Anda di halaman 1dari 2

Komentar 1: Saya menambahkan dibagian etiologi dari syok neurogenik.

Kelompok menyebutkan bahwa anastesi dapat menyebabkan syock neurogenic. Menurut Carol Porth (2011) Ada beberapa obat anastesi umum yang dapat menyebabkan reaksi seperti syok neurogenik, khususnya pada saat fase induksi karena disebabkan adanya gangguan pada fungsi sistem saraf simpatis. Anastesi spinal atau cidera spinal diatas area midthoracic dapat mengganggu aliran transmisi dari pusat vasomotor. Hal tersebut dapat menyebabkan munculnya reaksi seperti syok neurogenik. Prognosis: Menurut (Mack, 2013) Pada pasien dengan servikal SCI biasanya lebih sering terkena syok neurogenik. Pada kenyataannya pasien dengan torakolumbal SCI biasanya tidak menyebabkan syok neurogenik. Selain itu, menurut American Spinal Injury Association pada komplit injuri dan pada injuri dengan grade yang lebih tinggi cenderung menyebabkan syok neurogenik yang lebih berat. Terjadinya neurogenik syok telah terbukti menunda pasien untuk dioperasi, hal tersebut dapat menyebabkan hasil yang lebih buruk. Syok neurogenik dapat terjadi selama 1-6 minggu setelah terjadinya injuri. Autonomic dysreflexia, tekanan darah istirahat rendah, hipotensi ortostatik sangat umum terjadi selama fase kronis, bahkan sampai neurogenik syok telah teratasi. Sumber: Mack, E. H., 2013. Neurogenic Shock. The Open Pediatric Medicine Journal, Volume 7, pp. 16-18. Porth, Carol. 2011. Essentials of Pathophysiology: Concepts of Altered Health States. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins Komentar 2: Saya mengomentari (menambahkan) manajemen keperawatan pada kasus syok neurogenik. Pada pasien yang mendapatkan anastesi spinal atau anastesi epidural, penting untuk dilakukan peninggian dan mempertahankan kepala pada posisi 300 untuk mencegah syok neurogenik. Peninggian kepala dapat membantu mencegah penyebaran agen anastesi naik hingga ke spinal cord. Pada pasien curiga spinal cord injury, syok neurogenik dapat dicegah dengan mengimobilisasi pasien dengan hati-hati untuk mencegah kerusakan lebih lanjut pada spinal cord. Intervensi keperawatan ditujukan untuk mendukung fungsi kardiovaskuler dan fungsi neurogenik biasanya sampai episode neurogenik syok sementara teratasi. Pemakaian stoking anti embolisme dan meninggikan kaki tempat tidur dapat meminimalkan mengalirnya darah ke kaki. Mengalirnya darah dapat meningkatkan risiko pembentukan trombus. Selain itu, perawat juga harus memantau pasien setiap hari dari kemungkinan nyeri pada ekstremitas bawah, kemerahan, kelemahan dan kehangatan. Jika pasien mengeluhkan nyeri dan

pengkajian obyektif pada area betis mencurigakan, pasien harus dievaluasi kemungkinan terjadinya trombosis vena dalam.Pemberian heparin atau heparin rendah molekul (Lovenox) seperti yang diresepkan, pemakaian stocking anti-embolisme atau penggunaan tekanan pneumatik pada kaki dapat mencegah terjadinya pembentukan trombus. ROM pasif pada ekstremitas yang diimobilisasi dapat membantu mendorong sirkulasi (Smeltzer, et al., 2009) Smeltzer, S. C., Bare, B. G., Hinkle, J. L. & Cheever, K. H., 2009. Texbook of MedicalSurgical Nursing. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.