru saja, karena material bekisting bisa bersifat pakai ulang. Besarnya biaya pekerjaan bekisting dapat dilihat dalam Tabel 4.

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 1, No. 1, (Sept. 2012) ISSN: 2301-9271


Tabel 3. Durasi masing-masing pekerjaan
No. Pekerjaan 1 Zona 1 Zona 2 Zona 1 2 Zona 2 Zona 1 Lantai 3 Zona 2 Zona 1 4 Zona 2

D-69

B. Bekisting Sistem Table form 1. Metode Pelaksanaan Komponen bekisting semi konvensional dan jumlah pemakaian berulang material dapat dilihat dalam Tabel 6.
Tabel 6. Material beserta pengulangan pemakaian bekisting sistem table form

1 2 3 4 5 6 7

Pemasangan bekisting Balok Pemasangan bekisting Pelat Pekerjaan penulangan balok Pekerjaan penulangan pelat Pengecoran beton Waktu tunggu beton Pembongkaran bekisting

12 12 5 2 2 8 3

10 11 5 2 2 8 3

12 12 5 2 2 8 3

10 11 5 2 2 8 3

12 12 5 2 2 8 3

10 11 5 2 2 8 3

12 12 5 2 2 8 3

11 11 5 2 2 8 3

No. 1 2 3 4 6 5 4 3

Nama Plywood 12 mm Girder GT 24 Steel waler Beam braket PEP support TSS torx screw Swivel Head SRU Hook strap

Pengulangan 5 kali pemakaian Berulang-ulang Berulang-ulang Berulang-ulang Berulang-ulang Berulang-ulang Berulang-ulang Berulang-ulang

Tabel 4. Biaya pekerjaan bekisting semi konvensional pada gedung Sekolah Anak Panah

No. 1

Nama Balok Material + upah bongkar-pasang Sewa alat Pelat Material + upah bongkar-pasang Sewa alat

Biaya Rp Rp Rp Rp Rp 312,999,271 329,988,000 181,129,668 118,720,000 942,836,939

Sumber : wawancara lapangan, 2012 Urutan pekerjaan untuk bekisting semi konvensional adalah sebagai berikut. 1. Perakitan material dilakukan di site. 2. Girder GT 24 sebagai balok memanjang dengan jarak antar balok sama dengan lebar scaffolding yaitu 1.25 m. Dipasang setelah perancah (PEP 30) 3. Di atas balok memanjang dipasang balok melintang berukuran 6/12 dengan jarak antar balok 30 cm. 4. Bottom form bekisting yang terbuat dari plywood 12 mm sesuai dengan ukuran balok dipasang diatas balok melintang. 5. Tulangan balok dipasang setelah bottom form. 6. Pemasangan side form bekisting balok. 7. Pemasangan beam braket dengan bantalanya yaitu kayu meranti 5/7 sebagai pengaku balok. 8. Pemasangan bekisting pelat berupa modul yang sudah dirangkai di awal. 9. Penulangan pelat dapat dipasang setelah bekisting untuk pelat terpasang. 10. Pekerjaan pengecoran dapat dilakukan jika pekerjaan penulangan sudah selesai. 11. Pembongkaran bekisting dapat dilakukan 7 hari setelah pengecoran. 2. Proyek low rise building Konsep pekerjaan bekisting sistem table form pada gedung Sekolah Anak Panah sama dengan konsep pekerjaan bekisting semi konvensionalnya. Dari penjadwalan didapat durasi total pekerjaan bekisting adalah 91 hari. Biaya total pekerjaan bekisting didapat dari material beli, material sewa dan upah. Biaya total material beli bekisting didapat dari biaya material baru saja. Sedangkan untuk material sewa didapat dari biaya material sewa per bulan dikalikan durasi. Besarnya biaya pekerjaan bekisting dapat dilihat dalam Tabel 7.

Total biaya

3. Proyek high rise building Konsep pekerjaan bekisting pada Hotel Ibis antara lain material baru yang disediakan hanya pada Lantai Parkir (P1), Lantai 1 dan lantai 2. Material lantai Parkir (P1) akan digunakan kembali untuk Lantai Mezanin dan Lantai Dasar karena bentuk strukturnya yang tipikal. Pemasangan bekisting pada Lantai Mezanin dan Lantai Dasar harus menunggu lantai sebelumnya. Lantai 1 digunakan kembali untuk Lantai ganjil dan Lantai Atap. Lantai 2 digunakan kembali untuk Lantai genap. Penjadwalan didapat dari durasi masing-masing pekerjaan yang selanjutnya disusun dengan metode bar chart. Dari penjadwalan didapat durasi total pekerjaan bekisting adalah 211 hari. Dan besarnya biaya pekerjaan bekisting dapat dilihat dalam Tabel 5.
Tabel 5. Biaya pekerjaan bekisting semi konvensional pada gedung Hotel Ibis

No. 1

Nama Balok Material + upah bongkar-pasang Sewa alat Pelat Material + upah bongkar-pasang Sewa alat

Biaya Rp Rp Rp Rp Rp 538,018,587 390,730,000 332,513,573 151,946,000 1,413,208,161

Total biaya

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 1, No. 1, (Sept. 2012) ISSN: 2301-9271


Tabel 7. Biaya pekerjaan bekisting sistem table form pada gedung Sekolah Anak Panah

D-70

No. 1

Nama Balok Material beli + upah bongkar-pasang Material sewa Pelat Material beli + upah bongkar-pasang Material sewa

Biaya Rp Rp Rp 153,941,907 549,628,400 76,745,024

masing bekisting. Prosentase perbandingan dan nilai masingmasing alternatif dapat dilihat dalam Tabel 10.
Gedung Tabel 10. Prosentase perbandingan dan nilai alternatif Kriteria Alternatif S.konvensional Table form Prosentase Nilai Prosentase Nilai Waktu 0% 3 -23.53% 4 Biaya 0% 3 58.18% 1 Waktu 0% 3 -33.65% 5 Biaya 0% 3 56.10% 1

Sekolah Anak Panah Hotel Ibis

Total biaya

Rp 711,083,000 Rp 1,491,398,330

3. Proyek High Rise Building Konsep pekerjaan bekisting sistem table form pada gedung Hotel Ibis sama dengan konsep pekerjaan bekisting semi konvensionalnya. Dari penjadwalan didapat durasi total pekerjaan bekisting adalah 140 hari dengan besar biaya ditampilkan pada Tabel 8.
Tabel 8. Biaya pekerjaan bekisting sistem table form pada gedung Hotel Ibis

Dalam menentukan bobot kriteria akan digunakan lima skenario yang masing-masing akan dicari alternatif terbaiknya. Skenario tersebut dapat dilihat dalam Tabel 11.
Tabel 11. Skenario bobot kriteria

Skenari o 1 2 3 4 5

Bobot Waktu Biaya 30% 70% 40% 60% 50% 50% 60% 40% 70% 30%

No. 1

Nama Balok Material beli + upah bongkar-pasang Material sewa Pelat Material beli + upah bongkar-pasang Material sewa

Biaya Rp Rp Rp 261,786,442 781,000,363 140,221,384


Tabel 12. Matriks evaluasi gedung Sekolah Anak Panah

Skenario 1 Kriteri Bobot a Waktu 30% Biaya 70% Jumlah nilai Rangking Kriteri Bobot a Waktu 40% Biaya 60% Jumlah nilai Rangking Kriteri Bobot a Waktu 50% Biaya 50% Jumlah nilai Rangking Kriteri Bobot a Waktu 60% Biaya 40% Jumlah nilai Rangking Kriteri Bobot a Waktu 70% Biaya 30% Jumlah nilai Rangking Alternatif S.Konvensional Table Form 3 0.9 4 1.2 3 2.1 1 0.7 3 1.9 1 2 Skenario 2 Alternatif S.Konvensional Table Form 3 1.2 4 1.6 3 1.8 1 0.6 3 2.2 1 2 Skenario 3 Alternatif S.Konvensional Table Form 3 1.5 4 2 3 1.5 1 0.5 3 2.5 1 2 Skenario 4 Alternatif S.Konvensional Table Form 3 1.8 4 2.4 3 1.2 1 0.4 3 2.8 2 1 Skenario 5 Alternatif S.Konvensional Table Form 3 2.1 4 2.8 3 0.9 1 0.3 3 3.1 2 1

Total biaya

Rp 1,022,966,000 Rp 2,205,974,189

C. Analisa Perbandingan Antara Bekisting Semi Konvensional Dengan Bekisting Sistem Table Form Hasil dari perhitungan waktu dan biaya bekisting table form dibandingkan dengan bekisting semi konvensional dalam bentuk prosentase. Dari prosentase tersebut ditentukan nilai masing-masing kriteria. Bekisting semi konvensional prosentasenya adalah 0% untuk semua kriteria karena bekisting semi konvensional dijadikan sebagai pembandingnya. Kategori nilai untuk kriteria waktu dan biaya disajikan dalam Tabel 9.
Tabel 9. Kategori nilai kriteria

Nilai 1 2 3 4 5

Kriteria waktu Prosentase Ket 30% Lebih lambat < 30% Lebih lambat 0% Sama < -30% Lebih cepat -30% Lebih cepat

Nilai 1 2 3 4 5

Kriteria biaya Prosentase Ket 30% Lebih mahal < 30% Lebih mahal 0% Sama < -30% Lebih murah -30% Lebih murah

Dari ketentuan tersebut maka akan didapatkan nilai untuk waktu pelaksanaan dan nilai biaya pelaksanaan pada masing-

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 1, No. 1, (Sept. 2012) ISSN: 2301-9271 Analisa perbandingan dilakukan dengan metode matriks evaluasi untuk mencari alternatif terbaik masing-masing skenario. Pada Tabel 12 dapat dilihat matriks evaluasi gedung Sekolah Anak Panah. Pada Tabel 13 dapat dilihat matriks evaluasi gedung Hotel Ibis. Alternatif dengan jumlah nilai terbanyak merupakan alternatif terbaik.
Tabel 13. Matriks evaluasi gedung Hotel Ibis

D-71 DAFTAR PUSTAKA

[1] [2] [3]

Hanna, Awad S. 1998. Concrete Formwork System. University of wisconsin: marcel dekker,inc. Hanna, Awad S. 1998. Concrete Formwork System. University of wisconsin: marcel dekker,inc. Fauzi, Ahmad. 2011. Perancah dan Bekisting. < URL: http://myblogalfauzi.blogspot.com/2011/05/perancah-dan-bekisting-seri2.html >

Skenario 1 Kriteri Bobot a Waktu 30% Biaya 70% Jumlah nilai Rangking Kriteri Bobot a Waktu 40% Biaya 60% Jumlah nilai Rangking Kriteri Bobot a Waktu 50% Biaya 50% Jumlah nilai Rangking Kriteri Bobot a Waktu 60% Biaya 40% Jumlah nilai Rangking Kriteri Bobot a Waktu 70% Biaya 30% Jumlah nilai Rangking Alternatif S.Konvensional Table Form 3 0.9 5 1.5 3 2.1 1 0.7 3 2.2 1 2 Skenario 2 Alternatif S.Konvensional Table Form 3 1.2 5 2 3 1.8 1 0.6 3 2.6 1 2 Skenario 3 Alternatif S.Konvensional Table Form 3 1.5 5 2.5 3 1.5 1 0.5 3 3 1 1 Skenario 4 Alternatif S.Konvensional Table Form 3 1.8 5 3 3 1.2 1 0.4 3 3.4 2 1 Skenario 5 Alternatif S.Konvensional Table Form 3 2.1 5 3.5 3 0.9 1 0.3 3 3.8 2 1

IV. KESIMPULAN Alternatif bekisting terbaik untuk gedung low rise building (gedung Sekolah Anak Panah) apabila bobot biaya lebih besar atau sama besar dari bobot waktu adalah bekisting semi konvensional. Apabila bobot waktu lebih besar dari bobot biaya maka alternatif terbaiknya adalah bekisting sistem table form. Alternatif bekisting terbaik untuk gedung high rise building (gedung Hotel Ibis Surabaya) apabila bobot biaya lebih besar dari bobot waktu adalah bekisting semi konvensional. Apabila bobot biaya sama besar dengan bobot waktu alternatif terbaik adalah keduanya. Apabila bobot waktu lebih besar dari bobot biaya maka alternatif terbaiknya adalah bekisting sistem table form.