Anda di halaman 1dari 8

X. ANALISIS SUBSISTEM TEGAL A. Pendahuluan 1.

Latar Belakang Agroekosistem secara teoritis telah dipahami, namun perlu pemahaman lebih dalam bagaimana hubungan antara subsistem dengan agroekosistem. Di alam jarang sekali ditemukan kehidupan yang secara individu terisolasi, biasanya suatu kehidupan lebih suka mengelompok atau membentuk koloni. Di dalam komunitas percampuran jenis-jenis tidak demikian saja terjadi, melainkan setiap spesies menempati ruang tertentu sebagai kelompok yang saling mengatur di antara mereka. Ada beberapa tipe agroekosistem yang dipelajari seperti: sub sistem sawah, sub sistem pekarangan, sub sistem tegal, sub sistem talun dan sub sistem perkebunan. Tiap-tiap subsistem membutuhkan kajian yang berbeda untuk

mengetahui diversitas yang ada di dalamnya dan bagaimana stabilitas setiap subsistem tersebut. Tiap-tiap subsistem pun memiliki siklus energi yang berbeda. Di dalam ekosistem ada aliran energi satu arah dari sinar matahari, ada input bahan atau material dan hara atau nutrisi lain, energi keluar sistem berupa panas dan juga bahan yang di keluarkan di dalam sistem ada kontrol umpan balik atau feedback energi, sehingga dalam aliran energi tersebut akan membentuk sutu siklus yang berkelanjutan, setiap siklus akan berjalan dan membentuk suatu kesimbangan. Oleh karena itu pengamatan akan pengolahan subsistem diperlukan untuk mengetahui bagaimana perkembangan subsistem selanjutnya 2. Tujuan Praktikum Praktikum Analisis Subsistem Tegal/talun bertujuan untuk: a. Memperkenalkan mahasiswa dengan subsistem tegal untuk

kepentingan produksi pertanian. b. Meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang perlunya pengolahan subsistem tegal dengan memperhitungkan kaidah-kaidah lingkungan.

c. Meningkatkan kecerdasan mahasiswa dengan kesadaran dan fikiran logis dari apa yang mereka lihat di lapangan degan teori dan kajian yang selama ini diperoleh di kelas saat tatap muka. d. Mengenal perbedaan antara subsistem. B. Tinjauan Pustaka Penanaman berbagai macam pohon dengan atau tanpa tanaman setahun (semusim) pada lahan yang sama sudah sejak lama dilakukan petani di Indonesia. Contoh ini dapat dilihat dengan mudah pada lahan pekarangan di sekitar tempat tinggal petani. Praktek ini semakin meluas belakangan ini, khususnya di daerah pinggiran hutan dikarenakan ketersediaan lahan yang semakin terbatas. Konversi hutan alam menjadi lahan pertanian disadari menimbulkan banyak masalah seperti penurunan kesuburan tanah, erosi, kepunahan flora dan fauna, banjir, kekeringan dan bahkan perubahan lingkungan global. Masalah ini bertambah berat dari waktu ke waktu sejalan dengan meningkatnya luas areal hutan yang dikonversi menjadi lahan usaha lain. Maka lahirlah agroforestri sebagai suatu cabang ilmu pengetahuan baru di bidang pertanian atau kehutanan. Ilmu ini berupaya mengenali dan mengembangkan keberadaan sistem agroforestri yang telah dikembangkan petani di daerah beriklim tropis maupun beriklim subtropis sejak berabadabad yang lalu. Agroforestri merupakan gabungan ilmu kehutanan dengan agronomi, yang memadukan usaha kehutanan dengan pembangunan pedesaan untuk menciptakan keselarasan antara intensifikasi pertanian dan pelestarian hutan (Michon 2009). Lapangan produksi ada bermacam macam antara lain adalah lahan terbuka yang terdiri dari sub sistem antara lain sawah, tegalan, kebun buah, dan kebun sayur. Sawah terdiri dari beberapa macam antara lain adalah sawah berpengairan teknis, setengah teknis dan tadah hujan. Perbedaan antara sawah dan tegalan adalah di lahan sawah terdapat pematang, tapi di tegalan tidak ditemukan (Supriyono 2002). Tegalan adalah lahan kering yang ditanami dengan tanaman musiman atau tahunan, seperti padi ladang, palawija, dan holtikultura. Tegalan letaknya

terpisah dengan halaman sekitar rumah. Tegalan sangat tergantung pada turunnya air hujan. Tegalan biasanya diusahakan pada daerah yang belum mengenal sistem irigasi atau daerah yang tidak memungkinkan dibangun saluran irigasi. Permukaan tanah tegalan tidak selalu datar. Pada musim kemarau, keadaan tanahnya terlalu kering sehingga tidak ditanami. Tanaman utama di lahan tegalan adalah jagung, ketela pohon, kedelai, kacang tanah, dan jenis kacang-kacangan untuk sayur. Tanaman padi yang ditanam pada tegalan hanya panen sekali dalam satu tahun dan disebut padi gogo. Selain itu tanah tegalan dapat ditanami kelapa, buah-buahan, bambu, dan pohon untuk kayu bakar. Cara bertani di lahan tegalan menggunakan sistem tumpangsari, yaitu dalam sebidang lahan pertanian ditanami bermacam-macam tanaman (Anonim 2009). Tegal adalah suatu lahan yang kering (dry farming) tanpa adanya pengairan. Pertanian tegalan adalah cara bertani yang secara tetap tanpa pengairan. Pertanian tegalan dikerjakan secara tetap dan intensif dengan bermacam-macam tanaman secara bergantian (crop rotation) antara palawija (seperti jagung, kacang tanah, ketela pohon) dan padi gogo rancah. (Pratiwi 2004). Lahan pertanian tegal berkembang di lahan-lahan kering, yang jauh dari sumber-sumber air yang cukup.Sistem ini diusahakan orang setelah mereka menetap lama di wilayah itu, walupun demikian tingkatan pengusahaannya rendah.Pengelolaan tegal pada umumnya jarang menggunakan tenaga yang intensif, jarang ada yang menggunakan tenaga hewan.Tanaman-tanaman yang diusahakan terutama tanaman tanaman yang tahan kekeringan dan pohonpohonan (Sejono 2005). C. Metode Praktikum 1. Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum Analisis Subsistem Tegal dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 4 Mei 2013. Bertempat di Dusun Ngranten, Kelurahan Puntukrejo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar.

2. Alat dan Bahan a. Alat: 1.) Alat tulis 2.) Global Positioning System 3.) Termometer 4.) Hygrometer 5.) Luxmeter 6.) Soil Moisture Meter 7.) Kamera b. Bahan: Lahan tegal/talun 3. Cara Kerja Memperhatikan, mencatat, kemudian menganalisis tentang: a. Profil tempat, meliputi alamat, letak astronomis, kemiringan lereng, tinggi tempat, luas, pH tanah, kelembaban, suhu, intensitas cahaya, batas, denah lokasi. b. Pengolahan tanah, meliputi usaha-usaha yang dilakukan petani dalam konservasi tanah (pola tanam monokultur/campuran). c. Jenis-jenis tanaman yang diusahakan (semusim, tahunan, buahbuahan, sayuran, dsb). d. Jarak tanam yang diterapkan (teratur/tidak teratur). e. Input, hasil yang diberikan/dimasukkan dalam tanah sehubungan dengan budidaya (pupuk, pestisida, dll) dan output, hasil yang dibawa keluar dari areal tegalan (buah, sayur, dll). Pemanfaatan sisa-sisa tanaman. f. Berdasarkan rantai makanan (siklus hara) bagaimana yang seharusnya perlu pembahasan yang sesuai dengan sistem pertanian berkelanjutan.

D. Hasil Pengamatan dan Pembahasan 1. Hasil Pengamatan a. Profil tempat 1) Alamat : Dusun Ngranten, Kelurahan Puntukrejo Kecamatan Karanganyar 2) Letak Astronomis : 111 6 43,2 BT 7 37 14,9 LS Ngargoyoso, Kabupaten

3) Kemiringan Lereng : 2% 4) Tinggi Tempat 5) Luas 6) pH Tanah : 873 mdpl : 0,15 ha :7

7) Kelembaban Tanah : 60% 8) Suhu Udara : 30C

9) Kelembaban Udara : 42% 10) Intensitas Cahaya 11) Batas : 55600 lux : Utara : Jalan

Timur : Tegalan Selatan : Tegalan Barat b. Denah Tanaman/Pola Tanam : Tegalan

c. Pengelolaan Tanah : Usaha-usaha yang dilakukan petani dalam konservasi tanah adalah mencangkul dengan pola tanam monokultur. d. Input (masukan ke lahan) : Materi yang dimasukkan sehubungan dengan budidaya yaitu dengan jenis benih seledri, pupuk yang digunakan yaitu dengan pupuk daun, urea, ponska, TSP dan pupuk organik, pestisida Curakron dan Detane digunakan apabila terjadi serangan hama, dan pengairan minimal satu kali. e. Output (hasil produk) : Hasil yang dibawa keluar dari areal tegal yaitu seledri. Sisa tanaman digunakan untuk pakan ternak. f. Siklus Hara/Rantai Makanan : Siklus hara yang ada di dalam tanah termasuk siklus hara asiklik (terbuka) karena tidak adanya seresahseresah yang tertinggal di tanah setelah panen. 2. Pembahasan Sub sistem tegal yang diamati terletak di Dusun Ngranten, Kelurahan Puntukrejo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, dengan letak astronomis 111 6 43,2 BT 7 37 14,9 LS dengan kemiringan tanah 2%. Ketinggian daerah tersebut adalah 873 m dpl dengan luas lahan 0,15 ha dan dengan ph yang netral, yaitu 7. Kelembaban tanah di daerah tersebut adalah 60%, suhu udara 30C, kelembaban udara 42%, dan intensitas cahaya 55600 lux. Batas-batas sub sistem tersebut adalah batas sebelah utara adalah jalan, batas sebelah timur, barat dan selatan adalah tegal. Usaha-usaha yang dilakukan dalam konservasi tanah dengan mengolah tanah menggunakan cangkul, dimulai dengan membalik-balikan tanah pada bagian dalam agar tanah mengalami pertukaran udara. Materi yang dimasukkan kedalam tanah sehubungan dengan budidaya yaitu benih seledri yang didapat dari toko pertanian, pupuk urea dan pupuk organik yang mulai diterapkan setelah adanya penyuluhan, dan pestisida digunakan apabila tanaman terserang hama. Hasil dari sub sistem tegal yang dibawa keluar yaitu seledri. Sisa tanaman yang berupa seresah dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan pupuk kompos. Pola

tanam yang diterapkan yaitu monokultur, menggunakan pola tanam teratur dengan jarak tanam 10 x 25 cm. Siklus hara yang terdapat di sub sistem tegal menggunakan siklus hara terbuka karena tidak adanya seresah-seresah yang tertinggal di tanah setelah panen. E. Kesimpulan dan Saran 1. Kesimpulan Praktikum Analisis Subsistem Tegal kali ini dapat disimpulkan sebagai berikut: a. Tegal adalah suatu lahan yang kering tanpa adanya pengairan. Pertanian tegalan dikerjakan secara tetap dan intensif dengan bermacam-macam tanaman secara bergantian. b. Materi yang dimasukkan kedalam tanah sehubungan dengan budidaya yaitu benih seledri, pupuk urea, pupuk organik, dan pestisida. Hasil dari sub sistem tegal yang dibawa keluar yaitu seledri. Sisa tanaman dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan pupuk kompos. c. Pola tanam yang diterapkan yaitu monokultur, menggunakan pola tanam teratur dengan jarak tanam 10 x 25 cm. Menggunakan siklus hara terbuka. 2. Saran Praktikum Analisis Subsistem Tegal sudah berjalan dengan baik. Namun kurang efisien karena hanya beberapa saja yang melaksanakan praktikum, masih banyak praktikan yang tidak bekerja, mereka hanya duduk-duduk saja. Sebaiknya praktikum dilaksanakan dengan jumlah praktikan yang tidak terlalu banyak atau dalam pembagian shiff dibuat lebih.

DAFTAR PUSTAKA Anonim 2009. Pengertian Tegalan. Diakses 16 Mei 2013. http:/www.wikipedia.org/wiki/tegalan.

Michon G and H de Foresta 2009. Agro-Forests: Incorporating a Forest Vision in Agroforestry. CRC Press, Lewis Publishers: 381-406. Pratiwi DA 2004. Biologi SMA. Jakarta: Erlangga. Sejono 2005. Agroekosistem Tegal. J. Pengantar Ilmu Pertanian 8(8): 34-41. Supriyono 2002. Agroekosistem Sawah dan Tegal. J. Pengantar Ilmu Pertanian 5(3): 48-51.