Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN

PROGRAM PROFESI NERS PSIK FK UNSRI


Keperawatan Medical Bedah

JUDUL KASUS RUPTUR KORNEA RUANG MATA

OLEH: TIARA DWI YUNIANTI, S.KEP 04064891315041

FAKULTAS STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2014

RUPTUR KORNEA

A. DEFINISI Trauma tembus pada mata adalah suatu trauma dimana seluruh lapisan jaringan atau organ mengalami kerusakan. Ruptur kornea merupakan trauma pada kornea baik partial- maupun full-thickness. Luka partial-thickness tidak mengganggu bola mata (abrasi), sedangkan Luka full-thickness penetrasi penuh pada kornea, menyebabkan ruptur dari bola mata.

B. ANATOMI DAN FISIOLOGI MATA Secara garis besar anatomi mata dapat dikelompokkan menjadi empat bagian, dan untuk ringkasnya fisiologi mata akan diuraikan secara terpadu. Keempat kelompok ini terdiri dari : 1) Palpebra Dari luar ke dalam terdiri dari: kulit, jaringan ikat lunak, jaringan otot, tarsus, vasia dan konjungtiva. Fungsi dari palpebra adalah untuk melindungi bola mata, bekerja sebagai jendela memberi jalan masuknya sinar kedalam bola mata, juga membasahi dan melicinkan permukaan bola mata. 2) Rongga mata Merupakan suatu rongga yang dibatasi oleh dinding dan berbentuk sebagai piramida kwadrilateral dengan puncaknya kearah foramen optikum. Sebagian besar dari rongga ini diisi oleh lemak, yang merupakan bantalan dari bola mata dan alat tubuh yang berada di dalamnya seperti: urat saraf, otot-otot penggerak bola mata, kelenjar air mata, pembuluh darah 3) Bola mata Menurut fungsinya maka bagian-bagiannya dapat dikelompokkan menjadi: - Otot-otot penggerak bola mata - Dinding bola mata yang teriri dari: sclera dan kornea. Kornea kecuali sebagai dinding juga berfungsi sebagai jendela untuk jalannya sinar. - Isi bola mata, yang terdiri atas macam-macam bagian dengan fungsinya masing-masing

4) Sistem kelenjar bola mata Terbagi menjadi dua bagian: - Kelenjar air mata yang fungsinya sebagai penghasil air mata - Saluran air mata yang menyalurkan air mata dari fornik konjungtiva ke dalam rongga hidung

C. KLASIFIKASI Klasifikasi trauma mata Berdasarkan Birmingham Eye Trauma

Terminology System (BETTS) 1. Trauma bola mata tertutup (closed-globe injury) Kontusio Laserasi lamellar

2. Trauma bola mata terbuka (open-globe injury) Ruptur Laserasi o Penetrasi o Intraocular foreign body (IOFB)

Perforasi

Langkah pertama dalam evaluasi trauma kornea adalah menentukan apakah termasuk luka full-thickness atau bukan dan mengakibatkan rupture bola mata. Luka full-thickness Aqueous humor keluar dari bilik mata depan, yang ditandai dengan kornea yang rata, Gelembung air di bawah kornea, Pupil asimetris sekunder karena iris yang menonjol kearah defek kornea.

D. ETIOLOGI Trauma tembus disebabkan benda tajam atau benda asing masuk kedalam bola mata.

E. PATOFISIOLOGI Trauma tembus pada mata karena benda tajam maka dapat mengenai organ mata dari yang terdepan sampai yang terdalam. Trauma tembus bola mata bisa mengenai : 1) Palpebra Mengenai sebagian atau seluruhnya jika mengenai levator apaneurosis dapat menyebabkan suatu ptosis yang permanen 2) Saluran Lakrimalis Dapat merusak sistem pengaliran air mata dari pungtum lakrimalis sampai ke rongga hidung. Hal ini dapat menyeabkan kekurangan air mata. 3) Congjungtiva Dapat merusak dan ruptur pembuluh darah menyebabkan perdarahan sub konjungtiva 4) Sklera Bila ada luka tembus pada sklera dapat menyebabkan penurunan tekanan bola mata dan kamera okuli jadi dangkal (obliteni), luka sklera yang lebar dapat disertai prolap jaringan bola mata, bola mata menjadi injury. 4

5) Kornea Bila ada tembus kornea dapat mengganggu fungsi penglihatan karena fungsi kornea sebagai media refraksi. Bisa juga trauma tembus kornea menyebabkan iris prolaps, korpus vitreum dan korpus ciliaris prolaps, hal ini dapat menurunkan visus 6) Uvea Luka dapat menyebabkan kerusakan pengaturan banyaknya cahaya yang masuk sehinggan muncul fotofobia atau penglihatan kabur 7) Lensa Bila ada trauma akan mengganggu daya fokus sinar pada retina sehingga menurunkan daya refraksi dan sefris sebagai penglihatan menurun karena daya akomodasi tisak adekuat. 8) Retina Dapat menyebabkan perdarahan retina yang dapat menumpuk pada rongga badan kaca, hal ini dapat muncul fotopsia dan ada benda melayang dalam badan kaca bisa juga terjadi oblaina retina.

F. PATHWAY Trauma tajam pada mata

Menginfeksi Kornea

Ulkus Kornea

Perforasi Kornea

Ruptur Kornea

Prolaps Pada Iris

Penurunan Visus

Penglihatan Tergangu

Gangguan Persepsi Sensori : Penglihatan

Resiko Cidera

Ansietas

Resiko Tinggi Infeksi

G. TANDA DAN GEJALA 1) Tajam penglihatan yang menurun 2) Tekanan bola mata rendah 3) Bilik mata dangkal 4) Bentuk dan letak pupil berubah 5) Terlihat adanya ruptur pada cornea atau sclera 6) Terdapat jaringan yang prolaps seperti cairan mata iris, lensa, badan kaca atau retina

7) Kunjungtiva kemotis

H. PEMERIKSAAN PENUNJANG a. Pemeriksaan Radiologi Pemeriksaan radiology pada trauma mata sangat membantu dalam menegakkan diagnosa, terutama bila ada benda asing . b. Pemeriksaan Computed Tomography (CT) Suatu tomogram dengan menggunakan komputer dan dapat dibuat scanning dari organ tersebut. c. MRI d. USG Pemeriksaan ultrasonographi (USG) untuk menentukan letaknya, dengan pemeriksaan ini dapat diketahui benda tersebut pada bilik mata depan, lensa, retina.

I. PENATALAKSANAAN Empat tujuan utama dalam mengatasi kasus trauma mata adalah : 1) Memperbaiki penglihatan 2) Mencegah terjadinya infeksi

3) Mempertahankan struktur dan anatomi mata, 4) Mencegah sekuele jangka panjang Bila luka kecil, lepaskan konjungtiva di limbus yang berdekatan, kemudian ditarik supaya menutupi luka kornea tersebut (flap konjungtiva). Bila luka di kornea luas, maka luka itu harus dijahit. Kemudian ditutup dengan flap konjingtiva Jika luka di kornea itu disertai prolaps iris, iris yang keluar harus dipotong dan sisanya di repossisi, robekan di kornea dijahit dan ditutup dengan flap konjungtiva Kalau luka telah berlangsung beberapa jam, sebaiknya bilik mata depan dibilas terlebih dahulu dengan larutan penisilin 10.000 U/cc, sebelum kornea dijahit. Sesudah selesai seluruhnya, berikan antibiotika dengan spektrum luas dan sistemik, juga subkonjungtiva. Obat-obatan : 1. Antibiotik Pemberian obat ini adalah untuk mencegah agar tidak terjadi endoftalmitis postraumatika. Sebaiknya diberikan antibiotika spektrum luas untuk Gram positif dan Gram negatif. Obat yang dapat digunakan adalah Vankomisin intravitreal 1 mg atau intravena 1 gram tiap 12 jam, Ofloksasin 1 tetes 4 kali sehari, atau Seftazidim 250 mg-2 g IV/IM tiap 8-12 jam atau 2,25 mg intravitreal. 2. Anti tetanus profilaksis 3. Analgesik

J. PENGKAJIAN Hal hal yang perlu diperhatikan: a. Bagaimana terjadinya trauma mata Tanggal, waktu dan lokasi kejadian trauma perlu dicatat. Hal ini perlu untuk mengetahui apakah trauma ini terjadi pada waktu seseorang sedang melakukan pekerjaan sehari-hari. Perlu juga ditanyakan apakah alat-alat yang digunakan waktu terjadi trauma, apakah penderita waktu menggunakan kacamata pelindung atau tidak, kalau seandainya memakai kacamata, apakah kacamata itu turut pecah sewaktu terjadinya trauma. b. Menentukan obyek penyebab trauma mata. Menanyakan secara terperinci komposisi alat sewaktu terjadinya trauma. Apakah alat berupa paku, pecahan besi, kawat, pisau, jenis kayu, bambo dll. Perlu juga ditanyakan apakah alat tersebut berupa benda tajam atau tumpul, atau ada kemungkinan bercampurnya dengan debu dan kotoran lain. c. Menentukan lokasi kerusakan intra okuler. Untuk menentukan lokasi kerusakan pada mata, perlu diketahui jarak dan arah penyebabnya trauma mata, posisi kepala, dan arah penderita melihat pada waktu terjadi trauma. d. Menetukan kesanggupan sebelum trauma. Pada pengkajian ditanyakan apakah ada penyakit mata sebelumnya, atau operasi mata sebelum terjadi trauma pada kedua matanya. Perlu ditanyakan apakah perubahan visus terjadi secara tiba-tiba atau secara berangsur-angsur sebagai akibat ablasio retina, atau vitrium hemorrage.

K. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Gangguan persepsi sensori-perseptual penglihatan berhubungan dengan gangguan penerimaan sensori/status organ indera. 2. Resiko cedera berhubungan dengan kerusakan fungsi sensori penglihatan 3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasive dan rupture pada kornea

4. Ansietas berhubungan dengan faktor fisiologis, perubahan status kesehatan: adanya nyeri;kemungkinan /kenyataan kehilangan penglihatan.

L. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN 1. Gangguan persepsi sensori : penglihatan berhubungan dengan gangguan penerimaan sensori/status organ indera. Tujuan : Meningkatkan ketajaman penglihatan dalam batas situasi individu, mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap perubahan. Kriteria Hasil : a. Mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap perubahan. b. Mengidentifikasi/memperbaiki potensial bahaya dalam lingkungan.

Intervensi : 1) Tentukan ketajaman penglihatan, kemudian catat apakah satu atau dua mata terlibat. Observasi tanda-tanda disorientasi. Rasional : Penemuan dan penanganan awal komplikasi dapat mengurangi resiko kerusakan lebih lanjut. 2) Orientasikan klien tehadap lingkungan. Rasional : Meningkatkan keamanan mobilitas dalam lingkungan. 3) Perhatikan tentang suram atau penglihatan kabur dan iritasi mata, dimana dapat terjadi bila menggunakan tetes mata. Rasional : Cahaya yang kuat menyebabkan rasa tak nyaman setelah penggunaan tetes mata dilator 4) Letakkan barang yang dibutuhkan/posisi bel pemanggil dalam

jangkauan/posisi yang tidak dioperasi. Rasional : Komunikasi yang disampaikan dapat lebih mudah diterima dengan jelas.

10

2. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan kerusakan fungsi sensori penglihatan kehilangan vitreus, pandangan kabur, perdarahan intraokuler. Tujuan: Menyatakan pemahaman terhadap factor yang terlibat dalam kemungkinan cedera. Kriteria hasil : a. Menunjukkan perubahan perilaku, pola hidup untuk menurunkan factor resiko dan untuk melindungi diri dari cedera. b. Mengubah lingkungan sesuai dengan indikasi untuk meningkatkan keamanan. Intervensi : 1) Diskusikan apa yang terjadi tentang kondisi pasien seperti pembatasan aktifitas, penampilan, balutan mata. Rasional : Kondisi mata mempengaruhi visus pasien 2) Beri klien posisi bersandar, kepala tinggi, atau miring ke sisi yang tak sakit sesuai keinginan. Rasional : Posisi menentukan tingkat kenyamanan pasien. 3) Batasi aktifitas seperti menggerakan kepala tiba-tiba, menggaruk mata, membongkok. Rasional : Aktivitas berlebih mampu meningkatkan tekanan intra okuler mata 4) Ambulasi dengan bantuan : berikan kamar mandi khusus bila sembuh dari anestesi. Rasional : Visus mulai berkurang, resiko cedera semakin tinggi. 5) Minta klien membedakan antara ketidaknyamanan dan nyeri tajam tiba-tiba, Selidiki kegelisahan, disorientasi, gangguan balutan. Rasional : Pengumpulan Informasi dalam pencegahan komplikasi

3. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan Prosedur invasif dan rupture pada kornea

11

Tujuan: Tidak ada tanda-tanda dan gejala-gejala dari infeksi Kriteria Hasil: a. Meningkatkan penyembuhan luka tepat waktu, bebas drainase purulen, eritema, dan demam. b. Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/menurunkan resiko infeksi

Intervensi: 1) Kaji tanda-tanda vital pasien Rasional : Demam dengan peningkatan nadi dan pernafasan adalah tanda peningkatan laju metabolik dari proses inflamasi. 2) Anjurkan pasien istirahat untuk mengurangi gerakan mata Rasional : Mengistirahatkan kondisi mata yang sakit agar tidak banyak terkontaminasi dengan dunia luar 3) Berikan makanan yang seimbang untuk mempercepat penyembuhan Rasional : Makanan yang sehat seperti tinggi protein akan membantu mempercepat penyembuhan 4) Diskusikan pentingnya mencuci tangan sebelum

menyentuh/mengobati mata. Rasional :Menurunkan terjadinya kontaminasi silang 5) Gunakan/tunjukkan teknik yang tepat untuk membersihkan mata dari dalam keluar dengan bola kapas untuk tiap usapan, ganti balutan. Rasional :Menghindari pembersihan dari tempat yang kotor ke bersih agar tidak terjadi kontaminasi pada mata yang sehat 6) Tekankan pentingnya tidak menyentuh/menggaruk mata yang dioperasi. Rasional :Mencegah terjadinya penularan kuman dan memperlambat proses penyembuhan

4. Ansietas

berhubungan dengan

faktor fisiologis, perubahan status

kesehatan: adanya nyeri;kemungkinan /kenyataan kehilangan penglihatan.

12

Tujuan: Ansietas berkurang bahkan hilang Kriteria Hasil: a. Tampak rileks dan melaporkan ansietas menurun sampai tingkat dapat diatasi.

Intervensi: 1) Kaji tingkat ansietas, derajat pengalaman nyeri / timbulnya gejala tibatiba dan pengetahuan kondisi saat ini. Rasional : Mengetahui tingkat kecemasan pasien dan memudahkan untuk intervensi selanjutnya 2) Berikan informasi yang akurat dan jujur. Rasional : Membantu memberitahu keadaan pasien yang sebenarnya terjadi 3) Diskusikan kemungkinan bahwa pengawasan dan pengobatan dapat mencegah kehilangan penglihatan tambahan. Rasional : Membantu mengetahui hal terburuk yang terjadi pada dirinya agar mampu menerima keadaan dirinya 4) Dorong pasien untuk mengakui masalah dan mengekspresikan perasaan. Identifikasi sumber / orang yang menolong. Rasional : Membantu mengidentifikasi masalah pada pasien 5) Beri penguatan informasi yang telah diberikan sebelumnya Rasional : Menguatkan kepercayaan kepada pemberi perawatan dan pemberian informasi

13

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall. (2001). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Ed. 2. Jakarta: EGC Doengos, E. Marylin. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. Ed. 3. Jakarta: EGC Ilyas, Sidarta. (2003). Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: FK UI Mansjoer, Arief. (2006). Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta :Media Aeskulapis FKUI Price, Sylvia. (2006). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Ed. 6. Jakarta :EGC

14

Pathway :

Trauma Tembus

Palpebra

Sal. Lakrimalis

Conjunctiva

Sklera

Uvea

Kornea

Lensa

Retina

Levator apaneurosis

Sindroma kekurangan air mata

Ruptur Pembuluh darah

Penurunan Tekanan Bola Mata Prolap jar. Bola mata

Ggn pengaturan cahaya

Prolaps pd iris

Ggn fokus sinar pd retina Penurunan refraksi

Perdarahan

Ptosis

Perdarahan

Penurunan visus

Fotopsia

Nyeri

Cemas

Cemas

Luka

Nyeri

Akomodasi tdk adekuat

Gangguan Penglihatan

15