Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH

ANATOMI FISIOLOGI SISEM NEUROBEHAVIOUR

Disusun Oleh :

1. Beny Ardianto Prayogi 2. Desnanda Pandu Wardna

11.0651.S 11.0655.S

Kelas : III B / S1 Keperawatan

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH PEKAJANGAN - PEKALONGAN

ANATOMI FISIOLOGI SISTEM NEURO 1. Anatomi fisiologi sistem limbik Istilah Limbik berarti batas atau tepi yang diperkenalkan oleh Brica pada tahun 1878 untuk menunjuk pada dua girus yang membentuk limbus atau batas disekitar diensefalon. Sistem Limbik merupakan suatu konsep fungsional dan tidak memiliki definisi yang diterima secara umum. Struktur kortikal utama adalah girus singuli, girus hipokampus, dan hipokampus. Bagian subkortikal mencakup amigdala, traktus dan bulbus olfaktorius, serta septum. Beberapa ahli menyertakan hipotalamus dan bagian-bagian thalamus dalam system limbic ini karena hubungan fungsionalnya yang erat.Sistem limbic mempunyai hubungan timbale balik dengan banyak struktur saraf sentral pada beberapa tingkat integrasi termasuk neokorteks, hipotalamus, system aktivasi retikularis batang otak. Sistem ini dipengaruhi oleh masukan dari semua system sensorik terintegrasi dan selanjutnya dinyatakan sebagai suatu pola tingkah laku melalui hipotalamusyang mengkoordinasi renpons autonom, somatic dan endokrin. Sistim limbic diyakini ikut berperan dalam ingatan, karena lesi pada hipokampus dapat mengakibatkan hilangnya ingatan baru. 2. Anatomi Fisiologi Hipotalamus Hipotalamus merupakan bagian ujung anterior diensefalon dan di depan nucleus interpedunkularis. Hipotalamus terbagi dalam berbagai inti dan dareah inti. Hipotalamus terletak pada anterior dan inferior thalamus. Berfungsi mengontrol dan mengatur system saraf autonom, Pengaturan diri terhadap homeostatic ,Sangat kuat dengan emosi dan dasar pengantaran tulang, Sangat penting berpengaruh Hipotalamus juga bekerjasama dengan hipofisis untuk mempertahankan keseimbangan cairan, mempertahankan pengaturan suhu tubuh melalui peningkatan vasokonstriksi atau vasodilatasi dan mempengaruhi sekresi hormonal dengan kelenjar hipofisis. Hipotalamus juga sebagai pusat lapar dan mengontrol berat badan. Sebagai pengatur tidur, tekanan darah , perilaku agresif dan seksual dan pusat respons emosional (rasa malu,marah, depresi, panic dan takut) . Adapun fungsi dari hipotalamus antara lain adalah: a. Mengontrol suhu tubuh b. Mengontrol rasa haus dan pengeluaran urin c. Mengontrol asupan makanan d. Mengontrol sekresi hormon-hormon hipofisis anterior e. Menghasilkan hormon-hormon hipofisis posterior f. Mengontrol kontraksi uterus pengeluaran susu g. Pusat koordinasi sistem saraf otonom utama, kemudian mempengaruhi semua otot polos, otot jantung, kel eksokrin h. Berperan dalam pola perilaku dan emosi

Peran hipotalamus Pengaturan hipotalamus terhadap nafsu makan terutama bergantung pada interaksi antara dua area: :area makan lateral di anyaman nucleus berkas prosensefalon medial pada pertemuan dengan serabut polidohipotalamik,serta pusat rasa kenyang: medial di nucleus vebtromedial. Perangsangan pusat makan membangkitkan perilaku makan pada hewan yang sadar,sedangkan kerusakan pusat makan menyebabkan anoreksia berat yang fatal pada hewan yang sebenarnya sehat. Perangsangan nucleus ventromedial menyebabkan berhentinya makan, sedangkan lesi di regio ini menyebabkan hiperfagia dan bila persediaan makan banyak ,sindrom obesitas hipotalamik. Hubungan hipotalamus dengan fungsi otonom: a. Hubungan aferen dan eferen hipotalamus Jalur aferen dan eferen utama dari dan ke hipolamus sebagian besar tidak bermielin. Banyak serabut menghubungkan hipotalamus dengan system limbic. Juga terdapat hubungan penting antara hipotalamus dengan nucleus- nucleus di tegmentum mesensefalon , pons dan rhombensefalon. Neuron penghasil norepinefrin yang badan selnya berada di rhombensefalon berujung di berbagai bagian yang berbeda di hipotalamus. Neuron paraventrikel yang mungkin mengeluarkan oksitoksin dan vasopressin sebaliknya menuju ke rhombensefalon dan berakhir di hipotalamus ventral. Terdapat system neuron penghasil dopamine intrahipotalamus yang badan selnya terdapat di nucleus arkuata dan berujung pada atau dekat kapiler yang membentuk pembuluh portal di eminensia mediana. Neuron penghasil serotonin berproyeksi ke hipotalamus dari nucleus rafe. b. Hubungan dengan kelenjar hipofisis Terdapat hubungan saraf antara hipotalamus dan lobus posterior kelenjar hipofisis serta hubungan vascular antara hipotalamus dengan lobus anterior. Secara embriologis, hipofisis posterior muncul sebagai besar ventrikel ketiga. Hipofisis posterior sebagian besar tersusun dari berbagai ujung akson yang muncul dari badan sel di nucleus supraoptik di hipofisis posterior melalui traktus hipotalamohipofisis. c. Hubungan dengan fungsi otonom Bertahun-tahun yang lalu,Sherrington menyebutkan hipotalamus sebagai ganglian utama sisten otonom. Perangsangan hipotalamus menimbulkan respons otonom, tetapi hipotalamus sendiri tampaknya tidak terpengaruh oleh pengaturan fungsi viseral yang dilakukannya. Sebaliknya, respons otonom yang ditimbulkan di hipotalamus merupakan bagian dari fenomena yang lebih kompleks seoerti makan dan bentuk emosi lain seperti marah. Sebagai contoh , perangsangan terhadap berbagai bagian hipotalamus, terutama dareah lateral, menyebabkan pelepasan muatan dan peningkatan sekresi medulla adrenal seperti lepas-muatan simpatis massal yang di jumpai pada hewan yang terpajan stress d. Hubungan dengan tidur zona tidur prosensefalon basal mencakup sebagian dari hipotalamus. Bagian-bagian ini serta fisiologi keseluruhan dari keadaan tidur dan terjaga dibakar.

e. Hubungan dengan fenomena siklik Sel pada tumbuhan dan hewan mengalami fluktuasi ritnis dalam berbagai fungsinya yang lamanya sekitar 24 jam, yang disebut bersifat sirkadian Pada mamalia,termasuk manusia , sebagai besar sel memiliki irama sirkadian. Dalam hati, irama ini dipengaruhi oleh pola asupan makanan,tetapi pada hampir semua sel lain irama diselaraskan oleh sepasang nucleus suprakiasmatik(SCN), satu di tiap-tiap sisi di atas kiasma optikum. 3. Anatomi Fisiologi Medula Spinalis Medula spinalis dan batang otak membentuk struktur kontinu yang keluar dari hemisfer serebral dan memberikan tugas sebagai penghubung otak dan saraf perifer, seperti kulit dan otot. Panjangnya rata-rata 45cm dan menipis pada jari-jari. Medula spinalis ini memanjang dari foramen magnum didasar tengkorak sampai bagian atas lumbar kedua tulang belakang, yang berakhir didalam berkas serabut yang disebut konus medularis. Seterusnya dibawah ruang lumbar kedua adalah akar saraf, yang memanjang melebihi konus, yang disebut kauda equine, akar saraf ini menyerupai ekor kuda. a.Saraf-Saraf Spinal Medulla spinalis tersusun dari 33 segmen yaitu 7 segmen servikalis, 12 torakal, 5 lumbal, 5 sakral, dan 5 segmen koksigeus. Medulla spinalis mempunyai 31 pasang sarf spinal masingmasing segmen mempunyai satu untuk setiap sisi tubuh. b.Kolumna Vertebra Kolumna vertebra melindungi medulla spinalis, memungkinkan gerakan kepala dan tungkai dan menstabilkan struktur tulang untuk ambulasi. Vertebra terpisah oleh potonganpotongan kecuali servikal pertama dan kedua, sacral dan tulang belakang koksigeus. c.Struktur Medulla Spinalis Medula Spinalis dikelilingi oleh oleh meningen, dura, arakhnoid, dan pia mater. Diantara dura mater dan kanalis vertebralis terdapat ruang epidural. Medulla spinalis berbentuk struktur H dengan badan sel saraf (substansia grisea) dikelilingi traktus asenden dan desenden (substansia alba). Substansia alba berfungsi sebagai jaras konduksi impuls aferen dan eferen antara berbagai tingkat medulla spinalis dan otak. Bagian bawah yang berbentuk H meluas dari bagian atas dan bersamaan menuju bagian tanduk anterior. Keadaan tanduk ini berupa sel yang mempunyai serabut yang membentuk ujung akar anterior (motorik) dan berfungsi untuk aktivitas yang disadari dan aktivitas reflex dari otot-otot yang berhubungan dengan medulla spinalis. Pada bagian torakal medulla spinalis adalah projeksi dari masing-masing sisi dibagian crossbar H substansia grisea yang disebut tanduk lateral. Tanduk lateral mengandung sel-sel yang memberikan reaksi serabut autonom bagian simpatis. d.Traktus Spinalis Substansia alba membentuk bagian medulla spinalis yang besar dan dapat terbagi menjadi 3 kelompok serabut disebut jaras atau traktus, yaitu : 1) Traktus posterior, menyalurkan sensasi persepsi terhadap sentuhan, tekanan, getaran, posisi dan gerakan pasif bagian-bagian tubuh. Sebelum menjangkau daerah korteks serebri, serabut-serabut ini menyilang ke daerah yang berlawanan pada medulla oblongata.

2) Traktus Spinotalamus, bagian ini bertugas mengirim impuls nyeri dan temperature ke thalamus dan korteks serebri. 3) Traktus Lateral, menyalurkan impuls motorik ke sel-sel tanduk anterior dari sisi yang berlawanan di otak. Serabut desenden merupakan sel saraf yang didapat pada daerah sebelum pusat korteks. Bagian ini menyilang di medulla oblongata yang disebut piramida 4. Anatomi Fisiologi Medulla Oblongata System Medulla Oblongata Merupakan bagian batang otak yang berbentuk pyramid diantara medula spinalis dan pons. Terletak di bagian bawah dan belakang tengkorak dipisahkan dengan cerebrum,diatas medula oblongata Medulla oblongata meneruskan serabut-serabut motorik dari otak kee medulla spinalis dan serabut-serabut sensorik dari medulla spinalis ke otak. Dan serabut-serabut tersebut menyilang pada daerah ini. Pons juga berisi pusat-pusat terpenting dalam mengontrol jantung, pernafasan dan tekanan darah dan sebagai asal-usul saraf otak kelima sampai kedelapan. Medulla oblobgata berfungsi: a. Menghantar impuls yang datang dari medula spinalis menuju ke otak, b. Pusat keseimbangan, c. Mengkoordinasi dan mengendalikan ketepatan gerakan otot dgn baik, d. Menghantarkan impuls dari otot-otot bagian kiri dan kanan tubuh. e. Medulla oblongata juga mempengaruhi jembatan refleks fisiologi seperti detak jantung,tekanan darah, volume dan kecepatan respirasi, gerak alat pencernaan, dan sekresi kelenjar pencernaan. f.Selain itu,medulla oblongata juga mengatur gerak refleks yang lain seperti bersin,batuk,dan berkedip 5. Anatomi fisiologi Sistem Saraf Kranial Saraf-saraf cranial langsung berasl dari otak dan meninggalkan tengkorak melalui lubang-lubang pada tulang yang disebut foramina (tunggal, foramen). Terdapat 12 pasang saraf cranial yang dinyatakan dala nama atau angka romawi. Saraf-saraf tersebut adalah olfaktorius (I), optikus (II), okulomatorius (III), triklearis (IV), trigeminus (V), abdusens (VI), fasialis (VII), vestibulokoklearis (VIII), glosofaringeus (IX), vagus (X), asesorius (XI), hipoglosus (XII). Saraf cranial I, II, dan VIII merupakan saraf sensorik murni. Saraf cranial III, IV,VI, XI, dan XII terutama merupakan saraf motorik, tetapi juga mengandung serabut proprioseptif dari otot-otot yang dipersarafinya. Saraf cranial V, VII, IX dan X merupakan saraf campuran. Saraf cranial III, VII, dan X juga mengandung beberapa serabut saraf dari cabang parasimpatis system saraf autonum.

Saraf Kranial I olfaktorius II optikus III okulomotorius IV troklearis V Trigeminus

Komponen Saraf Sensorik Sensirik Motorik Motorik Motorik

Sensorik

VI Abdusend VII Fasialis

Motorik Motorik

Sensorik VIII Vestibulokoklearis Cabang vestibularis Cabang koklearis IX glosofaringeus Sensorik sensorik Motorik Sensorik Motorik Sensorik Motorik Motorik

Fungsi Penciuman Penglihatan Mengangkat kelopak mata atas Kontriksi pupil Gerakan mata ke bawah dan ke dalam Otot temporalis dan master ( menutup rahang, mengunyah, gerakan rahang ke lateral ) Kulit wajah dan 2/3 depan kulit kepala, mukosa mata, mukosa hidung, dan rongga mulut, lidah sedang gigi. Deviasi mata ke lateral Otot ekspresi wajah termasuk otot dahi, sekeliling mata, dan mulut. Lakrimasi dan salivasi Pengecapan 2/3 depan lidah Keseimbangan Pendengaran Faring : menelan, reflex muntah Parotis : salivasi Faring, lidah posterior Faring, laring : menelan, reflek muntah Faring, laring : reflex muntah, visera leher Pergerakan kepala dan bahu Gerakan lidah

vagus

XI asesorius XII hipoglosus

6.

Anatomi Fisiologi Sistem Saraf Spinal Medulla Spinalis terdiri dari 31 segmen jaringan saraf dan masing-masing memiliki sepasang sarf spinal yang keluar dari kanalis vertebralis melalui voramina intervertebralis ( lubang pada tulang vertebra). Saraf-saraf spinal diberi nama sesuai dengan foramina intervertebralis tempat keluarnya saraf- saraf tersebut, kecuali saraf servikal pertama yang keluar diantara tulang oksipital dan vertebra servikal pertama. Dengan demikian, terdapat 8 pasang saraf servikal, 12 pasang torakalis, 5 pasang saraf lumbalis, 5 pasang saraf skralis, dan 1 pasang saraf koksigeal. Saraf spinal melekat pada permukaan lateral medulla spinalis dengan perantaran dua radiks, radik posteriol atau dorsal (sensorik) dan radik anterior atau ventral (motorik). Radiks dorsal memperlihatkan pembesaran, yaitu ganglion radiks dorsal yang terdiri dari badan-badan sel neuron aferen atau neuron sensorik. Badan sel seluruh neuron aferen medulla spinalis terdapat dapat ganglia tersebut. Serabut-serabut radiks dorsal merupakan tonjolan tonjolan neuron sensorik yang membawa impuls dari bagian perifer ke medulla spinalis. Badan sel neuron motorik terdapat di dalam medulla spinalis dalam kolumna anterior dan lateral substansia grisea. Aksonnya membentuk serabut-serabut radiks ventral yang berjalan menuju ke otot dan kelenjar. Kedua radiks keluar dari foramen intervertebralis dan bersatu membentuk saraf spinal. Semua saraf spinal merupakan saraf campuran, yaitu mengandubg serabut sensorik maupun serabut motorik. Bagian dorsal saraf spinal mempersarafi otot intrinsic punggung dan segmen-segmen tertentu dari kulit yang melapisinya yang disebut dermatoma. Bagian ventral merupakan bagian yang besar dan dan membentuk bagian utama yang membentuk spinal. Otot-otot dan kulit leher, dada, abdomen, dan ekstremitas dipersarafi oleh bagian ventral. Pada semua saraf spinal kecuali bagian torakal, saraf-saraf spinal bagian ini saling terjalin sehingga membentuk jalinan saraf

yang disebut Fleksus. Fleksus yang terbentuk adalah fleksus servikalis, brakialis, lumbalis, sakralis dan koksigealis. Keempat saraf servikal yang pertama (C1-C4) membentuk fleksus servikalis yang mempersarafi leher dan bagian belakang kepala. Salah satu cabang yang penting sekali adalah saraf frenikus yang mempersarafi diagfragma. Fleksus brakialis yang dibentuk dari C5-T1, fleksus ini mempersarafi ekstremitras atas.Saraf torakal(T3-T11) mempersarafi otot-otot abdomen bagian atasdan kulit dada serta abdomen. Pleksus lumbalis berasal dari segmen spinal T12-L4 mempersarafi otot-otot dan kulit tubuh bagian bawah dan ekstremitas bawah., pleksus sakralis dari L4-S4, dan pleksus koksigealis dari S4 sampai saraf koksigealis. Saraf utama dari pleksus ini adalah saraf femoralis dan obturatorius. Saraf utama dari pleksus sakralis adalah saraf iskiadikus, saraf terbesar dalam tubuh. Saraf ini menembus bokong dan turun kebawah melalui bagian belakang paha. Kulit dipersarafi oleh radiks dorsal dari tiap saraf spinal, jadi dari satu segmen medulla spinalis disebut dermatom. Otot-otot rangka juga mendapat persarafan segmental dari radiks spinal ventral. 7. Anatomi dan Fisiologi System Saraf Otonom Bagian motorik perifer system saraf otonom terdiri atas neuron pragangkion dan pascaganglion. Badan sel neuron praganglion terletak di kolumna grisea intermediolateral eferen viseral (IML) medulla spinalis atau di nucleus motorik homolog saraf otak. Aksonnya sebagian besar merupakan serabut B penghantar yang relative lambat dan bermielin. Akson-akson itu bersinaps di badan sel neuron pascaganglion yang terletak di luar system saraf pusat. Setiap akson praganglion terbagi menjadi sekitar delapan atau Sembilan neuron pascaganglion. Dengan demikian, persarafan otonom bersifat difus. Akson neuron pascaganglion, yang sebagian besar merupakan serabut C tak-bermielin, berakhir di efektor viseral. System saraf Otonom berfungsi : a.Sistim saraf otonom mengontrol aktifitas organ viseral involunter. b.SSO mengatur aktifitas alat-alat dalam (viseral) yang dalam keadaan normal diluar kesadaran misalnya sirkulasi, pencernaan, berkeringat, dan ukuran pupil. Cara Kerja Saraf Otonum: Susunan saraf dapat dianggap sebagai system pengendali tubuh. Pikiran dan kegiatan lainnya yang disadari atau dikehendaki berlangsung pada belahan otak yang disebut bagian tertinggi system tersebut. Kegiatan yang ditangani oleh susunan saraf otonum berlangsung pada bagian yang lebih rendah dari otak dan susunan tulang belakang (medulla spinalis). Pembagian kimiawi system saraf otonom Berdasarkan mediator kimiawi yang dilepaskan, system saraf otonom dapat dibagi menjadi 2 yaitu: a.Divisi kolinergik Neuro yang bersifat kolinergik adalah 1)Semua neuron praganglion 2)Neuron pascaganglion yang secara anatomis parasimpatik 3)Neuron pascaganglion yang anatomis simpatik yang mempesarafi kelenjar keringat 4)Neuron yang secara anatomis simpatis yang berakhir pada pembuluh darah fi otot rongga dan menimbulkan vasodilatasi bila dirangsang. b.Divisi noradrenalin Neuro yang bersifat noradrenalin adalah neuron simpatik pascaganglion yang lainnya. Secara anatomis,System saraf otonom di bagi menjadi 2 bagian yaitu: a.Saraf simpatis Akson neuron praganglion simpatik meninggalkan medulla spinalis bersama radiks ventralis saraf TI sampai saraf spinal L3 dan L4. Akson-akson ini berjalan melalui rami communicantes albi ke rantai ganglion simpatik paravertebrata,dan sebagai besar berakhir di badan sel neuron pascaganglion berjalan ke visera dalam berbagai saraf simpatik. Sebagian lain masuk kembali ke dalam saraf spinal melalui rami communicantes grisea dari rantai ganglion dan disebarkan ke efektor otonom di daerah yang dipersarafi olek saraf-saraf spinal tersebut. Saraf simpatik pascaganglion untuk kepala barasal dari ganglia superior, media, dan stelata

diperluaskan cranial rantai ganglion simpatik dan berjalan ke efektor bersama pembuluh darah. Sebagian pembuluh praganglion berjalan melalui rantai ganglion paravertebra dan berakhir di neuron paascanglion yang terletak pada ganglion kolateral dekat visera tersebut. Sebagian uterus dan saluran kelamin laki-laki disarafi oleh suatu system khusus, neuron noradrenergic pendek dengan badan sel di ganglion yang terletak pada atau dekat organ tersebut, sedangkan serabut praganglion untuk neuron pascaganglion ini kemungkinan berjalan sampai organnya.

b.Saraf parasimpatis Keluaran cranial divisi parasimpatik mempersarafi struktur visera di kepala melalui nervus okulomotorius, fasialis dan glosofaringeus ,serta struktur dalam toraks dan abdomen bagian atas melalui saraf vagus. Keluaran sacral mempersarafi organ panggul melalui cabang pelvis saraf spinal S2 dan s4. Serabut praganglion kedua keluaran tersebut berakhir dneuron pascaganglion pendek yang terletak pada atau dekat struktur organ tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner and Suddarth, (2002) Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8, volume 2. Jakarta : EGC. Sylvia and Lorraine. (2006) Patofisiologi Konsep Klinis Proses Penyakit. Edisi 6, volume 2. Jakarta : EGC. Laurralee Sherwood. (2001) Fisiologi Manusia. Edisi 2, Jakarta : EGC W.F.Ganong. (2005) Buku ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 22. Jakarta: EGC Guyton, Arthur.(1990) Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit. Edisi 3, Jakarta : EGC