Anda di halaman 1dari 10

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Seorang bayi yang baru dilahirkan berhak mendapatkan makanan yang paling sesuai dengan kebutuhannya. Berbagai hasil penelitian telah membuktikan bahwa air susu ibu (ASI) merupakan makanan terbaik untuk bayi. Pemberian ASI pada bayi yang baru lahir hingga berusia dua tahun sudah disebutkan dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 233. Di Indonesia, pengaturan tentang makanan yang dapat diberikan pada bayi telah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No 39 Tahun 2013 tentang susu formula bayi dan produk bayi lainnya. Pemberian makanan pengganti ASI pada bayi merupakan salah satu alternatif ketika terjadi berbagai kondisi dan keadaan, diantaranya adalah apabila ASI dari ibu tidak mencukupi, ibu meninggal pada saat melahirkan atau bayi dengan alergi atau gangguan pencernaan. Orang tua akan dihadapkan pada berbagai pilihan susu formula yang tepat dan aman untuk bayi. Hal ini tidak mudah, sebab di pasaran tersedia banyak merk susu formula yang menawarkan berbagai macam kandungan gizi. Informasi tentang susu yang baik seringkali berbeda antara dokter, sales, iklan atau pengalaman ibu lainnya. Informasi yang beragam inilah yang kadang membingungkan orang tua, karena sering sangat berbeda dan berlawanan. Susu formula yang ada saat ini menyebutkan bahwa susu tersebut mengandung zat-zat tertentu yang dapat meningkatkan tumbuh kembang anak, baik dalam hal kecerdasan maupun kondisi fisik. Sebagian susu formula yang lain mengandung zat khusus bagi bayi yang menderita kelainan metabolisme bawaan. Perkembangan zaman yang semakin maju menawarkan berbagai produk teknologi untuk semakin memudahkan kehidupan manusia. Hal ini juga berdampak pada penurunan pemberian ASI oleh ibu menyusui. Penurunan ini akan berdampak buruk jika diikuti dengan pemilihan susu formula yang tidak sesuai. Susu formula yang tidak cocok untuk bayi dapat meningkatkan angka kematian bayi dan gizi buruk pada anak. Dampak yang lebih luas adalah

penurunan kualitas sumber daya manusia yang dapat menimbulkan berbagai kerugian jangka panjang. Pengetahuan mengenai susu formula sebagai salah satu makanan untuk bayi sangat diperlukan. Sebab, susu formula memiliki peranan yang penting dalam makanan bayi karena seringkali bertindak sebagai satu-satunya sumber gizi bagi bayi. Oleh karena itu, pada makalah ini akan dibahas mengenai perkembangan susu formula, kelebihan dan kekurangannya, serta solusi untuk mengatasi dampak negatif yang mungkin timbul.

B. Rumusan Masalah Masalah pada makalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. Bagaimana perkembangan susu formula sebagai makanan bayi? 2. Apa kelebihan dan kekurangan susu formula? 3. Apa dampak konsumsi susu formula? 4. Bagaimana solusi untuk mengatasi dampak negatif yang mungkin timbul akibat mengkonsumsi susu formula?

C. Tujuan Penulisan Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Mengetahui perkembangan susu formula sebagai makanan bayi 2. Mengetahui kelebihan dan kekurangan susu formula 3. Mengetahui dampak konsumsi susu formula 4. Mengetahui solusi untuk mengatasi dampak negatif yang mungkin timbul akibat mengkonsumsi susu formula.

D. Manfaat Manfaat penulisan makalah ini adalah memberikan gambaran khususnya bagi ibu-ibu atau calon ibu dan masyarakat pada umumnya mengenai susu formula, kelebihan dan kekurangannya serta dampak yang timbul ketika orang tua memilih susu formula untuk anaknya.

BAB II PEMBAHASAN

A. Perkembangan Susu Formula Sejarah pemberian makanan pada bayi yang baru dilahirkan dimulai dari melalui ibu susuan, penemuan alat untuk memberikan makanan dan penemuan susu formula. Ibu susuan adalah seorang perempuan yang menyusui anak yang lain. Seorang ibu yang tidak mampu menyusui bayinya dapat mencarikan ibu susuan agar anaknya tetap mendapatkan asupan ASI yang memadai. Menurut penelitian, profesi ibu susuan ini ada sejak abad 2000 SM hingga abad 20 M. (Stevens, 2009: 32). Pada abad 19 M, ditemukan berbagai peralatan untuk memudahkan memberikan makanan pada bayi. Bersamaan dengan perkembangan alat tersebut, pemberian makanan bayi melalui ibu susuan mulai berkurang. Pada abad 18-20 M terjadi perkembangan dalam bidang kimia dan pengawetan makanan. Hal tersebut turut berkontribusi pada meningkatnya penggantian pemberian ASI dengan susu formula. Para peneliti mengadakan penelitian untuk menemukan susu hewan yang paling sesuai untuk diolah menjadi pengganti ASI. Pada tahun 1865, kimiawan Justus von Liebig mengembangkan, mematenkan dan memasarkan makanan bayi, pertama dalam bentuk cair, kemudian berkembang menjadi bentuk bubuk dengan pengawetan yang lebih baik. Formula Liebig terdiri dari susu sapi, gandum, tepung ragi, kalium bikarbonat. Formula ini disebut sebagai makanan bayi terbaik pada masa itu. (Stevens, 2009: 36). Sejak saat itu, puluhan industri berlomba-lomba mengembangkan susu formula dengan menambahkan berbagai macam zat agar formula susu sesuai dengan kebutuhan bayi. Hingga sekarang ini, susu formula dengan berbagai zat dan merk sangat banyak tersedia di pasaran. Adanya susu formula menimbulkan efek yang besar pada menurunnya jumlah ibu yang menyusui bayinya di abad ke 21. Menurut Permenkes RI no 39 tahun 2013, Susu Formula Bayi adalah susu yang secara khusus diformulasikan sebagai pengganti ASI untuk bayi

sampai berusia 6 (enam) bulan. Definisi lain mengenai susu formula adalah cairan atau bubuk dengan formula tertentu yang diberikan pada bayi dan anakanak yang berfungsi sebagai pengganti ASI. (Judarwanto, 2012: 1). Dalam Peraturan Kepala BPOM RI No HK.00.05.1.52.3920 disebutkan bahwa formula adalah formula sebagai pengganti air susu ibu (ASI) untuk bayi (sampai umur 6 bulan) yang secara khusus diformulasikan untuk menjadi satusatunya sumber gizi dalam bulan-bulan pertama kehidupannya sampai bayi diperkenalkan dengan makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI). Selain formula bayi, terdapat formula bayi untuk keperluan medis khusus yaitu makanan bagi bayi yang diolah atau diformulasi secara khusus dan disajikan sebagai tatalaksana diet pasien bayi sehingga secara tunggal dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi dengan gangguan, penyakit atau kondisi medis khusus selama beberapa bulan pertama kehidupannya sampai saat pengenalan MP-ASI dan hanya boleh digunakan dibawah pengawasan tenaga medis. Komposisi susu formula yang diperdagangkan dikontrol dengan hatihati. FDA (Food and Drugs Association/Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika) mensyaratkan produk ini harus memenuhi standar ketat tertentu. Secara umum prinsip pemilihan susu yang tepat dan baik untuk anak adalah susu yang sesuai dan bisa diterima sistem tubuh anak. Pengaturan mengenai pengawasan susu formula bayi di Indonesia diatur oleh Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No 39 Tahun 2013 dan Peraturan Kepala BPOM RI No HK.00.05.1.52.3920. Produsen susu formula wajib menyertakan zat-zat tertentu dalam produk susunya agar memiliki kandungan mirip dengan ASI. Meskipun nutrien dalam susu formula mirip dengan ASI, produsen tetap wajib mencantumkan pernyataan bahwa ASI adalah satu-satunya makanan yang sesuai untuk bayi. Formula pada ASI berubah sesuai usia dan kebutuhan nutrisi anak. Pada susu formula, zat gizi yang tersedia tidak berubah meskipun usia anak bertambah. Hal tersebut menyebabkan gangguan pada proses pencernaan. Perbedaan pada pencernaan dan penyerapan susu formula dan ASI kemudian dihubungkan pada tiga masalah yang menunjukkan gizi buruk pada anak, yaitu atopy, diabetes mellitus dan kegemukan pada anak. (Stevens, 2009: 37)

Berikut ini tabel yang menyajikan kandungan gizi pada ASI matur, susu sapi dan susu formula. (Gutrhie, HA et al, 1995, dalam Setiawan, 2009: 14) Tabel 1. Kandungan gizi ASI matur, susu sapi dan susu formula per 100 ml Zat Gizi ASI Matur Susu Sapi Susu Formula Energi (kkal) 64 64 67 Lemak (g) 3,7 3,6 3,6-3,8 Laktosa (g) 7,2 4,8 6,9-7,2 Protein (g) 0,9 3,2 1,4 Kasein (g) 0,25 2,6 * Laktalbumin (g) 0,26 0,1 * Kalsium (mg) 30 115 42-49 Pospor (mg) 15 91 28-38 Zink (mg) 0,16 0,4 0,5 Fe (mg) 0,03 0,05 1,2 Vitamin A (RE) 77 30-70 60 Karoten (RE) 8,5 Vitamin D (mg) 5 5 40-43 Vitamin E (mg) 0,4 0,04 2 Vitamin C (mg) 6 3 9,5-21 Vitamin K (mg) 0,16 0,1-0,4 5,5-5,8 Folat (ug) 10 6,0 5-10,6 Niacin (mg) 0,2 0,166 0,5-0,85 Asam Pantotenat (mg) 0,26 0,32 0,21-0,32 Piridoksin (ug) 20 55,4 40 Riboflavin (ug) 58 91,4 100 Tiamin (ug) 20,8 38,8 50-70 Natrium (mg) 12 52 15-18 Kalium (mg) 45 140 56-73 Klorium (mg) 39 97 38-43 Magnesium (mg) 3 9,6 4,1-5,3 Copper (ug) 24 3 46-9,5 Iodine (ug) 11-27 20-50 3,4-10 Mangan (ug) 0,4 4 1,2-1,5 Selenium (ug) 1,5 0-10 0,5-2 Dari Fommon SJ: Infant Nutrition, Saint Louis, 1993, Mosby

B. Kelebihan dan Kekurangan Susu Formula 1. Kelebihan Susu Formula a. Sebagai alternatif makanan pengganti ASI apabila terjadi kondisi dimana ibu tidak dapat memberikan ASI eksklusif. b. Dapat diberikan sebagai makanan tambahan pada bayi yang mendapat indikasi medis pada bayi sesuai resep dokter. 2. Kekurangan Susu Formula a. Kandungan gizi pada susu formula tidak dapt menyesuaikan kebutuhan gizi pada bayi b. Susu formula mengandung lebih banyak protein dengan jenis kasein yang sulit dicerna oleh sistem pencernaan bayi sehingga memudahkan bayi terkena alergi dan obesitas. c. Susu formula tidak mengandung elemen penting seperti enzim untuk membantu pencernaan bayi, asam lemak, antibodi, dan DHA yang sesuai. d. Susu formula tidak praktis dan ekonomis. e. Penggunaan susu formula dapat meningkatkan polusi. f. Susu formula rawan terkontaminasi dan dipalsukan.

C. Dampak Konsumsi Susu Formula Penggunaan susu formula menjadi alternatif ketika terjadi kondisi dimana ibu tidak dapat memberikan ASI eksklusif. Namun, berbagai penelitian telah membuktikan bahwa ASI tidak dapat tergantikan. Pemberian susu formula yang tidak tepat banyak menimbulkan dampak negatif. Dampak yang langsung terlihat akibat ketidakcocokan tersebut adalah reaksi alergi maupun reaksi non alergi. Judarwanto (2012) menjelaskan rekasi alergi adalah reaksi yang timbul jika bayi tidak cocok dengan susu formula yang diberikan biasanya berupa reaksi alergi maupun non alergi. Alergi susu sapi adalah suatu kumpulan gejala yang mengenai banyak organ dan sistem tubuh yang ditimbulkan oleh alergi terhadap susu sapi. Sistem kekebalan tubuh bayi akan melawan protein yang terdapat dalam susu sapi sehingga gejala-gejala reaksi alergi pun akan muncul.

Reaksi non alergi atau reaksi simpang makanan yang tidak melibatkan mekanisme sistem imun dikenal sebagai intoleransi. Intoleransi ini bisa terjadi ketidakcocokan terhadap kandungan susu formula seperti laktosa, gluten atau jenis lemak tertentu. Dampak negatif lain yang timbul akibat pemberian susu formula sejak dini adalah diare pada bayi akibat sistem pencernaan yang belum siap, sehingga bayi dapat menderita kurang gizi. Selain itu, bayi dapat menderita obesitas akibat kadar zat gizi yang tidak sesuai dengan pertumbuhannya. Susu formula yang pada iklan dipaparkan memiliki berbagai zat untuk menambah kecerdasan anak, pada kenyataannya belum bisa menyamai ASI dalam kandungan nutrisi untuk perkembangan otak dan kecerdasan anak. Beberapa penelitian menunjukkan pemberian AA dan DHA pada penderita prematur lebih bermanfaat. Sedangkan pemberian pada bayi cukup bulan (bukan prematur) tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna dalam

mempengaruhi kecerdasan. Oleh karena itu, WHO merekomendasikan pemberian AA dan DHA hanya pada bayi prematur saja. Pemberian susu formula juga dapat berdampak pada turunnya hubungan kejiwaan antara ibu dan anak. Dampak negatif yang lebih luas akibat turunnya kecerdasan kesehatan dan kecerdasan anak karena pemberian susu formula adalah rendahnya mutu sumber daya manusia. Rendahnya mutu sumberdaya manusia ini dapat menyebabkan kerugian ekonomi dan sosial dalam jangka panjang. Seperti naiknya biaya kesehatan baik tingkat rumah tangga, perusahaan maupun pemerintah, rendahnya mutu tenaga kerja sehingga tidak bisa bersaing di era global dan pertumbuhan ekonomi menjadi lamban. Mutu SDM yang rendah juga dapat meningkatkan angka pengangguran dan kriminalitas. (Perinasia, 2005) Iklan susu formula yang semakin gencar semakin menurunkan presentase ibu yang bersedia menyusui bayinya. Penjualan susu formula merupakan bisnis perdagangan yang sangat besar dan sangat menggiurkan. Oleh karena itu, banyak produsen berlomba-lomba mengiklankan susu formula dengan berbagai jenis kandungan agar banyak yang tertarik menggunakannya.

Jika hal ini terus berlanjut, devisa negara yang dibutuhkan untuk menyuplai susu formula dan produk bayi lainnya akan semakin besar.

D. Solusi Solusi terbaik untuk menanggulangi dampak negatif susu formula adalah mengkampanyekan pentingnya ASI eksklusif, sehingga para ibu kembali memberikan ASI pada putra-putrinya secara eksklusif pada 6 bulan pertama dan disertai makanan pendamping ASI hingga anak berusia 2 tahun. ASI adalah makanan terbaik bagi anak. Hal tersebut dapat dilihat dari kandungan zat gizi, kesesuaian kondisi fisik ASI dengan kebutuhan anak, proses menyusui yang dapat meningkatkan kedekatan ibu dan anak serta melatih bayi agar peka terhadap rangsangan yang diterima panca indranya. ASI juga merupakan makanan sehat yang paling ekonomis dan praktis, tidak menimbulkan berbagai macam polusi, bahkan menghemat devisa negara. Jika semua ibu yang sehat bersedia menerapkan ASI eksklusif, maka Indonesia akan mengalami peningkatan mutu sumber daya manusia yang akan berdampak pada kemajuan Indonesia. Pemberian ASI eksklusif adalah pembuktian sebagai warga negara yang baik dan pengamalan perintah agama seperti yang tercantum dalam ayat berikut, Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Q.S Al Baqarah: 233).

BAB III KESIMPULAN A. Kesimpulan Sebagai salah satu produk teknologi, susu formula memiliki kekurangan dan kelebihan. Susu formula yang pada mulanya dimaksudkan sebagai pendamping ASI saat ini sudah hampir menggeser fungsi ASI. Dampak dari perkembangan zaman dan persaingan ekonomi yang semakin ketat, banyak produsen berlomba memproduksi susu formula dengan bebagai kandungan yang seolah-olah sangat sesuai bagi tumbuh kembang anak. Hal itu menimbulkan berbagai dampak yang bersifat negatif. Untuk menanggulangi dampak tersebut, solusi yang dapat dilakukan adalah kembali pada sistem ASI eksklusif, sehingga tumbuh kembang anak berjalan baik dan lebih lanjut berdampak pada kemajuan negara.

DAFTAR PUSTAKA

Al Quran BPOM. (2009). Peraturan Kepala BPOM RI No HK.00.05.1.52.3920, tentang Pengawasan Formula Bayi dan Formula Bayi untuk Keperluan Medis Khusus. Judarwanto, Widodo. (2012). Susu Formula Terbaik, Bukan Terkenal Termahal Disukai. Kompas. Diambil pada tanggal 14 November 2013, dari http://health.kompas.com/read/2012/11/13/12480276/Susu.Formula.Terbaik.Buka n.Terkenal.Termahal.Disukai Kemenkes. (2013). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No 39 Tahun 2013 tentang Susu Formula Bayi dan Produk Bayi Lainnya. Setiawan, Albertus. (2011). Pemberian MP-ASI.. (versi elektronik). Universitas Indonesia, 9-44. Diambil pada tanggal 14 November 2013 dari: http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital/126490-S-5801-Pemberian%20MP-ASILiteratur.pdf Stevens, Emily E.,Thelma E. Patrick, & Rita Pickler. (2009) A History of Infant Feeding. The Journal of Perinatal Education, Volume 18, Number 2, 32-39. Perinasia. (2005). Manfaat & Langkah-Langkah Keberhasilan Menyusui. Diambil pada tanggal 13 November 2013 dari xa.yimg.com/kq/groups/19138813/.../PPASI

10