Anda di halaman 1dari 36

UNIDROIT

Bahan Kuliah HUKUM KONTRAK INTERNASIONAL


Dr. Mahmul Siregar, SH.,M.Hum

LATAR BELAKANG
Perdagangan internasional (lintas negara) yang semakin pesat Adanya perbedaan sistim hukum dan kondisi ekonomi politik masing-masing negara, mempengaruhi hukum perdata di suatu negara Terdapat berbagai sistim hukum yang dapat digunakan untuk mengatur dan menginterpretasikan kontrak-kontrak atau transaksi-transaksi perdagangan (bisnis) dari berbagai pihak

Upaya unifikasi hukum perdata (hukum kontrak) sudah diupayakan sejak tahun 1917 antara Perancis dan Italia dalam project de code des obligations et des contratas Tujuannya agar terjadi unifikasi hukum kontrak diantara dua negara tersebut, sehingga memudahkan warga negara yang melakukan transaksi perdagangan internasional

Proyek gagal karena terjadinya perubahan politik akibat Perang Dunia I

Projek unifikasi hukum perdata sulit dilakukan karena hambatan kedaulatan negara Dibentuk Working Group pada tahun 1971 untuk merumuskan prinsip-prinsip hukum kontrak internasional yang dapat dirujuk oleh negaranegara sebagai hukum tambahan. Prinsip-prinsip UNIDROIT dihasilkan dan diterima oleh banyak negara pada tahun 1994 dan menjadi sebuah konvensi internasional

TUJUAN UNIDROIT
Menciptakan suatu aturan yang berimbang dengan harapan para aktor perdagangan internasional dengan latar belakang tingkat ekonomi dan sistim politik dan sistim hukum yang berbeda dapat menggunakannya Dapat digunakan oleh para pihak manakala mereka menemukan jalan buntu dalam menentukan hukum mana yang akan dipilih terhadap kontrak mereka. Kebuntuan ini dapat diselesaikan dengan memilih UNIDROIT sebagai hukum yang mengatur kontrak para pihak Dapat dipergunakan untuk menafsirkan sesuatu klausul dalam kontrak yang menimbulkan sengketa penafsiran

Dapat dipergunakan oleh negara-negara sebagai acuan dalam merancang hukum kontraknya.

RUANG LINGKUP
Berbeda dengan CISG 1980 yang secara tegas diperuntukkan untuk mengatur transaksi perdagangan internasional di bidang jual beli barang (sales of goods) Prinsip-prinsip UNIDROIT dapat diterapkan untuk semua jenis transaksi bisnis internasional, tidak terbatas pada sales of goods

KEKUATAN MENGIKAT
Prinsip-prinsip UNIDROIT bukan merupakan konvensi internasional yang mengikat UNIDROIT bersifat menambah, jika ternyata hukum negara-negara yang terkait tidak jelas mengatur seseuatu hal terkait transaksi yang dilakukan Mengikat jika para pihak memilih prinsip-prinsip UNIDROIT sebagai hukum yang mengatur transaksi mereka atau sebagai acuan mengikat dalam interpretasi kontrak Di Indonesia, perhatikan Pasal 1338 KUH Perdata

PRINSIP-PRINSIP UNIDROIT SEBAGAI LEX MERCATORIA

Kebiasaan dan kepatutan umum dari masyarakat bisnis yang diterapkan ke dalam praktik hukum komersial di berbagai negara. Digunakan apabila terjadi kekosongan hukum

PRINSIP-PRINSIP UNIDROIT
Prinsip kebebasan berkontrak Prinsip itikad baik (good faith) dan transaksi yang jujur (fair dealing) Prinsip pengakuan terhadap kebiasaan transaksi bisnis di negara setempat Prinsip kesepakatan melalui penawaran dan penerimaan atau melalui tindakan Prinsip larangan bernegosiasi dengan itikad buruk Prinsip kewajiban menjaga kerahasiaan Prinsip perlindungan terhadap pihak-pihak yang lemah dari syaratsyrat baku Prinsip dapat dibatalkannya kontrak bila mengandung perbedaan besar (gross disparity) Prinsip contra proferentem dalam penafsiran kontrak baku Prinsip menghormati kontrak ketika terjadi kesulitan (hardship) Prinsip pembebasan tanggungjawab dalam keadaan memaksa.

1. Prinsip kebebasan berkontrak


Ruang lingkup kebebasan berkontrak meliputi : (a). Kebebasan menentukan isi kontrak (b). Kebebasan menentukan bentuk kontrak (c). Kontrak mengikat sebagai undang-undang (d). Aturan memaksa (mandatory rules) sebagai pengecualian (e). Sifat internasional dan tujuan UNIDROIT harus diperhatikan dalam penafsiran kontrak

Kontrak tidak perlu dibuat secara tertulis Kontrak tidak tunduk pada persyaratan formal tertentu Perkembangan komunikasi modern memungkinkan transaksi dilakukan tanpa kertas. Kebebasan berkontrak tidak berlaku apabila terdapat mandatory rules yang berasal dari hukum domestik dan dari UNIDROIT sendiri

2. Prinsip itikad baik (good faith) dan transaksi yang jujur (fair dealing)

Setiap pihak dalam transaksi harus menjunjung tinggi prinsip itikad baik dan transaksi yang jujur Bersifat memaksa Ruang lingkup meliputi semua proses dalam transaksi : negosiasi, pembuatan kontrak, pelaksanaan sampai berakhirnya kontrak/transaksi Tujuannya untuk mencapai keadaan yang adil dalam transaksi-transaksi perdagangan internasional

tidak ada ukuran yang jelas tentang bagaimana itikad baik dan jujur itu. Hakim dapat melakukan penilaiannya sendiri. Contoh : A (penjual) melakukan kontrak dengan B (pembeli) tentang pemasangan instalasi jaringan. Setelah 1 tahun B mempelajari jaringan terpasang ternyata ada permasalahan dan tidak diinformasikan oleh A kepada B. B meminta A bertangungjwab tetapi A menolak dengan menyatakan pekerjaan tersebut dilakukan oleh C sebagai afiliasi dari A.

3. Prinsip diakuinya praktik kebiasaan dalam transaksi bisnis sebagai hukum memaksa
Seseorang yang melakukan hubungan hukum kontraktual dengan mitra bisnis di negara lain, dalam praktik harus tunduk pada hukum kebiasaan setempat.

Praktik kebiasaan yang sudah biasa berlaku diantara para pihak secara otomatis akan mengikat para pihak, kecuali apabila mereka secara tegas untuk mengabaikannya.
Kapan suatu praktik kebiasaan berlaku diantara para pihak tergantung pada situasi dan kondisi dari setiap kasus. Namun, suatu praktik yang baru satu kali dilakukan dalam transaksi tidak cukup dianggap sebagai praktik yang sudah berlaku. Dalam praktik kebiasaan harus dikenal secara umum dan dipraktikkan secara rutin dalam praktik perdagangan yang bersangkutan. Para pihak dapat menegosiasikan segala syarat kontrak termasuk penerapan kebiasaan setempat yang berlaku

Praktik kebiasaan yang murni lokal atau hanya diterapkan untuk transaksi domestik saja tidak mengikat untuk mitra transaksi asing.
Suatu praktik kebiasaan tidak dapat diterapkan apabila penerapan kebiasaan tersebut dipaksakan akan terjadi kejanggalan pada transaksi. Contoh : Suatu kebiasaan transaksi perdagangan di negara A bahwa klaim cacat barang hanya bisa dilakukan apabila barang tersebut sudah disahkan oleh agensi pemeriksaan yang diakui secara internasional. Ketika X (pembeli) mengambil barang-barang di pelabuhan tujuan, satu-satunya agensi pemeriksaan yang diakui secara internasional sedang mogok dan memanggil agency lainnya yang beroperasi di pelabuhan terdekat dan membutuhkan biaya yang sangat mahal, maka X tetap dapat mengajukan klaim cacat meskipun barang belum diperiksa agency yang diakui secara internasional tersebut.

4. Prinsip kesepakatan melalui penawaran dan penerimaan atau melalui tindakan


Dasar pemikiran UNIDROIR ; kata sepakat sudah cukup untuk melahirkan kontrak Konsep penawaran dan penerimaan dipergunakan untuk menentukan apakah dan kapankah para pihak mencapai kata sepakat. Dalam kontrak-kontrak yang rumit terkadang dibutuhkan negosiasi yang panjang sehingga menjadi tidak jelas kapan penawaran dan penerimaan terjadi. Tindakan nyata dari maksud para pihak dapat dijadikan ukuran terjadinya kesepakatan. Contoh : A dan B melakukan negosiasi untuk melaksanakan joint venture contract. Negosiasi sangat komprehensif. Dalam negosiasi ada beberapa hal kecil yang belum disepakati, tetapi para pihak telah melaksanakan tindakan-tindakan joint venture. Dalam hal ini kontrak telah terjadi meskipun masih ada hal-hal kecil yang belum disepakati.

Syarat penawaran mengikat secara hukum :


a. adanya persetujuan pihak yang ditawari untuk menutup kontrak melalui penerimaan b. adanya persetujuan pihak yang menawarkan untuk terikat apabila ada penerimaan Kepastian penawaran : 1. ada uraian barang atau jasa yang ditawarkan 2. harga barang atau jasa yang pasti.

Dalam penawaran harus dinyatakan dengan jelas apakah sipembuat penawaran benar-benar ingin mengadakan kontrak atau hanya sekedar mengundang negosiasi.
Kehendak dapat pula dilihat dari kontrak yang digantungkan pada syarat-syarat tertentu.

Pengumuman penawaran tender pemerintah di koran hanyalah sebuah undangan. Kontrak belum tentu terjadi. Tapi jika dalam pengumuman dijelaskan spesifikasi teknis dan dinyatakan penawar terendah akan memenangkan tender, maka dalam hal ini terdapat kepastian keinginan untuk melaksanakan kontrak pada penawar terendah.

5. Prinsip Larangan Bernegoisasi dengan Itikad Buruk


Pasal 2.15 UNIDROIT

Menurut prinsip-prinsip UNIDROIT tanggungjawab hukum telah terbit sejak proses negosiasi
Negosiasi tidak boleh dilakukan dengan itikad buruk Pihak yang bernegosiasi dengan itikad buruk bertanggungjawab atas kerugian yang diderita pihak lain Tanggungjawab atas kerugian meliputi pengembalian biaya dan kerugian atas kehilangan kesempatan untuk melakukan kontrak dengan pihak ketiga

Beberapa contoh itikad buruk :


Bernegosiasi tanpa keinginan untuk melakukan kontrak Bernegosiasi dengan memberikan informasi yang menyesatkan tentang isi dan syarat kontrak Membatalkan penawaran diluar batas waktu yang ditentukan

6. Prinsip Kewajiban Menjaga Kerahasiaan atas Informasi yang Diperoleh pada Saat Negosiasi
Pasal 2.16 UNIDROIT

Para pihak pada dasarnya tidak wajib menjaga kerahasiaan informasi, tetapi terhadap informasi yang sifatnya harus dirahasiakan harus dijaga Apabila disepakati adanya kewajiban kerahasiaan, maka wajib ditaati
Dimungkinkan adanya ganti rugi terhadap pelanggaran kerahasiaan

7. Prinsip Perlindungan Pihak yang Lemah dalam Syarat Baku


Pasal 2.19 s/d 2.22 UNIDROIT

Syarat Baku adalah syarat yang dipersiapkan satu pihak tanpa menegosiasikannya dengan pihak lain
Syarat baku berlaku jika disepakati Para Pihak Syarat baku harus diterima secara tegas oleh pihak mitra kontrak Syarat baku yang secara wajar tidak diinginkan oleh pihak lain baik menyangkut isi, bahasa atau tampilannya adalah tidak mengikat.

7. Prinsip Kontrak yang Mengandung Perbedaan Besar (Gross Disparity) Dapat Dibatalkan
Pasal 3.10 UNIDROIT

Salah satu pihak dapat membatalkan seluruh atau sebahagian syarat individual dari kontrak, apabila kontrak atau syarat tersebut secara tidak sah memberikan keuntungan yang berlebihan kepada salah satu pihak
Ada fakta bahwa pihak lain telah mendapatkan keuntungan secara curang dari ketergantungan, kesulitan ekonomi atau kebutuhan yang mendesak, atau dari keborosan, ketidaktahuan, kekurang pengalaman atau kekurangahlian dalam tawar menawar

8. Prinsip Contra Proferentem dalam penafsiran Kontrak Baku

Pihak yang menggunakan syarat baku yang dipersiapkan terlebih dahulu bertanggungjawab atas risiko ketidakjelasan rumusan yang dibuatnya. Jika syarat kontrak yang diajukan oleh salah satu pihak tidak jelas, maka diberikan preferensi penafsiran yang berlawanan dengan pihak pembuat syarat baku tersebut.

Sebuah kontrak diadakan antara A (Kontraktor) dan B yang memuat ketentuan yang dirancang oleh A dan tidak didiskusikan lebih lanjut. Dinyatakan bahwa kontraktor bertanggungjawab dan harus mengganti rugi kepada pembeli (B) atas semua ongkos dan klaim sehubungan dengan setiap kerugian yang diakibatkan oleh kontraktor, karyawan dan wakilnya. Salah seorang pekerja A pada saat diluar jam kerja bermain dengan menggunakan peralatan milik B dan merusaknya. A menolak bertanggungjawab atas kerusakan tersebut dengan alasan kejadian tersebut di luar jam kerja. A berpendapat bahwa klausula kontrak ditujukan bila kerusakan/kerugian terjadi di dalam jam kerja. Kontrak secara tegas tidak menyatakan bahwa tanggungjawab A dikecualikan jika kerugian akibat pekerjanya terjadi di luar jam kerja. Maka ketentuan penafsiran klausula tersebut dilakukan dengan cara yang tidak menguntungkan A. A harus bertanggungjawab atas kerugian tersebut.

Ketidakcocokan bahasa dapat pula menimbulkan masalah dalam pelaksanaan kontrak komersial. Pasal 4.7 UNIDROIT menentukan bahwa apabila kontrak dibuat dalam dua bahasa atau lebih yang keduanya berlaku, maka jika terjadi ketidakcocokan diantara keduanya, prioritas penafsiran digunakan menurut versi asli dari kontrak itu. Contoh : A (WNI) dan B (WN India) bernegosiasi dan membuat kontrak dalam bahasa Inggris sebelum menterjemahkannya kedalam bahasa masing-masing. Para pihak sepakat bahwa ketiga bahasa tersebut (Indonesia, India dan Inggris) berlaku secara sederajat. Dalam hal terjadi ketidaksesuaian antara teks, maka versi bahasa Inggris yang akan berlaku.

Dapat pula terjadi apabila para pihak melakukan kontrak berdasarkan instrumen yang telah dikenal luas secara internasional seperti INCOTERM dan UCP. Jika terjadi ketidak sesuaian antara versi yang berbeda, maka dapat merujuk pada versi lain yang lebih jelas. Misalnya sebuah kontrak antara perusahaan Meksiko dan Swedia dibuat dalam tiga versi bahasa yang ketiganya berlaku sederajat (Spanyol, Swedia dan Inggris). Kontrak tersebut memuat referensi pada INCOTERM 1990. Jika versi bahasa Perancis dari INCOTERM tersebut lebih jelas dari ketiga versi bahasa yang ada terkait masalah dalam sengketa, maka versi berbahasa Perancis dapat dirujuk.

9. Prinsip Menghormati Kontrak Ketika Terjadi Kesulitan (Hardship)


Pasal 6.2.1 UNIDROIT, apabila pelaksanaan kontrak menjadi lebih berat bagi salah satu pihak, pihak tersebut bagaimanapun juga terikat untuk melaksanakan perikatannya dengan tunduk pada ketentuan tentang kesulitan (hardship) Prinsip mengikatnya kontrak bukan sesuatu yang absolut, apabila terjadi keadaan yang menyebabkan perubahan yang sangat fundamental atas keseimbangan dari kontrak tersebut, keadaan tersebut menjadi situasi yang dikecualikan

8. Prinsip Menghormati Kontrak Ketika Terjadi Kesulitan (Hardship)


Defenisi hardship : peristiwa yang secara fundamental telah mengubah keseimbangan kontrak. Hal ini diakibatkan oleh biaya pelaksanaan kontrak meningkat sangat tinggi atau nilai pelaksanaan kontrak bagi pihak yang menerima sangat menurun (Pasal 6.2.2). Peristiwa tersebut terjadi atau diketahui oleh pihak yang dirugikan setelah penutupan kontrak Peristiwa tersebut tidak dapat diperkirakan secara semestinya oleh pihak yang dirugikan pada saat penutupan kontrak Peristiwa tersebut diluar kontrol dari pihak yang dirugikan Risiko dari peristiwa tersebut tidak diperkirakan oleh pihak yang dirugikan.

Kriteria Hardship
Perubahan keseimbangan kontrak secara fundamental Meningkatnya ongkos pelaksanaan kontrak Menurunnya nilai pelaksanaan kontrak yang harus diterima salah satu pihak

Prinsip umum : adanya perubahaan keadaan tidak mempengaruhi pelaksanaan kontrak dan tidak dapat dijadikan sebagai alasan membatalkan kontrak.
Kecuali perubahan tersebut bersifat sangat fundamental. Contoh : Pada bulan September 1989, A sebuah perusahaan dealer barang elekrtonik yang berlokasi di bekas Republik Demokrasi Jerman telah melakukan kontrak jual beli stok barang dengan B di negara X. Barang seharusnya dikirim oleh B pada Desember 1990. Pada bulan November 1990, A memberitahu kepada B bahwa barang tersebut tidak dapat dikirim ke B di negara X karena setelah penyatuan Jerman, maka tidak terbuka lagi pasar untuk barangbarang yang diimpor dari negara X tersebut. Dalam kasus ini A berhak menerapkan alasan hardship

Alasan hardship juga dapat diterapkan karena adanya perubahan peraturan baru yang mengakibatkan pekerjaan tidak dapat dilakukan atau mengakibatkan ongkos dan syarat yang sangat berat.

Alasan hardship juga dapat diterapkan karena terjadinya kenaikan harga yang dramatis akibat inflasi. Harga yang disetujui semula menjadi melonjak sangat tinggi .

UNIDROIT membedakannya dengan Force Majeure. Force Majeure terkait dengan terjadinya wanprestasi, sedangkan hardship belum terjadi wanprestasi tetapi terjadi kesulitan untuk memenuhi prestasi.

Alasan hardship jtidak dapat digunakan jika pihak yang bersangkutan sebelum kontrak ditutup dapat memperkirakan akan terjadinya suatu kesulitan.

Contoh ; A sepakat memasok minyak mentah kepada B di negara X dengan harga fix price selama 5 tahun. Pada saat kontrak ditutp A mengetahui adanya tensi politik yang tinggi di negara tersebut. Dua tahun kemudian tensi politik tersebut berubah menjadi perang saudara. Perang mengakibat krisis energi dan menyebabkan lonjakan harga minyak yang sangat tinggi,. Berdasarkan fakta tersebut A tidak dapat menggunakan alasan hardship karena keadaan tersebut dapat diperkirakannya sebelum kontrak ditutup.

Alasan hardship secara umum relevan dengan kontrak jangka panjang.

Akibat Hukum dari Hasrdship

Pihak yang dirugikan berhak meminta renegosiasi kontrak. Permintaan tersebut harus diajukan segera dengan menunjukkan dasar-dasarnya Permintaan renegosiasi tidak dengan sendirinya memberikan hak kepada pihak yang dirugikan untuk menghentikan pelaksanaan kontrak Apabila para pihak gagal mencapai kesepakatan dalam jangka waktu yang wajar, masing-masing pihak dapat mengajukan ke pengadilan Apabila pengadilan membuktikan adanya hardship maka pengadilan dapat memutuskan :
1. Memutuskan kontrak pada tanggal dan jangka waktu yang pasti 2. Mengubah kontrak untuk mengembalikan keseimbangan

10. Prinsip Pembebasan Tanggungjawab dalam Keadaan Memaksa (force majeure)


Ketentuan tentang force majeure terkait dengan terjadi wanprestasi. Wanprestasi karena force majeure adalah wanprestasi yang dapat dimaafkan. Pihak yang tidak menerima pelaksaan secara hukum berhak untuk mengakhiri kontrak baik wanprestasi tersebut dimaafkan atau tidak dapat dimaafkan.

10. Prinsip Pembebasan Tanggungjawab dalam Keadaan Memaksa (force majeure)


Pasal 7.1.7 UNIDROIT

1.

Wanprestasi yang dilakukan oleh salah satu pihak dapat dimaafkan apabila pihak tersebut dapat membuktikan bahwa wanprestasinya disebabkan oleh suatu rintangan di luar pengawasannya, dan hal tersebut secara wajar tidak diharapkan akan terjadi Apabila rintangan bersifat sementara, maka pemberian maaf akan berakibat hukum atas jangka waktu dengan memperhatikan akibat dari tintangan pelaksanaan kontrak tersebut.
Pihak yang gagal melaksanakan kontrak tersebut harus menyampaikan pemberitahuan kepada pihak lain tentang rintangan dan akibat terhafap kemampuannya untuk melaksanakan kontrak. Jika pemberitahuan itu tidak diterima oleh pihak lain dalam jangka waktu yang wajar, ia bertanggungjawab atas kerugian akibat tidak diterimanya pemberitahuan tersebut.

2.

3.