Anda di halaman 1dari 40

Sri maryani, S.

Gz

Berdasarkan dalamnya luka bakar diklasifikasikan sbb : Luka bakar derajat I : Hanya mengenai lapisan permukaan kulit atau epidermis saja. Luka bakar derajat II : Mengenai sebagian tebal kulit yakni epidermis dan korium. Luka bakar derajat III : Mengenai seluruh tebal kulit/dermis kadangkadang mengenai pula jaringan lemak, otot atau tulang.

BAYI

1-5 TAHUN

6-12 TAHUN

Kepala Tangan Badan

21 % 9,5 % 16 %

19 % 9,5 % 16 %

15 % Ki/Ka 9,5 % Depan/ belakang 16 % Ki /Ka 17 %

Kaki

Depan + KI/ Ka belakang 15 % masing masing

Ditandai dengan shock hypovolemik Prioritas pertahankan hidup/homeostasis Cardiac Output Konsumsi Oxygen Tek Darah Perfusi Jaringan Suhu Tubuh Metabolik Rate

Catecholamines Glucocorticoids Glucagon Release of cytokines, lipid mediators Acute phase protein production

Kehilangan cairan dan bahan-bahan yang terlarut didalam cairan Meningkatnya kemungkinan mikroorganisma untuk memasuki jaringan adipose. Sekitar 20% dari protein tubuh dapat hilang dalam dua minggu pertama luka bakar

1. Kehilangan volume plasma yang harus digantikan oleh cairan dan elektrolit 2. Ketidakseimbangan homeostatis 3. Perubahan-perubahan hormonal Meningkatnya produksi katekolamine, yang berpengaruh terhadap sistem syaraf dan sistem cardiovaskuler, metabolic rate, suhu tubuh dan jaringan lunak. Meningkatnya produksi glukokortikoid yang akan berpengaruh terhadap perubahan metabolisme karbohidrat dan protein. Meningkatnya glukagon yang mengakibatkan peningkatan katabolisme dan hiperglikemia

4.

Perubahan biokimia Meningkatnya glukoneogenesis Meningkatnya proteolisis Meningkatnya ureagenesis Menurunnya lipolisis Menurunnya penggunaan keton bodi

5. Perubahan kebutuhan gizi Meningkatnya penggunaan simpanan tubuh karena adanya hipermetabolik, hiperkatabolik, meningkatnya kebutuhan zat gizi, terutama protein, vitamin A dan C, Zink; serta meningkatnya kehilangan zatzat gizi ( melalui urin dan integumental).

Pada Fase Ebb : Diet dikesampingkan (atau diberikan dibawah energy expenditure) karena metabolisme tubuh terganggu. Pemberian parenteral/enteral tergantung kondisi pasien Pada Fase Flow : Metabolisme tubuh sudah kembali normal, diet sesuai dengan kebutuhan

Riwayat gizi untuk melihat kecukupan intake makanan Data antropometri : Kenaikan berat badan dari cairan biasa terjadi pada fase resusitasi dan akan dimobilisasi secara perlahan dalam waktu dua minggu Berat badan kering (dry weight) sangat perlu didapatkan pada saat pasien datang ke rumah sakit sebelum mengalami edema Apabila berat badan tidak bisa didapat di rumah sakit gunakan berat badan sebelum sakit. Ukur berat badan setiap hari pada saat dihidroterapi (pasien dalam kondisi tidak berpakaian

Serum albumin Serum albumin akan turun dalam beberapa hari setelah luka bakar Penurunan yang cepat disebabkan oleh peningkatan kehilangan albumin microvasculature kedalam daerah yang luka. Dukungan gizi yang mencukupi sangat penting untuk memperbaiki serum albumin Serum albumin juga dipengaruhi oleh hal-hal selain gizi yaitu : Dehidrasi atau infus albumin akan meningkatkan hasil pengukuran Overhidrasi, edema , operasi, kehilangan darah dan sepis sangat berkaitan dengan adanya hipoalbuminemia

Serum transferin, untuk menentukan keadaan malnutrisi lebih bagus daripada serum albumin karena waktu paruhnya yang lebih pendek , dipengaruhi oleh factor diet dimana dipengaruhi oleh fluid over load, iron overload dan infeksi. Pengukuran mingguan sangat dianjurkan. Thyroxine-binding pre albumin (transthyretin)

PES : inadequate nutrient intake related to burns of 45% of total body surface (mostly upper extremities) as evidenced by weight loss of 10 lb in past 14 days Assessment Data : Analysis of preferences, dislike and allergies ; intake compared to measure or estimated requirements ; confirmation of severity and extent of burn from medical record ; record weight

Intervention : If needs cannot be met by oral route due to extent and severity of burn, patient will need nutrition support or feeding assistance. Eliminate distractions at mealtime and avoid lab work and painful procedures before meals. Discourage use of emptycalorie foods or beverages, and use nutritient-dense beverages with medication passes

A. Kebutuhan Energi 1.Rumus Curreri (untuk anak > 3 tahun dan dewasa : (25 X BB) + (40 X % luas luka bakar) Ket : BB = berat badan idealnya 2. Polk untuk anak-anak < 3 tahun: (60 X BB) + (35 X % Luas Luka bakar) 3. Cara praktis : 40-60 kkal/kgBB/hari

Harris Benedict : BEE X Aktifitas X Faktor Stress Kebutuhan Energy Basal = Basal Energy Expenditure (BEE) Men: 66,47 + (13,75 x weight) + (5 x height) (6,76 x age) Women: 655,1 + (9,56 x weight) + (1,85 x height) (4,67 x age) Faktor stress (Bessey, 1996) Luka bakar 20-29% = 1,50 - 1,69 Luka bakar 30-39% = 1,70 - 1,84 Luka bakar 40-59% = 1,85 1,99 Luka bakar 50-60% = 2,0

B. Kebutuhan karbohidrat
Karbohidrat merupakan sumber energi utama pada pasien luka bakar, supaya protein tidak digunakan. Namun pemberian karbohidrat perlu dibatasi maksimum 5 mg/kg/menit, selebihnya glukosa tidak dioksidasi melainkan diubah menjadi lemak. Keadaan lipogenesis ini meningkatkan konsumsi oksigen dan produksi karbondioksida dan memicu hiperglikemia serta menyebabkan diuresis osmotik, dehidrasi dan gangguan respirasi.

C. Kebutuhan Protein Kebutuhan protein pasien luka bakar meningkat karena adanya kehilangan protein melalui urin & luka, proses glukoneogenesis, serta proses penyembuhan luka bakar. Dianjurkan pemberian protein yang bernilai biologis tinggi. Kebutuhan protein = 20-25% total kalori (1.53 g prot/kg). Pada anak = 2,5 3 gram protein/ kg BB/hari.

Menurut Rumus Davies dan Lilijedahl:


Dewasa (18 tahun) : (1 gram X kg BBI) + 3 gram X % total luas luka bakar) Anak-anak (1tahun) : (kebutuhan protein menurut umur X kg BBI) + (3 gram X % total luas luka bakar)

Asam amino rantai cabang tidak mempunyai dampak yang menguntungkan bagi pasien luka bakar. Asam amino esensial dan arginine dapat meningkatkan imunitas sel serta mempercepat proses penyembuhan luka. Arginine juga mempengaruhi produksi hormon anabolik. Pemberian makanan tinggi protein perlu disertai pemantauan fungsi ginjal termasuk kadar ureum darah, kreatinin serum dan keseimbangan cairan

D. Kebutuhan Lemak Lemak merupakan sumber energi tinggi. Pemberian lemak yang tinggi tanpa memperhatikan komposisi lemak dapat menyebabkan penurunan respon imunologi dan peningkatan kerentanan terhadap infeksi. Diet tinggi asam lemak -3 dapat meningkatkan respon imun karena menghambat produksi prostaglandin E2 dan leukotrin, serta meningkatkan toleransi thd tube feeding

Lemak dapat diberikan mulai dari 15%-20% total kalori, disertai monitoring terhadap fungsi imun, toleransi penerimaan makan, serum trigliserid. Pemberian lemak rantai cabang (MCT) secara teoritis lebih mudah teroksidasi sehingga dapat meningkatkan sintesis protein oleh hati dan mengurangi katabolisme protein serta memenuhi kebutuhan energi.

E. CAIRAN & ELEKTROLIT


Terjadinya kehilangan volume sirkulasi akibat hilangnya volume plasma ke rongga interstitial dan jaringan cedera luka bakar, yang dapat menyebabkan burn edema dan merupakan penyebab utama burn shock.

24-48 jam pertama setelah cedera luka bakar,manajemen luka bakar ditujukan untuk penggantian cairan dan lektrolit. .

Setengah dari volume cairan yang dibutuhkan selama 24 jam diberikan pada 8 jam pertama. Kebutuhan cairan dihitung berdasarkan usia, berat badan dan luas luka bakar. Kehilangan cairan per hari diperkirakan : 2,0-3,1 ml/kg BB X 24 jam X (% luas luka bakar)

F. Kebutuhan vitamin dan mineral

Vitamin C mempengaruhi sintesis jaringan kolagen dan meningkatkan fungsi imun serta untuk proses penyembuhan luka. Dosis yang dianjurkan : 2 X 500 mg/hari Vitamin A juga diperlukan untuk fungsi imun dan epitelisasi. Rekomendasi vitamin A : 5000 IU per 1000 kalori zat gizi makanan enteral. Pasien luka bakar sering mengakami hiponatremia, hipokalemia, hipokalsemia (pd luka bakar > 30%)

Hipofosfatemia sering terjadi pada pasien luka bakar berat terutama yang mendapat resusitasi cairan jumlah besar, infus glukosa, dan mendapat pengobatan antasid untuk pencegahan stres ulcer. Untuk mencegah iritasi lambung perlu diberikan suplementasi fosfor dan magnesium per parenteral. Suplemen Zink sulfat 220 mg/ hari dianjurkan karena zink merupakan kofaktor energi dan sintesis protein.

Tergantung dari kemampuan individu pasien. Umumnya pasien luka bakar < 20% dapat menerima makanan dalam diet makanan biasa tinggi energi tinggi protein. Use high-calorie, high-protein diet 5-6 small meals and snacks (peanut butter cookies, brownies, cake, shakes, pasteurized eggs in milk-shakes or eggnog)

TPN diberikan pada pasien luka bakar dengan persistent ileus (peristaltik usus hilang atau koordinasi yang kurang efektif). Pemberian makanan enteral dini (4-12 jam setelah masuk rumah sakit) terbukti berhasil menurunkan respons hiperkatabolisme, mengurangi pelepasan katekolamin & glukagon, mengurangi kehilangan berat badan serta memperpendek masa inap di rumah sakit.

Dinilai dengan mengevaluasi proses penyembuhan luka, keberhasilan pencangkokan kulit, dan parameter status gizi lainnya.
Kehilangan berat badan lebih dari 10 % akan menghambat proses penyembuhan luka dan meningkatnya ekstravasasi cairan dan edema.

Imbang nitrogen sering dipakai sebagai parameter evaluasi kecukupan asupan gizi, namun nilai ini tidak akurat tanpa menghitung kehilangan protein pada luka. Estimasi kehilangan nitrogen luka bakar : < 10% luka yang terbuka = 0,02 N/kg/hari 11%-30% luka yang terbuka = 0,05 N/kg/hari > 31% luka yang terbuka = 0,12 N/kg/hari Kehilangan 1 gram nitrogen equivalen dengan kehilangan 30 gram lean body mass

Discuss importance of the balance between appetite, nutritional intake and physical activity Review the fact that fat is high in energy while low in volume. Fat is helpful in normalizing elimination, however, excesses may negatively affect immunocompetence Explain that adequate intake of fiber is important

The familys attitude toward patients dietary intake should be firm but also patient and understanding Discuss problem to monitor and report, such as fever or wound drainage Offer a written care plan home use

Educate about food safety issues. Reducing infections is very important Meticulus hand washing will be essential

Bula pada telapak tangan karena memegang dandang panas, luka ini digolongkan ke dalam luka bakar derajat dua, karena epidermis berada diatas luka

luka bakar derajat dua dalam, pada anak yang tersiram kopi panas, luka berwarna merah muda, lunak pada penekanan, dan tampak basah, sensasi nyeri sulit ditentukan pada anak.

lula bakar derajat tiga, pada anak yang memegang pengeriting rambut luka kering tidak kemerahan dan berwarna putih