Anda di halaman 1dari 15

Mahkamah Agung (MA) (Supreme Court)

Oleh: I Gusti Ngurah Santika, SPd Terkait dengan Mahkamah Agung telah ditegaskan merupakan salah satu pelaku kekuasaan kehakiman yang merdeka dalam melakukan tugasnya, kemudian ditentukan secara tegas dalam UUD 1945 (lihat juga ketentuan Pasal 1 ayat (2) UU No. 48 Tahun 2009), di samping terdapat pula Mahkamah Konstitusi yang juga merupakan pelaku kekuasaan kehakiman yang merdeka dalam menjalankan tugas dan fungsinya, bahkan kedua lembaga tersebut kedudukan sejajar dalam UUUD 1945 (lihat juga ketentuan Pasal 1 ayat (3) UU No. 48 Tahun 2009). UUD 1945 setelah mengalami amandemen, ternyata telah merubah ketentuan tentang Mahkamah Agung, untuk itu hasil dari perubahan tersebut adalah sebagai berikut. BAB IX KEKUASAAN KEHAKIMAN Pasal 24 1. Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakan hukum dan keadilan. 2. Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi. 3. Badan-badan lain yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman diatur dalam undang-undang (kursif penulis). Sebelum adanya perubahan terhadap UUD 1945, berkaitan dengan pengaturan Mahkamah Agung di Bab X tentang Kekuasaan Kehakiman dalam ketentuan Pasal 24 dan 25 UUD 1945, ternyata hanya terdiri dari dua pasal disertai pula dengan dua ayat. Pasal beserta ayat sebagaimana dimaksud di atas dapat dilihat di bawah ini. Pasal 24 1. Kekuasan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan lain-lain badan kehakiman menurut undang-undang. 2. Susunan dan kekuasaan badan-badan kehakiman itu diatur dengan undang-undang. Pasal 25 Syarat-syarat untuk menjadi dan untuk diperhentikan sebagai hakim ditetapkan dengan undang-undang (kursif penulis).

Hasil amandemen UUD 1945 telah merombak kedudukan dan fungsi dari kekuasaan kehakiman yaitu lebih mempertegas lagi tentang kemerdekaan kekuasaan kehakiman, dengan menyatakan bahwa kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakan hukum dan keadilan. Ketentuan ini kemudian akan lebih menegaskan kedudukan Mahkamah Agung, sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman yang tidak dapat di intervensi oleh kekuatan apapun, untuk menjalankan tugasnya sesuai dengan amanat dari UUD 1945, guna menegakan hukum dan keadilan. Ketentuan yang sama, yaitu berkaitan dengan kekuasaan kehakiman yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan, dapat pula kembali kita temui dalam UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman. Dalam ketentuan Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tersebut menyatakan bahwa : Kekuasaan Kehakiman adalah kekuasaan negara yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila dan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, demi terselenggaranya Negara Hukum Republik Indonesia (kursif penulis). Adanya ketentuan seperti tersebut di atas, tentunya akan berbeda dengan sebelum adanya amandemen terhadap UUD 1945, yang sebelumnya tidak secara tegas menyatakan bahwa kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan merdeka, atau dengan kata lain bahwa tidak ada satu pasal pun yang secara tegas menyatakan bahwa kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka. Namun, jika kita lihat kembali ke dalam UUD 1945 sebelum di amandemen, berkaitan dengan kemerdekaan kekuasaan kehakiman ternyata hanya dapat kita temui dalam Penjelasan UUD 1945 sebelum dihapus yang menyatakan bahwa. Kekuasaan kehakiman ialah kekuasaan yang merdeka, artinya terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah. Berhubung dengan itu, harus diadakan jaminan dalam undangundang tentang kedudukan para hakim (kursif penulis). Agar hakim dapat menjalankan tugasnya dengan bebas, tenang, tentram serta agar peradilan terlaksana secara fair, menurut hukum, tidak memihak, tidak semena-mena dan adil, maka perlu adanya jaminan (Mertokusumo,2011;135). Dalam pasal 24 UUD 1945 tersebut ditegaskan bahwa kekuasaan kehakiman adalah sebuah kekuasaan yang independen, terutama untuk membuat sebuah keputusan tanpa adanya pengaruh darimanapun, baik legislatif maupun eksekutif, masyarakat dan pers serta lain-lain di luar badan peradilan dalam menjalankan tugas konstitusionalnya. Terkait dengan kekekuasaan kehakiman yang merdeka, Penjelasan UU No. 14 Tahun 1970 menyatakan bahwa Kekuasaan Kehakiman yang merdeka ini mengandung pengertian di dalamnya Kekuasaan Kehakiman yang bebas dari campur tangan pihak kekuasaan Negara lainnya, dan kebebasan dari paksaan, direktiva atau rekomendasi yang datang dari pihak extra judiciil, kecuali dalam hal-hal yang diijinkan oleh undang-undang. Kebebasan dalam melaksanakan wewenang judiciil tidaklah mutlak sifatnya, karena tugas dari pada Hakim adalah untuk menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila dengan jalan menafsirkan hukum dan mencari dasar-dasar serta azas-azas yang jadi landasannya, melalui perkara-perkara yang dihadapkan kepadanya, sehingga keputusannya mencerminkan perasaan keadilan Bangsa dan Rakyat Indonesia. Tujuannya kemerdekaan kekuasaan kehakiman adalah untuk tegaknya

hukum dan keadilan, serta sebagai prasyarat utama untuk terwujudnya negara hukum yang berkedaulatan rakyat berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Menurut Mahmud MD (2010;87) bahwa kebebasan lembaga peradilan dari campur tangan kekuatan di luarnya merupakan masalah esensial dalam penegakan hukum. Jadi, prasyarat utama untuk tegaknya hukum adalah bebasnya badan peradilan dari campur tangan di luar kekuasaan kehakiman. Karena jika badan peradilan dicampuri urusannya dalam menegakan hukum dan keadilan, yang terjadi hanyalah jatuhnya keadilan ke dalam kesewenang-wenangan hakim, yang kemudian tercermin dari putusannya, yang tentunya tidak dapat memenuhi rasa keadilan. Untuk itulah Najih (2008;8) kemudian menyatakan bahwa dalam menjalankan tugasnya, hakim tidak boleh memihak kepada siapapun kecuali kepada kebenaran dan keadilan. Dengan demikian, jelas dinyatakan bahwa untuk tegaknya hukum dan keadilan diperlukan adalah adanya jaminan terhadap peradilan yang bebas dan merdeka serta tidak memihak pada siapapun kecuali hanya kepada kebenaran dan keadilan. Tidak memihaknya kekuasaan kehakiman dalam menyelenggarakan peradilan dapat dilihat kemudian dari putusan-putusan yang dihasilkan, tentunya putusan hakim tersebut tidak bertentangan dengan undang-undang serta memperhatikan pula rasa keadilan yang hidup di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu, kekuasaan kehakiman yang merdeka merupakan jaminan dalam menegakan hukum demi tercapainya keadilan. Karena kekuasaan kehakiman yang merdeka, merupakan pencerminan daripada suatu negara untuk dianggap sebagai negara hukum, yang menempatkan hukum sebagai derajat tinggi, terutama dalam menegakan hukum untuk mencapai keadilan. Bahkan, Utama (2007;34) dengan tegas menyatakan bahwa badan peradilan di negara hukum, merupakan sub sistem hukum yang paling kentara sekaligus, menjadi wujud nyata bekerjanya hukum. Pernyataan di atas tidaklah berlebihan, dikarenakan bahwa keputusan badan peradilan merupakan kata akhir bagi para pencari keadilan, dengan demikian pada akhirnya, semua keputusan penentu berada pada tangan hakim, sebagai organ yudikatif yang memberi keputusan hukum atas proses hukum selama ini yang dijalani oleh para pencari keadilan. Lebih lanjut, dapat dikatakan bahwa ujung tombak daripada negara hukum adalah terletak pada kekuasaan kehakiman yang merdeka dan mandiri. Walaupun mungkin aparat penegak hukum yang lainnya dalam menjalankan kekuasaannya ternyata tidak mampu menegakan hukum sebagaimana yang dikehendaki oleh masyarakat, namun dengan adanya kemerdekaan hakim dalam menjalankan tugasnya, tentunya akan lebih mampu untuk mengurangi lunturnya keadilan. Lembaga peradilan yang merdeka merupakan upaya pencegahan terhadap kekuasaan sewenang-wenang daripada negara, yang memang telah terbukti dalam lintasan sejarah. Bahkan, lebih tegas lagi Huijbers (2011;87) menyatakan bahwa prinsip kedaulatan kekuasaan yudikatif sangat mendorong perkembangan negara hukum. Untuk itu, ketidakberpihakan kekuasaan kehakiman merupakan pedoman di dalam menjalankan tugasnya, sebagaimana di amanatkan oleh UUD 1945 untuk tercapainya negara hukum (Pasal 1 ayat (3) UUD 1945). Negara hukum yang dimaksud di sini adalah negara hukum yang berdasarkan Pancasila bertujuan mewujudkan tata kehidupan negara dan bangsa, yang tentram aman, sejahtera, dan tertib, dalam mana kedudukan hukum warga negara dalam masyarakat dijamin, sehingga tercapai keserasian, keseimbangan dan keselarasan antara kepentingan masyarakat

(Soemitro,1998;1-2). Seomitro dalam pernyataannya telah memberikan pedoman untuk menjalankan kekuasaan kehakiman yang merdeka, yaitu selalu berpedoman dan bercermin pada nilai-nilai luhur yang menjadi kesepakatan bangsa, yaitu Pancasila. Tentunya keputusan yang diambil oleh hakim dalam menjalankan tugasnya tidak akan terlepas dari kelima nilai tersebut di atas, sebagai dasar untuk mengambil keputusan, dengan tujuan untuk mewujudkan tegaknya hukum dan keadilan. Jika dituruti kelima sila tersebut sebagai acuan dalam pertimbangan untuk mengambil keputusan, niscaya terkait dengan kemerdekaan kekuasaan kehakiman akan selalu tercermin kemudian dalam setiap keputusannya yang bersifat objektif, serta mampu mencerminkan independensinya dalam menegakan hukum dan keadilan, untuk tercapainya negara hukum yang demokratis. Lebih lanjut terkait dengan kemerdekaan kekuasaan kehakiman, maka Azhary (tt;97) memberikan pengertian kemerdekaan yudisial sebagai kemerdekaan dari segala macam bentuk pengaruh dan campur tangan kekuasaan lembaga lain, baik eksekutif maupun legislatif. Tentunya, tidak hanya dari eksekutif maupun legislatif yang dapat kemudian menjadi sumber dari ketidak merdekaan hakim di dalam menjalankan tugasnya, namun mungkin dapat saja disebabkan oleh kekuasaan lainnya seperti masyarakat, pers, serta kekuatan ekonomi. Namun, tidak kurang pentingnya untuk disebutkan adalah dengan cara mengurangi penyebab seperti di atas, yaitu berupa keberanian hakim sebagai modal dalam menegakan hukum dan keadilan, merupakan salah satu syarat utama untuk merdekanya kekuasaan kehakiman dari pengaruh luar. Mertokusumo (2006;46) memandang bahwa asas kebebasan peradilan merupakan dambaan setiap bangsa. Yang dimaksudkan dengan kebebasan peradilan atau hakim ialah bebas untuk mengadili dan bebas dari campur tangan dari pihak ekstra yudisiil. Pendapat dari Mertokusmo tersebut di atas merupakan suatu pendapat yang sifanya paling luas, dari berbagai pendapat sebelum-sebelumnya dengan menyatakan bebas dari campur tangan dari pihak ekstra yudisiil. Dengan demikian, jika intervensi kemudian datang dari dalam kekuasaan yudisial maka hal tersebut akan bisa dibenarkan. Dalam pada itu dapatlah dicontohkan kemudian terutama terkait dengan bidang tingkatan peradilan dalam mengambil keputusan, misalnya dapat saja putusan dari pengadilan negeri yang dikarenakan adanya banding kemudian dinyatakan batal oleh pengadilan tinggi yang merupakan pengadilan lebih tinggi, kemudian ternyata keputusan dari pengadilan tinggi tersebut berlanjut kembali dengan adanya permintaan kasasi yang dapat saja kemudian dibatalkannya keputusan dari pengadilan tinggi tersebut oleh Mahkamah Agung, tiada lain dikarenakan MA merupakan puncak daripada keempat peradilan yang ada di bawahnya. Ketentuan kemerdekaan kekuasaan kehakiman dari luar, dapat pula kita temukan dalam ketentuan Pasal 3 ayat (2) UU No. 48 Tahun 2009, bahwa. Segala campur tangan dalam urusan peradilan oleh pihak lain di luar kekuasaan kehakiman dilarang, kecuali dalam hal-hal sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (kursif penulis). Dengan demikian, campur tangan oleh badan peradilan yang lebih tinggi terhadap peradilan yang lebih rendah dengan membatalkan keputusannya tersebut dapatlah dibenarkan

kemudian. Ini merupakan suatu upaya mekanisme dalam melakukan pengawasan terhadap badan peradilan yang ada di bawah Mahkamah Agung dalam menjalankan kekuasaan. Kemudian ada pula tujuan lainnya yaitu merupakan suatu upaya untuk mencapai unifikasi hukum serta penyamaan persepsi dalam hukum. Dengan demikian, jelaslah bahwa mekanisme seperti itu tidaklah kemudian dikatakan telah mengurangi serta mempengaruhi kebebasan hakim dalam mengambil keputusannya. Dalam hal ini berarti tidak dibenarkan untuk mempengaruhi hakim baik dengan melalui tekanan, paksaan maupun karena kekuasaan yang dimilikinya sehingga hakim merasa tidak bebas dalam memberikan keputusan (Afandi,1981;65). Tidak lain tujuan utamanya adalah agar pengadilan benar-benar dapat menjadi benteng terakhir tegaknya hukum dan keadilan (Nasution,2007;6). Karena peradilanlah merupakan tempat yang terakhir bagi pencari keadilan untuk meminta keputusan yang adil tanpa dipengaruhi oleh pihak lain. Karena pengaruh dari pihak lain dalam peradilan dapat saja kemudian menyebabkan hakim terpengaruh untuk memutuskan suatu perkara yang dihadapkan kepadanya. Bahkan diharapkan peradilan mampu memenuhi semua harapan dari para pencari keadilan, bukannya sebaliknya yaitu mempersulit bahkan menghambat dan merintanginya untuk memperoleh keadilan. Pengadilan membantu pencari keadilan dan berusaha mengatasi segala hambatan dan rintangan untuk dapat tercapainya peradilan yang sederhana, cepat, dan biaya ringan (kursif penulis) (Pasal 4 ayat (2) UU No. 48 Tahun 2009). Dalam pada itu, akan berbeda sekali dengan UU No 19 Tahun 1964, yang kemudian dalam ketentuan undang-undang tersebut diketahui bahwa antara lainnya menyatakan untuk memberikan wewenang kepada Presiden, dalam beberapa hal untuk dapat turut campur tangan terkait soal-soal pengadilan. Terkait dengan adanya UU No. 19 Tahun 1964, menurut Lubis (1987;197) merupakan suatu penyimpangan dari prinsip bahwa kekuasaan kehakiman harus independent yaitu lepas dari pengaruh kekuasaan eksekutif dan legislatif, consideren UU itu, menilai UU No 19 Tahun 1964 itu sebagai memuat ketentuan-ketentuan yang bertentangan dengan UUD 1945. Dengan demikian, undang-undang yang dibentuk tersebut sebenarnya adalah sangat bertentangan dengan konstitusi, walaupun dalam kenyataan telah ditentukan oleh konstitusi bahwa undang-undang tersebut dibuat oleh lembaga demokrasi, namun jika ternyata bertentangan dengan prinsip hukum terutama dengan kebebasan kehakiman adalah harus dibatalkan atau dapat dinyatakan batal demi hukum. Sehingga, Supriyanto (2004;10) kemudian berpendapat bahwa the Independence of Judiciary is core element of supremacy of law and democracy) yang sangat didambakan, dapat terwujud. Walaupun untuk dapat mewujudkan independensi kekuasaan kehakiman sangatlah tidak mudah untuk mengukurnya, namun dapatlah kemudian dilihat daripada keputusan-keputusan yang tentunya disertai pertimbanganpertimbangan hakim yang dikeluarkannya untuk menjawab pertanyaan para pencari keadilan. Peran Lembaga Peradilan yaitu untuk menjamin penerapan hukum dalam masyarakat dapat berlangsung dengan baik dan mencapai sasaran (Perwita dan Yani,2011;114). Lebih lanjut bagi negara yang meletakan rakyat sebagai sumber kedaulatan, maka berdasarkan pemikiran tersebut masyarakat kemudian dapatlah melakukan kontrol terhadap proses peradilan, apakah kemudian dalam melaksanakan tugasnya hakim dapat mencerminkan kemerdekaannya untuk menegakan

hukum dan keadilan. Oleh karena itulah, kemudian dalam ketentuan dari Pasal 13 ayat (1) dan (1) UU No. 48 Tahun 2009, pada intinya mengamanatkan agar semua sidang pemeriksaan dalam proses peradilan dilaksanakan terbuka untuk umum, bahkan juga termasuk putusannya haruslah kemudian diucapkan di depan pengadilan yang terbuka untuk umum. Apabila hal tersebut tidak dituruti maka berakibat batalnya putusan yang diambil oleh hakim. Sidang yang tertutup memang dapat saja dibenarkan, apabila kemudian dalam undang-undang menentukannya dengan tegas, seperti berkaitan dengan kesusilaan, perceraian, dll. Perlu ditegaskan kembali berkaitan dengan kekuasaan kehakiman, yang tidak hanya dilakukan oleh Mahkamah Agung, seperti sebelum diamandemennya UUD 1945. Karena ketentuan Pasal 24 ayat (2) UUD 1945 setelah amandemen, ternyata menentukan bahwa selain adanya Mahkamah Agung, ternyata terdapat Mahkamah Konstitusi yang berada di sampingnya serta memiliki peran sebagai pelaku kekuasaan kehakiman, bahkan pada dasarnya memiliki kedudukan sama pula. Ketentuan yang sama dapat dijumpai kemudian dalam ketentuan dari Pasal 18 UU No. 48 Tahun 2009 yang mengatur tentang pelaksana kekuasaan kehakiman, yaitu Mahkamah Agung dengan keempat badan peradilan yang berada di bawahnya, serta terdapat Mahkamah Konstitusi yang berdiri di sampingnya, tentunya kedudukannya terpisah dengan Mahkamah Agung selain adanya perbedaan tugas dan wewenang lainnya, seperti apa yang memang telah ditentukan dalam UUD 1945. Dengan demikian, terdapat dua lembaga negara yang pada dasarnya merupakan pelaksana daripada kekuasaan kehakiman. Namun, bedanya adalah berupa tugas dan kewenangan yang telah ditentukan di dalam UUD 1945, termasuk pula dalam hal ini berkaitan dengan struktur dari keempat peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung tidaklah dimiliki oleh Mahkamah Konstitusi. Perlulah kemudian untuk diketahui selanjutnya terkait dalam menjalankan kekuasaannya, yaitu Mahkamah Agung, kemudian dalam kenyataannya terdapat lembaga negara lainnya yang bertugas pula untuk menjalankan kekuasaan kehakiman, yang struktural ternyata tidak berada di bawahnya atau dengan kata lain bahwa pada intinya kedua lembaga negara tersebut tidaklah memiliki hubungan, karena memang keduanya lembaga negara tersebut terpisah satu sama lain menurut UUD 1945. Sehingga jika kita simak kembali ketentuan dari Pasal 24 ayat (2) UUD 1945 terlihatlah bahwa dari rumusan ini kemudian dapat disimpulkan bilamana kekuasaan kehakiman ternyata terbagi dalam 2 (dua) cabang, yaitu cabang peradilan biasa (ordinary court) yang berpuncak pada MA dan cabang peradilan konstitusi yang dijalankan oleh MK (Wasito dkk,2010;593). Dengan kata lain, bahwa reformasi di bidang hukum (amandemen UUD 1945) telah menempatkan Mahkamah Agung tidak lagi satu-satunya kekuasaan kehakiman, tetapi Mahkamah Agung hanya salah satu pelaku kekuasaan kehakiman (Triwulan dan Widodo,2011;83). Berkaitan dengan Mahkamah Agung sebagai salah satu pelaku kekuasaan kehakiman yang merdeka dengan empat badan peradilan yang berada di bawahnya. Maka setelah reformasi UUD 1945, berkaitan dengan kekuasaan kehakiman, dalam sistem ketatanegaraan Indonesia juga diperkenalkan sebuah lembaga negara baru yang bertugas melaksanakan kekuasaan kehakiman yaitu Mahkamah Konstitusi, yang ditentukan juga merupakan pelaksana kekuasaan kehakiman

yang merdeka. Menurut Asshiddiqie (2006;41) bahwa memang benar Mahkamah Konstitusi dan Mahkamah Agung adalah lembaga independen yang sama sekali terpisah dari cabang kekuasaan legislatif dan eksekutif oleh karena itu, dalam menjalankan fungsi peradilan (rechtsprekende functie) dan fungsi pengaturan (regelende functie), kedua mahkamah ini bersifat independen dari segala bentuk intervensi. Fatmawati (2005;17) kemudian menyatakan Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman, merupakan lembaga negara yang dijamin kemerdekaannya dalam UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Dengan demikian, ketentuan kemerdekaan kekuasaan kehakiman tentunya sangat penting bagi Mahkamah Agung di dalam menjalankan tugas dan kewenangannya sesuai dengan UUD 1945 agar kemudian tercipta negara hukum yang bersifat demokratis. Karenanya, Manan dan Magnar (1997;40) menyatakan bahwa baik menurut paham kedaulatan (demokrasi) maupun paham negara berdasarkan atas hukum (der rechtsstaat atau the rule of law, kekuasaan kehakiman yang bebas, merupakan unsur mutlak untuk menjamin terselenggaranya pemerintahan yang berkedaulatan rakyat dan berdasarkan atas hukum. Tanpa adanya kemerdekaan bagi kekuasaan kehakiman, yang kemudian diselenggarakan oleh Mahkamah Agung, maka kedaulatan rakyat akan mudah tergelincir sehingga menjadi anarki. Dalam melaksanakan seluruh tugas dan fungsi kekuasaan kehakiman, hakim diwajibkan untuk tetap mempertahankan kemandirian sistem peradilan. Ini artinya bahwa asas imparsial dan bebas merdeka itu tidak boleh digunakan sebagai perisai dalam melindungi anasir-anasir negatif yang mungkin saja bermain ketika peradilan memutus perkara (Asshiddiqie dan Syahrizal,2012;91). Ini membuktikan bahwa kekuasaan kehakiman ternyata begitu rentan terhadap intervensi dari kekuasaan-kekuasaan lain, yang pada akhirnya menginginkan agar kekuasaan kehakiman menjadi tidak independen dalam menjalankan fungsinya. Oleh karena itu, untuk menghadapi tekanan-tekanan penguasa terhadap lembaga peradilan merupakan suatu keniscayaan, yang harus selalu dilakukan oleh lembaga peradilan terutama hakim agar tetap independen dalam memutus kasus. Kekuasaan lainnya akan selalu mencoba untuk melakukan intervensi terhadap kekuasaan kehakiman, tidak lain dikarenakan bahwa peradilan merupakan suatu kekuasaan (dalam arti functie), yang berdiri sendiri berdampingan dengan kekuasaan lainnya (Basah,1985;28). Kekuasaan dimaksud adalah lembaga kekuasaan eksekutif, legislatif, serta partai politik, pers dan lain-lainnya yang sewaktuwaktu dapat saja kemudian mengintervensi daripada kekuasaan kehakiman. Berkaitan dengan kekuasaan kehakiman, khususnya Mahkamah Agung dalam menjalankan tugasnya yang berat sebagai suatu lembaga negara bertujuan untuk menegakan hukum dan keadilan, maka diperlukan orang-orang yang bijaksana untuk kemudian menjadi hakim agung dalam menjalankan tugasnya yang mulia. Sebutan atau kata Agung mencerminkan betapa tinggi nilai lembaga, sekaligus terkandung pengertian betapa besar kewajiban yang diletakan pada lembaga tersebut untuk menegakan keadilan (Ranadireksa,2009;223). Oleh karenanya, tumpuan utama yang diletakan oleh rakyat melalui UUD 1945, kepada Mahkamah Agung haruslah kemudian dilaksanakan dengan konsekuen. Tidak lain disebabkan tanpa itu, hukum yang sebenarnya menjadi tumpuan dalam mencari keadilan, tidak akan mampu memberikan suatu perlindungan yang nyata bagi rakyat sebagai pemegang kedaulatan sebagamana amanat dari

UUD 1945. Untuk menegakan keadilan, maka diperlukan hakim yang benar-benar memiliki integritas, serta dapat memahami amanat yang dibebankan kepadanya secara konstitusional. Bahkan, menurut Setiyono (2008;33) bahwa hakim harus mengadili menurut hukum dan menjalankan dengan kesadaran akan kedudukan, fungsi dan sifat hukum. Untuk itu, perlukan hakim yang jujur dan berani dalam menegakan hukum, yang dalam kenyataannya memang sebenarnya diamanatkan oleh lembaganya yang tentunya merdeka, sehingga benar-benar mampu memberikan keputusan yang sifanya objektif, serta dapat memenuhi harapan para pencari keadilan. Sekalipun putusan hakim yang diambil belum tentu sesuai dengan ketentuan yang ada dalam undang-undang, namun bisa saja karena hakim tersebut memiliki perasaan keadilan, sehingga kemudian dapat memberi dasar-dasar putusan yang dapat diterima, serta dipertanggungjawabkan tidak hanya secara yuridis, sosial, serta moral, namun tetap dengan menjungjung tinggi Tuhan Yang Maha Esa. Bahkan, dalam Pasal 10 ayat (1) UU No. 48 Tahun 2009 dinyatakan, Pengadilan dilarang menolak untuk memeriksa, mengadili, dan memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas, melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya. Hakim wajib menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat (kursif penulis) (Pasal 5 ayat (1) UU No. 48 Tahun 2009). Berkaitan dengan struktur organisasi Mahkamah Agung, maka dapat dikatakan bahwa Mahkamah Agung merupakan puncak dari keempat peradilan yang berada di bawahnya yaitu lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer dan lingkungan peradilan tata usaha negara. Bahkan, Mahkamah Agung merupakan badan peradilan yang tertinggi daripada peradilan yang ada di bawahnya (lihat Pasal 20 UU No. 48 Tahun 2009). Asshiddiqie (2003;34) menyatakan ditinjau dari segi hubungan hakim dalam kelembagaan tersebut bahwa hubungan antar satu hakim dengan hakim yang lain besifat horizontal, tidak ada hubungan vertical atasan dan bawahan. Lebih lanjut menurutnya semua pendapatnya tersebut timbul dari doktrin kebebasan atau kemerdekaan hakim, yaitu setiap individu hakim dalam menjalankan tugas utamanya sebagai hakim yang bersifat bebas dan merdeka tidak bertanggung jawab kepada atasannya. Menurut Kelsen (2011;390) bahwa para hakim biasanya bebas yakni, mereka hanya tunduk kepada hukum dan tidak tunduk kepada perintah atau intruksi dari organ yudikatif atau administratif yang lebih tinggi. Hal ini dikarenakan, ke atas hakim bertanggung jawab secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa dan ke bawah bertanggungjawab secara hukum. Bahkan, dengan adanya doktrin kebebasan kekuasaan peradilan, yang kemudian menurut Soepomo (2005;67) bahwa di mana undang-undang memberi peraturan, hakim adalah bebas di dalam menentukan keputusannya. Terkait dengan peradilan yang secara struktural berada di bawah Mahkamah Agung maka Kusnardi dan Sarigih (1986;84) berpendapat bahwa hubungan Peradilan Agama, Militer dan Tata Usaha Negara merupakan peradilan khusus, karena mengadili perkara-perkara tertentu, sedangkan Peradilan Umum adalah peradilan bagi rakyat pada umumnya mengenai baik perkara pidana maupun perkara perdata. Karena dalam peradilan militer yang terkait di sana adalah berkenaan dengan kepentingan militer, sedangkan peradilan agama adalah peradilan yang khusus yang berkaitan dengan agama Islam, sedangkan peradilan

tata usaha negara merupakan berkaitan dengan tindakan penyelenggara tata usaha negara yang merugikan rakyat, maka dapat dimintakan putusan peradilan tata usaha negara tentang tindakan pemerintah tersebut. Untuk selanjutnya, kemudian ternyata masih diakuinya adanya badan-badan lain selain ditentukan dalam UUD 1945 yang menjalankan kekuasaan kehakiman (Pasal 24 ayat (3) UUD 1945). Dalam Penjelasan Pasal 38 UU No. 48 Tahun 2009 kemudian dalam ketentuan tersebut ternyata memberikan penafsiran terhadap pengertian badan-badan lainnya yang bertugas menyelenggarakan kekuasaan kehakiman bahwa Yang dimaksud dengan "badan-badan lain" antara lain kepolisian, kejaksaan, advokat, dan lembaga pemasyarakatan. Sedangkan dalam ketentuan Pasal 38 ayat (2) UU No. 48 Tahun 2009, menyatakan bahwa Fungsi yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. penyelidikan dan penyidikan; b.penuntutan; c. pelaksanaan putusan; d.pemberian jasa hukum; dan e. penyelesaian sengketa di luar pengadilan. Pada intinya lembaga-lembaga sebagaimana dimaksud di atas, tentunya memiliki keterkaitan fungsi secara nyata atau bersentuhan dengan kekuasaan kehakiman. Adanya ketentuan ini merupakan jalan keluar bagi tidak dimasukannya kejaksaan sebagai salah satu pelaku kekuasaan kehakiman pada saat berlangsungnya amandemen UUD 1945. Pencantuman ketentuan Pasal 24 ayat (3) UUD 1945 di atas juga merupakan suatu antisipasi terhadap perkembangan yang mungik saja terjadi pada masa yang akan datang, misalnya kalau ada perkembangan terhadap badan-badan peradilan lain yang tidak termasuk dalam kategori keempat lingkungan peradilan yang sudah ada seperti diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945. Tentu kemudian kedudukan badan-badan peradilan selain yang sudah ditentukan dalam UUD 1945, dapatlah dikatakan tidak berbeda dengan badan-badan lainnya yang juga melaksanakan kekuasaan kehakiman, hal ini dikarenakan baik badan-badan pelaksana kekuasaan kehakiman dalam UUD 1945 muapun kejaksaan misalnya, dalam kenyataaannya memiliki kedudukan sama penting dalam konsitusi atau sama-sama penting secara konstitusional. Terkait dengan adanya ketentuan dari Pasal 24 ayat (3) UUD 1945, MPR (2011;147-148) menyatakan bahwa. Ketentuan Pasal 24 ayat (3) menjadi dasar hukum keberadaan berbagai badan lain yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman, antara lain lembaga penyidik dan lembaga penuntut. Hal-hal mengenai badan lain itu diatur dalam undang-undang. Pengaturan dalam undang-undang mengenai badan lain yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman membuka partisipasi rakyat melalui wakil-wakilnya di DPR untuk memperjuangkan agar aspirasinya dan kepentingannya diakomodasi dalam pembentukan undang-undang tersebut. Adanya ketentuan pengaturan dalam undang-undang tersebut merupakan salah satu wujud saling mengawasi dan mengimbangi antara kekuasaan yudikatif MA dan badan peradilan di bawahnya serta MK dengan kekuasaan legislatif DPR dan dengan kekuasaan eksekutif

lembaga penyidik dan lembaga penuntut. Selain itu, ketentuan itu dimaksudkan untuk mewujudkan sistem peradilan terpadu (integrated judiciary system) di Indonesia. Pencantuman Pasal 24 ayat (3) di atas juga untuk mengantisipasi perkembangan yang terjadi pada masa yang akan datang, kalau ada perkembangan badan-badan peradilan lain yang tidak termasuk dalam katagori keempat lingkungan peradilan sudah diatur dalam undang-undang. Selanjutnya pengaturan berkaitan dengan kewenangan, syarat-syarat seorang hakim agung dan juga proses pengangkatan hakim agung serta tata cara pemilihan Ketua dan wakil ketua Mahkamah Agung, telah ditentukan dengan tegas dalam ketentuan Pasal 24A UUD 1945 yang menyatakan bahwa. (1) Mahkamah Agung berwenang mengadili pada tingkat kasasi, menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang, dan mempunyai wewenang lainnya yang diberikan oleh undang-undang. (2) Hakim agung harus memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela, adil, profesional, dan berpengalaman di bidang hukum. (3) Calon hakim agung diusulkan Komisi Yudisial kepada Dewan Perwakilan Rakyat untuk mendapatkan persetujuan dan selanjutnya ditetapkan sebagai hakim agung oleh Presiden. (4) Ketua dan wakil ketua Mahkamah Agung dipilih dari dan oleh hakim agung. (5) Susunan, kedudukan, keanggotaan, dan hukum acara Mahkamah Agung serta badan peradilan di bawahnya diatur dengan undang-undang. Berkaitan dengan kewenangan Mahkamah Agung yang telah ditentukan dalam UUD 1945 menurut ketentuan Pasal 24A ayat (1), pasal ini menegaskan bahwa dalam UUD 1945, Mahkamah Agung diberikan dua kewenangan secara konstitusional yaitu (1) mengadili pada tingkat kasasi, dan (2) menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang. Sedangkan, kewenangan lainnya, merupakan kewenangan yang didelegasikan oleh pembentuk undang-undang. Dengan kata lain, bahwa kewenangan tersebut merupakan bersifat tambahan yang tidak diberikan oleh UUD 1945 namun oleh UU (Asshiddiqie,2006). Pengaturan yang sama kemudian juga dapat dilihat kembali dalam ketentuan Pasal 20 ayat (2) UU No. 48 Tahun 2009, yang menyatakan kewenangan Mahkamah Agung yaitu. a. Mengadili pada tingkat kasasi terhadap putusan yang diberikan pada tingkat terakhir oleh pengadilan di semua lingkungan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung, kecuali undang-undang menentukan lain; b. Menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undangundang; dan c. Kewenangan lainnya yang diberikan undang-undang.

Berkaitan dengan kewenangan Mahkamah Agung yang mengadili pada tingkat kasasi, maka menurut Subekti (1983;105) bahwa perkataan kasasi berasal dari perkataan Perancis casser yang berarti memecahkan atau membatalkan, sehingga kalau suatu permohonan kasasi terhadap suatu putusan Pengadilan bawahan diterima oleh Mahkamah Agung, maka itu berarti bahwa putusan tersebut dibatalkan oleh Mahkamah Agung karena dianggap mengandung kesalahan penerapkan hukum. Sedangkan, untuk kamus istilah hukum Fockema Andreae dalam Marpaung (2004;3) menyatakan bahwa cassatie, kasasi, pembatalan, pernyataan tidak berlakunya keputusan Hakim rendahan oleh Mahkamah Agung, demi kepentingan kesatuan peradilan. Menurut penulis kewenangan yang diberikan kepada Mahkamah Agung untuk membatalkan keputusan pengadilan di bawahnya (banding) merupakan salah satu bentuk pengawasan Mahkamah Agung dari dalam terutama terkait dengan penerapan hukumnya. Menurut Mertokusumo (2011;131) bahwa kasasi adalah peradilan, sedang peradilan berarti pelaksanaan hukum, maka pada hakikatnya tujuan kasasi bukanlah mencapai kesatuan hukum, melainkan kesatuan dalam pelaksanaan hukum atau kesatuan dalam peradilan. Bahkan, putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan tetap pun masih dapat dimintakan peninjauan kembali, tentunya jika karena keadaan tertentu yang kemudian dapat diterima oleh undangundang (lihat Pasal 24 UU No. 48 Tahun 2009). Dapatlah kemudian dikatakan, bahwa kewenangan Mahkamah Agung untuk membatalkan putusan peradilan yang ada di bawahnya merupakan tugas utama daripada Mahkamah Agung dalam bidang pengawasannya. Pendapat tersebut adalah sesuai dengan ketentuan Pasal 39 UU No. 48 Tahun 2009 yang menyatakan bahwa Pengawasan tertinggi terhadap penyelenggaraan peradilan pada semua badan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung dalam menyelenggarakan kekuasaan kehakiman dilakukan oleh Mahkamah Agung (kursif penulis). Bahkan, pengawasan MA sebagaimana dimaksud tersebut di atas tentunya juga meliputi pengawasan tertinggi terhadap pelaksana tugas administrasi dan keuangan. Selain itu, ternyata pengawasan internal terhadap tingkah laku hakim dilakukan juga oleh MA. Namun, dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim dilakukan pula pengawasan eksternal oleh Komisi Yudisial. Komisi Yudisial mempunyai tugas utama yaitu melakukan pengawasan terhadap perilaku hakim berdasarkan Kode Etik dan/atau Pedoman Perilaku Hakim. Namun, pada dasarnya ditentukan bahwa pengawasan tersebut tidak boleh mengurangi kebebasan hakim dalam memutus perkara. Katamenguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang adalah merupakan hak MA untuk melaksanakan tugasnya berkaitan penyesuaian bidang peraturan perundangundangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang agar tidak ada peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang tersebut yang kemudian bertentangan dengan kedudukan undang-undang yang ada di atasnya. Hal ini berarti jika suatu saat ada peraturan perundang-undangan yang kedudukannya berada di bawah undang-undang yang bertentangan dengan undang-undang di atasnya, maka terhadap peraturan tersebut kemudian dapatlah diuji dan dapat pula dibatalkan oleh Mahkamah Agung. Sedangkan untuk pengujian peraturan perundang-undang yang kedudukannya berada di bawah undang-undang dapat diuji dengan dua

cara yaitu secara formil dan materil. Terkait dengan pengujian peraturan perundang-undangan secara materil, maka Abdullah (2006;10) berpendapat bahwa yang dimaksud dengan hak uji Materiil adalah hak atau kewenangan yang dimiliki oleh lembaga yudikatif untuk melakukan pengujian mengenai sah atau tidaknya suatu peraturan perundang-undangan terhadap peraturan perundang-undangan yang tingkatnya lebih tinggi. Lebih jelas lagi bahwa jika ternyata ada suatu peraturan perundang-undangan yang kedudukannya berada di bawah undang-undang, yang dilihat dari isinya ternyata bertentangan dengan isi undang-undang, maka untuk itu kemudian dapat dimintakan pembatalan kepada Mahkamah Agung. Dengan kata lain yang diuji merupakan keputusan penguasa yang dilihat dari segi isinya mempunyai kekuatan mengikat umum (Soemardi,1986;15). Adanya pengaturan hal tersebut merupakan suatu konsekuensi dari dianutnya prinsip hierarkis peraturan perundang-undangan, yang tentunya menyatakan bahwa suatu peraturan yang kedudukannya lebih rendah, isinya tidak boleh bertentangan dengan isi dari peraturan yang kedudukannya lebih tinggi tingkatannya (lex superior derogate legi inferiori). Dalam pada itu, tentunya akan berbeda dengan pengujian secara formal yang dilakukan oleh Mahkamah Agung, di mana jika ada suatu peraturan perundang-undangan di bawah undangundang, yang dalam kenyataan dibentuk tidak sesuai dengan prosedur seperti apa yang telah ditentukan dalam ketentuan undang-undang, maka secara keseluruhan daripada peraturan perundang-undangan yang berkedudukan di bawah undang-undang tersebut dapat dibatalkan. Dari paparan tersebut kemudian, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa jika pengujian peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang yang dilakukan oleh MA secara materiil, maka dapat dinyatakan batal adalah salah pasal atau bagian tertentu dari peraturan tersebut yang diminta untuk diujikan. Sedangkan jika ternyata pengujian peraturan perundang-undangan yang berkedudukan di bawah undang-undang terhadap undang-undangundang ternyata dilakukan secara formil, maka akibatnya putusan dari pembatalan tersebut oleh MA adalah secara keseluruhan peraturan perundang-undang yang kedudukannya berada di bawah undang-undang adalah batal dan tidak berlaku. Pengujian peraturan perundang-undangan yang kedudukannya berada di bawah undang-undang terhadap undang-undang yang dilakukan oleh Mahkamah Agung, dapat dilakukan melalui tingkat kasasi maupun secara langsung, yaitu dapat kemudian diajukan ke Mahkamah Agung, kemudian permohonan tersebut cukup dibuat secara tertulis dalam bahasa Indonesia baik oleh pemohon maupun kuasanya. Pendapat tersebut adalah sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 20 ayat (3) UU No. 48 Tahun 2009 bahwa Putusan mengenai tidak sahnya peraturan perundang-undangan sebagai hasil pengujian dapat diambil baik berhubungan dengan pemeriksaan pada tingkat kasasi maupun berdasarkan permohonan langsung pada Mahkamah Agung (kursif penulis). Permohonan hanya dapat dilakukan oleh pihak yang menganggap haknya dirugikan oleh berlakunya peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang, yaitu: a. perorangan warga negara Indonesia; b. kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam undang-undang; atau c. badan hukum publik atau badan hukum privat. Berkaitan dengan kewenangan MA yang hanya menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang, maka

Mahkamah Agung tidaklah memiliki kewenangan untuk menguji undang-undang terhadap UUD 1945. Pendapat tersebut adalah sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh Kartasapoetra (1987;69) bahwa pada dasarnya Mahkamah Agung tidak mempunyai hak menguji, baik formal maupun material terhadap undang-undang. Mengenai upaya pengujian peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang, dapat dikatakan merupakan upaya pengujian legalitas (legal review). Pengujian yang dilakukan oleh Mahkamah Agung ini jelas berbeda dari pengujian konstitusional (constitutional review) yang dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi. Pertama, obyek yang diuji hanya terbatas pada peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang (judicial review of regulation). Hal ini dikarenakan, pengujian arah konstitusionalitas undang-undang (judicial riview of law) dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi. Kedua, yang dijadikan batu penguji oleh Mahkamah Agung adalah undang-undang, bukan UUD. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa pengujian norma hukum yang dilakukan oleh Mahkamah Agung adalah pengujian legalitas peraturan (judicial review on the legality of regulation), sedangkan pengujian oleh Mahkamah Konstitusi merupakan pengujian konstitusionalitas undang-undang (judicial review on the constitutionality of law). Yang terakhir ini biasa di sebut dengan istilah pengujian konstitusional atas undang-undang (constitutional of law) (Asshiddiqie,2006;158). Dalam ketentuan Pasal 24A ayat (2) UUD 1945 ditentukan pula syarat untuk dicalonkan menjadi hakim agung, kemudian dinyatakan bahwa untuk menjadi hakim agung haruslah memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela, adil, profesional yang tentunya berkaitan dengan keahliannya dalam bidang hukum dan sudah memiliki pengalaman sesuai dengan keahliannya di bidang hukum tersebut (lihat Pasal 6 UU No. 3 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas UU No. 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung). Calon hakim agung kemudian ditetapkan oleh Presiden setelah mendapatkan persetujuan dari DPR yang sebelumnya diajukan oleh KY (Pasal 24A ayat (3) UUD 1945). Jumlah calon hakim agung yang diajukan oleh KY ke DPR adalah tiga kali lipat dari jumlah yang dibutuhkan untuk menjadi hakim agung (lihat Pasal 8 ayat (3) UU No. 3 Tahun 2009). Kemudian, selanjutnya ditentukan bahwa untuk memilih Ketua dan Wakil Ketua Mahkamah Agung diserahkan kembali kewenangannya kepada anggota hakim agung sendiri untuk memilihnya (Pasal 24A ayat (4) UUD 1945) jo. (Pasal 8 ayat (7) UU No. 3 Tahun 2009),, Terkait dengan susunan, kedudukan, keanggotaan, dan hukum acara Mahkamah Agung serta badan peradilan yang kedudukannya berada di bawahnya diatur dengan undang-undang (Pasal 24A ayat (5) UUD 1945). Undang-undang yang di maksud adalah UU No.14 tahun 1985 jo. 5 Tahun 2004 jo. UU No. 3 Tahun 2009 tentang Mahkamah Agung. Selain adanya tugas seperti apa yang telah disebutkan di atas, ternyata MA memiliki suatu tugas yaitu untuk memberikan pertimbangan kepada Presiden berkaitan dengan pemberian grasi dan rehabilitasi (Pasal 14 UUD 1945). Kemudian dapatlah diketahui bahwa berkaitan dengan pertimbangan yang telah diberikan oleh Mahkamah Agung kepada Presiden terkait dengan grasi dan rehabilitasi tersebut tentunya tidaklah mengikat secara hukum. Namun, dapatlah dikatakan mengikatnya pertimbangan Mahkamah Agung terkait dengan pemberian grasi adalah terletak

pada bidang moral. Kemudian juga ditentukan bahwa Mahkamah Agung berwenang untuk mengajukan 3 orang guna menjadi hakim konstitusi (Pasal 24C ayat (3) UUD 1945). Berkaitan dengan semua tugas dan kewenangan yang dimiliki oleh MA adalah sesuai dengan ketentuan Pasal 22 ayat (1) UU No. 3 Tahun 2009 yang pada dasarnya menyatakan bahwa Mahkamah Agung dapat memberi keterangan, pertimbangan, dan nasihat masalah hukum kepada lembaga negara dan lembaga pemerintahan. Ketentuan ini merupakan hubungan MA dengan lembagalembaga negara lainnya dalam sistem ketatanegaran Indonesia, yang merupakan wujud daripada saling mengawasi dan mengimbangi (checks and balances).

BIODATA PENULIS

I Gusti Ngurah Santika S.Pd, lahir di Yeha 1 Agustus 1988. Anak ketiga dari tiga bersaudara dari pasangan I Gusti Ngurah Oka dan I Desak Ayu Putu. Menyelesaikan pendidikan dasar di SDN 1 Peringsari (1996-2002) kemudian melanjutkan ke SMPN 1 Selat (2002-2005) dan pendidikan menengah di SMAN 1 Selat (2005-2008) kemudian pada peruguruan tinggi (20092012). Setelah menyelesaikan pendidikan SMA kemudian bekerja sebagai security pada PT Arkadena sampai januari 2012. Pada saat yang bersamaan mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pendidikan di perguruan tinggi sambil bekerja, akhirnya lulus dengan predikat cum laude. Kemudian untuk sekarang ini penulis belum bekerja, namun sedang melanjutkan pendidikan S2 pada Program Studi Pendas di Undhiksa. Pengalaman penulis selama mengikuti pendidikan di perguruan tinggi adalah sebagai nara sumber dalam temuwicara menyambut bulan Bung Karno yang diselenggarakan Gor Kapten Sujana (Lapangan Buyung) Kota Denpasar (2012). Nara sumber dalam seminar alumni FKIP Universitas Dwijendra (2012), Mahasiswa berprestasi Prodi PKn, sebagai salah satu pemenang karya ilmiah tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Dikti. Selain itu, penulis juga aktif mengikuti seminar-seminar yang berhubungan dengan bidang studi yang di dalami. Berkaitan dengan kritik dan saran terhadap tulisan sebelumnya, dapat disampaikan langsung kepada penulis dengan menghubungi alamat maupun no hp yang ada di bawah ini. Alamat rumah : Banjar Dinas Padang Aji Tengah, Peringsari, Selat Karangasem. No. Hp : 085237832582/085738693121.