Anda di halaman 1dari 7

KRITIK ARSITEKTUR

Disusun oleh: Yosoa Hendra P. Verina William Surya Dinata (37512) (36668) (37124)

JURUSAN TEKNIK ARSITEKTUR DAN PERENCANAAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS GADJAH MADA 2013

Arsitektur merupakan perpaduan antara seni dan teknik merancang bangunan, dalam hal perancangan konstruksi, dan penyelesaian dekoratif yang mempelajari bentuk fisik ruang buatan sebagai tempat bagi manusia yang berhubungan dengan segala kebutuhannya, baik dari masing-masing individu maupun masing-masing kelompok. Arsitektur terus berkembang seiring dengan kebutuhan manusia dan kecanggihan teknologi, selain itu factor kebudayaan dari setiap daerah juga akan berkembang. Kebudayaan sangat mempengaruhi perkembangan arsitektur, mencakup interaksi antar kebudayaan manusia dengan alam, dalam hal ini termasuk iklim, topografi, dan factor lingkungan lainnya. Oleh karena itu dalam mempelajarinya, dibagi ke dalam periode, tempat,siapa, atau masyarakat mana yang membangun. Salah satu bukti dari perkembangan arsitektur adalah sebuah kritik arsitektur, kritik merupakan rekaman dari tanggapan lingkungan buatan (built environment). Kritik meliputi semua tanggapan termasuk tanggapan negatif dan pada hakekatnya kritik bermaksud menyaring dan melakukan pemisahan. Ciri pokok kritik adalah pembedaan dan bukan penilaian (misalnya : reaksi penduduk terhadap rancangan pemukiman dilakukan dengan metode penyampaian tanggapan). Untuk mengkritik ada beberapa metode yang dapat digunakan, salah satunya dengan menggunakan metode nofmatif. Kritik normative meyakini bahwa dalam sebuah perkembangan lingkungan, bangunan, wilayah dan perkotaan selalu di bangun dengan seuatu model, pola, standart sebagai sebuah prinsip dan melalui kualitas serta kesuksesan sebuah lingkungan binaan dapat di nilai. Penilaian ini dapat berupa orma standart yang bersifat fisik, tetapi ada kalanya bersifat kualitatif dan tidak dapat dikuantifikasikan. Dalam metode normative ini terdapat 4 jenis kritik, yaitu kritik doctrinal, kritik terukur, kritik typical dan kritik sistematik. Dalam hal ini, Untuk kritik doctrinal merupakan kritik yang mengacu pada norma yang bersifat general dengan menggunakan pernyataan-pernyataan yang tidak terukur. Sedangkan utnuk kritik terukur serupakan metode yang mengumpulkan dugaan-dugaan yang mampu mendefinisikan bangunan dengan baik secara kuantitatif. Kritik tipical menggunakan norma yang di dasarkan pada model yang digeneralisasi untuk satu kategori bangunan yang spesifik. Sedangkan untuk kritik sistematik menggunakan norma yang menyusun elemenelemen yang saling berkaitan untuk satu tujuan. kami akan membahas secara khusus kritik

tipical. Kritik tipical pada sebuah bangunan lebih didasarkan pada kualitas, utilitas dan ekonomi dalam lingkungan yang telah terstandarisasi dan kemauannya dapat terangkum dalam suatu typology. Kritik tipical dapat dilihat dari struktural, fungsi dan bentuk. Aspek structural dapat dilihat pada lingkungan yang dikaitkan dengan lingkungan yang dibuat dengan material yang sama dan pola yang sama pula, misalnya pada jenis bahan dan system struktur bangunan. Apabila melihat dari aspek fungsi, hal ini dapat dilihat pada pembandingan lingkungan yang didesain untuk aktifitas yang sama. Aspek yang lain,dapat dilihat pada bentuk, yang dapat diasumsikan bahwa ada tipe bentuk-bentuk yang eksestensial dan memungkinkan untuk dapat dianggap memadai bagi fungsi yang sama pada bangunan lain. Penilaian secara kritis dapat difocuskan pada cara bagaimana bentuk itu dimodifikasi dan dikembangkan variasinya. Kritik tipikal ini dapat menyebabkan Munculnya Semiotica dalam arsitektur, satu bentuk ilmu sistem tanda (Science of sign systems) yang mengadopsi dari tipe ilmu bahasa. Walaupun kemudian banyak pakar menyangsikan kesahihan tipe ini. Dan menyebut Semiotica dalam arsitektur sebagai bentuk pseudo theoretic Munculnya Pattern Language sebagaimana telah disusun oleh Christoper Alexander. Banyak penelitian yang mengarah pada penampilan bentuk bangunan. Lahirnya arsitektur yang tidak memiliki keunikan dan bangunan secara individual. Dalam hal ini kami akan mencoba mengaplikasikan kritik tipical pada bangunan Mc. Donals Jombor untuk melihat apakah bangunan ini berbeda dengan restaurant Mc. Donals yang lain.

Kritik Tipikal Eksterior McD Jombor, Ring Road Utara Yogyakarta McDonalds merupakan sebuah franchise makanan cepat saji yang terhitung sangat mendunia. Menurut berita bisnis di kompas.com, di Indonesia saja McD telah diekspansi hingga 142 gelar. Bangunan produk fastfood ini dapat digolongkan tipikal, dimana bangunannya menggunakan dinding yang cukup solid dan bukaan kaca yang tidak terlalu mendominan. Gaya tipikal McD tersebut lebih mengacu pada gaya arsitektur modern dengan perpaduan arsitektur simbolis. Karakter akan bangunannya adalah bangunan yang umumnya sederhana ditambah dengan tulisan McDonald di mukanya sebagai aksesori dan tanda kenal bangunan. Selain dari simbol tersebut, warna yang cukup mendominasi dan menjadi karakter dari McD yaitu gabungan warna merah dan kuning dengan dasar dinding putih merupakan sebuah identitas yang cukup kuat. Berikut beberapa contoh bangunan McD yang tersebar di Indonesia.

McD Yogyakarta (Sudirman) Sumber :Kapanlagi.com

McD Bandung Sumber :your-indonesia.com

McD Surabaya Sumber :pitergan.com

Berbeda dari McD yang umumnya ada di Indonesia, McD yang terdapat di Jalan Ring Road Utara di daerah Jombor ini memiliki konsep dan tipe (muka) bangunan yang tidak sama. Bangunan yang satu ini lebih banyak mengekspos arsitektur dalam hal transparansinya dengan kaca, sehingga tidak didominasi oleh dinding dinding yang solid. Selain itu bentuk gubahan massa yang kotak dengan permainan komposisi seakan bahwa bangunan tersebut ingin keluar dari kutatan tipikal bangunan yang ada, yaitu massa yang singular dan monoton. Berikut merupakan gambaran bangunan McD yang ada di Jombor, Yogyakarta.

McD Jombor, Yogyakarta Sumber :skyscrapercity.com

Transparansi fasad bangunan McD ini berbeda dari tipe pengolahan fasad bangunan tipikal umumnya, dimana bangunan umumnya lebih mementingkan fungsionalitas, sedangkan pada kasus bangunan ini, elemen estetika dan fasad dengan grid-grid halus merupakan elemen pertimbangan dari desain. Selain itu, dominasi warna pada bangunan ini didominasi menggunakan warna putih hingga kecoklatan yang memberi kesan hangat. Namun, walaupun dominasi warna bangunan tersebut berbeda dari warna bangunan setipe yang ada, symbol tulisan McDonald yang menjadi signage pengenal bangunan setipe masih tetap dipertahankan. Material yang digunakan pada bangunan tersebut masih sama dengan bangunan setipe yang ada, yaitu kombinasi antara elemen beton, logam (baja dan aluminium) serta kaca. Hanya saja, pada bangunan setipe yang biasa ada, kulit eksterior bangunan dilapisi dengan PVC (Polivynil Carbonat) yang berwarna, sedangkan pada bangunan ini kulit eksterior dilapisi dengan material sejenis wallpaper yang bertekstur kayu. Lapisan yang dikombinasikan dengan komposisi grid-grid kaca tersebut menjadikan bangunan terlihat bergaya minimalis. Bukan hanya komponen visual bangunan yang menjadi perhatian dalam mendesain, namun lingkungan sekitar bangunan juga turut menjadi bahan pertimbangan. Bangunan McD setipe yang ada umumnya sangat menuntut akan fungsionalitas ruang sehingga pembagian ruang yang ada hanyalah pembagian ruang restoran, ruang untuk sirkulasi dan ruang parker (jika dibutuhkan). Sedangkan pada McD yang satu ini, elemen lingkungan hidup seperti taman-taman hijau sebagai salah satu area peresapan menjadi sebuah keunggulan disbanding

bangunan setipe lainnya. Tuntutan akan efektivitas ruang tidak menjadikan desainer merupakan elemen lingkungan biotik di lingkungan tersebut. Restoran fastfood merupakan restoran siap saji yang pada awalnya hadir karena kebutuhan masyarakat yang terlalu sibuk sehingga tidak memiliki waktu untuk makan, dimana pengunjung bisa dengan cepat menyelesaikan makanannya di tempat makan tersebut ataupun bisa dengan cepat menerima pesanan mereka untuk take away. Seperti konsep restoran fastfood pada umumnya, makanan yang dijual merupakan makanan sederhana dan siap saji seperti burger, kentang goreng, es krim , ayam goreng dan sebagainya. Interior pada restoran ini bersifat sederhana, dengan finishing ruangan yang biasa, furnitur yang tidak begitu nyaman seperti kursi dan meja yang cukup kecil hanya sebatas untuk kebutuhan makan dan tidak memberikan kenyamanan bagi pengunjung untuk duduk lama. Sebagai salah satu franchise fastfood, Mcd Jombor menawarkan suasana yang cukup berbeda dibandingkan bangunan setipenya yang terdapat di beberapa daerah di Yogyakarta. Menyesuaikan dengan masa modern sekarang ini, dimana gaya hidup masyarakat cenderung senang bertatap muka, berkumpul dan bersantai sambil ngobrol. Interior pada Mcd Jombor ini mencoba menanggapi kebutuhan masyarakat tersebut dengan hal yang cukup berbeda, dibandingkan McD lainnya di Yogyakarta, seperti penggabungan konsep caf dengan konsep restoran fastfood, yang memberikan kenyamanan tidak hanya untuk makan namun juga untuk bersosialisasi.

McD Jombor, Yogyakarta Sumber : dokumen pribadi

Untuk memberikan kenyamanan lebih bagi pengunjung ,elemen interior McD Jombor ini menggunakan sofa yang cenderung membuat pengunjung lebih santai sambil makan, penggunaan meja yang lebih besar yang memungkinkan untuk pengunjung yang berkelompok tanpa harus menggabungkan beberapa meja ataupun pisah meja. Sedangkan pada bangunan setipe lainnya, cenderung menggunakan meja yang ukurannya kecil hanya sebatas untuk makan berdua atau berempat. Dari segi finishing interior, suasana interior yang diciptakan lebih berkelas dan nyaman, dibandingkan yang pada umumnya kurang menarik dengan finishing cat dan partisi kaca. Pada ruangan menggunakan banyak detail arsitektural yang menarik, seperti penggunaan partisi kisi dari kayu yang memberikan kesan ruangan yang menarik dan tidak kaku,penggunaan wallpaper motif kayu, permainan warna pada ruangan baik pada dinding maupun furnitur, dan juga permainan lighting pada ruangan. Dari segi fungsi bangunan dapat dilihat dari pembagian zonasi ruangan untuk area makan yang sendiri atau berdua dengan pengunjung yang datang berkelompok untuk mengurangi faktor kebisingan . sedangkan pada bangunan setipe lainnya tidak ada pembagian zonasi untuk berkelompok, karena tempat makannya maksimal hanya untuk berempat. Untuk mendukung fungsi bangunan sebagai tempat makan, Mcd menyediakan fasilitas tempat bermain anak yang juga ada pada bangunan setipe lainnya.

Anda mungkin juga menyukai