Anda di halaman 1dari 2

Patogenesis Pertusis Bordetella pertusis setelah ditularkan melalui sekresi udara pernapasan kemudian melekat pada silia epitel

saluran pernapasan. Mekanisme pathogenesis infeksi oleh Bordetella pertusis terjadi melalui empat tingkatan yaitu perlekatan, perlawanan terhadap mekanisme pertahanan pejamu, kerusakan local dan akhirnya timbul penyakit sistemik. Filamentous Hemaglutinin (FHA , Lymphosithosis Promoting Factor (!"F # "ertusis $o%in ("$ dan protein &'()d berperan pada perlekatan Bordetella pertusis pada silia. *etelah terjadi perlekatan, Bordetella pertusis, kemudian bermultiplikasidan menyebar ke seluruh permukaan epitel saluran napas. "roses ini tidak in+asif oleh karena pada pertusis tidak terjadi bakteremia. *elama pertumbuhan Bordetella pertusis, maka akan menghasilkan toksin yang akan menyebabkan penyakit yang kita kenal dengan whooping cough. $oksin terpenting yang dapat menyebabkan penyakit disebabkan karena pertusis to%in. $oksin pertusis mempunyaiu , subunit yaitu A dan B. $oksin sub unit B selanjutnya berikatan engan reseptor sel target kemudian menghasilkan subunit A yang aktif pada daerah akti+asi en-im membrane sel. .fek !"F menghambat migrasi limfosit dan makrofag ke daerah infeksi. $o%in mediated adenosine diphosphate (A/" mempunyai efek mengatur sintesis protein dalam membrane sitoplasma, berakibat terjadi perubahan fungsi fisiologis dari sel target termasuk lifosit (menjadi lemah dan mati , meningkatkan pengeluaran histamine dan serotonin, efek memblokir beta adrenergic dan meningkatkan aktifitas insulin, sehingga akan menurunkn konsentrasi gula darah. $oksin menyebabkan peradangan ringan dengan hyperplasia jaringan limfoid peribronkial dan meningkatkan jumlah mukos pada permukaan silia, maka fungsi silia sebagai pembersih terganggu, sehingga mudah terjadi infeksi sekunder (tersering oleh *treptococcus pneumonia, H. influen-ae dan *taphylococcus aureus . "enumpukan mucus akan menimbulkan plug yang dapat menyebabkan obstruksi dan kolaps paru. Hipoksemia dan sianosis disebabkan oleh gangguan perukaran oksigenasi pada saat +entilasi dan timbulnya apnea saat terserang batuk. $erdapat perbedaan pendapat mengenai kerusakan susunan saraf pusat, apakah akibat pengaruh langsung toksin ataukah sekunder sebagai akibat anoksia. $erjadi perubahan fungsi sel yang re+ersible, pemulihan tampak apabila sel mengalami regenerasi, hal ini dapat menerangkan mengapa kurangnya efek antibiotic terhadap proses penyakit. 0amun terkadang Bordetella pertusis hanya menyebabkan infeksi yang ringan, karena tidak menghasilkan toksin pertusis. B. pertusis memiliki kemampuan untuk menghambat fungsi sistem kekebalan tubuh inang. $oksin, yang dikenal sebagai toksin pertusis (atau "$1 , menghambat 2 kopling protein yang mengatur kon+ersi adenilat siklase diperantarai A$" untuk AM" siklik, dalam hal ini (cyaA . Hasil akhirnya adalah fagosit mengkon+ersi terlalu banyak A$" untuk siklik AM", yang dapat menyebabkan gangguan pada mekanisme sinyal selular, dan mencegah dari fagosit benar menanggapi infeksi. "$1, sebelumnya dikenal sebagai limfositosis mempromosikan faktor, menyebabkan penurunan dalam masuknya limfosit ke kelenjar getah bening, yang dapat menyebabkan kondisi yang dikenal sebagai limfositosis, dengan limfosit lengkap menghitung lebih dari 3444#5! pada orang dewasa atau lebih 6444#5! di anak(anak. 7nfeksi terjadi terutama pada anak di bawah usia satu ketika mereka tidak diimunisasi atau anak(anak dengan kekebalan memudar, biasanya sekitar usia 88 sampai 86. $anda(tanda dan gejalanya mirip dengan flu biasa9 demam pilek, bersin, batuk ringan, dan kelas rendah. "asien menjadi paling menular selama tahap catarrhal infeksi, biasanya dua minggu setelah batuk dimulai. 7ni mungkin menjadi udara ketika orang batuk, bersin, atau tertawa. :aksin pertusis adalah bagian dari tetanus, difteri, dan pertusis imunisasi (/$a" acellular. Batuk paroksismal mendahului karakteristik suara kokok inspirasi dari pertusis. *etelah mantra, pasien mungkin membuat ;rejan; suara saat bernapas dalam, atau mungkin muntah. <rang dewasa memiliki gejala ringan, seperti batuk berkepanjangan tanpa ;whoop;. Bayi kurang dari enam bulan juga mungkin tidak memiliki teriakan khas. *ebuah mantra batuk bisa berlangsung satu menit atau lebih, menghasilkan sianosis, apnea dan kejang.

0amun, jika tidak cocok batuk, pasien tidak mengalami kesulitan bernapas. Hal ini karena pertusis B. menghambat respon imun, sehingga sangat sedikit lendir yang dihasilkan di paru(paru. Batuk berkepanjangan dapat menyebabkan iritasi dan kadang(kadang batuk menonaktifkan mungkin tidak terdiagnosis pada orang dewasa selama berbulan(bulan.

Anda mungkin juga menyukai