Anda di halaman 1dari 11

Standarisasi Mamografi untuk diagnosis dini kanker payudara

Kardinah Instalasi Radiodiagnostik, RS.Kanker Dharmais /Pusat Kanker Nasional Jl.S.Parman Kav 84-86,Jakarta Email: tot@cbn.net.id

Abstrak Upaya menurunkan kanker payudara stadium lanjut memerlukan program skrining dan deteksi dini yang terorganisir serta telaah epidemiologi lebih. Inisiasi standarisasi pemeriksaan mamografi termasuk sistem pelaporan yang mengacu pada BIRADS diharapkan dapat meningkatkan temuan lesi dini kanker payudara. Hasil penelitian yang dilakukan di RS.Kanker Dharmais didapatkan spesifisitas lesi maligna menggunakan klasifikasi BIRADS sebesar 85.4% . Pelaksanaan program jaminan kualitas mamografi diharapkan dapat memberikan pelayanan radiologi payudara yang terstandar secara kontinyu. Kata kunci : jaminan kualitas mamografi, standar pelaporan , klasifikasi BIRADS Abstract Quality Assurance in mammography for early diagnosis of breast cancer To reduce advanced cases of breast cancer requires early detection and screening program which should be organized better and needs several complex epidemiology studies. Initiative of standardization mammography reporting system with BIRADS

classification has started and expected to improve early breast cancer diagnosis.

Our research in Dharmais Cancer Hospital showed the result of specificity in mammography was 85.4 % using BIRADS classification. Quality Assurance in mammography program is expected to provide standardized breast radiology services continuously. Keywords: quality assurance, standard reporting, BIRADS classification

Pendahuluan Pemanfaatan mamografi untuk skrining telah dievaluasi oleh International Agency for Research on Cancer (IARC) dapat menurunkan mortalitas dari kanker payudara . Inisiasi skrining mamografi yang telah dimulai sejak tahun 1963, dan dianalisa oleh para ahli dari 11 negara menyimpulkan bahwa terdapat bukti yang cukup untuk efikasi skrining pada wanita usia 50 69 tahun, dengan partisipasi program skrining sebesar 35%. tingkat

Untuk wanita usia 40 49 tahun,

penurunan mortalitas sedikit sekali bukti ilmiah yang mendukung hal tersebut. 1 Efektivitas skrining nasional juga sangat bergantung pada beberapa faktor diantaranya perbedaan cakupan, kualitas mamografi, tatalaksana dan faktor lain. Program skirining yang terorganisir lebih efektif untuk menurunkan mortalitas dibanding dengan sporadik skrining. Disimpulkan pula dalam pertemuan tersebut bahwa pemeriksaan payudara sendiri atau pemeriksaan palpasi payudara tidak cukup bukti dapat menurunkan mortalitas kanker payudara.1 Di Indonesia dengan program penanggulangan kanker serta program deteksi dini kanker payudara sejak tahun 2008 belum berjalan dengan baik, walaupun

demikian saat ini telah banyak para ahli yang berkecimpung dalam bidang onkologi

menjadi agent of change untuk down staging kanker . Oleh karena itu diperlukan program dengan organisasi yang lebih baik , diinisiasi oleh perhimpunan profesi agar cakupan skrining meningkat , standarisasi mamografi, serta standarisasi terapi dapat terlaksana. Jaminan kualitas skrining kanker payudara Program skrining merupakan program yang besar dan membutuhkan telaah epidemiologi yang kompleks. Dodd menyatakan bahwa upaya skrining mamografi telah dimulai sejak akhir tahun 1950, tetapi belum disetujui sebagai alat skrining karena tidak dilakukan randomisasi dan kelompok kontrol. Setelah studi lebih besar dan melibatkan 15 institusi serta telaah statistik mendalam maka mamografi dapat diterima sebagai alat untuk skrining. 2 Kriteria objektif untuk skrining mamografi yang ditetapkan oleh NHS Cancer Screening Programs mencakup berbagai aspek, selain kualitas pencitraan , dinilai pula kualitas sumber daya manusia yang berkecimpung dalam program skrining serta akurasi penyampaian informasi bagi wanita yang mengikuti program skrining. 3 Tabel 1. Kriteria objektif dari NHS Cancer Screening Programs

Dikutip dari daftar pustaka 3 Upaya standardisasi pemeriksaan mamografi merupakan salah satu tujuan Perkumpulan Radiologi Payudara Indonesia , diharapkan akurasi diagnostik mamografi dapat meningkat dengan kualitas pencitraan yang terstandar. Selain itu standarisasi formulir dengan data pasien yang menjalani pemeriksaan mamografi dimana data klinis pasien dan temuan lesi pada kulit merupakan data awa awal untuk interpretasi mamografi.
4

Diperlukan kerjasama yang baik antara radiografer radiografer,

fisikawan medik dan dokter spesialis radiol radiologi ogi agar pemeriksaan mamografi memberikan hasil yang optimal. Tabel 2. Contoh Formulir Pemeriksaan Mamografi

Dikutip dari daftar pustaka 4 Penggunaan kategori BIRADS telah banyak digunakan dalam pelaporan mamografi, dan pada penelitian yang dilakukan di RS.Kanker Dharmais, evaluasi 85 pasien mamografi secara retrospektif yang mengimplementasikan klasifikasi BIRADS menunjukkan bahwa spesifisitas lesi maligna sebesar 88.9%. Adapun lesi yang dievaluasi dalam penelitian ini sebesar 85.4%. , adalah lesi dengan ukuran > 2 cm < 5 cm. Hasil histopatologi adalah 1.2% dengan diagnosis DCIS , sedangkan 55.3% duktal invasif karsinoma serta 15.3% lobular invasif karsinoma. 5 Tabel 3. Kriteria karakteristik lesi yang digunakan untuk penentuan klasifikasi BIRADS
1.Kalsifikasi 1.1.Morfologi Benigna Karateristik Vaskuler Dermal Coarse atau popcorn like Rodlike Bulat Sentral lusensi Rim atau eggshell Milk of calcium Suture Dystrophic Amorf atau indistinct Coarse heterogenous Pleiomorfik Linier branching

Intermediate Higher probability malignancy 1.2.Distribusi Difus Regional Segmental Linier

2.Massa 2.1.Bentuk dan batas Benigna Intermediate Dicurigai maligna 2.2. Ukuran < 2 cm Bulat, oval,batas tegas Lobular,mikrolobulasi Ireguler, batas tidak tegas, spikulasi

2-5 cm > 5 cm 2.3. Distorsi arsitektur 2.4.Temuan lain yang berhubungan Retraksi kulit Retraksi putting Penebalan kulit Limfadenopati aksila Kwadran lateral atas Kwadran lateral bawah Kwadran medial atas Kwadran medial bawah Difus Grade 1 : < 25% Grade 2 : 25 50% Grade 3 : 51-75 % Grade 4 : > 75%

2.5.Lokasi lesi

3.Densitas

Dikutip dari daftar pustaka 5 Implementasi klasifikasi BIRADS dengan menggunakan kriteria yang jelas seperti kalsifikasi, morfologi massa dan distorsi arsitektur akan meningkatkan akurasi diagnostik. Hal ini terlihat dari hasil penelitian tabel 4, dimana kesesuaian BIRADS 4 dan BIRADS 5 dengan histopatologi adalah 71.4% dan 100%. 5 Tabel 4. Kesesuaian klasifikasi BIRADS dan Histopatologi
Histopatologi Benigna 0 (0%) 14 (100%) 2 (100%) 2 (28.6%) 0 (0%)

BIRADS 1 BIRADS 2 BIRADS 3 BIRADS 4 BIRADS 5

Maligna 0 (0%) 0 (0%) 0 (0%) 5 (71.4%) 62 (100%)

Dikutip dari daftar pustaka 5

Penggunaan sistem pelaporan terstruktur yang mengikuti pola pola BIRADS, saat ini TIRADS IRADS (tiroid) dan LIRADS (liver ) dalam radiologi diagnostik telah mulai diperkenalkan. Burnside dkk, menyatakan bahwa sistem pelaporan yang terstruktur tidak saja mempermudah audit medik, tetapi berdampak pula pada komunikasi interdisiplin , hasil pelaporan tersebut juga merupakan data yang akurat untuk

pendidikan dan penelitian. 6 Dalam audit medik yang dilakukan oleh badan pengawas kualitas di Irlandia, penilaian kompetensi dokter radiologi payudara tidak saja jumlah pemeriksaan minimal 1000 /per tahun juga dievaluasi penggunaan standar pelaporan.7 Penerapan ini diperlukan agar kompetensi interpretasi pemeriksaan mamografi dapat terstandar dan berkontribusi untuk penurunan angka kanker payudara stadium lanjut. Tabel 5. Kriteria Mutu Pelayanan Radiologi

Dikutip dari daftar pustaka 7 Standarisasi pemeriksaan dan pelaporan mamografi di Indonesia diharapkan dapat dilaksanakan, dimulai dengan sosialisasi program jaminan jaminan kualitas dan standar pelaporan , sehingga diagnosis dini kanker payudara dapat meningkat. Kesimpulan

Diperlukan program kanker yang lebih terorganisir dengan inisiatif dari perhimpunan profesi yang berkecimpung dalam bidang onkologi dan pelaksanaan jaminan kualitas mamografi untuk down staging kanker payudara di Indonesia.

Daftar Pustaka

1. International Agency for Research on Cancer. Mammography Screening Can Reduce Deaths from Breast Cancer. Press Release 2002. 2. Dodd GD. Classic in Oncology Introduction to Evaluation of Periodic Breast Cancer Screening With Mammography: Methodology And Early Observations by Shapiro,Strax and Venet. CA A Cancer Journal for Clinicians 1990 ;40(2): 109-110 3. NHS Cancer Screening Programs. Quality Assurance Guidelines for Mammography including Radiographic Quality Control. National

Coordinating Group for Radiography. NHSBSP Publication no 63. April 2006. 4. Finish Cancer Registry. Mammography Form. Diunduh dari

http://www.cancer.fi/syoparekisteri/en/mass-screeningregistry/breast_cancer_screening/mammography_form_and_filling_ins/ 5. Yulia Rachmawati. Kesesuaian Kategori BIRADS Mamografi dengan pemeriksaan histopatologi di RS.Kanker Dharmais. Tesis PPDS Radiologi. FK Universitas Indonesia. Unpublished. 2013 6. Burnsite ES, Sickles EA, Basset LW, Rubin DL, Lee CH, Ikeda DM, Mendelson EB, Wilcox PA,Butler PF, DOrsi CJ. The ACR BIRADS Experience: Learning From History. J Am Coll Radiolog 2009;6:851-860 7. Health Information and Quality Authority. National Quality Standards for Symptomatic Breast Disease Services. Developing Quality Care for Breast Services in Ireland. 2006.

10

11