Anda di halaman 1dari 16

HIFEMA

A. Definisi Hifema merupakan keadaan dimana terdapat darah di dalam bilik mata depan, yaitu daerah di antara kornea dan iris, yang dapat terjadi akibat trauma tumpul yang merobek pembuluh darah iris atau badan siliar dan bercampur dengan humor aqueus (cairan mata) yang jernih. Darah yang terkumpul di bilik mata depan biasanya terlihat dengan mata telanjang. Walaupun darah yang terdapat di bilik mata depan sedikit, tetap dapat menurunkan penglihatan. Hifema atau darah di dalam bilik mata depan dapat terjadi akibat trauma tumpul yang merobek pembuluh darah iris atau badan siliar. Bila pasien duduk hifema akan terlihat terkumpul diba ah bilik mata depan dan hifema dapat memenuhi seluruh ruang bilik mata depan. !englihatan pasien akan sangat menurun. "adang#kadang terlihat iridoplegia dan iridodialisis. !asien akan mengeluh sakit disertai dengan epifora dan blefarospasme. $aya#gaya kontusif sering merobek pembuluh darah di iris dan merusak sudut bilik mata depan. Darah di dalam aqueous dapat membentuk suatu lapisan yang dapat terlihat (hifema). $laukoma akut terjadi bila anyaman trabekular tersumbat oleh fibrin dan sel atau bila pembentukan bekuan darah menimbulkan bokade pupil. B. Klasifikasi a) Berdasarkan penyebabnya hifema dibagi menjadi%
&.

Hifema traumatika adalah perdarahan pada bilik mata depan yang disebabkan pecahnya pembuluh darah iris dan badan silier akibat trauma pada segmen anterior bola mata.

'.

Hifema akibat tindakan medis (misalnya kesalahan prosedur operasi mata). Hifema akibat inflamasi yang parah pada iris dan badan silier, sehingga pembuluh darah pecah. Hifema akibat kelainan sel darah atau pembuluh darah (contohnya ju*enile +anthogranuloma). Hifema akibat neoplasma (contohnya retinoblastoma).

(.

).

,.

b) Berdasarkan aktu terjadinya, hifema dibagi atas ' yaitu%


&. '.

Hifema primer, timbul segera setelah trauma hingga hari ke '. Hifema sekunder, timbul pada hari ke '#, setelah terjadi trauma. $rade . $rade .. $rade ... $rade .5 % darah mengisi kurang dari sepertiga /01 (,23) % darah mengisi sepertiga hingga setengah /01 ('43) % darah mengisi hampir total /01 (&)3) % darah memenuhi seluruh /01 (23)

c) Berdasarkan tampilan klinisnya dibagi menjadi beberapa grade (-heppard) %


&. '. (. ).

C. Etiologi Hifema biasanya disebabkan oleh trauma tumpul pada mata seperti terkena bola, batu, peluru senapan angin, dan lain#lain. -elain itu, hifema juga dapat terjadi karena kesalahan prosedur operasi mata. "eadaan lain yang dapat menyebabkan hifema namun jarang terjadi adalah adanya tumor mata (contohnya retinoblastoma), dan kelainan pembuluh darah (contohnya juvenile xanthogranuloma). Hifema yang terjadi karena trauma tumpul pada mata dapat diakibatkan oleh kerusakan jaringan bagian dalam bola mata, misalnya terjadi robekan#robekan jaringan iris, korpus siliaris dan koroid. 6aringan tersebut mengandung banyak pembuluh darah, sehingga akan menimbulkan perdarahan. !endarahan yang timbul dapat berasal dari kumpulan arteri utama dan cabang dari badan ciliar, arteri koroid, *ena badan siliar, pembuluh darah iris pada sisi pupil. !erdarahan di dalam bola mata

yang berada di kamera anterior akan tampak dari luar. 7imbunan darah ini karena gaya berat akan berada di bagian terendah.

D. Patofisiologi 7rauma tumpul menyebabkan kompresi bola mata, disertai peregangan limbus, dan perubahan posisi dari iris atau lensa. Hal ini dapat meningkatkan tekanan intraokuler secara akut dan berhubungan dengan kerusakan jaringan pada sudut mata. !erdarahan biasanya terjadi karena adanya robekan pembuluh darah, antara lain arteri#arteri utama dan cabang#cabang dari badan siliar, arteri koroidalis, dan *ena# *ena badan siliar.

8ekanisme !erdarahan akibat 7rauma 7umpul 8ata .nflamasi yang parah pada iris, sel darah yang abnormal dan kanker mungkin juga bisa menyebabkan perdarahan pada /01. 7rauma tumpul dapat merobek pembuluh darah iris atau badan siliar. $aya#gaya kontusif akan merobek pembuluh darah iris dan merusak sudut /01. 7etapi dapat juga terjadi secara spontan atau pada patologi *askuler okuler. Darah ini dapat bergerak dalam ruang /01, mengotori permukaan dalam kornea. !erdarahan pada bilik mata depan mengakibatkan terakti*asinya mekanisme hemostasis dan fibrinolisis. !eningkatan tekanan intraokular, spasme pembuluh darah, dan pembentukan fibrin merupakan mekanisme pembekuan darah yang akan menghentikan perdarahan. Bekuan darah ini dapat meluas dari bilik mata depan ke bilik mata belakang. Bekuan darah ini biasanya berlangsung hingga )#9 hari. -etelah itu, fibrinolisis akan terjadi. -etelah terjadi bekuan darah pada bilik mata depan, maka plasminogen akan diubah menjadi plasmin oleh akti*ator kaskade koagulasi. !lasmin akan memecah fibrin, sehingga bekuan darah yang sudah terjadi mengalami disolusi. !roduk hasil degradasi bekuan darah, bersama dengan sel darah merah dan debris

peradangan, keluar dari bilik mata depan menuju jalinan trabekular dan aliran u*easkleral. !erdarahan dapat terjadi segera sesudah trauma yang disebut perdarahan primer. !erdarahan primer dapat sedikit dapat pula banyak. !erdarahan sekunder biasanya timbul pada hari ke , setelah trauma. !erdarahannya biasanya lebih hebat daripada yang primer. 0leh karena itu seseorang dengan hifema harus dira at sedikitnya , hari. Dikatakan perdarahan sekunder ini terjadi karena resorpsi daribekuan darah terjadi terlalu cepat sehingga pembuluh darah tak mendapat yang cukup untuk regenerasi kembali. !enyembuhan darah pada hifema dikeluarkan dari /01 dalam bentuk sel darah merah melalui sudut /01 menuju kanal schlem sedangkan sisanya akan diabsorbsi melalui permukaan iris. !enyerapan pada iris dipercepat dengan adanya en:im fibrinolitik di daerah ini.-ebagian hifema dikeluarkan setelah terurai dalam bentuk hemosiderin. Bila terdapat penumpukan dari hemosiderin ini, dapat masuk ke dalam lapisan kornea, menyebabkan kornea menjadi be arna kuning dan disebut hemosiderosis atau imbibisi kornea, yang hanya dapat ditolong dengan keratoplasti. .mbibisio kornea dapat dipercepat terjadinya oleh hifema yang penuh disertai glaukoma. 1danya darah pada bilik mata depan memiliki beberapa temuan klinis yang berhubungan. ;esesi sudut mata dapat ditemukan setelah trauma tumpul mata. Hal ini menunjukkan terpisahnya serat longitudinal dan sirkular dari otot siliar. ;esesi sudut mata dapat terjadi pada 2, 3 pasien hifema dan berkaitan dengan timbulnya glaukoma sekunder di kemudian hari. .ritis traumatik, dengan sel#sel radang pada bilik mata depan, dapat ditemukan pada pasien hifema. !ada keadaan ini, terjadi perubahan pigmen iris alaupun darah sudah dikeluarkan. !erubahan pada kornea dapat dijumpai mulai dari abrasi endotel kornea hingga ruptur limbus. "elainan pupil seperti miosis dan midriasis dapat ditemukan pada &4 3 kasus. 7anda lain yang dapat ditemukan adalah siklodialisis, iridodialisis, robekan pupil, subluksasi lensa, dan ruptur :onula :inn. "elainan pada segmen posterior dapat meliputi perdarahan *itreus, jejas retina (edema, perdarahan, dan robekan), dan ruptur koroid. 1trofi papil dapat terjadi akibat peninggian tekanan intraokular. E. Penegakan Diagnosis 1danya ri ayat trauma, terutama mengenai matanya dapat memastikan aktu

adanya hifema. !ada gambaran klinik ditemukan adanya perdarahan pada /01 (dapat diperiksa dengan flashlight), kadang#kadang ditemukan gangguan *isus. Ditemukan adanya tanda#tanda iritasi dari conjuncti*a dan pericorneal, fotofobia (tidak tahan terhadap sinar), penglihatan ganda, blefarospasme, edema palpebra, midriasis, dan sukar melihat dekat, kemungkinan disertai gangguan umum yaitu letargic, disorientasi atau somnolen.

Hifema pada &<( bilik mata depan

Hifema pada = bilik mata depan

!asien akan mengeluh nyeri pada mata disertai dengan mata yang berair. !englihatan pasien akan sangat menurun. 7erdapat penumpukan darah yang terlihat dengan mata telanjang bila jumlahnya cukup banyak. Bila pasien duduk, hifema akan terlihat terkumpul di bagian ba ah /01, dan hifema dapat memenuhi seluruh ruang /01. 0tot sfingter pupil mengalami kelumpuhan, pupil tetap dilatasi (midriasis), dapat terjadi pe arnaan darah (blood staining) pada kornea, anisokor pupil. 1kibat langsung terjadinya hifema adalah penurunan *isus karena darah mengganggu media refraksi. Darah yang mengisi kamera okuli ini secara langsung dapat mengakibatkan tekanan intraokuler meningkat akibat bertambahnya isi kamera anterior oleh darah. "enaikan tekanan intraokuler ini disebut glaukoma sekunder. $laukoma sekunder juga dapat terjadi akibat massa darah yang menyumbat jaringan trabekulum yang berfungsi membuang humor aqueous yang berada di kamera anterior. -elain itu akibat darah yang lama berada di kamera anterior akan mengakibatkan pe arnaan darah pada dinding kornea dan kerusakan jaringan kornea. F. Pemeriksaan Penunjang a) !emeriksaan ketajaman penglihatan% menggunakan kartu mata -nellen> *isus dapat menurun akibat kerusakan kornea, aqueous humor, iris dan retina. b) ?apangan pandang% penurunan dapat disebabkan oleh patologi *askuler okuler,

glaukoma. c) !engukuran tonografi% mengkaji tekanan intra okuler. d) -lit ?amp Biomicroscopy% untuk menentukan kedalaman /01 dan iridocorneal contact, aqueous flare, dan synechia posterior. e) !emeriksaan oftalmoskopi% mengkaji struktur internal okuler. f) 7es pro*okatif% digunakan untuk menentukan adanya glaukoma bila 7.0 normal atau meningkat ringan. G. Penatalaksanaan Biasanya hifema akan hilang sempurna. Bila perjalanan penyakit tidak berjalan demikian maka sebaiknya penderita dirujuk. Walaupun pera atan penderita hifema traumatik ini masih banyak diperdebatkan, namun pada dasarnya adalah %
&) ') ()

8enghentikan perdarahan. 8enghindarkan timbulnya perdarahan sekunder. 8engeliminasi darah dari bilik depan bola mata dengan mempercepat absorbsi. 8engontrol glaukoma sekunder dan menghindari komplikasi yang lain. Berusaha mengobati kelainan yang menyertainya. Berdasarkan hal tersebut di atas, maka cara pengobatan penderita dengan

))

,)

traumatik hifema pada prinsipnya dibagi dalam ' golongan besar yaitu pera atan dengan cara konser*atif<tanpa operasi, dan pera atan yang disertai dengan tindakan operasi. !era atan "onser*atif<7anpa 0perasi &. 7irah baring (bed rest total) !enderita ditidurkan dalam keadaan terlentang dengan posisi kepala diangkat (diberi alas bantal) dengan ele*asi kepala (4@ # ),o (posisi semi fo ler). Hal ini akan mengurangi tekanan darah pada pembuluh darah iris serta memudahkan kita menge*aluasi jumlah perdarahannya. 1da banyak pendapat dari banyak ahli mengenai tirah baring sempurna ini sebagai tindakan pertama yang harus dikerjakan bila menemui kasus traumatik hifema. Bahkan beberapa penelitian menunjukkan bah a dengan tirah baring kesempurnaan absorbsi dari hifema dipercepat dan sangat mengurangi timbulnya komplikasi perdarahan sekunder. .stirahat total ini harus dipertahankan minimal , hari mengingat kemungkinan perdarahan sekunder. Hal ini

sering sukar dilakukan, terlebih#lebih pada anak#anak, sehingga kalau perlu harus diikat tangan dan kakinya ke tempat tidur dan penga asan dilakukan dengan sabar. '. Bebat mata 8engenai pemakaian bebat mata, masih belum ada persesuaian pendapat di antara para ahli. !enggunaan bebat mata pada mata yang terkena trauma yaitu untuk mengurangi pergerakan bola mata yang sakit. (. !emakaian obat#obatan !emberian obat#obatan pada penderita dengan traumatik hifema tidaklah mutlak, tapi cukup berguna untuk menghentikan perdarahan, mempercepat absorbsinya dan menekan komplikasi yang timbul. Antuk maksud di atas digunakan obat#obatan seperti % "oagulansia $olongan obat koagulansia ini dapat diberikan secara oral maupun parenteral, berguna untuk menekan<menghentikan perdarahan, 8isalnya % 1naro+il, 1dona 1/, /oagulen, 7ransamin, *it " dan *it /. !ada hifema yang baru dan terisi darah segar diberi obat anti fibrinolitik (di pasaran obat ini dikenal sebagai transamine< transamic acid) sehingga bekuan darah tidak terlalu cepat diserap dan pembuluh darah diberi kesempatan untuk memperbaiki diri dahulu sampai sembuh. Dengan demikian diharapkan terjadinya perdarahan sekunder dapat dihindarkan. !emberiannya ) kali ',4 mg dan hanya kira#kira , hari jangan mele ati satu minggu oleh karena dapat timbulkan gangguan transportasi cairan /01 dan terjadinya glaukoma juga imbibisio kornea. -elama pemberiannya jangan lupa pengukuran tekanan intra okular. 8idriatika 8iotika 8asih banyak perdebatan mengenai penggunaan obat#obat golongan midriatika atau miotika, karena masing#masing obat mempunyai keuntungan dan kerugian sendiri#sendiri. 8iotika memang akan mempercepat absorbsi, tapi meningkatkan kongesti dan midriatika akan mengistirahatkan perdarahan. !emberian midriatika dianjurkan bila didapatkan komplikasi iridiocyclitis. 1khirnya beberapa penelitian membuktikan bah a pemberian midriatika dan miotika bersama#sama dengan inter*al (4 menit sebanyak dua kali sehari akan mengurangi perdarahan sekunder dibanding pemakaian salah satu obat saja. 0cular Hypotensi*e Drug

-emua para ahli menganjurkan pemberian aceta:olamide (Diamo+) secara oral sebanyak (+ sehari bilamana ditemukan adanya kenaikan tekanan intraokuler. Bahkan $ombos dan Basuna menganjurkan juga pemakaian intra*ena urea, manitol dan gliserin untuk menurunkan tekanan intraokuler, alaupun ditegaskan bah a cara ini tidak rutin. !ada hifema yang penuh dengan kenaikan tekanan intra okular, berilah diamo+, glyserin, nilai selama ') jam. Bila tekanan intra okular tetap tinggi atau turun, tetapi tetap diatas normal, lakukan parasentesa yaitu pengeluaran drah melalui sayatan di kornea Bila tekanan intra okular turun sampai normal, diamo+ terus diberikan dan die*aluasi setiap hari. Bila tetap normal tekanan intra okularnya dan darahnya masih ada sampai hari ke ,#C lakukan juga parasentesa. "ortikosteroid dan 1ntibiotika !emberian hidrokortison 4,,3 secara topikal akan mengurangi komplikasi iritis dan perdarahan sekunder dibanding dengan antibiotika. !era atan 0perasi !era atan cara ini akan dikerjakan bilamana ditemukan glaukoma sekunder, tanda imbibisi kornea atau hemosiderosis cornea. Dan tidak ada pengurangan dari tingginya hifema dengan pera atan non#operasi selama ( # , hari. Antuk mencegah atrofi papil saraf optik dilakukan pembedahan bila tekanan bola mata maksimal D ,4 mmHg selama , hari atau tekanan bola mata maksimal D (, mmHg selama 9 hari. Antuk mencegah imbibisi kornea dilakukan pembedahan bila tekanan bola mata rata# rata D ', mmHg selama E hari atau bila ditemukan tanda#tanda imbibisi kornea. 7indakan operatif dilakukan untuk mencegah terjadinya sinekia anterior perifer bila hifema total bertahan selama , hari atau hifema difus bertahan selama C hari. .nter*ensi bedah biasanya diindikasikan pada atau setelah ) hari. Dari keseluruhan indikasinya adalah sebagai berikut % &. Fmpat hari setelah onset hifema total '. 8icroscopic corneal bloodstaining (setiap aktu) (. 7otal dengan dengan 7ekanan .ntra 0kular ,4 mmHg atau lebih selama ) hari (untuk mencegah atrofi optic) ). Hifema total atau hifema yang mengisi lebih dari G /01 selama E hari dengan tekanan ', mmHg (untuk mencegah corneal bloodstaining) ,. Hifema mengisi lebih dari = /01 yang menetap lebih dari 2#C hari (untuk

mencegah peripheral anterior synechiae) E. !ada pasien dengan sickle cell disease dengan hifema berapapun ukurannya dengan tekanan .ntra ocular lebih dari (, mmHg lebih dari ') jam. 6ika 7ekanan .nta 0cular menetap tinggi ,4 mmHg atau lebih selama ) hari, pembedahan tidak boleh ditunda. -uatu studi mencatat atrofi optic pada ,4 persen pasien dengan total hifema ketika pembedahan terlambat. /orneal bloodstaining dalam ') jam. 7indakan operasi yang dikerjakan adalah % &. !arasentesis !arasentesis merupakan tindakan pembedahan dengan mengeluarkan cairan<darah dari bilik depan bola mata dengan teknik sebagai berikut % dibuat insisi kornea ' mm dari limbus ke arah kornea yang sejajar dengan permukaan iris. Biasanya bila dilakukan penekanan pada bibir luka maka koagulum dari bilik mata depan akan keluar. Bila darah tidak keluar seluruhnya maka bilik mata depan dibilas dengan garam fisiologis. Biasanya luka insisi kornea pada parasentesis tidak perlu dijahut. !arasentese dilakukan bila 7.0 tidak turun dengan diamo+ atau jika darah masih tetap terdapat dalam /01 pada hari ,#C. 2. 8elakukan irigasi di bilik depan bola mata dengan larutan fisiologik. 3. Dengan cara seperti melakukan ekstraksi katarak dengan membuka terjadi pada )(3 pasien. !asien dengan sickle cell hemoglobinopathi diperlukan operasi jika tekanan intra ocular tidak terkontrol

korneoscleranya sebesar &'40


H. Komplikasi "omplikasi yang paling sering ditemukan pada traumatik hifema adalah perdarahan sekunder, glaukoma sekunder dan hemosiderosis di samping komplikasi dari traumanya sendiri berupa dislokasi dari lensa, ablatio retina, katarak dan iridodialysis. Besarnya komplikasi juga sangat tergantung pada tingginya hifema. 1. Per ara!an sekun er "omplikasi ini sering terjadi pada hari ke ( sampai ke E, sedangkan insidensinya sangat ber*ariasi, antara &4 # )43. !erdarahan sekunder ini timbul karena iritasi pada iris akibat traumanya, atau merupakan lanjutan dari perdarahan primernya. !erdarahan sekunder biasanya lebih hebat daripada yang primer. 7erjadi

pada &<( pasien, biasanya antara '#, hari setelah trauma inisial dan selalu ber*ariasi sebelum 9 hari post#trauma. ". Glaukoma sekun er 7imbulnya glaukoma sekunder pada hifema traumatik disebabkan oleh tersumbatnya trabecular mesh ork oleh butirbutir<gumpalan darah. .nsidensinya '43 , sedang di ;-% Dr% -oetomo sebesar&9,,3. 1danya darah dalam /01 dapat menghambat aliran cairan bilik mata oleh karena unsur#unsur darah menutupi sudut /01 dan trabekula sehingga terjadinya glaukoma.$laukoma sekunder dapat pula terjadi akibat kontusi badan siliar berakibat suatu reses sudut bilik mata sehingga terjadi gangguan pengaliran cairan mata. #. Hemosi erosis kornea !ada penyembuhan darah pada hifema dikeluarkan dari /01 dalam bentuk sel darah merah melalui sudut /01 menuju kanal -chlemm sedangkan sisanya akan diabsorbsi melalui permukaan iris. !enyerapan pada iris dipercepat dengan adanya en:im fibrinolitik di daerah ini.-ebagian hifema dikeluarkan setelah terurai dalam bentuk hemosiderin. Bila terdapat penumpukan dari hemosiderin ini, dapat masuk ke dalam lapisan kornea, menyebabkan kornea menjadi be arna kuning dan disebut hemosiderosis atau imbibisio kornea, yang hanya dapat ditolong dengan keratoplasti. .mbibisio kornea dapat dipercepat terjadinya oleh hifema yang penuh disertai glaukoma. Hemosiderosis ini akan timbul bila ada perdarahan<perdarahan sekunder disertai kenaikan tekanan intraokuler. $angguan *isus karenahemosiderosis tidak selalu permanen, tetapi kadang#kadang dapat kembali jernih dalam aktu yang lama (' tahun). .nsidensinya H &43.( Iat besi di dalam bola mata dapat menimbulkan siderosis bulbi yang bila didiamkan akan dapat menimbulkan ftisis bulbi dan kebutaan. $. %inekia Posterior -inekia posterior bisa timbul pada pasien traumatik hifema."omplikasi ini akibat dari iritis atau iridocyclitis."omplikasi ini jarang pada pasien yang mendapat terapi medikamentosa dan lebih sering terjadi pada pada pasien dengan e*akuasi bedah pada hifema.!eripheral anterior synechiae anterior synechiae terjadi pada pasien dengan hifema pada /01 dalam aktu yang lama, biasanya C hari atau lebih.!atogenesis dari sinekia anterior perifer berhubungan dengan iritis yang lama akibat trauma atau dari darah pada /01. Bekuan darah pada sudut /01 kemudian bisa menyebabkan trabecular mesh ork fibrosis yang menyebabkan sudut bilik mata

tertutup. &. Atrofi optik 1trofi optik disebabkan oleh peningkatan tekanan intra okular. '. ()eitis !enyulit yang harus diperhatikan adalah glaukoma, imbibisio kornea, u*eitis. -elain dari iris, darah pada hifema juga datang dari badan siliar yang mungkin juga masuk ke dalam badan kaca (corpus vitreum) sehingga pada funduskopi gambaran fundus tak tampak dan ketajaman penglihatan menurunnya lebih banyak.Hifema dapat sedikit, dapat pula banyak. Bila sedikit ketajaman penglihatan mungkin masih baik dan tekanan intraokular masih normal. !erdarahan yang mengisi setengah /01 dapat menyebabkan gangguan *isus dan kenaikan tekanan intra okular sehingga mata terasa sakit oleh karena glaukoma. 6ika hifemanya mengisi seluruh /01, rasa sakit bertambah karena tekanan intra okular lebih meninggi dan penglihatan lebih menurun lagi. I. Prognosis !rognosis tergantung pada banyaknya darah yang tertimbun pada kamera okuli anterior. Biasanya hifema dengan darah yang sedikit dan tanpa disertai glaukoma, prognosisnya baik (bonam) karena darah akan diserap kembali dan hilang sempurna dalam beberapa hari. -edangkan hifema yang telah mengalami glaukoma, prognosisnya bergantung pada seberapa besar glaukoma tersebut menimbulkan defek pada ketajaman penglihatan. Bila tajam penglihatan telah mencapai &<E4 atau lebih rendah maka prognosis penderita adalah buruk (malam) karena dapat menyebabkan kebutaan.

HIP*PI*+
A. Definisi Hipopion didefinisikan sebagai pus steril yang terdapat pada bilik mata depan. Hipopion dapat terlihat sebagai lapisan putih yang mengendap di bagian ba ah bilik mata depan karena adanya gra*itasi. "omposisi dari pus biasanya steril, hanya terdiri dari lekosit tanpa adanya mikroorganisme patogen, seperti bakteri, jamur maupun *irus, karena hipopion adalah reaksi inflamasi terhadap to+in dari mikroorganisme patogen, dan bukan mikroorganisme itu sendiri.

Gambar diambil dari http://en.wikipedia.org/ B. Patofisiologi Bangunan yang berhubungan dengan hipopion adalah iris dan badan siliar. ;adang iris dan badan siliar menyebabkan penurunan permeabilitas dari blood-aqueous barrier sehingga terjadi peningkatan protein, fibrin dan sel radang dalam cairan aqueous, sehingga memberikan gambaran hipopion. 1danya pus di bilik mata depan biasanya memberikan gambaran lapisan putih. Hipopion yang ber arna kehijauan biasanya disebabkan oleh infeksi !seudomonas. -edangkan hipopion yang ber arna kekuningan bisanya disebabkan oleh jamur. "arena pus bersifat lebih berat dari cairan aqueous, maka pus akan mengendap di bagian ba ah bilik mata depan. "uantitas dari hipopion biasanya berhubungan dengan *irulensi dari organisme penyebab dan daya tahan dari jaringan yang terinfeksi. Beberapa organisme menghasilkan pus lebih banyak dan lebih cepat. Diantaranya !neumokokus, !seudomonas, -treptokokus pyogenes dan $onokokus. Hipopion pada ulkus fungal biasanya dapat terinfeksi karena jamur dapat menembus membran Descemet. Bakteri memproduksi hipopion lebih cepat dari jamur sedangkan

infeksi *irus tidak menyebabkan hipopion. 1pabila ditemukan hipopion pada infeksi *irus, biasanya disebabkan adanya infeksi sekunder oleh bakteri. C. Etiologi Hipopion merupakan reaksi inflamasi di bilik mata depan. "arena itu semua penyakit yang berhubungan dengan u*eitis anterior dapat menyebabkan terjadinya hipopion. Hipopion dapat timbul setelah operasi atau trauma disebabkan karena adalanya infeksi. 8isalnya pada keratitis. Bakteria, jamur, amoba maupun herpes simple+ dapat menyebabkan terjadinya hipopion. Bakteri patogen yang umumnya ditemukan adalah -treptococcus dan -taphylococcus. Hipopion karena infeksi jamur jarang ditemukan. Beberapa keadaan yang dapat memberikan gambaran hipopion, diantaranya% (lkus Kornea. 1pabila terjadi peradangan hebat tapi belum terjadi perforasi dari ulkus, maka toksin dari peradangan kornea dapat sampai ke iris dan badan siliar, dengan melalui membran Descemet, endotel kornea ke cairan bilik mata depan. Dengan demikian iris dan badan siliar mengalami peradangan dan timbulah kekeruhan di cairan bilik mata depan disusul dengan terbentuknya hipopion. ()eitis Anterior. !eradangan dari iris dan badan siliar. menyebabkan penurunan permeabilitas dari blood-aqueous barrier sehingga terjadi peningkatan protein, fibrin dan sel radang dalam cairan aqueous. ,ifa-utin. 8erupakan terapi profilaksis untuk 8ycobacterium a*ium comple+ pada penderita dengan H.5. A*eitis merupakan efek samping yang dapat terjadi pada pemakaian ;ifabutin. .rauma. /orpus alienum, to+ic lens syndrome, post operasi. D. Presentasi Klinis $ejala subyektif yang biasanya menyertai hipopion adalah rasa sakit, iritasi, gatal dan fotofobia pada mata yang terinfeksi. Beberapa mengalami penurunan *isus atau lapang pandang, tergantung dari beratnya penyakit utama yang diderita. $ejala obyektif biasanya ditemukan aqueous cell and flare, eksudat fibrinous, sinekia posterior dan keratitis presipitat. E. Diagnosa Diagnosa hipopion ditegakan berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan menggunakan

slit lamp. !ada anamnesa, ditanyakan adanya ri ayat infeksi, pemakaian lensa kontak, trauma, pemakaian obat serta ri ayat operasi. !ada pemeriksaan dengan slit lamp, ditemukan lapisan ber arna putih pada bagian inferior dari bilik mata depan. 6arang sekali hipopion ini ditemukan pada bagian lain dari bilik mata depan. Hipopion biasanya dinilai berdasarkan tingginya, diukur dari dasar bilik mata depan dengan satuan milimeter. 1tau bisa juga dengan hitungan kasar, misalnya. ringan, moderat, setengah bilik mata depan dan seluruh mata depan. /ara terbaik untuk menilai hipopion adalah dengan terlebih dahulu meminta pasien duduk beberapa saat supaya hipopion dapat mengendap sempurna. -elanjutnya pasien diminta melihat ke ba ah dan sinar diarahkan dari bagian atas#depan iris. F. Diagnosa Ban ing Hipopion harus dibedakan dari% seudohipopion yang ditemukan pada retinoblastoma, injeksi steroid okular dan ghost cell glaucoma. !seudohipopion termasuk dalam kelompok sindrom masquerade. Antuk membedakan harus dilakukan pemeriksaan dengan pupil yang telah dilebarkan dengan midriatik. -indrom 8asquerade disebabkan oleh iridoskisis, atrofi iris esensial, limfoma maligna, leukemi, sarkoma sel retikulum, retinoblastoma, pseudoeksfoliatif dan tumor metastasis.

seudohipopion dan in!iltrasi tumor di iris Gambar diambil dari http://www.sarawake"ecare.com/#tlaso!ophthalmolog" $host /ell $laucoma merupakan glaukoma sekunder sudut terbuka dimana trabecular mesh ork mengalami obstruksi oleh sel darah merah yang

terdegenerasi, disebut Jghost cellsK. Biasanya didahului oleh trauma. $etastasis ke bilik mata depan, misalnya dari leukemia dan /a mammae.

G. Komplikasi Klinis -truktur dari hipopion yang mengandung fibrin, merupakan reaksi tubuh terhada inflamasi. 7etapi fibrin#fibrin ini dapat menyebabkan terjadinya perlengketan antara iris dan lensa (sinekia posterior) Bila seluruh pinggir iris melekat pada lensa disebut seklusio pupil, sehingga cairan dari cop tidak dapat melalui pupil untuk masuk ke coa, iris terdorong ke depan, disebut iris bombe dan menyebabkan sudut coa sempit sehingga timbul glaukoma sekunder. !eradangan di badan silier dapat juga menyebabkan kekeruhan dalam badan kaca oleh sel#sel radang, yang tampak sebagai kekeruhan seperti debu. !eradangan ini menyebabkan metabolisme lensa terganggu dan dapat menimbulkan kekeruhan lensa, hingga terjadi katarak. !ada kasus yang sudah lanjut, kekeruhan badan kaca pun mengalami jaringan organisasi dan tampak sebagai membrana yang terdiri dari jaringan ikat dengan neo*askularisasi yang berasal dari sistem retina, disebut retinitis proliferans. Bila membrana ini mengkerut, dapat menarik retina sehingga robek dan cairan badan kaca melalui robekan itu masuk ke dalam celah retina potensial dan mengakibatkan ablasi retina. H. Penatalaksanaan !enatalaksanaan hipopion tergantung dari ringan atau beratnya penyakit. -el darah putih biasanya akan di reabsorpsi. 7etapi bila hipopion memberikan gambaran yang berat, maka bisa dilakukan drainase. 7erapi yang lebih spesifik biasanya tergantung dari penyakit utama yang menyebabkan hipopion. 1pabila terjadi inflamasi, dapat diberikan kortikosteroid. 1nti inflamasi yang biasanya digunakan adalah kortikosteroid, dengan dosis sebagai berikut% De asa % 7opikal dengan de+amethasone 4,& 3 atau prednisolone & 3. Bila radang sangat hebat dapat diberikan subkonjungti*a atau periokuler % de+amethasone phosphate ) mg (& ml) prednisolone succinate ', mg (& ml)

triamcinolone acetonide ) mg (& ml) methylprednisolone acetate '4 mg /ycloplegic dapat diberikan dengan tujuan untuk mengurangi nyeri dengan memobilisasi iris, mencegah terjadinya perlengketan iris dengan lensa anterior ( sinekia posterior ), yang akan mengarahkan terjadinya iris bombe dan peningkatan tekanan intraocular, menstabilkan blood#aqueous barrier dan mencegah terjadinya protein leakage (flare) yang lebih jauh. 1gent cycloplegics yang biasa dipergunakan adalah atropine 4,,3, &3, '3, homatropine '3, ,3, -copolamine 4,',3, dan cyclopentolate 4,,3, &3, dan '3. I. Prognosa Hipopion adalah gejala klinis yang muncul sebagai respon inflamasi. -el darah putih akan diabsorpsi sepenuhnya. 7etapi prognosis tergantung dari penyakit dan komplikasi yang dapat terjadi.