Anda di halaman 1dari 6

BAB II ISI

Manusia adalah mahluk sosio-budaya yang memperoleh perilakunya lewat belajar. Apa yang kita pelajari pada umumnya dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan sosial dan budaya. Dari semua aspek belajar manusia, komunuikasi merupakan aspek yang terpenting dan paling mendasar. Kita belajar banyak hal lewat respons-respons komunikasi terhadap rangsangan dari lingkungan. Kita harus menyandi dan menyandi balik pesan-pesan dengan cara itu sehingga pesan-pesan tersebut akan dikenali, diterima, dan direspons oleh individuindividu yang berinteraksi dengan kita. Bila dilakukan, kegiatan-kegiatan komunikasi berfungsi sebagai alat untuk menafsirkan lingkungan fisik dan sosial kita. Komunikasi merupakan alat utama kita untuk memanfaatkan berbagai sumber daya lingkungan dalam pelayanan kemanusiaan. Lewat komunikasi kita menyesuaikan diri dan berhubungan dengan lingkungan kita, serta mendapatkan keanggotaan dan rasa memiliki daam berbagai kelompok sosial yang mempengaruhi kita. Komunikasi .... adalah pembawa proses sosial. Ia adalah alat yang manusia miliki untuk mengatur, menstabilkan, dan memodifikasi kehidupan sosialnya .... Proses sosial bergantung pada penghimpunan, pertukaran, dan penyampaian pengetahuan. Pada gilirannya pengetahuan bergantung pada komunikasi (Peterson, Jensen, dan Rivers, 1965 : 16) Dalam konteks yang luas ini, kita dapat merumuskan budaya sebagai paduan polapola yang merefleksikan respons-respons komunikatif terhadap rangsangan dari lingkungan. Pola-pola budaya ini pada gilirannya merefleksikan elemen-elemen yang sama dalam perilaku komunikasi individual yang dilakukan mereka yang lahir dan diasuh dalam budaya itu. Le Vine (1973) menyatakan pikiran ini ketika ia mendefinisikan budaya sebagai seperangkat aturan terorganisasikan mengenai cara-cara yang dilakukan individu-individu dalam masyarakat berkomunikasi satu sama lain dan cara mereka berpikir tentang diri mereka dan lingkungan mereka. Proses yang dilalui individu-individu untuk memperoleh aturan-aturan (budaya) komunikasi dimulai pada masa awal kehidupan. Melalui proses sosialisasi dan pendidikan, pola-pola budaya ditanamkan ke dalam sistem saraf dan menjadi bagian kepribadian dan

perilaku kita (Adler, 1976). Proses belajar yang terinternalisasikan ini memungkinkan kita untuk berinteraksi dengan anggota-anggota budaya lainnya yang juga memiliki pola-pola komunikasi serupa. Proses memperoleh pola-pola demikian oleh individu-individu itu disebut enkulturasi (Herskovits, 1996 : 24) atau istilah-istilah serupa lainnya seperti pelaziman budaya (cultural conditioning) dan pemrograman budaya (cultural programming). Lalu apa yang akan terjadi bila seseorang yang lahir dan terenkulturasi dalam suatu budaya tertentu memasuki suatu budaya lain sebagai seorang imigran atau pengungsi untuk selamanya? Tidak seperti para pengunjung sementara, imigran ini akan perlu membangun suatu hidup baru dan menjadi anggota masyarakat pribumi. Kehidupan secara fungsional akan bergantung pada masyarakat pribumi; tidak akan mudah baginya untuk menjadi seorang pengamat dalam masyarakat tersebut. Banyak tata cara komunikasi yang telah diperoleh imigran sejak masa kanak-kanaknya yang mungkin tak berfungsi lagi dalam lingkungan yang barunya. Transaksi-transaksi dalam kehidupan sehari-hari saja membutuhkan kemampuan berkomunikasi yang menggunakan lambang-lambang dan aturan-aturan yang ada dalam sistem komunikasi masyarakat pribumi. Tidaklah mudah memahami perilaku-perilaku kehidupan yang sering tak diharapkan dan tak diketahui bagi banyak orang pribumi, apalagi bagi para imigran. Sebagai anggota baru dalam budaya pribumi, imigran harus menghadapi banyak aspek kehidupan yang asing. Asumsi-asumsi budaya tersembunyi dan respons-respons yang telah terkondisikan menyebabkan banyak kesulitan kognitif, afektif, dan perilaku dalam penyesuaian diri dengan budaya yang baru. Seperti yang Schutz (1960 : 108) kemukakan, Bagi orang asing, pol a budaya kelompok yang dimasukinya bukanlah merupakan tempat berteduh tapi merupakan suatu arena petualangan, bukan merupakan hal yang lazim tapi suatu topik penyelidikan yang meragukan, bukan suatu alat untuk lepas dari situasi-situasi problematik tapi merupakan suatu situasi problematik tersendiri yang sulit dikuasai. Meskipun demikian hubungan antara budaya dan individu, seperti yang terlihat pada proses enkulturasi, membangkitkan kemampuan manusia yang besar untuk menyesuaikan dirinya dengan keadaan. Secara bertahap imigran belajar menciptakan situasi-situasi dan relasi-relasi yang tepat dalam masyarakat pribumi sejalan dengan berbagai transaksinya yang ia lakukan dengan orang lain. Pada saatnya, imigran akan menggunakan cara-cara berperilaku masyarakat pribumi untuk menyesuaikan diri dengan pola-pola yang diterima masyarakat setempat; penyesuaian diri yang ia lakuakn dengan lebih teliti. Perubahan-perubahan perilaku

juga terjadi ketika seorang imigran menyimpang dari pola-pola budaya lama yang dianutnya dan menggganti pola-pola lama tersebut dengan pola-pola baru dalam budaya pribumi. Proses enkulturasi kedua yang terjadi pada imigran ini biasanya disebut akulturasi (acculturation). Akulturasi merupakan suatu proses yang dilakukan imigran untuk menyesuaikan diri dengan dan memperoleh budaya pribumi, yang akhirnya mengarah kepada asimilasi. Asimilasi merupakan derajat tertinggi akulturasi yang secara teoritis mungkin terjadi. Bagi kebanyakan imigran, asimilasi mungkin merupakan tujuan sepanjang hidup. Pada akhirnya, bukan hanya sistem sosio-budaya imigran, tapi juga sistem sosiobudaya pribumi yang mengalami perubahan sebagai akibat kontak antarbudaya yang lama. Namun dampak budaya imigran atas budaya pribumi relatif tak berarti dibandingkan dengan dampak budaya pribumi atas budaya imigran. Jelas, suatu faktor yang berpengaruh atas perubahan yang terjadi pada diri imigran itu adalah perbedaan antara jumlah individu dalam lingkungan baru yang berbagi kebudayaan asli imigran dan besarnya masyarakat pribumi. Juga kekuatan dominan masyarakat pribumi dalam mengontrol berbagai sumber dayanya mengakibatkan lebih banyak dampak pada kelanjutan dan perubahan budaya imigran. Oleh karena itu, kebutuhan imigran untuk beradaptasi dengan sistem sosio-budaya pribumi akan lebih besar daripada kebutuhan masyarakat pribumi untuk memasukkan unsur-unsur budaya imigran ke dalam budaya mereka. Proses komunikasi mendasari proses akulturasi seorang imigran. Akulturasi terjadi melalui identifikasi dan internalisasi lambang-lambang masyarakat pribumi yang signifikan. Sebagaimana orang-orang pribumi memperoleh pola-pola budaya pribumi lewat komunikasi. Seorang imigran akan mengatur dirinya untuk mengetahui dan diketahui dalam berhubungan dengan orang lain. Dan itu dilakukannya lewat komunikasi. Proses trial and eror selama akulturasi sering mengecewakan dan menyakitkan. Dalam banyak kasus, bahasa asli imigran sangat berbeda dengan bahasa asli masyarakat pribumi. Masalah-masalah komunikasi lainnya meliputi masalah komunikasi nonverbal, seperti perbedaan-perbedaan dalam penggunaan dan pengaturan ruang, jarak antarpribadi, ekspresi wajah, gerak mata, gerak tubuh lainnya, dan persepsi tentang penting tidaknya perilaku nonverbal. Bahkan bila seorang imigran dapat menggunakan pola-pola komunikasi verbal dan nonverbal secara memuaskan, ia mungkin masih akan mengalami sedikit kesulitan dalam mengenal dan merespon aturan-aturan komunikasi bersama dalam budaya yang ia masuki itu.

Imigran sering tidak sadar akan dimensi-dimensi budaya pribumi yang tersembunyi yang mempengaruhi apa yang dipersepsikan dan bagaimana mempersepsi, bagaimana menafsirkan pesan-pesan yang diamati, dan bagaimana mengekspresika pikiran dan perasaan secara tepat dalam konteks relasional dan keadaan yang berlainan. Perbedaan-perbedaan lintas budaya dalam aspek-aspek dasar komunikasi ini sulit diidentifikasi dan jarang dibicarakan secara terbuka. Perbedaan-perbedaan tersebut sering merintangi timbulnya saling pengertian antara para imigran dan anggota-anggota masyarakat pribumi.

1. Variabel-variabel Komunikasi dalam Akulturasi Salah satu kerangka konseptual yang paling komprehensif dan bermanfaat dalam menganalisis akulturasi seorang imigran dari perspektif komunikasi terdapat pada perspektif sistem yang dielaborasi oleh Ruben (1975). Dalam perspektif sistem, unsur dasar suatu sistem komunikasi manusia teramati ketika orang secara aktif sedang berkomunikasi, berusaha untuk, dan mengharapkan berkomunikasi dengan lingkungan. Sebagai suaru sistem komunikasi terbuka, seseorang berinteraksi dengan lingkungan melalui dua proses yang saling berhubungan, yakni komunikasi pesona dan komunikasi sosial. a. Komunikasi persona Komunikasi persona (atau intrapersona) mengacu kepada proses-proses mental yang dilakukan orang untuk mengatur dirinya sendiri dalam dan dengan lingkungan sosio-budayanya, mengembangkan cara-cara melihat, mendengar, memahami, dan merespons lingkungan. Komunikasi pesona dapat dianggap sebagai merasakan, memahami, dan berperilaku terhadap objek-objek dan orangorang dalam suatu lingkungan. Ia adalah proses yang dilakukan individu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya (Ruben, 1975 : 168-169). Dalam konteks akulturasi, komunikasi persona seorang imigran dapat dianggap sebagai pengaturan pengalaman-pengalaman akulturasi ke dalam sejumlah pola respons kognitif dan afektif yang dapat diidentifikasi dan yang konsisten dengan budaya pribumi atau yang secara potensial memudahkan aspek-aspek akulturasi lainnya. Salah satu variabel komunikasi persona terpenting dalam akulturasi adalah kompleksitas struktur kognitif imigran dalam mempersepsi lingkungan pribumi. Selama fase-fase awal akulturasi, persepsi seorang imigran atas lingkungan

pribuminya relatif sederhan; persepsi imigran atas lingkungannya yang asing itu menunjukkan stereotip-stereotip kasar. Namun setelah imigran mengetahui budaya pribumi lebih jauh, persepsinya menjadi lebih halus dan kompleks,

memungkinkannya menemukan banyak variasi dalam lingkungan pribumi. Faktor yang erat berhubungan dengan kompleksitas kognitif adalah pengetahuan imigran tentang pola-pola dan aturan-aturan sistem komunikasi pribumi. Bukti empiris yang memadai menunjang fungsi penting pengetahuan tersebut (terutama pengetahuan tentang bahasa pribumi) dalam memudahkan aspekaspek akulturasi lainnya. Fungsi pengetahuan tentang sistem komunikasi pribumi terbukti penting dalam meningkatkan partisipan seorang imigran dalam jaringanjaringan komunikasi antarpesona dan komunikasi massa yang terdapat pada masyarakat pribumi (Breton, 1964; Chance, 1965; Richmond, 1967; Kim, 1970, 1980). Suatu variabel komunikasi persona lainnya dalam akulturasi adalah citra diri (self image) imigran yang berkaitan dengan citra-citra imigran tentang

lingkungannya. Citra diri imigran yang berhubungan dengan citra-citranya tentang masyarakat pribumi dan budaya aslinya, misalnya memberikan informasi berharga tentang realitas akulturasinya yang subjektif. Perasaan terasing, rendah diri, dan masalah-masalah psikologis lainnya yang diderita imigran cenderung berkaitan dengan jarak perseptual yang lebih besar antara diri dan anggota-anggota masyarakat pribumi (Kim, 1980). Juga, motivasi akulturasi seorang imigran terbukti fungsional dalam memudahkan proses akulturasi. Motivasi akulturasi mengacu kepada kemauan imigran untuk belajar tentang, berpartisipasi dalam, dan diarahkan menuju/sistem sosio-budaya pribumi. Orientasi positif yang dilakukan imigran terhadap lingkungan baru biasanya meningkatkan partisipasi dalam jaringan-jaringan komunikasi masyarakat pribumi (Kim, 1977).

b. Komunikasi sosial Komunikasi persona berkaitan dengan komunikasi sosial ketika dua atau lebih individu berinteraksi, sengaja atau tidak. komunikasi adalah suatu proses yang mendasari intersubjektivitas, suatu fenomena yang terjadi sebagai akibat simbolisasi publik dan penggunaan serta penyebaran simbol (Ruben, 1975 : 171). Melalui komunikasi sosial individu-individu menyetel perasaan-perasaan, pikiran-pikiran,

dan perilaku-perilaku antara yang satu dengan yang lainnya. Komunikasi sosial dapat dikatagorikan lebih jauh ke dalam komunikasi antarpersona dan komunikasi massa. Komunikasi antarpersona terjadi melalui hubungan-hubungan antarpersona, sedangkan komunikasi massa adalah suatu proses komunikasi sosial yang lebih umum, yang dilakukan individu-individu untuk berinteraksi dengan lingkungan sosio-budayanya, tanpa terlihat dalam hubungan-hubungan antarpersona dengan individu-individu tertentu. Pengalaman-pengalaman komunikasi individu melalui media seperti radio, televisi, surat kabar, majalah, film, teater, dan bentuk-bentuk komunikasi serupa, dapat termasuk ke dalam kategori ini. Komunikasi antarpersona