Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNIK PENGAWETAN TANAH DAN AIR


(11. Pengukuran Erosi di Lapangan Menggunakan Plot Erosi)


Oleh:
Kelompok : 01
Kelas/Hari/Tanggal : A2/Jumat/14 Juni 2013
Nama dan NPM : 1. Eggi Egebrella (240110100002)
2. Yoga Prabowo (240110100016)
3. Andita Mega P. (240110100030)
4. Ahyat Hartono (240110100032)
5. M. Hanifan Ginggi S. (240110100051)
6. Oki Ahmad Luthfi H. (240110090071)
Asisten : Grace Yolanda
Monika E. Sitompul
M. Sulaeman
Rizky Patria Dewaner





LABORATORIUM KONSERVASI TANAH DAN AIR
JURUSAN TEKNIK DAN MANAJEMEN INDUSTRI PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2013
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kebutuhan akan lahan untuk berbagai kepentingan manusia semakin
lamasemakin meningkat. Seiring dengan semakin meningkatnya populasi
manusia. Dengan kata lain semakin bertambahnya penduduk akan makin
menuntut perubahan penggunaan lahan dari pertanian ke non pertanian. Dalam
perubahan penggunaan lahan tersebut seringkali aktivitas manusia cenderung
merusak lingkungan tanpa memperhatikan keseimbangan dan kelestarian
alam.Pemanfaataan lahan yang secara besar-besaran sering mengabaikan
kelestariantanah sebagai 2elati penyusun lahan, sehingga kerusakan tanah dan
kerusakanlahan semakin bertambah besar
Erosi adalah hilangnya sejumlah tanah karena adanya pengaruh air maupun
angin baik yang terjadi secara alami ataupun yang terjadi sebagai akibat tindakan
manusia (erosi yang dipercepat). Erosi yang dipercepat muncul sejak manusia
mengenal budidaya pertanian dan menjadi masalah sejak pengelolaan lahan
dilakukan secara lebih intensif untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan,
papan dan lainnya yang sejalan dengan pesatnya pertambahan jumlah penduduk.
Sejak beberapa 2elati yang lalu erosi diakui secara luas sebagai suatu
permasalahan global yang serius. United Nations Environmental Program dalam
Lal (1994) menyatakan bahwa produktivitas lahan seluas 20 juta ha setiap tahun
mengalami penurunan ke tingkat nol atau menjadi tidak ekonomis lagi disebabkan
oleh erosi atau degradasi yang disebabkan oleh erosi.
Dampak dari erosi dapat berupa on site effect seperti penurunan produktifitas
lahan dan off site effect seperti sedimentasi sungai, waduk, jaringan irigasi dan
berbagai kerusakan lainnya, sebagai gambaran di 2elati maju seperti Amerika
kerusakan akibat erosi jika dihitung secara nominal adalah: untuk kerusakan yang
bersifat on-site berkisar antara US$ 500 juta-US$1,2 milyar dan off-site berkisar
antara US$3,4 milyar US$13 milyar (Colacicco et al., 1989), dimana kerugian
yang ditimbulkan oleh erosi tersebut sangat besar dari aspek financial maupun
lingkungan. Untuk 2elati tropis seperti Indonesia, dimana potensi erosi begitu
besar, baik karena 3elati alami maupun karena aspek pengelolaan lahan, kerugian
yang diakibatkan oleh erosi tidak akan kalah besarnya dengan yang terjadi di
3elati subtropika tersebut.
Dalam perencanaan dan pengelolaan tanah, sangatlah diperlukan
informasiakurat yang akan digunakan oleh pengambil keputusan sebagai dasar
untuk menentukan kebijakan atau langkah-langkah dalam upaya pelestarian. Salah
satu perangkat penyajian data atau informasi yang berkaitan dengan proses
terjadinya erosi adalah dengan menggunakan 3elati plot erosi dan klimatologi
yang terjadi di suatu daerah. Dengan kemampuan yang dimilikinya, plot erosi dan
klimatologi yang didapat dapat digunakan untuk menganalisis dan
menstransformasi data-data yang kompleks dari berbagai macam sumber dalam
perhitungan dugaan erosi yang akan terjadi nantinya. Plot erosi dan klimatologi
yang kami kerjakan berada di Jatinangor, tepatnya di Kampus Universitas
Padjadjaran.

1.2 Tujuan Praktikum
Tujuan praktikum kali ini dalam Plot Erosi dan Klimatologi adalah :
- Mahasiswa dapat memahami cara pengukuran erosi dilapangan
- Mahasiswa dapat memahami cara pengukuran volume aliran permukaan
(Run Off) secara langsung.

1.3 Metodologi Pengamatan dan Pengukuran
1.3.1 Alat
1. Theodolite digital.
2. Meteran roll 50 meter.
3. Ember berkapasitas 80 liter
4. Stopwatch
5. Penakar hujan
6. Gelas ukur
7. Plastik 0,5 kg dan 5 kg
8. Timbangan
9. Oven
10. Cawan alumunium
11. Kanebo

1.3.2 Bahan
1. Plastik
2. Bambu
3. Benih jagung
4. Rumput akar wangi
5. Mulsa jerami
6. Pupuk kandang
7. Pupuk kimia (Urea, KCL, dan SP 36)

1.3.3 Prosedur praktikum
1. Pengukuran jumlah tanah tererosi
Cara menetukan banyaknya tanah tererosi dari suatu kejadian dapat
dilakukan sebagai berikut:
a. Air yang masuk ke dalam bak dan drum penampung
diendapkan.
b. Tanah yang mengendap dipisahkan, masing-masing dikering
udarakan selama satu hari kemudian ditimbang beratnya, misal
berat tanah pada bak (A
1
) kg dan pada drum (A
2
) kg.
c. Dari masing-masing tanah tersebut diambil sampel sebanyak
berat tertentu (B
1
) kg dari (A
1
) dan (B
2
) kg dari (A
2
), kemudian
dikeringkan dalam oven pada suhu 105
o
C sampai beratnya
konstan, misal (C
1
) dari (B
1
) dan (C
2
) dari (B
2
).
d. Berat tanah tererosi dalam bak (E
1
) dan berat tanah tererosi
dalam drum (E
2
) dengan jumlah lubang sebanyak n adalah:


(kg/plot) ............................................(1)


(kg/plot).............................................(2)
e. Berat total tanah tererosi pada kejadian hujan tersebut adalah:

(kg/plot).......................................(3)

2. Pengukuran volume aliran permukaan (runn off)
Volume aliran permukaan diukur dari setiap kejadian hujan yang
menimbulkan aliran permukaan. Dari setiap petak ditetapkan
dengan mengukur volume air dalam bak penampung (V
1
) dan drum
(V
2
) dengan volume tanah yang mengendap (V
1
). Volume aliran
permukaan dapat ditentukan sebagai berikut:

......................................................(4)


.....................................................(5)

.......(6)

(7)
3. Pengukuran BD tanah (gram/cm
3
)
a. Praktikan mengambil tanah kering mutlak, misal beratnya
adalah A gram.
b. Praktikan memasukan kedalam gelas ukur berisi air sehingga
terbaca perubahan volum air ().
c. BD tanah

(gram/cm
3
).
4. Mengisi tabel pengamatan.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Erosi Tanah
Erosi adalah peristiwa pengikisan tanah oleh angin, air atau es. Erosi juga
dapat diartikan bawha Erosi adalah peristiwa pindahnya / terangkutnya tanah /
bagian bangian tanah ke suatu tempat atau ketempat lain oleh media alami.
Erosi dapat terjadi karena sebab alami atau disebabkan oleh aktivitas manusia.
Penyebab alami erosi antara lain adalah karakteristik hujan, kemiringan lereng,
tanaman penutup dan kemampuan tanah untuk menyerap dan melepas air ke
dalam lapisan tanah dangkal. Erosi yang disebabkan oleh aktivitas manusia
umumnya disebabkan oleh adanya penggundulan hutan, kegiatan pertambangan,
perkebunan dan perladangan.
Erosi tanah merupakan 6elati utama penyebab ketidak-berlanjutan
kegiatan usahatani di wilayah hulu. Walaupun masih diperdebatkan, penggunaan
lahan yang intensif di wilayah hulu khususnya untuk kegiatan pertanian telah
menyebabkan terjadinya peningkatan erosi yang sangat nyata dari tahun ke tahun.
Peningkatan erosi tersebut disebabkan karena petani melakukan kegiatan
usahatani secara subsisten dengan menerapkan praktek-praktek usahatani yang
menyebabkan erosi yang sangat tinggi (Garrity, 1991). Disamping menyebabkan
ketidak-berlanjutan usahatani di wilayah hulu, kegiatan usahatani tersebut juga
menyebabkan kerusakan sumberdaya lahan dan lingkungan di wilayah hilir yang
sekaligus menyebabkan ketidak-berlanjutan beberapa kegiatan usaha ekonomi
produktif di wilayah hilir akibat terjadinya pengendapan sedimen, kerusakan
sarana irigasi, bahaya banjir dan lain-lain.
Secara alami, sebagian besar tanah di Indonesia mempunyai tingkat
kesuburan tanah yang rendah seperti tanah Ultisols dan Oxisols dengan tingkat
produktivitas lahan yang juga tergolong rendah. Erosi yang intensif di lahan
pertanian menyebabkan semakin menurunnya produktivitas usahatani, dimana
penurunan produktivitas usahatani secara linier akan diikuti oleh penurunan
kesejahteraan petani. Oleh karena itu, pengendalian erosi di lahan usahatani
mutlak harus dilakukan agar kelestarian sumberdaya lahan dan lingkungan dapat
dipertahankan sehingga kesejahteraan petani (khususnya) dapat ditingkatkan.
2.1.1 Macam Erosi tanah
1. Erosi Lembar (Sheet Erosion)
Erosi lemabar (sheet erosion) adalah pengangkutan lapisan yang merata
tebalnya dari suatu permukaan bidang tanah.
2. Erosi Alur( Riil Erosion)
Erosi alur (riil erosioan) adalah suatu proses erosi yang terkonsentrasi dan
mengalir pada tempat- tempat tertentu dipermukaan tanah sehingga
pemindahan tanah lebih banyak terjadi pada tempat tersebut.
3. Erosi Parit ( Gully Erosion)
Erosi parit (gully erosion) adalah proses erosi yang hampir sama dengan
proses erosi alur, tetapi saluran saluran yang terbentuk sudah sedemikian
dalamnya sehingga tidak dapat dihilangkan dengan pengolahan tanah biasa.
Tabel Klassifikasi Laju Erosi


2.1.2 Dampak erosi
Dampak dari erosi adalah menipisnya lapisan permukaan tanah bagian atas,
yang akan menyebabkan menurunnnya kemampuan lahan (degradasi lahan).
Akibat lain dari erosi adalah menurunnya kemampuan tanah untuk meresapkan air
(infiltrasi). Penurunan kemampuan lahan meresapkan air ke dalam lapisan tanah
akan meningkatkan limpasan air permukaan yang akan mengakibatkan banjir di
sungai. Selain itu butiran tanah yang terangkut oleh aliran permukaan pada
akhirnya akan mengendap di sungai (sedimentasi) yang selanjutnya akibat
tingginya sedimentasi akan mengakibatkan pendangkalan sungai sehingga akan
mempengaruhi kelancaran jalur pelayaran.
Menyadari dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat erosi (on site dan off
site effect), pengendalian erosi dan aliran permukaan di lahan pertanian dan
kehutanan telah dilakukan sejak tahun 70-an. Berbagai kegiatan penelitian
mekanisme erosi, teknik konservasi tanah dan air (KTA) untuk mengendalikan
erosi dan aliran permukaan, serta penerapan teknik KTA di lapangan telah
dilakukan dengan sasaran utama masyarakat petani yang tinggal di wilayah hulu.
Berdasarkan fakta lapangan hasil monitoring dan evaluasi pengelolaan DAS
diketahui bahwa kegiatan pengendalian erosi dan aliran permukaan belum
memberikan hasil yang memuaskan. Selain disebabkan karena pendekatan
pelaksanaan kegiatan bersipat proyek dan top down (belum melibatkan partisipasi
masyarakat), kekurang-berhasilan pengendalian erosi di lapangan, juga berkaitan
pemilihan teknik KTA yang diterapkan di lahan petani kurang tepat baik dari sisi
kelayakan fisik-teknis maupun 8elati ekonomi.

2.1.3 Penanggulangan erosi
Pemilihan teknik KTA secara teknis dilakukan dengan menggunakan model
penduga erosi USLE. Model tersebut juga digunakan untuk memprediksi erosi
dari suatu wilayah (DAS) yang kemudian dikalibrasi dengan nilai sediment
delivery ratio (SDR). Karena model penduga erosi USLE dikembangkan skala
plot, maka erosi wilayah hasil dugaannya mengalami deviasi yang cukup besar.
Dengan demikian kebijakan konservasi yang didasarkan atas model tersebut
keakuratannya belum cukup memuaskan.
Salah satu yang dapat dilakukan apabila erosi telah terjadi yaitu dengan
perbaikan erosi. Perbaikan erosi adalah kegiatan memperbaiki kerusakan yang
terjadi karena erosi pada unsure-unsur daerah milik jalan. Perbaikan erosi dapat
dilaksanakan dengna 2 (dua) macam kegiatan, yaitu :
1. Pemeliharaan untuk kerusakan-kerusakan kecil, dan
2. Rehabilitasi untuk kerusakan-kerusakan yang lebih besar, sehingga dalam
perbaikannya memerlukan peralatan berat.
Pemeliharaan antara lain dilakukan pada :
1. Bahu jalan yang terbuang,
2. Longsoran bahu jalan akibat gerusan aliran air selokan samping,
3. Gerusan pada dasarnya selokan akibat derasnya aliran air,
4. Gerusan pada sisi luar selokan akibat golokan air karena sisi selokan
dalamnya telah diperkuat dengan pasangan. Perubahan bentuk selokan
akibat derasnya arus aliran air.
Erodibilitas tanah menunjukkan tingkat kepekaan tanah terhadap daya
rusak hujan. Erodibilitas tanah dipengaruhi oleh tekstur (pasir sangat halus, debu,
dan liat), struktur tanah, permeabilitas, dan kandungan bahan 9elativ tanah
(Wischmeier et al., 1971). Nilai K dapat ditentukan dengan menggunakan rumus
Hammer (1978), yaitu:
K = 2,713 M1,14 (10-4) (12 a) + 3,25 (b 2) + 2,5 (c 3).....(1)
dimana:
K = erodibilitas tanah
M = (% debu + % pasir sangat halus) (100 - % liat)
a = % bahan 9elativ (% C 9elativ x 1,724)
b = kode struktur tanah
c = kode permeabilitas tanah
Erosivitas hujan I dapat dihitung dengan menggunakan peta Iso-erodent
(Bols, 1978) untuk Pulau Jawa dan Madura atau menggunakan data curah hujan.
Data curah hujan (bulanan) digunakan untuk menghitung nilai RM dengan rumus:
RM = 2.21 (Rain)m 1.36 ....(2)

dimana:
RM = erositas hujan bulanan
(Rain)m = curah hujan bulanan (cm).
Pada metode USLE, prakiraan besarnya erosi adalah dalam kurun waktu
tahunan sehingga angka rata-rata factor R dihitung dari data curah hujan tahunan
sebanyak mungkin dengan persamaan sebagai berikut :
P . C . S . L . K . R E =
.....(3)

X 100 EI/ R

n
i
=
.....(4)

0,5
22
Lo
L |
.
|

\
|
=
....(5)
dimana Lo = panjang lereng (m)
9
s
S
1.4
= diman s = kemiringan lereng (%)
Diman, R = Erosivitas hujan rata-rata
N = Jumlah kejadian hujan dalam kurun waktu satu tahun (musim hjan)
X = Jumlah tahun atau musm hujan yang digunakan
E = Energi kinetic
K = Erodibilitas
L = Kemiringan
S = Slope
C = Tanaman Penutup
P = Faktor konservasi tanah
Untuk mencarai indeks erosivitas hujan, dapat menggunakan rumus Bolls (1978)
sebagai berikut :
0.53 0.47 1.2.
30
MAXPm DAYm RAINm 6.119 EI (RM) =

.....(6)

Dimana, Rm = Erosivitas curah hujan bulan rata-rata
RAINm = Jumlah curah hujam bulanan (cm)
DAYm = Jumlah hari hujan bulanan rata-rata pada bulan tertentu
MAXPm = jumlah hujan maxsimum selama 24 jam pada bulan terentu

2.2 Erosivitas hujan
Erosivitas hujan adalah besarnya tenaga kinetik hujan yang menyebabkan
terkelupas dan terangkutnya partikel-partikel tanah ke tempat yang lebih rendah.
Erosivitas hujan sebagian besar terjadi karena pengaruh jatuhan butir-butir hujan
langsung di atas tanah dan sebagian lagi karena aliran air di atas permukaan tanah.
Faktor erosivitas hujan merupakan hasil perkalian antara energi kinetic (E) dari
satu kejadian hujan maksimum 30 menit (I30). Kehilangan tanah karena erosi
percikan, erosi lembar dan erosi alur berhubungan erat dengan EI 30. Penggunaan
Intensatas hujan 30 menit maksimum menunjukkan bahwa tidak seluruh hujan
berpengaruh nyata terhadap jumlah tanah yang hilang. Hujan dengan intensitas
kecil berpengaruh sangat kecil terhadap hilangnya tanah dari suatu tempat.

2.3 Kemiringan lahan
Kemiringan lahan adalah besaran yang dinyatakan dalam derajat/persen (%)
yang menunjukkan sudut yang dibentuk oleh perbedaan tinggi tempat.
Kemiringan lahan dapat digolongkan kedalam beberapa golongan yaitu sebagai
berikut:
Tabel 1. Golongan Kemiringan Lahan
Kemiringan % Kelas kemiringan
0<3
datar
3<8
agak miring
8<15
miring
15<25
agak terjal
25<40
terjal
>40
curam
(Sumber: Nurpilihan, 2013)
Kemiringan dan panjang lereng merupakan dua hal dari tofografi yang
mempengaruhi erosi. Sebelum melakukan berbagai usaha koservasi tanah
dilaksanakan dilapangan, mka perlu dilakukan pengamatan secara seksama
terhadap keadaan sebenarnya dilapangan. Hal tersebut dimaksudkan agar
memudahkan dalam pelaksanaan selanjutnya dilapangan dalam melaksanakan
usaha atau tindakan-tindakan yang perlu dilakukan dalam kegiatan konservasi
tanah dengan apa yang direncanakan dapat berhasil dengan baik.
Pengelolaan lahan miring dengan menerapkan kaidah pengawetan tanah
pada dasarnya bertujuan sebagai berikut :
1. Memperbaiki dan menjaga tanah agar tahan terhadap pukulan butiran
hujan dan kekuatan penghanyutan aliran air
2. Menutup permukaan tanah agar terlindung dari daya perusak/pukulan air
3. Memperbesar daya resapan tanah dan mengatur aliran permukaan agar
tidak merusak tanah
Oleh karena itu diperlukan cara tepat untuk melakukan tindakan
konservasi tanah diantaranya dengan mengukur kemiringan lahan secara cepat dan
akurat agar tanah tersebut dapat ditanam dengan baik dan benar sehingga dapat
mencegah terjadinya erosi. Besar kemiringan suatu lahan dapat diketahui dengan
beberapa cara dengan alat yang sederhana maupun alat yang lebih modern.
Beberapa alat pengukur kemiringan dilapangan diantaranya adalah sunto
level/klinometer, abney level dan HAGA (Hand Gun Altimeter). Alat-alat tersebut
digunakan untuk mempermudah identifikasi kemiringan lahan secara mudah dan
praktis. Tindakan konservasi tanah dapat mencegah terjadinya erosi pada lahan
dengan kemiringan tertentu.
Teknik konservasi tanah dan air di lahan pekarangan difokuskan pada
penanaman mengikuti kontour did alam lorong dengan menggunakan tanaman
penyangga (hedge row) berupa campuran tanaman tahunan (perkebunan, buah-
buahan, polong-polongan, dan tanaman tindustri/obat), sayuran dan rumput pakan
ternak. Bagian atas lorong tanaman penyangga dibuat saluran penampung air
sehingga aliran permukiman dan erosi akan terkontrol. Sisa-sisa tanaman dan
hasil pangkasan hendaknya tidak dibakar tetapi dibuat kompos, atau dibenamkan
kedalam tanah, atau digunakan sebagai mulsa
Abrasi adalah proses pengikisan pantai oleh tenaga gelombang laut dan
arus laut yang bersifat merusak. Abrasi biasanya disebut juga erosi pantai.
Kerusakan garis pantai akibat abrasi ini dipacu oleh terganggunya keseimbangan
alam daerah pantai tersebut. Walaupun abrasi bisa disebabkan oleh gejala alami,
namun manusia sering disebut sebagai penyebab utama abrasi. Salah satu cara
untuk mencegah terjadinya abrasi adalah dengan penanaman hutan mangrove.




BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil
Tabel 1. Hasil Pengukuran Erosi di Lapangan dengan Perlakuan Mulsa 0 ton/ha
No
Tanggal
(kejadian
erosi)
Durasi
hujan
(menit)
Tinggi
hujan
(mm)
Aliran permukaan (mL/plot) Erosi (gram/plot)
V1 V2
BD
(gram/c
m
3
)
Vt V A1 A2 B1 B2 C1 C2 E1 E2 Et
1 7 Mei 2013 180 9.5 0 17621 1.14 24.561 17596.44 0 7620 0 40 0 28 0 5334.00 5334.00
2 8 Mei 2013 8 11 0 1051 1.17 23.077 1027.92 0 300 0 30 0 27 0 270.00 270.00
3 9 Mei 2013 150 9 0 0 0 0 0 0 0 0 0 27 0 0 0 0
4 10 Mei 2013 120 0 0 6600 1.25 2.400 6597.60 0 6 0 4 0 3 0 4.50 4.50
5 11 Mei 2013 180 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
6 12 Mei 2013 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
7 13 Mei 2013 210 0 0 3210 1.02 23.529 3186.47 0 547 0 30 0 24 0 437.60 437.60
8 14 Mei 2013 TTU 6 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
9 15 Mei 2013 150 1.5 0 700 1.19 21.008 678.99 0 253 0 38 0 25 0 166.45 166.45
10 16 Mei 2013 120 9 0 650 1,198 0.020 649.98 0 264 0 35 0 24 0 181.03 181.03
11 17 Mei 2013 120 2 0 432 1.26 22.222 409.78 0 132 0 35 0 28 0 105.60 105.60
12 18 Mei 2013 60 8 0 550 1.24 12.097 537.90 0 209 0 20 0 15 0 156.75 156.75
13 19 Mei 2013 60 7.5 0 650 1.2 10.833 639.17 0 272 0 19 0 13 0 158.64 158.64
14 20 Mei 2013 120 0 0 8850 1.176 22.109 8827.89 0 281 0 40 0 26 0 182.65 182.65
Tabel 1. Hasil Pengukuran Erosi di Lapangan dengan Perlakuan Mulsa 0 ton/ha (Lanjutan)
15 21 Mei 2013 90 6.5 10 600 1.27 13.386 596.61 10 300 5 30 2.5 17 5 170.00 175.00
16 22 Mei 2013 TTU 44 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
17 23 Mei 2013 360 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
18 24 Mei 2013 120 18 0 2810 1.23 0.407 2809.59 0 13 0 1.5 0 0.5 0 4.33 4.33
19 25 Mei 2013 390 8 0 15600 1.11 23.423 15576.58 0 2089 0 30 0 26 0 2410.38 2410.38
20 26 Mei 2013 120 12.5 100 10 1.13 9.027 100.97 12 103 4 13 2.3 10.2 6.9 54.67 61.57
21 27 Mei 2013 150 1.5 70 240 1.01 23.762 286.24 23 135 15 30 9.1 24 13.95 62.79 76.74
22 28 Mei 2013 120 13 110 480 1.21 19.835 570.17 71 214 30 30 25 24 59.17 422.06 481.22
23 29 Mei 2013 60 0 0 4020 1.28 1.797 4018.20 0 26 0 3 0 2.3 0 19.93 19.93
24 30 Mei 2013 TTU 2.5 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
25 31 Mei 2013 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
26 1 Juni 2013 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
27 2 Juni 2013 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
28 3 Juni 2013 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
29 4 Juni 2013 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
30 5 Juni 2013 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
31 6 Juni 2013 90 0 0 750 0 0 750.00 0 0 0 0 0 0 0 0 0
JUMLAH RUN-OFF 64860.51 JUMLAH EROSI 10226.40
Keterangan :
V
1
: Volume air dalam bak penampung A
1
; A
2
: Berat tanah basah pada bak dan ember (gram)
V
2
: Volume air dalam ember B
1
; B
2
: Berat sampel tanah pada bak dan ember (gram)
V
t
: Volume tanah yang mengendap (berat tanah kering/BD tanah) gram C
1
; C
2
: Berat kering tanah pada bak dan ember (gram)
E
1
; E
2
; E
t
: Jumlah tanah tererosi pada bak, ember, erosi total (E
1
+E
2
) (gram)
Tabel 2. Data Parameter Klimatologi
NO TANGGAL
PARAMETER PENGAMATAN
Tinggi Hujan (mm)
Durasi Hujan
(menit)
TMax (C) TMin(C )
Kelembaban (%) Kecepatan Angin
(km/jam) 07.00 13.00 17.00 Rata - Rata
1 7 Mei 2013 9,5 180 29 15.4 96 87 89 90.67 1.7
2 8 Mei 2013 11 8 29 15 98 87 89 91.33 2
3 9 Mei 2013 9 150 28.8 15.2 98 87 89 91.33 1.9
4 10 Mei 2013 0 120 288.4 15 96 87 89 90.67 1.6
5 11 Mei 2013 0 180 29 15.4 98 87 88 91.00 2
6 12 Mei 2013 0 - 27.6 14.6 98 85 88 90.33 2
7 13 Mei 2013 - 210 25.2 14.2 98 91 92 93.67 2.3
8 14 Mei 2013 6 - 26.8 14.2 96 91 92 93.00 1.5
9 15 Mei 2013 1.5 150 27.6 15 98 91 92 93.67 1.2
10 16 Mei 2013 9 120 28.6 15.4 98 91 92 93.67 1.3
11 17 Mei 2013 2 120 29 15.6 98 88 91 92.33 2
12 18 Mei 2013 8 60 30 15 98 88 91 92.33 1.8
13 19 Mei 2013 7.5 60 30.2 15.4 98 88 91 92.33 2.7
14 20 Mei 2013 - 120 31 13.6 98 87 89 91.33 2.1
15 21 Mei 2013 6.5 90 32 13.4 98 85 88 90.33 3.1
16 22 Mei 2013 44 - 28 13.6 98 92 96 95.33 2.2
17 23 Mei 2013 3 360 29 15.4 98 88 89 91.67 1.7
18 24 Mei 2013 18 120 29.6 13.4 98 85 88 90.33 2
19 25 Mei 2013 8 390 29.8 14 98 85 88 90.33 2.1
20 26 Mei 2013 12.5 120 31.4 13.8 96 85 88 89.67 2.2
21 27 Mei 2013 1.5 150 24.2 15.4 98 91 94 94.33 1.3
22 28 Mei 2013 13 120 29.2 15.8 98 88 91 92.33 1.2
23 29 Mei 2013 - 60 27.6 15 98 85 88 90.33 2.5
24 30 Mei 2013 2.5 - 28.6 15.2 96 81 88 88.33 1.6
25 31 Mei 2013 - - 29 16 96 78 88 87.33 1.8
26 1 Juni 2013 - - 31 15.8 96 78 88 87.33 1.8
27 2 Juni 2013 - - 28.2 14 94 78 88 86.67 1.6
28 3 Juni 2013 - - 27.2 15 94 78 88 86.67 1.4
29 4 Juni 2013 - - 29.8 14.8 94 84 88 88.67 1.2
30 5 Juni 2013 0 - 29 15.2 98 85 90 91.00 0.8
31 6 Juni 2013 0 90 24.6 16 96 88 90 91.33 2
Sumber: Stasiun Klimatologi Unversitas Padjadjaran
3.1.1 Perhitungan Erosi dan Aliran Permukaan
Contoh Perhitungan Aliran Permukaan pada Plot Erosi:
V = V
1
+ nV
2
- V
t

V = 0 + (1)(17621) ml 24,561 ml
V = 17596,44 ml

Contoh Perhitungan Erosi pada Plot Erosi:
E
1
= (B
1
/C
1
) x A
1

E
1
= (2,3/4) x 12
E
1
= 6,9 gr/plot

E
2
= (B
2
/C
2
) x A
2

E
2
= (10,2/13) x 103
E
2
= 54,67 gr/plot

E
t
= E
1
+ nE
2

E
t
= 6,9 gr/plot + (1)(54,67) gr/plot
E
t
= 61,57 gr/plot

*Catatan: n = 1, karena lubang pada bagian ujung bak hanya satu.

3.2 Pembahasan
Pengukuran erosi di lapangan dapat dilakukan dengan menggunakan plot
ersosi (soil and water collector). Parameter yang di ukur menggunakan metode ini
adalah jumlah aliran permukaan dan jumlah tanah yang tersedimentasi dari plot
tersebut. Besarnya jumlah aliran permukaan selanjutnya disebut besar run-off dan
besarnya tanah yang tersedimentasi selanjutnya disebut besar erosi. Plot ersoi
yang digunakan adalah sebuah petak lahan dengan ukuran panjang 22 meter dan
lebar 1,8 meter yang ditanami jagung dan rumput vetiver tanpa pemberian mulsa.
Plot erosi ditempatkan pada lahan dengan kemiringan sekitar 9%. Pada bigian
bawah lereng dibuat bak dengan ukuran lebar 1,8 m dan panjang 30 cm.
Pengukuran besarnya run-off dan erosi dilakukan apabila terjadi hujan di
hari yang lalu dan diukur pada hari ini. Pada saat melakukan pengukuran, tanah
pada bak lebih sedikit dibandingkan dengan tanah pada ember. Jumlah tanah pada
ember lebih banyak karena semua air terlimpas ke dalam ember, sehingga data
pengukuran erosi dan aliran permukaan untuk bak penampung terkadang tidak
dapat diukur dan besarnya sama dengan nol. Total aliran permukaan merupakan
jumlah dari volume air pada bak dan volume air pada ember dikali banyaknya
lubang dan dikurangi dengan volume tanah kering. Volume tanah kering
merupakan perbandingan antara berat tanah kering yang telah dikeringkan dengan
perubahan volume ketika tanah tersebut dimasukkan ke dalam gelas ukur (bulk
density tanah). Perhitungan tersebut dilakukan karena air yang diambil dari plot
pasti mengandung tanah dan untuk menghitung jumlah air total maka perlu
diketahui volume tanah yang ada dalam air tersebut.
Dari hasil pengukuran erosi selama satu bulan terjadi jumlah aliran
permukaan sebesar 10226,40 ml/plot dan terjadi erosi sebesar 64860,51 gram/plot.
Besarnya erosi ini dipengaruhi oleh besarnya curah hujan yang terjadi. Curah
hujan terkadang tidak menyebabkan erosi, dalam hal ini lamanya erosi perlu
dipertimbangkan. Curah hujan tinggi dengan lama waktu hujan sebentar dapat
menyebabkan erosi yang tinggi dan curah hujan yang kecil dengan waktu hujan
relatif lama bisa saja tidak menyebabkan erosi. Hubunga erosi dengan curah hujan
dapat dilihat pada Gambar 1. Grafik Pengaruh Curah Hujan Terhadap
Erosisebagai berikut.

Gambar 1. Grafik Pengaruh Curah Hujan Terhadap Erosi
Grafik di atas menunjukkan bahwa meskipun curah hujan tinggi, erosi
yang terjadi tidak tinggi. Contohnya pada curah hujan 9,5 mm lebih besar terjadi
erosi dibandingkan pada curah hujan 11 mm yang terlihat pada grafik. Hal ini
dapat dipengaruhi oleh faktor lain yaitu durasi hujan dan juga intensitas hujannya.
Dapat dikatakan pada curah hujan 9,5 mm durasi hujan sebentar dan intensitasnya
tinggi maupun durasi hujan lama dan intenistasnya kecil.
Curah hujan juga mempengaruhi besarnya aliran permukaan. Hubungan
curah hujan dan aliran permukaan dapat dilihat pada Gambar 2. Gafik Pengaruh
Curah Hujan Terhadap Aliran Permukaan sebagai berikut.

Gambar 2. Grafik Pengaruh Curah Hujan Terhadap Aliran Permukaan
Pengaruh curah hujan terhdap aliran permukaan memiliki karakteristik
semakin tinggi curah hujan maka semakin tinggi aliran permukaan yang terjadi
dan hal ini juga dipengaruhi oleh lamanya hujan. Jika waktu hujan lebih lama dan
curah hujan sedikit, maka kemungkinan tanah tersebut terinfiltrasi sebelum
terjadinya run-off.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan beberapa hal antara lain sebagai
beirkut.
1. Pengukuran erosi dilapangan dilakukan dengan menggunakan plot
erosi yang memiliki bak dan ember penampung sedimen serta air
larian.
2. Pengukuran run-off atau aliran permukaan dapat dilakukan bersamaan
dengan pengukuran erosi menggunakan plot erosi.
3. Besarnya erosi tidak hanya tergantung dari tinggi atau curah hujan
saja, tapi juga dipengaruhi oleh durasi atau lamanaya hujan.
4. Pada lahan dengan kemiringan 9% dan ditanami jagung serta rumput
vetiver serta tanpa pemberian mulsa terjadi aliran permukaan sebesar
10226,40 gram/plot dan erosi sebesar 64860,51 gram/plot.

4.2 Saran
Beberapa saran yang dapat direkomendasikan mengenai pengukuran erosi
di lapangan antara lain sebagai beirkut.
1. Pengukuran sebaiknya dilakukan dengan teliti dan selalu mengamati
plot erosi meski tidak terjadi hujan untuk melihat kondisi plot ersosi.
2. Sebaiknya plot erosi yang digunakan memiliki bak yang permanenen
dan juga ember yang permanen agar air yang tertampung tidak hilang.
3. Pada plot erosi sebaiknya dilengkapi alat pengukur curah hujan agar
data hujan yang dibutuhkan tersedia pada saat itu juga.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim I. Tanah (http://mining.lib.itb.ac.id/go.php?id=jbptitbmining-gdl-s1-
2001-petraparul-323) diakses pada tanggal 4 juni 2012 pukul 23.24

Anonim II. Nomograf erodibilitas (http://www.nomographerodibility
/part618p6.html) diakses pada tanggal 4 juni 2012 pukul 23.24

Arsyad, Sitanala. 1989. Konservasi Tanah dan Air. Jurusan Tanah, Fakultas
Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penerbit IPB, Bogor.

Arsyad, S. 1989. Konservasi Tanah dan Air. IPB Press. Bogor

Bafdal, Nurpilihan., Edy Suryadi. 2013. Penuntun Praktikum Teknik Pengawetan
Tanah dan Air. Jatinagor : UNPAD.

Garrity, D.P. 1991. Sustainable Land Use Systems for The Slopping Upland of
Southeast Asia. In Technologies for Sustainable Agriculture in the Tropics.
Am. Soc. Agron.

Ginting, A.N., dan M. A. Ilyas. 1997. Pendugaan Erosi pada Sub DAS Siulak di
Kabupaten Kerinci dengan Menggunakan Model ANSWERS. Makalah
Lokakarya Penetapan Model Erosi Tanah. Puslitbang Hutan dan Konservasi
Alam, Bogor. 7 Maret 1997.

Soil Survey Staff, 1998. Kunci Taksonomi Tanah. Edisi Kedua Pusat Penelitian
Tanah dan Agroklimat, Bogor.



LAMPIRAN