Anda di halaman 1dari 43

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan bagi setiap manusia, baik pendidikan formal maupun non formal. Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan merupakan bagian integral dari pendidikan secara

keseluruhan, bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, keterampilan gerak, keterampilan berfikir kritis, keterampilan sosial, penalaran, stabilitas emosional, tindakan moral, aspek pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui aktifitas jasmani, olahraga dan kesehatan terpilih yang direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan

pendidikan nasional. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan untuk Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, (Depdiknas, 2006 :513). Mata pelajaran Pendidikan

Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut : 1. Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktifitas jasmani dan olahraga yang terpilih. Meningkatkan pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih baik. Meningkatkan kemampuan dan keterampilan gerak dasar. Meletakkan dasar karakter moral yang kuat melalui internalisasi nilai-nilai yang terkandung di dalam Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan.

2. 3. 4.

5. 6. 7.

Mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggung jawab, kerjasama, percaya diri dan demokratis. Mengembangkan keterampilan untuk menjaga keselamatan diri sendiri,orang lain dan lingkungan. Memahami konsep aktifitas jasmani dan olahraga di lingkungan yang bersih sebagai informasi untuk mencapai pertumbuhan fisik yang sempurna, pola hidup sehat yang positif terampil serta memiliki sikap yang positif. Dari kutipan di atas menunjukkan bahwa salah satu tujuan Pendidikan

Jasmani, Olahraga dan Kesehatan adalah untuk meningkatkan kebugaran jasmani dan kesehatan serta daya tahan tubuh terhadap penyakit. Dengan kebugaran jasmani yang baik, siswa diharapkan memiliki tubuh yang bugar sehingga dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang lebih baik serta menjadi manusia yang unggul. Dengan adanya pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan di sekolah dapat mendorong perkembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup yang sehat bagi anak dan remaja. Kebugaran jasmani ialah kesanggupan dan kemampuan tubuh melakukan penyesuaian terhadap pembebanan fisik yang diberikan kepadanya dari kerja yang dilakukan sehari-hari tanpa menimbulkan kelelahan yang berlebihan. Kebugaran jasmani yang diperlukan oleh masing-masing individu sangat berbeda-beda dan bervariasi tergantung dari aktivitas yang dilakukan sehari-hari.

Kebugaran jasmani erat kaitannya dengan kegiatan manusia melakukan pekerjaan dan bergerak. Kebugaran jasmani yang dibutuhkan manusia untuk bergerak dan melakukan pekerjaan bagi setiap individu tidak sama, sesuai dengan gerak atau pekerjaan yang dilakukan. Kebugaran jasmani yang dibutuhkan oleh karyawan berbeda dengan anggota TNI, berbeda pula dengan penarik becak, dengan pelajar, dan sebagainya. Kebugaran jasmani yang dibutuhkan oleh seorang anak berbeda dengan yang dibutuhkan orang dewasa, bahkan kebutuhan kebugaran jasmani itu sangat individual. Bagi siswa SLTP kebugaran jasmani sangat penting untuk menjaga kondisi tubuh pada saat belajar di sekolah maupun di luar sekolah. Terkadang siswa SLTP belum mengetahui arti penting kebugaran jasmani bagi perkembangan kondisi fisiknya. Berdasarkan fakta di lapangan pada saat penulis melakukan PPL /KKN Profesi pada SMP Negeri 7 Ambon ditemui bahwa tingkat kemalasan dan ketidak seriusan siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar dikelas sangat minim. Kecenderungan untuk banyak bermain dan tidak memperhatikan pembelajaran yang diterangkan guru bahkan ada yang membolos dan bermain diluar kelas. Tindakan-tindakan yang kurang baik inilah diakibatkan karena siswa masih belum paham juga tentang bagaimana cara membentuk pola pikira yang baik dan menjaga kondisi agar tetap sehat dan bugar.

Kita tahu bahwa pada masa remaja merupakan masa dimana mereka sedang tumbuh dan berkembang. Oleh karena itu, kebugaran jasmani sangat dibutuhkan dalam proses pembentukan tubuh, pola berpikir kritis dalam menangani proses belajar mengajar, berlaku santun dan mudah bergaul. Hal berpikir kritis dalam memacu adrenalin untuk memahami tingkat kesulitan belajar juga sangat dibutuhkan karena dikendalikan oleh sensorik dan motorik yang baik. Pendidikan jasmani disekolah bermanfaat unutk (1) meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan tubuh yang meliputi kebugaran jasmani dan kesehatan, (2) meningkatkan ketangkasan dan keterampilan, (3) meningkatkan pengetahuan dan kecerdasan, (4) menambah kehidupan sosial yang kreatif dan rekreatif. Tingkat kebugaran jasmani yang prima ini akan membantu

memudahkan bagi siswa dalam mempelajari semua mata pelajaran yang ada di bangku sekolah (Purnomo, Buletin Kesjas Edisi 2/th II/1995:8). Berdasarkan uraian diatas diketahui bahwa salah satu manfaat dari pendidikan jasmani dan olahraga di sekolah adalh untuk meningkatkan

kebugaran jasmani siswa, dirasa masih belum cukup. Karena pembelajaran Penjaskesrek dilakukan 1 minggu sekali dengan jumlah alokasi waktu 2 jam pelajaran masih belum mampu untuk meningkatkan kesegaran jasmani. Oleh karena itu, perlu dilakukan aktivitas jasmani diluar jam pelajaran yang diprogram dengan benar dengan mempertimbangkan bentuk, aturan serta waktu

pelaksanaannya. Salah satu bentuk yang mudah dan menarik dan dapat diikutio oleh semua siswa adalah Tes Kesegaran Jasmani Indonesia (TKJI). Tes TKJI merupakan suatu rangkaian tes, oleh karena itu semua butir tes harus dilaksanakan secara berurutan dan tidak terputus-putus, urutan pelaksanaan lari, gantung, angkat tubuh untuk putra dan gantung siku untuk putri, baring duduk 60 detik, loncat tegak, lari 1000 meter untuk putra. Tes ini mudah digunakan karena tidak memakan waktu lama dan tidak membutuhkan peralatan laboratorium. Dengan melakukan hal ini atas dasar kesenangan, bisa membantu siswa lebih kreatif, aktif dan tidak bermals-malasan pada saat jam pembelajaran dikelas. Kesimpulan yang bisa ditarik dari penjelasan diatas adalah kebugaran jasmani merupakan kondisi yang mencerminkan kemampuan seseorang untuk melakukan tugas dengan produktif tanpa mengalami kelelahan yang berarti sehingga masih dapat melakukan kegiatan-kegiatan yang lain yang bersifat reaktif. Atas dasar inilah, penulis merasa tertantang untuk melakukan penelitian dengan judul SURVEY TINGKAT KEBUGARAN JASMANI PADA SISWA SLTP NEGERI 7 AMBON.

B.

Pembatasan Masalah Begitu beragam tingkat kebugaran jasmani yang diterapkan pada Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, maka penulis berusaha membatasi penulisan ini pada Teknik Kesegaran Jasmani Indonesia (TKJI).

C.

Rumusan Masalah Berdasarkan uraian pada latar belakang penulisan ini, penulis merumuskan masalah sebagai berikut: 1. Apakah siswa SLTP Negeri 7 Ambon memiliki kebugaran jasmani yang baik?

D.

Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk : 1. Mengetahui berapa banyak siswa SLTP Negeri 7 Ambon memiliki kebugaran jasmani yang baik.

E.

Kegunaan Penelitian Manfaat dalam penelitian ini adalah: 1. Teoritis Dapat dijadikan bahan kajian bagi penelitian selanjutnya, sehingga hasilnya lebih mendalam dan memberikan sumbangan perkembangan

pengetahuan bagi orang lain.

2. Praktis a) Memberikan gambaran bagi siswa untuk mengetahui seberapa jauh tingkat kebugaran jasmaninya, sehingga diharapkan akan lebih

meningkat kebugaran jasmaninya dengan kegiatan aktivitas yang benar. b) Memberi masukan kepada guru pendidikan jasmani agar dapat mengoptimalkan meningkatkan pembelajaran. c) Bagi peneliti dapat menunjukkan bukti secara ilmiah tentang tingkat kebugaran jasmani melalui tes kesegaran jasmani Indonesia pada siswa SLTP Negeri 7 Ambon. proses pembelajaran dalam sehingga akan setiap selalu materi

kreativitasnya

memberikan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Deskripsi Teoritis 1. Hakekat Kebugaran Jasmani Kebugaran jasmani merupakan sebuah tuntutan dalam hidup agar lebih sehat dan mampu beraktifitas secara produktif. Sebagai bagian dari program pendidikan jasmani di sekolah, pembinaan kebugaran jasmani sangat strategis, karena mendukung kapasitas belajar bagi siswa dan menggiatkan pertisipasi siwa secara menyeluruh (Rusli Lutan, 2002: 1). Kebugaran jasmani adalah kesanggupan dan kemampuan tubuh melakukan penyesuan (adaptasi) terhadap pembebasan fisik yang diberikan kepadanya (dari kerja yang dilakukan sehari-hari) tanpa menimbulkan kelelahan yang berlebihan (Muhajir 2007: 57). Setiap orang membutuhkan kebugaran jasmani yang baik, agar dapat melaksanakan pekerjaannya

dengan efektif dan efisien tanpa mengalami kelelahan yang berarti. Sukadiyanto (2007: 28) secara umum yang dimaksud kebugaran jasmani adalah kebugaran fisik (phycal fitness), yakni kemampuan seseorang melakukan kerja sehari-hari secara efisien tanpa timbul kelelahan yang berlebihan sehingga masih dapat menikmati waktu luangnya. Secara umum yang dimaksud dengan kebugaran jasmani adalah kebugaran fisik (physical fitness), yaitu kemampuan seseorang untuk melakukan kerja sehari-hari

secara efisien tanpa timbul kelelahan yang berlebihan, sehingga dapat menikmati waktu luangnya (Djoko Pekik Irianto, 2004:2). Menurut Djoko Pekik Irianto, (2004: 3) kebugaran jasmani digolongkan menjadi 3 yaitu : 1) Kebugaran statis : keadaan dimana seseorang yang bebas dari penyakit dan cacat atau disebut sehat. 2) Kebugaran dinamis : kemampuan seseorang bekerja secara efisien yang tidak memerlukan keterampilan khusus, misalnya berjalan, berlari, melompat. 3) Kebugaran motoris : kemampuan seseorang bekerja secara efisien yang menuntut keterampilan khusus. Kebugaran jasmani adalah kesanggupan dan kemampuan tubuh melakuakan penyesuaian terhadap pembebanan fisik yang diberikan kepadanya dari kerja yang dilakukan sehari-hari tanpa menimbulkan kelelahan yang berlebihan. Sedangkan menurut Nurhasan (2005: 4) kebugaran merupakan kebutuhan pokok dalam melakukan aktivitas dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang bugar berarti sehat secara dinamis. Sehat dinamis menunjang terhadap aktivitas fisik maupun pisikis. Kebugaran yang dimiliki seseorang akan memberikan pengaruh yang positif terhadap kinerja seseorang dan juga akan memberikan pengaruh yang positif terhadap produktifitas bekerja atau belajar.

Sadoso Sumosardjuno (1992: 19) menyatakan bahwa kebugaran jasmani adalah kemampuan seseorang untuk dapat melakukan tugasnya sehari-hari dengan mudah, tanpa lelah yang berlebihan dan masih mempunyai sisa cadangan tenaga untuk menikmati waktu senggangnya dan untuk keperluan-keperluan mendadak. Menurut Roji (2006:90), kesegaran jasmani (Physical Fitnes) merupakan salah satu aspek fisik dari kebugaran menyeluruh (total fitnes). Kebugaran jasmani memberikan kesanggupan kepada seseorang untuk melakukan pekerjaan sehari-hari tanpa adanya kelelahan berlebihan dan masih mempunyai cadangan tenaga untuk menikmati waktu luangnya dengan baik serta maupun melakukan pekerjaan yang mendadak. Berdasar beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa kebugaran jasmani adalah kemampuan seseorang untuk melakukan aktivitas sehari-hari tanpa merasa lelah dan masih mempunyai sisa tenaga untuk waktu senggangnya

10

2. Komponen Komponen Kebugaran Jasmani Kebugaran jasmani mencakup pengertian yang komplek. Kebugaran jasmani memiliki beberapa komponen yang saling berkaitan antara satu dengan yang lain. Namun masing-masing komponen memiliki ciri-ciri yang berfungsi pokok dalam kebugaran jasmani seseorang. Agar seseorang dikatakan kebugaran jasmaninya baik, maka status setiap komponennya harus dalam keadaan baik. Kebugaran jasmani diuraikan menjadi dua golongan yakni komponen kebugaran yang berhubungan dengan

kesehatan dan komponen yang berhubungan dengan keterampilan. Komponen kebugaran yang berkaitan dengan kesehatan antara lain : (1) Daya tahan jantung, (2) Daya tahan otot, (3) Kekuatan, (4) Kelentukan dan (5) Komposisi tubuh. 1) Menurut Djoko Pekik Irianto (2004: 4) daya tahan jantung-paru adalah kemampuan paru jantung mensuplai oksigen untuk kerja otot dalam jangka waktu lama. 2) Len Kravit (2004: 5-7) menyatakan bahwa daya tahan otot

merupakan kemampuan otot untuk melaksanakan serangkaian kerja dalam waktu lama. 3) Kekuatan adalah kemampuan sekelompok otot melawan beban dalam satu usaha, misalnya kemampuan otot lengan mengangkat kursi. 4) Kelentukan (flexibility) bergerak secara leluasa. adalah kemampuan persendian untuk

11

5) Komposisi tubuh adalah perbandingan berat tubuh berupa lemak dengan berat badan tanpa lemak yang dinyatakan dengan persentase (Rusli Lutan : 56) Menurut M. Satojo (1995:9) yang menyebutkan kebugaran jasmani yang berkaitan dengan keterampilan meliputi : (1) Kecepatan, (2) Kelincahan, (3) Koordinasi, (4) Keseimbangan dan (5) Reaksi. Dari pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kebugaran jasmani yang terkait dengan kesehatan didukung oleh empat komponen, yaitu daya tahan aerobik atau daya tahan kardiorespirsi, daya tahan otot, kekuatan otot, dan fleksibilitas. Sedangkan kebugaran jasmani yang terkait dengan ketrampilan meliputi kecepatan, kelincahan, koordinasi, keseimbangan, dan reaksi.

3. Faktor faktor yang Mempengaruhi Kebugaran Jasmani Menurut Djoko Pekik Irianto (2004: 7-10) ada beberapa hal yang

menunjang kebugaran jasmani yang meliputi tiga upaya bugar yakni : a. Makan Untuk mempertahankan hidup manusia memerlukan makan yang cukup, baik kualitas maupun kuantitas, yakni memenuhi syarat makanan sehat berimbang, cukup energi, nutrisi dan gizi bermanfaat untuk

mendapatkan kebugaran jasmani yang baik.

12

b.

Istirahat Tubuh manusia tersususn atas organ, jaringan, dan sel yang memiliki kemampuan kerja terbatas. Seseorang tidak akan mampu bekerja terus menerus sepanjang waktu tanpa berhenti. Kelelahan adalah salah tatu indicator keterbatasan fungsi tubuh manusia. Untuk itu istirahat sangat diperlukan agar tubuh memiliki kesempatan melakukan

recovery(pemulihan) sehingga dapat melakukan kerja dan aktivitas sehari-hari dengan nyaman. c. Berolahraga Berolahraga adalah salahsatu alternatif yang paling efektif dan aman untuk memperoleh kebugaran jasmani karena memiliki multi manfaat, antara lain manfaat jasmani (meningkatkan kebugaran jasmani), manfaat psikis (lebih tahan terhadap stress dan lebih mampu untuk

berkonsentrasi), dan manfaat sosial (dapat menamah rasa percaya diri, sarana berinteraksi dan bersosialisasi). Adapun manfaat lain dari latihan kebugaran jasmani adalah penambahan kekuatan dan daya tahan mampu membantu dalam melaksanakan tugas sehari-hari karena tidak lekas lelah, latihan membantu memelihara kesehatan jantung dan pembuluh darah, gerak yang baik bermanfaat bagi tubuh manusia.

13

Menurut

Djoko

Pekik

Irianto

(2004:

12

),

prinsip

latihan

kebugaran meliputi : a. Overload : Pembebanan dalam latihan harus lebih berat dibandingkan aktivitas fisik sehari-hari. b. Specifity : Model latihan yang dipilih harus disesuaikan dengan tujuan latihan yang hendak dicapai. c. Reversible : Kebugaran yang telah dicapai akan berangsur menurun bahkan hilang sama sekali, jika latihan tidak dikerjakan secara teratur dengan takaran yang tepat. Menurut Roji (2006:90) faktor-faktor yang mempengaruhi kebugaran jasmani seseorang meliputi: a. Masalah kesehatan, seperti keadaan kesehatan, penyakit menular dan menahun. b. Masalah gizi, seperti kurang protein, kalori, gizi rendah, dan gizi yang tidak memadai. c. Masalah latihan fisik, seperti usia mulai latihan, frekuensi latihan perminggu, intensitas latihan dan volume latihan. d. Masalah faktor keturunan, seperti anthropometri dan kelainan bawaan.

14

Roji

(2006:91)

menyatakan

bahwa

agar

latihan

fisik

dapat

meningkatkan kesegaran jasmani, maka perlu memperhatikan rumusan latihan sebagai berikut: a. Macam latihan Macam latihan disesuaikan dengan kebutuhan, namun untuk

mendapatkan

kebugaran

fisik

seutuhnya,

komponen-komponen

kebugaran jasmani harus dilatih secara seimbang. Juga pilihan macam latihan yang mudah dan murah, seperti joging dan jalan kaki. b. Volume latihan Untuk berlatih kesegaran jasmani bukan atlit diperlukan waktu minimal 20 menit, tidak termasuk waktu untuk pemanasan atau pendinginan. c. Frekuensi latihan Untuk mencapai kesegaran jasmani yang diinginkan, latihan

sebaiknya lebih sering dilakukan. Latihan 5 kali seminggu tentunya memberikan efek lebih baik daripada latihan 2 kali seminggunya. Untuk seorang bukan atlit, latihan 3 kali seminggu adalah cukup,

meskipun demikian latihan 4 kali atau 5 kali seminggu memberikan hasil sedikit lebih baik.

15

d.

Intensitas latihan Untuk menentukan kadar intensitas latihan, khususnya untuk

perkembangan daya tahan kardiovaskuler, dapat diterapkan Teori Katch dan Meardle. Mula-mula hitung frekuensi Denyut Nadi Maksimal (DNM) dengan rumus DNM=220-UMUR. Mengetahui kebugaran jasmani dapat dilakukan dengan melakukan tes kebugaran jasmani, adapun beberapa tes kebugaran jasmani: 1) TKJI (Tes Kesegaran Jasmani Indonesia) Tes TKJI merupakan suatu rangkaian tes, oleh karena itu semua butir tes harus dilaksanakan secara berurutan dan tidak terputus-putus, urutan palaksanaan lari, gantung angkat tubuh untuk putra dan gantung siku untuk putri, baring duduk 60 detik, loncat tegak, lari 1200 m untuk putra dan lari 1000 m untuk putri. Tes ini mudah digunakan karena tidak memakan waktu lama dan tidak membutuhkan peralatan laboratorium. (Depdiknas 2010: 4). 2) Harvard Step Tes Menurut Ismaryati (2006: 88) tujuanharvard step tes adalah untuk mengukur daya tahan kardiorepiratori. Peralatan yang digunakan untuk mengukur harvard step tes (1) stopwotch, (2) metronom, (3)

bangku setinggi 20 inci (50,8 cm). Dan caran pelaksanaan tes harvard step tes dengan (1) testi berdiri dibelakang bangku,(2) pada hitungan satu, satu kaki naik keatas bangku sampai lutut lurus, (3) hitungan dua

16

kaki yang lain naik ke atas bangku, (4) hitungan empat kaki yang lain turun, (5) tes dilaksanakan selama 5 menit, dengan kandens (empat hitungan) 30, (6) setelah melakukan tes, testi segera duduk dan dihitung denyut nadinya sesuai dengan rumus yang akan

digunakan. 3) Tes Lari 15 Menit (tes balke) Tes jalan-lari adalah salah satu tes untuk mengukur tingkat kebugaran jasmani atau juga VO
2MAX

seseorang. Tes ini tergolong mudah

pelaksanaannya karena memerlukan peralatan yang sederhana. Antara lain: (1). Lapangan atau lintasan lari yang jaraknya jelas atau tidak terlalu jauh, maksudnya adalah lintasan dapat dilihat dengan jelas oleh pengetes, (2). Penanda jarak atau bendera kecil untuk menandai jarak lintasan (3). Stopwatch atau alat pengukur waktu dalam satuan menit. Berdasarkan penjelasan diatas penulis menggunakan jenis tes

kebugaran jasmani yang pertama yaitu TKJI. Tes ini dipilih karena dapat digunakan untuk mengukur kebugaran jasmani peserta didik pada SMP Negeri 7 Ambon. Selain itu mudah dalam pelaksanaanya, tidak

membutuhkan peralatan laboraturium, dapat digunakan untuk perorangan atau kelompok besar dan tidak memakan waktu lama.

17

4. Kebugaran Jasmani Untuk Kesehatan (Tes Kesegaran Jasmani Indonesia) Adapun hal yang berkaitan dengan penulisan ini adalah menguji sejauh mana tingkat keseriusan siswa SLTP Negeri 7 dalam memahami konsep kebugaran jasmani. Dengan ini, penulis menyiapkan konsep yang dipilih sebagai fokus penelitian antara lain adalah Tes Kesegaran Jasmani Indonesia (TKJI) yang antara lain adalah: a. Lari 50 meter (speed / Kecepatan)

Tujuannya : melatih kecepatan gerakan seseorang untuk mengukur kecepatan.

Perlengkapan : Lintasan yang lurus, datar, rata, tidak licin, berjarak 40-50 meter. Bendera start, peluit, stopwatch, serbuk kapur, formulir tes, alat tulis.

18

Pelaksanaan / cara melakukannya adalah sebagai berikut : Siswa berdiri di belakang garis start dengan sikap badan tegak dan kedua kaki dibuka. Kedua tangan di samping badan dengan sikap berdiri, dengan salah satu ujung jari kakinya sedekat mungkin dengan garis start (aba-aba bersedia). Pada aba-aba siap siswa mengambil sikap start berdiri siap untuk berlari. Pada aba-aba ya siswa lari secepat mungkin menuju garis finish atau menempuh jarak 40-50 meter. Apa siswa mencuri start, atau mengganggu lintasan lain maka tes harus diulang. Pengukuran waktu dilakukan pada saat bendera di angkat (saat abaaba ya) sampai siswa dapat melintasi garis finish. Penilaian / cara penilaian Hasil yang dicatat adalah waktu yang dicapai siswa untuk menempuh jarak 40-60 meter. Angka dicatat sampai ber seratus detik bila stopwatchnya digital, bila manual sampai persepuluh detik.

19

b. Gantung sikut / Angkat Bahu 1. Gantung Sikut

Tujuannya : untuk mengukur kekuatan dan daya tahan otot lengan dan bahu. Cara melaksanakannya : Siswa berdiri di bawah palang tunggal, kedua tangan berpegangan pada palang tunggal selebar bahu, pegangan telapak tangan menghadap ke arah kepala. Dengan bantuan tolakan kedua kaki, siswa melompat ke atas sampai mencapai sikap bergantung siku tekuk, dagu berada di atas palang. Sikap tersebut dipertahankan selama mungkin.

20

Cara penilaiannya : Hasil yang dicatat adalah waktu yang dicapai siswa untuk mempertahan sikap gantung siku tekuk dicatat dalam satu detik. Siswa tidak dapat melakukan sikap tersebut maka ia dinyatakan gagal, dan diberi nilai nol.

2. Angkat Bahu

Tujuannya : untuk mengukur kekuatan dan daya tahan otot lengan dan bahu.

21

Cara melakukannya : Siswa melompat naik memegang palang tunggal dengan kedua tangan selebar bahu. Sesudah tenang maka aba-aba mulai dapat segera diberikan dan siswa mengangkat badan sehingga dagu melewati palang tunggal (kepala menghadap lurus ke depan). Selanjutnya badan diturunkan kembali sehingga kedua lengan betul-betul lurus dari badan bergantung seperti sikap semula. Gerakan ini dilakukan berulang-ulang tanpa istirahat selama 60 detik Angkatan dianggap gagal bila : ketika mengangkat badan disertai ayunan, daya tidak sampai palang, ketika kembali ke sikap permulaan kedua lengan tidak lurus c. Baring duduk ( sit up / otot perut)

22

Tujuannya : menguatkan otot perut Cara melakukannya : Mula-mula tidur terlentang, kedua lutut ditekuk, dan kedua tangan ditekukkan di belakang kepala. Kemudian badan diangkat ke atas, hingga dalam posisi duduk, kedua tangan tetap berada di belakang kepala. Gerakan ini dilakukan sebanyak-banyaknya (15-30 detik) lihat gambar 3 di bawah ini. d. Loncat tegak (otot tungkai)

Tujuannya : mengukur daya ledak (explosive power) otot tungkai dan otot perut.

23

Cara melakukannya : Siswa berdiri tegak dekat dinding, kedua kaki berada dekat papan dinding di samping tangan kiri atau kanannya. Kemudian tangan yang berada dekat dinding diangkat lurus ke atas, telapak tangan ditempelkan pada papan berskala, sehingga

meninggalkan bekas raihan jarinya. Kedua tangan lurus berada di samping badan kemudian siswa mengambil sikap awalan denan membengkokkan kedua lutut dan kedua tangan diayun ke belakang. Seterusnya siswa meloncat setinggi mungkin sambil menepuk papan berskala dengan tangan yang terdekat dengan dinding, sehingga meninggalkan bekas raihan pada paapn skala. Tdana ini

menampilkan tinggi raihan loncatan siswa tersebut e. Lari 1000 meter ( daya tahan tubuh) a. Tujuan Tes ini bertujuan untuk mengukur daya tahan jantung paru, peredaran darah dan pernafasan b. Alat dan Fasilitas 1) Lintasan lari 2) Stopwatch 3) Bendera start

24

4) Peluit 5) Tiang pancang 6) Alat tulis c. Petugas Tes 1) Petugas pemberangkatan 2) Pengukur waktu 3) Pencatat hasil 4) Pengawas dan pembantu umum d. Pelaksanaan Tes 1) Sikap permulaan Peserta berdiri di belakang garis start 2) Gerakan 3) Pada aba-aba SIAP peserta mengambil sikap berdiri, siap untuk lari

25

4) Pada aba-aba YA peserta lari semaksimal mungkin menuju garis finish

e.

Pencatatan Hasil 1. Pengambilan waktu dilakukan mulai saat bendera start diangkat sampai peserta tepat Melintasi garis finish a. Hasil dicatat dalam satuan menit dan detik. Contoh : 3 menit 12 detik maka ditulis 3 12

5. Tabel TKJI

Tabel 2.1. Nilai TKJI (Untuk Putra Usia 13 -15 Tahun) Nilai 5 4 3 2 1 Lari 50 meter S.d 6,7 6.8 7,6 7,7 8,7 8,8 10,3 10,4- dst Gantung angkat tubuh 16 - Keatas 11 15 6 10 25 01 Baring duduk 38 Keatas 28 37 19 27 8 18 07 Loncat tegak 66 Keatas 53 65 42 52 31 41 0 - 30 Lari 1000 meter s.d 304 305 353 354 446 447 604 605 - dst Nilai 5 4 3 2 1

26

Tabel 2.2. Nilai TKJI (Untuk Putri Usia 13 -15 Tahun) Nilai 5 4 3 2 1 Lari 50 meter S.d 7.7 7.8 8,7 8,8 9,9 10,0 11,9 12,0- dst Gantung Siku Tekuk 41 - Keatas 22 40 10 21 3 9 0 2 Baring duduk 28 Keatas 19 27 9 18 38 02 Loncat tegak 50 Keatas 39 49 30 38 21 29 0 - 20 Lari 800 meter s.d 306 307 355 356 458 459 640 641 - dst Nilai 5 4 3 2 1

Diambil dari : Handout Tes dan Pengukuran Penjas Visit : www.kunjungashadi.wordpress.com ~ email : kunjungashadi@yahoo.co.id

6. Norma TKJI Hasil setiap butir tes yang telah dicapai oleh peserta dapat disebut sebagai hasil kasar. Mengapa disebut hasil kasar ? Hal ini disebabkan satuan ukuran yang digunakan untuk masing-masing butir tes berbeda, yang meliputi satuan waktu, ulangan gerak, dan ukuran tinggi. Untuk mendapatkan hasil akhir, maka perlu diganti dalam satuan yang sama yaitu NILAI. Setelah hasil kasar setiap tes diubah menjadi satuan nilai, maka dilanjutkan dengan menjumlahkan nilai-nilai dari kelima butir TKJI. Hasil penjumlahan tersebut digunakan untuk dasar penentuan klasifikasi kesegaran jasmani remaja.

27

NORMA TES KESEGARAN JASMANI INDONESIA (Untuk Putera dan puteri) No 1. 2. 3. 4. 5. Jumlah nilai 22 25 18 21 14 17 10 13 59 Klasifikasi Kesegaran Jasmani Baik sekali ( BS ) Baik (B) Sedang (S) Kurang (K) Kurang sekali ( KS )

7. Karakteristik Siswa SLTP Selama di SMP/MTs, seluruh aspek perkembangan manusia yaitu psikomotor, kognitif, dan efektif mengalami perubahan yang luar biasa. Siswa SMP/MTs mengalami masa remaja, satu periode perkembangan sebagai transisi dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Masa remaja dan perubahan yang menyertainya merupakan fenomena yang harus dihadapi oleh guru. 1) Perkembangan aspek psikomotorik Wuest dan Lombardo (1974) menyatakan bahwa perkembangan aspek psikomotor seusia siswa SMP/MTs ditandai dengan perubahan jasmani dan fisiologis secara luar biasa. Salah satu perubahan luar biasa tersebut adalah pertumbuhan tinggi badan dan berat badan. 2) Perkembangan aspek kognitif Arasoo T.V (1986) menyatakan bahwa aspek kognitif meliputi fungsi intelektual, seperti pemahaman, pengetahuan, dan keterampilan berpikir. Untuk siswa SMP/MTs perkembangan kognitif utama yang

28

dialami adalah formal operasional yang mampu berfikir abstrak dengan menggunakan simbol-simbol tertentu. Selain itu ada

peningkatan fungsi intelektual, kapabilitas memori dan bahasa, dan perkembangan konseptual. 3) Perkembangan aspek afektif Menurut Arasoo T.V (1986), ranah afektif menyangkut perasaan, moral dan emosi. Perkembangan afektif siswa SMP/MTs mencakup proses belajar perilaku dengan orang lain atau sosialisasi. Sebagian besar sosialisasi berlangsung lewat pemodelan dan peniruan orang lain. 4) Model Pembelajaran dengan Pendekatan Bermain Pendekatan bermain adalah salah satu bentuk dari sebuah

pembelajaran jasmani yang dapat diberikan di segala jenjang pendidikan. Hanya saja, porsi dan bentuk pendekatan bermain yang akan diberikan, harus disesuaikan dengan aspek yang ada dalam kurikulum. Selain itu harus dipertimbangkan juga faktor usia, perkembangan fisik, dan jenjang pendidikan yang sedang dijalani oleh mereka. Model pembelajaran dengan pendekatan bermain erat kaitannya dengan perkembangan imajinasi perilaku yang sedang bermain, karena melalui daya imajinasi, maka permainan yang akan berlangsung akan jauh lebih meriah. Oleh karena itu sebelum melakukan kegiatan, maka guru pendidikan jasmani, sebaiknya

29

memberikan penjelasan terlebih dahulu kepada siswanya majinasi tentang permainan yang akan dilakukannya. 5) Kebugaran Jasmani Sadoso (1989 : 9) Kesegaran jasmani adalah keadaan atau kemampuan seseorang untuk melakukan aktivitas atau tugas-tugasnya sehari-hari dengan mudah tanpa mengalami kelelahan yang berarti dan masih mempunyai siswa atau cadangan tenaga untuk menikmati waktu senggangnya untuk keperluan-keperluan lainnya. Komponen atau faktor kesegaran jasmani dan komponen kesegaran motorik merupakan satu kesatuan utuh dari komponen kondisi fisik. Agar seseorang dapat dikategorikan kondisi fisiknya baik, maka status komponen-komponennya harus berada dalam kondisi baik pula. Adapun komponen atau faktor jasmani adalah : kekuatan, daya tahan kelenturan.

30

B. Kerangka Berpikir Kebugaran jasmani adalah kesanggupan dan kemampuan tubuh melakukan penyesuaian (adaptasi) terhadap pembebanan fisik yang diberikan kepadanya (dari kerja yang dilakukan sehari-hari) tanpa menimbulkan kelelahan yang berlebihan. Tidak menimbulkan kelelahan yang belebihan maksudnya ialah setelah seseorang melakukan suatu kegiatan / aktivitas, masih mempunyai cukup semangat dan tenaga untuk menikmati waktu senggangnya dan untuk keperluankeperluan lainnya yang mendadak. Latihan kondisi fisik (Physical Conditioning) memegang peranan yang sangat penting untuk mempertahankan atau meningkatkan derajat kebugaran jasmani (Physical Fitness). Proses latihan kondisi fisik yang dilakukan secara cermat, berulang-ulang dari hari ke hari meningkatkan beban latihannya, kemungkinan kebugaran jasmani seseorang semakin meningkat. Hal ini akan menyebabkan seseorang menjadi terammpil, kuat dan efisien dalam gerakannya. Salah satu contohnya adalah Tes Kesegaran Jasmani Indonesia (TKJI). Tes kebugaran Jasmani Indonesia yang dilakukan untuk anak diusia 12 16 tahun sangat membantu mereka menjadi lebih bugar dan kreatif, berpikir cerdas dan selalu memberikan sumbangan pemikiran yang berarti dalam membantu proses belajar mereka di kelas.

31

Anak terlihat lebih ceria, bersemangat, memiliki pemikiran yang cemerlang dikarenakan implus saraf mereka dipicu oleh adrenalin yang seimbang. Kecakapan dan kecerdasan siswa disebabkan kebugaran jasmani mereka cukup memberikan peluang bagi mereka untuk tetap berkreasi demi masa depan mereka. Beberapa Tes Kesegaran Jasmani Indonesia yang dipraktekan untuk kebugaran jasmani antara lain adalah lari, angkat bahu, baring duduk, loncat tegak dan lari 1000 meter. Dapat dilakukan siswa tanpa membutuhkan peralatan laboratorium dan tidak menyita waktu mereka. Dengan melakukan kegiatan diatas secara rutin dapat menjamin siswa bisa berkompetisi dan berpikir cerdas dalam dunia pendidikan yang digeluti.

32

BAB III METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian Rancangan penelitian ini menggunakan rancangan survey dengan teknik evaluative untuk mengevaluasi tingkat kebugaran jasmani siswa SMP Negeri 7 Ambon.

B. Variabel Penelitian Dalam penelitian ini terdapat variabel tunggal. Dimana fokus penelitian ini pada tingkat kebugaran siswa SLTP Negeri 7 Ambon dengan indikator adalah: 1. 2. 3. 4. 5. Lari 50 meter (speed/kecepatan) Gantung siku / angkat bahu Baring duduk (sit up / otot perut) Loncat tegak (otot tungkai) Lari 1000 meter (daya tahan)

C. Populasi dan Sampel 1. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa putra yang masih duduk pada kelas VIII SMP Negeri 7 Ambon yang berjumlah 240 orang

33

2. Sampel Teknik penaraikan sampel menggunakan random sampling sebanyak 60 siswa. Teknik pengambilan secara random yaitu: kertas undi dibuat sebanyak populasi yang ada (240 siswa). Untuk 240 kertas undi yang disaji, hanya 60 kertas yang dibubuhi angka yang dimulai dari angka 1 sampai 60 sementara 180 kertas undi lainnya adalah undian kosong tak bernomor. Siswa pria diwajibkan mengambil salah satu kertas undi. Siswa yang berhak dijadikan sampel adalah mereka yang mendapatkan kertas undian bernomor tersebut. dari situlah peneliti mendapatkan 60 sampel dari populasi yang ada.

D. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian yang digunakan adalah tes kebugaran jasmani yang berkaitan dengan kesehatan. Dalam penelitian ini, pebeliti hanya berfokus pada Tes Kesegaran Jasmani Indonesia (TKJI 2010).

E. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dilakukan melalui langkah-langkah sebagi berikut:

34

1.

Lari 50 Meter a. Tujuan Tes ini bertujuan untuk mengukur kecepatan b. Alat dan Fasilitas Lintasan lurus, rata, tidak licin, mempunyai lintasan lanjutan, berjarak 50 meter Bendera start Peluit Tiang pancang Stop watch Serbuk kapur Formulir TKJI Alat tulis c. Petugas Tes Petugas pemberangkatan Pengukur waktu merangkap pencatat hasil tes d. Pelaksanaan 1) Sikap permulaaan Peserta berdiri dibelakang garis start

35

2) Gerakan Pada aba-aba SIAP peserta mengambil sikap start berdiri, siap untuk lari Pada aba- aba YA peserta lari secepat mungkin menuju garis finish 3) Lari masih bisa diulang apabila peserta : a. Mencuri start b. Tidak melewati garis finish c. Terganggu oleh pelari lainnya d. Jatuh / terpeleset 4) Pengukuran waktu a. Pengukuran waktu dilakukan dari saat bendera start diangkat sampai pelari melintasi garis b. Finish e. Pencatat hasil Hasil yang dicatat adalah waktu yang dicapai oleh pelari untuk menempuh jarak 50 meter dalam satuan detik Waktu dicatat satu angka dibelakang koma

36

2.

Tes Gantung Angkat Tubuh untuk Putra a. Pelaksanaan Tes Gantung Angkat Tubuh 60 detik (Untuk Putra) 1) Sikap permulaan Peserta berdiri di bawah palang tunggal. Kedua tangan berpegangan pada palang tunggai selebar bahu. Pegangan telapak tangan menghadap ke arah letak kepala 2) Gerakan (Untuk Putra) Mengangkat tubuh dengan membengkokkan kedua lengan, sehingga dagu menyentuh atau berada di atas palang tunggal (lihat gambar 4) kemudian kembali k sikap permulaan. Gerakan ini dihitung satu kali. Selama melakukan gerakan, mulai dan kepala sampai ujung kaki tetp merupakan satu garis lurus. Gerakan ini dilakukan berulang-ulang, tanpa istirahat sebanyak mungkin selama 60 detik. 3) Angkatan dianggap gagal dan tidak dihitung apabila: a) pada waktu mengangkat badan, peserta melakukan gerakan mengayun pada waktu mengangkat badan, dagu tidak enyentuh palang tunggal b) pada waktu kembali ke sikap permulaan kedua lengan tidak lurus

37

b.

Pencatatan Hasil Yang dihitung adalah angkatan yang dilakukan dengan sempurna. Yang dicatat adaiah jumlah (frekuensi) angkatan yang dapat dilakukan dengan sikap Sempurna tanpa istirahat selama 60 detik. Peserta yang tidak mampu melakukan tes angkatan tubuh ini, walaupun teiah berusaha, Diberi nilai nol (0).

3.

Tes Baring Duduk (Sit Up) Selama 60 detik a. Tujuan Mengukur kekuatan dan ketahanan otot perut. b. Alat dan fasilitas Lantai / lapangan yang rata dan bersih Stopwatch Alat tulis Alas / tikar / matras dll c. Petugas tes Pengamat waktu Penghitung gerakan merangkap pencatat hasil

38

d.

Pelaksanaan 1. Sikap permulaan a) Berbaring telentang di lantai, kedua lutut ditekuk dengan sudut 90 dengan kedua jari-jarinya diletakkan di belakang kepala. b) Peserta lain menekan / memegang kedua pergelangan kaki agar kaki tidak terangkat. 2. Gerakan Gerakan aba-aba YA peserta bergerak mengambil sikap duduk sampai kedua sikunya menyentuh paha, kemudian kembali ke sikap awal. Lakukan gerakan ini berulang-ulang tanpa henti selama 60 detik

e.

Pencatatan Hasil Gerakan tes tidak dihitung apabila : 1. Pegangan tangan terlepas sehingga kedua tangan tidak terjalin lagi 2. Kedua siku tidak sampai menyentuh paha 3. Menggunakan sikunya untuk membantu menolak tubuh Hasil yang dihitung dan dicatat adalah gerakan tes yang dapat dilakukan dengan sempurna selama 60 detik Peserta yang tidak mampu melakukan tes ini diberi nilai nol (0)

39

4.

Tes Loncat Tegak (Vertical Jump) a. Tujuan Tes ini bertujuan untuk mengukur daya ledak / tenaga eksplosif b. Alat dan Fasilitas Papan berskala centimeter, warna gelap, ukuran 30 x 150 cm, dipasang pada dinding yang rata atau tiang. Jarak antara lantai dengan angka nol (0) pada papan tes adalah 150 cm. Serbuk kapur Alat penghapus papan tulis Alat tulis c. Petugas Tes Pengamat dan pencatat hasil d. Pelaksanaan Tes 1. Sikap permulaan a. Terlebih dulu ujung jari peserta diolesi dengan serbuk kapur / magnesium karbonat b. Peserta berdiri tegak dekat dinding, kaki rapat, papan skala berada pada sisi kanan / kiri badan peserta. Angkat tangan yang dekat dinding lurus ke atas, telapak tangan ditempelkan pada papan skala hingga meninggalkan bekas jari.

40

2. Gerakan Peserta mengambil awalan dengan sikap menekukkan lutut dan kedua lengan diayun ke belakang Kemudian peserta meloncat setinggi mungkin sambil menepuk papan dengan tangan yang terdekat sehingga menimbulkan bekas Lakukan tes ini sebanyak tiga (3) kali tanpa istirahat atau boleh diselingi peserta lain e. Pencatatan Hasil Selisih raihan loncatan dikurangi raihan tegak Ketiga selisih hasil tes dicatat Masukkan hasil selisih yang paling besar

5.

Tes Lari 1000 meter (13-15 Tahun) Untuk Putra a. Tujuan Tes ini bertujuan untuk mengukur daya tahan jantung paru, peredaran darah dan pernafasan b. Alat dan Fasilitas Lintasan lari Stopwatch Bendera start Peluit

41

Tiang pancang Alat tulis c. Petugas Tes Petugas pemberangkatan Pengukur waktu Pencatat hasil Pengawas dan pembantu umum

d. Pelaksanaan Tes 1) Sikap permulaan Peserta berdiri di belakang garis start 2) Gerakan Pada aba-aba SIAP peserta mengambil sikap berdiri, siap untuk lari Pada aba-aba YA peserta lari semaksimal mungkin menuju garis finish e. Pencatatan Hasil Pengambilan waktu dilakukan mulai saat bendera start diangkat sampai peserta tepat Melintasi garis finish Hasil dicatat dalam satuan menit dan detik. Contoh : 3 menit 12 detik ditulis 3 12

42

F. Teknik Analisa Data Teknik analisa data menggunakan tekknik analisa deskriptif yaitu:

Keterangan: f N P : frekuensi yang sedang dicari presentasenya : jumlah frekuensi atau banyak individu : angka presentase

43

Anda mungkin juga menyukai