Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN

LATAR BELAKANG AGAMA KRISTEN

Oleh NASA BRAHMA TANTRA 18 1-A

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Tentang kapan mulai muncul agama Kristen terdapat beberapa pendapat yang berbeda. Pertama, berpendapat bahwa agama Kristen dimulai saat peristiwa Pentakosta (turunnya Roh Kudus) karena pada peristiwa itu Tuhan memberikan Roh-Nya kepada Para Rasul dan orang percaya lainnya yang memberi kekuatan dan kemampuan kepada mereka untuk mengabarkan Injil. Kedua, menunjuk kepada penyebutan terhadap pengikut Kristus sebagai orang-orang Kristen di Antiokia (Kis. 15:7-21). Ketiga, ada yang berpendapat agama Kristen mulai ada pada peristiwa Paskah/Kebangkitan Tuhan Yesus karena menganggap bahwa kebangkitan Yesus itu menjadi titik awal dari iman Kristen dan penyebarannya. Tetapi, karena sumber pengajaran atau tokoh yang mengajarkan Injil adalah Tuhan Yesus maka awal munculnya agama Kristen dapat kita tunjuk ketika Yesus masih hidup dan berkarya atau bahkan dapat ditunjuk pada saat kelahiran Tuhan Yesus. Dengan kata lain, agama Kristen sudah dimulai semenjak Tuhan Yesus ada di dunia dan melakukan karya penyelamatan-Nya. Manusia sudah berhubungan dengan Allah semenjak Allah menciptakan manusia, yaitu Adam dan Hawa yang berasal dari tulang rusuk Adam setelah Allah menciptakan alam semesta. Jadi, latar belakang agama bukan dari zaman Perjanjian Baru saja, melainkan juga berhubungan dengan zaman Perjanjian Lama.

B. Rumusan Masalah 1. Latar belakang agama Kristen saat Perjanjian Lama 2. Latar belakang agama Kristen saat Perjanjian Baru 3. Munculnya agama Kristen di dunia 4. Hambatan yang terjadi saat pengajaran Agama Kristen di dunia

C. Tujuan 1. Mengetahui latar belakang Agama Kristen saat perjanjian Baru. 2. Mengetahui hubungan yang saling terkait antara zaman sekarang, zaman Perjanjian Baru serta zaman Perjanjian Lama. 3. Mengetahui hambatan yang telah dihadapi oleh pemberita Injil dan apa yang akan dihadapi oleh para pengikut Kristus.

BAB II PEMBAHASAN
A. Perjanjian Lama 1) Pentingnya Perjanjian Lama Pada Perjanjian Lama memuat tentang awal mula Tuhan menciptakan seluruh alam semesta dan menciptakan makhluk yang serupa dengan gambar-Nya, yaitu manusia yang bernama Adam dan Hawa yang diciptakan dari tulang rusuk Adam untuk menjadi kawan yang sepadan dengan Adam. Disitulah awal mula manusia memunyai hubungan dengan Tuhan yang sangat dekat. Namun, kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam dosa membuat hubungan manusia dengan Tuhan terputus. Lalu, apa itu Perjanjian Lama di Alkitab? Mengapa masih ada hubungannya dengan Agama Kristen yang sekarang sudah ada di zaman Modern? Bukankah dengan berlatar belakang dari Perjanjian Baru sudah cukup? Itu karena: a. Perjanjian Lama adalah bagian dari Rencana Allah Cara Allah menyatakan Diri-Nya kepada manusia adalah dengan memberikan Penyataan Umum dan Penyataan Khusus, yaitu melalui alam, sejarah, hati nurani manusia dan juga melalui Firman dan Anak-Nya, Yesus Kristus. Di dalam Penyataan-penyataan inilah Allah menyatakan Diri-Nya dan rencana-Nya kepada manusia (Rom 1:19-20; Yes. 52:10). Dalam Perjanjian Lama, Allah memakai hamba-hamba-Nya, dengan latar belakang satu bangsa, yaitu bangsa Israel, untuk menjadi sarana dalam menyampaikan penyataan-penyataan rencana-Nya kepada manusia (Yes 49:6). Oleh karena itu sejarah lahirnya bangsa Israel dan bagaimana Allah menyertai, menghukum dan memberkati bangsa ini (yang ditulis di kitab-kitab Perjanjian Lama) seharusnya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan iman Kristen. Karena melalui sejarah bangsa ini, Allah sebenarnya sedang memberitahukan kepada manusia tentang Diri-Nya. Siapakah Dia dan apakah rencana- Nya bagi umat manusia, termasuk rencana-Nya bagi kita yang hidup sekarang. b. Perjanjian Lama adalah bukti dari Kedaulatan dan Kesetiaan Allah Dibalik cerita sejarah bangsa Israel, Perjanjian Lama juga menjadi bukti penting dari kedaulatan Allah atas seluruh alam semesta yang diciptakan- Nya, termasuk manusia. Dialah yang mengawasi sejarah dan yang akan menyelesaikan rencana-

Nya tepat pada waktu yang sudah ditetapkan-Nya (Fil. 1:6). Dia juga yang memilih hamba-hamba-Nya sesuai dengan kedaulatan-Nya untuk melaksanakan rencana kekal-Nya. Di sini sekaligus Perjanjian Lama juga menjadi bukti penyataan progresif akan kesetiaan Allah (Yes. 25:1). Allah turut bekerja dalam sejarah, termasuk ketika Israel tidak taat, tetapi Allah tetap setia pada janji-Nya (Rom 3:3). Oleh karena itu kitab-kitab Perjanjian Baru tidak mungkin dilepaskan dari Perjanjian Lama. Allah pada Perjanjian Baru adalah juga Allah Perjanjian Lama yang setia melaksanakan rencana kedaulatan-Nya (keselamatan) bagi umat pilihan- Nya. c. Perjanjian Lama adalah Firman Allah Mengakui bahwa Perjanjian Lama merupakan Firman Allah merupakan bagian yang penting dari iman Kristen karena apabila kita mengakui otoritasnya berarti kita bersedia tunduk pada otoritas tersebut. Berikut ini adalah bukti bahwa Perjanjian Lama merupakan Firman Allah: i) Yesus mengakui otoritas Perjanjian Lama. Selama Yesus hidup di dunia Ia mengakui otoritas Perjanjian Lama secara penuh. Hal ini terbukti jelas dalam kitab-kitab Injil bagaimana Yesus selalu mengutip Perjanjian Lama untuk menunjukkan dasar otoritas dan pengajaran-Nya. Misalnya pada waktu Ia dicobai (Matius 4:1-11). Juga ketika Yesus harus mengklaim kedudukan-Nya sebagai Anak Allah (Yohanes 10:31-36). Sikap Yesus yang menjunjung tinggi Perjanjian Lama cukup menjadi bukti bahwa Perjanjian Lama memiliki otoritas sebagai Firman Allah. ii) Allahlah yang memberi inspirasi kepada para penulis Perjanjian Lama. Itulah sebabnya sekalipun para penulis Perjanjian Lama hidup pada jaman dan latar belakang yang berbeda, berita yang mereka sampaikan tidak ada yang saling bertentangan, malah sebaliknya memberikan satu benang merah berita yang menunjuk pada karya keselamatan Allah.

2) Struktur Masyarakat Perjanjian Lama Hubungan dan keturunan keluarga yang tertulis di Perjanjian Lama juga merupakan latar belakang dari Agama Kristen karena memang sejak dari semula Allah memulai rencana penebusan-Nya melalui satu keluarga, yaitu keluarga Abraham. Dan melalui keluarga Abraham inilah Allah memanggil keluar umat-Nya untuk membina suatu hubungan yang istimewa dengan Dia, yang dikokohkan dengan membuat suatu Perjanjian. Itu sebabnya anggota yang termasuk dalam Perjanjian ini adalah mereka yang disebut sebagai "keturunan" (secara jasmani) Abraham - dan selanjutnya keturunan Ishak dan Yakub (Im. 26:42,45).

Konsep "keturunan" secara fisik sangat penting bagi bangsa Israel, karena disitulah ikatan keanggotaan dalam Perjanjian didasarkan. Oleh sebab itu tidak heran jika banyak sekali ditemui catatan silsilah dalam Alkitab, termasuk dalam kitab-kitab Perjanjian Baru (Mat. 1 dan Luk. 3). Jika mereka termasuk dalam silsilah itu maka mereka memiliki hak sebagai anggota masyarakat Yahudi yang terikat dalam hubungan Perjanjian dengan Allah. 3) Komunikasi manusia dengan Allah Komunikasi dengan Allah pada waktu Perjanjian Lama bukanlah sembarangan dan tidak semudah sperti keadaan Perjanjian Baru. Untuk bertobat, manusia harus memberikan persembahan korban bakaran kepada Tuhan. Untuk bertemu dengan Tuhan hanya bisa dilakukan oleh orang tertentu saja, karena bila orang sembarangan akan mati.

B. Perjanjian Baru Dalam Perjanjian Baru ini adalah kitab-kitab atau tulisan-tulisan yang datangnya setelah nabi Isa. Dalam Perjanjian baru ini, terdapat beberapa peristiwa yang juga merupakan latar belakang dari agama Kristen. Dalam hal ini hanya akan membahas kehidupan Tuhan Yesus sampai naik ke Surga karena memang agama Kristen berhubungan dengan Tuhan Yesus.

1) Kelahiran Tuhan Yesus Kelahiran Tuhan Yesus dari kandungan perawan Maria di Betlehem, merupakan awal dari penggenapan nubuat Allah dari Perjanjian Lama untuk menyelamatkan umat manusia. Yesus merupakan dari keturunan dari Daud, anak Abraham yang merupakan orang yang mendapatkan perjanjian dari Tuhan di Perjanjian Lama. Keturunan itu berasal dari Yusuf yang masih dalam status belum hidup sebagai suami isteri bersama Maria. Masa kecil Yesus tidak ditulis rinci di dalam Alkitab. Dan Tuhan Yesus dibaptis oleh Yohanes sang pembaptis. 2) Pelayanan Tuhan Yesus selama Tiga Setengah Tahun Yesus memulai pelayanan-Nya beberapa waktu setelah Yohanes Pembaptis mulai membaptis dan sesudah pembaptisan, Tuhan Yesus melakukan puasa empat puluh hari empat puluh malam dan mendapatkan cobaan dari iblis di padang gurun. Dan setelah itu Tuhan mulai melakukan Pengajaran dan Pelayanan-Nya.

Dalam pengajaran dan pleayanan-Nya, Tuhan Yesus juga menggunakan bahan dari Perjanjian Lama dalam Pengajaran-Nya karena Dia datang ke dunia bukan untuk menghilangkan hukum Taurat. 3) Penyaliban Tuhan Yesus a. Pemikulan salib. i) Dalam Matius, Markus, dan Lukas, diceritakan adanya Simon dari Kirene yang membantu memikul salib Yesus pada saat Yesus sudah tidak kuat lagi memikul salibNya. ii) Mengambil jalan sejauh mungkin. Untuk menambah penderitaanNya, mereka mengharuskan-Nya sejauh yang Ia mampu, untuk memikul salib-Nya, sesuai dengan kebiasaan di antara orangorang Romawi iii) Merupakan penderitaan yang hebat. Sebagai bagian dari penderitaan-Nya; Ia menahan salib yang merupakan kayu / pohon yang panjang dan tebal dan sebagian orang beranggapan bahwa kayu / pohon itu tidak dihaluskan atau dibentuk. Tubuh Tuhan Yesus yang terpuji itu lembut, dan tidak terbiasa pada beban seperti itu; tubuh itu saat itu telah disiksa dan diletihkan; pundak-Nya luka-luka dengan bilur-bilur yang mereka berikan kepada-Nya; setiap sentakan dari salib itu memperbarui rasa sakit-Nya, dan memukul duri-duri dimana Ia dimahkotai pada kepalaNya; tetapi semua ini Ia alami dengan sabar, dan itu baru merupakan permulaan kesedihan / penderitaanNya. iv) Ini merupakan teladan bagi kita, karena kita juga harus memikul salib. Tuhan kita mengajar semua murid-Nya untuk memikul salib mereka, dan mengikuti Dia. Apapun salib yang Ia panggil kita untuk memikulnya pada saat kapanpun, kita harus ingat bahwa Ia memikul salib lebih dulu. b. Yesus dibawa ke tempat penyaliban i) Yesus digiring dan disalibkan tanpa perlawanan, dan ini menggenapi nubuat Kitab Suci tentang hal itu. ii) Kitalah yang seharusnya digiring ke tempat eksekusi, tetapi Ia digiring bagi kita supaya kita lolos dari hal itu. iii) Penyaliban Yesus merupakan hal terpenting dalam sejarah. 1Kor 15:3-4 - (3) Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, (4) bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci.

4) Kebangkitan Tuhan Yesus Allah Bapa membangkitkan Yesus jiwa dan badan kepada kemuliaan kebangkitan. Putera Allah masih tetap seorang manusia yang utuh, tetapi sebagai seorang manusia baru yang penuh kemuliaan. Dia menjadi Adam yang baru atau Adam kedua (lihat 1Kor 15:2028.45). Yesus Kristus adalah ciptaan baru dan sebagai ciptaan baru Dia memulihkan keseluruhan ciptaan lama. Sekali lagi, melalui kebangkitan-Nya, ciptaan Allah sungguh amat baik. Melalui kebangkitan Yesus sekali lagi kita mampu untuk menjadi gambaran atau citra Allah yang sejati, dengan cara yang sekarang malah melebihi ciptaan pertama. Melalui iman dan baptisan dimungkinkanlah bagi kita untuk turut ambil bagian dalam kebangkitan Yesus yang penuh kemuliaan. Kita menjadi saudara dan saudari, bukan dari Adam yang lama, melainkan dari Adam yang baru Yesus Kristus. Melalui hidup dan kuasa Roh Kudus yang diutus setelah kebangkitan Yesus, kita ditransformasikan menjadi ciptaan baru dan dengan demikian dimampukan untuk sekali lagi mencerminkan keagungan Allah. Sekali lagi kita dapat menggunakan pikiran-pikiran kita untuk mengenal dan mengekspresikan kebenaran Allah. Dengan suara-suara fisik kita dapat melambungkan pujian-pujian kepada Allah. Dengan gerak-gerik tubuh kita dapat mengekspresikan cinta kasih kita kepada Allah dan orang-orang lain (satu sama lain). Tindakan-tindakan kebaikan kita yang bersifat fisik rangkulan, cipika-cipiki, karya-karya karitatif sekali lagi mencerminkan keserupaan kita dengan Allah dalam Kristus Yesus. Melalui kehidupan kita yang penuh keutamaan/kebajikan, keseluruhan hidup kita (tubuh dan jiwa) ditransformasikan menjadi gambar atau citra Yesus, citra sempurna Bapa. Yesus adalah Sakramen Bapa. Ia citra Allah yang tak kelihatan, dan dalam Dia segala-sesuatu telah diciptakan (Kol 1:15-16) Titik kulminasi suatu kehidupan suci yang dihayati dalam keserupaan dengan Allah diwujudkan dalam keikutsertaan kita dalam kemuliaan kebangkitan Yesus sendiri. Maut tidak lagi dapat menguasai kita. Dalam Kristus sekali lagi kita mengenakan jiwa dan tubuh yang dipulihkan. Totalitas tentang siapa kita ini dipulihkan kepada kebaikan untuk mana kita diciptakan Allah, yaitu kehidupan kekal-abadi. Kebangkitan badan Yesus membuktikan bahwa dunia ciptaan kita ini sungguh baik dan yang paling penting adalah bahwa manusia yang adalah bagian dunia ciptaan ini, sungguh amat baik. Allah menciptakan kita, secara keseluruhan, menurut gambar dan rupa-Nya sendiri, dan dengan kebangkitan Yesus, Ia telah memulihkan dan melampaui keserupaanNya dalam diri kita. Dia tidak hanya memperoleh kembali ciptaan-Nya yang lama, Dia telah meninggikannya kepada ketinggian baru dalam kebangkitan Putera-Nya. Kita semua yang percaya kepada-Nya akan mengalami sukacita dan kegembiraan sebagai gambar Allah yang sejati dalam Yesus Putera-Nya oleh kuasa Roh Kudus sekarang dan selama-lamanya. 5) Yesus naik ke surga Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya berjalan dengan mereka dan mengajar mereka selama 40 hari setelah kebangkitan-Nya, kemudian ia pergi ke surga. Tapi Dia meninggalkan mereka tidak benar-benar sendirian. Sepuluh hari kemudian, Ia menyuruh Roh Kudus. Mereka dipenuhi dengan Roh Kudus dan mulai berbicara bahasa asing -

lidah. Roh Kudus disebut Yesus sebagai pembantu lain yang akan selalu bersama mereka. Melalui Roh Kudus, Yesus selalu bersama kita. 6) Hari Raya Pentakosta Pentakosta Perjanjian Baru adalah hari turunnya Roh Kudus yang terjadi pada hari ke 50 setelah Paskah (hari kebangkitan Yesus). Pada saat itu terjadilah hal-hal sebagai berikut: a) Turun dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras. Kitab Suci memang sering menggambarkan Roh Kudus sebagai angin (Yoh 3:8 Yeh 37:9,10,14 Yoh 20:22). Kata bahasa Yunani PNEUMA memang bisa diartikan sebagai roh, angin atau nafas (sama seperti kata Ibrani RUACH). Karena itulah maka sebelum Roh Kudus turun maka Ia didahului oleh suatu bunyi seperti tiupan angin keras. b) Tampaklah lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Roh Kudus juga sering digambarkan sebagai api karena Ia berfungsi untuk menyucikan / menguduskan kita. Karena itu, tanda dari orang yang mempunyai Roh Kudus / dipenuhi Roh Kudus adalah adanya perubahan hidup ke arah yang positif (bukan kemampuan untuk berbahasa Roh!) c) Roh Kudus turun dan memenuhi mereka semua. Jadi, bukan hanya rasul-rasul saja yang menerima / dipenuhi dengan Roh Kudus, tetapi semua orang Kristen pada saat itu. Roh Kudus diberikan bukan hanya kepada orang percaya tertentu saja, tetapi kepada semua orang yang percaya kepada Kristus. Pemberian Roh Kudus ini adalah penggenapan janji Tuhan dalam Yoh 14:16,17,26 Yoh 15:26,27 Yoh 16:7-11,13,14 Mat 3:11 Kis 1:4,5,8. Tuhan pasti menggenapi janjiNya.

7) Komunikasi manusia dengan Allah Di Perjanjian Baru ini, manusia sudah dipulihkan hubungannya dengan Allah karena manusia telah ditebus oleh Tuhan Yesus, dan di hati manusia sudah ada Roh Kudus yang membantu manusia untuk dapat berkomunikasi dengan Allah. Jadi, setiap orang yang percaya kepada-Nya dapat berkomunikasi dengan Allah dengan mudah karena hubungan Allah dan manusia telah dipulihkan namun Tuhan Yesus akan datang pada kali keduanya ke dunia untuk mengangkat manusia yang percaya kepada-Nya.

C. Pemberitaan Injil dan Penyebaran Penagajaran Agama Kristen Setelah hari Pentakosta, turunnya Roh Kudus, pemberitaan Injil mulai dilakukan. Pemberitaan tentang kabar suka cita telah disebarkan sampai ke penjuru dunia dari zaman saat setelah kenaikan Tuhan Yesus hingga sekarang. Segala upaya demi tersebarnya berita suka cita, pemberitaan Injil dan saksi Tuhan mengalami penderitaan dari lingkungan luar dan pertentangan di dalam hati pribadi. Hambatan dan cobaan dalam menjadi pemberita Injil adalah dari faktor luar dan faktor dalam. 1) Faktor Luar Hambatan tersebut sering kali datang dari orang yang tidak percaya akan Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamat. Mereka membenci para pemberita Injil dan saksi Yesus. Sebenarnya orang-orang seperti itu bukan membenci pemberita Injil dan saksi Yesus dahulu, melainkan mereka sebelumnya telah membenci Tuhan Yesus. Selain itu, di zaman sekarang, hambatannya adalah di Negara tersebeut, apakah hubungan negara dengan gereja itu harmonis, pasif atau bermusuhan. 2) Faktor Dalam Faktor dalam ini terjadi karena ada sesuatu yang salah dalam diri masing-masing pribadi pemberita Injil dan saksi Yesus. Kebanyakan adalah mental yang masih takut dan raguragu dan tidak pandai bicara.

Yesus sudah memberitahukan kepada kita kemungkinan adanya orang-orang yang akan menyerang kita dan memposisikan kita sebagai orang yang bersalah. Yesus berkata hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. menghadapi serigala bukan dengan kekerasan atau kekejaman,tetapi dengan kecerdikan dan ketulusan. Selain itu, Roh Kudus akan menyertaimu.

BAB III SIMPULAN

Latar belakang agama Kristen berada di Perjanjian Baru, ketika di hari Pentakosta setelah kenaikan Tuhan Yesus. Namun, latar belakang dari Perjanjian Baru berada di Perjanjian Lama, sehingga latar belakang agama Kristen ada di Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, karena keduanya itu saling berhubungan dan saling menopang. Memang ada perbedaan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru namun bukan berarti perbadaannya termasuk dalam perbedaan yang bertentangan. Kita melihat ada perbedaan dalam hal jangkauan dan keluasan pembahasan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru namun hal itu tidak berarti bertentangan, misalnya: -Perjanjian Lama bercerita tentang hubungan Allah dengan bangsa Israel, tetapi Perjanjian Baru lebih banyak bercerita tentang hubungan Allah (melalui Yesus dan para Rasul) dengan jemaat-Nya (gereja-Nya). -Perjanjian Lama menolong kita mengerti sifat-sifat Allah yang suci, adil dan benar. Tetapi Perjanjian Baru lebih menekankan kepada sifat-sifat Allah yang kasih, sabar dan pemurah. -Perjanjian Lama memberikan panggilan keselamatan dari satu orang (Abraham) kepada satu bangsa (Israel). Tetapi Perjanjian Baru memberikan panggilan keselamatan dari satu bangsa (Israel) kepada bangsa-bangsa lain. Kesamaan dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru: - Perjanjian Lama percaya kepada Allah sebagai Pencipta alam semesta dan isinya, demikian juga Perjanjia Baru. - Perjanjian Lama menceritakan tentang kejatuhan manusia ke dalam dosa, Perjanjian Baru menegaskan bahwa dosa telah menguasai manusia. - Perjanjian Lama mencatat bagaimana Allah menyatakan Diri-Nya dan kehendak- Nya dan Perjanjian Baru secara konsisten melihat penyataan Diri Allah itu secara lebih luas dan lengkap. - Perjanjia Lama membicarakan nubuat Mesias yang akan datang sedangkan Perjanjia Baru menggenapkan nubuat datangnya Mesias di dalam Yesus Kristus.

Dari contoh tersebut, diketahui bahwa Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru memiliki keterkaitan satu sama lain dan cakupannya semakin meluas, yang awalnya dari satu bangsa menjadi seluruh bangsa yang terkhusus orang yang percaya kepada Tuhan Yesus. Sehingga latar belakang agama Kristen adalah dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.pesta.org/tbiblika http://sangsabda.wordpress.com/2010/03/31/kebangkitan-yesus-kristus/

http://www.apg29.nu/index.php?artid=11233&hl=id

http://www.sesawi.net/2011/06/03/misi-dari-yesus-saat-naik-ke-surga/

http://www.bibleinfo.com/id/topics/perjanjian-baru

http://rivanstevanustampi.wordpress.com/2011/01/13/garis-besar-alkitab-perjanjianbaru/