Anda di halaman 1dari 3

SMOKELESS TOBACCO-INDUCED KERATOSIS Mengunyah tembakau terbukti sebagai faktor risiko penting terhadap terbentuknya kanker mulut di AS.

Kebiasaan mengunyah tembakau mengakibatkan lesi mukosa berwarna putih di area kontak dengan tembakau dan disebut keratosis susur tembakau, snuff dippers keratosis, or tobacco pouch keratosis. Walaupun lesi ini dianggap sebagai pra-kanker, tetapi mereka berbeda dengan leukoplakia dan memiliki resiko transformasi malignant yang rendah. Kebiasaan ini pernah manjadi suatu yang lazim di Amerika Serikat dan sangat umum pada populasi lainnya terutama di Swedia, India, dan Asia Tenggara. Smokeless tobacco di kalangan pria kulit putih Amerika Serikat telah muncul kembali baru baru ini. Diperkirakan proporsi pria dewasa di Amerika Serikat yang secara teratur menggunakan spit tembakau adalah pada rentang 6-20%. Sayangnya, kebiasaan ini dimulai relatif dini, biasanya antara usia 9-15 tahun, jarang sekali dimulai setelah umur lebih dari 20 tahun Susur tembakau (smokeless tobacco) diketahui mengandung beberapa unsur karsinogen, antara lain N-nitrosonornicotine (NNN), yang terbukti menyebabkan perubahan mukosa/selaput lendir. Selain itu, mengunyah/nyusur tembakau dapat menjadi faktor risiko timbulnya karies pada permukaan akar, dan sedikit karies korona. Ini mungkin disebabkan kandungan gulanya yang tinggi dan keterkaitan dengan menyusutnya area gusi (gingival). Lamanya keterpaparan mempengaruhi besarnya kerusakan mukosa. Smokeless tobacco tidak secara konsisten terkait dengan peningkatan rate oral cancer. Sekitar 20% pria dewasa Swedia menggunakan tembakau basah (moist snuff) , namun belum ditemukan adanya peningkatan insidensi kanker kavitas oral atau pun pharynx yang signifikan. Menurut standar internasional, prevalensi kanker oral di Swedia adalah rendah. Tingginya tingkat penggunaan tembakau dapat menurunkan jumlah perokok dan menurunkan prevalensi kanker mulut.

Gambaran Umum Banyak perubahan terjadi pada pecandu susur tembakau. Perubahan tersebut dapat dilihat pada daerah yang sering kontak dengan tembakau. Yang paling sering adalah pada anterior mandibular vestibule, lalu posterior vestibule. Permukaan mukosa nampak putih, berintil-berintil atau

berkerut; pada beberapa kasus, nampak terlipat (keratosis kantong tembakau / tobacco pouch keratosis).

Yang umum terlihat adalah berkurangnya area gusi (gingival recession) disertai kerusakan jaringan

periodontal pada daerah kontak langsung.

Penyusutan ini mencakup aspek permukaan dari gigi berhubungan dengan durasi dan jumlah penggunaan tembakau. Mukosa nampak abu-abu atau abu-abu

keputihan dan nyaris tembus pandang/bening (translusen). Karena tembakau biasanya tidak di mulut saat pemeriksaan, mukosa yang terbentang nampak bergerigi atau berkerut, dan suatu kantung biasanya terlihat. Kantong tembakau putih ini dapat menjadi tebal atau menjadi nodul pada pecandu tembakau berat dan lama. Terkadang, unsur erythroplakic juga terlihat. Lesi ini biasanya asimptomatik.

Di bawah mikroskop, epitel nampak hyperkeratotic dan menebal. Suatu vacuolisasi atau edema biasanya terlihat pada lapisan keratin maupun epitel superfisial/luar. Displasia tidak umum terjadi pada tobacco pouch keratosis.

Perawatan dan Prognosis Berhenti menyusur biasanya memulihkan penampilan mukosa dalam tempo 1-2 minggu. Spesimen biopsi perlu diambil dari lesi yang tersisa setelah 1 bulan berhenti. Biopsi perlu dilakukan pada lesi yang nampak tidak biasa dan bila terjadi ulserasi, erythroplakia, sangat putih, atau permukaan verrucoid atau papiler. Risiko transformasi malignan berlipat 4 kali pada penyusur tembakau kronis.