Anda di halaman 1dari 25

# TEORI RELATIVITAS KHUSUS

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Fisika Modern

## Disusun oleh kelompok 1 :

1. Kiki Ayu Winarni (06101011001) 2. Rizal Shobirin (06101011016) 3. Syukron Khamzawi (06101011017) Dosen Pengampu:

## Drs. Imron Husaini, M.Pd.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA INDERALAYA

Page 1

Penyusun

## Teori Relativitas Khusus t

Page 2

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................... i DAFTAR ISI .................................................................................................... ii BAB I PENDAHULUAN ................................................................................ 1 A. Latar Belakang ............................................................................................ 1 B. Perumusan Masalah ..................................................................................... 2 C. Tujuan dan Manfaat ..................................................................................... 2 BAB II PEMBAHASAN ................................................................................. 3 A. Prinsip Relativitas Galileo........................................................................... 3 B. Percobaan Michelson-Morey ...................................................................... 6 C. Prinsip Relativitas Einstein ......................................................................... 9 D. Transformasi Lorentz .................................................................................. 16 BAB III PENUTUP ......................................................................................... 18 3.1.Kesimpulan ................................................................................................ 18 SOAL-SOAL DAN JAWABANNYA ............................................................. 19 DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 22

## Teori Relativitas Khusus t

Page 3

BAB I PENDAHULUAN

## Teori Relativitas Khusus t

Page 4

mengembangkan teori relativitasnya. Ia berhasil membuktikan kebenaran persamaan Maxwell, dan dalam rangka menghubungkan persamaan tersebut dengan postulatnya, ia memperoleh gagasan revolusioner bahwa ruang dan waktu tidaklah mutlak. Makalah ini memperkenalkan teori relativitas khusus, dengan penekanan pada beberapa konsekuensinya. Teori khusus ini melingkupi fenomena seperti perlambatan jam yang sedang bergerak dan pemendekan suatu benda yang panjang yang sedang bergerak.

B. Rumusan Masalah 1. 2. 3. 4. Bagaimana prinsip relativitas Galileo? Bagaimana mekanisme percobaan Micelson-Morey? Bagaimana prinsip relativitas Einstein? Bagaimana Transformasi Lorentz?

C. Tujuan dan Manfaat Tujuan: 1. Menjelaskan makna relativitas 2. Menjelaskan mekanisme percobaan 3. Menuliskan rumus Manfaat: 1. Pembaca dapat memahamai pengertian relativ dan relativitas khusus 2. Pembaca dapat mendeskripsikan prinsip Michelson-Morey, relativitas Einstein, dan prinsip transformasi Lorentz

## Teori Relativitas Khusus t

Page 5

BAB II PEMBAHASAN

A.

## Teori Relativitas Khusus t

Page 6

pengamat tidak bersepakat mengenai pandangan mereka terhadap situasi tertentu, mereka bersepakat mengenai kebenaran hukum Newton dan prinsip-prinsip klasik, seperti kekekalan energi dan kekekalan momentum linear. Ini secara tidak langsung menyatakan bahwa tidak ada eksperimen mekanika yang dapat menentukan perbedaan antara kedua kerangka inersia. Satu-satunya yang dapat ditentukan adalah gerak relatif antara kerangka yang satu dengan kerangka lainnya. Pembandingan pengamatan-pengamatan yang dilkuakan berbagai kerangka lembam, memerlukan transformasi Galileo, yang mengatakan bahwa kecepatan (relatif terhadap tiap kerangka lembam) mematuhi aturan jumlah yang sederhana. Andaikanlah seorang pengamat O, dalam sakah satu kerangka lembam mengukur kecepatan sebuah benda v; maka pengamat O dalam kerangka lembam lain, yang bergerak dengan kecepatan tetap u relatif terhadap O akan mengukur bahwa benda yang sama ini bergerak dengan kecepatan v = v u. Transformasi kecepatan ini akan kita sederhanakan dengan memilih sistem koordinat dalam kedua kerangka acuan sedemikian rupa sehingga relatif u selalu pada arah x. Untuk kasus ini, transformasi Galileo menjadi: vx = vx u vy = vy vz = vz Tampak bahwa hanya komponen x kecepatan yang terpengaruh. Dengan mengintegrasikan persamaan pertama kita peroleh x = x ut sedangkan diferensiasinya memberikan

atau ax = ax Persamaan di atas memperlihatkan mengapa hukum-hukum Newton tetap berlaku dalam kedua kerangka acuan itu. Selama u tetap (jadi du/dt = 0), kedua pengamat ini akan mengukur percepatan yang identik dan sependapat pada penerapan F = ma.

Page 7

## Teori Relativitas Khusus t

Page 8

sebesar 1 per 104 untuk pengukuran di dalam arah yang searah atau berlawanan arah angin. Meskipun suatu perubahan itu dapat diukur secara eksperimen, selrh percobaan untuk menetukan perubahan dan membuat keadaan angin eter (keberadaan kerangka mutlak) terbukti merupakan usaha yang sia-sia. Prinsip relativitas Galileo hanya mengacu pada hukum-hukum mekanika. Jika diasumsikan bahwa hukum listrik dan magnitisme sama di dalam kerangka inersia, maka paradoks mengenai kelajuan chaya akan otomatis muncul. Kita dapat menyadari pada persamaan-persamaan Maxwell bhwa kelajuan cahaya selalu tetap yaitu c = 3 x 108 m/s pada semua kerangka inersia, suatu hasil yang jelas-jelas kontradiktif dengan transformasi kecepatan Galileo. Menurut relativitas Galileo, kelajuan cahaya seharusnya tidak sama di dalam semua kerangka inersia.

B. PERCOBAAN MICHELSON-MORLEY

Gejala gelombang secara umum dapat didefenisikan sebagai rambatan gangguan periodik melalui zat perantara. Perambatan gelombang ini berlangsung, bergantung pada gaya-gaya yang bekerja antarpartikel zat perantaranya. Oleh karena itu, tidak mengherankan mengapa setelah segera setelah Maxwell memperlihatkan bahwa kehadiran gelombang elektromagnet diramalkan berdasarkan persamaan-persamaan elektromagnet klasik, para fisikawan segera melakukan berbagai upaya untuk mempelajari sifat zat perantara yang berperan bagi perambatan gelombang elektromagnet ini. Zat perantara ini disebut eter, namun karena zat ini belum pernah teramati dalam percobaan, maka dipostulatkan bahwa ia tidak bermassa dan tidak tampak, tetapi mengisi seluruh ruang, dan fungsi satu-satunya untuk merambatkan gelombang elektromagnet. Konsep eter ini sangat menarik karena; pertama, sulit untuk membayangkan bagaimana sebuah gelombang dapat merambat tanpa memerlukan zat perantara bayangkan gelombang tanap air; kedua, pengertian dasar eter ini berkaitan erat dengan gagasan Newton tentang ruang mutlak eter dikaitkan sistem koordinat semesta agung. Dengan demikian, keuntungan sampingan yang akan diperoleh dari penyelidikan terhadap eter ini adalah bahwa dengan mengamati gerak bumi mengarungi eter, akan terungkap pula gerak bumi relatif terhadap ruang mutlak. Percobaan awal yang paling saksama untuk mendapatkan bukti kehadiran eter dilakukan pada tahun 1887 oleh fisikawan Amerika, Albert A. Michelson dan rekannya E.W. Morley. Mereka menggunakan interferometer Michelson.

## Teori Relativitas Khusus t

Page 9

Lintasan sinar 2, relatif terhadap interferometer, tegak lurus pada angin eter. Dalam perjalanan dari pengamat ke B, sinar itu harus bergerak lambat menentang arus, dengan kecepatan relatif terhadap eter. Resultan kecepatan ini

## Teori Relativitas Khusus t

Page 10

. , dan

Perbedaan waktu perjalanan untuk sinar 1 dan 2 adalah perbedaan lintasannya adalah c , sehingga: [( ) ( ) ].

Sekarang umpamakan interferometer berputar 900 dari posisinya, atau sebesar sudut sedemikian rupa sehingga angin eter pada diagram adalah vertikal. (Alat Michelson dipasang pada dasar yang berat supaya stabil, dan terapung i atas air raksa sehingga dapat bergerak dengan mudah). Maka sinar 1 dan 2 bertukar peranan dan beda lintasan adalah: [( ) ( ) ].

Sebagai akibat dari perputaran, beda lintasan berubah sebesar . Perubahan satu panjang gelombang menyebabkan perubahan satu rumbai memotong garis referensi bila dilihat dengan teleskop, sehingga perubahan rumbai yang diharapkan adalah: [ ( ) ( ) ].

Jika v kecil dibandingkan dengan c, maka perbandingan v2/c2 sangat kecil dan aproksimasi yag baik adalah: ( ) , ( ) .

Kemudian aproksimasi ini menjadi: . Umpama kecepatan v adalah kecepatan orbit bumi mengelilingi matahari kira-kira 3 x 104 m/dt. Maka: . Dengan memantulkan sinar 1 dan 2 bolak-balik beberapa kali, panjang L menjadi ekivalan dengan 11 m. Perubahan rumbai yang diharapkan untuk panjang gelombang cahaya hijau = 5,5 x 10-7 adalah:

## Teori Relativitas Khusus t

Page 11

, atau sebanyak empat sepersepuluh rumbai. Perubahan yang diiliki Michelson dan Morley lebih kecil dari seperseratus rumbai, dan mereka berkesimpulan bahwa pada kenyataannya, pada batas-batas penyelidikan yang tidak pasti ini, perubahan adalah nol, dengan mengabaikan kecepatan orbit bumi yang nampakanya relatif diam terhadap eter. Hasil ini merupakan teka-teki, dan masa kini penyelidikan Michelson-Morey ini sangat berarti sebagai hasil negatif yang pernah didapat. Berbagai upaya dilakukan untuk menjelaskan hasil negatif dari eksperimen Michelson-Morey, dan untuk menyelamatkan konsep kerangka eter dan transformasi kecepatan Galileo untuk cahaya. Seluruh proposal yang dihasilkan dari upaya-upaya ini telah dibuktikan salah. Tidak ada eksperimen dalam sejarah fisika yang pernah sebegitu beraninya menjelaskan suatu ketiadaan hasil penelitian yang diperkirakan seperti eksperimen Michelson-Morey. Einsteinlah yang memecahkan persoalan tersebut pada tahun 1905 dengan teori relativitas khusus yang digagasnya.

C. PRINSIP RELATIVITAS EINSTEIN Kita telah memastikan bahwa kelajuan eter terhadap bumi tidak mungkin diukur, dan bahwa persamaan transformasi kecepatan Galileo gagal menjelaskan kasus yang melibatkan cahaya. Einstein mengajukan sebuah teori yang benar-benar menghilangkan kesulitan-kesulitan tersebut dan pada waktu yang bersamaan, sepenuhnya mengubah anggapan kita mengenai ruang dan waktu. Ia mendasarkan teori khususnya mengenai relativitas pada dua postulat: 1. Prinsip relativitas: Hukum-hukum fisika harus sama di dalam semua kerangka acuan inersia. 2. Kelajuan cahaya selalu konstan: Kelajuan cahaya di dalam ruang hampa udara memiliki nilai yang tetap, c = 3 x 108 m/s, di dalam semua kerangka inersia, tanpa memperhatikan kelajuan pengamat maupun kelajuan sumber yang memancarkan cahaya Postulat pertama menegaskan bahwa semua hukum fisika yang berhubungan dengan mekanika, listrik serta magnet, optika, termodinamika, dan lain-lain adalah sama di dalam semua kerangka acuan yang bergerak dengan kelajuan konstan relatif terhadap satu sama lain. Postulat ini merupakan generalisasi menyeluruh dari prinsip relativitas Galileo, yan ghanya mengacu pada hukum-hukum mekanika. Dari sudut pandang eksperimental, prinsip relativitas Einstein memiliki pengertian bahwa berbagai jenis eksperimen (pengukuran kelajuan cahaya, sebagai contoh) yang dilakukan di dalam laboratorium ang dia harus memberika hasil yang

## Teori Relativitas Khusus t

Page 12

1. Konsekuensi Teori Relativitas Khusus Pada saat kita menelah beberapa akibat dari relativtas ini, kita membatasi pembahasan kita pada konsep keserentaka, selang waktu, dan panjang. Ketiganya berbeda dalam mekanika relativistik dengan mekanika Newton. Sebagai contoh, dalam mekanika relativistik, jarak antara dua titik dan selang waktu antara dua kejadian bergantung pada kerangka acuan di mana keduanya diukur. Hal ini berarti, dalam mekanika relativistik, tidak ada yang disebut dengan panjang mutlak atau selang waktu mutlak. Terleih juga, kejadian-kejadian di tempat berbeda, yang

## Teori Relativitas Khusus t

Page 13

diamati terjadi pada saat bersamaan dalam satu kerangka, belum tentu akan diamati terjadi serentak dalam kerangka lain yang begerak secara beraturan relatif terhadap kerangka yang pertama.

## Teori Relativitas Khusus t

Page 14

mengabaikan perbedaan yang disebabkan oleh waktu transit dari cahaya terhadap pengamat.

b. Pengembungan waktu Kita dapat mengilustrasikan bahwa pengamat-pengamat di dalam keragka inersia yang berbeda-beda dapat mengukur selang waktu yang bebeda antara sepasang kejadian melalui anggapan bahwa kendaraan bergerak ke kanan dengan kelajuan v. Sebuah cermin diletakkan di langit-langit kendaraan, seorang pengamat O yang diam di dalam kerangka berada di dalam kendaraan sambil memegang senter sejauh d di bawah cermin. Pada suatu saat, senter memancarkan pulsa cahaya yang arahanya menghadap cermin (kejadian 1), dan pada saat lainnya setelah dipantulkan dari cermin, pulsa sampai disenter kembali (kejadian 2). Pengamat O membawa sebuah jam dan menggunakannya untuk mengukur selang waktu antara kedua kejadian ini. (indeks p artinya proper, atau wajar). Oleh karena pulsa cahaya memiliki kelajuan c, maka selang waktu yang dibutuhkan oleh pulsa untuk merambat dari O ke cermin dan kembali lagi adalah

## Teori Relativitas Khusus t

Page 15

( Kita cari

Oleh karena , kita dapat merumuskan hasil ini sebagai rumus penggembungan waktu

dimana

Suatu akibat yang menarik dari penggembungan waktu disebut paradoks anak kembar. Perhatikan sebuah eksperimen yang melibatkan sepasang anak kembar bernama Speedo dan Goslo. Ketika mereka sama-sama berusia 20 tahun, Speedo si petualang merencanakan perjalanan nekatnya ke Planet X, yang berjarak 20 tahun cahaya dari Bumi. (perhatikan bahwa 1 tahun cahaya adalah jarak yang ditempuh cahaya di dalam ruang angkasa selama 1 tahun). Selanjutnya, pesawat antariksa Speedo mampu mencapai kelajuan 0,95c. Pada saat ia kembali ke Bumi, Speedo terkejut mendapati bahwa usia Goslo sudah bertambah 42 tahun dan sekarang sudah berusia 62 tahun. Sementara itu, usia Speedo hanya bertambah 13 tahun. Dari kerangka acuan Goslo, dirinya berada di dalam keadaan diam, sedangkan saudaranya meluncur dengan kelajuan tinggi

## Teori Relativitas Khusus t

Page 16

d. Pemendekan panjang

Jarak yang terukur antara dua titik juga bergantung pada kerangka acuannya. Panjang wajar Lp dari suatu benda adalah panjang yang diukur oleh seseorang yang diam relatif terhadap bendanya. Panjang suatu benda yang diukur oleh seseorang dalam kerangka acuan yang sedang bergerak relatif terhadap bendanya selalu lebih kecil daripada panjang wajarnya. Efek ini dikenal sebagai pemendekan panjang. Kita bayangkan sebuah pesawat sedang meluncur dengan kelajua v dari satu bintang ke bintang lainnya. Ada dua pengamat: satu berada di Bumi dan yang lain berada di dalam pesawat. Pengamat yang diam di Bumi (dan diasumsikan relatif diam terhadap kedua bintang) mengukur jarak antara kedua bintang sebagai panjang wajar Lp.

## Teori Relativitas Khusus t

Page 17

Menurut pengamat tersebut, selang waktu yang dibutuhkan pesawat untuk me;akukan perjalanannya adalah . Jalur lintasan antara kedua bintang yang dilalui pesawat tersebut terjadi pada posisi yang sama untuk penjelajah ruang angkasa. Dengan demikian, penjelajah ruang ngkasa mengukur selang waktu wajar . Oleh karena penggembungan wakt, selang waktu wajar dihubungkan dengan selang waktu terukur di Bumi, yaitu . Oleh karena penjelajah ruang angkasa mencapai bintang kedua dengan waktu , ia menyimpulkan bahwa jarak L antara kedua bintang adalah

## , maka kita peroleh

Dimana

suatu objek memiliki panjag wajar Lp ketika diukur oleh seorang pengamat yang diam relatif terhadap objek tersebut, maka ketika objek tesebut bergerak dengan kelajuan v sejajar panjangnya, maka panjangnya yang terukur akan lebih pendek, sesuai dengan rumus .

e. Efek doppler relativistik Akibat penting dari penggembungan waktu adalah pergeseran frekuensi untuk cahaya yang dipancarkan oleh atom-atom yang bergerak, dibandingkan dengan cahaya yang dipancarkan oleh atomatom yang bergerak, dibandingkan dengan cahaya yang atom-atomnya diam. Pada kasus bunyi, gerakan dari sumber relatif terhadap medium perambatan dapat dibedakan dari gerakan pengamat relatif terhadap mediumnya. Gelombang cahaya haruslah dianlisis secara berbeda karena gelombang cahaya tidak memerlukan medium untuk merambat dan karena tidak ada metode untuk membedakan gerakan sumber cahaya dari gerakan pengamat. Jika sumber cahaya dan pengamat saling mendekati dengan kelajuan relatif v, frekuensi fp yang diukur pengamat adalah

## Teori Relativitas Khusus t

Page 18

dimana fs adlah frekuensi sumber yang diukur pada kerangka diamnya. Perhatikan bahwa persamaan pergeseran Doppler relativistik, tidak seperti persamaan pergeseran Doppler untuk bunyi, hanya bergantung pada kelajuan relativ v dari sumber dan pengamat serta berlaku untuk kelajuan relatif hingga sebesar c. Seperti ang telah diperkirakan, prediksi persamaanya fp > fs ketika sumber dan pengamat saling mendekat.

D. TRANSFORMASI LORENTZ

Telah kita lihat bahwa transformasi Galileo mengenai koordinat, waktu, dan kecepatan tidak taat asas dengan kedua postulat Einstein. Meskipun transformasi Galileo sesuai dengan akal sehat kita, ia tidaklah memberi hasil yang sesuai dengan berbagai percobaan pada laju tinggi, seperti yang akan kita ilustrasikan. Oleh karena itu, kita memerlukan seperangkat persamaan transformasi baru yang dapat meramalkan berbagai efek relativistik seperti penyusutan panjang, pemuluran waktu, dan efek dopler relativistik. Juga bahwa kita mengetahui transformasi Galileo berlaku baik pada laju rendah, transformasi baru ini haruslah memberikan hasil yang sama seperti transformasi Galileo apabila laju relatif antara O dan O adalah rendah. Transformasi yang memenuhi persyaratan ini dikenal sebagai Transformasi Lorentz dan, seperti halnya transformasi Galileo, ia mengaitkan koordinat dari suatu peristiwa (x, y, z, t) sebagaimana diamati oleh kerangka acuan O dengan koordinat peristiwa yang sama (x, y, z, t) yang diamati dari kerangka acuan O yang sedang bergerak dengan kecepatan u terhadap O. Seperti di depan, kita menganggap bahwa gerak relatifnya adalah sepanjang arah x atau x, positif (bergerak menjauhi O). Bentuk persamaan transformasi Lorentz ini adalah sebagai berikut:

## Teori Relativitas Khusus t

Page 19

(Jika O bergerak menuju O, gantikan u dengan u). Untuk menerapkan transformasi Lorentz ini, perlu diperhatikan catatan berikut: bila O mencatat suatu peristiwa yang diamatinya memiliki koordinat (x, y, z, t), maka O, yang sedang bergerak dengan laju u terhadap O, mencatat peristiwa yang sama itu memiliki koordinat (x, y, z, t). Sistem persamaan di atas dengan demikian memperkenankan kita untuk membandingkan kedua penggambaran yang bersangkutan. Mengenai hubungan antara O dan peristiwanya, kita tidak membuat anggapan-anggapan khusus apa pun sebagai contoh, objek yang koordinat sesaatnya diberikan oleh peristiwa (x, y, z, t) tidaklah perlu berada dalam keadaan diam relatif terhadap O.

Page 20

## BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN Dua dalil dasar dari teori relativitas khusus adalah: Hukum fisika arus sama dalam semua kerangka acan inersia. Kelajuan cahaya di ruang hampa udara bernilai sama, c = 3 x 108 m/s, dalam seluruh kerangka inersia, terlepas dari besar kelajuan pengamat atau kelajuan sumber yang memancarkan cahaya tersebut. Tiga konsekuensi teori relativitas khusus adalah: Kejadian yang diukur serentak oleh seorang pengamat tidak harus diukur serentak oleh pengamat lainnya yang bergerak relativ terhadap pengamat pertama. Jam yang bergerak relativ terhadap pengamat diukur berdetak lebih lambat dengan faktor perlambatan . Fenomena ini

disebut pengembungan waktu. Panjang benda yang bergerak diukur memendek pada arah geraknya dengan faktor pemendekan ini disebut pemendekan panjang. . Fenomena

Untuk memenuhi dalil-dalil relativitas khusus, persamaan transformasi Galileo harus digantikan oleh persamaan trnsformasi Lorentz:

Page 21

## SOAL-SOAL DAN JAWABANNYA

1. Dua buah mobil melaju dengan laju tetap disepanjang jalan lurus dalam arah yang sama. Mobil A bergerak dengan laju 60 km/jam, sedangkan mobil B 40 km/jam. Masing-masing laju ini diukur relatif terhadap seorang pengamat di tanah. Berapakah laju mobil A terhadap mobil B? Pemecahan: Misalkan O adalah pengamat di tanah yang mengamati mobil Abergerak dengan laju v = 60 km/jam. Anggaplah O bergerak dengan mobil B dengan laju u = 40 km/jam. Maka: v = v u = 60 40 = 20 km/jam

untuk .

pernyataan

Peristiwa 1

## Pengamat O x1 = 0 pada t1 x2 = L pada t2

Pengamat O [ ] [ ]

Peristiwa 2

## Teori Relativitas Khusus t

Page 22

di sini kita telah mempergunakan x2 x1 = L. Juga, dari persamaan bagi t2. [ ( ) Penyisipan (t2 t1) dari pernyataan ini ke dalam persamaan bagi L di atas, dan penggabungan suku-sukunya memberikan ] [ ]

3. Sebuah truk pengangkut bergerak dengan kelajuan konstan. Jika penumpang di dalam truk melempar bola lurus ke atas dan jika pengaruh udara diabaikan, maka pengamat tersebut melihat bolanya bergerak vertikal ke atas. Sedangkan pengamat di atas tanah melihat bola itu bergerak parabola. Pengamat yang mana yang melihat lintasan bola yang benar? Penyelesaian: Keduanya sama-sama benar karena pengukuran kedua pengamat tersebut berbeda.

4. Seorang pengawas antarplanet mencatat laporan berikut lewat komunikasi elktronik dari sebuah pesawat antariksa yang sedang melewatinya: Ketika sebuah pesawat lain mendekat, saya kendalikan pesawat saya sedemikian rupa sehingga tepat sejajar disisinya. Kemudian, tepat pada penunjukan waktu tertentu, saya melihat bahwa kedua jung pesawat kami tepat segaris, seperti yang saya perlihatkan dalam gambar sketsa ini. Pada saat itu saya menembakkan dua berkas sinar laser dari bagian haluan dan buritan pesawat saya, yang saya arahkan pada haluan dan buritan pesawat yang sedang melewati saya itu. Seperti anda ketahui, penembakan bekas sinar laser terjadi secara serempak menyilangi haluan dan buritan pesawat merupakan tanda ucapan perdamaian dan perssahabatan yang telah disepakati bersama. Tetapi, pesawat tersebut teernyata tidak memberi tanggapan yang bersahabat, malahan balik menembaki pesawat saya sehingga pesawat saya rusak berat. Analisalah peristiwa ini dari sudut pandang pesawat kedua.

Page 23

## Teori Relativitas Khusus t

Page 24

DAFTAR PUSTAKA

Beiser, Arthur. 1981. Konsep Fisika Modern. Jakarta: Erlangga. Jewett, Serway. 2004. Fisika untuk Sains dan Teknik. Jakarta: Salemba Teknika. Krane, K.S. 1983. Modern Physics. New York: Jonh Willey and Sons. Zemansky, Sears. 1981. Fisika untuk Universitas. Jakarta: Erlangga.

Page 25