Anda di halaman 1dari 9

1.

Pengertian Bisnis

Bisnis adalah serangkaian usaha yang dilakukan satu orang atau kelompok dengan menawarkan barang dan jasa untuk mendapatkan keuntungan/laba atau bisnis juga bisa dikatakan menyediakan barang dan jasa untuk ke lancaran sistem perekonomian. Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa Bisnis adalah kegiatan yang dilakukan oleh individu dan sekelompok orang (organisasi) yang menciptakan nilai (create value) melalui penciptaan barang dan jasa (create of good and service) untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan memperoleh keuntungan melalui transaksi. Bisnis merupakan suatu organisasi yang menjual barang atau jasa kepada konsumen atau bisnis lainnya, untuk mendapatkan laba. Hal itu dirangkum menurut ilmu ekonomi. Secara historis kata bisnis dari bahasa inggris business, dari kata dasar busy yang berarti sibuk dalam konteks individu, komunitas, ataupun masyarakat. Dalam artian, sibuk mengerjakan aktivitas dan pekerjaan yang mendatangkan keuntungan. Sedangkan dalam ekonomi kapitalis, dimana kebanyakan bisnis dimiliki oleh pihak swasta, bisnis dibentuk untuk mendapatkan profit dan meningkatkan kemakmuran para pemiliknya. Pemilik dan operator dari sebuah bisnis mendapatkan imbalan sesuai dengan waktu, usaha, atau kapital yang mereka berikan. Namun tidak semua bisnis mengejar keuntungan seperti ini, misalnya bisnis kooperatif yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan semua anggotanya atau institusi pemerintah yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Model bisnis seperti ini kontras dengan sistem sosialistik, dimana bisnis besar kebanyakan dimiliki oleh pemerintah, masyarakat umum, atau serikat pekerja. Menurut ilmu etimologi, bisnis merupakan keadaan dimana seseorang atau sekelompok orang sibuk melakukan pekerjaan yang menghasilkan keuntungan. Kata bisnis sendiri memiliki tiga penggunaan, tergantung lingkupnya seperti penggunaan singular kata bisnis dapat merujuk pada badan usaha, yaitu kesatuan yuridis (hukum), teknis, dan ekonomis yang bertujuan mencari laba atau keuntungan. Penggunaan yang lebih luas dapat merujuk pada sektor pasar tertentu, misalnya bisnis pariwisata. Penggunaan yang paling luas merujuk pada seluruh aktivitas yang dilakukan oleh komunitas penyedia barang dan jasa. Pengertian bisnis dalam arti luas adalah istilah umum yang menggambarkan semua aktivitas dan institusi yang memproduksi barang dan jasa dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan bisnis dalam arti sempit merupakan suatu organisasi yang menyediakan barang dan jasa yang bertujuan untuk mendapatkan keuntungan (Griffin & Ebert). Bisnis sebagai suatu sistem yang memproduksi barang dan jasa untuk memuaskan kebutuhan masyarakat (bussinessis then simply a system that produces goods and service to satisfy the needs of our society) (Huat, T Chwee, 1990). Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa bisnis adalah kegiatan yang dilakukan individu atau sekelompok orang (organisasi) yang menciptakan nilai (create value) melalui penciptaan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan memperoleh keuntungan melalui transaksi. Ada 2 fungsi bisnis, yang pertama yaitu fungsi mikro (kontribusi terhadap pihak yang berperan langsung) dan selanjutnya fungsi makro (kontribusi terhadap pihak yang tidak berperan langsung). Pihak yang berperan langsung dalam fungsi mikro ini adalah pekerja, dewan komisaris dan pemegang saham. Sedangkan fungsi makro merupakan kontribusi terhadap pihak yang terlibat secara tidak langsung, misalnya masyarakat sekitar perusahaan serta bangsa dan negara. 2. Kelebihan dan Kekurangan Menjadi Wirausaha di Banding Pegawai Wirausaha : Kelebihan : 1. Waktu Menjadi Lebih Banyak Maksudnya adalah dengan Menjadi wirausaha, Anda akan memiliki waktu yang fleksibel, tidak terikat. Berbeda dengan jam kantor yang sudah menetapkan standar jam kerja setiap harinya. Anda juga tak perlu repot-repot lembur di kantor. Tentu saja ini akan menguntungkan Anda dan keluarga. Waktu untuk berkumpul bersama menjadi lebih banyak, dan lebih mudah mengawasi anggota keluarga setiap hari. 2. Menghasilkan Pendapatan Pribadi Memiliki usaha sendiri tentu juga akan menghasilkan pendapatan sendiri (Tidak di Gaji Bos). Besar kecilnya penghasilan yang diperoleh adalah cerminan dari suatu proses kerja keras untuk memajukan bisnis yang telah di lakukan pemilik usaha beserta para karyawan. Dengan memilikin penghasilan yang tak terbatas menjadikan suatu peluang yaitu kebebasan financial. Laba yang didapat justru bisa lebih besar dari gaji karyawan kantoran yang sudah ditentukan oleh perusahaan / pemerintah. 3. Membuka Kesempatan Lapangan Kerja Baru Anda bisa membuka kesempatan kerja bagi siapa saja. Ketika bisnis mulai bertumbuh pesat, maka semakin banyak lapangan kerja yang dapat anda ciptakan(Pengusaha=jobs maker) BUKAN (Pegawai=jobs seeker) Selain dapat menjadi bagian dari usaha yang digeluti, hal ini juga dapat menciptakan peluang kerja untuk orang lain (Baca=Bermanfaat). 4. Ilmu dan Wawasan Menjadi Bertambah Tak hanya rekanan saja yang bertambah, ilmu pengetahuan dan wawasan akan terus berkembang. Misalnya ilmu dan wawasan seputar perkembangan bisnis,ekeonomi dan sosial. Hal ini juga bisa didapatkan dari rekanan/client yang sering kita temui.

5. Memperluas Rekanan (Networking) Menjadi pengusaha akan berpeluang untuk bertemu dengan orang banyak. Hal Ini juga bisa membantu untuk menambah rekanan. Semakin banyak rekanan yang akan sangat bermanfaat dalam kemajuan kelangsungan bisnis yang di jalani. Selain itu dari rekanan tersebut akan semakin bertambah apabila service / product yang kita berikan kepada mereka sangat memuaskan. 6. Pekerjaan sesuai minat (Hobby) Hal inilah yang menjadi nilai tambah apabila memilih menjadi wirausaha.Pekerjaan yang sesuai minta dan kesenangan kita bisa di lakukan. Misal memiliki hobi mendesain baju, dari hobi tersebut apabila di arahkan ke sektor bisnis maka akan kita dapat pekerjaan yang kita lakukan sesuai dengan hobi, Berawal dari hobi kemudian menghasilkan pendapatan yang tak terbatas. Secara khusus, wirausahawan cenderung belajar dari kesalahan di masa lalu daripada pegawai lainnya. Wirausahawan juga dianggap lebih tahu bagaimana cara menikmati pekerjaannya meskipun banyak tantangan yang menghadang. "Keingintahuan intelektual dan energi diperlukan saat ingin memulai dan menjalankan bisnis itulah yang biasanya membuat wirausahawan lebih banyak kesalahan di luar pemikiran orang banyak, Wirausahawan lebih kreatif dan punya strategi dalam mengontrol bisnis sekaligus jadwal mereka secara fleksibel. Sehingga wirausahawan akan lebih tertarik dalam mengejar sesuatu yang menarik daripada menjalani aktivitas statis seperti pegawai pada umumnya. Meskipun demikian, menjadi seorang wirausaha juga tak lepas dari berbagai pengalaman yang menantang. Peneliti juga menyebutkan kalau wirausahawan lebih sering stres dan cemas daripada pegawai lainnya. "Salah satu penyebab yang memungkinkan dari stres dan cemas adalah risiko masalah keuangan," Terlepas dari stres itu sendiri, nampaknya wirausahawan tetap dinilai lebih optimis dibandingkan dengan pegawai biasa lainnya. Menurut peneliti, optimisme ditambah dengan tekanan pekerjaan membuat wirausahawan lebih berani mengambil risiko, menciptakan lapangan pekerjaan, memunculkan produk baru dan inovatif. 1. Terbuka peluang untuk mendemonstrasikan kemampuan serta potensi seseorang secara penuh 2. Terbuka peluang untuk mencapai tujuan yang dikehendaki sendiri 3. Terbuka peluang untuk mendapatkan manfaat dan keuntungan secara maksimal 4. Terbuka kesempatan untuk menjadi bos 5. Terbuka peluang membantu masyarakat dengan usaha-usaha yang konkrit. 1. Otonomi. Pengelolaan yang bebas dan tidak terikat membuat wirausaha menjadi seorang bos yang penuh kepuasan. 2. Tantangan awal dan perasaan motif berprestasi. Peluang untuk mengembangkan konsep usaha yang dapat menghasilkan keuntungan sangat memotivasi wirausaha. 3. Kontrol finansial(Pengawasan keuangan). 4. Bebas dalam mengelola keuangan, dan merasa kekayaan sebagai milik sendiri. kekuranganya : 1. Memperoleh pendapatan yang tidak pasti, dan memikul berbagai resiko. Jika resiko ini telah diantisipasi dengan baik, maka berarti wirausaha telah menggeser resiko tersebut. Memang pada awal mula memulai/merintis bisnis akan di rasakan suatu ketidakpastian hasil yang di peroleh. Namun semua nya bisa di atasi, anda harus bisa menganalisa usaha anda sudah berjalan seperti apa,kemudian akan di dapat factor-faktor yang perlu di perbaiaki, Maka perbaikilah sistem tersebut seiring dengan berjalanya waktu ikutilah proses nya,dari situ banyak hal yang dapat dipelajari sehingga bisa di gunakan untuk meminimalisir resiko usaha yang di jalani kemudian mengubahnya menjadi keuntungan yang harus bisa di capai. 2. Bekerja keras dan waktu/jam kerjanya panjang. Kembali lagi, saat awal mula merintis bisnis, sudah pasti orang memulai usaha butuh mendedikasikan penuh waktunya di usahanya agar usahanya segera ke tahap tumbuh kemudian ingin segera normal. Pada saat itu orang di tuntut untuk membangun sebuah sistem, bangunlah sistem usaha yang sesuai dengan bisnis yang anda jalankan dan biarkan sistem bekerja untuk anda. Di saat sistem telah bekerja dengan baik di situlah anda bisa menikmati waktu bebas yang lebih banyak . 3. Pada saat awal memulai bisnis harus berhemat. Hal ini sangat penting karena mengingat bisnisnya baru start-up, sehingga diperlukan sikap hemat untuk menjaga kelangsungan bisnisnya. Anda harus cermat mengatur keuangan bisnis anda, jangan terlalu banyak menambah asset konsumtif, akan semakin baik apabila asset produktif yang di perbanyak, sehingga hal tersebut membantu sumber penghasilan bagi usaha anda.

4. Tanggung jawab dan resiko yang di hadapi sangatlah besar.

Sangat lumrah apabila dikatakan demikian, bagaimana tidak seorang pengusaha di tuntut untuk bisa mengatur semua yang berkaitan dengan bisnis nya, sukses / jatuh nya sangat bergantung pada pemilik usaha. Kepiawaian business owner menjadikan kunci utama
suksesnya usaha yang di jalani.Jangan takut dengan resiko ini, karena hal tersebuat bisa dipelajari sembari proses bisnis berjalan. Hadapi tantangan bisnis yang ada di depan, taklukanlah maka kesuksesan besar akan menunggu anda di depan mata. 5.Beban pikiran yang berat Wajar apabila resiko dan permasalan yang muncul dalam bisnis yang di jalani menjadikan timbulnya beban pikiran yang sangat berat, karena awalnya permasalahan harus di selesaikan sendiri menurut pemikirannya. Dalam hal ini apabila seorang pengusaha merasa tidak mampu menyelesaikan masalahnya maka yang di lakukan adalah harus bisa mengkonsultasikan masalah bisnisnya pada rekan bisnis yang lebih senior atau jasa konsultan bisnis. Agar problem yang di hadapi segera teratasi

1. Memperoleh pendapatan yang tidak pasti, dan memikul berbagai resiko. Jika resiko ini telah diantisipasi dengan baik, maka berarti wirausaha telah menggeser resiko tersebut. 2. Bekerja keras dan waktu/jam kerjanya panjang 3. Kualitas kehidupannya masih rendah sampai usahanya berhasil, sebab dia harus berhemat. 4. Tanggung jawabnya sangat besar, banyak keputusan yang harus dia buat walaupun dia kurang menguasai permasalahan yang dihadapinya.

1.

Pengorbanan personal. Pada awalnya wirausaha harus bekerja dengan waktu yang lama dan sibuk. Sedikit sekali waktu untuk kepentingan keluarga, rekreasi. Hampir semua waktu dihabiskan untuk kegiatan bisnis. 2. Beban tanggung jawab. Wirausaha harus mengelola semua fungsi bisnis, baik pemasaran, keuangan, personil maupun pengadaan dan pelatihan. 3. Kecilnya marjin keuntungan dan kemungkinan gagal. Karena wirausaha menggunakan keuntungan yang kecil dan keuangan milik sendiri, maka marjin laba/keuntungan yang diperoleh akan relatif kecil dan kemungkinan gagal juga ada.

pengusaha KelebihanJadiSeorangPengusaha
Kesejahteraanfinansial Tidak ada yang memungkiri bahwa sebagian besar orang terobsesi untuk mendapatkan kesuksesan finansial saat hendak memulai berbisnis. Bahkan bagi sebagian, ini merupakan tujuan utama dan satu-satunya. Melalui kerja keras, hanya langit yang bisa membatasi kita. Di Amerika Serikat, sebagian besar kekayaan bangsa justru dibangun oleh entrepreneur, bukan negara. Bisnis kecil dan menengah yang bertaburan di mana-mana kemudian tumbuh menjadi suatu perusahaan besar saat keuntungan yang dicetak semakin membubung. Tak jarang kita dengar atau jumpai sebuah bisnis yang sukses dan menguntungkan dijual dengan jumlah yang sangat fantastis secara tunai. Hargadiri Dengan memiliki sebuah bisnis sendiri, Anda akan cenderung lebih mudah membangun harga diri pribadi. Sebuah kisah yang bisa mengilustrasikan hal ini ialah kisah Jake Simmons, Jr. yang bekerja sebagai seorang kuli di stasiun kereta. Ia dipanggil dengan panggilan boy oleh seorang penumpang kereta yang menyuruhnya mengangkat barang-barang bawaan. Jake yang tidak menyukai panggilan yang merendahkan itu mengatakan keberatannya kepada si penumpang. Sang penumpang menjawab dengan halus, Kalau kau tidak suka dipanggil demikian, jangan melakukan pekerjaan yang dilakukan oleh anak laki-laki pesuruh (boy) karena mereka bekerja membawa barang bawaan orang lain. Peristiwa inilah yang kemudian membuat Jake tertantang menjadi majikan bagi diriny a sendiri dan bersumpah untuk tidak lagi melakukan pekerjaan seperti itu kembali. Kepuasan Kepuasan batin yang dapat diraih saat berhasil mengubah keahlian, kegemaran, atau minat lainnya menjadi sebuah bisnis merupakan kepuasan yang tidak tergantikan oleh uang atau apapun. Edwin Land \, sang penemu Polaroid, mengubah kecintaannya kepada dunia fotografi menjadi suatu bisnis multi miliar dollar saat ia mengembangkan dan memasarkan kamera yang bisa mencetak lembaran foto dalam waktu singkat. Kemandirian Pemilik bisnis tidak harus mengikuti perintah atau menaati aturan jam kerja yang mengikat seperti karyawan yang ditetapkan oleh orang lain (dalam hal ini perusahaan). Entrepreneurship bahkan bisa memberikan kesempatan bagi seseorang untuk membuktikan kepada masyarakat hal-hal apa saja yang bisa ia capai.

KekuranganJadiSeorangPengusaha
Hambatan Banyak sekali tantangan dan hambatan yang harus, mau tidak mau, Anda akan hadapi sendiri. Anda bisa saja menghadapi keluarga

yang kurang mendukung atau teman yang tidak mengerti. Keluarga Liz Claiborne menentang keras keinginannya untuk bergelut dalam dunia bisnis sebagai seorang desainer fashion. Liz berhasil mementahkan anggapan keluarganya bahwa dunia bisnis terlalu keras baginya. Kini Liz sukses dengan bisnis multi miliar dollar garapannya sendiri, Liz Claiborne. Inc. Kesendirian Bisa saja Anda memiliki banyak staf atau pegawai yang selalu menemani, tetapi bisa saja Anda merasa kesepian karena pada dasarnya keberlangsungan perusahaan dan mata pencaharian mereka juga menjadi beban di pundak Anda. Di awal abad 20, Madame C. J. Walker berkelana ke seluruh penjuru Amerika sendirian selama dua tahun berturut-turut hanya untuk mempromosikan produk perawatan rambutnya. Ini merupakan suatu perjalanan yang berani mengingat ia adalah seorang janda Afro-Amerika yang berpendidikan kurang memadai. Ketidakstabilankeuangan Tidak seperti karyawan, seorang entrepreneur tidak akan mendapatkan gaji yang jumlahnya tetap secara teratur atau benefit lainnya. Anda bisa saja menderita kebangkrutan atau berutang dalam jumlah besar yang seolah-olah tidak mampu Anda bayar lunas hingga akhir hayat. Jam kerja yang panjang dan tidak menentu Satu lagi perbedaan yang kentara yaitu seorang entrepreneur tidak memiliki jam kerja reguler layaknya pegawai biasa. Pegawai biasa bisa pulang dari kantor dan tidak memikirkan urusan bisnis sama sekali saat di rumah. Namun, seorang entrepreneur kadang bisa diharuskan bekerja di saat orang lain telah meninggalkan kantor atau berlibur. Hal ini teristimewa berlaku apabila bisnis Anda masih dalam tahap perkembangan yang sangat membutuhkan banyak curahan pikiran, tenaga dan waktu. Kegagalan bisnis Banyak bisnis kecil berguguran. Risikonya adalah Anda tidak hanya harus bertanggung jawab atas aset perusahaan Anda sendiri tetapi juga harus bertanggung jawab atas uang yang ditanamkan oleh investor. Tentu saja ini hal ini bukan menjadi halangan bagi Anda yang merasa terpanggil untuk menjadi entrepreneur karena sejatinya Anda bisa belajar banyak dari setiap kesalahan yang Anda buat. Berikut beberapa point perbandingan antara Pegawai Vs Pengusaha : Pegawai 1.Gaji tetap tiap bulan, bisa diharapkan. 2. Tinggal kerja saja tidak perlu banyak berpikir. 3.Bekerja penuh tuntutan dan tekanan. 4.Bekerja diawasi atasan. 5.Selalu ada resiko pemotongan gaji, PHK dan pensiun dini. Pengusaha 1.Tidak memiliki gaji tetap, bahkan bisa tidak ada sama sekali. 2.Disamping bekerja ia harus berencana dan berpikir kreatif. 3.Bebas menentukan tujuan yang ingin dicapai. 4.Diri sendiri adalah atasan, bawahan. Dua dalam satu. 5.Tidak ada istilah pemotongan gaji, PHK atau pensiun.

3. Pada 21 aspek yaitu yang dalam taraf tinggi mempengaruhi minat berwiraswasta pada faktor internal adalah kebutuhan berprestasi, komitmen pribadi, empati, memasarkan usaha, kebutuhan akan kepemimpinan, kemampuan bersaing, inovasi dan adaptif yang termasuk dalam tipe-tipe kepribadian menunjukkan pengaruh yang positif terhadap minat berwiraswasta. Tipe-tipe kepribadian sangat penting dimiliki agar tercipta jiwa wiraswasta yang sesuai harapan. Faktor pengendalian diri, kemandirian, pengambil resiko, keterbukaan, kepercayaan diri, orientasi masa depan dan orientasi tugas merupakan sifat-sifat kepribadian wiraswasta yang harus dibina dan diterapkan agar dapat mencapai kesuksesan. Menurut Atik (2002) sifat-sifat kepribadian sebagai dasar utama yang harus dipelajari dan diterapkan dalam berwiraswasta. Dukungan atau motivasi menimbulkan sengat kerja yang positif juga memperlancar seseorang dalam dunia usaha. adanya motif kreatif dan motif bekerja yang tinggi dapat mendorong dari dalam diri individu untuk lebih bersemangat dalam memajukan usaha. Sebagian besar lulusan Perguruan Tinggi lebih siap sebagai pencari kerja, daripada sebagai pencipta kerja. Pada kenyataannya, semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin rendah kemandirian dan semangat kewirausahaannya. Keadaan tersebut menjadikan pengangguran menjadi masalah yang sangat serius, dan praktek kewirausahaan sebagai salah satu solusinya. Kewirausahaan merupakan persoalan penting di dalam perekonomian suatu bangsa yang sedang berkembang. Kemajuan atau kemuduran ekonomi suatu bangsa ditentukan oleh keberadaan dan peranan dari kelompok entrepreneur ini. Masa depan wirausahawan digambarkan akan terus cemerlang. Pembekalan dan penanaman jiwa entrepreneur pada mahasiswa diharapkan dapat memotivasi mahasiswa menjadi wirausahawan yang tangguh, ulet dan mandiri. Pada dasarnya pemerintah dan pimpinan PT berperan penting dalam penumbuhan jiwa

kewirausahaan, namun secara operasional terdapat 3 (tiga) unsur penting yang menjadi kunci keberhasilan pengembangan jiwa kewirausahaan di perguruan tinggi, yaitu mahasiswa, kurikulum, dan dosen pembina kewirausahaan.

B. Manfaat Kewirausahaan Kewirausahaan merupakan persoalan penting di dalam perekonomian suatu bangsa yang sedang membangun. Kemajuan atau kemuduran ekonomi suatu bangsa ditentukan oleh keberadaan dan peranan dari kelompok entrepreneur ini. Menurut Alma (2008: 10), kewirausahaan akan memberikan banyak manfaat pada masyarakat, antara lain: 1. Menambah daya tampung tenaga kerja, sehingga dapat mengurangi pengangguran. 2. Sebagai generator pembangunan lingkungan, bidang produksi, distribusi, pemeliharaan lingkungan, kesejahteraan, dan sebagainya. 3. Menjadi pribadi unggul yang patut diteladani, karena sebagai seorang wirausaha yang terpuji, jujur, berani, hidup tidak merugikan orang lain. 4. Memberi contoh bagaimana bekerja keras, tetapi tidak melupakan perintah-perintah agama, dekat dengan Tuhan. 5. Selalu menghomati hukum dan peraturan yang berlaku, berusaha selalu menjaga dan membangun lingkungan. 6. Berusaha memberi bantuan kepada orang lain dalam bidang pembangunan sosial, sesuai dengan kemampuannya. 7. Berusaha mendidik karyawan menjadi orang mandiri, disiplin, jujur, dan tekun dalam menghadapi pekerjaan. 8. Hidup tidak berfoya-foya dan tidak boros. 9. Memelihara keserasian lingkungan, baik dalam pergaulan maupun kebersihan lingkungan. Sedangkan Nur Achmad Affandi (2011: 7) memaparkan tentang bagaimana menjadi wirausaha muda yang sukses. Sebagai seorang entrepreneur, 10 kenikmatan menjadi wirausaha mandiri: 1. Kerja keras. Kerja keras itu nikmat. Hasil yang ada dapat merupakan buah dari keringat sendiri. 2. Atur waktu. Waktu merupakan aset penting bagi wirausahawan. Keleluasaan mengatur waktu, bukan sekedar kebebasan menjalani hidup, tapi lebih dari itu merupakan kemerdekaan sebagai wirausahawan. 3. Atur strategi. Sebagai pengatur strategi, wirausahawan bisa menikmati bagaimana momen-momen menegakkan dan mengharukan saat action-action yang dilakukan mulai mendatangkan hasil. 4. Menikmati resiko. Bahaya dan resiko bisnis merupakan bagian menyenangkan dari nikmat berwirausaha. Wirausaha selalu suka tantangan dan menerobos kebekuan inovasi demi memberikan yang terbaik pada masyarakat. C. Cara Mengembangkan Jiwa Kewirausahaan Program pengembangan jiwa kewirausahaan telah dicanangkan oleh Presiden Republik Indonesia pada bulan Juli 1995. Setelah itu diluncurkan berbagai program rintisan pengembangan jiwa kewirausahaan di kalangan mahasiswa. Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), KKN-Usaha dan Cooperative Education (Co-op) yang diluncurkan beberapa saat setelah pencanangan Presiden tersebut, telah banyak dunia kerja. Hasil-hasil karya invosi mahasiswa melalui PKM potensial tersebut ditindaklanjuti secara komersial menjadi sebuah embrio bisnis berbasis Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni (Ipteks). Program rintisan yang telah diujicobakan di beberapa perguruan tinggi, antara lain sebagai berikut: 1. Kuliah Kewirausahaan Secara Terstruktur Kuliah kewirausahaan umumnya hanya bagi fakultas/jurusan tertentu saja. Tidak semua jurusan mempunyai cara pandang yang sama untuk mengalokasikan SKS guna menyajikan matakuliah ini. Perlu dicari suatu kesepakatan dan kesamaan pandang tentang perlunya disajikan kuliah kewirausahaan di semua jurusan/prodi yang ada. Komitmen dan dukungan top leader di PT sangat dibutuhkan untuk mewujudkan hal ini. 2. Kuliah Kerja Nyata-Usaha Mahasiswa sebagai calon wirausahawan masih perlu dibekali kemampuan, keterampilan, keahlian manajemen, adopsi inovasi teknotogi, keahlian mengelola keuangan/modal maupun keahlian pemasaran melalui pengalaman langsung dalam dunia usaha. KKN yang diaplikasi pada kegiatan usaha UKM ini akan sangat bermanfaat bagi mahasiswa untuk lebih mengenal praktik kewirausahaan secara langsung. Sayangnya ujicoba program ini tidak berlanjut pada desiminasi konsep penyelenggaraannya. 3. Magang Kewirausahaan Melalui Program Penerapan Iptek bagi pengusaha kecil/industri kecil dan koperasi yang telah berjalan selama ini. Program Magang Kewirausahaan merupakan kegiatan mahasiswa untuk memperoleh pengalaman kerja praktis pada usaha kecil dan menengah termasuk

melakukan identifikasi permasalahan, analisis dan penyelesaian permasalahan dan manajemen, pemasaran, serta teknologi. Magang Kewirausahaan adalah kegiatan di mana mahasiswa benar-benar bekerja sebagai tenaga kerja di usaha kecil atau menengah. Magang juga menciptakan keterkaitan dan kesepadanan (link and match) antara Perguruan Tinggi dengan usaha kecil menengah. Di samping itu, Staf pengajar yang menjadi pembimbing mahasiswa memperoleh manfaat dalam hal pengalaman praktis wirausaha dan akses kepada kalangan usaha kecil dan menengah. 4. Karya Alternatif Mahasiswa Dalam berwirausaha produk/komoditi yang diperdagangkan adalah inti dari denyut perdagangan itu sendiri. Setiap produk sejenis akan bersaing dalam kualitas yang meliputi unjuk kerja, keandalan (reliability) dan kekuatan (robustness) serta kemudahan pengoperasiannya (user friendly). Persaingan tersebut pada hakekatnya adalah persaingan teknologi yang diterapkan dalam kemasan yang menarik serta harga yang lebih murah sebagai hasil penelitian dan pengembangan. Melalui kegiatan Karya Alternatif Mahasiswa (KAM) para mahasiswa yang telah mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi dilatih dan didorong untuk menghasilkan suatu komoditi yang diperlukan masyarakat. Prinsip yang perlu ditekankan dalam hal ini adalah bahwa keterampilan menghasilkan produk harus dipadukan dengan pemahaman bisnis yang minimal telah dimiliki mahasiswa pesertanya. KAM diprioritaskan untuk diisi dengan aktivitas produktif mahasiswa yang berpola khusus, sebagai bagian integral dari kegiatan intra atau ekstra kurikuler mahasiswa dalam usaha untuk membekalinya dengan keterampilan menghasilkan produk dan pengetahuan tentang bisnis rintisan.

D. Unsur Keberhasilan Kewirausahaan Pemerintah dan pimpinan PT mempunyai peran penting dalam menumbuhkan jiwa kewirausahaan mahasiswa. Namun secara operasional terdapat 3 (tiga) unsur penting yang menjadi kunci keberhasilan pengembangan jiwa kewirausahaan di perguruan tinggi yaitu: 1. Mahasiswa Di perguruan tinggi, dunia kewirausahaan masih dipandang sebelah mata oleh sebagian mahasiswa dan juga dosen. Banyak potensi dan peluang yang semestinya bisa dimanfaat mahasiswa untuk kepentingan pembelajaran dan pembumian sistem budaya kewirausahaan ini, namun sayangnya belum dimanfaatkan sepenuhnya. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk menanamkam jiwa kewirausahaan pada mahasiswa. Hasil penelitian mengatakan bahwa ada 3 faktor dominan dalam memotivasi sarjana menjadi wirausahawan yaitu faktor kesempatan, faktor kebebasan, dan faktor kepuasan hidup. Proses penyampaian ini harus sering dilakukan sehingga mahasiswa semakin termotivasi untuk memulai berwirausaha. Sebab banyak mahasiswa merasa takut menghadapi resiko bisnis yang mungkin muncul yang membuat mereka membatalkan rencana bisnis sejak dini. Motivasi yang cukup, memicu keberanian mahasiswa untuk mulai mencoba berpengalaman di bidang kewirausahaan. Dengan semakin banyaknya mahasiswa memulai usaha sejak masa kuliah, maka besar kemungkinan setelah lulus akan melanjutkan usaha yang sudah dirintisnya sehingga bisa membuka lapangan kerja kerja dan diharapkan dapat ikut mengurangi jumlah pengangguran.

2. Kurikulum Unsur kedua yang menjadi kunci keberhasilan pengembangan kewirausahaan adalah kurikulum yang diberlakukan di suatu Perguruan Tinggi. Kurikulum didesain sedemikian rupa untuk dijadikan acuan dalam penyelenggaraan perkuliahan mahasiswa. Pada umumnya di perguruan tinggi yang ada di tanah air menyelenggarakan matakuliah kewirausahaan, walaupun intensitas dan proporsinya mungkin berbeda satu dengan lainnya. Berdasarkan pengamatan di beberapa PTN didapati suatu kesimpulan bahwa tidak semua jurusan menyajikan matakuliah atau pendidikan kewirausahaan sebagai matakuliah yang berdiri sendiri. Fakta lain, jurusan-jurusan yang menyajikan matakuliah/pendidikan kewirausahaan, substansi materi yang disajikan dalam mata kuliah kewirausahaan relatif telah memadai (Siswoyo, 2008). Pimpinan perguruan tinggi diharapkan ikut memotivasi jajarannya, agar pengetahuan, wawasan dan ketrampilan mahasiswa di bidang kewirausahaan dapat ditingkatkan tanpa mempermasalahkan keselarasannya dengan kompetensi keilmuan yang diampu mahasiswa. Hal ini menjadi penting ketika daya serap lulusan PT terhadap kompetensi yang diampu relatif kecil, dan ke depan diprediksi akan semakin kecil. 3. Dosen pembina kewirausahaan. Dosen pembina kewirausahaan menempati peran strategis dalam upaya pembekalan kewirausahaan pada mahasiswa. Permasalahan yang muncul di sekitar penyajian matakuliah kewirausahaan adalah keterbatasan kompetensi dosen pembina. Kewirausahaan membutuhkan penekanan ranah ketrampilan dan sikap yang lebih dibandingkan dengan ranah pengetahuan. Untuk mewujudkannya, biasanya terkendala oleh keberadaan kompetensi dosen yang menguasai praktik kewirausahaan. Pengembangan jiwa kewirausahaan seorang dosen, hakikatnya berlangsung secara alamiah. Dalam kehidupan sehari-hari, setiap individu akan bertindak rasional. Tindakan rasional ini diwujudkan dalam bentuk pilihan alternatif yang berujung pada perhitungan untung rugi. Perhitungan untung rugi merupakan tindakan ekonomi yang berorientasi pada penerapan prinsip ekonomi. Jadi, setiap individu pada dasarnya telah mengembangkan jiwa kewirausahaan. Namun, jika ingin memerankan dirinya sebagai Pembina kewirausahaan, tidak cukup dengan mengandalkan perilaku alamiah tersebut. Namun seorang dosen harus membekali dirinya dengan berbagai pengetahunan dan ketrampilan bi didang kewirausahaan.

Tujuan utama pelaksanaan PMW menurut Dikti, antara lain: (Sri Sujanti, 2009: 7)

1) Menumbuhkan minat berwirausaha di kalangan mahasiswa. 2) Membangun sikap mental wirausaha yakni percaya diri, sadar akan jati dirinya, bermotivasi untuk meraih suatu cita-cita, pantang menyerah, mampu bekerja keras, kreatif, inovatif, berani mengambil risiko dengan perhitungan, berperilaku pemimpin, memiliki visi ke depan, tanggap terhadap saran dan kritik, serta memiliki kemampuan empati dan keterampilan sosial. 3) Meningkatkan kecakapan dan keterampilan para mahasiswa khususnya sense of business. 4) Menumbuhkembangkan wirausaha-wirausaha baru yang berpendidikan tinggi. 5) Menciptakan unit bisnis baru yang berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. 6) Membangun jejaring bisnis antar pelaku bisnis, khususnya antara wirausaha pemula dengan pengusaha yang sudah mapan. 2) Pembekalan Diklat dan Penyusunan Rencana Bisnis Diklat dimaksudkan untuk memberikan bekal kepada mahasiswa dalam menyusun rencana bisnis atau usaha dan dalam melakukan usaha. Pemateri diklat adalah mereka yang berkompeten dan berpengalaman dalam menjalankan bisnis atau usaha baik itu dari unsur pakar maupun pengusaha (UKM). Diklat dan penyusunan rencana bisnis dilakukan sekurang-kurangnya 37 jam. Magang Magang dilakukan di UKM yang bonafit dan prospektif, serta sesuai dengan bidang usaha yang akan dilakukan mahasiswa yang telah dituangkan dalam rencana bisnis. Pelaksanaan magang diharapkan menguntungkan kedua belah pihak. Dari pihak mahasiswa menambah pengetahuan, wawasan, pengalaman, dan keterampilan dalam berwirausaha. Sedangkan bagi pihak UKM mendapatkan tambahan tenaga kerja, ikut andil dalam mendidik anak bangsa, serta mendapatkan tambahan wawasan keilmuan dari perguruan tinggi. Dalam pelaksanaan magang mahasiswa dibimbing oleh UKM dan dosen pembimbing. Setelah selesai magang, mahasiswa mempunyai pengalaman langsung dalam mengelola usaha sehingga kemungkinan ada penyesuaian-penyesuaian atau revisi-revisi pada rencana usahanya. Oleh karena itu setelah selesai magang, mahasiswa diwajibkan menyerahkan rencana usaha final, yang nantinya digunakan sebagai acuan dalam menentukan besarnya bantuan modal kerja.

Study oriented merupakan gaya kehidupan mahasiswa yang hanya terfokus pada belajar, belajar dan belajar untuk mengejar IPK 4.00. Apakah itu benar? Secara kasat mata kalau kita mencermati kehidupan seorang mahasiswa dari kata mahasiswa sendiri menurut KBBI, Maha-sis-wa n orang yang belajar di perguruan tinggi itu memang di benarkan, belajar mendapatkan nilai yang terbaik, cepat mendapatkan pekerjaan dan membuat orang tua senang. Tapi kembali lagi ke permasalahan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang berisi antara lain: 1) Pendidikan, 2) Penelitian, 3) Pengabdian Masyarakat. Mahasiswa tidak hanya dituntut untuk hanya fokus belajar. Memang pada intinya ketiga tridharma tersebuat adalah proses belajar namun kebanyakan disalahgunakan hanya untuk belajar pendidikan akademik saja. Banyak nilai - nilai yang harus dimiliki oleh mahasiswa dalam 4 peran dan fungsi mahasiswanya. Apakah dengan study oriented kita bisa menjadi seorang Agent of Change? Apakah dengan study oriented kita bisa menjadi seorang Moral Force? Apakah dengan study oriented kita bisa menjadi seorang Social Control dan Iron Stock. Saya dengan lantang menjawab tidak. Bukan berarti study oriented itu tidak penting tetapi terlalu egois kalau kita menjadi study oriented.Total 20% APBN untuk pendidikan yang membuat kita dapat kuliah murah darimana? Asalkan anda tahu semuanya itu dari pajak, pajak siapa? Pengemis, tukang becak, orang tua kita, penjual nasi, dan masih banyak lain masyarakat tingkat menengah ke bawah yang ikut andil membiayai kuliah kita saat ini hingga bisa seharga 1,8 jutaan per semester dengan fasilitas super wah, internet gratis, ruangan ber-AC. Bukankah terlalu egois kalau kita mementingkan kuliah hanya untuk mencari nilai tinggi dan cepat mendapat pekerjaan. Mau kalian kemanakan orang - orang yang menyumbang pendidikan kalian. Salah seorang pria egois menjawab "Dengan cepat mendapat pekerjaan aku bisa merubah keluargaku, dari merubah keluargaku akau bisa merubah masyarakatku, dari merubah masyarakatku aku bisa merubah bangsa dan negaraku, aku bisa merubahnya dengan IPK tringgi". Laki - laki egois lain menjawab "Dengan IPK tinggi aku bisa dipandang sebagai orang pintar, darisana aku bisa dikenal dan mencalonkan diri menjadi presiden, darisana aku bisa merubah negaraku". Sungguh dalih yang sangat bagus dari seorang manusia egois. Bukankah kita dapat membalas budi sejak kita masih kuliah, menyenangkan mereka sambil belajar di perguruan tinggi. Namun apakah dibenarkan juga ketika kita terlalu aktif dalam sebuah organisasi demi pengembangan diri berupa softskill dan terlalu freak disana? Saya akan menjawab lantang tidak. Apa gunanya seorang yang memiliki banyak pengalaman, orang yang terlatih softskillnya namun tidak memiliki kemampuan akademik yang bagus. Nol besar menurut saya orang seperti ini, tidak lebih dari seorang pecundang yang sok peduli dengan lingkungannya. Mengapa saya katakan seperti itu, banyak program kerja organisasi kampus menekankan pada softskill dan pengabdian masyarakat dan itu yang di jadikan senjata oleh aktivis - aktivis kampus yang tidak ingin dibilang sebagai manusia egois padahal sebenarnya sangat terlihat ke-egoisannya demi memperkaya softskill diri sendiri dan akhirnya kuliahnya terbengkalai, kalau sudah begini darimana dia bisa disebut memberikan kebermanfaatan, mengurus diri sendiri saja tidak becus. Mengapa saya katakan seburuk itu, karena ini merupakan pengalaman yang pernah saya alami sendiri. Saya pernah berada di pihak ini dan hasilnya IP saya anjlok gak karuan (ada juga faktor salah pergaulan). Mahasiswa dibenturkan kepada dua pilihan yaitu menjadi mahasiswa berorganisasi atau menjadi mahasiswa yang hanya mengejar nilai di kelas untuk prestasinya, hal tersebut bisa membingungkan untuk semua mahasiswa, hal tersebut tidak hanya sebagai pilihan semata, namun harus menjadi jalan hidup di kampus, pribadi seorang mahasiswa bisa terbentuk ketika dia terjun di organisasi dalam kampus ataupun

organisasi luar kampus, dikarenakan seorang mahasiswa bisa membentuk karakter dari pergaulan dengan orang-orang yang berada di organisasi, dan dalam organisasi mahasiswa diajarkan dalam beberapa hal yaitu, belajar untuk memenej hidupnya, di mana fikiran dia akan terbagi-bagi, anatara ber organisasi dan tujuan utama dari rumah yaitu mengejar prestasi akademis, hal tersebut merupakan suatu faktor penghamabat mahasiswa untuk terjun di organisasi karena mahasiswa terbebani oleh ketakutan bahwa terjun di organisasi akan menghambat study, namun hal tersebut tidak bisa dikatakan benar, malah ketika di organisais mahasiswa justru bisa lebih mengejar prestasi kelas dan hidup, mengapa bisa begitu? Karena , ketika di organisasi mahasiswa akan terlatih untuk mengatur waktunya antara kuliah dan berorganisasi, disamping itu di organisasi kita banyak mengalami pengalaman yang sangat bermanfaat untuk menjalani hidup ini. Apalagi kalo mahasiswa tersebut menjadi aktivis yang benar-benar aktivis, yaitu maahsiswa yang matang akan pengalaman berorganisasi, bukan hanya setengah-setengah menjadi akitivis. Banyak orang-orang mengatakan bahwa mahasiswa yang terjun di organisasi hanaya mengejar popularitas saja di kampus, yaitu bisa dikenal oleh dosen dan mahasiswa terutama adik tingkat, namun hal tersebut tidak bisa dipungkiri oleh sebagian besar aktivis kampus, namun hal tersebut harus menjadi batu loncatan mahasiswa yang berorganisasi untuk lebih bersemanagat berorganisasi, hal tersebut merupakan sebagian kecil dari manfaat berorganisasi manfaat lainnya sangat banyak ketika seorang mahasiswa berorganisasi. Dan ketika melihat mahasiswa yang tidak mau terjun di organisasi maka pihak birokrat kampus telah gagal untuk mendidik mahasiswanya, karena seseorang yang matang dikelas belum tentu dia bisa matang hidup sosialnya, faktor tersebut diakibatkan kurangnya rangsangan dari pihak birokrat kampus untuk bisa merangsang mahasiswanya untuk terjun diorganisai,hal tersebut merupakan masalah yang cukup serius bagi dunia pendidikan di Indonesia yang hanya mengejar dari segi keilmuan dikelas saja. Study Oriented Study oriented, Emang Kenapa? Study oriented? Hmmm... Apakah itu? Study oriented banget sih, nggak mau (ikut) organisasi! Apa gunanya IP segitu kalo selama kuliah cuma SO (study oriented) Yakin nggak peduli ma nilai IP? Berarti nggak study-oriented dong lo? Ikut organisasi kalo gitu, biar gue percaya! Study oriented. Study artinya belajar. Oriented itu kalo diterjemahin jadi berorientasi. Study oriented ya artinya berorien tasi pada (kegiatan) belajar. Dalam hal ini, kegiatan perkuliahan di perguruan tinggi. Perkuliahan itu meliputi kuliah, bikin tugas, praktikum (buat anak-anak dari jurusan tertentu), dan segala turunan dari semua kegiatan itu. Misalnya kalo praktikum turunannya adalah bikin la poran. Ngikutin kuliah, turunannya adalah ikut ujian, dsb, dst. Nah, setelah memasuki suatu jenjang pendidikan yang berlabel pendidikan tinggi alias masuk universitas, aku kenal dengan istilah itu. Menurutku, disini orang yang study oriented ditafsirkan sebagai orang yang kerjaannya belajar mulu dan cemas banget akan nilai IPnya. Saking sibuknya belajar dan mikirin IP, orang yang study oriented tuh nggak sempet ikutan organisasi, ekskul, gaul, dan enggak sempet seneng-seneng. Karena semua kegiatan itu ditenggarai akan menyebabkan jebloknya IP mereka. Kenapa yang jadi sorotan adalah IP? Kalau yang jadi sorotan IP, ya seharusnya orang-orang itu dilabelin IP oriented dong, bukannya study oriented. Beda tuh. Menurutku, sudah seharusnya setiap mahasiswa itu study oriented. Mahasiswa, masih ada kata siswa-nya, lho! Jadi meskipun sampeansampean ini udah boleh petentang-petenteng dengan angkuhnya pake jeans dan polo shirt ke kampus, tetep aja sampean itu masih pelajar! Kerjaan utamanya belajar. Oke, sejarah bercerita bahwa mahasiswa adalah agen perubahan. Dan sejarah nggak pernah bohong, yang bohong itu yang nyeritain. Tapi gimana bisa jadi agen perubahan kalau kita nggak pinter? Kalau bisanya cuma teriak-teriak, sok-sok nggaya pake aksi mogok makan segala (mendingan puasa tau!) sampe bela-belain bolos kuliah yang segala biayanya masih ditanggung oleh orang tua kita? Agen perubahan haruslah seseorang yang pinter, yang cerdas, dan yang mau terus belajar. Kadang-kadang aku mikir, apakah jiwa dan pemikiran para agen perubahan yang bersemayam dalam fisik para mahasiswa itu bisa terus hidup sampai mahasiswa itu meninggalkan bangku kuliah? Atau jangan-jangan setelah mahasiswa itu meninggalkan bangku kuliah, jiwa dan pemikiran penuh idealisme itu juga meninggalkan fisik mereka? (Deu...bahasanya kayak apaan aja!). Sayang banget kalau itu terjadi. Contohnya, waktu mahasiswa rajin banget demo ke pemerintah, nuntut ini itu, malah sampe pake anarki segala, eh setelah lulus kuliah malah pingin banget diangkat jadi pegawai negeri. Biar masa tua terjamin katanya. Ah, mungkin pemerintah harus bikin database, siapa aja bekas mahasiswa yang gitu. Kita perlu orang-orang loyal buat dimuliakan jadi punggawa negara, kan? Bukannya orang-orang yang cuma ngejar kenyamanan hidup. Kesannya kok maaf, matre dan munafik. Moga-moga aja nggak ada diantara kita yang berakhir seperti itu. Atau pas masih jadi mahasiswa bilang kalo dia tuh anti banget sama perusahaan-perusahaan tipe tertentu (karena masalah idealisme), eh, lha dhalah ternyata end up kerja di perusahaan setipe. Ngejar kemapanan finansial. Wah, aku nggak mau komen lagi deh. Nah, buat mengantisipasi lunturnya idealisme itu, bukankah seseorang harus cerdas? Sik-sik, alon-alon yo... Idealisme sejati, dibentuk dari kecerdasan dan pengetahuan. Bukan dari hasil ikut-ikutan, bukan dari hasil training, bukan dari bujukan (kecuali kalo pake hipnotis, udah deh nggak ngerti aku). Idealisme semacam inilah yang menurutku akan bertahan sampai orang itu mati. Bukannya luntur seiring lunturnya make up para

wisudawati selesai acara wisuda dilangsungkan. See, mahasiswa harus pinter. Dan sayangnya nggak semua orang dilahirkan dengan kemampuan otak yang diatas rata-rata. Sebagian besar orang dilahirkan dengan kecerdasan rata-rata. Karena itulah ada istilah rata-rata. Ngerti kan? Tapi Allah maha adil, ada jalan lain untuk menjadi pinter. Apa itu? Sinau! Belajarlah. Dari mana saja. Dari lingkungan sekitar. Dan balik ke topik awal, karena kita masih mahasiswa, belajarlah dengan baik di perguruan tinggi kita. Serap ilmu sebanyak-banyaknya dan tentukanlah idealisme yang akan kita bawa sampai mati. Menurutku idealisme itu nggak usah lah muluk-muluk. Bahkan sikap sederhana kayak nggak mau nyontek saat ujian, soalnya nyontek adalah salah satu pencetus budaya malas dan suka yang instan-instan pun udah bisa dikatakan sebuah idealisme. Huff... (capek) Itulah menurutku pentingnya belajar. Aku sendiri mendefinisikan diri sebagai orang yang study oriented. Tujuan utamaku di perguruan tinggi itu belajar ilmu farmasi, nggak kurang dan nggak lebih. Pokoknya gimana deh caranya biar nanti pas lulus dan jadi farmasis aku bisa nyumbang kemampuan buat bantu orang lain, bukannya malah bikin keadaan tambah susah buat orang lain (misalnya : salah formulasi, salah baca resep, salah ngasihin obat, dan salah-salah yang lain). Maka dari itu, menurutku, kalau buat aku, aku harus fokus dan bener-bener berorientasi pada satu hal itu. Aku bukan orang yang jenius, sekali baca buku langsung mudeng. Sekali diterangin pasti langsung ngerti. Enggak! Aku harus fokus belajar buat mencapai tujuan itu. Iya, mungkin aneh buat didengar. Apa sih asyiknya sehari-hari kerjaannya cuma kuliah, praktikum, bikin laporan, ngerjain tugas? Hmm...sebenernya sehari-hari juga aku nggak cuma ngerjain 4 hal itu, tapi masih banyak lah kegiatan lain. Buka facebook, bercanda sama temen, shopping, nulis di blog, baca majalah, denger radio, dan aktivitas-aktivitas lain yang aku nikmati. Ya, aku bukan orang yang bisa ngerjain beberapa hal sekaligus dengan baik. Belajar sambil dengerin radio aja nggak bisa. Belajar di meja berantakan aja nggak masuk. Dan kebetulan juga aku ini orangnya lumayan pemales. Hihihi. So, sejembreng aktivitas diatas sudahlah cukup buatku saat ini. Beberapa kali pernah sih diberi kepercayaan jadi panitia kegiatan apa gitu, tapi saat ini aku nggak pingin gabung di organisasi tertentu. Daripada mereka kecewa. Aku bisa bayangin, kalau ada acara di H-1 ujian dan dua-duanya belum beres, aku pasti akan lebih mengutamakan belajar buat ujian itu daripada ngurusin acara. Dalam bahasa yang paling egois, aku akan berkata (dalam hati), aku masuk kesini buat bela jar, tau!. Dan aku bertekad nggak akan bolos kuliah hanya untuk mengurusi kegiatan-kegiatan itu. Tujuanku jadi asisten praktikum juga buat bantuin orang lain dan biar aku bisa terus belajar. Aku mau nglamar jadi asisten soalnya menurutku jadwal praktikum itu rapi. Nggak mungkin hari Sabtu dan Minggu ada praktikum. Nggak mungkin para asisten harus bolos kuliah hanya buat jaga praktikum. Dan alhamdulillah Allah memudahkan jalan buat mencapai tujuan itu. Oh iya, diatas aku bilang kalau study oriented itu beda sama IP oriented. Aku mahasiswa yang study oriented tapi bukan seorang IP oriented. Hmm....kayaknya dari dulu aku nggak pernah peduli deh sama nilaiku. Aku suka belajar dan aku suka kalo aku mudeng apa yang aku pelajari. Itu aja. Ngapain dibela-belain nyontek segala cuma biar dapet nilai bagus? Orang tuaku enggak pernah minta aku dapat nilai bagus. Seneng juga sih cum laude, tapi kalau nggak cum laude ya udah nggak apa-apa. Orang tuaku juga nggak pernah minta yang anehaneh kok. Semester 1 kemarin IPku 3,78 dan semester 2 IPku turun jadi 3,30. Shocking, ya? Awalnya aku takut orang tuaku yang bakalan kecewa, tapi ternyata enggak tuh. Aku sendiri sih nggak merasa terlalu khawatir atau gimana. Menurutku kemampuanku sama aja kok semester 1 dan semester 2. Mungkin semester 1 standarnya masih rendah, jadi dengan kemampuan yang sama dengan semester 2 bisa cum laude. Tapi enak juga kali ya ntar kalo pas diwisuda cum laude, soalnya aku pingin bikin ortuku bangga. Amin... Aku bangga karena aku seorang yang study oriented! Aku seneng jadi orang yang tahu apa yang bener-bener dia inginkan. Tapi kalo ada yang menjadikan kegiatan berorganisasi atau kegiatan seneng-seneng sebagai poros kehidupan kampusnya, why not? Saya menghormati apapun keputusan anda. Semoga anda tahu apa yang benar-benar anda inginkan! Have a nice day.

Anda mungkin juga menyukai