Anda di halaman 1dari 15

PENDAHULUAN

Tanaman tentu akan senatiasa tumbuh dan berkembang. Pertumbuhan generative pada tanaman ditandai dengan peristiwa pembungaan. Di mana pembungaan ini juga memiliki mekanisme tersendiri. Peristiwa ini juga tidak lepas dari pengaruh dari beberapa factor, baik dari dalam maupun dari luar tubuh tanaman. Faktor dalam merupakan faktor yang berasal dari tanaman itu sendiri seperti kandungan-kandungan hormon pada tanaman itu sendiri sedangkan faktor luar merupakan faktor lingkungan yang mempengaruhi dari proses pembungaan tanaman tersebut. Pembungaan pada tanaman dipengaruhi oleh faktor dalam tanaman sendiri dan faktor luar tanaman/lingkungan. Tanaman belum dapat berbunga/ menghasilkan bunga jika tanaman masih relatif muda. Sedangkan pada tanaman yang sudah besar/dewasa, pertumbuhannya telah mengalami perubahan dari fase vegetatif ke fase generatif. Benih atau biji yang dimaksudkan adalah benih atau biji sejati (true seed) yaitu benih atau biji yang dibentuk dari proses seksual pada tanaman. Pada tanaman yang ditanam untuk tujuan menghasilkan benih atau biji, maka terbentuknya benih atau biji dengan jumlah yang banyak merupakan suatu keberhasilan dan sebaliknya bila tanaman yang ditanam untuk tujuan benih atau biji tidak membentuk benih atau biji maka hal ini merupakan kegagalan. Lain halnya pada tanaman yang ditanam bukan untuk tujuan benih atau biji. Pembungaan pada tanaman dipengaruhi oleh faktor dalam tanaman (tingkat kedewasaan tanaman dan status C/N ratio) sendiri dan faktor luar tanaman/lingkungan (suhu, cahaya, curah hujan, dan bahan kimia). Jika status C dalam tanaman lebih tinggi dari N (C/N lebih tinggi) maka tanaman akan beralih dari fase vegetatif ke fase generatif, sebaliknya jika status N lebih tinggi dari C (ratio C/N lebih rendah) maka tanaman akan terus mengalami pertumbuhan vegetatif, membentuk akar batang dan daun. Pembungaan tanaman berhubungan dengan suhu, beberapa tanaman memerlukan perlakuan vernalisasi dan thermoperiodism agar dapat beralih dari fase vegetatif ke fase pembentukan primordia bunga. Selain itu pembungaan juga

berhubungan dengan distribusi curah hujan, Tanaman mangga, kopi, dan kapuk memerlukan curah hujan yang tinggi sebelum memasuki fase pembentukan bunga. Pengaruh cahaya terhadap pembungaan dipengaruhi oleh suatu hormon pengendali pembungaan yang disebut dengan Phytochrome. Beberapa bahan kimia alami dan NAA, 2-4D (2,4 buatan yang dapat menginduksi pembungaan adalah; IAA, diklorofenoksiasetat), asam gibberellin (GA3), asam 2,3,5

triiodobenzoat, cytokinine, ethylene dan acethylene.

PEMBUNGAAN

Fenologi perbungaan suatu jenis tumbuhan adalah salah satu karakter penting dalam siklus hidup tumbuhan karena pada fase itu terjadi proses awal bagi suatu tumbuhan untuk berkembang biak. Suatu tumbuhan akan memiliki perilaku yang berbeda-beda pada pola perbungaan dan perbuahannya, akan tetapi pada umumnya diawali dengan pemunculan kuncup bunga dan diakhiri dengan pematangan buah (Tabla dan Vargas, 2004). Menurut Sitompul dan Guritno (1995) pengamatan fenologi tumbuhan yang seringkali dilakukan adalah perubahan masa vegetatif ke generatif dan panjang masa generatif tumbuhan tersebut. Ini biasanya dilakukan melalui pendekatan dengan pengamatan umur bunga, pembentukan biji dan saat panen. Pembungaan merupakan salah satu tanda bahwa tanaman memasuki fase generatif. Fase generatif merupakan fase dimana tanaman melakukan

pertumbuhan dengan melibatkan sel gamet. Fase generatif ini dimulai saat tanaman mulai melakukan pembentukan bunga hingga pemasakan buah. Didalam pembungaan kegiatan yg paling penting adalah memanipulasi proses peralihan dari fase vegetatif ke fase generatif tanaman. A. Mekanisme Pembungaan 1. Induksi bunga (evokasi) Induksi bunga merupakan tahap pertama dari proses pembungaan. Dimana dalam induksi ini terjadi suatu manipulasi jaringan meristem vegetatif yang diprogram untuk mulai berubah menjadi meristem reproduktif dimana perubahan ini terjadi secara mikrokopis di dalam sel. Perubahan ini dapat dideteksi secara kimiawi dari peningkatan sintesis asam nukleat dan protein, yang dibutuhkan dalam pembelahan dan diferensiasi sel. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya induksi bunga ada 2 yaitu faktor internal yang berupa faktor genetis suatu tanaman dan faktor eksternal yang terdiri dari :

a. Vernalisasi Vernalisasi merupakan suatu keadaan dimana suhu lingkungan suatu tanaman rendah yang digunakan untuk merangsang pembungaan. b. Thermoperiodism Suatu keadaan dimana suhu pada malam hari rendah kemudian berubah menjadi tinggi dan terjadi secara berulang. c. Fotoperiodisme Fotoperiodism ini merupakan lamanya siang dan malam.

Fotoperiodism ini sangat erat kaitannya dengan fotoperiode kritis. Fotoperiodism ini membagi tanaman menjadi tiga kelompok yaitu tanaman hari panjang, tanaman hari pendek, dan tanaman hari netral. d. Kimiawi dan status nutrisi Setelah tanaman terinduksi ke pembungaan, transisi morfologis meristem dari vegetatif ke keadaan pembungaaan disebut dengan inisiasi pembungaan. Inisiasi pembungaan kurang mendapatkan perhatian dalam penelitian pembungaan dibandingkan dengan induksi pembungaan. Hal ini disebabkan karena kedua tahapan tersebut umumnya memerlukan kondisi yang serupa, sehingga sering sulit dibedakan antar keduanya. Tetapi perbedaan tersebut dapat terlihat nyata pada rumput-rumputan di daerah musim sedang. Tahap induksi dan inisiasi biasanya jelas berbeda dan mempunyai persyaratan fotoperiode dan suhu yang jelas berbeda, yang secara alami keduanya dipisahkan oleh musim dingin. Menurut Gardner dan Loomis (1953) induksi pembungaan adalah produksi rangsangan pembungaan (suatu perubahan kimiawi pada ujung pucuk) sebagai respon terhadap faktor luar yang diperlukannya, misalnya temperatur dingin (tidak tumbuh) dan hari pendek musim gugur untuk rumput Orchard. Sedangkan inisiasi pembungaan adalah permulaan pembungaan atau transformasi dari titik tumbuh yang telah terinduksi, tetapi secara morfologis berbentuk vegetatif menjadi pemula pembungaan sebagai respon terhadap faktor luar yang diperlukannya seperti hari panjang (malam pendek) dan temperatur yang cukup hangat pada musim semi (pada rumput Orchard).

Perubahan pada titik tumbuh akan nampak jika dilihat secara mikroskopik pada bagian meristematis yang mengalami perubahan dari vegetatif ke pertumbuhan reproduktif. Secara mikroskopis akan nampak bahwa bagian ujung meristematis pertumbuhan vegetatif nampak runcing, sedangkan jika pertumbuhan beralih ke pertumbuhan reproduktif akan dimulai dengan pertumbuhan ujung meristem yang mulai mendatar dan akhirnya terbentuk primordia sepal. 2. Inisiasi bunga Adalah tahap ketika perubahan morfologis menjadi bentuk kuncup reproduktif mulai dapat terdeteksi secara makroskopis untuk pertama kalinya.Transisi dari tunas vegetatif menjadi kuncup reproduktif ini dapat dideteksi dari perubahan bentuk maupun ukuran kuncup, serta prosesproses selanjutnya yang mulai membentuk organ-organ reproduktif. Inisiasi pembungaan adalah ekspresi morfologis dari keadaan induksi dan umumnya terjadi dalam bagian meristematis tanaman. Secara morfologis, konversi dari suatu ujung vegetatif ke suatu pembungaan dari satu bentuk permulaan ke anthesis adalah relatif berjalan secara bertahap dan berurutan. Menurut Lang (1952) pembagian tahapan proses pembentukan bunga dapat dipisahkan menjadi 4 tahap setelah tahap induksi pembungaan menurut Copeland (1976), yaitu: 1. Inisiasi pembungaan, diferensiasi ke primordia pembungaan 2. Organisasi pembungaan, diferensiasi ke pembentukan individuindividu bunga 3. Pemasakan bunga meliputi beberapa proses yang berurutan: pertumbuhan bagian-bagian bunga, diferensiasi ke jaringan sporogenous, meiosis, pollen dan perkembangan embriosac. 4. Anthesis 3. Perkembangan kuncup bunga menuju anthesis (bunga mekar) Ditandai dengan terjadinya diferensiasi bagian-bagian bunga. Pada tahap ini terjadi proses megasporogenesis dan mikrosporogenesis untuk

penyempurnaan dan pematangan organ-organ reproduksi jantan dan betina. 4. Anthesis Merupakan tahap ketika terjadi pemekaran bunga. Biasanya anthesis terjadi bersamaan dengan masaknya organ reproduksi jantan dan betina, walaupun dalam kenyataannya tidak selalu demikian. Ada kalanya organ reproduksi, baik jantan maupun betina, masak sebelum terjadi anthesis, atau bahkan jauh setelah terjadinya anthesis. Bunga-bunga bertipe dichogamy mencapai kemasakan organ reproduktif jantan dan betinanya dalam waktu yang tidak bersamaan. B. Faktor-Faktor yang Berpengaruh Terhadap Proses Pembungaan 1. Faktor Eksternal a. Suhu Pada spesies temperate dingin, suhu yang relatif tinggi pada musim panas dan awal musim gugur tampaknya dapat merangsang inisiasi bunga. Fungsi suhu di sini adalah mematahkan dormansi kuncup. Pada spesies temperate hangat, subtropis dan tropis, pengurangan relatif pada suhu justru lebih bermanfaat. Pada apokat suhu optimal untuk perkembangan bunga adalah 25oC. Jika tanaman ditempatkan pada suhu 33oC sepanjang siang hari, selanjutnya akan terjadi penghambatan perkembangan bunga pada tahap diferensiasi tepung sari. Pada Acacia pycnantha suhu di atas 19oC menghambat baik mikrosporogenesis maupun makrosporogenesis.Pada jeruk, suhu di atas 30oC dilaporkan telah merusak perkembangan kuncup bunga.Suhu tinggi hingga batas ambang tertentu dibutuhkan oleh meristem lateral (primordia bunga) untuk mulai membentuk kuncupkuncup bunga dan melangsungkan proses pembungaan.Selisih antara suhu max di siang hari dengan suhu min di malam hari akan mempengaruhi proses terbentuknya bunga: selisih yang besar akan mempercepat terjadinya pembungaan. Suhu tinggi akan meningkatkan

aktivitas metabolik dalam tubuh tanaman: fotosintesis, asimilasi, dan akumulasi makanan untuk mensuplai energi pembungaan. b. Curah Hujan/Kelembaban Stres air dapat memacu inisiasi bunga, terutama pada tanaman pohon tropis dan subtropis seperti leci dan jeruk. Pembungaan melimpah pada tanaman kayu tropis genus Shorea juga telah dihubungkan dengan terjadinya kekeringan pada periode

sebelumnya.Namun, hasil yang berlawanan telah teramati pada spesies iklim-sedang seperti pinus, apel dan zaitun. Kebanyakan pembungaan di daerah tropis terjadi saat transisi dari musim hujan menuju kemarau.Pada musim hujan tanaman melakukan aktivitas maksimal untuk menyerap hara dan air, agar dapat mengakumulasikan cadangan makanan dan menyimpan energi sebanyak-banyaknya. c. Cahaya Cahaya mempengaruhi pembungaan melalui dua cara, yaitu intensitas cahaya dan fotoperiodisitas (panjang hari). 1) Intensitas Cahaya Berhubungan dengan tingkat fotosintesis: sumber energi bagi proses pembungaan. Intensitas cahaya mempunyai pengaruh yang lebih besar dan efeknya lebih konsisten dari pada panjang hari. Pengurangan intensitas cahaya akan mengurangi inisiasi bunga pada banyak spesies pohon. Pada spesies monoesi dan dioesi, yang hanya mempunyai bunga-bunga berkelamin-satu (singlesex), intensitas cahaya dapat memberikan efek yang berbeda pada inisiasi bunga betina dan jantan.Intensitas cahaya yang tinggi merangsang inisiasi bunga betina pada walnut dan pinus, sedangkan intensitas cahaya yang rendah, yang biasanya disebabkan oleh naungan kanopi, lebih merangsang terbentuknya bunga jantan.

2) Fotoperiodisitas (panjang hari) Merupakan perbandingan antara lamanya waktu siang dan malam hari.Di daerah tropis panjang siang dan malam hampir sama. Makin jauh dari equator (garis lintang besar), perbedaan antara panjang siang dan malam hari juga makin besar.Misalnya pada garis 60o LU:Musim panas: siang hari hampir 19 jam, malam hari 5 jam. Musim dingin: siang hari hanya 6 jam, malam hari 18 jam. Sehubungan dengan fotoperiodisitas tersebut, pada daerah-daerah 4 musim, tanaman dapat dibedakan menjadi: Tanaman berhari pendek, tanaman berhari panjang dan tanaman hari netral. Tanaman yang butuh hari pendek untuk mengawali pembungaannya, namun selanjutnya butuh hari panjang untuk melanjutkan proses pembungaan itu .Tanaman yang dapat berbunga setiap waktu. Pengaruh hari-pendek direncanakan untuk diaplikasikan pada spesies pohon temperate, mengingat bahwa inisiasi bunga secara normal terjadi pada musim gugur seiring dengan berkurangnya panjang hari. d. Unsur Hara Keberadaan unsur hara dalam tanah berhubungan dengan ketersediaan suplai energi dan bahan pembangun bagi proses pembentukan dan perkembangan bunga. 1) Carbon/protein ratio Kuncup bunga terbentuk setelah tanaman mencapai keseimbangan carbon/protein.Hal ini berhubungan dengan

kemampuan tanaman untuk melakukan asimilasi, akumulasi makanan, dan alokasi/distribusi hasil asimilasi Panjang tunas merupakan faktor penting pada inisiasi bunga pecan. Efek ini mungkin berhubungan dengan peningkatan cadangan makanan pada tunas yang lebih panjang.

2) Nitrogen ratio Carbon sebagian besar diperoleh dari mobilisasi cadangan makanan dan hasil fotosintesis. Konsentrasi carbon yang tinggi menentukan ketersediaan energi dan akumulasi makanan untuk pembentukan bunga. Nitrogen memberikan dampakpositif : ekspansi percabangan, Dampak negatif: memacu pertumbuhan vegetative 2. Faktor Internal a. Fitohormon 1) Auxin Merupakan respon terhadap cahaya.Disintesis di jaringan meristematik apikal (ujung), Menstimulir terjadinya pembelahan pada meristem apikal mempengaruhi proses perpanjangan ujung tanaman. 2) Ethylene Disintesis oleh daun.Diransfer ke tunas lateral memulai proses induksi bunga. 3) Cytokinin Disintesis pada jaringan endosperm, ujung akar, dan xylem.Ditransfer ke daun melalui jaringan xylem.Berfungsi untuk meningkatkan membentuk energi metabolisme ditransfer untuk proses

kuncup-kuncup

bunga.Mengendalikan

translokasi menjamin ketersediaan energi untuk pembungaan. Mematahkan dominansi apikal. Berperan dalam memacu inisiasi bunga, dan dijumpai pada level lebih tinggi pada akar Douglas-fir yang sedang berbunga, dibanding pohon yang tidak berbunga. 4) Gibberellin Disintesis pada primordia akar dan batang.Ditranslokasikan pada xylem dan floem. Menstimulir proses perpanjangan internodia dan buku-buku pada batang. Asam giberelik

mempunyai efek penghambatan yang sangat kuat terhadap

pembungaan berbagai pohon angisperma termasuk tanamantanaman buah temperate, rhododendron, jeruk dan mangga. Pada Citrus sinensis, GA3 dapat menyebabkan kuncup-kuncup dorman yang sesungguhnya potensial berbunga kembali sepenuhnya ke tingkat vegetatif, sampai tiba waktunya pembentukan kelopak bunga. telah memperkenalkan sebuah model yang melibatkan giberelin pada pengendalian inisiasi bunga apel secara hormonal. Giberelin yang dihasilkan oleh biji-biji yang sedang berkembang dalam buah muda diduga telah menghambat pembentukan bunga, dan dengan demikian mengurangi pembungaan pada musim semi berikutnya. Pada Chlormequat umumnya, Cycocel; zat penghambat-tumbuh, seperti

(2-cloroethyl)trimethylammonium

chloride, Alar dan TIBA (tri-iodobenzoic acid), mengurangi pertumbuhan vegetatif dan memacu pembungaan pada spesies pohon angiosperma. Gimnosperma tampaknya memberikan reaksi yang berbeda.Penghambat pertumbuhan telah meningkatkan pembungaan. Sebaliknya, Giberelin akan memacu pembungaan pada banyak.Penelitian terbaru telah memunculkan dugaan bahwa tipe giberelin mungkin merupakan faktor penting dalam respon fisiologis pada tanaman.Dengan demikian aspek pengaruh giberelin pada pembungaan tanaman berkayu menahun atau perenial membutuhkan pengamatan lebih lanjut, mengingat minimnya metode deteksi dan produksi giberelin saat ini. b. Genetik Pembungaan dipengaruhi juga oleh faktor genetik. Hal ini terkait dengan tanaman itu sendiri. Apabila indukannya baik maka proses pembungaan berlangsung cepat.

Morfologi dan Taksonomi Bunga Struktur dari bunga yang lengkap (completus) terdiri dari empat bagian yaitu; kelopak bunga (calyx), tajuk atau mahkota (corolla), benangsari (stamen) dan putik (pistillum). Sebuah bunga biasanya hanya mempunyai satu putik yang terdiri atas; kepala putik (stigma), tangkai putik (stylus) dan bakal buah (ovarium). Bakal buah adalah bagian dari putik yang terletak paling bawah dan duduk diatas dasar bunga. Bentuknya bermacam-macam, misalnya seperti; bola, selinder, cawan dan lain-lain. Bakal buah terbentuk dari helaian daun buah (carpellum). Bakal buah yang terdiri dari satu helaian daun dapat membentuk sebuah ruangan didalamnya disebut beruang tunggal. Bakal buah yang terdiri dari dua helaian daun dapat membentuk dua ruangan didalamnya disebut 29 beruang dua. Bakal buah yang terbentuk dari tiga helaian daun dapat membentuk tiga ruangan didalamnya disebut beruang tiga. Sedang bakal buah yang terbentuk dari banyak helaian daun dan membentuk ruang yang banyak disebut beruang banyak. Bakal buah adalah bagian terpenting dari putik. Karena mempunyai ruangan yang berisi bakal biji. Bakal biji tersusun pada jaringan sepanjang tepi daun buah (carpellum), disebut tempat bakal biji (placenta). Pada bakal buah plasenta dapat terletak pada bagian aksial, parietal dan basal (free central). Pada umumnya benangsari dapat dipandang sebagai alat kelamin jantan dari tumbuh-tumbuhan, karena menghasilkan serbuksari yang mengandung inti sperma untuk keperluan penyerbukan. Putik dipandang sebagai alat kelamin betina, karena mempunyai bakal buah yang berisi bakal biji (ovulum) yang mengandung sel telur (ovum). Bila putik mengalami penyerbukan dan pembuahan, makabakal buahnya dapat tumbuh menjadi buah dan bakal bijinya menjadi biji. Bunga yang mempunyai benang sari dan putik disebut berkelamin dua, sedang jika salah satunya tidak terbentuk disebut bunga berkelamin satu. Bunga yang terdiri dari putik, dan benang sari dalam satu kuntum bunga disebut bunga sempurna, sedangkan bunga yang putik atau benang sarinya tidak terdapat dalam satu kuntum bunga disebut bunga tidak sempurna. Diantara berbagai jenis tumbuhan itu terdapat tanaman yang hanya membentuk satu bunga

yang terletak diujung batang atau cabang. Beberapa jenis tanaman lainnya membentuk banyak bunga. Tetapi tiap bunga duduk pada ketiak daun biasa dan letak bunga dari tanaman itu terpencar. Kadang-kadang bunga terbentuk pada batang yang telah berkayu atau dapat pula pada cabang-cabang yang telah cukup tua. Bunga dapat berkumpul pada sebuah tangkai utama (poros

bunga/pedunculus). Bila diantara kelompok bunga yang serupa dan tersusun menurut cara-cara tertentu pada sebuah pohon bunga tidak terdapat daun-daun biasa, maka sekelompok bunga itu disebut itu disebut perbungaan (infloresensia). Masing-masing bunga dari sebuah infloresensia dapat mempunyai tangkai bunga sendiri, atau dapat pula tidak bertangkai, sehingga dapat dikatakan duduk pada poros bunga. Bentuk infloresensia dari berbagaijenis tanaman berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan infloresesia yang satu dengan lainnya dapat terletak pada cara bercabangnya tangkai utama dan urutan mekarnya bunga. Berdasarkan hal tersebut infloresensia dapat dikelompokan atas dua tipe yaitu: perbungaan tak terbatas/indeterminate (inflorescentia racemosa) dan perbungaan

terbatas/determinate (inflorescentia cymosa) . Ciri utama dari perbungaan tak terbatas antara lain adalah tangkai utama dari bunga (poros bunga) biasanya panjang dan tidak terbentuk bunga pada ujungnya, karena 30 itu porosnya dapat tumbuh memanjang terus keatas. Dari pertumbuhan tangkai utama berturut-turut akan membentuk anak tangkai/cabang dari bawah/pangkal ke atas/ujung poros bunga. Tangkai utama lebih panjang dari anak tangkai bunga. Jumlah anak tangkai yang terbentuk biasanya tak terbatas. Bunga mulai mekar dari bawah ke atas, oleh karena itu bunga dan biji yang paling tua terletak pada bagian bawah dan selanjutnya ke bagian atas. Contoh bentukbentuk perbungaan tak terbatas antara lain adalah raceme, panikel, spike, catkin, spadix, corymb, umbel dan head. Ciri utama dari perbungaan terbatas antara lain adalah tangkai utama dari bunga (poros bunga) tidak terbentuk bunga pada ujungnya, karena itu porosnya tidak dapat tumbuh memanjang terus keatas. Dari pertumbuhan tangkai utama berturut-turut akan membentuk anak tangkai/cabang dari ataske

bawah/pangkal

poros

bunga.

Tangkai

utama

lebih

pendek

dari

anak

tangkai/cabang poros bunga. Jumlah anak tangkai yang terbentuk biasanya hanya sedikit dan lambat terbentuk. Bunga mulai mekar dari atas ke bawah, oleh karena itu bunga dan biji yang paling tua terletak pada bagian atas dan selanjutnya ke bagian bawah. Contoh bentuk-bentuk perbungaan terbatas antara lain adalah soliter, simple cyme, compound cyme, scorpioid dan glomerul.

PENUTUP

1. Kesimpulan a. Pembungaan atau Fenologi perbungaan suatu jenis tumbuhan adalah salah satu karakter penting dalam siklus hidup tumbuhan karena pada fase itu terjadi proses awal bagi suatu tumbuhan untuk berkembang biak. b. Tahap dari pembungaan yaitu diawali dengan tahap induksi (evokasi), inisiasi, perkembangan kuncup menjadi anthesis, anthesis, penyerbukan dan pembuahan, yang terakhir perkembangan buah muda seperti kemasakan buah dan biji. c. Dalam fase pembungaan terdapat faktor internal dan faktor eksternal yang mempengaruhi proses dari pembungaan. Faktor internal yaitu faktor yang berasal dari tanaman berbunga itu sendiri misalnya fitohormon, sedangkan faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari luar tanaman itu sendiri misalnya faktor lingkungan seperti cahaya, kelembaban, intensitas cahaya, suhu, dan unsur hara. d. Struktur dari bunga yang lengkap (completus) terdiri dari empat bagian yaitu; kelopak bunga (calyx), tajuk atau mahkota (corolla), benangsari (stamen) dan putik (pistillum). Sebuah bunga biasanya hanya mempunyai satu putik yang terdiri atas; kepala putik (stigma), tangkai putik (stylus) dan bakal buah (ovarium). e. Ciri utama dari perbungaan tak terbatas antara lain adalah tangkai utama dari bunga (poros bunga) biasanya panjang dan tidak terbentuk bunga pada ujungnya, karena 30 itu porosnya dapat tumbuh memanjang terus keatas. Contoh bentuk-bentuk perbungaan tak terbatas antara lain adalah raceme, panikel, spike, catkin, spadix, corymb, umbel dan head. f. Ciri utama dari perbungaan terbatas antara lain adalah tangkai utama dari bunga (poros bunga) tidak terbentuk bunga pada ujungnya, karena itu porosnya tidak dapat tumbuh memanjang terus keatas. Contoh bentukbentuk perbungaan terbatas antara lain adalah soliter, simple cyme, compound cyme, scorpioid dan glomerul.

DAFTAR PUSTAKA
Dressler, R.L. 1981. The Orchids Natural History and Classification. Cambridge: Harvard University Press. Fewless, G. 2006. Phenology. hhtp://www.uwgb.edu/biodiversity/phenology /index.htm. Diakses pada 14 Maret 2014. Sitompul, S.M. dan B. Guritno. 1995. Analisis Pertumbuhan Tanaman. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Tabla, V.P. dan C.F. Vargas. 2004. Phenology and phenotypic natural selection on the flowering time of a deceit-pollinated tropical orchid, Myrmecophila christinae.Annals of Botany, 94(2): 243250.http://aob.oxfordjournals.org/cgi/content/full/94/2/243. Diakses pada 14 Maret 2014. Tim pengampu 2011. Bahan ajar ilmu dan http://www.unhas.ac.id. Diakses pada 14 Maret 2014. teknologi benih.