Anda di halaman 1dari 22

ANALISIS PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TTG POKOK KEKUASAAN KEHAKIMAN, MA, DAN KEWENANGAN HAKIM Makalah ini untuk memenuhi

Mata Kuliah Peradilan Agama Islam di Indonesia Dosen pembimbing: ERFANIAH ZUHRIAH, S.AG., M.H

Oleh: Kelompok 6
Alif Ayu Aimatul Huda Ziinatul Millah Yunisa Sonya Ratnani Dewi Fitriyana Imam Bukhari Nurul Andika Abdi Ah. Soni Irawan : : : : : : : (12210063) (12210049) (12210013 ) (12210135) (12210103) (12210129) (12210116)

KELAS A FAKULTAS SYARIAH JURUSAN AL-AHWAL AL-SYAKHSIYAH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

KATA PENGANTAR

Dengan adanya makalah ini semoga kita dapat menambah wawasan kita. Dan puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas taufik, hidayah, dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyusun makalah ini dengan baik meskipun masih jauh dari kesempurnaan. Sholawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan pengikutnya. Semoga kita selalu menjadi pengikut setianya yang dapat menegakkan sunnahnya dalam kehidupan sehari-hari. Makalah ini kami susun dengan tujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Peradilan Agama Islam di Indonesia. Pada kesempatan kali ini kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Erfaniah Zuhriah, S.Ag., M.H. selaku pembimbing mata kuliah Peradilan Agama Islam di Indonesia dan juga sahabatsahabati yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini Harapan kami, makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca umumnya dan bagi penulis khususnya.Semoga Allah selalu membuka pintu hidayah dan rahmat-Nya bagi kita semua.

Malang, 31 Maret 2014

Kelompok 6

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah Dewasa ini, akademisi seperti halnya kita sebagai mahasiswa seyogyanya mengkritisi adanya peraturan perundang-undangan yang telah dicanangkan sejak dulu. Dalam hal ini, dikhususkan yang berkaitan

dengan peradilan agama di Indonesia menarik sekali untuk dikupas dan mengetahui apa kelebihannya dan kelemahannya. Terlebih saat ini

peradilan agama di Indonesia sudah menjadi peradilan yang independen dan dalam menjadi tingkat pengadilan tingkat pertama. Agar kita dapat memahami dengan seksama begitu juga kita bisa mengetahui dari segi kelebihan dan juga kelemahannya dari setiap perundang-undangan berikut ini : a. UU No. 3 TH 2006 tentang perubahan UU NO 7 Th 1989 tentang PA b. UU No. 35 TH 1999 tentang perubahan UU NO 14 Th 1970 tentang Pokok Kekuasaan Kehakiman c. UU No. 5 TH 2005 tentang perubahan atas UU NO 14 Th 1985 tentang MA d. UU No. 4 TH 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman e. UU No. 50 TH 2009 tentang Pengadilan Agama. Transformasi yang terjadi tersebut menyiratkan pasang surut pengadilan agama dalam lintasan sejarah lalu lintas sistem peradilan nasional. Pengadilan agama yang menjadi representasi implementasi praksis hukum Islam di Indonesia kian eksis pasca reformasi dengan berbagai cita rasa politik, sosiologis, dan yuridis di aras elit pemerintahan maupun aras lokal masyarakat. Kajian reflektif terhadap transformasi signifikan tersebut memuat urgensi tersendiri ihwal aktualisasi kini maupun prospek pengadilan agama itu sendiri di masa mendatang sebagai salah satu garda terdepan penegakan supremasi hukum di republik ini.
3

1.2

Rumusan Masalah Dari latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam makalah ini diantaranya: 1.2.1 Apa kelebihan dan kelemahan perundang-undangan UU No. 3 Th 2006 tentang perubahan UU No. 7 Th 1989 tentang pengadilan agama? 1.2.2 Apa kelebihan dan kelemahan perundang-undangan UU No. 35 Th 1999 tentang perubahan UU NO 14 Th 1970 tentang pokok kekuasaan kehakiman? 1.2.3 Apa kelebihan dan kelemahan perundang-undangan UU No. 5 Th 2005 tentang perubahan atas UU No 14 Th 1985 tentang mahkakmah agung? 1.2.4 Apa kelebihan dan kelemahan perundang-undangan UU No. 4 Th 2004 tentang kekuasaan kehakiman? 1.2.5 Apa kelebihan dan kelemahan perundang-undangan UU No 50 Th 2009?

1.3

Tujuan Pembahasan Dari rumusan masalah di atas, maka tujuan dalam makalah ini diantaranya: 1.3.1 Mengetahui kelebihan dan kelemahan UU No. 3 Th 2006 tentang perubahan UU No. 7 Th 1989 tentang pengadilan agama. 1.3.2 Mengetahui kelebihan dan kelemahan perundang-undangan UU No. 35 Th 1999 tentang perubahan UU NO 14 Th 1970 tentang pokok kekuasaan kehakiman. 1.3.3 Mengetahui kelebihan dan kelemahan perundang-undangan UU No. 5 Th 2005 tentang perubahan atas UU No 14 Th 1985 tentang mahkakmah agung. 1.3.4 Mengetahui kelebihan dan kelemahan perundang-undangan UU No. 4 Th 2004 tentang kekuasaan kehakiman. 1.3.5 Mengetahui kelebihan dan kelemahan perundang-undangan UU No. 50 Th 2009.
4

BAB II PEMBAHASAN

2.1

Kelebihan dan Kelemahan Perundang-Undangan UU No. 3 Tahun 2006 Sejarah juga menyaksikan betapa Peradilan Agama dalam proses perkembangannya mengalami pasang surut seiring dengan lahirnya peraturan perundang-undangan yang mengatur Peradilan Islam ini. Undang-Undang tentang Pokok-pokok Kekuasaan Kehakiman No. 14/1970 menandai pembaharuan Peradilan Agama. Peradilan Agama mengalami pasang surut dalam

perkembangannya. Berbicara mengenai perkembangan Peradilan Agama di Indonesia, ada empat aspek penting yang berkaitan dengan perkembangan tersebut. Pertama, berkenaan dengan kedudukan peradilan dalam tatanan hukum dan peradilan nasional. Kedua, berkaitan dengan susunan badan peradilan, yang mencakup hierarki dan struktur organisasi pengadilan termasuk komponen sumber daya manusia di dalamnya. Ketiga, berkenaan dengan kewenangan pengadilan baik kewenangan mutlak (absolute competency) maupun kekuasaan relatif (relative competency). Keempat, berkenaan dengan hukum acara yang dijadikan landasan dalam menerima, memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara (Cik Hasan Bisri: 1997). UU Nomor 3 Tahun 2006 memberikan kewenangan kepada Pengadilan Agama untuk mengadili sengketa ekonomi syariah yang sebelumnya menjadi kompetensi Peradilan Umum. Dalam pasal 49 point i disebutkan bahwa Pengadilan Agama berwenang memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam di bidang ekonomi syariah. Dengan disahkanya Undang-Undang No 3 tahun 2006 tentang Perubahan atas UU No 7/1989 tentang Peradilan Agama, maka wewenang mengadili sengketa ekonomi syariah menjadi wewenang absolut lembaga
5

Peradilan Agama. Sebelumnya, wewenang ini menjadi wewenang Peradilan Umum, jika tidak diselesaikan di lembaga arbitrase. Pada pasal 49 point i UU No 3/2006 disebutkan dengan jelas bahwa Pengadilan Agama bertugas dan berwenang memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam di bidang ekonomi syariah. Dalam penjelasan UU tersebut disebutkan bahwa yang dimaksud dengan ekonomi syariah adalah perbuatan atau kegiatan usaha yang dilaksanakan menurut prinsip syariah, antara lain meliputi : 1) Bank syariah 2) Lembaga keuangan mikro syariah 3) Asuransi syariah 4) Reasurasi syariah 5) Reksadana syariah 6) Obligasi syariah dan surat berharga berjangka menengah syariah 7) Sekuritas syariah 8) Pembiayaan syariah 9) Pegadaian syariah 10) Dana pensiun lembaga keuangan syariah dan 11) Bisnis syariah Apabila dilihat dari perspektif sistem hukum di atas, ada beberapa point yang harus segera diadakan dan dibenahi terkait penetapan perluasan kewenangan Pengadilan Agama untuk mengadili sengketa ekonomi syariah. Pertama, hukum materiil yang menjadi rujukan para hakim dalam memutus perkara ekonomi syariah belum tersedia. Hukum yang selama ini ada di lingkungan Pengadilan Agama hanya mengatur persoalan perkawinan, kewarisan, wakaf, wasiat dan hibah. Urgensi pembentukan hukum materiil berupa Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah dikarenakan peraturan fiqh mengenai aspek muamalah ini sangat bervariasi, sehingga tidak mencerminkan asas unifikasi hukum, yang mengakibatkan sulitnya pencapaian kepastian hukum.

Kedua, hakim sebagai aparat penegak hukum di Pengadilan Agama perlu dibekali dengan kemampuan penanganan sengketa ekonomi syariah yang beragam. Kapabilitas hakim mutlak diperlukan, karena hakim bukan sekedar corong UU, melainkan ia harus memahami, menafsirkan, dan menggali nilai-nilai keadilan yang berkembang dalam masyarakat. Hal ini sesuai dengan pemikiran hukum dalam madzhab common law yang berkembang di negara Anglo Saxon, yang mengatakan bahwa hukum yang sebenarnya adalah keputusan hakim itu sendiri, bukan aturan legal formal yang ada di dalam teks Undang Undang. Ketiga, untuk menunjang efektifitas penegakan hukum dalam konteks sengketa ekonomi syariah, kesadaran hukum masyarakat menjadi elemen yang penting. Masyarakat bukan saja sebagai salah satu sumber nilai keadilan, melainkan juga bertindak sebagai pengguna (stakeholder) atas peraturan itu. Sebagai pencari keadilan (justitiabelen), masyarakat dan para pelaku bisnis syariah mengharapkan sengketa ekonomi syariah yang dialaminya dapat diselesaikan secara tepat dan merepresentasikan keadilan. Berdasarkan paparan di atas, kata kunci keberhasilan dalam merespon perluasan kewenangan Pengadilan Agama ini, adalah perlunya segera dibentuk Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES).

Formulasinya harus menggunakan metodologi hukum Islam (ushul al-fiqh) dan falsafah hukum Islam (al-maqashid al-syariah), sehingga mampu menampung aspirasi hukum serta keadilan masyarakat. Karena itu diharapkan KHES dapat berperan sebagai alat perekayasa (social engineering) masyarakat muslim Indonesia, khususnya dalam bidang ekonomi syariah. Kebutuhan pembentukan KHES di Indonesia dipandang sangat mendesak, karena praktek ekonomi syariah telah dipraktekkan di masyarakat. jangan sampai terjadi kekosongan hukum dalam bidang ekonomi syariah, atau masih menggunakan peraturan lain (BW) yang tidak sesuai dengan jiwa syariah dan nilai aktualitas.

Keberhasilan pelaksanaan kewenangan Pengadilan Agama dalam mengadili bidang ekonomi syariah terpengaruh juga oleh persepsi hakim terhadap UU No 3 tahun 2006.1 Persepsi ini akan membentuk image yang positif yang akhirnya akan termanifestasikan dalam kinerja yang berkualitas. Sebab menurut Dr. Abdul Manan, seorang hakim agung MARI, upaya untuk mewujudkan budaya hukum diperlukan dua komponen utama yaitu substansi aturan hukum dan aparat penegak hukum profesional yang imparsial2. Menurut Friedmann, budaya hukum atau the legal culture merupakan keseluruhan faktor yang menentukan bagaimana sistem hukum memperoleh tempatnya yang logis dalam kerangka budaya masyarakat3. Budaya hukum merupakan bahan bakar penggerak keadilan (the legal culture provides fuel for the motor of justice).

UU NO 3 TH 2006 TTG PERUBAHAN UU NO 7 TH 1989 TTG PA Kelebihan 1. Bertambahnya wewenang absolute pengadilan agama dalam memutus sengketa ekonomi syariah 2. Eksistensi peradilan agama semakin meningkat. Kekurangan 1. Perlu adanya keahlian khusus bagi hakim dalam menanggapi kewenangan absolutenya mengenai ekonomi syariah. 2. Perlu kesiapan dalam melaksanakan tugas-tugasnya, seperti meningkatkan kinerja para hakim dan stafnya untuk menanggapi perluasan kewenangan tentang kewarisan bagi orang Islam.

Bustanul Arifin mengakui bahwa keberhasilan pelaksanaan tugas PA, antara lain dipengaruhi sejauhmana persepsi masyarakat terhadap keberadaan hukum yang ditangani PA. Bustanul Arifin, Pelembagaan Hukum Islam di Indonesia: Akar Sejarah, Hambatan, dan Prospeknya, Jakarta, Gema Insani Press, 1996, hal. 87. 2 Abdul Manan, Aspek-Aspek Pengubah Hukum, Jakarta: Kencana, 2005, hal. 94. 3 Lawrence M. Friedmann, Loc. Cit.

2.2

UU No. 35 TH 1999 tentang Perubahan UU No. 14 TH 1970 tentang Pokok Kekuasaan Kehakiman Di kalangan para pemikir muncul gagasan tentang pemisahan kekuasaan Negara. Dalam hal ini John Locke dan Montesquieu dikenal sebagai penggagas awal teori pemisahan kekuasaan ini yang biasa disebut trias politika. Montesquieu membagi kekuasaan Negara menjadi 3 bagian: pertama, kekuasaan membuat undang-undang (la puissance legislative/ legislatif), kekuasaan menjalankan undang-undang (la puissance excutive/ eksekutif ), dan kekuasaan kehakiman (la puissance de juger/ yudikatif)4. Namun demikian, dalam UUD 1945, kekuasaan Negara tidak hanya terdistribusi menjadi tiga macam, namun menjadi enam macam, diantaranya: 1. Kekuasaan menetapkan UUD dan GBHN diselenggarakan oleh MPR. Menurut penjelasan pasal 1 dan 3, MPR adalah penyelenggara Negara yang tertinggi. Ia dianggap sebagai penjelamaa rakyat yang memegang kekuasaan Negara. Oleh karena itu kekuasaannya tidak terbatas. 2. Kekuasaan pemerintahan Negara diselenggarakan oleh presiden. Ia merupakan penyelenggara pemerintah tertinggi di bawah MPR menurut penjelasan pasal 4 dan 5. 3. Kekuasaan pertimbangan dilaksanakan oleh dewan pertimbangan dilaksanakan oleh dewan pertimbangan agung. Ia berkewajiban member jawaban atas pertanyaan presiden. Ia juga berhak mengajukan pertanyaan kepada pemerintah menurut pasal 16. 4. Kekuasaan membentuk UU dilakukan oleh DPR menurut ketetapan MPR 1999 tentang perubahan UUD. 5. Kekuasaan pemeriksaan Keuangan Negara oleh BPK menurut pasal 23. 6. Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh MA dan badan kehakiman lainnya.5

Wantjik Saleh, kehakiman dan peradilan, dalam Cik Hasan Bisri, Peradilan Agama di Indonesia, cet ke-3, 2000, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada), hal.147 5 Cik Hasan Bisri, Peradilan Agama di Indonesia, cet ke-3, 2000, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada), hal.148

Pada tahun 1970, dibentuklah UU no 14 tahun 1970. Dalam hal ini, kebebasan badan peradilan oleh pemerintah diartikan sebagai kebebasan formal, yakni hanya berkaitan dalam pemeriksaan suatu perkara, tetapi dalam hal mejalankan fungsinya sebagai lembaga penemuan hukum belum tampak secara jelas. Rumusan pasal 26 UU No. 14 tahun 1970 merupakan hasil kompromi antara kelompok yang dimotori Ikatan Hakim Indonesia (IKAHI), Persatuan Advokat Indonesia (PERADIN) yang didukung oleh para akademisi dengan pihak pemerintah yang diwakili oleh menteri kehakiman yang saat itu dijabat oleh Oemar Seno Adji. Meskipun UU no, 14 tahun 1970 ini tidak menyebutkan kekuasaan peradilan agama, yaitu terutama sekali dalam pasal 10 ayat (1) yang berbunyi, sebagai berikut: Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh pengadilan dalam lingkungan: a. Peradilan umum; b. Peradilan Agama; c. Peradilan Militer; d. Peradilan Tata Usaha Negara. Di samping pasal yang menyebutkan dengan jelas mengenai pengadilan agama. Dalam UU ini sebenarnya ada pasal lain yang penuh dengan nilai agama dan tidak hanya untuk pengadilan agama, namun juga untuk semua lingkungan pengadilan, yaitu pasal 4 ayat (1). Pasal tersebut berbunyi:Peradilan dilakukan demi keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Dalam penjelasan pasal ini disebutkan bahwa ungkapan yang kemudian ditulis dalam setiap keputusan pengadilan itu dinyatakan sesuai dengan pasal 29 UUD 1945 yang berbunyi: 1. Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa; 2. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu. Dan lebih jauh lagi jika kita amati, bahwa UU No.14 tahun1970 ini tidak memuat pasal-pasal yang dengan jelas atau samar-samar

bertentangan dengan nilai-nilai dari hukum Islam. Bahkan sebaliknya, beberapa pasal pada dasarnya memerlukan penjelasan melalui pendekatan
10

hukum Islam, seperti pertanggung jawaban hakim, hukum tidak tertulis, nilai-nilai hukum yang hidup di dalam masyarakat, dan lainnya, sebagaimana akan dibahas di dalam bab yang lain.6 Perubahan UUD 1945 dalam perspektif kekuasaan kehakiman, juga terjadi perubahan struktur kekuasaan kehakiman dan kekuasaan yang melekat pada organ kekuasaan kehakiman. Sementara Pada pasal 24

diperluas, di samping organ Mahkamah agung juga terdapat Mahkamah Konstitusional. Undang-undang No.14 tahun 1970 dibentuk pada masa rezim soeharto telah berumur 29 tahun dan belum pernah diubah. Undangundang ini bersifat mencabut UU No. 19 tahun 1969 dan menetapkan kekuasaan kehakiman. Akan tetapi lahirnya UU No.35 tahun 1999 ini, bersifat mengubah dan tidak mencabut, sehingga ketentuan-ketentuan yang ada dalam UU No. 14 tahun 1970 tetap berlaku sepanjang tidak diubah. Pasal 11 UU No.35 tahun 1999 ini menunjukkan komitmen yang kuat terhadap prinsip kemandirian dan kebebasan peradilan dan hakim dapat menjalankan fungsinya serta hilangnya dualism kekuasaan Negara yang menjadi paying organ kekuasaan kehakiman. Pasal 11 UU No.35 tahun 1999 berbunyi: 1. Badan-badan peradilan sebagaimana dimaksud dalam pasal 10 ayat (1), secara organisatoris, administrative, dan financial berada di bawah kekuasaan Mahkamah Agung. 2. Ketentuan mengenai organisasi, administrasi, dan financial sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) untuk masing-masing lingkungan peradilan diatur lebih lanjut dengan Udang-Undang sesuai dengan kekhususan lingkungan peradilan masing-masing. Di samping itu pengaturan ini menunjukkan konsistensi dianutnya prinsip Negara demokrasi berdasar atas hukum dan menata kehidupan Negara dengan menempatkan kekuasaan kehakiman sebagai lemabaga penegak hukum yang mandir, bebas, sehingga posisi hukum menjadi kuat dalam menyelesaikan setiap konflik social dan politik. Perubahan

A. Qodri Azizy, Hukum Nasional Elektisisme Hukum Islam dan Hukum Umum, cet ke-1, 2004, (Jakarta: TERAJU (PT. Mizan Publika)), hal. 176

11

pertama UU No.14 tahun 1970 oleh UU No.35 tahun 1999 berdampak pada kemandirian dan kebebasan lembaga peradilan dan hakim dalam menjalankan fungsinya, dan berakibat diubahnya undang-undang lainnya yang berkenaan dengan badan peradilan7. Undang-undang inimemindahkan administrasi dan financial

lemabaga peradilan dan departemen kehakiman ke mahkamah Agung secara bertahap selama lima tahun. Sementara itu, untuk peradilan agama tahapannya tidak diberi batasan secara spesifik. Meskipun pengalihan administrasi dan financial itu telah dijadikan jawaban untuk mewujudkan kemandirian hakim, namun masih belum dapat dibuktikan. Sebab tidak mustahil akan muncul akses negative baru. Kemungkinan akses negative itu antara lain: Pertama, kesibukan MA terhadapa urussan administrasi dan keuangan. Kesibukan ini mengandung potensi untuk merongrong kredibilitas, kewibawaaan, dan integritas MA. Kalau dulu ada ungkapan bahwa MA adalah otak (kepala) dan departemen kehakiman adalah perut, kini dengan berkumpulnya otak dan perut dalam satu wadah tidak mustahil justru akan mudah terkontaminasi oleh kepentingan administrasi dan uang tadi. Kedua, hilangnya teori resepsi dari Indonesia, maka setelah lahirnya GBHN tahun 1999, hukum Islam mempunyai kedudukan lebih besar dan tegas lagi untuk berperan sebagai bahan baku. GBHN inilah yang seharusnya menjadi acuan para pemikir Islam dalam kajian hukum nasionall kita. Qodri Azizi dalam bukunya Hukum Nasional menyebutnya sebagai positivisasi hukum Islam. Hal ini semakin meningkatkan eksistensi Badan Peradilan Agama. Untuk lebih memperjelas penjelasan di atas, berikut table analisis perbandingan UU No. 14 tahun 1970 dan UU No. 35 tahun 1999:

7 Zaenal Arifin Hoesein, , M.H.Judicial Review di Mahkamah Agung RI Tiga Dekade Pengujian Peraturan Perundang-undangan, cet ke-1, 2009, (Jakarta: Rajawali Pers), hal.167

12

No. 1

UU No. 14 tahun 1970 Pasal 1: kekuasaan kehakiman 4 lmbaga pengadilan

UU No.35 tahun 1999 4 lembaga itu dibawah kekuasaan MA 11 (A) pengalihannya bertahap 5 tahun

Pasal 22: perkara umum dan militer masuk PN dengan persetujuan menteri pertahanan, kehakiman dan persetujuan kehakiman Kelemahan:

perkara umum dan militer masuk PN dengan persetujuan ketua MA Kelemahan:

1. memberi peluang intervensi, kolusi, 1. Memungkinkan dan praktik2 negatif bagi penguasa dalam proses peradilan 2. lembaga kekuasaan kehakiman tidak mandiri sebab dan organisatoris, financial di terjadinya sengketa antar antar lembaga peradilan sederajat.

administrative

bawah kekuasaan pemerintah. 3. Fungsi sebagai lembaga penemuan hukum belum tampak jelas. 4. Produk populis. 8 5. Produk hukum mengarah pada elitis. Kelebihan: 1. Peraturan perundang-undangan Kelebihan: 1. kelembagaan Negara lebih kondusif, demokratis,dan hukum belum bersifat

diatur secara jelas. 2. Moderat atau merupakan kompromi antara IKAHI dan PERADIN.9

8 Zaenal Arifin Hoesein, , M.H.Judicial Review di Mahkamah Agung RI Tiga Dekade Pengujian Peraturan Perundang-undangan, cet ke-1, 2009, (Jakarta: Rajawali Pers), hal.153 9 Zaenal Arifin Hoesein, , M.H.Judicial Review di Mahkamah Agung RI Tiga Dekade Pengujian Peraturan Perundang-undangan, cet ke-1, 2009, (Jakarta: Rajawali Pers), hal.155

13

3. Merupakan pondasi awal peraturan kekuasaan kehakiman 4. PA menjadi peradilan sederajat

transparan10 2. hilangnya dualisme kekuasaan Negara yang menjadi paying organ kekuasaan kehakiman. 3. Peradilan lebih mandiri dan bebas dari intervensi penguasa dalam menjankan fungsinya11. 4. Konsep Negara demokrasi jadi lebih konisten. 5. Memungkinkan untuk lebih mudah terkontasminasi oleh kepentingan administrasi dan uang. 6. Meningkatnya eksistensi peradilan Agama dengan meningkatnya eksistensi hukum Islam.

dengan 3 peradilan lainnya.

10 http://jeritansangpenyair.blogspot.com/2010/04/one-roof-sistem-peradilan-agama-dalam.html 11 Zaenal Arifin Hoesein, , M.H.Judicial Review di Mahkamah Agung RI Tiga Dekade Pengujian Peraturan Perundang-undangan, cet ke-1, 2009, (Jakarta: Rajawali Pers), hal.167

14

2.3

UU No. 5 TH 2005 tentang perubahan atas UU No. 14 TH 1985 tentang Mahkamah Agung Dalam Undang-undang ini, pasal 7 ayat 1 poin B menetapkan syarat calon hakim agung, yakni bukan bekas anggota PKI atau terlibat langsung ataupun tak langsung dalam gerakan kontra revolusi G 30 SPKI atau organisasi terlarang lainnya. Dan pada pasal 28 ayat 1 poin C

diberikanlah kekuatan hokum yang tetap untuk permohonan peninjauan kembali putusan pengadilan. Hal ini membuka peluang bagi para pencari keadilan untuk berjuang mencari keadilannya. Pada pasal 28 poin E dijelaskan bahwa persyaratan hakim yakni berijazah sarjana hokum dan sarjana lain dan mempunyai keahlian di bidang hokum. Hakim agung dalam pilihannya juga melewati DPR.

Dalam hal ini, persyaratan hakim menjadi semakin selektif. Untuk dapat lebih jelasnya, berikut table analisis kekurangan dan kelebihannya: Kelebihan peluang bagi para pencari keadilan untuk berjuang mencari keadilannya terbuka lebar dengan dibukanya peninjauan kembali kekurangan persyaratan hakim menjadi semakin selektif

2.4

UU No. 4 TH 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman Kekuasaan kehakiman, dalam konteks negara Indonesia, adalah kekuasaan negara yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila, demi

terselenggaranya Negara Hukum Republik Indonesia. Pada dasarnya UU No. 4 Tahun 2004 tentang kekuasaan hakim. Kehakiman telah sesuai dengan perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, namun substansinya belum mengatur secara komprehensif. Tentang penyelenggaraan kekuasaan kehakiman
15

yang merupakan kekuasaan kehakiman yang merdeka yang dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang ada dibawahnya dalam lingkungan Peradilan umum, lingkungan Peradilan Agama, lingkungan Peradilan Militer, lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi untuk penyelenggaraan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. Bicara tentang kekuasaan kehakiman, tidak dapat dipisahkan dari pembentukan undang-undang tentang kekuasaan kehakiman. Hakim

selaku pelaku kekuasaan kehakiman harus tunduk pada undang-undang. Dalam memeriksa dan menjatuhkan putusannya, hakim harus

memprosesnya sesuai dengan undang-undang, tidak boleh melanggar undang-undang. Pembentukan undang-undang atua undang-undang itu sendiri besar pengaruhnya terhadap perilaku hakim, karena hakim harus mengadili sesuai dengan undang-undang dan tidak boleh melanggar undang-undang, hakim terikat pada undang-undang. Kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan negara yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan pancasila demi terselenggaranya negara hukum republik Indonesia.12 Ini berarti bahwa hakim itu bebas dari tekanan pihak

manapun dan bebas menentukan hukum dan keadilannya. Akan tetapi kebebasannya tidak berlaku mutlak, bukan tanpa batas, melainkan dibatasi dari segi makro dan mikro. Dari segi makro dibatasi oleh sistem pemerintahan, sitem politik, sistem ekonomi, dan sebagainya. Sedangkan dari segi mikro dibatasi oleh pancasila, undang-undang dasar, undangundang, kesusilaan dan ketertiban umum. Dibatasinya kekuasaan

kehakiman bukan tanpa alasan, hal itu dilakukan untuk mengurangi kekeliruan dan kesalahan dalam menjatuhkan suatu putusan, maka kebebasan hakim perlu dibatasi dan putusannya perlu dikoreksi. Oleh karena itu asas peradilan yang baik antara lain ialah adanya pengawasan dalam bentuk upaya hukum.

12

UU Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman, Pasal 1

16

Pasal 2 undang-undang No.4 tahun 2004 menyatakan bahwa kekuasaan kehakiman oleh Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi. Pasal 11 undang-undang No.4 tahun 2004 menyatakan bahwa MA merupakan peradilan tertinggi dari keempat lingkungan peradilan. Sedangkan pasal 12 menyebutkan MK mengadili pada tingkat pertama dan terakhir., maka tidak ada upaya hukum sama sekali. Semua lingkungan peradilan dibawah MA tersedia upaya hukum, sehingga putusan pengadilan di tingkat pertama dan kedua dilingkungan dibawah MA dimungkinkan untuk dikoreksi oleh pengadilan yang tingkatnya lebih tinggi. Dengan tidak adanya pengawasan, maka kekuasaan MK adalah mutlak, sistem ini tidak memenuhi asas peradilan yang baik.13 Pasal 19 undang-undang No.4 tahun 2004 ayat (3) menyebutkan bahwa rapat musyawarah hakim adalah bersifat rahasia, yang berarti tidak boleh diketahui oleh umum atau diluar yang ikut musyawarah, sedangkan ayat (5) menyatakan bahwa dalam sidang permusyawaratan tidak dapat dicapai mufakat, pendapat hakim yang berbeda wajib dimuat dalam putusan. Pendapat majelis hakim di dalam sidang musyawarah mungkin selalu sama, perbedaan selalu mungkin terjadi. Di waktu yang lampau maka perbedaan pendapat itu dilaporkan kepada ketua pengadilan negeri. Putusannya merupakan mufakat bulat, jadi keluarnya putusan itu tidak meragukkan dan membingungkan. Kalau musyawarah itu bersifat rahasia dan putusan pada waktu dijatuhkan dilampiri pendapat yang berbeda, yang dibicarakan dalam musyawarah yang rahasia itu, dimana sifat rahasia dan mufakatnya tersebut. Disamping itu dilampirkannya putusan dari hakim yang berbeda dengan putusan yang mempunyai kekuatan hukum (sah?) apakah tidak membingungkan? Satu putusan mengandung 2 pendapat yang berbeda. Putusan yang mengandung dua dictum akan menimbulkan suatu reaksi dari pihak yang kalah untuk menggunakan upaya hukum. Walaupun tanpa adanya pendapat hakim yang berbeda itu boleh boleh dikatakan pihak yang

13

UU Kekuasaan Kehakiman (UU No. 4 tahun 2004), (Bandung: Fokus Indo Mandiri, 2012)

17

kalah selalu menggunakan upaya hukum, hanya alasannya disini adalah untuk mengulur waktu. UU NO 4 TH 2004 TTG KEKUASAAN KEHAKIMAN Kelebihan 1. Kemandirian Lembaganya/Institusinya, 2. Kemandirian Proses Peradilannya, dan Kemandirian Hakimnya. Hal ini ditunjukkan dalam UndangUndang No 4 Tahun 2004 sudah mengatur mengenai asas hukum umum kekuasaan kehakiman yang baik meliputi ; asas kebebasan hakim, hakim bersikap menunggu. pemeriksaan berlangsung terbuka, hakim aktif , asas hakim bersikap pasif, asas kesamaan, asas objektivitas, putusan diseertai alasan, tidak ada keharusan untuk mewakilkan Kekurangan 1. Independensi kehakiman kekuasaan dalam

menjalankan asas seperti penyelesaian yang cepat dan biaya yang murah, menyebabkan semarak

gugatan perceraian dalam masyarakat tinggi. semakin

Untuk meningkatkan pembaharuan hukum pada umumnya, dan kekuasaan kehakiman pada khususnya, guna meningkatkan supremasi hukum tidaklah cukup dengan memperbaiki hukumnya dengan mengubah atau merevisi undang-undangnya. Tetapi yang lebih penting adalah meningkatkan SDM dari unsur legilatif,eksekutif, dan yudikatif dari segi intelektual maupun moral.

2.5

UU No. 50 Tahun 2009 tentang PA Mantan ketua MA, Prof. Dr. Bagir Manan, SH, MCL, dalam salah satu kesempatan mengatakan masih adanya kesan yang menganggap Peradilan Agama bukanlah sesuatu yang penting dilihat dari sistem
18

bernegara secara keseluruhan. Peradilan Agama dianggap tidak atau kurang penting dibandingkan dengan lingkungan badan peradilan lain. Dalam pasal 13 UU No. 50/2009 tentang Perubahan Kedua atas UU No. 7/1989 tentang Peradilan Agama menyebutkan bahwa untuk dapat diangkat sebagai hakim pengadilan agama, seseorang harus memenuhi syarat (diantaranya) sebagai sarjana syariah, sarjana hukum Islam atau sarjana hukum yang menguasai hukum Islam. Berbeda dengan sistem penerimaan pada calon hakim peradilan lainnya, calon hakim peradilan agama harus mengikuti test membaca kitab kuning sebagai salah satu syarat kelulusannya. Disinilah letak peluang sarjana syariah untuk berkiprah di Pengadilan Agama. Sarjana Syariah bisa dikatakan sebagai bahan baku dari SDM Peradilan Agama. Meskipun ada kalimat yang membolehkan calon hakim pengadilan agama yang berasal dari sarjana hukum tetapi jika ia tidak menguasai hukum Islam dan tidak bisa membaca kitab, maka peluangnya akan tertutup.

UU No. 50 TAHUN 2009 Kelebihan 1. Menunjang kinerja hakim dalam bekerja 2. Kode etik dalam pengangkatan seorang hakim semakin ketat sehingga diharapkan terjadi mendapat hakim yang profesional Kekurangan 1. Dikhawatirkan dalam pengangkatan dan pemberhentian hakim oleh MA dan KY, terjadi kerjasama politik didalamnya.

Sementara itu Undang-Undang tentang Peradilan Agama yang baru, No. 50/2009 memuat perubahan/tambahan baru diantaranya sebagai berikut: 1. Pengadilan khusus di lingkungan Peradilan Agama 2. Hakim Adhoc di Peradilan Agama 3. Pengawasan Internal oleh MA dan eksternal oleh KY 4. Putusan bisa dijadikan dasar mutasi
19

5. Seleksi pengangkatan hakim dilakukan oleh MA dan KY 6. Pemberhentian hakim atas usulan MA dan atau KY via KMA 7. Tunjangan hakim sebagai pejabat negara 8. Usia pensiun hakim 65 bagi PA dan 67 bagi PTA. Panitera/PP, 60 PA dan 62 PTA 9. Pos Bantuan Hukum di setiap Pengadilan Agama 10. Jaminan akses masyarakat akan informasi pengadilan, dan 11. Ancaman pemberhentian tidak hormat bagi penarik pungli.

20

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Semakin besar eksistensi peradilan agama sebenarnya merupakan keunggulan dan kebanggan tersendiri bagi peradilan agama. Namun, hal ini merupakan pemicu beban yang lebih besar bagi peradilan agama. Semakin luas wilayah kewenangan Peradilan Agama, semakin berat beban Peradilan Agama. Dengan adanya MA yang memayungi 4 peradilan di bawahnya, semakin baik penataan dan perkembangannya terhadap peradilan-peradilan di bawahnya. Hal ini juga dibuktikan pada UU No. 50 tahun 2009 yang memberi kode etik pengangkatan hakim lebih ketat

sehingga menunjang kinerja hakim lebih baik.

21

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Bustanul, Pelembagaan Hukum Islam di Indonesia: Akar Sejarah, Hambatan, dan Prospeknya.Jakarta: Gema Insani Press. 1996. Azizy, A. Qodri. Hukum Nasional Elektisisme Hukum Islam dan Hukum Umum. Cet ke-1. Jakarta: Teraju. 2004. Bisri, Cik Hasan. Peradilan Agama di Indonesia. Cet ke-3. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 2000. Bustanul Arifin, Pelembagaan Hukum Islam di Indonesia: Akar Sejarah, Hambatan, dan Prospeknya. Jakarta: Gema Insani Press. 1996. Hoesein, Zaenal Arifin. Judicial Review di Mahkamah Agung RI Tiga Dekade Pengujian Peraturan Perundang-undangan. cet ke-1. Jakarta: Rajawali Pers. 2009 Manan, Abdul. Aspek-Aspek Pengubah Hukum. Jakarta: Kencana. 2005. UU Kekuasaan Kehakiman (UU No. 4 tahun 2004). Bandung: Fokus Indo Mandiri. 2012. UU Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman, Pasal 1

22