Anda di halaman 1dari 50

LAPORAN PENDAHULUAN PADA PASIEN DENGAN MENINGITIS

Disusun Oleh : Singgih Gema Dwihardika Tri Yuliantono (11.0744.S) (11.0746.S)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH PEKAJANGAN PEKALONGAN 2014

LAPORAN PENDAHULUAN PADA PASIEN DENGAN MENINGITIS

1. PENGERTIAN Meningitis adalah infeksi cairan otak dan disertai proses peradangan yang mengenai piameter, araknoid dan dapat meluas ke permukaan jarinag otak dan medula spinalis yang menimbulkan eksudasi berupa pus atau serosa yang terdapat secara akut dan kronis. Meningitis dibagi menjadi dua : 1. Meningitis purulenta Yaitu infeksi selaput otak yang disebabkan oleh bakteri non spesifik yang menimbulkan eksudasi berupa pus atau reaksi purulen pada cairan otak. Penyebabnya adalah pneumonia, hemofilus influensa, E. Coli. 2. Meningitis tuberkulosa Yaitu radang selaput otak dengan eksudasi yang bersifat serosa yang disebabkan oleh kuman tuberkulosis, lues, virus, riketsia. Meningitis adalah radang pada meningen (membran yang mengelilingi otak dan medulla spinalis) dan disebabkan oleh virus, bakteri atau organ-organ jamur (Smeltzer, 2001). Meningitis adalah peradangan pada selaput meningen, cairan serebrospinal dan spinal column yang menyebabkan proses infeksi pada sistem saraf pusat (Suriadi & Rita, 2001). Meningitis merupakan infeksi akut dari meninges, biasanya ditimbulkan oleh salah satu dari mikroorganisme pneumokok, Meningokok, Stafilokok, Streptokok, Hemophilus influenza dan bahan aseptis (virus) (Long, 1996). Meningitis adalah infeksi cairan otak disertai radang yang mengenai piamater,araknoid dan dalam derajat yang lebih ringan mengenai jaringan otak dan medulla spinalis yang superficial.(neorologi kapita selekta,1996).

2. ETIOLOGI 1) Bakteri; Mycobacterium tuberculosa, Diplococcus pneumoniae (pneumokok), Neisseria

meningitis (meningokok), Streptococus haemolyticuss, Staphylococcus aureus, Haemophilus influenzae, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Peudomonas aeruginosa 2) 3) 4) Penyebab lainnya, Virus, Toxoplasma gondhii dan Ricketsia Faktor predisposisi : jenis kelamin laki-laki lebih sering dibandingkan dengan wanita Faktor maternal : ruptur membran fetal, infeksi maternal pada minggu terakhir

kehamilan 5) 6) Faktor imunologi : defisiensi mekanisme imun, defisiensi imunoglobulin. Kelainan sistem saraf pusat, pembedahan atau injuri yang berhubungan dengan sistem

persarafan.

3. TANDA DAN GEJALA A. Tanda Dan Gejala Meningitis Secara Umum: 1. Aktivitas / istirahat ;Malaise, aktivitas terbatas, ataksia, kelumpuhan, gerakan involunter, kelemahan, hipotonia 2. Sirkulasi ;Riwayat endokarditis, abses otak, TD , nadi , tekanan nadi berat, takikardi dan disritmia pada fase akut 3. Eliminasi ; Adanya inkontinensia atau retensi urin 4. Makanan / cairan ; Anorexia, kesulitan menelan, muntah, turgor kulit jelek, mukosa kering 5. Higiene ; Tidak mampu merawat diri 6. Neurosensori ; Sakit kepala, parsetesia, kehilangan sensasi, Hiperalgesiameningkatnya rasa nyeri, kejang, gangguan oenglihatan, diplopia, fotofobia, ketulian, halusinasi penciuman, kehilangan memori, sulit mengambil keputusan, afasia, pupil anisokor, , hemiparese, hemiplegia, tandaBrudzinskipositif,

rigiditas nukal, refleks babinski posistif, refkleks abdominal menurun, refleks kremasterik hilang pada laki-laki 7. Nyeri / kenyamanan ; Sakit kepala hebat, kaku kuduk, nyeri gerakan okuler, fotosensitivitas, nyeri tenggorokan, gelisah, mengaduh/mengeluh 8. Pernafasan ; Riwayat infeksi sinus atau paru, nafas , letargi dan gelisah 9. Keamanan ; Riwayat mastoiditis, otitis media, sinusitis, infeksi pelvis, abdomen atau kulit, pungsi lumbal, pembedahan, fraktur cranial, anemia sel sabit, imunisasi yang baru berlangsung, campak, chiken pox, herpes simpleks. Demam, diaforesios, menggigil, rash, gangguan sensasi. 10. Penyuluhan / pembelajaran ; Riwayat hipersensitif terhadap obat, penyakit kronis, diabetes mellitus B. Tanda Dan Gejala Meningitis Secara Khusus:

Anak dan Remaja. a) b) c) d) e) f) g) h) i) Demam. Mengigil. Sakit kepala. Muntah. Perubahan pada sensorium. Kejang (seringkali merupakan tanda-tanda awal). Peka rangsang. Agitasi. Dapat terjadi: Fotophobia (apabila cahaya diarahkan pada mata pasien (adanya

disfungsi pada saraf III, IV, dan VI) Delirium, Halusinasi, perilaku agresi, mengantuk, stupor, koma Bayi dan Anak Kecil.Gambaran klasik jarang terlihat pada anak-anak usia 3 bulan dan 2 tahun. a) b) c) d) e) Demam. Muntah. Peka rangsang yang nyata. Sering kejang (sering kali disertai denagan menangis nada tinggi). Fontanel menonjol.

Neonatus: a) Tanda-tanda spesifik: Secara khusus sulit untuk didiagnosa serta manifestasi tidak jelas

dan spesifik tetapi mulai terlihat menyedihkan dan berperilaku buruk dalam beberapa hari, b) c) d) e) f) g) h) i) j) k) l) Menolak untuk makan. Kemampuan menghisap menurun. Muntah atau diare. Tonus buruk. Kurang gerakan. Menangis buruk. Leher biasanya lemas. Tanda-tanda non-spesifik: Hipothermia atau demam. Peka rangsang. Mengantuk.

m) Kejang. n) o) p) Ketidakteraturan pernafasan atau apnea. Sianosis. Penurunan berat badan.

Pada meningitis purulenta ditemukan tanda dan gejala : 1) Gejala infeksi akut atau sub akut yang ditandai dengan keadaan lesu, mudah terkena

rangsang, demam, muntah penurunan nafsu makan, nyeri kepala. 2) Gejala peningkatan tekanan intrakranial ditandai dengan muntah, nyeri kepala,

penurunan kesadaran ( somnolen sampai koma ), kejang, mata juling, paresis atau paralisis. 3) Gejala rangsang meningeal yang ditandai dengan rasa nyeri pada leher dan punggung,

kaku kuduk, tanda brodsinky I dan II positif dan tanda kerning positif. a) Tanda kerning yaitu bila paha ditekuk 90ke depan, tuungkai dapat diluruskan pada

sendi lutut. b) Tanda brudzinky I positif adalah bila kepal di fleksi atau tunduk ke depan, maka

tungkai akan bergerak fleksi di sudut sendi lutut. c) Tanda brodzinky II positif adalah bila satu tungkai ditekuk dari sendi lutut ruang paha,

ditekankan ke perut penderita, maka tungkai lainnya bergerak fleksi dalam sendi lutut. Pada meningitis tuberkulosas didapatkan gejala dalam stadium-stadium yaitu :

1)

Stadium prodomal ditandai dengan gejala yang tidak khas dan terjadi perlahan-lahan

yaitu demam ringan atau kadang-kadang tidak demam, nafsu makan menurun, nyeri kepala, muntah, apatis, berlangsung 1-3 minggu, bila tuberkulosis pecah langsung ke ruang subaraknoid, maka stadium prodomal berlangsung cepat dan langsung masuk ke stadium terminal. 2) Stadium transisi ditandai dengan gejala kejang, rangsang meningeal yaitu kaku kuduk,

tanda brudzinky I dan II positif, mata juling, kelumpuhan dan gangguan kesadaran. 3) Stadium terminal ditandai dengan keadaan yang berat yaitu kesadaran menurun sampai

koma, kelumpuhan, pernapasan tidak teratur, panas tinggi dan akhirnya meninggal. 4. PENATALAKSANAAN MEDIK Terapi bertujuan memberantas penyebab infeksi disertai perawatan intensif suporatif untuk membantu pasien melaluimasa kritis : Penderita dirawat di rumah sakit. 1. Pemberian cairan intravena. 2. Bila gelisah berikan sedatif/penenang. 3. Jika panas berikan kompres hangat, kolaborasi antipiretik. Sementara menunggu hasil pemeriksaan terhadap kausa diberikan : a) b) c) Kombinasi amphisilin 12-18 gram, klorampenikol 4 gram, intravena 4x sehari. Dapat dicampurkan trimetropan 80 mg, sulfa 400 mg. Dapat pula ditambahkan ceftriaxon 4-6 gram intra vena.

Pada waktu kejang : a) b) c) d) Melonggarkan pakaian. Menghisap lender. Puasa untuk menghindari aspirasi dan muntah. Menghindarkan pasien jatuh.

Jika penderita tidak sadar lama : a) b) Diit TKTP melalui sonde. Mencegah dekubitus dan pneumonia ostostatikdengna merubah posisi setiap

dua jam.

c)

Mencegah kekeringan kornea dengan borwater atau salep antibiotic.

1. Jika terjadi inkontinensia pasang kateter. 2. Pemantauan ketat terhadap tanda-tanda vital. 3. Kolaborasi fisioterapi dan terapi bicara. 4. Konsultasi THT ( jika ada kelainan telinga, seperti tuli ). 5. Konsultasi mata ( kalau ada kelainan mata, seperti buta ). 6. Konsultasi bedah ( jika ada hidrosefalus ).

5. PATOFISIOLOGI Kuman atau organisme dapat mencapai meningen ( selaput otak ) dan ruangan subaraknoid melalui cara sebagai berikut : 1. Implantasi langsung setelah luka terbuka di kepala. 2. Perluasan langsung dari proses infeksi di telingga tengah sinus paranasalis, kulit. 3. Kepala, pada muka dan peradangan di selaput otak/ skitarnya seperti mastoiditis. 4. Sinusitis, otitis media. 5. Melalui aliran darah waktu terjadi septicemia. 6. Perluasan dari tromboplebitis kortek. 7. Perluasan dari abses ekstra dural, sudural atau otak. 8. Komplikasi bedah otak. 9. Penyebaran dari radang. Pada meningitis tuberkulosa dapat terjadi akibat komplikasi penyebaran tuberkulosis paru primer, yaitu : 1) secara hematogen, melalui kumanmencapai susunan saraf kemudian pecah dan bakteri

masuk ke ruang subaraknoid melalui aliran darah. 2) Cara lain yaitu dengan perluasan langsung dari mastoiditis atau spondilitis tuberculosis

Meningitis bakteri dimulai sebagai infeksi dari orofaring dan diikuti dengan septikemia, yang menyebar ke meningen otak dan medula spinalis bagian atas. Faktor predisposisi mencakup infeksi jalan nafas bagian atas, otitis media, mastoiditis, anemia sel sabit dan hemoglobinopatis lain, prosedur bedah saraf baru, trauma kepala dan

pengaruh imunologis. Saluran vena yang melalui nasofaring posterior, telinga bagian tengah dan saluran mastoid menuju otak dan dekat saluran vena-vena meningen; semuanya ini penghubung yang menyokong perkembangan bakteri. Organisme masuk ke dalam aliran darah dan menyebabkan reaksi radang di dalam meningen dan di bawah korteks, yang dapat menyebabkan trombus dan penurunan aliran darah serebral. Jaringan serebral mengalami gangguan metabolisme akibat eksudat meningen, vaskulitis dan hipoperfusi. Eksudat purulen dapat menyebar sampai dasar otak dan medula spinalis. Radang juga menyebar ke dinding membran ventrikel serebral. Meningitis bakteri dihubungkan dengan perubahan fisiologis intrakranial, yang terdiri dari peningkatan permeabilitas pada darah, daerah pertahanan otak (barier oak), edema serebral dan peningkatan TIK. Pada infeksi akut pasien meninggal akibat toksin bakteri sebelum terjadi meningitis. Infeksi terbanyak dari pasien ini dengan kerusakan adrenal, kolaps sirkulasi dan dihubungkan dengan meluasnya hemoragi (pada sindromWaterhouse-Friderichssen) sebagai akibat terjadinya kerusakan endotel dan nekrosis pembuluh darah yang disebabkan oleh meningokokus. 6. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Pemeriksaan cairan otak melalui fungsi lumbal, didapatkan : a) b) Tekanan. Warna cairan otak: pada keadaan normal cairan otak tidakberwarna. Pada menigitis

purulenta berwarna keruh sampai kekuning-kuningangan. Sedangkan pada meningitis tuberkulosis cairan otak berwarna jernih. c) d) Protein ( 0,2-0,4 Kg ) pada miningitis meninggi. Glukosa dan klorida. 1. None pandi. 2. Pemeriksaan darah. 3. Uji tuberkulin positif dari kurasan lambung untuk meningitis tuberculosis.\

4. Pemeriksaan radiologi : a) b) c) CT Scan. Rotgen kepala. Rotgen thorak. 1. Elektroensefalografi ( EEG ), akan menunjukkan perlambatan yang menyeluruh di kedua hemisfer dan derajatnya sebanding dengan radang. Analisis CSS dari fungsi lumbal : 1. Meningitis bakterial : tekanan meningkat, cairan keruh/berkabut, jumlah sel darah putih dan protein meningkat glukosa meningkat, kultur positip terhadap beberapa jenis bakteri. 2. Meningitis virus : tekanan bervariasi, cairan CSS biasanya jernih, sel darah putih meningkat, glukosa dan protein biasanya normal, kultur biasanya negatif, kultur virus biasanya dengan prosedur khusus. 3. Glukosa serum : meningkat ( meningitis ). 4. LDH serum : meningkat ( meningitis bakteri ). 5. Sel darah putih : sedikit meningkat dengan peningkatan neutrofil ( infeksi bakteri ). 6. Elektrolit darah : abnormal. 7. ESR/LED : meningkat pada meningitis. 8. Kultur darah/ hidung/ tenggorokan/ urine : dapat mengindikasikan daerah pusat infeksi atau mengindikasikan tipe penyebab infeksi 9. MRI/ skan CT : dapat membantu dalam melokalisasi lesi, melihat ukuran/letak ventrikel; hematom daerah serebral, hemoragik atau tumor. 10. Ronsen dada/kepala/ sinus ; mungkin ada indikasi sumber infeksi intra kranial. 7. KOMPLIKASI 1. Ketidaksesuaian sekresi ADH. 2. Pengumpulan cairan subdural. 3. Lesi lokal intrakranial dapat mengakibatkan kelumpuhan sebagian badan. 4. Hidrocepalus yang berat dan retardasi mental, tuli, kebutaan karena atrofi nervus II ( optikus ). 5. Pada meningitis dengan septikemia menyebabkan suam kulit atau luka di mulut, konjungtivitis. 6. Epilepsi.

7. Pneumonia karena aspirasi. 8. Efusi subdural, emfisema subdural. 9. Keterlambatan bicara. 10. Kelumpuhan otot yang disarafi nervus III (okulomotor), nervus IV (toklearis ), nervus VI (abdusen). Ketiga saraf tersebut mengatur gerakan bola mata. 11. Hidrosefalus obstruktif. 12. MeningococcL Septicemia ( mengingocemia ). 13. Sindrome water-friderichen (septik syok, DIC,perdarahan adrenal bilateral). 14. SIADH ( Syndrome Inappropriate Antidiuretic hormone ). 15. Efusi subdural. 16. Kejang. 17. Edema dan herniasi serebral. 18. Cerebral palsy. 19. Gangguan mental. 20. Gangguan belajar. 21. Attention deficit disorder.

ASUHAN KEPERAWATAN MENINGITIS 1 Pengkajian Meningitis. a) b)


Biodata klien. Riwayat kesehatan yang lalu. Apakah pernah menderita penyait ISPA dan TBC ? Apakah pernah jatuh atau trauma kepala ? Pernahkah operasi daerah kepala ? Riwayat kesehatan sekarang.

a)

(1) Aktivitas.

Gejala : Perasaan tidak enak (malaise). Tanda : ataksia, kelumpuhan, gerakan involunter.

(2) Sirkulasi.

Gejala : Adanya riwayat kardiopatologi : endokarditis dan PJK. Tanda : tekanan darah meningkat, nadi menurun, dan tekanan nadi berat, takikardi, disritmia.

(3) Eliminasi.

Gejala : Inkontinensi dan atau retensi.

(4) Makanan/cairan.

Gejala : Kehilangan nafsu makan, sulit menelan. Tanda : anoreksia, muntah, turgor kulit jelek dan membran mukosa kering.

(5) Higiene.

Gejala : Ketergantungan terhadap semua kebutuhan perawatan diri.

(6) Neurosensori.

Gejala : Sakit kepala, parestesia, terasa kaku pada persarafan yang terkena, kehilangan sensasi, hiperalgesia, kejang, diplopia, fotofobia, ketulian dan halusinasi penciuman. Tanda : letargi sampai kebingungan berat hingga koma, delusi dan halusinasi, kehilangan memori, afasia,anisokor, nistagmus,ptosis, kejang umum/lokal,

hemiparese, tanda brudzinki positif dan atau kernig positif, rigiditas nukal, babinski positif,reflek abdominal menurun dan reflek kremastetik hilang pada laki-laki. (7) Nyeri/keamanan.

Gejala : sakit kepala(berdenyut hebat, frontal). Tanda : gelisah, menangis.

(8) Pernafasan.

Gejala : riwayat infeksi sinus atau paru. Tanda : peningkatan kerja pernafasan.

2 Diagnosa keperawatan Meningitis. 1. Resiko tinggi terhadap penyebaran infeksi sehubungan dengan diseminata hematogen dari pathogen. 2. Risiko tinggi terhadap perubahan serebral dan perfusi jaringan sehubungan dengan edema serebral, hipovolemia. 3. Risisko tinggi terhadap trauma sehubungan dengan kejang umum/fokal, kelemahan umum, vertigo. 4. Nyeri (akut) sehubungan dengan proses inflamasi, toksin dalam sirkulasi. 5. Kerusakan mobilitas fisik sehubungan dengan kerusakan neuromuskular, penurunan kekuatan. 6. Anxietas berhubungan dengan krisis situasi, ancaman kematian. 3 Intervensi Keperawatan Meningitis. 1. Resiko tinggi terhadap penyebaran infeksi sehubungan dengan diseminata hematogen dari patogen. Criteria Hasil :

Mandiri. Beri tindakan isolasi sebagai pencegahan.

Pertahan kan teknik aseptik dan teknik cuci tangan yang tepat. Pantau suhu secara teratur. Kaji keluhan nyeri dada, nadi yang tidak teratur demam yang terus menerus Auskultasi suara nafas ubah posisi pasien secara teratur, dianjurkan nfas dalam Cacat karakteristik urine (warna, kejernihan dan bau )

Kolaborasi : Berikan terapi antibiotik iv: penisilin G, ampisilin, klorampenikol, gentamisin. 1. Resiko tinggi terhadap perubahan cerebral dan perfusi jaringan sehubungan dengan edema serebral, hipovolemia. Criteria Hasil :

Mandiri. Tirah baring dengan posisi kepala datar. Pantau status neurologis. Kaji regiditas nukal, peka rangsang dan kejang Pantau tanda vital dan frekuensi jantung, penafasan, suhu, masukan dan haluaran. Bantu berkemih, membatasi batuk, muntah mengejan.

Kolaborasi :

Tinggikan kepala tempat tidur 15-45 derajat. Berikan cairan iv (larutan hipertonik, elektrolit ). Pantau BGA. Berikan obat : steoid, clorpomasin, asetaminofen.

1. Resiko tinggi terhadap trauma sehubungan dengan kejang umum/vokal, kelemahan umum vertigo. Criteria Hasil :

Mandiri. Pantau adanya kejang. Pertahankan penghalang tempat tidur tetap terpasang dan pasang jalan nafas buatan.

Tirah baring selama fase akut kolaborasi berikan obat : venitoin, diaepam, venobarbital.

1. Nyeri (akut ) sehubungan dengan proses infeksi, toksin dalam sirkulasi. Criteria Hasil :

Mandiri. Letakkan kantung es pada kepala, pakaian dingin di atas mata, berikan posisi yang nyaman kepala agak tinggi sedikit, latihan rentang gerak aktif atau pasif dan masage otot leher.

Dukung untuk menemukan posisi yang nyaman(kepala agak tingi). Berikan latihan rentang gerak aktif/pasif. Gunakan pelembab hangat pada nyeri leher atau pinggul.

Kolaborasi :

Berikan anal getik, asetaminofen, codein.

1. Kerusakan mobilitas fisik sehubungan dengan kerusakan neuromuskuler. Criteria Hasil :


Kaji derajat imobilisasi pasien. Bantu latihan rentang gerak. Berikan perawatan kulit, masase dengan pelembab. Periksa daerah yang mengalami nyeri tekan, berikan matras udara atau air perhatikan kesejajaran tubuh secara fungsional.

Berikan program latihan dan penggunaan alat mobilisasi.

1. Perubahan persepsi sensori sehubungan dengan defisit neurologis. Criteria Hasil :

Pantau perubahan orientasi, kemamapuan berbicara,alam perasaaan, sensorik dan proses pikir.

Kaji kesadara sensorik : sentuhan, panas, dingin.

Observasi respons perilaku. Hilangkan suara bising yang berlebihan. Validasi persepsi pasien dan berikan umpan balik. Beri kessempatan untuk berkomunikasi dan beraktivitas.

Kolaborasi :

Ahli fisioterapi, terapi okupasi,wicara dan kognitif.

1. Ansietas sehubungan dengan krisis situasi, ancaman kematian. Criteria Hasil :


Kaji status mental dan tingkat ansietasnya. Berikan penjelasan tentang penyakitnya dan sebelum tindakan prosedur. Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaan. Libatkan keluarga/pasien dalam perawatan dan beri dukungan serta petunjuk sumber penyokong.

4 EVALUASI/HASIL YANG DIHARAPKAN. 1. Mencapai masa penyembuhan tepat waktu, tanpa bukti penyebaran infeksi endogen atau keterlibatan orang lain. 2. Mempertahankan tingkat kesadaran biasanya/membaik dan fungsi motorik/sensorik, mendemonstrasikan tanda-tanda vital stabil. 3. Tidak mengalami kejang/penyerta atau cedera lain. 4. Melaporkan nyeri hilang/terkontrol dan menunjukkan postur rileks dan mampu tidur/istirahat dengan tepat. 5. Mencapai kembali atau mempertahankan posisi fungsional optimal dan kekuatan. 6. Meningkatkan tingkat kesadaran biasanya dan fungsi persepsi. 7. Tampak rileks dan melaporkan ansietas berkurang dan mengungkapkan keakuratan pengetahuan tentang situasi.

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN MENINGITIS

Disusun Oleh : Singgih Gema Dwihardika Tri Yuliantono (11.0744.S) (11.0746.S)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH PEKAJANGAN PEKALONGAN 2014

BAB I 1.1 LATAR BELAKANG Kita ketahui bersama bahwa Meningitis adalah infeksi cairan otak dan disertai proses peradangan yang mengenai piameter, araknoid dan dapat meluas ke permukaan jarinag otak dan medula spinalis yang menimbulkan eksudasi berupa pus atau serosa yang terdapat secara akut dan kronis. Meningitis dibagi menjadi dua : 1. Meningitis purulenta Yaitu infeksi selaput otak yang disebabkan oleh bakteri non spesifik yang menimbulkan eksudasi berupa pus atau reaksi purulen pada cairan otak. Penyebabnya adalah pneumonia, hemofilus influensa, E. Coli. 2. Meningitis tuberkulosa Yaitu radang selaput otak dengan eksudasi yang bersifat serosa yang disebabkan oleh kuman tuberkulosis, lues, virus, riketsia. 1.2 TUJUAN 1. Agar mengetahui apa yang di maksud dengan meningitis. 2. Agar mengerti apa yang menyebabkan meningitis. 3. Mengetahui proses dari meningitis. 4. Mengetahui pemeriksaan yang harus di lakukan pada penyakit meningitis. 5. Mengerti tentang cara pengobatan meningitis.

BAB II 2.1 PENGERTIAN Meningitis adalah infeksi cairan otak dan disertai proses peradangan yang mengenai piameter, araknoid dan dapat meluas ke permukaan jarinag otak dan medula spinalis yang menimbulkan eksudasi berupa pus atau serosa yang terdapat secara akut dan kronis. Meningitis dibagi menjadi dua : 3. Meningitis purulenta Yaitu infeksi selaput otak yang disebabkan oleh bakteri non spesifik yang menimbulkan eksudasi berupa pus atau reaksi purulen pada cairan otak. Penyebabnya adalah pneumonia, hemofilus influensa, E. Coli. 4. Meningitis tuberkulosa Yaitu radang selaput otak dengan eksudasi yang bersifat serosa yang disebabkan oleh kuman tuberkulosis, lues, virus, riketsia. Meningitis adalah radang pada meningen (membran yang mengelilingi otak dan medulla spinalis) dan disebabkan oleh virus, bakteri atau organ-organ jamur (Smeltzer, 2001). Meningitis adalah peradangan pada selaput meningen, cairan serebrospinal dan spinal column yang menyebabkan proses infeksi pada sistem saraf pusat (Suriadi & Rita, 2001). Meningitis merupakan infeksi akut dari meninges, biasanya ditimbulkan oleh salah satu dari mikroorganisme pneumokok, Meningokok, Stafilokok, Streptokok, Hemophilus influenza dan bahan aseptis (virus) (Long, 1996). Meningitis adalah infeksi cairan otak disertai radang yang mengenai piamater,araknoid dan dalam derajat yang lebih ringan mengenai jaringan otak dan medulla spinalis yang superficial.(neorologi kapita selekta,1996). 2.3 ETIOLOGI 1) Bakteri; Mycobacterium tuberculosa, Diplococcus pneumoniae (pneumokok), Neisseria

meningitis (meningokok), Streptococus haemolyticuss, Staphylococcus aureus, Haemophilus influenzae, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Peudomonas aeruginosa 2) Penyebab lainnya, Virus, Toxoplasma gondhii dan Ricketsia

3) 4)

Faktor predisposisi : jenis kelamin laki-laki lebih sering dibandingkan dengan wanita Faktor maternal : ruptur membran fetal, infeksi maternal pada minggu terakhir

kehamilan 5) 6) Faktor imunologi : defisiensi mekanisme imun, defisiensi imunoglobulin. Kelainan sistem saraf pusat, pembedahan atau injuri yang berhubungan dengan sistem

persarafan.

2.2 TANDA DAN GEJALA A. Tanda Dan Gejala Meningitis Secara Umum: 11. Aktivitas / istirahat ;Malaise, aktivitas terbatas, ataksia, kelumpuhan, gerakan involunter, kelemahan, hipotonia 12. Sirkulasi ;Riwayat endokarditis, abses otak, TD , nadi , tekanan nadi berat, takikardi dan disritmia pada fase akut 13. Eliminasi ; Adanya inkontinensia atau retensi urin 14. Makanan / cairan ; Anorexia, kesulitan menelan, muntah, turgor kulit jelek, mukosa kering 15. Higiene ; Tidak mampu merawat diri 16. Neurosensori ; Sakit kepala, parsetesia, kehilangan sensasi, Hiperalgesiameningkatnya rasa nyeri, kejang, gangguan oenglihatan, diplopia, fotofobia, ketulian, halusinasi penciuman, kehilangan memori, sulit mengambil keputusan, afasia, pupil anisokor, , hemiparese, hemiplegia, tandaBrudzinskipositif, rigiditas nukal, refleks babinski posistif, refkleks abdominal menurun, refleks kremasterik hilang pada laki-laki 17. Nyeri / kenyamanan ; Sakit kepala hebat, kaku kuduk, nyeri gerakan okuler, fotosensitivitas, nyeri tenggorokan, gelisah, mengaduh/mengeluh 18. Pernafasan ; Riwayat infeksi sinus atau paru, nafas , letargi dan gelisah 19. Keamanan ; Riwayat mastoiditis, otitis media, sinusitis, infeksi pelvis, abdomen atau kulit, pungsi lumbal, pembedahan, fraktur cranial, anemia sel sabit, imunisasi yang

baru berlangsung, campak, chiken pox, herpes simpleks. Demam, diaforesios, menggigil, rash, gangguan sensasi. 20. Penyuluhan / pembelajaran ; Riwayat hipersensitif terhadap obat, penyakit kronis, diabetes mellitus B. Tanda Dan Gejala Meningitis Secara Khusus:

Anak dan Remaja. a) b) c) d) e) f) g) h) i) Demam. Mengigil. Sakit kepala. Muntah. Perubahan pada sensorium. Kejang (seringkali merupakan tanda-tanda awal). Peka rangsang. Agitasi. Dapat terjadi: Fotophobia (apabila cahaya diarahkan pada mata pasien (adanya

disfungsi pada saraf III, IV, dan VI) Delirium, Halusinasi, perilaku agresi, mengantuk, stupor, koma Bayi dan Anak Kecil.Gambaran klasik jarang terlihat pada anak-anak usia 3 bulan dan 2 tahun. a) b) c) d) e) Demam. Muntah. Peka rangsang yang nyata. Sering kejang (sering kali disertai denagan menangis nada tinggi). Fontanel menonjol.

Neonatus: a) Tanda-tanda spesifik: Secara khusus sulit untuk didiagnosa serta manifestasi tidak jelas

dan spesifik tetapi mulai terlihat menyedihkan dan berperilaku buruk dalam beberapa hari, b) c) d) e) f) Menolak untuk makan. Kemampuan menghisap menurun. Muntah atau diare. Tonus buruk. Kurang gerakan.

g) h) i) j) k) l)

Menangis buruk. Leher biasanya lemas. Tanda-tanda non-spesifik: Hipothermia atau demam. Peka rangsang. Mengantuk.

m) Kejang. n) o) p) Ketidakteraturan pernafasan atau apnea. Sianosis. Penurunan berat badan.

Pada meningitis purulenta ditemukan tanda dan gejala : 1) Gejala infeksi akut atau sub akut yang ditandai dengan keadaan lesu, mudah terkena

rangsang, demam, muntah penurunan nafsu makan, nyeri kepala. 2) Gejala peningkatan tekanan intrakranial ditandai dengan muntah, nyeri kepala,

penurunan kesadaran ( somnolen sampai koma ), kejang, mata juling, paresis atau paralisis. 3) Gejala rangsang meningeal yang ditandai dengan rasa nyeri pada leher dan punggung,

kaku kuduk, tanda brodsinky I dan II positif dan tanda kerning positif. a) Tanda kerning yaitu bila paha ditekuk 90ke depan, tuungkai dapat diluruskan pada

sendi lutut. b) Tanda brudzinky I positif adalah bila kepal di fleksi atau tunduk ke depan, maka

tungkai akan bergerak fleksi di sudut sendi lutut. c) Tanda brodzinky II positif adalah bila satu tungkai ditekuk dari sendi lutut ruang paha,

ditekankan ke perut penderita, maka tungkai lainnya bergerak fleksi dalam sendi lutut. Pada meningitis tuberkulosas didapatkan gejala dalam stadium-stadium yaitu : 1) Stadium prodomal ditandai dengan gejala yang tidak khas dan terjadi perlahan-lahan

yaitu demam ringan atau kadang-kadang tidak demam, nafsu makan menurun, nyeri kepala, muntah, apatis, berlangsung 1-3 minggu, bila tuberkulosis pecah langsung ke ruang subaraknoid, maka stadium prodomal berlangsung cepat dan langsung masuk ke stadium terminal. 2) Stadium transisi ditandai dengan gejala kejang, rangsang meningeal yaitu kaku kuduk,

tanda brudzinky I dan II positif, mata juling, kelumpuhan dan gangguan kesadaran.

3)

Stadium terminal ditandai dengan keadaan yang berat yaitu kesadaran menurun sampai

koma, kelumpuhan, pernapasan tidak teratur, panas tinggi dan akhirnya meninggal. 2.3 PENATALAKSANAAN MEDIK Terapi bertujuan memberantas penyebab infeksi disertai perawatan intensif suporatif untuk membantu pasien melaluimasa kritis : Penderita dirawat di rumah sakit. 4. Pemberian cairan intravena. 5. Bila gelisah berikan sedatif/penenang. 6. Jika panas berikan kompres hangat, kolaborasi antipiretik. Sementara menunggu hasil pemeriksaan terhadap kausa diberikan : a) b) c) Kombinasi amphisilin 12-18 gram, klorampenikol 4 gram, intravena 4x sehari. Dapat dicampurkan trimetropan 80 mg, sulfa 400 mg. Dapat pula ditambahkan ceftriaxon 4-6 gram intra vena.

Pada waktu kejang : a) b) c) d) Melonggarkan pakaian. Menghisap lender. Puasa untuk menghindari aspirasi dan muntah. Menghindarkan pasien jatuh.

Jika penderita tidak sadar lama : a) b) Diit TKTP melalui sonde. Mencegah dekubitus dan pneumonia ostostatikdengna merubah posisi setiap

dua jam. c) Mencegah kekeringan kornea dengan borwater atau salep antibiotic.

7. Jika terjadi inkontinensia pasang kateter. 8. Pemantauan ketat terhadap tanda-tanda vital. 9. Kolaborasi fisioterapi dan terapi bicara. 10. Konsultasi THT ( jika ada kelainan telinga, seperti tuli ). 11. Konsultasi mata ( kalau ada kelainan mata, seperti buta ). 12. Konsultasi bedah ( jika ada hidrosefalus ).

2.4 PATOFISIOLOGI Kuman atau organisme dapat mencapai meningen ( selaput otak ) dan ruangan subaraknoid melalui cara sebagai berikut : 1. Implantasi langsung setelah luka terbuka di kepala. 2. Perluasan langsung dari proses infeksi di telingga tengah sinus paranasalis, kulit. 3. Kepala, pada muka dan peradangan di selaput otak/ skitarnya seperti mastoiditis. 4. Sinusitis, otitis media. 5. Melalui aliran darah waktu terjadi septicemia. 6. Perluasan dari tromboplebitis kortek. 7. Perluasan dari abses ekstra dural, sudural atau otak. 8. Komplikasi bedah otak. 9. Penyebaran dari radang. Pada meningitis tuberkulosa dapat terjadi akibat komplikasi penyebaran tuberkulosis paru primer, yaitu : 1) secara hematogen, melalui kumanmencapai susunan saraf kemudian pecah dan bakteri

masuk ke ruang subaraknoid melalui aliran darah. 2) Cara lain yaitu dengan perluasan langsung dari mastoiditis atau spondilitis tuberculosis

Meningitis bakteri dimulai sebagai infeksi dari orofaring dan diikuti dengan septikemia, yang menyebar ke meningen otak dan medula spinalis bagian atas. Faktor predisposisi mencakup infeksi jalan nafas bagian atas, otitis media, mastoiditis, anemia sel sabit dan hemoglobinopatis lain, prosedur bedah saraf baru, trauma kepala dan pengaruh imunologis. Saluran vena yang melalui nasofaring posterior, telinga bagian tengah dan saluran mastoid menuju otak dan dekat saluran vena-vena meningen; semuanya ini penghubung yang menyokong perkembangan bakteri. Organisme masuk ke dalam aliran darah dan menyebabkan reaksi radang di dalam meningen dan di bawah korteks, yang dapat menyebabkan trombus dan penurunan aliran darah serebral. Jaringan serebral mengalami gangguan metabolisme akibat eksudat meningen, vaskulitis dan hipoperfusi. Eksudat purulen dapat menyebar sampai dasar otak dan medula spinalis. Radang juga menyebar ke dinding membran ventrikel serebral.

Meningitis bakteri dihubungkan dengan perubahan fisiologis intrakranial, yang terdiri dari peningkatan permeabilitas pada darah, daerah pertahanan otak (barier oak), edema serebral dan peningkatan TIK. Pada infeksi akut pasien meninggal akibat toksin bakteri sebelum terjadi meningitis. Infeksi terbanyak dari pasien ini dengan kerusakan adrenal, kolaps sirkulasi dan dihubungkan dengan meluasnya hemoragi (pada sindromWaterhouse-Friderichssen) sebagai akibat terjadinya kerusakan endotel dan nekrosis pembuluh darah yang disebabkan oleh meningokokus. 2.5 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Pemeriksaan cairan otak melalui fungsi lumbal, didapatkan : a) b) Tekanan. Warna cairan otak: pada keadaan normal cairan otak tidakberwarna. Pada menigitis

purulenta berwarna keruh sampai kekuning-kuningangan. Sedangkan pada meningitis tuberkulosis cairan otak berwarna jernih. c) d) Protein ( 0,2-0,4 Kg ) pada miningitis meninggi. Glukosa dan klorida. 5. None pandi. 6. Pemeriksaan darah. 7. Uji tuberkulin positif dari kurasan lambung untuk meningitis

tuberculosis.Pemeriksaan radiologi : a) b) c) CT Scan. Rotgen kepala. Rotgen thorak. 2. Elektroensefalografi ( EEG ), akan menunjukkan perlambatan yang menyeluruh di kedua hemisfer dan derajatnya sebanding dengan radang. Analisis CSS dari fungsi lumbal : 11. Meningitis bakterial : tekanan meningkat, cairan keruh/berkabut, jumlah sel darah putih dan protein meningkat glukosa meningkat, kultur positip terhadap beberapa jenis bakteri. 12. Meningitis virus : tekanan bervariasi, cairan CSS biasanya jernih, sel darah putih meningkat, glukosa dan protein biasanya normal, kultur biasanya negatif, kultur virus biasanya dengan prosedur khusus.

13. Glukosa serum : meningkat ( meningitis ). 14. LDH serum : meningkat ( meningitis bakteri ). 15. Sel darah putih : sedikit meningkat dengan peningkatan neutrofil ( infeksi bakteri ). 16. Elektrolit darah : abnormal. 17. ESR/LED : meningkat pada meningitis. 18. Kultur darah/ hidung/ tenggorokan/ urine : dapat mengindikasikan daerah pusat infeksi atau mengindikasikan tipe penyebab infeksi 19. MRI/ skan CT : dapat membantu dalam melokalisasi lesi, melihat ukuran/letak ventrikel; hematom daerah serebral, hemoragik atau tumor. 20. Ronsen dada/kepala/ sinus ; mungkin ada indikasi sumber infeksi intra kranial. 2.6 KOMPLIKASI 22. Ketidaksesuaian sekresi ADH. 23. Pengumpulan cairan subdural. 24. Lesi lokal intrakranial dapat mengakibatkan kelumpuhan sebagian badan. 25. Hidrocepalus yang berat dan retardasi mental, tuli, kebutaan karena atrofi nervus II ( optikus ). 26. Pada meningitis dengan septikemia menyebabkan suam kulit atau luka di mulut, konjungtivitis. 27. Epilepsi. 28. Pneumonia karena aspirasi. 29. Efusi subdural, emfisema subdural. 30. Keterlambatan bicara. 31. Kelumpuhan otot yang disarafi nervus III (okulomotor), nervus IV (toklearis ), nervus VI (abdusen). Ketiga saraf tersebut mengatur gerakan bola mata. 32. Hidrosefalus obstruktif. 33. MeningococcL Septicemia ( mengingocemia ). 34. Sindrome water-friderichen (septik syok, DIC,perdarahan adrenal bilateral). 35. SIADH ( Syndrome Inappropriate Antidiuretic hormone ). 36. Efusi subdural. 37. Kejang. 38. Edema dan herniasi serebral. 39. Cerebral palsy.

40. Gangguan mental. 41. Gangguan belajar. 42. Attention deficit disorder.

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN MENINGITIS 3.1 Pengkajian Meningitis. a) b)


Biodata klien. Riwayat kesehatan yang lalu. Apakah pernah menderita penyait ISPA dan TBC ? Apakah pernah jatuh atau trauma kepala ? Pernahkah operasi daerah kepala ? Riwayat kesehatan sekarang.

a)

(1) Aktivitas.

Gejala : Perasaan tidak enak (malaise). Tanda : ataksia, kelumpuhan, gerakan involunter.

(2) Sirkulasi.

Gejala : Adanya riwayat kardiopatologi : endokarditis dan PJK. Tanda : tekanan darah meningkat, nadi menurun, dan tekanan nadi berat, takikardi, disritmia.

(3) Eliminasi.

Gejala : Inkontinensi dan atau retensi.

(4) Makanan/cairan.

Gejala : Kehilangan nafsu makan, sulit menelan. Tanda : anoreksia, muntah, turgor kulit jelek dan membran mukosa kering.

(5) Higiene.

Gejala : Ketergantungan terhadap semua kebutuhan perawatan diri.

(6) Neurosensori.

Gejala : Sakit kepala, parestesia, terasa kaku pada persarafan yang terkena, kehilangan sensasi, hiperalgesia, kejang, diplopia, fotofobia, ketulian dan halusinasi penciuman. Tanda : letargi sampai kebingungan berat hingga koma, delusi dan halusinasi, kehilangan memori, afasia,anisokor, nistagmus,ptosis, kejang umum/lokal,

hemiparese, tanda brudzinki positif dan atau kernig positif, rigiditas nukal, babinski positif,reflek abdominal menurun dan reflek kremastetik hilang pada laki-laki. (7) Nyeri/keamanan.

Gejala : sakit kepala(berdenyut hebat, frontal). Tanda : gelisah, menangis.

(8) Pernafasan.

Gejala : riwayat infeksi sinus atau paru. Tanda : peningkatan kerja pernafasan.

3.2 Diagnosa keperawatan Meningitis. 7. Resiko tinggi terhadap penyebaran infeksi sehubungan dengan diseminata hematogen dari pathogen. 8. Risiko tinggi terhadap perubahan serebral dan perfusi jaringan sehubungan dengan edema serebral, hipovolemia. 9. Risisko tinggi terhadap trauma sehubungan dengan kejang umum/fokal, kelemahan umum, vertigo. 10. Nyeri (akut) sehubungan dengan proses inflamasi, toksin dalam sirkulasi. 11. Kerusakan mobilitas fisik sehubungan dengan kerusakan neuromuskular, penurunan kekuatan. 12. Anxietas berhubungan dengan krisis situasi, ancaman kematian. 3.3 Intervensi Keperawatan Meningitis. 2. Resiko tinggi terhadap penyebaran infeksi sehubungan dengan diseminata hematogen dari patogen. Criteria Hasil :

Mandiri. Beri tindakan isolasi sebagai pencegahan. Pertahan kan teknik aseptik dan teknik cuci tangan yang tepat. Pantau suhu secara teratur. Kaji keluhan nyeri dada, nadi yang tidak teratur demam yang terus menerus Auskultasi suara nafas ubah posisi pasien secara teratur, dianjurkan nfas dalam Cacat karakteristik urine (warna, kejernihan dan bau )

Kolaborasi : Berikan terapi antibiotik iv: penisilin G, ampisilin, klorampenikol, gentamisin. 2. Resiko tinggi terhadap perubahan cerebral dan perfusi jaringan sehubungan dengan edema serebral, hipovolemia. Criteria Hasil :

Mandiri. Tirah baring dengan posisi kepala datar. Pantau status neurologis. Kaji regiditas nukal, peka rangsang dan kejang Pantau tanda vital dan frekuensi jantung, penafasan, suhu, masukan dan haluaran. Bantu berkemih, membatasi batuk, muntah mengejan.

Kolaborasi :

Tinggikan kepala tempat tidur 15-45 derajat. Berikan cairan iv (larutan hipertonik, elektrolit ). Pantau BGA. Berikan obat : steoid, clorpomasin, asetaminofen.

2. Resiko tinggi terhadap trauma sehubungan dengan kejang umum/vokal, kelemahan umum vertigo. Criteria Hasil :

Mandiri. Pantau adanya kejang.

Pertahankan penghalang tempat tidur tetap terpasang dan pasang jalan nafas buatan. Tirah baring selama fase akut kolaborasi berikan obat : venitoin, diaepam, venobarbital.

2. Nyeri (akut ) sehubungan dengan proses infeksi, toksin dalam sirkulasi. Criteria Hasil :

Mandiri. Letakkan kantung es pada kepala, pakaian dingin di atas mata, berikan posisi yang nyaman kepala agak tinggi sedikit, latihan rentang gerak aktif atau pasif dan masage otot leher.

Dukung untuk menemukan posisi yang nyaman(kepala agak tingi). Berikan latihan rentang gerak aktif/pasif. Gunakan pelembab hangat pada nyeri leher atau pinggul.

Kolaborasi :

Berikan anal getik, asetaminofen, codein.

2. Kerusakan mobilitas fisik sehubungan dengan kerusakan neuromuskuler. Criteria Hasil :


Kaji derajat imobilisasi pasien. Bantu latihan rentang gerak. Berikan perawatan kulit, masase dengan pelembab. Periksa daerah yang mengalami nyeri tekan, berikan matras udara atau air perhatikan kesejajaran tubuh secara fungsional.

Berikan program latihan dan penggunaan alat mobilisasi.

2. Perubahan persepsi sensori sehubungan dengan defisit neurologis. Criteria Hasil :

Pantau perubahan orientasi, kemamapuan berbicara,alam perasaaan, sensorik dan proses pikir.

Kaji kesadara sensorik : sentuhan, panas, dingin. Observasi respons perilaku. Hilangkan suara bising yang berlebihan. Validasi persepsi pasien dan berikan umpan balik. Beri kessempatan untuk berkomunikasi dan beraktivitas.

Kolaborasi :

Ahli fisioterapi, terapi okupasi,wicara dan kognitif.

2. Ansietas sehubungan dengan krisis situasi, ancaman kematian. Criteria Hasil :


Kaji status mental dan tingkat ansietasnya. Berikan penjelasan tentang penyakitnya dan sebelum tindakan prosedur. Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaan. Libatkan keluarga/pasien dalam perawatan dan beri dukungan serta petunjuk sumber penyokong.

3.4 EVALUASI/HASIL YANG DIHARAPKAN. 8. Mencapai masa penyembuhan tepat waktu, tanpa bukti penyebaran infeksi endogen atau keterlibatan orang lain. 9. Mempertahankan tingkat kesadaran biasanya/membaik dan fungsi motorik/sensorik, mendemonstrasikan tanda-tanda vital stabil. 10. Tidak mengalami kejang/penyerta atau cedera lain. 11. Melaporkan nyeri hilang/terkontrol dan menunjukkan postur rileks dan mampu tidur/istirahat dengan tepat. 12. Mencapai kembali atau mempertahankan posisi fungsional optimal dan kekuatan. 13. Meningkatkan tingkat kesadaran biasanya dan fungsi persepsi. 14. Tampak rileks dan melaporkan ansietas berkurang dan mengungkapkan keakuratan pengetahuan tentang situasi.

BAB IV TINJAUAN KASUS A. Hasil anamnese Tn.M umur 19 tahun datang ke UGD diantar keluarga dengan kendaraan pribadi pada pukul 14.00, dalam kondisi kesadaran letargi. Keluarga mengatakan sebelum dibawa ke RS klien mengalami sakit kepala hebat, muntah kurang lebih 3x, panas tinggi, dan nyeri punggung dan leher, batuk disertai darah kurang lebih 6 bulan tanpa diobati. Keluarga juga mengatakan kakek klien pernah mengalami riwayat penyakit Tuberkulosis. B. Hasil pemeriksaan

1. Secara umum : Tanda-tanda vital : Suhu : 37.5oC Tekanan darah : 100/60 mmhg Nadi : 96x/menit Pernafasan : 24x/menit GCS E;2 V;3 M\: 4 = 9 Tingkat kesadaran : Samnolen BB : 45 kg TB : 165 cm

2. Pemeriksaan fisik (Head to Toe) Kepala : Inspeksi : bentuk kepala oval, rambut kusam, sedikit pembengkakan pada bagian kepala. Palpasi : nyeri tekan pada bagian kepala. Mata : Inspeksi : ketika dilakukan pemeriksaan reaksi pupil menggunakan senter klien memejamkan matanya dengan kuat, konjungtiva pucat, warna sklera putih, terdapat lingkaran hitam disekitar mata. Palpasi : tidak ada nyeri tekan pada bagian mata. Hidung Inspeksi : simetris kiri dan kanan, warna hidung sama dengan warna kulit sekitar wajah.

Palpasi : tidak ada nyeri tekan Mulut : Inspeksi : mukosa bibir kering dan pucat, terdapat warna keputih-putihan pada lidah, gusi warna merah muda, gigi kurang bersih. Palpasi : tidak terdapat nyeri tekan di sekitar mulut. Telinga : Inspeksi : warna kulit sama dengan warna kulit disekitar, simetris telinga kiri dengan yang kanan. Palpasi : nyeri tekan disekitar telinga. Leher : Inspeksi : warna kulit sama dengan warna kulit disekitar , tidak ada pembesaran vena jugularis. Palpasi : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, terdapat nyeri tekan pada punggung leher. Ekstremitas atas : Inspeksi : terdapat ruam petechie. Palpasi : nyeri tekan pada kulit. Dada : Inspeksi : warna kulit sama dengan warna kulit disekitar, tidak ada pembengkakan. Palpasi : nyeri tekan pada dada. Perkusi : pekak. Auskultasi : bunyi pernafasan rales (crekles). Abdomen : Inspeksi : warna kulit sama dengan warna kulit disekitar, bentuk abdomen cekung. Auskultasi : bunyi peristaltik usus 37x/menit Palpasi : nyeri tekan di abdomen kiri atas Perkusi : bunyi timpani Ektremitas bawah Inspeksi : ektremitas bawah simetris kiri dan kanan dan terdapat pembengkakan pada bagian lutut dan pergelangan kaki, babinski positif Palpasi : nyeri tekan pada bagian lutut dan pergelangan kaki

3. Pemeriksaan Penunjang : Analisis CSS dari pungsi lumbal Meningitis bakterial : tekanan meningkat, cairan keruh/berkabut, jumlah sel darah putih meningkat ; glukosa menurun, kultur positif terhadap beberapa jenis bakteri Glukosa serum meningkat LDH serum meningkat Sel darah putih sedikit meningkat dengan peningkatan neotofil Elektrolit darah abnormal ESR/LED meningkat Kultur darah/hidung/tenggorokan?urine : dapat mengindikasikan daerah pusat infeksi atau mengindikasikan tipe penyebab infeksi MR/CT Scan ; dapat membantu melokalisasi lesi, melihat ukuran/letak ventrikel; hematoma daerah serebral,homoragik atau tumor Ronsen dada, kepala, dan sinus : mungkin ada indikasi infeksi atau sumber infeksi intracranial

C. Analisa Data Data Subjektif :

Keluarga klien mengatakan klien merasakan sakit kepala hebat Keluarga klien mengatakan klien muntah kurang lebih 3x Keluarga klien mengatakan tubuh klien panas sejak dari pagi Keluarga klien mengatakan klien merasakan nyeri pada bagian punggung dan leher Keluarga juga mengatakan bahwa klien batuk darah kurang lebih sudah 6 bulan Keluarga juga mengatakan bahwa kakek klien punya riwayat penyakit TBC

Data Objectif : Suhu : 37.5oC TD : 100/60 mmhg Nadi : 96x/menit Respirasi : 24x/menit

TTV :

Terdapat nyeri tekan pada bagian kepala Klien potophobia, saat dilakukan pemeriksaan pupil klien menutup matanya dengan kuat

Tanda kerning dan brudzinski positif Saat pemeriksaan CT scan terdapat penumpukan cairan pada selaput meningen Saat pemeriksaan rontgen terlihat bagian paru-paru berawan

D. Identifiksai Masalah Risiko Infeksi factor risiko dengan adanya kuman patogen pada cairan serebrospinal dan sekret saluran pernapasan. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis.

NO 1

MASALAH Risiko Infeksi factor risiko dengan adanya kuman patogen pada cairan serebrospinal dan sekret saluran pernapasan.

PATOFISOLOGI

Bakteri TB masuk ke cairan otak melalu pembuluh darah didalam pembuluh darah otak mikroorganisme yang masuk dapat berjalan ke cairan otak melalui ruangan subarachnoid

adanya mikroorganisme yang patologis merupakan penyebab peradangan pada piamater, arachnoid, cairan otak dan ventrikel

Eksudat yang dibentuk akan menyebar, baik ke kranial maupun ke saraf spinal yang dapat menyebabkan kemunduran neurologis selanjutnya

Eksudat ini dapat

menyebabkan sumbatan aliran normal cairan otak dan dapat menyebabkan penyakit infeksi otak lainnya

NO 2

MASALAH Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis.

PATOFISOLOGI

Bakteri TB masuk ke cairan otak melalu pembuluh darah didalam pembuluh darah otak

Infeksi cairan serebrospinal dan meningeal menyebabkan respon inflamasi pada

piamater , arakhnoid dan CSF

Pembuluh darah mengalami inflamasi sekitar otak di dalam area

Nyeri

E. Rencana Intervensi 1. Risiko Infeksi factor risiko dengan adanya kuman patogen pada cairan serebrospinal dan sekret saluran pernapasan.

INTERVENSI 1.Berikan tindakan isolasi sebagai tindakan pencegahan

RASIONAL 1.Pada fase awal meningitis bakteri, isolasi mungkin diperlukan sampai organismenya diketahui, dan untuk mencegah resiko penyebaran pada orang lain

2.Pantau suhu secara teratur. Catat munculnya tanda-tanda klinis dari proses infeksi 2.Timbulnya tanda klinis menerus merupakan yang terus dari

indikasi

perkembangan infeksi bakteri yang dapat bertahan sampai berminggu-minggu.

3.Anjurkan untuk melakukan teknik napas dalam

3.Untuk pengeluaran resiko

meningkatkan secret yang

kelancaran menurunkan terhadap

terjadinya

komplikasi

pernapasan 4.Kolaborasi terapi antibiotika IV sesuai indikasi: Penisilin G, ampisilin, Kloramfenikol,gentamisin, amfoterisin B. 4.obat yang dibilih tergantung pada tipe infeksi dan sensifitas individu. Obat intratekal mungkin diindikasikan untuk basilus Gram-negatif,jamur,amuba

2. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis. INTERVENSI RASIONAL

1.Berikan lingkungan yang tenang, ruangan 1.Menurunkan reaksi terhadap stimulasi dari agak gelap sesuai indikasi luar atau sensivitas pada cahaya dan

meningkatkan istirahat atau relaksasi 2.Dukung untuk menemukan posisi yang 2.Menurunkan iritasi meningeal, resultan nyaman, seperti kepala agak tinggi sedikit. 3.Tingkatkan tirah baring, ketidaknyamanan lebih lanjut. gerakan yang dapat

bantulah 3.Menurunkan

kebutuhan perawatan diri yang penting

meningkatkan nyeri relaksasi otot dan

4.Gunakan pelembab yang agak hangat pada 4.meningkatkan nyeri leher/punggung

menurunkan rasa sakikt/rasa tidak nyaman

BAB V A. Pembahasan Tn.M umur 19 tahun datang ke UGD diantar keluarga dengan kendaraan pribadi pada pukul 14.00, dalam kondisi kesadaran letargi. Keluarga mengatakan sebelum dibawa ke RS klien mengalami sakit kepala hebat, muntah kurang lebih 3x, panas tinggi, dan nyeri punggung dan leher, batuk disertai darah kurang lebih 6 bulan tanpa diobati. Keluarga juga mengatakan kakek klien pernah mengalami riwayat penyakit Tuberkulosis. Dengan tanda-tanda vital : Suhu : 37.5oCTekanan darah : 100/60 mmhgNadi : 96x/menitPernafasan : 24x/menit. Dengan diagnosa: Risiko Infeksi Nyeri akut B. Analisis Dari kasus ini hanya didapatkan dua diagnosa yang muncul, sedangkan dari tinjauan teori ada enam diagnosa yang muncul. Kedua diagnosa pada kasus ini saling terintegrasi satu sama lain. Peradangan selaput otak mengakibatkan tingginya resiko infeksi yang diderita oleh pasien dan karena peradangan itu pula maka pasien mengalami nyeri kepala yang hebat. Berdasatrkan teori seharusnya pasien juga mengalami peningkatan suhu tubuh akibat peradangan selaput otak dan resiko terjadinya gangguan perfusi jaringan serebral, namun kedua masalah tersebut nampaknya belum menjadi masalah yang aktual karena dari tanda gejala yang muncul pasien hanya mengalami nyeri kepala dan terdapat tanda tanda peradangan pada selaput otak. C. Kesimpulan Dari kasus diatas dapat disimpulkan bahwa pasien mengidap meningitis tipe bakterial. Pasien mengalami meningitis akibat dari metastase bakteri tuberkulosis pada jaringan selaput otak. Pada kasus-kasus meningitis tipe ini perlu dikaji secaa mendalam riwayat kesehatan pasien sebelumnya untuk mengetahui penyebab dan menganalisis kemungkinan bakteri yang menyababkan peradangan diselaput otak.

BAB VI PENUTUP

6.1 KESIMPULAN. Meningitis adalah infeksi cairan otak dan disertai proses peradangan yang mengenai piameter, araknoid dan dapat meluas ke permukaan jarinag otak dan medula spinalis yang menimbulkan eksudasi berupa pus atau serosa yang terdapat secara akut dan kronis. Meningitis dibagi menjadi 2 golongan berdasarkan perubahan yang terjadi pada cairan otak, yaitu : 1) Meningitis serosa Adalah radang selaput otak araknoid dan piameter yang disertai

cairan otak yang jernih. Penyebab terseringnya adalah Mycobacterium tuberculosa. Penyebab lainnya Virus, Toxoplasma gondhii dan Ricketsia. 2) Meningitis purulenta Adalah radang bernanah arakhnoid dan piameter yang meliputi

otak dan medula spinalis. Penyebabnya antara lain : Diplococcus pneumoniae (pneumokok), Neisseria meningitis (meningokok), Streptococus haemolyticuss, Staphylococcus aureus, Haemophilus influenzae, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Peudomonas aeruginosa. 6.2 SARAN. Dengan adanya makalah ini penulis dapat lebih memahami tentang bagaimana penyakit meningitis dan dapat melakukan perawatan yang baik serta menegakkan asuhan keperawatan yang baik dengan adanya hasil makalah ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bacaan untuk menambah wawasan dari ilmu yang telah di dapatkan dan lebih baik lagi dari sebelumnya. Penulis menyarankan kepada pasien untuk dapat mengenali tanda dan gejala meningitis serta melakukan tes diagnostik untuk mendukung dan membuktikan kebenaran dari tanda gejala yang mengerucut kepada penyakit meningitis. Kepada tenaga kesehatan yang merawat pasien dengan meningitis diharapkan mampu mengkaji secara menyeluruh dan mendalam untk dapat menegakkan asuhan keperawatan yang sebaik-baiknya. Sedangkan

untuk mahasiswa penulis menyarankan untuk betul-betul mempelajari tanda gejala yang spesifik yang ada pada pasien dengan meningitis.

DAFTAR PUSTAKA Doenges, Marilyn E, dkk.(1999).Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Alih Bahasa, I Made Kariasa, N Made Sumarwati. Editor edisi bahasa Indonesia, Monica Ester, Yasmin asih. Ed.3. Jakarta : EGC. Harsono.(1996).Buku Ajar Neurologi Klinis.Ed.I.Yogyakarta : Gajah Mada University Press. Smeltzer, Suzanne C & Bare,Brenda G.(2001).Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth.Alih bahasa, Agung Waluyo,dkk.Editor edisi bahasa Indonesia, Monica Ester.Ed.8.Jakarta : EGC. Tucker, Susan Martin et al. Patient care Standards : Nursing Process, diagnosis, And Outcome. Alih bahasa Yasmin asih. Ed. 5. Jakarta : EGC; 1998. Price, Sylvia Anderson. Pathophysiology : Clinical Concepts Of Disease Processes. Alih Bahasa Peter Anugrah. Ed. 4. Jakarta : EGC; 1994. Long, Barbara C. perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan. Bandung : yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan; 1996.

TINJAUAN KASUS PASIEN DENGAN MENINGITIS

Disusun Oleh : Singgih Gema Dwihardika Tri Yuliantono (11.0744.S) (11.0746.S)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH PEKAJANGAN PEKALONGAN 2014

TINJAUAN KASUS A. Hasil anamnese Tn.M umur 19 tahun datang ke UGD diantar keluarga dengan kendaraan pribadi pada pukul 14.00, dalam kondisi kesadaran letargi. Keluarga mengatakan sebelum dibawa ke RS klien mengalami sakit kepala hebat, muntah kurang lebih 3x, panas tinggi, dan nyeri punggung dan leher, batuk disertai darah kurang lebih 6 bulan tanpa diobati. Keluarga juga mengatakan kakek klien pernah mengalami riwayat penyakit Tuberkulosis. B. Hasil pemeriksaan

1. Secara umum : Tanda-tanda vital : Suhu : 37.5oC Tekanan darah : 100/60 mmhg Nadi : 96x/menit Pernafasan : 24x/menit GCS E;2 V;3 M\: 4 = 9 Tingkat kesadaran : Samnolen BB : 45 kg TB : 165 cm

2. Pemeriksaan fisik (Head to Toe) Kepala : Inspeksi : bentuk kepala oval, rambut kusam, sedikit pembengkakan pada bagian kepala. Palpasi : nyeri tekan pada bagian kepala. Mata : Inspeksi : ketika dilakukan pemeriksaan reaksi pupil menggunakan senter klien memejamkan matanya dengan kuat, konjungtiva pucat, warna sklera putih, terdapat lingkaran hitam disekitar mata. Palpasi : tidak ada nyeri tekan pada bagian mata. Hidung Inspeksi : simetris kiri dan kanan, warna hidung sama dengan warna kulit sekitar wajah. Palpasi : tidak ada nyeri tekan

Mulut : Inspeksi : mukosa bibir kering dan pucat, terdapat warna keputih-putihan pada lidah, gusi warna merah muda, gigi kurang bersih. Palpasi : tidak terdapat nyeri tekan di sekitar mulut. Telinga : Inspeksi : warna kulit sama dengan warna kulit disekitar, simetris telinga kiri dengan yang kanan. Palpasi : nyeri tekan disekitar telinga. Leher : Inspeksi : warna kulit sama dengan warna kulit disekitar , tidak ada pembesaran vena jugularis. Palpasi : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, terdapat nyeri tekan pada punggung leher. Ekstremitas atas : Inspeksi : terdapat ruam petechie. Palpasi : nyeri tekan pada kulit. Dada : Inspeksi : warna kulit sama dengan warna kulit disekitar, tidak ada pembengkakan. Palpasi : nyeri tekan pada dada. Perkusi : pekak. Auskultasi : bunyi pernafasan rales (crekles). Abdomen : Inspeksi : warna kulit sama dengan warna kulit disekitar, bentuk abdomen cekung. Auskultasi : bunyi peristaltik usus 37x/menit Palpasi : nyeri tekan di abdomen kiri atas Perkusi : bunyi timpani Ektremitas bawah Inspeksi : ektremitas bawah simetris kiri dan kanan dan terdapat pembengkakan pada bagian lutut dan pergelangan kaki, babinski positif Palpasi : nyeri tekan pada bagian lutut dan pergelangan kaki

3. Pemeriksaan Penunjang : Analisis CSS dari pungsi lumbal Meningitis bakterial : tekanan meningkat, cairan keruh/berkabut, jumlah sel darah putih meningkat ; glukosa menurun, kultur positif terhadap beberapa jenis bakteri Glukosa serum meningkat LDH serum meningkat Sel darah putih sedikit meningkat dengan peningkatan neotofil Elektrolit darah abnormal ESR/LED meningkat Kultur darah/hidung/tenggorokan?urine : dapat mengindikasikan daerah pusat infeksi atau mengindikasikan tipe penyebab infeksi MR/CT Scan ; dapat membantu melokalisasi lesi, melihat ukuran/letak ventrikel; hematoma daerah serebral,homoragik atau tumor Ronsen dada, kepala, dan sinus : mungkin ada indikasi infeksi atau sumber infeksi intracranial

C. Analisa Data Data Subjektif :

Keluarga klien mengatakan klien merasakan sakit kepala hebat Keluarga klien mengatakan klien muntah kurang lebih 3x Keluarga klien mengatakan tubuh klien panas sejak dari pagi Keluarga klien mengatakan klien merasakan nyeri pada bagian punggung dan leher Keluarga juga mengatakan bahwa klien batuk darah kurang lebih sudah 6 bulan Keluarga juga mengatakan bahwa kakek klien punya riwayat penyakit TBC

Data Objectif : Suhu : 37.5oC TD : 100/60 mmhg Nadi : 96x/menit Respirasi : 24x/menit

TTV :

Terdapat nyeri tekan pada bagian kepala Klien potophobia, saat dilakukan pemeriksaan pupil klien menutup matanya dengan kuat

Tanda kerning dan brudzinski positif Saat pemeriksaan CT scan terdapat penumpukan cairan pada selaput meningen Saat pemeriksaan rontgen terlihat bagian paru-paru berawan

D. Identifiksai Masalah Risiko Infeksi factor risiko dengan adanya kuman patogen pada cairan serebrospinal dan sekret saluran pernapasan. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis.

NO 1

MASALAH Risiko Infeksi factor risiko dengan adanya kuman patogen pada cairan serebrospinal dan sekret saluran pernapasan.

PATOFISOLOGI

Bakteri TB masuk ke cairan otak melalu pembuluh darah didalam pembuluh darah otak mikroorganisme yang masuk dapat berjalan ke cairan otak melalui ruangan subarachnoid

adanya mikroorganisme yang patologis merupakan penyebab peradangan pada piamater, arachnoid, cairan otak dan ventrikel

Eksudat yang dibentuk akan menyebar, baik ke kranial maupun ke saraf spinal yang dapat menyebabkan kemunduran neurologis selanjutnya

Eksudat ini dapat

menyebabkan sumbatan aliran normal cairan otak dan dapat menyebabkan penyakit infeksi otak lainnya

NO 2

MASALAH Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis.

PATOFISOLOGI

Bakteri TB masuk ke cairan otak melalu pembuluh darah didalam pembuluh darah otak

Infeksi cairan serebrospinal dan meningeal menyebabkan respon inflamasi pada

piamater , arakhnoid dan CSF

Pembuluh darah mengalami inflamasi sekitar otak di dalam area

Nyeri

E. Rencana Intervensi 1. Risiko Infeksi factor risiko dengan adanya kuman patogen pada cairan serebrospinal dan sekret saluran pernapasan.

INTERVENSI 1.Berikan tindakan isolasi sebagai tindakan pencegahan

RASIONAL 1.Pada fase awal meningitis bakteri, isolasi mungkin diperlukan sampai organismenya diketahui, dan untuk mencegah resiko penyebaran pada orang lain

2.Pantau suhu secara teratur. Catat munculnya tanda-tanda klinis dari proses infeksi 2.Timbulnya tanda klinis menerus merupakan yang terus dari

indikasi

perkembangan infeksi bakteri yang dapat bertahan sampai berminggu-minggu.

3.Anjurkan untuk melakukan teknik napas dalam

3.Untuk pengeluaran resiko

meningkatkan secret yang

kelancaran menurunkan terhadap

terjadinya

komplikasi

pernapasan 4.Kolaborasi terapi antibiotika IV sesuai indikasi: Penisilin G, ampisilin, Kloramfenikol,gentamisin, amfoterisin B. 4.obat yang dibilih tergantung pada tipe infeksi dan sensifitas individu. Obat intratekal mungkin diindikasikan untuk basilus Gram-negatif,jamur,amuba

2. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis. INTERVENSI RASIONAL

1.Berikan lingkungan yang tenang, ruangan 1.Menurunkan reaksi terhadap stimulasi dari agak gelap sesuai indikasi luar atau sensivitas pada cahaya dan

meningkatkan istirahat atau relaksasi 2.Dukung untuk menemukan posisi yang 2.Menurunkan iritasi meningeal, resultan nyaman, seperti kepala agak tinggi sedikit. 3.Tingkatkan tirah baring, ketidaknyamanan lebih lanjut. gerakan yang dapat

bantulah 3.Menurunkan

kebutuhan perawatan diri yang penting

meningkatkan nyeri relaksasi otot dan

4.Gunakan pelembab yang agak hangat pada 4.meningkatkan nyeri leher/punggung

menurunkan rasa sakikt/rasa tidak nyaman