Anda di halaman 1dari 38

BAB I PENDAHULUAN

A. UMUM Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan

Pembangunan Nasional (SPPN) merupakan landasan hukum bagi penyusunan perencanaan pembangunan baik yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Dalam Undang-Undang tersebut yang dimaksud dengan SPPN adalah satu kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana pembangunan dalam jangka panjang, jangka menengah, dan tahunan yang dilaksanakan oleh unsur penyelenggara negara di tingkat pusat dan daerah dengan melibatkan masyarakat. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 40 tahun 2006 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional sebagai turunan dari Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 yang dimaksud dengan perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat, melalui urutan pilihan, dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia. Setiap Kementerian/Lembaga sesuai dengan UU No. 25 Tahun 2004 wajib menyusun perencanaan pembangunan berupa rencana pembangunan jangka menengah (5 tahun) atau yang disebut Rencana Strategis dan rencana pembangunan tahunan (1 tahun) yang disebut Rencana Kerja (Renja), dan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA). Departemen Keuangan sebagai salah satu instansi Pemerintah Pusat wajib pula menyusun Rencana Strategis Kementerian/Lembaga (Renstra-KL) untuk menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan serta menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien, efektif, berkeadilan, dan berkelanjutan. Hal tersebut ditegaskan pula dalam Instruksi Presiden Nomor 7 tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP) yang sampai saat ini masih berlaku yang menyebutkan bahwa setiap instansi pemerintah sampai dengan tingkat Eselon II wajib menyusun Rencana Strategis untuk melaksanakan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah sebagai wujud pertanggungjawaban kinerja instansi pemerintah. Penyusunan dan penetapan suatu rencana merupakan salah satu tahapan dalam proses perencanaan pembangunan. Tahapan berikut adalah pengendalian pelaksanaan rencana dan evaluasi pelaksanaan rencana. Pengendalian pelaksanaan rencana

1 Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Strategis|

dimaksudkan untuk menjamin tercapainya tujuan dan sasaran pembangunan yang tertuang dalam rencana melalui kegiatan-kegiatan koreksi dan penyesuaian selama pelaksanaan rencana tersebut oleh pimpinan Kementerian/Lembaga. Sedangkan evaluasi pelaksanaan rencana adalah kegiatan yang secara sistematis mengumpulkan dan menganalisis data dan informasi untuk menilai pencapaian sasaran, tujuan dan kinerja pembangunan. Evaluasi ini dilaksanakan berdasarkan indikator dan sasaran kinerja yang tercantum dalam dokumen rencana pembangunan. Indikator dan sasaran kinerja mencakup masukan (input), keluaran (output), hasil (result), manfaat (benefit), dan dampak (impact). Dalam rangka perencanaan pembangunan, setiap

Kementerian/Lembaga, baik pusat maupun daerah berkewajiban untuk melaksanakan evaluasi kinerja pembangunan yang merupakan dan atau terkait dengan fungsi dan tanggung jawabnya.

B. TUJUAN Tujuan disusunnya pedoman ini adalah sebagai acuan, panduan, dan alat bantu bagi setiap unit organisasi di lingkungan Departemen Keuangan dalam menyusun dokumen Rencana Strategis, sesuai dengan Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Dengan adanya pedoman ini diharapkan setiap unit organisasi di lingkungan Departemen Keuangan dalam menyusun Rencana Strategis pada unit organisasinya masing-masing menyesuaikan dengan format Rencana Strategis Departemen Keuangan yang telah ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 84/KMK.01/2006. Di samping itu, dengan adanya pedoman teknis ini diharapkan dapat memberikan gambaran keterkaitan antara sistem perencanaan dan sistem penganggaran. Sedangkan tujuan secara umum yang ingin dicapai dengan tersusunnya Rencana Strategis adalah: 1. Menjamin terciptanya koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan sinergi antar unit organisasi di lingkungan Departemen Keuangan baik di pusat maupun daerah. 2. Menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran,

pelaksanaan dan pengawasan di lingkungan Departemen Keuangan. 3. Menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien, efektif, berkeadilan dan berkelanjutan.

2 Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Strategis|

BAB II SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN A. SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL Sistem perencanaan pembangunan nasional adalah satu kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana-rencana pembangunan dalam jangka panjang, jangka menengah, dan tahunan yang dilaksanakan oleh unsur penyelenggara negara dan masyarakat di tingkat pusat dan daerah dalam rangka mewujudkan masyarakat adil, makmur, dan sejahtera sesuai cita-cita Undang-Undang Dasar 1945. Perencanaan pembangunan disusun secara sistematis, terarah, terpadu, menyeluruh, dan tanggap terhadap perubahan. Perencanaan pembangunan nasional terdiri atas perencanaan pembangunan yang disusun secara terpadu oleh

Kementerian/Lembaga dan oleh Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya, dan menurut jangka waktunya terbagi menjadi tiga, yaitu : 1. Rencana Pembangunan Jangka Panjang. 2. Rencana Pembangunan Jangka Menengah. 3. Rencana Pembangunan Tahunan. Pembangunan nasional diselenggarakan berdasarkan azas demokrasi dengan prinsip kebersamaan, berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, serta kemandirian dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan nasional. Dalam rangka menyusun dokumen perencanaan sesuai dengan penjelasan pada UndangUndang Nomor 25 Tahun 2004, secara umum proses perencanaan pembangunan nasional mencakup lima pendekatan yang merupakan suatu rangkaian perencanaan, yaitu : 1. Pendekatan politik yang memandang bahwa pemilihan Presiden/Kepala Daerah adalah proses penyusunan rencana, karena rakyat memilih menentukan pilihannya berdasarkan program-program pembangunan yang ditawarkan masing-masing calon Presiden/Kepala Daerah. 2. Pendekatan teknokratik yang menggunakan metode dan kerangka berpikir ilmiah oleh lembaga atau satuan pendekatan partisipatif dengan melibatkan semua pihak yang berkepentingan (stakeholders) terhadap pembangunan. 3. Pendekatan top-down dan bottom up, dilaksanakan menurut jenjang pemerintahan. Rencana hasil proses top-down dan bottom up diselaraskan melalui musyawarah yang dilaksanakan.

3 Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Strategis|

Sebagai gambaran alur perencanaan pembangunan di tingkat pusat adalah sebagai berikut :

RPJP NAS (20 tahun)

RPJM NAS (5 tahun)

RKP (1 tahun)

RAPBN (1 tahun)

APBN (1 tahun)

NASIONAL

Renstra KL (5 tahun)

Renja KL (1 tahun)

RKA KL (1 tahun)

Rincian APBN (1 tahun)

DIPA (1 tahun)

KEMENTERIAN/LEMBAGA

Di tingkat nasional, penyusunan RPJM di samping mengacu kepada RPJP, juga mengakomodir masukan rancangan Rencana Strategis setiap Kementerian/Lembaga. Demikian pula dalam penyusunan RKP, di samping mengacu kepada RPJM, juga mengakomodir masukan rancangan Renja setiap Kementerian/Lembaga. Kemudian RKP digunakan sebagai acuan dalam penyusunan RAPBN yang selanjutnya setelah disepakati dalam pembahasan bersama antara Pemerintah dan DPR menjadi Undang-Undang APBN. Di tingkat Kementerian/Lembaga, dalam menyusun Rencana Strategis

Kementerian/Lembaga harus mengacu/berpedoman kepada RPJM Nasional. Selanjutnya dalam menyusun Renja KL dan RKA KL harus mengacu kepada Rencana Strategis KL . Rincian APBN disusun berdasarkan Undang-Undang APBN dan RKA KL yang selanjutnya digunakan sebagai dasar dalam penyusunan DIPA. Adapun batasan dan pengertian dari dokumen perencanaan tersebut adalah sebagai berikut : RPJP NASIONAL (UU No. 17 Tahun 2007) Berjangka waktu 20 tahun (2005 2025). Ditetapkan dengan maksud memberikan arah

sekaligus menjadi acuan bagi semua komponen bangsa (pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha) di dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan nasional sesuai dengan visi, misi, dan arah pembangunan yang disepakati bersama sehingga semua upaya yang dilakukan oleh pelaku pembangunan bersifat sinergis, koordinatif, dan saling melengkapi satu dengan

4 Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Strategis|

lainnya di dalam satu pola sikap dan pola tindak.

RPJM NASIONAL (Perpres No. 7 tahun 2005)

Berjangka waktu 5 tahun (2004 2009) Penjabaran dari visi, misi, dan program Presiden yang penyusunannya berpedoman pada RPJP Nasional, yang memuat strategi pembangunan nasional,

kebijakan umum, program Kementerian/Lembaga dan lintas Kementerian/Lembaga, kewilayahan dan lintas kewilayahan, serta kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara

menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal dalam rencana kerja yang berupa kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif.

Rencana Kerja Pemerintah (PP No. 20 tahun 2004)

Berjangka waktu 1 tahun Merupakan penjabaran dari RPJM Nasional, memuat prioritas pembangunan, rancangan kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal, serta program Kementerian/Lembaga, lintas

Kementerian/Lembaga, kewilayahan dalam bentuk kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif.

Rencana Strategis K/L Berjangka waktu 5 tahun (2005 2009) (UU No. 25 tahun Memuat visi, misi, tujuan, strategi, kebijakan, 2004) program, dan kegiatan pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh Pemerintah maupun yang ditempuh dengan partisipasi masyarakat. Disesuaikan dengan tugas pokok dan fungsinya dengan berpedoman kepada RPJM Nasional dan bersifat indikatif.

5 Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Strategis|

Rencana Kerja K/L (UU No. 25 Tahun 2004)

Berjangka waktu 1 tahun Disusun dengan berpedoman pada Renstra K/L dan mengacu pada prioritas pembangunan nasional dan pagu indikatif Memuat kebijakan, program, dan kegiatan

pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh Pemerintah maupun yang ditempuh dengan

mendorong partisipasi masyarakat.

Rencana Kerja dan Dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi Anggaran K/L program dan kegiatan suatu K/L yang merupakan (PP No. 21 Tahun 2004) penjabaran dari RKP dan Renstra KL yang bersangkutan dalam 1 (satu) tahun anggaran serta anggaran yang diperlukan untuk melaksanakannya.

B. PENGERTIAN RENCANA STRATEGIS (RENSTRA) Rencana Strategis merupakan dokumen perencanaan suatu unit organisasi yang penyusunannya disesuaikan dengan tugas pokok dan fungsi dari unit organisasi tersebut dan berjangka waktu 5 (lima) tahun. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025, pembangunan jangka panjang membutuhkan tahapan dan skala prioritas yang akan menjadi agenda dalam rencana pembangunan jangka menengah. Adapun tahapan dan skala prioritas utama disusun sebagai berikut : NASIONAL RPJM Nasional ke-1 (2005-2009) RPJM Nasional ke-2 (2010-2014) RPJM Nasional ke-3 (2015-2019) RPJM Nasional ke-4 (2020-2025) KEMENTERIAN/LEMBAGA Rencana Strategis KL (2005-2009) Rencana Strategis KL (2010-2014) Rencana Strategis KL (2015-2019) Rencana Strategis KL (2020-2025)

Sebagai tindak lanjut pelaksanaan dari sistem perencanaan pembangunan nasional, Departemen Keuangan telah menyusun Rencana Strategis Departemen Keuangan Tahun 2005-2009 sebagai tahapan pertama dari keseluruhan tahapan Rencana

6 Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Strategis|

Pembangunan Jangka Panjang yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 84/KMK.01/2006 (lihat website : www.depkeu.go.id). Keputusan Menteri Keuangan tersebut menetapkan bahwa setiap unit Eselon I di lingkungan Departemen Keuangan wajib menyusun Rencana Strategis Unit Eselon I masing-masing yang merupakan dokumen tersendiri dengan memuat indikator kinerja (target) tahunan yang menggambarkan tahapan pencapaian target sampai dengan tahun 2009. Secara umum Rencana Strategis adalah suatu yang harus dilaksanakan oleh unit organisasi agar tujuan organisasi dapat terlaksana dan berhasil dengan baik. Organisasi yang baik adalah yang memiliki tujuan (goals) jelas berdasarkan visi dan misi yang telah disepakati. Sesuai kaidah penyusunan dokumen perencanaan agar visi dan misi tercapai, secara berjenjang setiap unit eselon II dan Unit Pelaksana Teknis (UPT) menyusun Rencana Strategis dengan menjabarkan lebih lanjut Rencana Strategis unit organisasi di atasnya masing-masing. C. PERAN PENTING RENCANA STRATEGIS Melakukan perencanaan yang mampu mengakomodasi segenap komponen suatu organisasi merupakan suatu proses yang harus dilakukan dalam sebuah organisasi modern. Bila perusahaan publik menerapkan rencana strategis adalah dikarenakan adanya motif untuk mampu membuka/merebut pangsa pasar bagi produknya atau dengan kata lain mampu memenangkan persaingan dengan kompetitor lain berdasarkan sumber daya ataupun teknologi yang dimiliki. Bagi lembaga pemerintah dan departemen pada hakikatnya perencanaan strategis diperlukan sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada publik. Adapun peran penting Rencana Strategis bagi lembaga pemerintah dan departemen : 1. Merupakan dokumen yang digunakan untuk mempermudah pelaksanaan

akuntabilitas. Tanpa adanya rencana strategis, mekanisme dan pelaksanaan akuntabilitas akan lebih sulit untuk dilakukan terhadap organisasi. 2. Renstra adalah dokumen yang memberikan arah dan tujuan organisasi melangkah lebih maju di masa depan seiring dengan perkembangan dinamis yang ada. Dengan adanya Renstra, tentunya stakeholders dapat menilai apakah organisasi telah menuju kepada arah yang diinginkan ataukah telah mencapai apa yang diharapkan.

7 Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Strategis|

3. Merupakan dokumen pertanggungjawaban dan bukti transparansi kepada publik dari lembaga pemerintah dan departemen dalam rangka pelaksanaan pembangunan nasional dan peningkatan kualitas pelayanan publik. 4. Renstra sebagai acuan bagi penyusunan Rencana Kerja (Renja) dan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) Departemen Keuangan.

8 Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Strategis|

BAB III SISTEMATIKA PENYUSUNAN RENCANA STRATEGIS

Seperti yang telah diterangkan sebelumnya, pada tingkat departemen/ lembaga, rencana pembangunan jangka menengah kementerian/lembaga disebut juga Rencana Strategis (Renstra K/L). Renstra sebagai acuan penyusunan Rencana Kerja (Renja) dan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) Kementerian/Lembaga. Sesuai dengan KMK

No.84/KMK.01/2006 tentang Rencana Strategis Departemen Keuangan Tahun 2005 2009, Renstra meliputi 2 dokumen yang terdiri dari Buku Renstra (atau yang disebut Narasi) dan Matriks Renstra. Sesuai dengan Pasal 19 ayat (2) Undang-Undang No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN), Rencana Strategis ditetapkan dengan Keputusan Pimpinan Unit Organisasi (seperti contoh pada lampiran 1) dengan lampiran adalah Narasi dan Matriks Rencana Strategis. Atas dasar Keputusan Menteri Keuangan Nomor 84/KMK.01/2006 dan untuk membantu pemahaman materi, sistematika Penyusunan Rencana Strategis disajikan sebagai berikut ini. I. NARASI Narasi Rencana Strategis merupakan lampiran I Keputusan Pimpinan Unit Organisasi yang secara umum memberikan gambaran yang menyeluruh dan lebih terinci mengenai kondisi suatu organisasi. Adapun sistematika penulisan Narasi tersebut seperti berikut ini. 1. BAB I Pendahuluan 2. BAB II Visi dan Misi 3. BAB III Identifikasi Permasalahan 4. BAB IV Strategi dan Kebijakan 5. BAB V Program dan Kegiatan 6. BAB VI Penutup Berdasarkan sistematika penulisan pada narasi Rencana Strategis tersebut, maka secara terinci setiap Bab diuraikan dengan pokok-pokok bahasan seperti tabel berikut.

9 Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Strategis|

BAB I PENDAHULUAN (Memuat gambaran singkat mengenai latar belakang, tugas fungsi dan peran, struktur organisasi, sumber daya manusia, prasarana dan sarana)

A. LATAR BELAKANG Berisikan uraian yang mencantumkan dasar hukum penyusunan Rencana Strategis dan arti penting Rencana Strategis bagi unit organisasi yang bersangkutan. B. TUGAS, FUNGSI DAN PERAN Berisikan tugas pokok yang diamanatkan kepada unit organisasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Diuraikan pula fungsi yang dijalankan unit organisasi tersebut dan penjabarannya dalam rangka menyelenggarakan tugas dan fungsi tersebut dengan memaparkan beberapa peran strategis yang dimiliki oleh unit organisasi. C. STRUKTUR ORGANISASI Berisikan gambaran mengenai struktur organisasi unit yang bersangkutan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan bagan organisasi unit tersebut. D. PROFIL SUMBER DAYA MANUSIA Memuat penjelasan profil SDM yang ada saat ini, berikut menampilkan klasifikasi SDM baik berdasarkan golongan maupun pendidikan yang dibedakan baik laki-laki dan perempuan.

10 Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Strategis|

Contoh : A. Berdasarkan Golongan No. Golongan 1. I 2. II 3. III 4. IV Total II. Berdasarkan Pendidikan No. Pendidikan 1. SD 2. SLTP 3. SLTA 4. DI 5. Sarjana Muda/DIII 6. Sarjana (S1) 7. Master (S2) 8. Doktor (S3) Total E. SARANA DAN PRASARANA Memuat penjelasan dan data sarana dan prasarana yang dimiliki unit organisasi. Laki-Laki .. .. .. .. Perempuan .. . . .. .. .. Total Orang . .. .. .. .. .. .. Laki-Laki .. .. Perempuan .. . .. Total Orang . .. .. ..

11 Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Strategis|

BAB II VISI DAN MISI (Memuat paparan singkat dan arti yang terkandung dalam visi dan misi unit organisasi) A. VISI Memuat visi unit organisasi dan menjelaskan arti/maksud dari visi yang telah ditetapkan tersebut. B. MISI Dalam rangka merealisasikan visi unit organisasi tersebut, dipaparkan misi unit organisasi tersebut.

12 Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Strategis|

BAB III IDENTIFIKASI PERMASALAHAN

(Memaparkan beberapa permasalahan secara riil yang dihadapi unit organisasi terkait dengan tugas, fungsi dan peran dengan memetakan permasalahan tersebut dalam beberapa bidang. Contoh yang terkait dengan hal tersebut misalnya dalam hal perencanaan dan pengelolaan administrasi keuangan, teknologi informasi, kepegawaian, dan hal-hal lain yang bersifat krusial atau strategis)

13 Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Strategis|

BAB IV STRATEGI DAN KEBIJAKAN (Memuat pokok-pokok strategi yang akan dilaksanakan dalam rangka pemecahan dari permasalahan yang telah diidentifikasikan sebelumnya dan memaparkan kebijakan yang ditetapkan unit organisasi dalam bentuk pengembangan sumber daya). A. FOKUS STRATEGI Memuat strategi pemecahan permasalahan yang ada dengan memetakan berdasarkan pokok-pokok permasalahan yang telah diidentifikasikan dalam Bab III. .. B. PENGEMBANGAN SUMBER DAYA Memuat rencana pengembangan ke depan sumber daya terkait di unit organisasi dalam rangka menunjang tugas, fungsi dan peran. 1. Sumber Daya Teknologi Informasi 2. Sumber Daya Manusia 3. Sumber Daya Prasarana dan Sarana 4. Sumber Daya lainnya(sebutkan)

14 Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Strategis|

BAB V PROGRAM DAN KEGIATAN (Berisikan uraian program dan kegiatan pokok yang akan dilaksanakan oleh unit organisasi dalam jangka waktu menengah. Uraian program mengikuti nomenklatur yang dimiliki oleh unit eselon I masing-masing)

15 Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Strategis|

BAB VI PENUTUP (Menguraikan secara singkat garis besar muatan dan ketentuan Renstra sebagai bahan acuan dalam penyusunan rencana kerja dan setiap tahunnya )

Nama Jabatan

ttd

Nama Pimpinan Unit Organisasi

16 Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Strategis|

II.

MATRIKS RENSTRA Sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 40 Tahun 2006 tentang Tata Cara

Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional Matriks Renstra merupakan lembaran kerja unit organisasi yang berisikan Instansi, Visi, Misi, tujuan, sasaran, strategi, kebijakan, program, kegiatan pokok dan indikator kinerja dalam rangka pencapaian visi dan misi yang telah ditetapkan. Sesuai dengan KMK No. 84/KMK.01/2006, Matriks Renstra Departemen Keuangan tahun 2005 -2009 ditetapkan dalam lampiran II Keputusan Menteri Keuangan. Format dokumen matriks Renstra untuk seluruh unit organisasi lingkup Departemen Keuangan agar mengacu kepada format matriks Renstra Departemen Keuangan Tahun 2005 2009 dan merupakan lampiran II Keputusan Pimpinan unit organisasi terkait, serta memuat indikator kinerja (target) tahunan yang menggambarkan tahapan pencapaian target sampai dengan jangka waktu tertentu. Berikut ini merupakan format Matriks Renstra sesuai dengan KMK No. 84/KMK.01/2006.
Instansi : . Visi : . Misi : Tujuan Sasaran Strategi Kebijakan Program/ Kegiatan Pokok (5) Indikator Kinerja (6) Keterangan

(1)

(2)

(3)

(4)

(7)

Nama Jabatan ttd Nama Pimpinan Unit Organisasi

17 Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Strategis|

Adapun definisi/batasan umum/syarat rumusan dari masing-masing komponen matriks Renstra adalah sebagai berikut : No. 1. Komponen VISI Visi Definisi Umum/Syarat Rumusan berkaitan dengan pandangan ke depan

menyangkut ke mana instansi pemerintah harus dibawa dan diarahkan agar dapat berkarya secara konsisten dan tetap eksis, antisipatif, inovatif, serta produktif Mencerminkan organisasi. Memberikan arah dan fokus strategis yang jelas Mampu menumbuhkan komitmen seluruh jajaran dalam lingkungan organisasi. Rumusan umum Visi : Menjadi . apa yang ingin dicapai sebuah

2.

Misi

Misi adalah sesuatu yang harus diemban atau dilaksanakan oleh instansi pemerintah, sebagai

penjabaran visi yang telah ditetapkan. Misi terkait dengan kewenangan yang dimiliki instansi pemerintah dari peraturan perundangan atau

kemampuan penguasaan teknologi sesuai dengan strategi yang telah dipilih. Melingkupi semua pesan yang terdapat dalam visi

3.

Tujuan

Tujuan merupakan penjabaran atau implementasi dari pernyataan Misi yang telah ditetapkan dan merupakan hasil akhir yang akan dicapai atau dihasilkan dalam kurun waktu 1 sampai dengan 5 tahun. Meletakkan kerangka prioritas untuk memfokuskan arah semua program dan aktivitas organisasi dalam melaksanakan misi. Fleksibel dan terukur.

18 Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Strategis|

4.

Sasaran

Sasaran merupakan hasil yang akan dicapai secara nyata oleh instansi pemerintah dalam rumusan yang lebih spesifik, terukur, dalam kurun waktu yang lebih pendek dari tujuan. Sasaran adalah sesuatu yang akan dicapai atau dihasilkan oleh organisasi dalam jangka waktu tertentu, sasaran diusahakan dalam bentuk kuantitatif sehingga dapat diukur.

5.

Strategi

Strategi adalah langkah-langkah berisikan programprogram indikatif untuk mewujudkan visi dan misi. Strategi adalah cara mencapai tujuan dan sasaran yang dijabarkan ke dalam kebijakan-kebijakan dan programprogram Strategi didapatkan setelah sebelumnya mampu mengindentifikasi dihadapi organisasi. permasalahan/kendala yang

6.

Kebijakan

Kebijakan adalah arah/tindakan yang diambil oleh Pemerintah Pusat/Daerah untuk mencapai tujuan. Kebijakan merupakan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh yang berwenang untuk dijadikan pedoman, pegangan ataupun atau petunjuk dalam program/ dan

pengembangan kegiatan guna

pelaksanaan

tercapainya

kelancaran

keterpaduan dalam perwujudan sasaran, tujuan, serta visi dan misi instansi pemerintah.

7.

Program

Program adalah instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah/lembaga untuk mencapai sasaran dan tujuan serta memperoleh alokasi anggaran, atau kegiatan masyarakat yang dikoordinasikan oleh

19 Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Strategis|

instansi pemerintah. Program mengadopsi pada program yang ada pada setiap unit eselon I lingkup Departemen Keuangan. 8. Kegiatan Pokok Kegiatan pokok meliputi kegiatan pokok serta kegiatan pendukung untuk mencapai sasaran hasil program induknya dan dirinci menurut indikator keluaran, sasaran keluaran pada tahun rencana, prakiraan sasaran tahun berikutnya, lokasi, dan cara

pelaksanaannya dirinci menurut kegiatan pusat, dekonsentrasi dan/atau tugas pembantuan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Kegiatan pokok meliputi kegiatan dalam kerangka regulasi, kerangka pelayanan umum dan investasi pemerintah. 9. Indikator Kinerja Ukuran tingkat keberhasilan pencapaian untuk

diwujudkan pada tahun bersangkutan. Indikator Kinerja terbagi 2 (dua) yaitu : Indikator Kinerja Kegiatan = output Indikator Kinerja Program = outcomes Outputs = Barang atau jasa yang dihasilkan oleh kegiatan yang dilaksanakan untuk

mendukung pencapaian sasaran dan tujuan program dan kebijakan Outcomes = Segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran dari kegiatankegiatan dalam satu program Syarat umum indikator kinerja : Spesifik dan jelas. Dapat diukur secara obyektif. Relevan dengan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai. Tidak bias.

20 Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Strategis|

BAB IV PENUTUP

Dokumen perencanaan pembangunan berupa Rencana Strategis adalah dokumen tersendiri yang selayaknya disusun secara sistematis, terarah, terpadu, menyeluruh, dan tanggap terhadap perubahan dengan mengacu kepada tugas pokok dan fungsi yang menjadi kewenangan unit organisasi. Diharapkan Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Strategis Unit-Unit di Lingkungan Departemen ini mampu dijadikan acuan penyusunan Rencana Strategis yang sistematis dan terintegrasi bermaterikan segala unsur perencanaan dan segala sumber daya yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan organisasi. Pada akhirnya Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Strategis secara signifikan mampu menjadikan dokumen Rencana Strategis Unit Organisasi sebagai peta bagi para manajer/pengambil kebijakan untuk menentukan kebijakan-kebijakan strategis yang mampu membawa arah organisasi untuk mencapai visi dan misi, serta merupakan suatu pedoman bagi pelaksanaan program/kegiatan organisasi tersebut yang pada akhirnya perlu dilakukan pengendalian dan evaluasi untuk menjaga konsistensi dan integrasi pencapaian tujuan dan sasaran.

21 Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Strategis|

LAMPIRAN 1
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN (Nama Jabatan Pimpinan Unit Organisasi) NOMOR .............................. TENTANG RENCANA STRATEGIS (Nama Unit Organisasi) TAHUN 2005 2009 (Nama Jabatan Pimpinan Unit Organisasi), Menimbang : ........................................................................................ ........................................................................................ Mengingat : 1. .................................................................................... 2. dst. MEMUTUSKAN Menetapkan : KEPUTUSAN (Nama Jabatan Pimpinan Unit Organisasi) TENTANG RENCANA STRATEGIS (Nama Unit Organisasi) TAHUN 2005-2009 Pasal 1 (1) .. (2) dst. Pasal 2 (1) .. (2) dst. Pasal 3 (1) .. (2) dst. Pasal 4 Keputusan (Nama Jabatan Pimpinan Unit Organisasi) ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Ditetapkan di .......................... Pada tanggal ........................... Nama Jabatan Pimpinan Unit Organisasi ttd, Nama Pimpinan Unit Organisasi NIP. .......................................
22 Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Strategis|

Contoh Keputusan Pimpinan Unit Organisasi


DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
KEPUTUSAN SEKRETARIS JENDERAL NOMOR 8.1/SJ/2006 TENTANG RENCANA STRATEGIS SEKRETARIAT JENDERAL DEPARTEMEN KEUANGAN TAHUN 2005-2009 SEKRETARIS JENDERAL,

Menimbang

: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 19 ayat (2) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, jo. Pasal 3 butir a Keputusan Menteri Keuangan Nomor 84/KMK.01/2006 tentang Rencana Strategis Departemen Keuangan Tahun 2005-2009, perlu menetapkan Keputusan Sekretaris Jenderal tentang Rencana Strategis Sekretariat Jenderal Departemen Keuangan Tahun 2005-2009; : 1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286); Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355);

Mengingat

2.

3. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan, Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400); 4. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421); 5. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 74, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4405); 6. Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004-2009 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 11); 7. Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia; 8. Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 66 Tahun 2006; 9. Keputusan Presiden Nomor 20/P Tahun 2005;

23 Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Strategis|

2 10. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 302/KMK.01/2004 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Keuangan sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 426/KMK.01/2004; 11. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 464/KMK.01/2005 tentang Pedoman Strategi dan Kebijakan Departemen Keuangan (Road-Map Departemen Keuangan) Tahun 2005-2009; 12. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 84/KMK.01/2006 tentang Rencana Strategis Departemen Keuangan Tahun 2005-2009. MEMUTUSKAN: Menetapkan : KEPUTUSAN SEKRETARIS JENDERAL TENTANG RENCANA STRATEGIS SEKRETARIAT JENDERAL DEPARTEMEN KEUANGAN TAHUN 2005-2009.

Pasal 1 (1) Rencana Strategis Sekretariat Jenderal Departemen Keuangan Tahun 2005-2009, yang selanjutnya disebut Renstra Sekretariat Jenderal Departemen Keuangan merupakan dokumen perencanaan yang berisi visi, misi, tujuan, sasaran, strategi, kebijakan, program dan kegiatan Sekretariat Jenderal Departemen Keuangan untuk periode 5 (lima) tahun terhitung mulai tahun 2005 sampai dengan tahun 2009, yang disusun berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004-2009 dan Pedoman Strategi dan Kebijakan Departemen Keuangan (Road-Map Departemen Keuangan) Tahun 2005-2009 serta Rencana Strategis Departemen Keuangan Tahun 2005-2009. (2) Renstra Sekretariat Jenderal Departemen Keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun sebagai acuan bagi: a. Penyusunan Renstra Unit Eselon II di lingkungan Sekretariat Jenderal Departemen Keuangan. b. Penyusunan Rencana Kerja (Renja), dan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) Sekretariat Jenderal Departemen Keuangan. Pasal 2 (1) Renstra Sekretariat Jenderal Departemen Keuangan meliputi 2 (dua) dokumen yang terdiri dari Buku Renstra Sekretariat Jenderal Departemen Keuangan dan Matriks Renstra Sekretariat Jenderal Departemen Keuangan. (2) Buku Renstra Sekretariat Jenderal Departemen Keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran I Keputusan Sekretaris Jenderal ini. (3) Matriks Renstra Sekretariat Jenderal Departemen Keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran II Keputusan Sekretaris Jenderal ini.

24 Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Strategis|

3 Pasal 3 Unit Eselon II di lingkungan Sekretariat Jenderal Departemen Keuangan, wajib : a. Menjabarkan lebih lanjut Rencana Strategis Sekretariat Jenderal Departemen Keuangan Tahun 2005-2009 ke dalam Rencana Strategis Unit Eselon II masing-masing dengan memuat indikator kinerja (target) tahunan yang menggambarkan tahapan pencapaian target sampai dengan tahun 2009 dalam waktu segera mungkin. b. Menyusun laporan kinerja tahunan Unit Eselon II berdasarkan Renstra yang telah disusun. Pasal 4 Keputusan Sekretaris Jenderal ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 30 Mei 2006 SEKRETARIS JENDERAL ttd, J.B. KRISTIADI NIP 060032007

25 Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Strategis|

LAMPIRAN 2
TINJAUAN SEKILAS RENSTRA DEPARTEMEN KEUANGAN A. ALUR PERUMUSAN VISI

VISI DEPARTEMEN KEUANGAN


DIJABARKAN

MENJABARKAN

VISI UNIT ESELON I


DIJABARKAN

MENJABARKAN

VISI UNIT ESELON II

DIJABARKAN

MENJABARKAN

VISI UNIT-UNIT PELAKSANA TEKNIS

Unit organisasi Eselon I menunjang pelaksanaan visi Departemen Keuangan dengan menetapkan visi unit Eselon I-nya yang mampu menjabarkan visi yang diemban departemen. Unit Eselon II dan UPT sebagai unit teknis menetapkan visi yang mampu menjadi acuan dalam rangka melaksanakan program/kegiatan unit organisasi dengan tujuan utamanya sebagai pendukung dalam melaksanakan visi unit Eselon I-nya dan Departemen Keuangan, yaitu dalam rangka melaksanakan visi: Menjadi Pengelola Keuangan dan Kekayaan Negara Bertaraf Internasional yang Dipercaya dan Dibanggakan

26 Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Strategis|

Masyarakat, serta Instrumen Bagi Proses Transformasi Bangsa Menuju Masyarakat Adil, Makmur, dan Berperadaban Tinggi. Departemen Keuangan pada prinsipnya mempunyai fungsi Pendapatan Negara, Belanja Negara, Pembiayaan Anggaran, Kekayaan Negara, dan Sistem Pengelolaan Keuangan Negara. Dengan kata lain, fungsi-fungsi tersebut pada hakekatnya merupakan bidangbidang tugas pokok landasan pelaksanaan tugas pokok dan peran unit-unit organisasi di lingkungan Departemen Keuangan.

B. ALUR PERUMUSAN MISI

VISI

Menjadi Pengelola Keuangan dan Kekayaan Negara Bertaraf Internasional yang Dipercaya dan Dibanggakan Masyarakat, serta Instrumen Bagi Proses Transformasi Bangsa Menuju Masyarakat
Adil, Makmur, dan Berperadaban Tinggi

MISI

FISKAL
Mengembangkan Kebijaksanaan Fiskal Yang Sehat dan Berkelanjutan serta Mengelola Kekayaan Negara Secara Hati-hati (Prudent), Bertanggungjawab, dan Transparan.

EKONOMI
Mengatasi Masalah Ekonomi Bangsa serta Secara Proaktif Senantiasa Mengambil Peran Strategis dalam Upaya Membangun Ekonomi Bangsa, yang Mampu Mengantarkan Bangsa Indonesia Menuju Masyarakat yang Dicita-citakan Konstitusi.

SOSIAL BUDAYA
Mengembangkan Masyarakat Finansial yang Berbudaya dan Modern.

POLITIK
Mendorong Proses Demokratisasi Fiskal dan Ekonomi.

KELEMBAGAAN
Senantiasa memperbaharui diri (self reinventing) sesuai dengan aspirasi masyarakat dan perkembangan mutakhir teknologi keuangan serta adminsitrasi publik, serta pembenahan dan pembangunan

Misi terkait dengan tugas pokok dan fungsi unit organisasi yang ditetapkan sebagai penjabaran dari visi yang telah ditetapkan. Pada Renstra Departemen Keuangan tahun 2005 2009, misi yang diemban meliputi misi di bidang fiskal, di bidang ekonomi, di bidang sosial budaya, di bidang politik, dan di bidang kelembagaan. Adapun gambaran alur perumusuan misi Departemen Keuangan seperti tampak pada tabel di atas. Pada prinsipnya misi yang telah ditetapkan harus mampu mengakomodasi semua yang terkandung di dalam visi dan mampu memberikan petunjuk kepada setiap unit organisasi

27 Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Strategis|

untuk menentukan langkah-langkah untuk mencapainya melalui penetapan tujuan dan sasaran yang terukur. Misi Departemen Keuangan seperti yang telah disampaikan mencakup 5 bidang. Adapun penjelasan masing-masing misi tersebut adalah : 1. Misi Bidang Fiskal : Mengembangkan kebijaksanaan fiskal yang sehat dan berkelanjutan serta mengelola kekayaan dan utang negara secara hati-hati (prudent), bertanggungjawab, dan transparan. Misi ini mengandung makna, bahwa kebijakan fiskal pemerintah yang diambil diarahkan untuk menyehatkan APBN dengan mengurangi defisit anggaran melalui peningkatan disiplin anggaran, pengurangan subsidi dan pinjaman luar negeri secara bertahap, peningkatan penerimaan perpajakan dan PNBP, serta penghematan pengeluaran. 2. Misi Bidang Ekonomi : Mengatasi masalah ekonomi bangsa serta secara proaktif senantiasa mengambil peran strategis dalam upaya membangun ekonomi bangsa, yang mampu mengantarkan bangsa Indonesia menuju masyarakat yang dicita-citakan konstitusi. Misi tersebut mengandung makna, bahwa Departemen Keuangan diharapkan mampu berperan dalam mendukung stabilitas ekonomi makro. Di lain pihak Departemen Keuangan secara proaktif melaksanakan agenda reformasi di bidang ekonomi dengan instrumen mewujudkan lembaga keuangan non bank yang sehat dan handal, dan menciptakan pasar modal yang maju. 3. Misi Bidang Sosial Budaya : Mengembangkan masyarakat finansial yang berbudaya dan modern. Maknanya bahwa Departemen Keuangan berusaha untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat akan keuangan dan kekayaan negara dengan

memanfaatkan perkembangan teknologi informasi. 4. Misi Bidang Politik : Mendorong proses demokratisasi fiskal dan ekonomi. Misi ini berkaitan dengan penyiapan perundang-undangan di bidang keuangan maupun kekayaan negara untuk mendukung proses demokratisasi fiskal dan ekonomi. Selain itu Departemen Keuangan berperan memantapkan pelaksanaan perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah. 5. Misi Bidang Kelembagaan : Senantiasa memperbaharui diri (self reinventing) sesuai dengan aspirasi masyarakat dan perkembangan mutakhir teknologi keuangan serta administrasi publik, serta pembenahan dan pembangunan kelembagaan di bidang keuangan yang baik dan kuat yang akan memberikan dukungan dan pedoman

28 Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Strategis|

pelaksanaan yang rasional dan adil, dengan didukung oleh pelaksana yang potensial dan mempunyai integritas yang tinggi. Maknanya organisasi dan tata laksana Departemen Keuangan bersifat dinamis dan harus mampu menyesuaikan dengan perkembangan tugas pokok dan fungsi. Di samping itu juga harus mampu meningkatkan pembinaan dan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) serta mewujudkan e-Government agar mampu memenuhi tuntutan stakeholders (pihak-pihak yang berkepentingan).

C. ALUR PENCAPAIAN VISI Visi pada dasarnya merupakan suatu pandangan yang jauh tentang suatu organisasi. Dari definisi tersebut terlihat adanya unsur waktu yang dinyatakan dalam kata pandangan yang jauh. Faktor waktu tersebut bersifat relatif, artinya tidak ada patokan atau standar baku bahwa yang dinamakan dengan visi berlaku untuk jangka waktu 5, 10, 15 atau 20 tahun, semuanya tergantung kepada konteks, situasi dan kondisi. Visi akan tetap menjadi visi atau visi akan tidak lebih dari sekadar angan-angan apabila tidak bisa direalisasikan ke dalam aktivitas-aktivitas yang bisa mendukung tercapainya tujuan. Setiap orang bisa berangan-angan karena hal tersebut bukanlah hal yang terlalu sulit, akan tetapi tidak semua orang bisa menjelaskan atau tahu cara bagaimana bisa mencapai angan-angannya tersebut. Jadi, pekerjaan terberat adalah bagaimana menerjemahkan visi tersebut sehingga bisa dilaksanakan. Visi yang efektif haruslah sederhana dan mudah diterjemahkan ke dalam aktivitas-aktivitas, selain itu visi juga harus bersifat konkret. Visi harus mampu memberi kesadaran kepada setiap individu bahwa apabila dilaksanakan akan memberikan hasil yang sesuai dengan waktu dan tenaga yang harus mereka keluarkan. Visi haruslah merupakan sesuatu yang oleh individu atau pegawai bisa menceritakan kepada temannya dan cukup membuat bangga bahwa mereka adalah bagian dari padanya. Pencapaian visi melalui aksi atau aktifitas panjabarannya melalui komponen tujuan, sasaran, strategi yang meliputi kebijakan, program/kegiatan pokok dan indikator kinerja. Adapun gambaran dari penjabaran visi tersebut dapat terlihat pada bagan berikut ini.

29 Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Strategis|

VISI

MISI I

MISI II

TUJUAN I.1

TUJUAN I.2

TUJUAN II.1

TUJUAN II.2

SASARAN I.1.1

SASARAN I.1.2

SASARAN I.2.1

SASARAN I.2.2

SASARAN II.1.1

SASARAN II.1.2

SASARAN II.2.1

SASARAN II.2.2

STRATEGI (dari setiap sasaran)


KEBIJAKAN PROGRAM/KEGIATAN POKOK INDIKATOR KINERJA

30 Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Strategis|

D. CONTOH PERUMUSAN VISI, MISI DAN MATRIKS RENSTRA PADA UNIT-UNIT YANG MEMPUNYAI INSTANSI VERTIKAL Berikut ini merupakan suatu gambaran perumusan visi dan misi organisasi lingkup Departemen Keuangan, dengan mengambil contoh pada unit organisasi Direktorat Jenderal Pajak, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, dan BPPK.

Visi Departemen Keuangan :

Menjadi Pengelola Keuangan dan Kekayaan Negara Bertaraf Internasional yang Dipercaya dan Dibanggakan Masyarakat, serta Instrumen Bagi Proses Transformasi Bangsa Menuju Masyarakat Adil, Makmur, dan Berperadaban Tinggi.

Misi : 1. Di bidang Fiskal 2. Di bidang Ekonomi 3. Di bidang Sosial Budaya 4. Di Bidang Politik 5. Di Bidang Kelembagaan Masing-masing Unit Eselon I menterjemahkan Visi dan Misi Departemen Keuangan dengan menetapkan Visi dan Misi Unit Eselon I seperti contoh berikut ini.

31 Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Strategis |

DJP Visi : Menjadi model pelayanan masyarakat yang menyelenggarakan sistem dan manajemen perpajakan kelas dunia, yang dipercaya dan dibanggakan masyarakat Visi :

DJBC Visi :

DJPB Visi :

DJKN Visi :

BPPK

Menjadi model pelayanan masyarakat yang sejajar dengan institusi kepabeanan dan cukai kelas dunia yang dipercaya dan dibanggakan masyarakat

Menjadi pengelola perbendaharaan negara yang profesional, transparan dan akuntabel dalam proses mewujudkan bangsa yang mandiri dan sejahtera.

Menjadi pengelola kekayaan negara yang profesional dan bertanggung jawab untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Menjadi Penyelenggara Pengembangan SDM yang Berkualitas dalam rangka meningkatkan pengetahuan di bidang keuangan dan kekayaan negara

Misi : Misi : Misi : Misi : 1. Menghimpun 1. Mengoptimalkan 1. Mewujudkan 1. Mewujudkan dan penerimaan terlaksananya optimalisasi merealisasikan negara dari sektor anggaran yang penerimaan, efisiensi penerimaan impor, ekspor dan berbasis kinerja. pengeluaran dan negara dari cukai. 2. Mewujudkan efektifitas pengelolaan sektor pajak 2. Memberikan pengelolaan kas kekayaan negara. 2. Senantiasa pelayanan terbaik negara yang 2. Mengamankan memperbaharui kepada industri, transparan dan kekayaan negara diri, selaras perdagangan dan akuntabel. melalui pembangunan dengan aspirasi pariwisata. 3. Mewujudkan database serta masyarakat dan 3. Mengembangkan pelayanan di bidang penyajian jumlah dan teknokrasi pengawasan yang perbendaharaan nilai eksisting
32 Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Strategis |

Misi : Mewujudkan SDM berkualitas sesuai dengan perkembangan dinamis Departemen Keuangan

perpajakan serta administrasi perpajakan yang mutakhir. 3. Meningkatkan penerimaan pajak 4.

efektif dalam negara yang cepat rangka penegakan dan tepat. hukum di bidang 4. Mewujudkan kepabeanan dan tersedianya cukai serta informasi keuangan perlindungan yang akurat, masyarakat. transparan dan Mendorong akutanbel. terciptanya iklim usaha yang kondusif bagi pertumbuhan industri perdagangan dan pariwisata. 5. Memberdayakan sumber daya yang tersedia sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

kekayaan negara. 3. Mewujudkan nilai kekayaan negara yang wajar dan dapat dijadikan sebagai acuan dalam berbagai keperluan penilaian. 4. Melaksanakan pengurusan piutang negara yang efisien, efektif, transparan dan akuntabel. 5. Mewujudkan lelang sebagai instrumen jual beli yang mampu mengakomodasikan kepentingan masyarakat.

33 Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Strategis |

CONTOH MATRIKS RENCANA STRATEGIS


Instansi : SATKER DITJEN PAJAK Visi : Menjadi model pelayanan masyarakat yang menyelenggarakan sistem dan manajemen perpajakan kelas dunia, yang dipercaya dan Dibanggakan masyarakat Misi : Menghimpun dan merealisasikan penerimaan negara dari sektor pajak *) Tujuan Tercapainya target penerimaan pajak Sasaran Meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak Strategi Meningkatkan jumlah Wajib Pajak Kebijakan Mengintensifkan kegiatan penagihan pajak Program/Kegiatan Pokok Program Peningkatan Penerimaan dan Pengamanan Keuangan Negara Kegiatan Pokok : 1. Melakukan inventarisasi terhadap penunggak pajak Indikator Kinerja Keterangan Tercapainya tax ratio DJP sebesar 16 % dari PDB

1. Terlaksananya inventarisasi terhadap . WP sebagai penunggak pajak. 2. Terlaksananya analisis penunggak pajak sebanyak 3. Tertagihnya pajak sebesar . Atau sebanyak .. WP

2. Melakukan analisis penunggak pajak 3. Melakukan Penagihan aktif

*) Merupakan contoh dari penjabaran salah satu Misi

34 Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Strategis |

Instansi : SATKER DITJEN BEA DAN CUKAI Visi : Menjadi model pelayanan masyarakat yang sejajar dengan institusi kepabeanan dan cukai kelas dunia yang dipercaya dan dibanggakan Masyarakat Misi : Mengoptimalkan penerimaan negara dari sektor impor, ekspor dan cukai*) Tujuan Tercapainya target penerimaan bea dan cukai Sasaran Meningkatnya pelayanan publik dan perlindungan masyarakat Strategi Menyempurnakan administrasi kepabeanan dan cukai Kebijakan Program/Kegiatan Pokok Indikator Kinerja Keterangan Meningkatkan sistem Program Peningkatan Tercapainya tax ratio DJBC pengawasan dalam Penerimaan dan sebesar 16 % dari PDB rangka penegakan Pengamanan Keuangan hukum dan Negara perlindungan kepada masyarakat di bidang Kegiatan Pokok : 1. Terlaksananya sistem kepabeanan dan 1. Menyusun sistem pengadaan dan cukai pengadaan dan pengamanan pita cukai pengamanan pita cukai terpadu pada tahun terpadu 2. Meningkatkan kualitas sarana dan prasana operasi dalam rangka mendukung sistem pengawasan kepabeanan dan cukai 3. Melaksanakan pengadaan mesin hitung dan alat deteksi pita cukai *) Merupakan contoh dari penjabaran salah satu Misi 2. Tersedianya kapal patroli . unit, speed boat . Unit, membangun gudang sitaan/pita cukai pada tahun .. 3. Tersedia mesin hitung unit dan alat deteksi pita cukai . unit pada tahun ..

35 Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Strategis |

Instansi : SATKER DITJEN PERBENDAHARAAN Visi : Menjadi Pengelola Keuangan Negara Yang Profesional dan Bertanggung Jawab Guna Mewujudkan Bangsa Yang Mandiri dan Sejahtera Misi : Mewujudkan Pengelolaan Kas Negara Yang Efisien, Efektif, Transparan dan Akuntabel*) Tujuan Memantapkan pelaksanaan sistem penganggaran yang akuntabel Sasaran Terselenggaranya pengelolaan kas negara yang akurat, efisien, dan reliabel Strategi Menerapkan Treasury Single Account (TSA) Kebijakan Meningkatkan kualitas SDM melalui pelatihan untuk penerapan TSA dan anggaran berbasis akrual Program/Kegiatan Pokok Program Peningkatan Efektivitas Pengeluaran Negara Kegiatan Pokok : 1. Pelatihan BI RTGS Indikator Kinerja Tersedianya SDM yang berkualitas dalam rangka pengelolaan kas negara yang akurat, efisien dan reliabel 1. Terlaksananya pelatihan BI RTGS pada tahun . atau sebanyak . Gelombang sampai dengan tahun 2. Tersosialisasikannya RPP Pengelolaan Uang pada tahun atau pada .lokasi 3. Terlaksananya sosialisasi/pelatihan/pendidik an mekanisme pelaksanaan TSA pada .lokasi atau ..kali s.d tahun. 4. Terlaksananya sosialisasi anggaran berbasis akrual . gelombang s.d tahun . Keterangan DJPBN

2. Sosialisasi RPP Pengelolaan Uang

3. Sosialisasi/Pelatihan/ Pendidikan mekanisme pelaksanaan TSA 4. Sosialisasi anggaran berbasis akrual *) Merupakan contoh dari penjabaran salah satu Misi

36 Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Strategis |

Instansi : SATKER DITJEN KEKAYAAN NEGARA Visi : Menjadi Pengelola Kekayaan Negara yang Profesional dan Bertanggung Jawab Untuk Sebesar-besar Kemakmuran Rakyat Misi : Mewujudkan Lelang Sebagai Instrumen Jual Beli Yang Mampu Mengakomodasikan Kepentingan Masyarakat *) Tujuan Sasaran Strategi Kebijakan Program/Kegiatan Pokok Indikator Kinerja Keterangan Mewujudkan Meningkatnya Menyempurnakan Pengembangan Peningkatan Efektifitas Tercapainya pengurusan DJKN pengurusan kualitas pengurusan sistem dan prosedur SIMPLE Pengelolaan Kekayaan piutang negara dan lelang piutang negara dan piutang negara dan pengurusan piutang Negara yang berkualitas pelayanan lelang lelang negara dan lelang yang efisien dan Kegiatan Pokok : transparan Menyusun Tersedianya SIMPLE yang penyempurnaan SIMPLE telah disempurnakan pada tahun .. Penyusunan pedoman penatausahaan BKPN dan Risalah Lelang Peningkatan Efektifitas Pengelolaan Kekayaan Negara Kegiatan Pokok : 1. Menyusun Buku Pedoman Penatausahaan BKPN Tercapainya pengurusan piutang negara dan lelang yang berkualitas

1. Tersusunnya Buku Pedoman Penatausahaan BKPN pada tahun 2. Tersusunnya Buku Pedoman Penatausahaan Risalah Lelang pada tahun

2. Menyusun Buku Pedoman Penatausahaan Risalah Lelang *) Merupakan contoh dari penjabaran salah satu Misi

37 Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Strategis |

Instansi : SATKER BPPK Visi Misi : Menjadi Penyelenggara Pengembangan SDM yang Berkualitas dalam rangka meningkatkan pengetahuan di bidang keuangan dan kekayaan negara : Mewujudkan SDM berkualitas sesuai dengan perkembangan dinamis Departemen Keuangan*) Tujuan Memenuhi Kebutuhan SDM yang berkualitas dengan mengembangkan diklat berbasis kompetensi dan teknologi informasi Sasaran Terselenggaranya diklat berbasis kompetensi dan teknologi informasi (TI) Strategi Menyelenggarakan diklat di bidang keuangan dan kekayaan negara yang searah dengan jenjang karir dan pengembangan organisasi Kebijakan Menyelenggarakan diklat dan pendidikan kedinasan sejalan dengan kebutuhan instansi pengguna Program/Kegiatan Pokok Program Pendidikan Kedinasan Kegiatan Pokok : 1. Menyelenggarakan diklat karir dan diklat teknis/fungsional Indikator Kinerja Meningkatnya kualitas SDM di Departemen Keuangan 1. Terselenggaranya diklat karir sebanyak .. periode (.. peserta) dan diklat teknis/fungsional sebanyak .periode (..peserta) 2. Terselenggaranya pendidikan kedinasan pada tahun ./.. peserta Keterangan BPPK

2. Menyelenggarakan pendidikan kedinasan

*) Merupakan contoh dari penjabaran salah satu Misi

a.n. MENTERI KEUANGAN SEKRETARIS JENDERAL ttd MULIA P. NASUTION NIP 060046519
38 Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Strategis |