Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

PENGINDERAAN JAUH Keragaman Citra

Josafat Simanjuntak 270110110041

Universivats Padjajaran Fakultas Teknik Geologi Jatinangor 2012/2013

Bab I Pendahuluan

KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat, berkat, dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik. Adapun Judul dari makalah ini adalah Keragaman Citra Penginderaan Jauh.. Sudah jelas bahwa yang ak an di perdalam di sini adalah macam-macam Citra yang dipergunakan sebagai media intepretasi penginderaan jauh seiring perkembangannya. Apakah Pengideraan jauh itu? Bagaimanakah Proses pengambilan data penginderaan jauh? Data apa saja yang diperlukan? Dan apakah manfaat penginderaan jauh ini? Beberapa pertanyaan tersebut diatas pastinya harus dapat terjawab sebelum kita dapat mengaplikasikan Pengideraan jauh, beserta pencitraannya. Dalam membuat makalah yang ditugaskan ini, saya dapat mempersiapkan diri untuk lebih dekat menjadi seorang Geologist. Tentu saja ilmu pengideraan jauh ini benar-benar diperlukan, karena hampir disemua lini ilmu kebumian dan profesi didalam nya memerlukan mata yang dapat melihat jangkauan yang sangat jauh, tanpa adanya kontak langsung dengan objek yang diamati. Jadi bias saya katakana bahwa ilmu penginderaan jauh merupakan ilmu yang fundamental bagi seorang Geologist. Di dalam makalah ini penulis berusaha dengan sebaik mungkin untuk menjelaskas keragaman citra yang dipergunakan dalam pengideraan jauh. Akhir kata, saya menyadari tak ada gading yang tak retak, sehingga makalah ini juga masih jauh dari sempurna, karena hanya Tuhan lah yang sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran dari semua pihak sangat saya terima sebagai acuan bagi tulisan-tulisan berikut nya. Terima kasih. 25 September 2012

Penulis

Bab II Isi

1. PENGINDERAAN JAUH Pengertian Penginderaan Jauh / Remote Sensing Penginderaan jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang obyek, daerah atau gejala dengan cara menganalisis data yang diperoleh dengan menggunakan alat tanpa kontak langsung terhadap obyek, daerah, atau gejala yang dikaji. Dalam penginderaan jauh, obyek yang diindera atau yang ingin diketahui berupa objek di permukaan bumi, dirgantara, atau antariksa. Alat yang digunakan untuk melakukan penginderaan jauh adalah sensor. Sensor berfungsi untuk melacak, mendeteksi, dan merekam suatu objek di bumi dalam daerah jangkauan tertentu. Sensor berupa kamera, scanner, dan radiometer.

Citra Penginderaan Jauh


Citra adalah gambaran suatu gejala atau objek hasil rekaman dari sebuah sensor, baik dengan cara optik, elektrooptik maupun elektronik. Citra dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu : 1. Citra Foto (photographic image)yaitu citra yang yang dihasilkan dari perekaman obyek di permukaan bumi yang menggunakan sensor kamera fotografik. 2. Citra Nonfoto (nonphotographic image)yaitu citra yang dihasilkan dari perekaman obyek di permukaan bumi yang menggunakan sensor nonkamera yang merekam dengan cara memindai/scanning. Beberapa perbedaan antara citra foto dengan cira nonfoto antara lain : No 1 Variabel pembeda Sensor Citra Foto Kamera Citra Non Foto - Non kamera, atas dasar pemindaian- Kamera yang detektornya bukan film Pita magentik, termistor, foto konduktif, foto voltaik Elektronik Parsial

Detektor

Film

3 4 5

Proses perekaman Mekanisme perekaman Spektrum

Fotografik/kimiawi Serentak

Tampak dan perluasannya Tampak perluasannya,

Elektromagnetik

termal serta gelombang mikro

CITRA FOTO HASIL PENGINDERAAN JAUH


adalah gambaran suatu gejala di permukaan bumi sebagai hasil pemotretan/perekaman menggunakan kamera. 1. Citra foto berdasarkan warna yang digunakan a. Citra Foto Warna Asli b. Citra Foto Warna Semu

2. Citra foto berdasarkan posisi sumbu kamera a. Citra Foto Vertikal, yaitu citra foto yang dibuat dengan posisi sumbu tegak lurus terhadap permukaan bumi

b. Citra Foto Condong, yaitu citra foto yang dibuat dengan posisi sumbu kamera miring, dengan sudut kemiringan kamera lebih dari 100. Adadua jenis foto condong yaitu :

- Citra foto agak condong, yaitu jika cakrawala tidak tergambar Citra foto sangat condong, yaitu jika cakrawala tergambar pada foto.

3. Citra foto berdasarkan sudut lipatan kamera Jenis kamera Sudut kecil(narrow angle) Sudut Liputan < 600 Jenis Foto Sudut kecil Sudut normal/sudut standar Sudut lebar Sudut sangat lebar

Sudut normal(normal angle) 600 750 Sudut lebar(wide angle) Sudut sangat lebar(superwide angle) 750 1000 > 1000

4. Citra foto berdasarkan jenis kamera yang digunakan a. Citra foto tunggal, citra foto yang dibuat dengan kamera tunggal b. Citra foto jamak, citra foto yang dibuat pada saat yang sama dan menggambarkan obyek liputan yang sama. Foto jamak dapat dibuat dengan 3 cara :

Multikamera, menggunakan beberapa kamera yang diarahkan secara bersamaan ke satu obyek. Multilensa, menggunakan satu kamera yang memiliki banyak lensa Kamera tunggal berlensa tunggal dengan pengurai warna 5. Citra foto berdasarkan sistem wahananya a. Citra Foto Udara, yaitu citra foto yang dibuat dengan menggunakan wahan yang bergerak di udara misalnya pesawat terbang, helikopter dll b. Citra Foto Satelit, yaitu citra foto yang dibuat dengan menggunakan wahana satelit yang bergerak di luar angkasa. 6. Citra foto berdasarkan Spektrum Elektromagnetik yang digunakan a. Citra Foto Ultraviolet, yaitu citra foto yang dibuat dengan menggunakan spektrum Ultraviolet

b. Citra Foto Otokromatik, yaitu citra foto yang dibuat dengan menggunakan spektrum tampak dari warna biru hingga sebagian warna hijau

c. Citra Foto Pankromatik, yaitu cira foto yang dibuat dengan menggunakan seluruh spektrum tampak

d. Citra Foto Inframerah Asli, yaitu citra foto yang dibuat dengan menggunakan spektrum infamerah

e. Citra Foto Inframerah Modifikasi, yaitu citra foto yang dibuat dengan menggunakan spektrum inframerah dan sebagian spektrum tampak dari warna merah dan sebagian hijau.

Citra Nonfoto Hasil Penginderaan Jauh


Adalah gambar atau citra tentang suatu obyek dipermukaan bumi yang dihasilkan oleh sensor bukan kamera dengan cara memindai (scanning). Prinsip memindai adalah merekam obyek di permukaan bumi dengan mekanisme parsial. Obyek dipermukaan bumi terbagi dalam sub area berupa garis yang membentuk area

seluruhnya. Mekanisme perekaman baris perbaris pada sub area inilah yang di sebut perekaman secara parsial. Citra Nonfoto dibedakan atas dasar : 1. Citra Nonfoto berdasarkan spektrum elektromagnetik yang digunakan a. Citra Radar Citra yang dibuat dengan menggunakan spektrum gelombang mikro dan sumber tenaga buatan

b. Citra Inframerah Termal Citra yang dibuat dengan menggunakan spektrum inframerah termal

c. Citra Gelombang Mikro Citra yang dibuat dengan menggunakan spektrum gelombang mikro 2. Citra Nonfoto berdasarkan sensor yang digunakan a. Citra Tunggal : Citra yang dibuat dengan menggunakan sensor tunggal

b. Citra Multispektral :Citra yang dibuat dengan menggunakan sensor saluran jamak 3. Citra Nonfoto berdasarkan wahana yang digunakan a. Citra Dirgantara : Citra yang dibuat dengan menggunakan wahana yang beroperasi di udara atau dirgantara b. Citra Satelit :Citra yang dibuat dengan menggunakan wahana yang beroperasi di antariksa/luar angkasa. 1. Citra Foto

Foto Pankromatik Hitam Putih Film pankromatik peka terhadap panjang gelombang 0,36 m 0,72 m), kepekaannya hamper sama dengan mata manusiakarena kesan ronanya sama dengan mata yang memandang obyek aslinya.

Contoh penggunaan Citra satelit berdasarkan karakteristiknya: a) Landsat Landsat 5, diluncurkan pada 1 Maret 1984, sekarang ini masih beroperasi pada orbit polar, membawa sensor TM (Thematic Mapper), yang mempunyai resolusi spasial 30 x 30 m pada band 1, 2, 3, 4, 5 dan 7. Sensor Thematic Mapper mengamati obyek-obyek di permukaan bumi dalam 7 band spektral, yaitu band 1, 2 dan 3 adalah sinar tampak (visible), band 4, 5 dan 7 adalah infra merah dekat, infra merah menengah, dan band 6 adalah infra merah termal yang mempunyai resolusi spasial 120 x 120 m. Luas liputan satuan citra adalah 175 x 185 km pada permukaan bumi. Landsat 5 mempunyai kemampuan untuk meliput daerah yang sama pada permukaan bumi pada setiap 16 hari, pada ketinggian orbit 705 km (Sitanggang, 1999 dalam Ratnasari, 2000). RBV:Merupakan instrumen semacam televisi yang mengambil citra snapshot dari

permukaan bumi sepanjang track lapangan satelit pada setiap selang waktu tertentu. MSS: Merupakan suatu alat scanning mekanik yang merekam data dengan cara men-scanning permukaan bumi dalam jalur atau baris tertentu TM : Juga merupakan alat scanning mekanis yang mempunyai resolusi spectral, spatial dan radiometric.

Data termal diperlukan untuk studi proses-proses energi pada permukaan bumi seperti variabilitas suhu tanaman dalam areal yang diirigasi.

b) IKONOS Diluncurkan pada September 1999, Citra Satelit Bumi Space Imagings IKONOS menyediakan data citra yang akurat, dimana menjadi standar untuk produk-produk data satelit komersoal yang beresolusi tinggi. IKONOS memproduksi citra 1-meter hitam dan putih (pankromatik) dan citra 4-meter multispektral (red, blue, green dan near-infrared) yang dapat dikombinasikan dengan berbagai cara untuk mengakomodasikan secara luas aplikasi citra beresolusi tinggi (Space Imaging, 2004) Data IKONOS dapat digunakan untuk pemetaan topografi dari skala kecil hingga menengah, tidak hanya menghasilkan peta baru, tetapi juga memperbaharui peta topografi yang sudah ada. Penggunaan potensial lain IKONOS adalah precision agriculture; hal ini digambarkan pada pengaturan band multispektra, dimana mencakup band infra merah dekat (near-infrared). mencapai 1 meter.

Gambar: Citra Tsunami Banda Aceh 2004

c) Quickbird Setelah kegagalan EarlyBird, satelit Quickbird diluncurkan tahun 2000 oleh DigitalGlobe. Namun, kembali gagal. Akhirnya Quickbird-2 berhasil diluncurkan 2002 dan dengan resolusi spasial lebih tinggi, yaitu 2,4 meter (multispektral) dan 60 sentimeter (pankromatik). Citra Quickbird beresolusi spasial paling tinggi dibanding citra satelit komersial lain. Selain resolusi spasial sangat tinggi, keempat sistem pencitraan satelit memiliki kemiripan cara merekam, ukuran luas liputan, wilayah saluran spektral yang digunakan, serta lisensi pemanfaatan yang ketat. Keempat sistem menggunakan linear array CCD-biasa disebut

pushbroom scanner. Scanner ini berupa CCD yang disusun linier dan bergerak maju seiring gerakan orbit satelit. Jangkauan liputan satelit resolusi tinggi seperti Quickbird sempit (kurang dari 20 km) karena beresolusi tinggi dan posisi orbitnya rendah, 400-600 km di atas Bumi. Berdasarkan pengalaman penulis, dengan luas liputan 16,5 x 16,5 km, data Quickbird untuk 4 saluran ditambah 1 saluran pankromatik telah menghabiskan tempat 1,8 gigabyte. Data sebesar ini disimpan dalam 1 file tanpa kompresi pada resolusi radiometrik 16 bit per pixel. Semua sistem menghasilkan dua macam data: multispektral pada empat saluran spektral (biru, hijau, merah, dan inframerah dekat atau B, H, M, dan IMD), serta pankromatik (PAN) yang beroperasi di wilayah gelombang tampak mata dan perluasannya. Semua saluran pankromatik, karena lebar spektrumnya mampu menghasilkan resolusi spasial jauh lebih tinggi daripada saluran-saluran multispektral. Kehadiran Quickbird dan Ikonos telah melahirkan eforia baru pada praktisi inderaja yang jenuh dengan penggunaan metode baku analisis citra berbasis Landsat dan SPOT. Klasifikasi multispektral standar berdasarkan resolusi spasial sekitar 20-30 meter seringkali dianggap kurang halus untuk kajian wilayah pertanian dan urban di Jawa. Model-model dengan knowledge-based techniques (KBT) yang berbasis Landsat dan SPOT umumnya tidak tersedia dalam menu baku di perangkat lunak komersial, dan lebih sulit dioperasikan. Sehingga di produksi kamera 60 cm bila dipadukan dengan saluran multispektralnya akan menghasilkan pan-sharped image, yang mampu menonjolkan variasi obyek hingga marka jalan dan tembok penjara. d) NOAA Data AVHRR terutama digunakan peramalan cuaca harian dimana memberikan data yang lebih detail daripada Meteosat. Selain itu, juga dapat diterapkan secara luas pada banyak lahan dan perairan. Data AVHRR data digunakan untuk membuat Peta Suhu Permukaan Laut (Sea Surface Temperature maps/SST Maps), monitoring iklim, studi El Nino, deteksi badai, deteksi arus laut untuk memandu kapal-kapal pada dasar laut dengan ikan berlimpah, dan lainlain. Peta Tutupan Awan (Cloud Cover Maps) yang berasal dari data AVHRR, digunakan untuk edtimasi curah hujan, dimana dapat menjadi input dalam model pertumbuhan tanaman. Selain

itu, hasil pengolahan lain dari data AVHRR adalah Normalized Difference Vegetation Index Maps (NDVI). Peta ini memberikan indikasi tentang kuantitas biomassa (tons/ha). Data NDVI, digunakan oleh FAO untuk Sistem Peringatan Dini Keamanan Pangan (Food Security Early Warning System (FEWS). Data AVHRR sangat tepat untuk memetakan dan memonitor penggunaan lahan regional dan memperkirakan keseimbangan energi (energy balance) pada areal pertanian (Janssen dan Hurneeman, 2001).

Bab III Penutup Kesimpulan


Penginderaan jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang obyek, daerah atau gejala dengan cara menganalisis data yang diperoleh dengan menggunakan alat tanpa kontak langsung terhadap obyek, daerah, atau gejala yang dikaji. Citra adalah gambaran suatu gejala atau objek hasil

rekaman dari sebuah sensor, baik dengan cara optik, elektrooptik maupun elektronik
Ada berbagai metode pengumpulan data dalam Berbagai jenis citra, tergantung mana wahana yang sesuai dengan instrument. Sehingga memperoleh hasil yang maksimal

Saran
Butuh keahlian khusus agar mampu mengoperasikan Instrumen Pencitraan, dan tentu saja Intsrumen Pencitraan harus sesuai dengan tujuan nya, atau dilakukan keadaan geomorfologi yang sesuai

Dapus
http://mpgisamalia.blogspot.com/ http://inderaja.blogspot.com/2007/11/citra-penginderaan-jauh.html http://heru-cakra-heru.blogspot.com/2011/12/aplikasi-data-penginderaan-jauh-dan.html geo.arc.nasa.gov