Anda di halaman 1dari 60

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN SKIZOFRENIA

Disusun Oleh : 1. 2. Probo sutejo Trias anhar Kelas : III B / S1 Keperawatan 11.0729.S 11.0747.S

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH PEKAJANGAN PEKALONGAN


1

(2014) KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur Penulis Panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun makalah ini yang berjudul " SKIZOFRENIA" tepat pada waktunya.

Penulis menyadari bahwa didalam pembuatan makalah ini berkat tuntunan Tuhan Yang Maha Esa dan tidak lepas dari dukungan dan motivasi rekan-rekan kelas 3 B S1 keperawatan, untuk itu dalam kesempatan ini penulis menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua rekan-rekan yang telah mendukung kami sepenuhnya dalam pembuatan makalah ini.

Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada para pembaca. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk penyusunan maupun materinya. Penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.

Pekalongan, 1 april 2014

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .......................................................................................... KATA PENGANTAR ....................................................................................... DAFTAR ISI ...................................................................................................... BAB I PENDAHULUAN ................................................................................. BAB II TINJAUAN TEORI................................................................................ A. Definisi .......................................................................................................... B. Etiologi ............................................................................................................

1 2 3 4 10 10 10

C. Tanda dan Gejala ............................................................................................... 12 D. Penatalaksanaan .............................................................................................. 13 E. Pathofisiologi .................................................................................................. 16 F. pathways............................................................................................................ 17 G. pemeriksaan penunjang..................................................................................... 17 BAB III ASKEP TEORI........................................................................................ 20

BAB IV CONTOH KASUS................................................................................... 25 Analisa Data............................................................................................................. 36 Diagnosa.................................................................................................................. 38 Implementasi dan Evaluasi Keperawatan............................................................. BAB V PEMBAHASAN.................................................................................... A. Penemuan....................................................................................................... B. Analisis.......................................................................................................... KESIMPULAN .................................................................................................. BAB VI PENUTUP............................................................................................. DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 42 48 48 48 55 58 60
3

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Kesehatan adalah suatu kondisi yang bukan hanya bebas dari penyakit, cacat, kelemahan tapi benar-benar merupakan kondisi positif dan kesejahteraan fisik, mental dan sosial yang memungkinkan untuk hidup produtif. Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain dalam memenuhi kebutuhannya. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, individu dituntut untuk lebih meningkatkan kinerjanya agar segala kebutuhannya dapat terpenuhi tingkat sosial di masyarakat lebih tinggi. Hal ini merupakan dambaan setiap manusia ( Dep Kes RI. 2000 ). Gangguan jiwa adalah penyakit non fisik, seyogianya kedudukannya setara dengan penyakit fisik lainnya. Meskipun gangguan jiwa tersebut tidak dianggap sebagai gangguan yang menyebabkan kematian secara langsung, namun beratnya gangguan tersebut dalam arti ketidak mampuan serta invalisasi baik secara individu maupun kelompok akan menghambat pembangunan, karena tidak produktif dan tidak efisien. Gangguan jiwa (mental disorder) merupakan salah satu empat masalah kesehatan utama di Negara-negara maju, modern dan indrustri keempat kesehatan utama tersbut adalah penyakait degeneratif, kanker, gangguan jiwa dan kecelakaan. Meskipun gangguan jiwa tersebut tidak di anggap sebagai gangguan jiwa yang menyebabkan kematian secara langsung, namun beratnya gangguan tersebut dalam arti ketidakmampuan serta invaliditas baik secara individu maupun kelompok akan menghambat pembangunan, karena tidak produktif dan tidak efisien (Yosep, 2007). Skizofrenia merupakan psikosis fungsional paling berat, dan

menimbulkan disorganisasi personalitas terbesar, pasien tidak mempunyai realitas, sehingga pemikiran dan perilakunya abnormal di Rumkital Dr. Ramelan PAV VI A terdapat 16 klien (100%) dan ada 4 klien yang mengalami gangguan Skizofrenia Paranoid (25%) . Di Indonesia, sekitar 1% 2% dari total jumlah penduduk mengalami skizofrenia yaitu mencapai 3 per 1000 penduduk, prevalensi 1,44 per 1000 penduduk di perkotaan dan 4,6 per 1000 penduduk di pedesaan berarti jumlah penyandang skizofrenia 600.000 orang produktif. Salah satu bentuk gangguan jiwa yang terdapat di seluruh dunia adalah gangguan jiwa skizofrenia. Skizofrenia berasal dari dua kata Skizo yang artinya
4

retak atau pecah (spilit), dan frenia yang artinya jiwa. Dengan demikian seseorang yang menderita gangguan jiwa Skizofernia adalah orang yang mengalami keretakan jiwa atau keretakan kepribadian (splittingof of personality). Secara klasik skizofrenia tipe paranoid ditandai terutama oleh adanya waham kebesaran atau waham kejar, jalannya penyakit agak konstan (Kaplan dan Sadock, 1998). Pikiran melayang (Flight of ideas) lebih sering terdapat pada mania, pada skizofrenia lebih sering inkoherensi (Maramis,2005). Kriteria waktunya berdasarkan pada teori Townsend (1998), yang mengatakan kondisi klien jiwa sulit diramalkan, karena setiap saat dapat berubah. Waham menurut Maramis (1998), Keliat (1998) dan Ramdi (2000) menyatakan bahwa itu merupakan suatu keyakinan tentang isi pikiran yang tidak sesuai dengan kenyataan atau tidak cocok dengan intelegensia dan latar belakang kebudayaannya, keyakinan tersebut dipertahankan secara kokoh dan tidak dapat diubah-ubah. Mayer-Gross dalam Maramis (1998) membagi waham dalam 2 kelompok, yaitu primer dan sekunder. Waham primer timbul secara tidak logis, tanpa penyebab dari luar. Sedangkan waham sekunder biasanya logis kedengarannya, dapat diikuti dan merupakan cara untuk menerangkan gejalagejala skizofrenia lain, waham dinamakan menurut isinya, salah satunya adalah waham kebesaran Skizofrenia bisa mengenai siapa saja. Data American Psychiatric Association (APA) tahun 1995 menyebutkan 1% populasi penduduk dunia menderita skizofrenia. 75% penderita skizofrenia mulai mengidapnya pada usia 16-25 tahun. Usia remaja dan dewasa muda memang berisiko tinggi karena tahap kehidupan ini penuh stresor. Kondisi penderita sering terlambat disadari keluarga dan

lingkungannya karena dianggap sebagai bagian dari tahap penyesuaian diri. Istilah skizofrenia sering disalahpahami berarti bahwa orang-orang yang terkena dampak memiliki "kepribadian ganda". Meskipun beberapa orang didiagnosis dengan skizofrenia mungkin mendengar suara-suara dan mungkin mengalami suara sebagai kepribadian yang berbeda, skizofrenia tidak melibatkan orang berubah antara kepribadian ganda yang berbeda. Kebingungan muncul sebagian karena makna istilah skizofrenia Bleuler itu (secara harfiah "split" atau "pikiran hancur"). Penyalahgunaan dikenal pertama istilah berarti "kepribadian yang terbelah" adalah dalam sebuah artikel oleh penyair TS Eliot pada tahun 1933.
5

Pada paruh pertama abad kedua puluh skizofrenia dianggap cacat keturunan, dan penderita tunduk pada eugenika di banyak negara. Ratusan ribu orang disterilkan, dengan atau tanpa persetujuan - mayoritas di Nazi Jerman, Amerika Serikat, dan negara-negara Skandinavia. Seiring dengan orang lain berlabel "mental layak", banyak didiagnosis dengan skizofrenia dibunuh dalam program "Aksi T4" Nazi. Pada awal 1970-an, kriteria diagnostik untuk skizofrenia adalah subyek dari sejumlah kontroversi yang akhirnya mengarah pada kriteria operasional digunakan saat ini. Ini menjadi jelas setelah studi AS-Inggris 1971 Diagnostik bahwa skizofrenia didiagnosis ke tingkat yang jauh lebih besar di Amerika daripada di Eropa. Hal ini sebagian karena kriteria diagnostik longgar di AS, yang menggunakan DSM-II manual, kontras dengan Eropa dan ICD-9 nya. 1972 studi david Rosenhan, yang dipublikasikan dalam jurnal Science di bawah judul yang waras Pada di tempat gila, menyimpulkan bahwa diagnosis skizofrenia di Amerika Serikat sering subyektif dan tidak dapat diandalkan. Ini adalah beberapa faktor dalam memimpin ke revisi tidak hanya dari diagnosis skizofrenia, tapi revisi dari manual DSM keseluruhan, sehingga dalam publikasi DSM-III pada tahun 1980. Sejak 1970-an lebih dari 40 kriteria diagnostik untuk skizofrenia telah diusulkan dan dievaluasi. Di Uni Soviet diagnosis skizofrenia juga telah digunakan untuk tujuan politik. Soviet Andrei Snezhnevsky psikiater terkemuka dibuat dan dipromosikan klasifikasi sub-tambahan lamban berkembang skizofrenia. Diagnosis ini digunakan untuk mendiskreditkan dan cepat memenjarakan para pembangkang politik sementara pengeluaran dengan percobaan berpotensi memalukan. Praktek itu terkena Barat oleh sejumlah pembangkang Soviet, dan pada tahun 1977 World Psychiatric Association mengutuk praktek Soviet di Kongres Dunia Keenam Psikiatri. Daripada mempertahankan teorinya bahwa bentuk laten skizofrenia disebabkan pembangkang untuk menentang rezim, Snezhnevsky memutuskan semua kontak dengan Barat pada tahun 1980 dengan mengundurkan diri posisi kehormatan di luar negeri. Stigma sosial telah diidentifikasi sebagai suatu hambatan yang besar dalam pemulihan pasien dengan skizofrenia. Dalam sampel, besar wakil dari sebuah studi tahun 1999, 12,8% orang Amerika percaya bahwa individu dengan skizofrenia adalah "sangat mungkin" untuk melakukan sesuatu kekerasan terhadap
6

orang lain, dan 48,1% mengatakan bahwa mereka "agak mungkin". Lebih dari 74% mengatakan bahwa orang dengan skizofrenia yang baik "tidak sangat mampu" atau "tidak mampu sama sekali" untuk membuat keputusan tentang pengobatan mereka, dan 70,2% mengatakan hal yang sama dari keputusan manajemen uang. Persepsi individu dengan psikosis sebagai kekerasan memiliki lebih dari dua kali lipat dalam prevalensi sejak tahun 1950, menurut salah satu meta-analisis. Skizofrenia didiagnosis berdasarkan gejala profil. Berkorelasi Syaraf tidak memberikan kriteria cukup berguna. Diagnosa didasarkan pada yang dilaporkan sendiri pengalaman orang tersebut, dan kelainan pada perilaku yang dilaporkan oleh anggota keluarga, teman atau rekan kerja, diikuti dengan penilaian klinis oleh seorang psikiater, pekerja sosial, psikolog klinis atau profesional kesehatan mental lainnya. Penilaian kejiwaan mencakup riwayat psikiatri dan beberapa bentuk pemeriksaan status mental. tapi review lain tidak menyarankan koneksi apapun. Sebuah tinjauan literatur Yunani dan Romawi kuno menunjukkan bahwa meskipun psikosis digambarkan, ada tidak memperhitungkan kondisi memenuhi kriteria untuk skizofrenia. Psikotik keyakinan aneh dan perilaku yang mirip dengan beberapa gejala skizofrenia dilaporkan dalam literatur medis dan psikologis Arab selama Abad Pertengahan. Dalam The Canon of Medicine, misalnya, Ibnu Sina menggambarkan sebuah kondisi yang agak menyerupai gejala-gejala skizofrenia yang disebut Junun Mufrit (kegilaan yang parah), yang dibedakan dari bentukbentuk lain dari kegilaan (Junun) seperti mania, rabies dan psikosis manic depressive. Namun, tidak ada kondisi yang menyerupai skizofrenia dilaporkan dalam Bedah Imperial erafeddin Sabuncuolu, sebuah buku medis utama Islam abad ke-15. Mengingat bukti-bukti historis yang terbatas, skizofrenia (lazim seperti sekarang ini) mungkin merupakan fenomena modern, atau alternatif itu mungkin telah dikaburkan dalam tulisan-tulisan sejarah oleh konsep-konsep terkait seperti melankolis atau mania. Sebuah laporan kasus rinci pada 1797 tentang James Tilly Matthews, dan rekening oleh Phillipe Pinel diterbitkan pada 1809, sering dianggap sebagai kasus awal skizofrenia dalam literatur medis dan psikiatris. Skizofrenia pertama kali digambarkan sebagai sindrom yang berbeda yang mempengaruhi remaja dan dewasa muda oleh Benedict Morel pada tahun 1853, disebut dmence prcoce
7

(harfiah 'demensia dini'). Istilah demensia digunakan praecox pada tahun 1891 oleh Arnold Pilih dalam sebuah laporan kasus gangguan psikotik. Pada tahun 1893 Emil Kraepelin memperkenalkan perbedaan baru yang luas dalam klasifikasi gangguan mental antara dementia praecox dan gangguan suasana hati (disebut depresi manik dan termasuk unipolar dan bipolar depresi). Kraepelin percaya bahwa dementia praecox merupakan penyakit otak, dan khususnya suatu bentuk demensia, dibedakan dari bentuk-bentuk lain dari demensia, seperti penyakit Alzheimer, yang biasanya terjadi di kemudian hari. Klasifikasi Kraepelin perlahan-lahan mendapatkan penerimaan. Ada keberatan dengan penggunaan dari "demensia" istilah meskipun kasus pemulihan, dan beberapa pembelaan diagnosa diganti seperti kegilaan remaja. Skizofrenia kata - yang diterjemahkan secara kasar sebagai "membelah pikiran" dan berasal dari akar Yunani schizein (, "untuk split") dan phrn, phren-(, -, "pikiran") - diciptakan oleh Eugen Bleuler pada tahun 1908 dan dimaksudkan untuk menggambarkan pemisahan fungsi antara kepribadian, berpikir, memori, dan persepsi. Bleuler menggambarkan gejala utama sebagai 4 A: rata Mempengaruhi, Autisme, gangguan Asosiasi ide dan Ambivalensi. Bleuler menyadari bahwa penyakit itu bukan demensia karena beberapa pasien membaik daripada memburuk dan karenanya mengusulkan istilah skizofrenia sebagai gantinya.

B. TUJUAN UMUM DAN KHUSUS 1. Tujuan Umum a. Agar mahasiswa dapat menerapkan asuhan keperawatan pada pasien dengan masalah kesehatan terutama pada pasien dengan alzheimer b. Agar mahasiswa dapat menjelaskan mengenai pemahaman tentang skizofrenia 2. Tujuan khusus a. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada klien dan keluarga dengan masalah skizofrenia b. c. Mahasiswa mampu menganalisa data dengan masalah skizofrenia Mahasiswa mampu menyusun rencana dan interfensi keperawatan terhadap klien dengan skizofrenia

d.

Mahasiswa mampu melakukan implementasi sesuai dengan intervensi keperawatan yang telah disusun.

e.

Mahasiswa

mampu

melakukan

evaluasi

terhadap

implementasi

keperawatan yang telah dilaksanakan.

BAB II TINJAUAN TEORI

A. DEFINISI Skizofrenia adalah suatu diskripsi sindrom dengan variasi penyebab (banyak belum diketahui) dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis atau deteriorating) yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada pertimbangan pengaruh genetik, fisik dan sosial budaya (Rusdi Maslim, 1997; 46).
9

Skizofrenia adalah suatu diskripsi sindrom dengan variasi penyebab (banyak belum diketahui) dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis atau deteriorating) yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada pertimbangan pengaruh genetik, fisik dan sosial budaya ( Hawari, 2003).Skizofrenia adalah gangguan terhadap fungsi otak yang timbul akibat ketidakseimbangan dopamine ( salah satu sel kimia dalam otak , dan juga disebabkan oleh tekanan yang dialami oleh individu. Merupakan gangguan jiwa psikotik paling lazim dengan ciri hilangnya perasaan afektif atau respons emosional dan menarik diri dari hubungan sosial. Sering kali diikuti dengan delusi (keyakinan yang salah) dan halusinasi (persepsi tanpa ada rangsang pancaindra). Skizofrenia paranoid adalah yang terbanyak dialami oleh penderita skizofrenia. Terapi pada pasien ini bertujuan untuk mengembalikan fungsi sosial sehingga dapat memiliki peran sosial di masyarakat. Adapun jenis farmakoterapi yang diberikan harus melalui beberapa pertimbangan tertentu.Seperti pada kasus di bawah pada pasien skizofrenia paranoid diberikan Risperidone sebagaiutamapengobatannya.

B. ETIOLOGI 1. Keturunan Telah dibuktikan dengan penelitian bahwa angka kesakitan bagi saudara tiri 0,9-1,8 %, bagi saudara kandung 7-15 %, bagi anak dengan salah satu orang tua yang menderita Skizofrenia 40-68 %, kembar 2 telur 2-15 % dan kembar satu telur 61-86 % (Maramis, 1998; 215 ). 2. Endokrin Teori ini dikemukakan berhubung dengan sering timbulnya Skizofrenia pada waktu pubertas, waktu kehamilan atau puerperium dan waktu klimakterium., tetapi teori ini tidak dapat dibuktikan. 3. Metabolisme Teori ini didasarkan karena penderita Skizofrenia tampak pucat, tidak sehat, ujung extremitas agak sianosis, nafsu makan berkurang dan berat badan menurun serta pada penderita dengan stupor katatonik konsumsi zat asam menurun. Hipotesa ini masih dalam pembuktian dengan pemberian obat halusinogenik.

4.

Susunan saraf pusat


10

Penyebab Skizofrenia diarahkan pada kelainan SSP yaitu pada diensefalon atau kortek otak, tetapi kelainan patologis yang ditemukan mungkin disebabkan oleh perubahan postmortem atau merupakan artefakt pada waktu membuat sediaan.

5. Teori Adolf Meyer : Skizofrenia tidak disebabkan oleh penyakit badaniah sebab hingga sekarang tidak dapat ditemukan kelainan patologis anatomis atau fisiologis yang khas pada SSP tetapi Meyer mengakui bahwa suatu suatu konstitusi yang inferior atau penyakit badaniah dapat mempengaruhi timbulnya Skizofrenia. Menurut Meyer Skizofrenia merupakan suatu reaksi yang salah, suatu maladaptasi, sehingga timbul disorganisasi kepribadian dan lama kelamaan orang tersebut menjauhkan diri dari kenyataan (otisme).

6.

Teori Sigmund Freud Skizofrenia terdapat (1) kelemahan ego, yang dapat timbul karena penyebab psikogenik ataupun somatik (2) superego dikesampingkan sehingga tidak bertenaga lagi dan Id yamg berkuasa serta terjadi suatu regresi ke fase narsisisme dan (3) kehilangaan kapasitas untuk pemindahan (transference) sehingga terapi psikoanalitik tidak mungkin.

7. Eugen Bleuler Penggunaan istilah Skizofrenia menonjolkan gejala utama penyakit ini yaitu jiwa yang terpecah belah, adanya keretakan atau disharmoni antara proses berfikir, perasaan dan perbuatan. Bleuler membagi gejala Skizofrenia menjadi 2 kelompok yaitu gejala primer (gaangguan proses pikiran, gangguan emosi, gangguan kemauan dan otisme) gejala sekunder (waham, halusinasi dan gejala katatonik atau gangguan psikomotorik yang lain).

8. Teori lain Skizofrenia sebagai suatu sindroma yang dapat disebabkan oleh bermacammacaam sebab antara lain keturunan, pendidikan yang salah, maladaptasi, tekanan jiwa, penyakit badaniah seperti lues otak, arterosklerosis otak dan penyakit lain yang belum diketahui.
11

9. Ringkasan Sampai sekarang belum diketahui dasar penyebab Skizofrenia. Dapat dikatakan bahwa faktor keturunan mempunyai pengaruh. Faktor yang mempercepat, yang menjadikan manifest atau faktor pencetus (presipitating factors) seperti penyakit badaniah atau stress psikologis, biasanya tidak menyebabkan Skizofrenia, walaupun pengaruhnyaa terhadap suatu penyakit Skizofrenia yang sudah ada tidak dapat disangkal.( Maramis, 1998;218 ).

C. TANDA GEJALA Tanda dan gejala menurut (bleuler) 1.Gejala Primer a. Gangguan proses pikir (bentuk, langkah dan isi

pikiran). Yang paling menonjol adalah gangguan asosiasi dan terjadi inkoherensi b. Gangguan afek emosi Terjadi kedangkalan afek-emosi Paramimi dan paratimi (incongruity of affect / inadekuat) Emosi dan afek serta ekspresinya tidak mempunyai satu kesatuan Emosi berlebihan Hilangnya yang baik a. Gangguan kemauan Terjadi kelemahan kemauan Perilaku Negativisme atas permintaan Otomatisme orang lain b. Gejala Psikomotor Stupor atau hiperkinesia, logorea dan neologisme Stereotipi
12

kemampuan

untuk

mengadakan

hubungan

emosi

merasa

pikiran/perbuatannya

dipengaruhi

oleh

Katelepsi : mempertahankan posisi tubuh dalam waktu yang lama Echolalia dan Echopraxia

3. Gejala sekunder a. Delusi b. Halusinasi

c. Cara bicara/berfikir yang tidak teratur d. Perilaku negatif, misalkan: kasar, kurang termotifasi, muram, perhatian menurun.

D. PENATALAKSANAAN Pengobatan harus secepat mungkin, karena keadaan psikotik yang lama menimbulkan kemungkinan yang lebih besar bahwa penderita menuju ke kemunduran mental. Terapist jangan melihat kepada penderita skizofrenia sebagai penderita yang tidak dapat disembuhkan lagi atau sebagai suatu mahluk yang aneh dan inferior. Bila sudah dapat diadakan kontan, maka dilakukan bimbingan tentang hal-hal yang praktis. Biarpun penderita mungkin tidak sempurna sembuh, tetapi dengan pengobatan dan bimbingan yang baik penderita dapat ditolong untuk berfungsi terus, bekerja sederhana di rumah ataupun di luar rumah.Keluarga atau orang lain di lingkungan penderita diberi penerangan (manipulasi lingkungan) agar mereka lebih sabar menghadapinya. 1. Farmakoterapi Neroleptika dengan dosis efektif rendah lebih bermanfaat pada penderita dengan skizofrenia yang menahun, yang dengan dosis efektif tinggi lebih berfaedah pada penderita dengan psikomotorik yang meningkat. Pada penderita paranoid trifuloperazin rupanya lebih berhasil. Dengan fenotiazin biasanya waham dan halusinasi hilang dalam waktu 2 3 minggu. Bila tetap masih ada waham dan halusinasi, maka penderita tidak begitu terpengaruh lagi dan menjadi lebih kooperatif, mau ikut serta dengan kegiatan lingkungannya dan mau turut terapi kerja. Sesudah gejala-gejala menghilang, maka dosis dipertahankan selama beberapa bulan lagi, jika serangan itu baru yang pertama kali. Jika serangan skizofrenia itu sudah lebih dari satu kali, maka sesudah gejala-gejala mereda, obat diberi terus selama satu atau dua tahun. Kepada
13

pasien dengan skizofrenia menahun, neroleptika diberi dalam jangka waktu yang tidak ditentukan lamanya dengan dosis yang naik turun sesuai dengan keadaan pasien (seperti juga pemberian obat kepada pasien dengan penyakit badaniah yang menahun, umpamanya diabetes mellitus, hipertensi, payah jantung, dan sebagainya). Senantiasa kita harus awas terhadap gejala sampingan. Hasilnya lebih baik bila neroleptika mulai diberi dalam dua tahun pertama dari penyakit. Tidak ada dosis standard untuk obat ini, tetapi dosis ditetapkan secara individual. 2. Terapi Elektro-Konvulsi (TEK) Seperti juga dengan terapi konvulsi yang lain, cara bekerjanya elektrokonvulsi belum diketahui dengan jelas. Dapat dikatakan bahwa terapi konvulsi dapat memperpendek serangan skizofrenia dan mempermudah kontak dengan penderita. Akan tetapi terapi ini tidak dapat mencegah serangan yang akan datang. Bila dibandingkan dengan terapi koma insulin, maka dengan TEK lebih sering terjadi serangan ulangan. Akan tetapi TEK lebih mudah diberikan dapat dilakukan secara ambulant, bahaya lebih kurang, lebih murah dan tidak memerlukan tenaga yang khusus pada terapi koma insulin. TEK baik hasilnya pada jenis katatonik terutama stupor. Terhadap skizofrenia simplex efeknya mengecewakan; bila gejala hanya ringan lantas diberi TEK, kadang-kadang gejala menjadi lebih berat.

3.

Terapi koma insulin Meskipun pengobatan ini tidak khusus, bila diberikan pada permulaan

penyakit, hasilnya memuaskan. Persentasi kesembuhan lebih besar bila di mulai dalam waktu 6 bulan sesudah penderita jatuh sakit. Terapi koma insulin memberi hasil yang baik pada katatonia dan skizofrenia paranoid. 4. Psikoterapi dan rehabilitasi

14

Psikoterapi dalam bentuk psikoanalisa tidak membawa hasil yang diharapkan bahkan ada yang berpendapat tidak boleh dilakukan pada penderita dengan skizofrenia karena justru dapat menambah isolasi dan otisme. Yang dapat membantu penderita ialah psikoterapi suportif individual atau kelompok, serta bimbingan yang praktis dengan maksud untuk mengembalikan penderita ke masyarakat. Terapi kerja baik sekali untuk mendorong penderita bergaul lagi dengan orang lain, penderita lain, perawat dan dokter. Maksudnya supaya ia tidak mengasingkan diri lagi, karena bila ia menarik diri ia dapat membentuk kebiasaan yang kurang baik. Dianjurkan untuk mengadakan permainan atau latihan bersama. Pemikiran masalah falsafat atau kesenian bebas dalam bentuk melukis bebas atau bermain musik bebas, tidak dianjurkan sebab dapat menambah otisme. Bila dilakukan juga, maka harus ada pemimpin dan ada tujuan yang lebih dahulu ditentukan. Perlu juga diperhatikan lingkungan penderita. Bila mungkin di atur sedemikian rupa sehingga ia tidak mengalami stres terlalu banyak. Bila mungkin sebaiknya ia dikembalikan ke pekerjaan sebelum sakit, dan tergantung pada kesembuhan apakah tanggung jawabnya dalam pekerjaan itu akan penuh atau tidak. 5. Lobotomi prefrontal. Dapat dilakukan bila terapi lain secara intensif tidak berhasil dan bila penderita sangat mengganggu lingkungannya. Jadi prognosa skizofrenia tidak begitu buruk seperti dikira orang sampai dengan pertengahan abad ini. Lebihlebih dengan neroleptika, lebih banyak penderita dapat dirawat di luar rumah sakit jiwa. Dan memang seharusnya E. PATOFISIOLOGI a. Peningkatan ukuran ventrikular, penurunan ukuran otak, dan asimetri otak telah dilaporkan. Penurunan ukuran hipokampus mungkin berhubungan dengan penurunan uji neuropsikologi dan respon yang lebih buruk terhadap antipsikotik generasi pertama (FGAs).
15

b. Hipotesa dopaminergik ; Psikosis dapat berasal dari hiper- atau hipoaktivitas dari proses dopaminergik pada daerah otak tertentu. c. Disfungsi glutamatergik ; Saluran glutamatergic berinteraksi dengan saluran dopaminergik. Kekurangan aktivitas glutamatergic menghasilkan gejala-gejala mirip dengan hiperaktif dopaminergik dan mungkin yang terlihat pada skizofrenia. d. Abnormalitas Serotonin (5-HT) ; pasien skizofrenia dengan scan otak yang abnormal memiliki konsentrasi 5-HT darah yang lebih tinggi. e. Kelainan primer dapat terjadi dalam satu neurotransmitter dengan perubahan sekunder dalam neurotransmitter lainnya. f. Penelitian molekuler yang melibatkan perubahan halus dalam protein-G, metabolism protein, dan proses subselular lainnya mungkin

mengidentifikasi gangguan biologis dalam skizofrenia.

16

F. PATHWAYS

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Neuropatologi Diagnosa definitif tidak dapat ditegakkan tanpa adanya konfirmasi neuropatologi. Secara umum didapatkan: atropi yang bilateral, simetris lebih menonjol pada lobus temporoparietal, anterior frontal, sedangkan korteks oksipital, korteks motorik primer, sistem somatosensorik tetap utuh berat otaknya berkisar 1000 gr (850-1250gr). neuropsikologik

2. Pemeriksaan Penyakit alzheimer selalu menimbulkan gejala demensia.

17

Fungsi pemeriksaan neuropsikologik ini untuk menentukan ada atau tidak adanya gangguan fungsi kognitif umum danmengetahui secara rinci pola defisit yang terjadi.

Test psikologis ini juga bertujuan untuk menilai fungsi yang ditampilkan oleh beberapa bagian otak yang berbeda-beda seperti gangguan memori, kehilangan ekspresi, kalkulasi, perhatian dan pengertian berbahasa..

3. CT scan: Menyingkirkan kemungkinan adanya penyebab demensia lainnya selain alzheimer seperti multiinfark dan tumor serebri. Atropi kortikal menyeluruh dan pembesaran ventrikel keduanya merupakan gambaran marker dominan yang sangat spesifik pada penyakit ini Penipisan substansia alba serebri dan pembesaran ventrikel berkorelasi dengan beratnya gejala klinik dan hasil pemeriksaan status mini mental 4. MRI Peningkatan intensitas pada daerah kortikal dan periventrikuler (Capping anterior horn pada ventrikel lateral). Capping ini merupakan predileksi untuk demensia awal. Selain didapatkan kelainan di kortikal, gambaran atropi juga terlihat pada daerah subkortikal seperti adanya atropi hipokampus, amigdala, serta pembesaran sisterna basalis dan fissura sylvii. MRI lebih sensitif untuk membedakan demensia dari penyakit alzheimer dengan penyebab lain, dengan memperhatikan ukuran (atropi) dari hipokampus. 5. EEG Berguna untuk mengidentifikasi aktifitas bangkitan yang suklinis. Sedang pada penyakit alzheimer didapatkan perubahan gelombang lambat pada lobus frontalis yang non spesifik 6. PET (Positron Emission Tomography) Pada penderita alzheimer, hasil PET ditemukan: Penurunan aliran darah Metabolisme O2 Dan glukosa didaerah serebral

18

Up take I.123 sangat menurun pada regional parietal, hasil ini sangat berkorelasi dengan kelainan fungsi kognisi danselalu dan sesuai dengan hasil observasi penelitian neuropatologi

7. SPECT (Single Photon Emission Computed Tomography) Aktivitas I. 123 terendah pada refio parieral penderita alzheimer. Kelainan ini berkolerasi dengan tingkat kerusakan fungsional dan defisit kogitif. Kedua pemeriksaan ini (SPECT dan PET) tidak digunakan secara rutin. 8. Laboratorium darah Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang spesifik pada penderita alzheimer. Pemeriksaan laboratorium ini hanya untuk menyingkirkan penyebab penyakit demensia lainnya seperti pemeriksaan darah rutin, B12, Calsium, Posfor, BSE, fungsi renal dan hepar, tiroid, asam folat, serologi sifilis, skreening antibody yang dilakukan secara selektif.

H. KOMPLIKASI Jika tidak diobati, skizofrenia bisa mengakibatkan trauma emosi, perilaku, kesehatan, dan bahkan masalah hukum dan keuangan yang mempengaruhi setiap bidang kehidupan mereka. Komplikasi yang disebabkan oleh skizofrenia paranoid, meliputi: Bunuh diri (pikiran dan perilaku) Perilaku merusak diri sendiri Depresi Penyalahgunaan alkohol, obat-obatan atau obat resep Kemiskinan Tunawisma Dipenjara konflik keluarga Ketidakmampuan untuk bekerja atau bersekolah Gangguan kesehatan akibat obat antipsikotik Menjadi korban atau pelaku kejahatan kekerasan Jantung dan penyakit paru-paru yang berhubungan dengan merokok

19

BAB III ASKEP TEORI

Diagnosa 1 : Resiko mencederai diri sendiri dan atau orang lain/lingkungan berhubungan dengan perubahan persepsi sensori/halusinasi Tujuan Umum :

Klien tidak mencederai diri sendiri dan atau orang lain / lingkungan.

Tujuan khusus : 1. Klien dapat hubungan saling percaya : a. Bina hubungan saling percaya

Salam terapeutik Perkenalan diri Jelaskan tujuan interaksi Ciptakan lingkungan yang tenang Buat kontrak yang jelas pada setiap pertemuan (topik, waktu dan tempat berbicara).

b. Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya. c. Dengarkan ungkapan klien dengan empati.

2. Klien dapat mengenal halusinasinya a. Lakukan kontak sering dan singkat. Rasional : untuk mengurangi kontak klien dengan halusinasinya. b. Obeservasi tingkah laku klien terkait dengan halusinasinya; bicara dan tertawa tanpa stimulus, memandang kesekitarnya seolah olah ada teman bicara. c. Bantu klien untuk mengenal halusinasinya ;

Bila klien menjawab ada, lanjutkan ; apa yang dikatakan ? Katakan bahwa perawat percaya klien mendengarnya. Katakan bahwa klien lain juga ada yang seperti klien. Katakan bahwa perawatan akan membantu klien.

d. Diskusikan dengan klien tentang ;


20

Situasi yang dapat menimbulkan / tidak menimbulkan halusinasi. Waktu dan frekuensi terjadinya halusinasi (pagi, siang sore, malam atau bila sendiri atau bila jengkel / sedih).

e. Diskusikan dengan klien tentang apa yang dirasakan bila terjadi halusinasi (marah / takut / sedih / senang) dan berkesempatan mengungkapkan perasaan.

3. Klien dapat mengontrol halusinasinya a. Identifikasi bersama klien cara / tindakan yang dilakukan bila terjadi halusinasi (tidur/marah/menyibukkan diri) b. Diskusikan manfaat cara yang digunakan klien, bila bermanfaat beri pujian. c. Diskusi cara baru untuk memutus / mengontrol timbulnya halusinasi :

Katakan saya tidak mau dengan kamu (pada halusinasi). Menemui orang lain (perawat / teman / anggota keluarga untuk bercakap cakap . mengatakan halusinasinya. Membuat jadwal kegiatan sehari hari agar halusinasi tidak sempat muncul. Meminta orang lain (perawat / teman anggota keluarga) menyapa bila tampak bicara sendiri.

d. Bantu klien memilih dan melatih cara memutus / mengontrol halusinasi secara bertahap. e. Berikan kesempatan untuk melakukan cara yang telah dilatih, evaluasi hasilnya dan pujian bila berhasil. f. Anjurkan klien untuk mengikuti terapi aktivitas kelompok (orientasi realisasi dan stimulasi persepsi).

4. Klien dapat dukungan keluarga dalam mengotrol halusinasinya : a. Anjurkan klien memberitahu keluarga bila mengalami halusinasi. b. Diskusikan dengan keluarga (pada saat berkunjung / pada saat kunjungan rumah)

Gejala halusinasinya yang dialami klien Cara yang dapat dilakukan klien dan ke-luarga untuk memutus halusinasi Cara merawat anggota keluarga yang halusinasi di rumah : Beri kegiatan, jangan biarkan sendiri, makan bersama, berpergian bersama

21

Berikan informasi waktu follow up atau kapan perlu mandapat bantuan; halusinasi tak terkontrol dan resiko mencederai orang lain.

5. Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik :


Diskusi dengan klien dan keluarga tentang dosis, frekuensi dan manfaat obat. Anjurkan klien meminta sendiri obat pada perawat merasakan manfaatnya. Anjurkan klien bicara dengan dokter / perawat tentang efek dan efek samping obat yang dirasakan.

Diskusikan akibat berhenti obat tanpa kon-sultasi. Bantu klien menggunakan obat, dengan prinsip 5 (lima) benar (benar dosis, benar cara, benar waktu)

2. Diagnosa 2 : Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan perubahan proses pikir (waham). Tujuan Umum :

Klien dapat melakukan komunikasi verbal

Tujuan Khusus : 1. Klien dapat membina hubungan saling percaya a. Bina hubungan saling percaya dengan klien. b. Jangan membantah dan mendukung waham klien.

Katakan perawat menerima : saya menerima keyakinan anda, disertai ekspresi menerima.

Katakan perawat tidak mendukung : sadar bagi saya untuk mempercayainya disertai ekspresi ragu dan empati.

Tidak membicarakan isi waham klien.

c. Yakinkan klien berada dalam keadaan aman dan terlindung.


Gunakan keterbukaan dan kejujuran Jangan tinggalkan klien sendirian Klien diyakinkan berada di tempat aman, tidak sendirian.

22

2. Klien dapat mengindentifikasi kemampuan yang dimilki


Beri pujian pada penampilan dan kemampuan klien yang realitas. Diskusikan dengan klien kemampuan yang dimiliki pada waktu lalu dan saat ini yang realistis. Tanyakan apa yang bisa dilakukan (aktiviotas sehari hari) Jika klien selalu bicara tentang wahamnya, dengarkan sampai waham tidak ada.

3. Klien dapat mengindentifikasi kebutuhan yang tidak terpenuhi :


Observasi kebutuhan klien sehari hari. Diskusi kebutuhan klien yang tidak terpenuhi baik selama di rumah / di RS. Hubungan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan timbulnya waham. Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan klien (buat jadwal aktivitas klien).

4. Klien dapat berhubungan dengan realitas :


Berbicara dengan klien dalam kontek realita (diri orang lain, tempat, waktu) Sertakan klien dalam terapi aktivitas kelompok: orientasi realitas Berikan pujian pada tiap kegiatan positif yang dilakukan klien.

5. Klien dapat dukungan keluarga :


Gejala waham. Cara merawatnya. Lingkungan keluarga.

6. Klien dapat menggunakan obat dengan benar

Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang obat, dosis, frekuensi, efek samping obat, akibat penghentian.

Diskusikan perasaan klien setelah minum obat Berikan obat dengan prinsip 5 tepat

23

3. Doagnosa 3 : Difisit perawatan diri berhubungan dengan koping individu tidak efektif Tujuan Umum :

Klien mampu merawat diri sehingga penampilan diri menjadi adekuat

Tujuan Khusus : 1. klien dapat mengindentifikasi kebersihan diri


Dorong klien mengungkapkan perasaan tentang keadaan dan kebersihan dirinya. Dengan ungkapan klien dengan penuh perhatian dan empati. Beri pujian atas kemampuan klien mengungkapkan perasaan tentang kebersihan dirinya.

Diskusi dengan klien tentang arti kebersihan diri Diskusikan dengan klien tujuan kebersihan diri.

2. Klien mendapat dukungan keluarga dalam meningkatkan kebersihan dirinya.


Kaji tentang tingkat pengetahuan keluarga tentang kebutuhan perawatan diri klien Diskusikan dengan keluarga Motivasi keluarga dalam berperan aktif memenuhi kebutuhan perawatan diri klien. Beri pujian atas tindakan positif yang telah dilakukan keluarga.

24

BAB IV CONTOH KASUS DAN ASKEP asuhan keperawatan jiwa pada Tn. A dengan isolasi sosial di Ruang Elang Rumah Sakit Khusus Provinsi Kalimantan Barat, penulis melakukan asuhan keperawatan selama tiga hari dimulai dari tanggal 14 Juni 2012 sampai dengan 16 Juni 2012. A. 1. PENGKAJIAN Identitas Pasien

Pasien bernama Tn. A, umur 28 tahun dan belum menikah, pendidkan terakhir STM, pasien masuk pada tanggal 1 Juni 2012 dan didiagnosa Skizofrenia Hebefrenik. Penanggung jawab pasien adalah Tn. F (adik ipar) yang berusia 27 tahun. 2. Alasan Masuk

Berdasarkan catatan rekam medis, pada tanggal 1 Juni 2012 pasien di bawa ke RSK Provinsi Kalimantan Barat oleh keluarganya dengan alasan 2 hari sebelum masuk rumah sakit, pasien marah-marah dan memukul warga setempat hingga menyerang warga menggunakan senapan angin. Berdasarkan pengkajian yang dilakukan pada tanggal 14 Juni 2012 pasien mengatakan dibawa oleh keluarganya ke rumah sakit dengan alasan pasien tidak suka melihat tetangganya yang suka omong kosong, pasien akan membentak orang tersebut dan akan meninju orangorang yang suka omong kosong, sehingga pasien mengisolasi diri dikamar sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit. 3. Faktor Predisposisi

Faktor penyebab terjadinya gangguan jiwa pada Tn. A adalah kehidupan keluarganya yang kurang harmonis, membuat pasien sering marah-marah dengan keluarganya, hal ini juga didukung dengan keadaan dimana pasien tidak suka dengan keluarga maupun tetangga pasien yang suka bicara omong kosong atau bicara tinggi. Menurut catatan keperawatan pasien mempunyai riwayat putus cinta 8 bulan yang lalu sejak ia pulang dari malaysia, sejak kejadian itu klien menjadi sensitif serta mudah marah. Pasien pernah menjadi pelaku dalam kekerasan rumah tangga, pada usia 28 tahun. Pasien mengatakan kehidupan didalam keluarganya kurang harmonis dan ini yang menyebabkan
25

pasien sering marah-marah dirumah dan bahkan menyerang ayahnya. Didalam anggota keluarganya Tn.A, tidak ada anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa, hanya saja adik Tn.A yang nomor 6 mengalami retardasi mental. Pasien mengatakan, pengalaman masa lalunya yang tidak menyenangkan terlalu banyak, sehingga ia tidak ingat lagi dan ia juga tidak mau mengingatnya lagi karena akan menbuat stres, pada usia 20 tahun pasien adalah alkoholik. Masalah keperawatan: 4. Resiko perilaku kekerasa Inefektif koping individu

Faktor Presipitasi

Sebelumnya pasien pernah mengalami gangguan jiwa. Tiga bulan yang lalu tanggal 29 Februari 2012 pasien berobat ke Rumah Sakit Khusus Kalimantan Barat dengan keluhan sering marah-marah dan terkadang mengisolasi diri dikamar tidak mau makan dan minum. Saat berada dirumah, pasien berobat jalan dipraktik dr. Ibnu, dan pasien juga mengatakan saat dirumah sering malas minum obat. Berdasarkan catatan keperawatan, pasien tidak minum obat secara teratur dan sering putus obat. Masalah Keperawatan: 5. a. Inefektif regimen therapeutik

Pemeriksaan Fisik Tanda - tanda vital : TD = 100/60 mmHg, N = 64 x/mnt, S = 36, 2 C dan RR = 18

x/mnt. b. c. Berat badan 70 kg, tinggi badan 172 cm, berat badan ideal 65 kg. Pemeriksaan Fisik Head to Toe.

1) Kepala, leher Kepala: Pada saat diinspeksi rambut pasien lurus dan pendek, berwarna hitam, kebersihan baik, pada saat dipalpasi tidak terdapat benjolan dan nyeri tekan pada kepala.

26

Leher: tekan. 2) Mata

Pada saat diinspeksi tidak terdapat pembesaran vena jugularis, tidak terdapat nyeri

Bentuk mata simetris, penglihatan baik, tidak memakai alat bantu penglihatan. 3) Telinga Bentuk simetris, pendengaran baik dibuktikan Tn. A dapat menjawab pertanyaan perawat, kebersihan telinga cukup dan Tn. A tidak menggunakan alat bantu pendengaran. 4) Hidung Hidung Tn. A simetris, fungsi penciuman baik dibuktikan Tn. A dapat mencium wangi sabun, tidak terdapat polip. 5) Mulut Bibir Tn. A simetris, gigi Tn. A lengkap dan bersih, mukosa bibir lembab. 6) Integumen Warna kulit sawo matang, kulit tampak kering, turgor kulit cukup. 7) Dada a) Rongga Torax Bentuk dada simetris, respirasi 18x/menit. b) Abdomen Saat diispeksi tidak terdapat lesi, tidak terdapat nyeri tekan. c) Punggung Tidak terdapat kelainan pada tulang belakang. d) Ekstremitas Atas: Bawah: pergerakan tangan baik, turgor kulit kurang, kulit berwarna sawo matang. pergerakan kaki baik, tidak terdapat odema pada kaki, kebersihan kaki baik.
27

6. a.

Psikososial Genogram

Ket : = perempuan = laki-laki = meninggal = pasien = tinggal serumah

Berdasarkan hasil pengkajian, pasien tidak mampu menjelaskan silsilah keturunan secara keseleruhun, terutama kakek dan nenek pasien, karena pasien kesulitan dalam mengingatnya, sehingga hanya didapatkan data sebanyak dua generasi (keturunan). Didalam catatan keperawatan juga tidak terdapat genogram tiga keturunan. b. Masalah komunikasi, pengambilan keputusan, dan pola asuh

Pasien mengatakan, ia anak ke-5 dari 7 bersaudara, ia hanya tinggal bersama ayah, ibu dan adiknya yang ketujuh, sedangkan saudaranya yang lain ada yang telah menikah dan bekerja. Pasien mempunyai pola asuh yang baik, hanya saja pasien mengatakan kehidupan keluarganya kurang harmonis. Semenjak ia dan keluarga lainnya pisah, dalam hal pengambilan keputusan, ayah pasien selalu memusyawarahkannya terlebih dahulu. c. Konsep Diri

1) Citra Tubuh Pasien mengatakan ia menyukai seluruh tubuhnya, karena pasien menyadari bahwa seluruh anggota tubuhnya ini telah diciptakan Allah SWT sesempurna mungkin, sehingga ia selalu bersyukur dengan yang diberikan allah SWT. 2) Identitas Diri Pasien dapat menyebutkan namanya dan pasien mengatakan bahwa pasien adalah seorang laki- laki, penampilan Tn. A sesuai dengan identitasnya sebagai seorang laki-laki. Tn. A merasa tidak puas sebagai seorang laki-laki karena belum menikah. Tn. A bekerja sebagai petani. Pasien anak kelima dari tujuh bersaudara, pasien tamatan STM.
28

3) Peran Pasien berperan sebagai anak yang belum menikah dan bekerja sebagai petani. Dirumah sakit pasien berperan sebagai pasien yang mentaati praturan rumah sakit 4) Ideal Diri Pasien berharap cepat sembuh dan berkumpul bersama keluarganya. Dan bisa bekerja lagi untuk membahagiakan kedua orang tuanya dan ingin segera sembuh agar segera menikah. 5) Harga Diri Pasien merasa sedih karena ia sekarang sakit, tidak bisa berkumpul dengan keluarganya dan menyusahkan keluarganya saja. d. Hubungan Sosial 1) Orang yang berarti Pasien mengatakan orang yang berarti baginya adalah kakaknya yang nomor empat. Jika ada masalah pasien kadang menceritakan kepada kakaknya. 2) Peran dalam kegiatan kelompok Pasien mengatakan malas untuk bersosialisasi dengan tetangganya, karena tetangganya sring berbicara kosong. 3) Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain. Pasien mengatakan mengatakan malas untuk berhubungan dengan orang lain, selain karena ia malas ngobrol dengan orang lain, juga karena pasien sering lupa nama orang dan tidak ada untungnya. Masalah keperawatan: e. Isolasi sosial

Spiritual

1) Nilai dan keyakinan

29

Pasien beragama Islam, dan pasien percaya dengan adanya Allah SWT. Menurut pasien, penyakitnya ini merupakan cobaan dari Allah SWT. 2) Kegiatan ibadah Saat di rumah pasien shalat lima waktu, namun selama dirumah sakit pasien tidak pernah shalat, karena pasien beranggapan bahwa dirinya ini kotor dan tidak suci untuk melakukan ibadah shalat. 7. Status Mental

a. Penampilan Penampilan pasien rapi, pakaian bersih dan diganti setiap hari, serta pasien berpakaian sesuai. b. Pembicaraan Pasien berbicara dengan nada yang pelan dan lambat, jelas dan mudah dimengerti. Namun pasien tidak mampu untuk memulai pembicaraan kepada orang lain. Masalah Keperawatan: c. Isolasi sosial

Aktivitas motorik

Pasien tampak lesu, malas beraktivitas, pasien lebih sering berdiam diri dan sering menghabiskan waktunya ditempat tidur. Masalah keperawatan: Isolasi sosial

d. Afek dan Emosi 1) 2) Afek pasien tumpul, berespon apabila di berikan stimulus yang kuat. Emosi pasien stabil. Pasien mengatakan saat ini sedih karna tidak pernah lagi

dijenguk keluarganya. Masalah keperawatan: Isolasi sosial


30

e.

Interaksi selama wawancara

Selama wawancara kontak mata pasien baik, pasien tampak ragu dalam menjawab pertanyaan perawat sehingga perawat harus mengulangi beberapa pertanyaan kepada pasien, tingkat konsentrasi pasien baik, ditandaidengan ketika wawancara, pasien terfokus kepada perawat. Selain itu pasien tidak memiliki keinginan untuk berinteraksi kecuali perawat yang memulai. Masalah keperawatan: f. Isolasi sosial

Persepsi dan sensori

Pasien tidak mengalami gangguan persepsi sensori ilusi dan halusinasi, baik itu halusinasi pendengaran, penglihatan, perabaan, pengecapan, dan penghidu. Ditandai dengan pasien mengatakan tidak pernah mendengar, melihat dan merasakan yang aneh-aneh tanpa wujud. g. 1) Proses pikir (arus dan bentuk pikir) Proses Pikir (arus dan bentuk pikiran)

Saat bicara Tn. A kadang- kadang terdiam dan sulit memulai pembicaraan. Masalah keperawatan: 2) Isolasi sosial Isi Pikir

Tn. A tidak mengalami gangguan isi pikir. Isi pikir Tn. A sesuai dengan kenyataan saat ini. Dibuktikan Tn.A tidak memiliki keinginan yang besar sesuai dengan keadaannya saat ini. h. Tingkat kesadaran

Tingkat kesadaran pasien bingung. Pasien mengalami gangguan orientasi tempat, terbukti dengan pasien mengatakan bahwa dirinya berada di rumah sakit Griya Husada. Orientasi waktu pasien baik di buktikan dengan pasien mengetahui hari dan tanggal i. Memori

Pasien mengalami gangguan daya ingat jangka panjang, namun pasien tidak mengalami gangguan mengingat jangka pendek dan saat ini.
31

Jangka panjang: Pasien tidak dapat menceritakan kejadian yang terjadi beberapa bulan yang lalu, terutama saat ia berada dimalysia. Jangka pendek: Pasien dapat menceritakan kejadian ketika pasien di bawa masuk oleh keluarganya. Saat ini: Pasien dapat mengingat nama perawat, serta janji / kontrak yang telah dibuat. j. Tingkat konsentrasi dan berhitung

Pasien mampu untuk berkonsentrasi penuh, pasien mampu berhitung sederhana dibuktikan dengan pasien dapat menyebutkan perhitungan dari 1-10 dan sebaliknya dari 10-1. k. Kemampuan penilaian

Pasien tidak ada masalah pada kemampuan penilaian, terbukti dengan pada saat diberi pilihan mau makan setelah mandi atau mandi setelah makan, pasien memilih makan setelah mandi. l. Daya tilik diri

Pasien mengatakan ia tidak tau sedang sakit apa, ia bertanya-tanya mengapa saya diberi obat yang efek sampingnya membuat saya mengantuk dan lemah. 8. a. Kebutuhan Perencanaan Pulang Kemampuan pasien memenuhi kebutuhan

Pasien mampu memenuhi kebutuhan makan dan minum secara mandiri, sedangkan untuk kebutuhan lainnya seperti keamanan, perawatan kesehatan, pakaian, transportasi, tempat tinggal, keuangan dan lain-lain belum dapat dipenuhi secara mandiri. b. Kegiatan hidup sehari hari (ADL)

1) Perawatan diri Pasien mengatakan mandi dua kali sehari dengan menggunakan sabun, shampo serta menggosok gigi sebanyak dua kali sehari. Setelah mandi pasien tidak menyisir rambut karena sisir tidak ada diruangan. 2) Nutrisi

32

Pasien makan 3x/hari, pasien tidak dapat menghabiskan 1 porsi yang telah di sediakan rumah sakit, karena terlalu banyak. Pasien makan menggunakan tangan, dan tempat yang disediakan, pasien sudah mampu membereskan makan setelah makan. 3) Tidur Pasien tidur sehari biasanya 6 8 jam, tidur siang 1 2 jam. Pasien tidur malam mulai dari jam 21.00 dan bangun jam 05.00 pagi, pasien tidak mengalami kesulitan saat memulai tidur dan pasien bangun tidur dengan kondisi segar. Pasien belum dapat merapikan tempat tidurnya sendiri, semua masih di arahkan oleh perawat. 9. Mekanisme Koping

Pasien mengatakan apabila memiliki masalah lebih baik menghindar dari malasah tersebut, dan jika ada masalah, pasien akan memendam masalahnya itu dan lebih baik menyendiri dan menghindar dari orang lain.

Masalah keperawatan: Isolasi sosial Inefektif koping individu

10. Masalah Psikososial dan Lingkungan Pasien mempunyai masalah dengan lingkungannya, karena jarang berinteraksi dengan orang lain. Pasien lebih suka menyendiri daripada berkumpul dengan orang lain. Masalah keperawatan: Isolasi sosial

11. Pengetahuan Tentang Masalah Kejiwaan Pasien mengatakan ia tidak tahu ia sakit apa, dan ia juga bingung mengapa ia diberi obat yang efek sampingnya akan membuat ia menjadi mengantuk dan lemah, pasien juga mengatakan saat dirumah pernah diberi obat, namun pasien malas untuk meminum obat tersebut karena akan membuatnya mengantuk.
33

Masalah keperawatan: Inefektif regimen therapeutik

12. Aspek Medis Diagnosa medis: Terapi medis: Persidal Trihexipenidil Clorilex Vit. B6 Stelazine F.20.1 Skizofrenia Hebefrenik Fluoxetin 2 x 1 mg/hari 2 x 2 mg/hari 1 x 25 mg/hari 1 x 10 mg/hari 2 x 5 mg/hari 1 x 10 mg/hari

13. Daftar Diagnosa Keperawatan a. b. c. Isolasi Sosial Inefektif Regimen Therapeutik Inefektif Koping Individu

34

B. ANALISA DATA No 1. Data Ds: Pasien mengatakan malas untuk Masalah Keperawatan Isolasi Sosial

berinteraksi dengan pasien lain karena tidak ada untungnya. Pasien mengatakan selama dirumah sakit,

tidak ada satupun yang pasien kenal. Do: Pasien tampak sering menyendiri dari

teman-temannya. Pasien tampak tidak berinteraksi dengan

orang lain. Pasien tidak mampu memulai

pembicaraan Pasien banyak diam, pasien tidak mau

mengikuti kegiatan 2. Ds: Pasien mengatakan pernah masuk rumah Pasien tampak lesu, afek tumpul Pasien malas beraktivitas Inefektif Therapeutik Regimen

sakit ini, tapi lupa kapan waktunya. Pasien mengatakan saat dirumah malas

minum obat.

35

Do: Dari catatan keperawatan, pasien

berobat jalan di dr. Ibnu dan mengalami perubahan, namun tidak minum obat secara teratur dan sering putus obat. Pasien pernah masuk rumah sakit

khusus ini pada tanggal 29 Februari 2012 dan pulang pada tanggal 09 April 2012 3. Ds: Pasien mengatakan ia punya banyak masa lalu yang malas untuk Inefektif Koping Individu

masalah

diceritakan karena akan membuat stres Pasien mengatakan lebih baik

menghindari masalah Pasien mengatakan akan memendam

masalahnya tersebut dan lebih baik menyendiri dan menghindar dari orang lain Do: Menurut catatan keperawatan, pasien

mempunyai riwayat putus cinta 8 bulan sejak ia pulang dari malaysia, sejak kejadian itu klien menjadi sensitif serta mudah marah. 4. Ds: Pasien mengatakan dibawa oleh Resiko Kekerasan Perilaku

keluarganya ke rumah sakit karena tidak suka melihat tetangga yang suka omong kosong, pasien akan membentak orang tersebut dan akan meninjunya.

36

Pasien mengatakan kehidupan didalam

keluarganya kurang harmonis dan ini yang menyebabkan pasien sering marah-marah

dirumah dan bahkan menyerang ayahnya Do: Berdasarkan catatan rekam medis, pada

tanggal 1 Juni 2012 pasien dibawa ke RSK Provinsi Kalimantan Barat oleh keluarganya dengan alasan 2 hari sebelum masuk rumah sakit, pasien marah-marah dan memukul warga setempat hingga menyerang warga

menggunakan senapan angin. Pasien pernah menjadi pelaku dalam

kekerasan rumah tangga, pada usia 28 tahun.

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. a. b. c. d. Diagnosa Keperawatan Isolasi Sosial Inefektif Regimen Therapeutik Inefektif Koping Individu Resiko Perilaku Kekerasan

37

D. INTERVENSI KEPERAWATAN PERENCANAAN No Dx Diagnosa Keperawatan TUJUAN KRITERIA EVALUASI Setelah 3 X pertemuan pasien mampu : 1. Membina INTERVENSI

1.

Isolasi sosial

Pasien mampu : 1. Menyadaripenyeb

SP 1 Pasien 1. a. Identifikasi penyebab Siapa yang satu rumah dengan

ab isolasi 2. Berinteraksi

dengan orang lain.

hubungan saling percaya 2. Menyadari

pasien? b. Siapa yang dekat dengan

pasien? apa sebabnya? penyebab isolasi c. social, keuntungan dan kerugian berinteraksi dengan lain. 3. Melakukan orang a. Tanyakan pendapat pasien tentang interaksi dengan orang lain secara b. bertahap. Tanyakan apa yang menyebabkan pasien tidak ingin berinteraksi dengan orang lain. c. Diskusikan keuntungan bila kebiasaan berinteraksi Siapa yang tidak dekat dengan

pasien dan apa sebabnya? 2. Tanyakan keuntungan dan

kerugian berinteraksi dengan orang lain.

dengan orang lain.

pasien memiliki banyak teman dan bergaul akrab dengan orang lain. d. Diskusikan kerugian bila pasien hanya mengurung diri dan tidak bergaul dengan orang lain.

38

e.

Jelaskan pengaruh isolasi sosial

terhadap kesehatan fisik pasien. 3. a. Latih berkenalan Jelaskan kepada Pasien cara

berinteraksi dengan orang lain. b. Berikan contoh cara

berinteraksi dengan orang lain. c. Berikan kesempatan cara pasien

mempraktikan

berinteraksi

dengan orang lain yang dilakukan di hadapan perawat.

SP 2 Pasien 1. 2. Evaluasi Sp 1 Latih berhubungan sosial

secara bertahap 3. Masukkan dalam jadwal

kegiatan pasien.

SP 3 Pasien 1. 2. Evaluasi Sp 1 dan 2 Latih cara berkenalan dengan

2 orang atau lebih 3. Masukkan jadwal kegiatan

39

pasien. 3.

Setelah

tindakan Setelah 3 X pertemuan, keluarga SP 1 Keluarga 1. Diskusika

keperawatan, keluarga mampu: dapat merawat pasien isolasi sosial. 1. Menjelaskan

masalah n masalah yang keluarga merawat

keluarga dalam merawat pasien dialami isolasi sosial 2. Menegerti penyebab isolasi dalam pasien 2.

sosial 3. Memperagakan cara merawat

Jelaskan

pengertian, tanda dan gejala isolasi sosial yang pasien proses

pasien isolasi sosial 4.

Mempraktikan cara merawat dialami beserta perencanaan terjadinya 3.

pasien isolai sosial 5. Menyusun

pulang bersama keluarga

Jelaskan

cara-cara merawat pasien sosial isolasi

SP 2 Keluarga 1. Latih

keluarga mempraktikan cara pasien merawat dengan

isolasi sosial 2.
40

Latih

keluarga melakukan cara

merawat langsung pada pasien

isolasi sosial

SP 3 Keluarga 1. Bantu

keluarga membuat jadwal aktivitas

dirumah termasuk minum (perencanaan pulang) 2. Jelaskan tindak pasien obat

tindakan lanjut

setelah pulang

E. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN Hari,Tangg al & waktu Kamis 14 Jun 2012 Diagnosa Keperawatan Isolasi Sosial

Implementasi

Evaluasi

Paraf

Pertemuan

ke-1

SP

1 Sp 1 Isolasi Sosial, Pukul 13.00

Isolasi Sosial. 1.

Membina hubungan S: Pasien mengatakan Jalil dan

saling percaya 2. Mengidentifikasi

namanya Abdul senang

penyebab isos

dipanggil Pak

41

3.

Berdiskusi

dengan Abdul. Pasien mengatakan

pasien tentang keuntungan berinteraksi dengan orang lain dan kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain. 4. Mengajarkan cara

malas berinteraksi dengan pasien lain karena tidak ada untungnya. Pasien mengatakan

berkenalan dengan orang lain.

selama dirumah sakit tidak ada satupun orang yang Pasien kenal jika Pasien banyak mengatakan teman bisa

menambah wawasan Pasien mengatakan

jika tidak ada teman merasa kesepian Pasien mengatakan Pasien cara setelah

perasaan belajar

berkenalan

senang dan menambah ilmu. O: Pasien tampak

menyendiri Pasien tampak tidak

berinteraksi dengan orang lain Pasien tidak mampu

memulai pembicaraan Afek Pasien tumpul

42

Pasien

mempraktikan

cara berkenalan. A: teratasi Pasien mampu SP1 Isolasi Sosial

menyadari penyebab Isolasi Sosial Pasien mampu keuntungan tidak

menjelaskan dan

kerugian

berinteraksi dengan orang lain Pasien mampu cara

mempraktikan

berkenalan dengan perawat. P: PP : Evaluasi SP1 Isolasi Sosial, jika berhasil lanjut SP2 Isolasi Sosial PK : latihan dan jadwal cara

berkenalan kedalam pasien Jumat 15 Jun 2012 Isolasi Sosial Pertemuan ke-2 SP

masukan harian

2 Sp 2 Isolasi Sosial, Pukul 09.00 S: Pasien mengatakan itu

Isolasi Sosial. 1. 2. Mengevaluasi Sp 1

Melatih berhubungan -

sosial secara bertahap

cara-cara

berkenalan

43

3.

Memasukkan

tahap-tahapnya:

jabatkan diri, nama

kedalam jadwal kegiatan tangan, pasien. nama

perkenalkan lengkap,

panggilan, alamt dan hobby. nama senang Pasien saya mengatakan Abdul Jalil Jalil

dipanggil

alamat saya dari Kubu Raya hobby saya berolahraga dan memancing senang Pasien bisa mengatakan berkenalan

dengan suster E terasa Pasien lega mengatakan sudah bisa

berkenalan. Pasien mengatakan

ingin berkenalan 1X saja pada jam 12 siang. O: Pasien tampak

berkenalan dengan suster E Pasien bersama

perawat menyusun jadwal harian pasien Pasien tampak

berkenalan dengan Tn. I dikamarnya Pasien masih ingat


44

dengan SP 1 Isolasi sosial A: SP2 Isolasi Sosial

teratasi Pasien mampu

menjelaskan kembali cara berkenalan dengan orang lain Psien mampu

berkenalan dengan orang pertama. P: PP : evaluasi SP 1, SP 2 Isolasi sosial, jika berhasil lanjut SP 3 PK: praktikkan cara

berkenalan dengan perawat / pasien lain dan masukkan kedalam pasien. Sabtu 16 Jun 2012 Isolasi Sosial Pertemuan ke-3 SP 3 Sp 3 Isolasi Sosial, Pukul 09.00 jadwal harian

Isolasi Sosial. 1. dan 2 2. Melatih

Mengevaluasi Sp 1 S : Pasien mengatakan

cara sudah berkenalan dengan 2

berkenalan dengan 2 orang orang yaitu Amsyah dan atau lebih 3. Memasukkan Irhas. Pasien mengatakan

kedalam jadwal kegiatan cara berkenalan itu pertama-

45

pasien.

tama

jabatkan

tangan,

perkenalkan diri, alamat dan hobby, setelah itu baru

tanyakan kembali Pasien mengatakan

kemarin berkenalan dengan suster E Pasien mengatakan

perasaan hari ini senang sudah banyak teman senang Pasien bisa mengatakan berkenalan

dengan Rahmat Ramadhan. Pasien mengatakan

ingin latihan berkenalan 2X jam 09.00 pagi dan jam 12.00 siang. O: Pasien tampak

berkenalan dengan Tn. R Pasien tampak

sedang berbicara dengan Tn. R didalam kamar Pasien bersama

perawat menyusun jadwal harian pasien Pasien tampak ceria

setelah berkenalan dengan

46

Tn. R A : SP 3 Isolasi Sosial teratasi Pasien mampu

menjelaskan kembali caracara berkenalan Pasien mampu

berkenalan dengan orang kedua P: PP : evaluasi SP 1, SP 2, dan SP 3 Isolasi Sosial, jika berhasil lanjut intervensi

selanjutnya PK: terus berkenalan dan berbincang-bincang dengan pasien / perawat dan jadwal lain

diruangan kedalam pasien.

masukan harian

47

BAB V PEMBAHASAN A. PENEMUAN asuhan keperawatan pada Tn. A dengan isolasi sosial di ruang Elang Rumah Sakit Khusus Provinsi Kalimantan Barat. Dalam hal ini penulis membahas tentang sejauh mana kesenjangan antara tinjauan teoritis dengan tinjauan kasus yaitu dengan melalui tahapan proses keperawatan. Tahapan proses keperawatan ini terdiri dari pengkajian, perumusan diagnosa keperawatan, penyususnan rencana keperawatan serta evaluasi keperawatan. Selain itu faktor pendukung dan penghambat juga dipaparkan penulis guna mengatasi masalah yang muncul selama penyusunan laporan kasus pada Tn. A di ruang Elang Rumah Sakit Khusus Provinsi Kalimantan Barat. Asuhan keperawatan ini dilakukan selama tiga hari yaitu dari tanggal 14 Juni sampai 16 Juni 2012.

B. ANALISIS Pengkajian Pengkajian dimulai pada tanggal 14 Juni 2012 di ruang Elang Rumah

Sakit Khusus Provinsi Kalimantan Barat. Penulis mengumpulkan data dengan tehnik wawancara dan observasi. Wawancara ditujukan kepada pasien dan perawat ruangan, serta mengobservasi secara langsung sistematis keadaan pasien.

Penulis mengumpulkan informasi

secara

mengenai Tn.

A dengan menggunakan pendekatan teoritis yang terkait mulai dari faktor predisposisi, presipitasi, mekanisme koping, dan status mental pasien. Berdasarkan catatan rekam medis pasien didiagnosa skizofrenia hebefrenik (F 20.2). Menurut teori skizofrenia hebefrenik disebut juga disorganized type atau kacau balau yang ditandai dengan gejala-gejala seperti inkoherensi, alam perasaan, perilaku atau tertawa seperti anak-anak, waham tidak jelas, halusinasi, serta perilaku aneh Hawari (2006, hlm. 64-65). Keadaan pasien atau status mentalpasien sangat berbeda dengan teori yang ada. Pasien lebih menunjukan perilaku mengisolasi diri, serta afek tumpul. Tanda dan gejala yang ditunjukan lebih mengarah pada skizofrenia tipe residual sebagaimana tinjauan teoritis. Setelah mengetahui diagnosa medis pada Tn. A, penulis memulai faktor

pengkajiandengan

menggali

faktor

predisposisi

yang

merupakan

pendukungterjadinya gangguan jiwa pada Tn. A. Berdasarkan keterangan pasien,


48

pasien pernah menjadi pelaku dalam kekerasan rumah tangga, pada usia 28 tahun. Kehidupan rumah tangga didalam keluarganya kurang harmonis dan ini yang menyebabkan pasien sering marah-marah dirumah dan bahkan menyerang ayahnya. Menurut catatan keperawatan pasien mempunyai riwayat putus cinta 8 bulan yang lalu sejak ia pulang dari malaysia, sejak kejadian itu klien menjadi sensitif serta mudah marah. Hal ini sesuai dengan teori komunikasi dalam keluarga menurut Fitria (2009, hlm. 33-35), bahwa dalam teori ini yang termasuk dalam masalah berkomunikasi sehingga menimbulkan ketidakjelasan yaitu suatu keadaan dimana seorang anggota keluarga menerima pesan yang saling bertentangan dalam waktu bersama atau ekspresi emosi yang tinggi dalam keluarga yang menghambat untuk berhubungan dengan lingkungan diluar keluarga.

Faktor presipitasi berdasarkan catatan keperawatan, tiga bulan yang lalu tanggal 29 Februari 2012 pasien berobat ke Rumah Sakit Khusus Kalimantan Barat dengan keluhan sering marah-marah dan terkadang mengisolasi diri dikamar tidak mau makan dan minum. Saat berada dirumah, pasien berobat jalan dipraktik dr. Ibnu, dan pasien juga mengatakan saat dirumah sering malas minum obat. Berdasarkan catatan keperawatan, pasien tidak minum obat secara teratur dan sering putus obat. Faktor ini sesuai dengan pendapat Stuart (2007, hlm. 280) bahwa faktor presipitasi atau stresor pencetus pada umumnya mencakup peristiwa kehidupan yang menimbulkan stres. Hal ini yang menyebabkan klien menarik diri dari lingkungan. Pengkajian terhadap mekanisme koping yang digunakan Tn. A menggunakan mekanisme koping yang maladaptif, ia mengatakan apabila memiliki masalah lebih baik menghindar dari malasah tersebut, dan jika ada masalah, pasien akan memendam masalahnya itu dan lebih baik menyendiri dan menghindar dari orang lain. Telah dibahas pada tinjauan teoritis menurut Rasmun (2004,hlm. 32) isolasi merupakan perilaku yang menunjukan pengasingan diri dari lingkungan dan orang lain. Kasus ini membuktikan bahwa mekanisme yang maladaptif dapat menjadi faktor pendukung terjadinya gangguan jiwa.

Sumber koping juga berperan sebagai pertahanan terhadap stres. Tn. Atergolong dalam keluarga tingkat ekonomi rendah, kurang dukungan dalam keluarga, dan
49

belum menikah. Pasien lebih senang menyendiri dan jika ada masalah, klien hanya mendiamkan masalah tersebut, sehingga sumber koping ini tidak mampu menjadi pertahanan terhadap stressor sebagaimana faktor predisposisi dan presipitasi diatas yang menjadi faktor terjadinya gangguan jiwa. Telah dijelaskan Menurut Stuart dan Laraia (2005, hlm. 432) bahwa yang termasuk kedalam sumber koping antara lain, keterlibatan dalam hubungan keluarga yang luas dan teman, serta hubungan dengan hewan peliharaan yaitu dengan mencurahkan perhatian pada hewan peliharaan dan penggunaan kreativitas untuk mengekspresikan stres interpersonal (misalnya: kesenian, musik, atau tulisan) hanya saja, pasien tidak mempunyai sumber koping tersebut.

Berdasarkan pengkajian terhadap status mental, penulis mendapatkan data isolasi sosial seperti afek tumpul, pembicaraan dengan nada yang pelan dan lambat, pasien tidak mampu memulai pembicaraan, pasien tampak lesu, malas beraktivitas, pasien lebih sering berdiam diri dan sering menghabiskan waktunya ditempat tidur. Hal ini sesuai dengan pengkajian teoritis menurut Keliat (2010, hlm. 93) bahwa pengkajian status mental pada pasien isolasi sosial akan didapatkan data bahwa, pasien mengatakan malas bergaul dengan orang lain, pasien mengatakan dirinya tidak ingin ditemani perawat dan meminta untuk sendirian, pasien mengatakan tidak mau berbicara dengan orang lain, pasien mengatakan hubungan yang tidak berarti dengan orang lain, pasien merasa tidak aman dengan orang lain, pasien mengatakan tidak bisa melangsungkan hidup, pasien mengatakan merasa bosan dan lambat menghabiskan waktu. Beberapa data ada yang tidak ditemukan oleh penulis pada Tn. A sesuai dengan tinjauan teoritis antara lain pasien merasa tidak aman dengan orang lain, pasien mengatakan tidak bisa melangsungkan hidup. Tidak munculnya data tersebut dikarenakan pasien sudah empat belas hari berada di rumah sakit, dan telah mendapatkan terapi baik terapi medis maupun terapi keperawatan.

Selama proses pengkajian pada Tn. A penulis merasakan adanya faktorpendukung dan penghambat. Faktor pendukung dari proses pengkajian adalahsikap pasien yang kooperatif sehingga memudahkan penulis dalam menggali data-data masalah yang sedang dihadapi pasien. Faktor penghambat dalammelakukan pengkajian
50

yaitu tidak adanya keluarga pasien saat dilakukannya pengkajian sehingga penulis tidak dapat melakukan validasi data yang didapat dari pasien. Selain itu tidak adanya pemeriksaan penunjang yang spesifik terhadap faktor biologis penyebab terjadinya isolasi sosial juga merupakan faktor penghambat bagi penulis, sehingga pemberian obat pun menjadi tidak spesifik, hanya berdasarkan gejala yang muncul. Oleh karena itu, jadwal berkunjung keluarga harusnya dibuat, agar keluarga dapat berkunjung ke rumah sakit sesuai jadwal, dan segala fasilitas yang menyangkut pemeriksaan diagnostik agar segera difasilitasi. B. Diagnosa Keperawatan Data yang telah diperoleh dari pengkajian, kemudian dilakukan proses analisa dan pengelompokkan data berdasarkan respon pasien terhadap masalah tersebut. Akhirnya penulis merumuskan empat diagnosa keperawatan pada Tn. A, antara lain : isolasi sosial, inefektif regimen therapeutik, dan inefektif koping individu dan resiko perilaku kekerasan. Keempat diagnosa tersebut

disusun membentuk pohon masalah yang terdiri penyebab, core problem dan akibat, sebagaimana landasan teori menurut Fitria (2009, hlm. 36).

Penulis menyusun pohon masalah disesuaikan dengan diagnosa yang munculpada pasien. Diagnosa isolasi sosial menjadi core problem pada masalah Tn. A, karena data yang didapat sangatlah aktual. Pasien tampak sering menyendiri dari teman-temannya, pasien tampak tidak berinteraksi dengan orang lain, pasien tidak mampu memulai pembicaraan, pasien banyak diam, pasien tidak mau mengikuti kegiatan, pasien tampak lesu, afek tumpul serta, pasien malas beraktivitas. Selain Core problem, di dalam pohon masalahterdapat diagnosa penyebab yaitu, inefektif koping individu dan inefektif regimen therapeutik.

mengangkat diagnosa inefektif koping individu sebagai diagnosa penyebab karena didapatkan data bahwa menurut catatan keperawatan, pasien mempunyai riwayat putus cinta 8 bulan sejak ia pulang dari malaysia serta pasien mempunyai masalah dalam hal menyelesaikan masalah.

Sedangkan diagnosa untuk akibat dari inefektif regimen therapeutik adalah resiko perilaku kekerasan, penulis mengangkat diagnosa resiko perilaku kekerasan karena pasien masuk dengan riwayat perilaku kekerasan. Namun, pada saat
51

penulis melakukan pengkajian terhadap pasien, penulis tidak menemukan datadata yang terkait perilaku kekerasan seperti tangan mengepal, mata melotot dll.

Berdasarkan diagnosa yang dirumuskan, ada empat diagnosa teoritis menurut Fitria (2009, hlm. 36) yang tidak muncul pada kasus, yaitu koping keluarga tidak efektif, intoleransi aktivitas, defisit perawatan diri, harga diri rendah kronis dan perubahan persepsi sensori: halusinasi. Sedangkan menurut Keliat (2006, hlm. 20) ada empat diagnosa yang tidak muncul yaitu gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran, gangguan konsep diri: harga diri rendah, defisit perawatan diri, ketidakefektifan koping keluarga: ketidakmampuan keluarga merawat pasien dirumah, serta gangguan pemeliharaan kesehatan. Masalahmasalah tersebut tidak muncul karena pasien telah mendapatkan terapi selama empat belas hari, sehingga gejala psikotik pasien telah berkurang.

Pada proses penegakkan diagnosa keperawatan, penulis tidak menemukan faktorpenghambat. Kerjasama yang baik antara perawat dan pasien, serta data yangsangat mendukung merupakan faktor pendukung bagi penulis untuk mengangkatdiagnosa-diagnosa tersebut .

C. Rencana Keperawatan Penyusunan rencana keperawatan pada Tn. A telah sesuai dengan rencanaperawatan teoritis menurut Keliat dan Akemat (2010, hlm. 98-99), namun tetap disesuaikan kembali dengan kondisi pasien. Sehingga tujuan dan kriteria hasil diharapkan dapat tercapai. Penulis juga mengikuti langkah-langkah perencanaan yang telah disusun mulai dari menentukan prioritas diagnosa, tujuan, sampai kriteria hasil yang akan diharapkan. Merencanaan satu diagnosa dalam perencanaan yaitu isolasi sosial, sedangkan diagnosa lainnya telah tercakup dalam tindakan satu diagnosa tersebut.

merencanakan bagaimana cara membina hubungan saling percaya, membantu pasien untuk mengenal penyebab isolasi sosial, bantu pasien untuk mengenal manfaat berhubungan dengan orang lain dengan cara mendiskusikan manfaat jika pasien memiliki banyak teman, serta membantu pasien mengenal kerugian tidak berhubungan dengan orang lain, membantu pasien untuk berinteraksi dengan
52

orang lain

secara

bertahap.

Tindakan berinteraksi denganorang lain dapat

membantu dalam mengatasi masalah keperawatan inefektif koping individu, karena jika pasien sudah mengenal bahkan berinteraksi dengan orang lain pasien dapat menceritakan masalah yang dialaminya.

Untuk diagnosa keperawatan inefektif regimen therapeutik tidak dibuat intervensi karena diagnosa inefektif regimen therapeutik akan teratasi jika diagnosa resiko perilaku kekerasan dan juga isolasi sosial teratasi. Hal ini merupakan alasan penulis tidak mencantumkan rencana tersendiri untuk diagnosa inefektif regimen therapeutik dan inefektif koping individu. Apabila isolasi sosial teratasi maka pasien akan lebih aktif baik didalam maupun diluar rumah sakit. Sementara itu, untuk diagnosa resiko perilaku kekerasan tidak penulis buat intervensi karena ketika penulis melakukan pengkajian terhadap pasien, penulis tidak menemukan tanda-tanda perilaku kekerasan seperti tangan mengepal, mata melotot dan lain sebagainya, hanya saja pasien masuk dengan riwayat perilaku kekerasan sehingga penulis mengangkat diagnosa tersebut.

Keterlibatan keluarga dalam merawat pasien juga sangat diperlukan dalam prosespenyembuhan pasien. Oleh karena itu, penulis merencanakan beberapa tindakanterhadap keluarga sesuai diagnosa yang muncul pada pasien, penulis tetap merencanakan intervensi isolasi sosial terhadap keluarga karena penulis ingin mengantisipasi kedatangan keluarga yang tidak terjadwal sehingga memudahkan penulis dalam memberikan intervensi. Penulis mencoba menggali masalah keluarga dalam merawat pasien serta merencanakan bagaimana cara merawat pasien isolasi sosial. Sebagaimana pada tahap sebelumnya, pada tahap ini penulis tidak

merasakanadanya hambatan. Kesamaan antara konsep teoritis terhadap kondisi dankebutuhan pasien merupakan faktor pendukung bagi penulis serta

tersedianyaliteratur yang memudahkan penulis dalam perumusan rencana keperawatan padaTn. A.

53

D. Implementasi Penulis melakukan implementasi keperawatan mulai dari tanggal 14 Junisampai dengan 16 Juni 2012. Secara umum semua implementasi yang dilakukan sesuai dengan rencana keperawatan yang telah dibuat pada tahap sebelumnya. Penulis melaksanakan implementasi keperawatan menggunakan tahapan

strategipelaksanaan. Tahapan ini digunakan agar mempermudah perawat dalammemberikan terapi secara sistematis dan tetap memperhatikan kebutuhan pasien.Untuk mengatasi masalah isolasi sosial, penulis terlebih dahulu membina hubungan saling percaya, membantu pasien untuk mengenal penyebab isolasi social, bantu pasien untuk mengenal manfaat berhubungan dengan orang lain dengan cara mendiskusikan manfaat jika pasien memiliki banyak teman, membantu pasien mengenal kerugian tidak berhubungan dengan orang lain, membantu pasien untuk berinteraksi dengan orang lain secara bertahap. Penulis tidak hanya fokus terhadap masalah isolasi sosial, melainkan penulis juga menggali sejauh mana pasien mampu mengeksplorasikan perasaannya kepada orang lain, diharapkan apabila pasien dapat mengeksplorasikan perasaanya dapat membuat pasien terbuka, sehingga jika ada masalah klien dapat menceritakannya kepada orang lain dan tidak memendamnya lagi. Sebagaimana pohon masalah menurut Fitria (2009, hlm. 36) bahwa isolasi sosial dapat terjadi akibat koping indidvidu inefektif. Berbeda pada tahap sebelumnya, pada tahap implementasi penulis

menemukan hambatan dalam pelaksanaannya, yaitu tidak adanya keterlibatan keluarga dalam pemberian implementasi, sehingga intervensi keluarga belum bisa dilaksanakan. Faktor pendukung yang penulis rasakan pada pada tahap ini yaitu sikap pasien yang sangat kooperatif, sehingga implementasi dapat dilaksanakan sesuai perencanaan. Oleh karena itu, kunjungan keluarga sangatlah dibutuhkan untuk membantu penyembuhan pasien.

E. Evaluasi Tahap ini penulis menilai sejauh mana keberhasilan yang dicapai dalampemberian asuhan keperawatan dan membandingkannya dengan tujuan dankriteria hasil yang telah dibuat. Penulis menggunakan komponen proses evaluasi mulai dari mengidentifikasi kriteria hasil, mengumpulkan data perkembangan pasien, mengukur dan membandingkan perkembangan pasien dengan kriteria evaluasi.
54

Selain itu penulis juga menggunakan dua metode evaluasi, yaitu evaluasi formatif (evahnasi proses) dan evaluasi sumatif (evaluasi tahap akhir). Dari satu diagnosa yang didokumentasikan, diagnosa isolasi sosial dapat diatasi.

Diagnosa isolasi sosial dapat teratasi dibuktikan dengan penilaian penulis terhadap perkembangan pasien selama tiga hari yaitu pasien mampumempraktikan cara berkenalan dengan perawat, pasien mampu berkenalan dengan orang pertama, pasien mampu berkenalan dengan orang kedua. Dariketiga cara diatas, sebagian besar pasien dapat mempraktekkannya secaramandiri tanpa harus diingatkan.

Penulis menyadari bahwa proses keperawatan tidak dapat berakhir dalam satuperiode, melainkan membutuhkan waktu yang lebih panjang dan tindakan yangberkelanjutan. Perkembangan yang ditunjukan oleh Tn. A masih perlu dilakukanobservasi lebih lanjut, karena evaluasi yang diharapkan belum tercapaisepenuhnya, maka diperlukan adanya modifikasi secara khusus dalam menyusunrencana keperawatan agar tujuan dan kriteria hasil yang telah disusun dapattercapai. Sikap kooperatif dan kerja sama dari pasien merupakan faktor pendukung bagi penulis dalam menilai hariannya perkembangan dan pasien. Pasien baik, selalu akan

memperlihatkan jadwal

mengisinya

dengan

menjadiindikasi layak atau tidaknya pasien untuk dirawat dirumah. Maka dari itu, perlunya operan antar shift yang jelas serta pemantauan terhadap jadwal harian pasien dan didukung oleh pendokumentasian yang rapi sesuai dengan keadaan pasien merupakan salah satu cara pemantauan terhadap perkembangan pasien.

F. KESIMPULAN asuhan keperawatan pada Tn. A dengan isolasi sosial, maka bab ini penulis akan menyimpulkan dan memberikan saran alternatif dalam pemberian asuhan keperawatan khususnya penyelesaian masalah apa pasien dengan isolasi sosial Berdasarkan hasil pelaksanaan asuhan keperawatan pada Tn. A dengan isolasi sosial, penulis menyimpulkan:

55

1. Isolasi soaial merupakan suatu gangguan hubungan interpersonal yang terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel yang menimbulkan perilaku maladaptif dan mengganggu fungsi seseorang dalam hubungan sosial.

2. Diagnosa yang muncul pada pelaksanaan asuhan keperawatan pada Tn. A dengan isolasi sosial, pada dasarnya dianosa yang didapatkan dari klien sudah sesuai dengan teori yang ada. Diagnosa yang muncul pada Tn. A adalah isolasi sosial, inefektif regimen therapeutik dan inefektif koping individu. Sedangkan diagnosa yang tidak muncul pada Tn. A menurut landasan teori adalah harga diri rendah kronik, perubahan persepsi sensori: halusinasi, inefektif koping keluarga, intoleransi aktivitas, defisit perawatan diri dan resiko tinggi mencederai diri orang lain dan lingkungan.

3. Fokus pemberian asuhan keperawatan pada pasien dengan isolasi sosial adalah sebagai upaya untuk menekspolasikan perasaanya kepada orang lain, sehingga dengan fokus pelaksaan tersebut dapat mengatasi masalah isolasi sosial dan juga masalah imefektif koping individu, sehingga dua masalah tersebut dapat teratasi secara langsung.

4. Pelaksanaan asuhan keperawatan pada Tn. A dengan isolasi sosial sudah sesuai dengan pelaksanaan yang ada di dalam penatalaksaanteoritis. Selama tiga hari, pasien sudah mampu berinteraksi dengan orang lain, serta pasien juga mampu menyebutkan serta melatih cara berkenalana dengan orang lain.

5. Dalam pemberian asuhan keperawatan pada Tn. A terdapat beberapa faktor pendukung dan juga faktor penghambat. Faktor pendukung dalam pemberian asuhan keperawatan pada Tn. A adalah sikap pasien yang kooperatif dan juga adanya kerjasama anatar penulis dan juga perawat ruangan. Sedangkan faktor penghambatnya adalah terbatasnya sarana dan prasarana yang ada dirumah sakit, sehingga sulit untuk melakukan intervensi keperawatan.

56

G. Saran Berdasarkan kesimpulan diatas, penulis mengajukan beberapa saran sebagai pertimbangan dalam meningkatkan asuhan keperawatan, ksususnya pada pasien dengan isolasi sosial.

57

BAB VI PENUTUP

A. KESIMPULAN Skizofrenia adalah suatu diskripsi sindrom dengan variasi penyebab (banyak belum diketahui) dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis atau deteriorating) yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada pertimbangan pengaruh genetik, fisik dan sosial budaya (Rusdi Maslim, 1997; 46).

B. SARAN

1. Rumah Sakit Khusus Rumah sakit khusus sebagai salah satu wadah dalam membantu program pemerintah untuk meningkatkan serta mempertahankan kesehatan masyarakat, diharapkan pihak rumah sakit membuat jadwal kunjungan keluarga agar proses pemberian intervensi pada keluarga dapat dilakukan. Selain itu, diharapkan pihak manajemen agar memperhatikan sarana dan prasarana yang ada dan melengkapi seluruh peralatan medis yang menunjang proses penyembuhan pasien. Serta diharapkan pihak menejemen lebih proaktif untuk melakukan home visite kerumah-rumah pasien khususnya pasien-pasien yang ditelantarkan oleh keluarganya.

2. Mahasiswa Keperawatan Mahasiswa merupakan calon penerus perawat yang ada diruangan, sehingga diharapkan mahasiswa agar mampu memanfaatkan waktu yang ada pada saat praktik semaksimal mungkin, agar ilmu yang didapatkan tidak hanya di ruang kelas, melainkan juga dilapangan.

3. Pendidikan Keperawatan Pendidikan keperawatan merupakan pencetak perawat-perawat dimasa depan, hendaknya pihak pendidikan dapat memberikan banyak materi pembelajaran dan praktik terkait perkembangan keperawatan jiwa yang dirasakan semakin menjadi msalah kesehatan jiwa. Begitu juga dengan literatur yang disediakan, agar buku-buku yang disediakan diperpustakaan selalu diupgrade, sehingga
58

sumber yang disediakan merupakan sumber terbaru. Dalam hal pembuatan laporan kasus ini diharapkan menjadi pertimbangan agar waktu pembuatan laporan kasus ini dapat diperpanjang, agar pembuatan laporan kasus ini dapat dimanfaatkan secara maksimal dengan hasil yang juga maksimal.

4. Keluarga dan Masyarakat Keluarga dan masyarakat hendaknya dapat mengenal gangguan jiwa bukan sebagai suatu penyakit yang sangat meresahkan masyarakat. Khususnya kepada keluarga agar memberikan dukungan bagi proses penyembuhan pasien, baik berupa materil maupun berupa support dalam hal kecil seperti kunjungan terhadap keluarganya yang ada dirumah sakit khusus.

59

DAFTAR PUSTAKA Doenges E, Marylin et. al. 2007. Rencana Asuhan Keperawatan Psikiatri edisi 3.(alih bahasa oleh Laili Mahmudah, dkk, 2006). Jakarta : EGC Fitria , Nita. 2009. Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan dan Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika Stuart, Gail W. 2007. Buku Saku Keperawatan Jiwa (alih bahasa , Ramona P Kapoh, Egi Komara Yudha, 2006). Jakarta: EGC Hawari, Dadang. 2001. Pendekatan Holistik pada Gangguan Jiwa. Jakarta :FKUI Keliat, Budi Anna dan Akemat. 2006. Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa. Jakarta: EGC Keliat, Budi Anna dan Akemat. 2010. Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa. Jakarta: EGC Medikal Record. 2011. Distribusi Kunjungan Pasien Rawat Inap Menurut Jenis Penyakit. Pontianak: Rumah Sakit Khusus Provinsi Kalimantan Barat. NANDA. 2011. Diagnosa Keperawatan Definisi dan Klasifikasi (alih bahasa, Sumarwati et. al., 2011). Jakarta: EGC Perry & Potter. (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep Proses dan Praktek Edisi 4. (alih bahasa oleh Yasmin Asih, dkk, 2005). Jakarta: EGC Rasmun. (2004). Stress Koping dan Adaptasi. Jakarta :CV.Sagung Seto Stuart, Gail W dan Laraia. (2005). Priciple and paraktice of Psychiatric Nursing Edition 8. USA : Mosby Townsend, Mary C (2003). Psychiatric Mental Healt Nursing : Concepts of Care.Fourth Edition. Philadelphia : Davis Company Videbeck, Sheila L. (2001). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. (alih bahasa oleh Komalasari & Hany, 2008). Jakarta: EGC Wilkinson, Judith M. (2007). Buku Saku Diagnosa Keperawatan dengan Intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC Edisi 7. Jakarta: EG
60