Anda di halaman 1dari 26

Asas, Tujuan, dan Kebijakan Dasar Penanaman Modal di Indonesia

Dr. Mahmul Siregar, SH.,M.Hum

Asas penyelenggaraan penanaman modal (1)


Pasal 3 ayat (1) UU No. 25 Tahun 2007

Asas penyelenggaraan penanaman modal


1. kepastian hukum meletakkan hukum dan ketentuan peraturan perundang-undangan sebagai dasar dalam setiap kebijakan dan tindakan dalam bidang penanaman modal. 2. Keterbukaan yang terbuka terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar, jujur, dan tidak diskriminatif tentang kegiatan penanaman modal. 3. Akuntabilitas
setiap kegiatan dan hasil akhir dari penyelenggaraan penananam modal harus dipertanggungjawabkan Kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Asas penyelenggaraan penanaman modal (2)


4. perlakuan yang sama dan tidak membedakan asal negara perlakuan pelayanan nondiskriminasi berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan, baik antara penanam modal dalam negeri dan penanam modal asing maupun antara penanam modal dari satu negara asing dan penanam modal dari negara asing lainnya. 5. asas kebersamaan
Mendorong peran seluruh penanam modal secara bersama-sama dalam kegiatan usahanya untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat.

6. asas efisiensi berkeadilan


pelaksanaan penanaman modal dengan mengedepankan efisiensi berkeadilan dalam usaha untuk mewujudkan iklim usaha yang adil, kondusif, dan berdaya saing.

Asas penyelenggaraan penanaman modal (3)


7. asas berkelanjutan asas yang secara terencana mengupayakan berjalannya proses pembangunan melalui penanaman modal untuk menjamin kesejahteraan dan kemajuan dalam segala aspek kehidupan, baik untuk masa kini maupun yang akan datang. 8. asas asas berwawasan lingkungan penanaman modal yang dilakukan dengan tetap memerhatikan dan mengutamakan perlindungan dan pemeliharaan lingkungan hidup.

Asas penyelenggaraan penanaman modal (4)


9. asas kemandirian
penanaman modal yang dilakukan dengan tetap mengedepankan potensi bangsa dan negara dengan tidak menutup diri pada masuknya modal asing demi terwujudnya pertumbuhan ekonomi. 10. asas keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional asas yang berupaya menjaga keseimbangan kemajuan ekonomi wilayah dalam kesatuan ekonomi nasional.

Tujuan penyelenggaraan penanaman modal


Pasal 3 ayat (2) UU No. 25 Tahun 2007

Tujuan penyelenggaraan penanaman modal


meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional; menciptakan lapangan kerja; meningkatkan pembangunan ekonomi berkelanjutan; meningkatkan kemampuan daya saing dunia usaha nasional; meningkatkan kapasitas dan kemampuan teknologi nasional; mendorong pengembangan ekonomi kerakyatan; mengolah ekonomi potensial menjadi kekuatan ekonomi riil dengan menggunakan dana yang berasal, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri; dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kebijakan dasar penyelenggaraan penanaman modal (1)


Pasal 4 ayat (1) dan (2) UU No. 25 Tahun 2007

KEBIJAKA N DASAR mendorong terciptanya iklim usaha nasional yang kondusif bagi penanaman modal untuk penguatan daya saing perekonomian nasional

mempercepat peningkatan penanaman modal.

Kebijakan dasar penyelenggaraan penanaman modal (2)


Kebijakan Dasar PM ditetapkan Pemerintah dengan : a. memberi perlakuan yang sama bagi penanam modal dalam negeri dan penanam modal asing dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional; b. menjamin kepastian hukum, kepastian berusaha, dan keamanan berusaha bagi penanam modal sejak proses pengurusan perizinan sampai dengan berakhirnya kegiatan penanaman modal sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan; dan c. membuka kesempatan bagi perkembangan dan memberikan perlindungan kepada usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi.

PRINSIP-PRINSIP HUKUM DALAM PENGATURAN DIRECT INVESTMENT

Perlakuan sama Pembatasan Bidang Usaha Persyaratan penyertaan saham pihak asing Alih teknologi Pengutamaan tenaga kerja domestik Divestasi Performance requirement Insentive investasi Good Corporate Governance Nasionalisasi dengan kompensasi Penyelesaian sengketa

1. Perlakuan Sama [1]

Setiap investor diperlakukan sama Tidak membedakan negara asal (home country) Prinsip ini berkembang dari prinsip perdagangan internasional (most favoured nations dan national treatment) Investor dari negara-negara yang terikat dengan perjanjian bilateral, regional dan multilateral umumnya diberi perlakuan khusus Perlakuan khusus tidak boleh menyebabkan persyaratan bagi investor dari negara lain lebih buruk dari kondisi sebelumnya

1. Perlakuan Sama [2]

perlakuan sama berlaku pada tahap post establishment stage atau brown investment field Berlaku prinsip positive list sesuai komitemen yang diberikan oleh negara home country Perhatikan Pasal 6 UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal.
(1) Pemerintah memberikan perlakuan yang sama kepada semua penanam modal yang berasal dari negara mana pun yang melakukan kegiatan penanaman modal di Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (2) Perlakuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku bagi penanam modal dari suatu negara yang memperoleh hak istimewa berdasarkan perjanjian dengan Indonesia.

2. Pembatasan bidang usaha


Umumnya host country membatasi dan memberikan syarat terhadap suatu bidang usaha yang bisa ditanami modal asing. Daftar negatif investasi (negative list) Bentuk pembatasan : a. Tertutup sama sekali untuk kegiatan investasi asing b. Terbuka dengan syarat joint enterprise (pembatasan komposisi pemilikan saham) c. Terbuka dengan syarat khusus (kemitraan, syarat ketenagakerjaan, dll) Disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan suatu negara

3. Persyaratan komposisi penyertaan saham Berlaku untuk bidang usaha yang diwajibkan dalam bentuk kerjasama modal (joint enterprise). Komposisi pemilikan saham dibatasi dalam persentase tertentu, misalnya 45 %, 49%, 40%, dst.

Umumnya terhadap sektor usaha yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak Memberikan kesempatan berpartisipasi kepada investor domestik

4. Persyaratan alih teknologi (1)


Memanfaatkan kehadiran investor untuk mengembangkan teknologi domestik.

Teknologi diperhitungkan sebagai modal dan diberikan fasilitas.


Proses ini pada umumnya gagal pada kebanyakan negara-negara berkembang

1. 2. 3.

Faktor penyebab, antara lain : Perangkat hukum kurang mendukung Kurang memahami kontrak alih teknologi yang dibuat sangat rumit Investor lokal tidak terlalu peduli dengan investasi teknologi karena biaya mahal dan resiko tinggi 4. Investor asing pada dasarnya tidak sepenuh hati mengalihkan teknologi yang dimilikinya.

4. Persyaratan alih teknologi (2)


Kendala Alih Teknologi

KENDALA EKSTERNAL

Sistem internasional lebih banyak menguntungkan negara maju Bargaining position NSB yang lemah Tidak adanya full disclosure dari pemilik teknologi Birokrasi pemerintah yang berbelit-belit

KENDALA INTERNAL
Lemahnya kepastian hukum, tidak adanya jaminan keamanan dan kenyamanan bagi investor Kualitas SDM masih rendah Jumlah modal yang tersedia masih minim sedangkan biaya untuk mendapatkan teknologi cukup tinggi Kurangnya skill dan knowledge Kurangnya dukungan teknologi pendukung pada tingkat lokal/ nasional Menejemen organisasi dan pemasaran yang lemah Perbedaan sistem sosial dan budaya Etos kerja yang rendah Kurangnya dukung sistem pendidikan dan lembagalembaga pendidikan.

5. Pengutamaan tenaga kerja domestik


Kepentingan host country untuk membuka lapangan kerja, mengurangi tingkat pengangguran.

Mengutamakan penggunaan tenaga kerja dalam negeri (warga negara sendiri)


Tenaga kerja asing diperbolehkan untuk jabatan yang belum diisi atau pekerjaan yang belum bisa dilakukan oleh tenaga kerja domestik. Membatasi penggunaan tenaga kerja asing untuk jabatan tertentu dalam waktu tertentu. Free personal movement yang dibatasi dengan specific of commitment

6. Divestasi Banyak negara yang mengatur waktu secara tegas waktu pengalihan saham asing kepada mitra domestik. Ditentukan waktu pengalihan dan besarnya saham yang dialihkan (misalnya 15 tahun setelah produksi komersial sebesar 30 %, dan seterusnya). Konsekwensi dari paradigma modal asing sebagai faktor pelengkap Di Indonesia saat ini divestasi diserahkan kepada kesepakatan para pihak (umumnya diatur dalam Joint Venture Agreement)

Beberapa permasalahan dalam divestasi

Perangkat hukum tidak lengkap


Pada waktu untuk divestasi, mitra domestik tidak memiliki uang untuk membeli saham dari divestasi Perusahaan rugi saat tercapainya waktu divestasi

7. Performance requirement (1)


Pada awal tahun 1980-an banyak negara menerapkan performance requirement sebagai persyaratan investasi.

Diterapkan untuk mengembangkan industri domestik dan mengamankan neraca pembayaran.


Pada tahun 1995 berdasarkan Agreement on Trade Related Investment Measures ,WTO melarang sejumlah bentuk performance requirement. Performance requirement yang dilarang WTO Local content requirement Trade balancing policy Foreign exchange limitation Export limitation

a. b. c. d.

7. Performance requirement (2)


Alasan pelarangan karena kebijakan tersebut mendistorsi perdagangan internasional

Menimbulkan perlakuan diskriminatif terhadap produk impor


Bertentangan dengan Article III dan XI GATT tentang National Treatment dan General Prohibition on Quantitative restriction. Indonesia pernah diajukan ke DSB WTO atas kasus Mobil Nasional karena menerapkan kebijakan LCR yang dihubungkan dengan insentif investasi

8. Insentif Investasi Banyak diterapkan negara-negara untuk menarik minat investor Kemudahan pajak , kewajiban finansial lainnya dan hakhak atas tanah.

Tidak boleh dikaitkan dengan performance requirement.


Perhatikan Pasal 18 s/d 24 UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal

8. Good Corporate Governance

Banyak negara yang mewajibkan perusahaan investasi asing menerapkan prinsip tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) Prinsip dasar GCG a. Fairness (kewajaran) b. Discolsure dan transparency c. Accountability d. Responsibility

9. Nasionalisasi dan Kompensasi


Bentuk kebijakan yang paling ditakuti investor Demi kepentingan negara, asset-asset perusahaan investasi asing dapat dinasionalisasi (diambilalih) menjadi milik negara. Tidak mudah melakukan nasionalisasi Umumnya menggunakan Undang-undang Disertai dengan kompensasi kepada pemilik perusahaan yang dinasionalisasi.

Ganti rugi ditetapkan berdasarkan kesepakatan


Sengketa ketidaksepakatan gantirugi diajukan ke arbitrase internasional (ICSID)

10 Penyelesaian sengketa
Berbagai cara menyelesaikan sengketa investasi (litigasi dan non-litigasi) Di Indonesia :

1. Pemerintah PMDN Musyawarah Arbitase sesuai kesepakatan Pengadilan jika arbitrase gagal 2. Pemerintah PMA

Musyawarah Arbitase internasional

Dr. Mahmul Siregar, SH.,M.Hum