Anda di halaman 1dari 6

KASUS I

Senin, 21 Oktober 2013 21:04 Kurang Gizi Sebabkan Anak Pendek - Kompas.com.htm

KOMPAS.com Data studi mengenai status gizi anak usia 6 bulan sampai 12 tahun (SEANUTS) menunjukkan, prevalensi anak balita pendek tidak banyak berubah, yakni sekitar 34 persen. Besarnya angka anak balita pendek merupakan indikator masalah kurang gizi. Angka tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan data Riskesdas 2010 yang menunjukkan angka 35,6 persen. Itu berarti, hampir separuh dari jumlah anak balita kita memiliki tinggi badan lebih pendek daripada seharusnya. Berdasarkan penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan (Balitbang Kementerian Kesehatan) pada 2010, tinggi badan anak laki-laki Indonesia pada umur 5 tahun ratarata kurang 6,7 sentimeter dari tinggi yang seharusnya, sedangkan pada anak perempuan kurang 7,3 sentimeter. Anak umur 5 tahun seharusnya memiliki tinggi badan 110 sentimeter. Tubuh pendek (stunting) terjadi akibat kekurangan gizi berulang dalam waktu lama pada masa janin hingga usia dua tahun pertama kehidupan seorang anak. Sayangnya, masyarakat kita masih belum menyadari bahwa hal tersebut merupakan masalah serius. Stunting dapat berakibat fatal bagi produktivitas di masa dewasa. Hal ini seharusnya tidak diremehkan karena berdampak pada kualitas sumber daya manusia. Untuk menurunkan angka anak balita stunting, diperlukan intervensi sejak kehamilan karena persoalan itu adalah sebuah siklus. "Saat ini pemerintah fokus pada program 1000 hari pertama, yakni pemeliharaan gizi sejak kehamilan sampai bayi berusia dua tahun," kata dr Atmarita dari Balitbang Depkes dalam acara pemaparan hasil studi SEANUTS di Jakarta, Rabu (14/11/2012). Ia menambahkan, syarat utama dari program 1.000 hari pertama itu adalah ketahanan pangan. "Kalau yang dimakan cukup, tentu gizi kurang bisa ditekan. Ini berarti terkait juga dengan faktor ekonomi, subsidi, dan sebagainya," imbuhnya. Selain kebutuhan pangan, hal lain yang tak kalah penting adalah pemberian ASI eksklusif, makanan bergizi yang menjadi pendamping ASI, dan imunisasi.

Berdasarkan kasus di atas, saya dapat menyimpulkan bahwa program KADARSI belum dilaksanakan secara maksimal. Indikator yang belum terpenuhi dari kasus di atas adalah mendapatkan dan memberikan suplementasi gizi bagi anggota keluarga yang membutuhkan khususnya ibu. Di mana

Asupan gizi yang tidak mencukupi ketika ibu masih kecil akan menyebabkan sel pada tubuh ibu tak bisa tumbuh sempurna yang akan berdampak pada kehamilannya. Gizi yang tidak cukup, menyebabkan calon ibu tidak bisa menyiapkan sel reproduksinya sehingga mempengaruhi penyusunan saluran makan anak ke ibu, saat bayi dalam kandungan. Dengan tidak terlaksananya indikator di atas maka, upaya yang dilakukan untuk mengatasi kasus kekurangan gizi yang menyebabkan bayi tumbuh pendek adalah konseling kepada ibu-ibu agar sebelum merencanakan kehamilan harus dilakukan pemenuhan zat gizi dan berikan sumplement makanan.

KASUS II

Senin, 21 Oktober 2013 20:56

Kurang Gizi Mikro Dihadapi Balita Indonesia - Kompas.com.htm

Kurang Gizi Mikro Dihadapi Balita Indonesia


Kompas.com - Beberapa dekade lalu, persoalan pemenuhan gizi makro, seperti kekurangan karbohidrat, lemak atau protein, masih mendominasi persoalan gizi anak. Tetapi saat ini, persoalan telah bergeser ke upaya pemenuhan kebutuhan gizi mikro. Hal tersebut disampaikan oleh Prof. Ahmad Sulaeman, pakar ekologi manusia dan pemerhati gizi, dari Institut Pertanian Bogor, dalam acara Nutritalk bertema "Gizi Lintas Generasi - Tantangan Gizi Anak Dulu, Kini dan Nanti, yang diadakan oleh Sari Husada di Jakarta, (13/10/2011). "Sekarang isu gizi yang marak timbul adalah masalah kekurangan gizi mikro (hidden hunger), menyangkut defisiensi besi, yodium, asam folat, vitamin A dan beberapa jenis vitamin B," katanya. Ahmad mengatakan, rendahnya asupan zat gizi mikro tersebut menyebabkan tingginya kasus penyakit kurang zat gizi mikro (KGM). Dampaknya dapat terlihat jelas dengan meningkatnya angka kematian ibu dan anak, penyakit infeksi, menurunnya kecerdasan anak serta produktivitas kerja. Di beberapa negara berkembang termasuk Indonesia, lanjut Ahmad, prevalensi kurang zat gizi mikro sebesar 50-60 persen, dengan 9 persen angka kematian anak dan 13 persen kematian ibu disebabkan karena kekurangan vitamin A. Bahkan, data tahun 2004 menunjukkan 10 juta anak balita di Indonesia kurang vitamin A. "Sekitar 18 persen kematian ibu melahirkan dan 24 persen kematian perinatal disebabkan anemia dan defisiensi besi. Sedangkan kekurangan zat yodium merupakan penyebab umum retardasi mental dan kerusakan fungsi otak di berbagai negara dunia," jelasnya.

Masalah yang berhubungan dengan gizi tidak hanya terjadi di negara berkembang seperti Indonesia. Negara maju pun kata Ahmad, memiliki masalah yang berhubungan dengan gizi. Oleh sebab itu, pada beberapa tahun terakhir PBB mengembangkan tujuan pembangunan milenium atau MDGs (Millenium Development Goals) tahun 2015 dengan sasaran mengatasi beberapa masalah yang erat kaitannya dengan gizi. Ia menambahkan, untuk menangani masalah gizi, dapat dilakukan dengan menerapkan gizi seimbang. "Gizi seimbang adalah makan dan minum untuk memnuhi kebutuhan gizi secara umum dengan prinsip beragam, hidup bersih, aktivitas dan pengendalian berat badan," tutupnya.

Berdasarkan kasus di atas, saya dapat menyimpulkan bahwa program KADARSI belum dilaksanakan secara maksimal. Indikator yang belum terpenuhi dari kasus di atas adalah mendapatkan dan memberikan suplementasi gizi bagi anggota keluarga yang membutuhkan Di mana asupan zat gizi mikro yang kurang akan berdampak pada penyakit kurang zat gizi mikro. Dengan tidak terlaksananya indikator di atas maka, upaya yang dilakukan untuk mengatasi kasus kekurangan zat gizi mikro adalah konseling kesehatan, pemberian gizi yang seimbang dan memberikan suplement gizi mikro .

KASUS III

Obesitas Kini Semakin Mewabah


Selasa, 2 November 2010 | 09:28 WIB Obesitas.Kini.Semakin.Mewabah.htm Obesitas atau kegemukan telah menjadi penyakit epidemi atau wabah meluas yang mengancam dunia. Wabah obesitas tidak terbatas dihadapi negara-negara maju, tetapi peningkatan lebih cepat justru terjadi di negara-negara sedang berkembang.

Kondisi obesitas menurunkan kualitas hidup manusia

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, pada tahun 2005, secara global ada sekitar 1,6 miliar orang dewasa yang kelebihan berat badan atau overweight dan 400 juta di antaranya dikategorikan obesitas. Pada 2015 diprediksi kasus obesitas akan meningkat dua kali lipat dari angka itu. Jika melihat data hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, di Indonesia terdapat 19,1 persen kasus obesitas pada penduduk berusia di atas 15 tahun. Angka tersebut melebihi besaran angka kekurangan gizi dan gizi buruk pada anak-anak usia di bawah lima tahun sebesar 18,4 persen. Perhatian terhadap epidemi obesitas secara global semakin menguat karena meningkatnya penyakit-penyakit yang terkait dengan gaya hidup. Obesitas yang sering dikaitkan dengan gaya hidup Barat menjadi penyebab utama munculnya risiko penyakit kronis, seperti diabetes tipe 2, kardiovaskular, darah tinggi dan stroke, serta berbagai jenis kanker.

Kondisi obesitas menurunkan kualitas hidup manusia. Dampak lebih jauh, beban pada sistem layanan kesehatan bisa semakin berat. Penelitian baru di Amerika Serikat yang dilakukan John Cawley dari Universitas Cornell dan Chad Meyerhoefer dari Universitas Lehigh menunjukkan, hampir 17 persen biaya kesehatan di Negeri Paman Sam itu dapat disalahkan karena ledakan obesitas. Persoalan berat badan warga negara Amerika Serikat naik dua kali lipat dari sebelumnya. Di negara miskin Menurut WHO, sekitar 80 persen kasus baru penyakit kanker, diabetes, dan kardiovaskular di dunia sekarang ini bukan tercatat di negara Barat yang kaya. Justru penyakit tidak menular itu meningkat pesat di negara-negara miskin yang di satu sisi menghadapi kelaparan, tetapi di sisi lain juga masalah obesitas. Ledakan obesitas itu sebagai konsekuensi impor gaya hidup negara-negara Barat, kata Francis Collins, Pemimpin Institut Nasional Kesehatan Amerika Serikat, dalam acara World Health Summit di Berlin, Jerman, pertengahan Oktober ini. Transisi nutrisi global Epidemi obesitas itu didorong perubahan dalam masyarakat dan transisi nutrisi secara global. Pertumbuhan ekonomi, modernisasi, urbanisasi, dan globalisasi dari pasar makanan hanyalah beberapa faktor penyebab yang mendasari epidemi ini. Ketika pendapatan meningkat dan penduduk jadi lebih urban, konsumsi makanan berkarbohidrat tinggi dengan kandungan lemak tinggi dan gula meningkat. Pada saat yang bersamaan, aktivitas fisik berkurang karena peningkatan penggunaan transportasi otomatis, teknologi di rumah, dan pengejaran waktu luang yang pasif. Prevalensi kelebihan berat badan dan obesitas umumnya diukur dengan menggunakan body mass index (BMI). Untuk menghitungnya didapat dengan cara membagi berat badan (kg) dengan kuadrat dari tinggi badan (meter). Nilai BMI yang didapat tidak bergantung pada umur dan jenis kelamin. Seseorang dikategorikan overweight jika memiliki BMI mulai dari 25 kilogram per meter kuadrat. Mereka yang memiliki BMI yang lebih dari 30 bisa dikatakan menderita obesitas. Batas BMI yang normal yakni antara angka 18,5 dan 24,9. Rata-rata BMI orang dewasa 22 kg per meter kuadrat-23 kg per meter kuadrat ditemukan di Afrika dan Asia, sedangkan di level 25-27 kg per meter kuadrat ditemukan di Amerika Utara, Eropa, dan di beberapa Amerika Latin, Afrika Utara, serta negara-negara di Pulau Pasifik. Peningkatan BMI yang terjadi pada usia menengah sampai tua memiliki risiko mengalami komplikasi penyakit. Kondisi obesitas, selain menyebabkan berbagai penyakit, juga kurang menguntungkan untuk efek metabolisme pada tekanan darah, kolesterol, triglycerides, dan resistensi insulin. Apabila kondisi obesitas ditambah dengan kebiasaan merokok, dapat menyebabkan tekanan darah tinggi dan kolesterol tinggi.

Peningkatan BMI memicu risiko kanker payudara, kolon, prostat, endometrium, ginjal, dan empedu, juga osteoarthritis yang menjadi penyebab utama kecacatan orang dewasa. Efek yang tidak fatal, tetapi memengaruhi masalah kesehatan yang diakibatkan oleh kondisi obesitas, antara lain, kesulitan bernapas, keluhan pada bagian otot yang kronis, masalah kulit, hingga ketidaksuburan. Yang bisa mengancam kehidupan yakni penyakit kardiovaskular, kondisi yang berkaitan dengan insulin resisten, seperti diabetes tipe 2, kanker tertentu yang berkaitan dengan hormon dan kanker kolorektal, serta kantong empedu. Kunci sukses untuk mengatasi masalah obesitas yaitu dengan mencapai keseimbangan energi antara jumlah kalori yang dikonsumsi dan jumlah kalori yang digunakan. Yang bisa dilakukan untuk mencapai sasaran ini, masyarakat dapat membatasi energi yang diambil dari total lemak jenuh dan mengalihkannya ke lemak tidak jenuh, meningkatkan konsumsi buah dan sayuranseperti tumbuhan polong, biji-bijian, dan kacangserta membatasi gula. Untuk peningkatan penggunaan kalori aktivitas fisik perlu ditingkatkan dengan beraktivitas fisik paling sedikit 30 menit tiap hari. Mengancam anak-anak Dunia mulai menaruh perhatian pada obesitas karena kondisi itu juga mewabah di kalangan anakanak. Peningkatan wabah ini merefleksikan perubahan yang serius di masyarakat dan pola-pola tingkah laku masyarakat dalam dekade ini. Persoalan global dengan cepat memengaruhi negara-negara berpendapatan rendah dan menengah. Prevalensinya meningkat hingga ke tingkat yang mesti diwaspadai. Secara global, pada 2010, jumlah anak-anak di bawah lima tahun yang overweight diperkirakan lebih dari 42 juta. Hampir 35 juta tinggal di negara-negara berkembang. Overweight dan obesitas yang dimulai pada usia anak-anak berpotensi tetap terjadi ketika dewasa. Bahkan, kemungkinan berkembang menjadi penyakit tidak menular, seperti diabetes dan kardiovaskular di usia yang lebih muda. Overweight dan obesitas yang dicegah sejak dini dapat mencegah munculnya penyakit-penyakit kronis yang memperpendek usia seseorang. Karena itu, pencegahan pada anak-anak perlu prioritas tinggi. Ancaman obesitas di kalangan anak-anak juga melanda Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan tahun 2007, prevalensi obesitas pada anak-anak usia 6 dan 14 tahun mencapai 9,5 persen untuk pria, sedangkan pada perempuan mencapai 6,4 persen. Kondisi ini meningkat dari tahun 1990-an yang berkisar 4 persen. Apalagi tingkat kebugaran para siswa tingkat dasar dan menengah di Indonesia ternyata amat memprihatinkan. Hal ini disebabkan kurangnya pemahaman masyarakat tentang kesehatan yang berdampak tidak terbentuknya budaya hidup sehat dan bugar di kalangan generasi muda. Hasil tes kebugaran jasmani yang dilakukan Pusat Pengembangan Kualitas Jasmani, Departemen Pendidikan Nasional, tahun 2004 pada 4.481 siswa SD, SMP, dan SMA di delapan provinsi

memperlihatkan, hanya empat siswa yang termasuk kategori baik sekali. Siswa dengan tingkat kebugaran jasmani baik hanya 7 persen di setiap tingkatan sekolah. Anak-anak balita seharusnya diberikan makanan ringan yang sehat, rendah lemak, dan dilibatkan pada aktivitas fisik bertenaga setiap hari. Waktu menonton televisi perlu dibatasi tidak lebih dari tujuh jam seminggu, sudah termasuk main game dan internet. Di usia selanjutnya, anak-anak dapat diajar memilih makanan sehat dan mengembangkan kebiasaan berolahraga secara teratur. Ketika menonton televisi harus dihindari mengunyah makanan ringan atau makanan berat. (AFP/WHO)

Berdasarkan kasus di atas, saya dapat menyimpulkan bahwa program KADARSI belum dilaksanakan secara maksimal. Indikator yang belum terpenuhi dari kasus di atas adalah memantau berat badan secara teratur. BB yang berlebih merupakan salah satu kelainan yang terjadi pada semua usia yang apabila tidak diatasi akan berdampak pada faktor resiko terjadinya penyakit-penyakit kronis. Dengan tidak terlaksananya indikator di atas maka, upaya yang dilakukan untuk mengatasi kasus adalah memberikan konseling kepada masyarakat bahwa pentingnya hidup sehat, mengukur IMT , membatasi asupan makanan ( rendah lemak), olah raga yang teratur, Orangtua mengontrol berat badan anaknya dalam level yang sehat, Ibu yang memberikan air susu ibu (ASI) dan menunda pemberian makanan padat kepada bayinya dapat mencegah terjadinya kondisi obesitas.