Anda di halaman 1dari 8

Gangguan Sistem Pencernaan

Prolaps Ani pada Kucing


Tugas Program Profesi Dokter Hewan Rotasi Interna Hewan Kecil di Klinik Program Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya

Oleh: Reza Rusandy Putra NIM. 130130100111007

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2014

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ......................................................................................................... 1 DAFTAR ISI ..................................................................................................................... 2 I. PENDAHULUAN ........................................................................................................ 3 II. PEMBAHASAN STUDI KASUS .................................................................................. 4 III. KESIMPULAN ........................................................................................................... 7 DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 8

I. PENDAHULUAN

Prolaps Ani Prolaps rektum pada prinsipnya terkait dengan endoparasitism atau enteritis pada hewan muda, dan tumor atau hernia perineum pada hewan setengah baya dan lebih tua. Namun, kondisi yang menyebabkan tenesmus dapat menyebabkan prolaps rektum. Kelemahan jaringan ikat perirectal dan perianal, kontraksi peristaltik tidak terkoordinasi, dan peradangan atau edema membran mukosa rektum mempengaruhi terjadinya prolaps rektum. Prolaps rektum bisa terjadi lengkap atau tidak lengkap. Prolaps lengkap hanya melibatkan mukosa. Setiap bagian dari seluruh lingkar anorektal mungkin akan terpengaruh. Prolaps tidak lengkap melibatkan seluruh lapisan dinding rektum dan seluruh lingkar. Jumlah eversi dapat meningkat karena tenesmus yang terus menerus (Fossum, 2002). Prolaps ani atau rektum adalah suatu kondisi di mana satu atau lebih lapisan rektum kucing keluar melalui anus, kondisi ini memungkinkan kotoran dari luar masuk ke dalam tubuh. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk gangguan pencernaan, saluran kencing, atau sistem genital (Madiba, 2005). Menurut Marceau (2005), definisi lain dari prolaps rektum adalah penonjolan sebagian dari rektum atau mukosa rektum melalui anus, biasanya disebabkan oleh gangguan yang mendasarinya. Hampir setiap gastrointestinal atau kondisi urogenital (distosia, urolithiasis) yang menyebabkan tenesmus dapat menyebabkan prolaps rektum. Masalah ini paling sering terlihat pada kucing muda. Kelemahan sfingter anal atau jaringan ikat perianal (hernia perineum) juga dapat mempengaruhi kucing. Kucing yang mengalami sembelit juga dapat mengalami prolaps rektum karena adanya kontraksi yang terus menerus dari rektum. Hal ini penting bagi dokter hewan untuk menyadari predisposisi penyebab karena keberhasilan operasi sering berkorelasi dengan perawatan yang tepat dari penyebab utama. Penyebab Prolaps Ani Gangguan sistem pencernaan yang menyebabkan diare, mengejan saat buang air besar, adanya cacing atau parasit lain dalam sistem pencernaan, dan radang usus kecil atau besar dapat menyebabkan terjadinya prolaps ani. Gangguan pada sistem kemih dan genital, seperti peradangan atau pembesaran prostat, radang kandung kemih, batu kemih, dan tenaga kerja abnormal atau proses melahirkan. Faktor predisposisi penyakit ini adalah tumor pada colon, rektum, dan anus. Faktor yang lain adalah adanya benda asing, sistisis, hernia perianal, prostatitis, obstruksi urethtra dan distokia. Hewan akan mudah mengalami prolaps akibat dyschezia dan tenesmus yang terus menerus. Gejala Prolaps Ani Prolaps ani terjadi ketika seluruh lapisan jaringan anal / dubur, bersama dengan lapisan dubur, menonjol melalui pembukaan anal eksternal. Penonjolan lapisan rektum melalui pembukaan anal eksternal, disebut sebagai prolaps anal. Kucing dengan prolaps rektum akan menunjukkan gejala tegang terus-menerus secara sementara melalui buang air besar. Sebagian kecil dari lapisan rektum akan terlihat selama ekskresi, setelah itu akan mereda. Selain itu juga akan ada massa terusmenerus jaringan menonjol dari anus kucing. Pada tahap kronis prolaps lengkap, jaringan ini mungkin hitam atau biru dalam penampilan. Hewan akan menunjukkan dyschezia, tenesmus yang berkaitan dengan penyakit anorektal atau inflamasi kolon (typhilitis, colitis, proctitis). Pada pemeriksaan fisik tampak adanya masa silindris panjang yang keluar dari rektum, pada prolaps rektum parsial hanya mukosa rektum yang keluar.

II. PEMBAHASAN STUDI KASUS

Tanggal terjadi Jenis / Nama hewan Signalemen

: 18 Juli 2013 : Kucing : Jantan, merah hitam, usia 9 bulan

Anamnesa

kucing persian, berusia 9 bulan, diare yang berkepanjangan selama kurang lebih tiga hari yang mengakibatkankan keluarnya sebagian dari rektum karena keseringan tenesmus. Reposisi sudah dilakukan namun tidak dapat bertahan. Sehingga perlu dilakukan pemotongan bagian rektum untuk menghilangkan bagian yang prolaps.

Penanganan Prolaps Ani : Proses pada penanganan prolaps ani meliputi 3 tahapan umum, yaitu : 1. Manajemen Preoperasi Menurut Tobias (2010), manajemen preoperasi untuk prolaps ani meliputi faktor penyebab dari prolaps ani, palpasi rektal, dan reposisi prolaps ani itu sendiri. Pada kasus ini, hewan tersebut mengalami diare yang berkepanjangan selama kurang lebih tiga hari yang mengakibatkankan keluarnya sebagian dari rektum karena keseringan tenesmus. Setelah dilakukan palpasi rektal dan dicoba untuk melakukuan reposisi dari prolapsnya, ternyata prolaps tersebut tidak bisa untuk direposisi dan harus dilakukan operasi yaitu amputasi sebagian rektum yang keluar. Sebelum dilakukan operasi, hewan penderita prolaps ani diterapi terlebih dahulu untuk menghentikan diare. Terapi yang diberikan yaitu injeksi antibiotik dan vitamin B komplek, antidiare, dan diberikan diet khusus untuk intestinal, serta diberikan terapi cairan. Setelah dua sampai tiga hari pasien sudah tidak mengalami diare, maka dilakukan operasi. Manajemen preoperasi yang dilakukan antara lain : a. Pemeriksaan fisik hewan yakni pemeriksaaan keadaan umum meliputi pemeriksaan temperatur, berat badan, auskultasi dan perkusi b. Pemeriksaan melalui mesin X-ray (rontgen) yang bertujuan untuk melihat dan mengetahui kondisi rongga abdomen, hal ini untuk memastikan prosedur penetapan langkah operasi sesuai dengan gangguan yang terlihat pada hasil rontgen. c. Pemberian premedikasi dilakukan secara IM. Jenis premedikasi yang diberikan yaitu atropine sulfat dengan dosis 0,04ml/kg BB, 15 20 menit sebelum pemberian anesthesi. Pemberian premedikasi bertujuan untuk memperlancar induksi anesthesi, mengurangi sekresi kelenjar ludah dan bronkus, meminimalkan jumlah obat anestetik, mengurangi mual dan munta pasca bedah, mengurangi isi cairan lambung, dan mengurangi reflek yang membahayakan.

d. Preparasi di daerah operasi yang meliputi pencukuran rambut disekitar anus untuk menjaga kesterilan, Setelah dilakukan pencukuran rambut, dibersihkan dengan alkohol untuk mencegah kontaminasi, hal ini sudah sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Tobias (2010) yakni, pencukuran rambut pada hewan yang akan dioperasi dapat mengguakan pisau cukur manual atau otomatis, sesuai dengan ketebalan bulu pada masing masing hewan tersebut, setelah selesai dapat dibersihkan menggunakan alkohol atau antiseptik lainnya untuk mencegah kontaminasi. e. Pemberian anastesi umum kombinasi ketamin 0,1mg/kg BB dan sedatif jenis xylazine dengan perbandingan 1:1. Menurut Asosiasi Obat Hewan Indonesia (AOHI) (2009), Ketamin adalah anastesi lokal yang digunakan untuk pengobatan tunggal sebagai zat pengendali untuk diagnostik, prosedur pembedahan singkat yang tidak memerlukan relaksasi otot otot skeletal. Pengobatan gabungan : (kombinasi dengan Atropin dan Xylazin) dalam prosedur pembedahan seperti Ovariectomi, Ovariohisterektomi, Kastrasi, Seksio Sesaria, Ekstarsi Gigi dan Prolaps. Dosis yang digunakan pada kucing 0,08 0,2 ml/kg BB (IM), atropin 0,05 0,1 mg/kg BB (IM). f. Hewan kemudian diletakkan di atas meja operasi, dengan posisi rebah dorsal. Posisi hewan di meja operasi bergantung dari jenis penyakit dan tindakan operasi yang akan dilakukan, selanjutnya adalah dilakukan pemasangan surgical drapes dan difiksasi dengan menggunakan towel clamp di semua sisinya. g. Selanjutnya adalah, keempat kaki hewan difiksasi, hal ini dilakukan untuk menjaga jika efek dari obat bius yang diberikan habis atau terbangunnya hewan setelah selesai proses operasi dan meronta pada saat dilakukannya tindakan operasi. h. Dilakukan pemasangan infus di salah satu kaki hewan, biasanya pada kaki kiri depan hewan, pada vena radialis untuk memudahkan jika suatu keadaan mendadak seperti tekanan jantung meningkat yang memerlukan injeksi antibiotik atau obat lainnya. 2. Operasi Teknik operasi prolaps ani yang diterapkan antara lain adalah sebagai berikut : Sebelum dilakukan operasi ovariohisterektomi maupun jenis operasi lainnya, dilakukan pemasangan infus dengan cairan RL. Tindakan ini bertujuan untuk mencegah jika terjadi keadaan kritis dan memerlukan injeksi antibiotik secepatnya, dapat dilakukan melalui selang infus, juga untuk menjaga kandungan cairan tubuh hewan. Menurut Rudi (2006) RL merupakan cairan yang paling fisiologis yang dapat diberikan pada kebutuhan volume dalam jumlah besar. RL banyak digunakan sebagai replacement therapy, antara lain untuk syok hipovolemik, diare, trauma, dan luka bakar. Laktat yang terdapat di dalam larutan RL akan dimetabolisme oleh hati menjadi bikarbonat yang berguna untuk memperbaiki keadaan seperti asidosis metabolik (Soenarjo, 2006). Hewan dibaringkan pada bagian ventral dengan posisi bagian caudal lebih tinggi. Tujuannya adalah agar pada saat operasi dilakukan operator (dokter) dapat dengan mudah melakukan operasi, karena mengingat bagian yang operasi adalah bagian caudal. Operasi dimulai dengan membuat empat buah stay sutures pada rectum - 1 cm dari anus yang menembus ke dua lapisan prolaps. Hal ini sama halnya dengan pendapat Tobias (2010) dengan memasukkan jarum di persimpangan mukokutan, masuk melalui medial kearah kantung anal sehingga jaringan tidak terhalang atau rusak, jarak yang digunakan antar jahitan adalah 1cm. Kemudian dipotong/diamputasi sebagian rektum yang keluar, bagian distal jahitan. Menurut Tobias (2010), potong sepertiga atau setengah dari sekitar lingkar prolapse dengan scapel blade, potong caudal rektum (distal) dengan jahitan menerus, sejajar dengan persimpangan anocutaneous, menggunakan lubricated syringe. Bisa juga dengan mulai memotong dengan incisi rektum dengan gunting sepanjang prolaps ke titik caudal (distal) dengan jahitan menerus, kemudian dipotong sekitar sebagian dari lingkar jaringan prolaps (Gambar 2)

a.

b.

c.

d.

Gambar 2. Bagian rektum yang diamputasi e. Stay suture sedikit ditegangkan dan dibuat jahitan simple interupted disekeliling rectum dengan jarak antara masing masing jahitan cm (Gambar 3).

Gambar 3.

(a) Dibuat jahitan terputus sederhana (b) Amputasi dan jahitan sudah selesai

f. Stay suture dicabut dan bagian yang baru dijahit dimasukkan ke anus dengan hati hati (Gambar 4).

Gambar 4. Bagian yang dijahit didorong masuk ke dalam anus (a) bagian masih terlihat (b) bagian sudah tidak terlihat,sudah masuk ke anus. g. Buat jahitan purse string di sekeliling anus untuk memastikan rektum tidak keluar lagi. 3. Pasca Operasi Menurut Coe (2006) tindakan postoperasi perlu mendapatkan perhatian khusus untuk menghindari komplikasi dari prolaps ani, komplikasi yang mungkin timbul adalah perdarahan pada bagian abdomen, infeksi pada bagian jahitan, bahkan muncul kembali prolaps ani. Tindakan pasca operasi yang diterapkan di klinik hewan Veterina Satwa adalah dengan pemberian antibiotik jenis ampicilin dengan dosis 20mg/kg BB dan

vitamin B12 0,4 cc. Selain itu obat yang diberikan adalah asam tolfenamic dengan dosis 4 mg/kg BB, omega 3 dan lysin HCl selama lima hari. Ampicilin diberikan untuk mencegah infeksi bakteri pasca operasi (Musthaq, 2011). Vitamin B 12 berfungsi dalam metabolisme, mencegah terjadinya anemia dan melindungi sistem saraf. Asam tolfenamic berfungsi sebagai analgesik, yaitu mengurangi rasa sakit pasca operasi. Sementara Omega 3 berfungsi sebagai anti radang, menambah nafsu makan dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Tindakan postoperasi yang juga diberikan yakni pemasangan elizabeth collar pada hewan untuk menghindari rusaknya bekas jahitan karena gigitan dan jilatan dari hewan tersebut. Elizabeth collar atau disingkat menjadi E-Collar adalah benda berbentuk corong yang dipakai pada leher hewan, pada masa penyembuhan. Kalung berbentuk corong ini diberi nama demikian karena bentuknya menyerupai bentuk kerah baju pada masa Elizabeth dulu (sekitar tahun 1558 1603). Fungsi E-Collar adalah untuk mencegah hewan agar tidak menjilat atau menggigit, atau juga mencakar bagian tubuhnya yang terluka dan dalam masa penyembuhan. Perangkat medis ini didesian secara khusus agar si kucing tetap dapat makan dan minum, dan hanya membatasi gerak mulutnya agar tidak dapat menjilati tubuhnya atau lehernya, atau mencegah kakinya untuk mencakar bagian leher dan kepala yang sedang terluka (Musthaq, 2011). Selain memberikan obat pasca operasi, pengontrolan diet pakan dari hewan pasca operasi juga diperlukan. Hewan pasca operasi prolaps ani dipuasakan selama 24 48 jam, tujuannya adalah untuk menetralisir kerja dari usus yang bisa menyebabkan kambuhnya prolaps ani akibat gerakan peristaltik usus. Selama dua hari pasien hanya diterapi dengan cairan infus asering (Gambar 5) yang berfungsi untuk mencegah terjadinya dehidrasi (Rudi, 2006). Pada hari ketiga setelah operasi, hewan pasca operasi prolaps ani diberikan diet pakan untuk intestinal (intestinal diet), dan obat untuk pelunak feses dioctyl sodium sulfosuccinate selama satu minggu.

Gambar 5. Terapi cairan pasca operasi (asering) III. KESIMPULAN

Kucing persia umur 9 bulan mengalami prolaps ani akibat diare berkepanjangan selama 3 hari dan mengakibatkankan keluarnya sebagian dari rektum karena keseringan tenesmus. Reposisi telah dilakukan namun tidak efektif. Dilakukan prosedur operasi penghilangan bagian rektum yang keluar. Hasil akhir kondisi kucing telah membaik dan berangsur pulih dan normal.

DAFTAR PUSTAKA

Asosiasi Obat Hewan Indonesia (AOHI). 2009. Indeks Obat Hewan Indonesia (IOHI) Edisi VII. Asosiasi Obat Hewan Indonesia. Jakarta Coe, R.J. 2006. Feline Ovariohisterektomi: Comparison of Flank and Midline Surgical Approaches . Vol 159 : 303 313. Fossum, T. W. Small Animal Surgery Third Edition. 2002. Chapter 19 Surgery of the Digestive System 312-321. Madiba T.E, 2005. Surgical Management of Rectal prolapse. Arc Surg; 140; 63 73 Marceau M. 2005. Complete Rectal Prolaps in Young Patients: Psychiartic disease of poor outcome;7; 360 - 364 Mushtaq, A. Memon . 2011. Pyometra in Small animal. Merck Veterinary. Rudi P, M Mukhlis. 2006. Pengaruh Pemberian Cairan Ringer Laktat Dibandingkan NaCl 0,9% Terhadap Keseimbangan Asam-Basa Pada Pasien Sectio Caesaria Dengan Anastesi Regional. Tesis. 14-15 Soenarjo. 2006. Fisiologi Cairan. Simposium Tatalaksana Cairan, Elektrolit dan Asam-Basa (Stewart Approach). Semarang Tobias, M. K. 2010. Manual of Small Animal Soft Tissue Surgery. 2010. Singapore. 347 352.