Anda di halaman 1dari 6

TUGAS FARMASI FISIK II

KLASIFIKASI SURFAKTAN

FIFI FITRIAWATI 260110120060

Surfaktan
Surfaktan merupakan molekul yang memiliki gugus polar yang suka air (hidrofilik) dan gugus non polar yang suka minyak (lipofilik) sekaligus, sehingga dapat mempersatukan campuran yang terdiri dari minyak dan air. Surfaktan adalah bahan aktif permukaan, yang bekerja menurunkan tegangan permukaan cairan, sifat aktif ini diperoleh dari sifat ganda molekulnya. Surfaktan adalah Senyawa aktif permukaan (surface active agent atau surfaktan) adalah suatu senyawa yang telah diketahui dapat menjadi penstabil emulsi. Surfaktan memiliki dua gugus molekul yang berbeda kepolarannya. Satu jenis hidrofilik (suka air) sedangkan gugus yang lainnya lipofilik (suka lemak). Bagian polar molekulnya dapat bermuatan positif, negatif ataupun netral, bagian polar mempunyai gugus hidroksil semetara bagian non polar biasanya merupakan rantai alkil yang panjang. Surfaktan pada umumnya disintesis dari turunan minyak bumi dan limbahnya dapat mencemarkan lingkungan, karena sifatnya yang sukar terdegradasi, selain itu minyak bumi merupakan sumber bahan baku yang tidak dapat diperbarui. Bardasarkan struktur ion, surfaktan ada tidaknya muatan ion pada rantai panjang bagian hidrofobiknya, dikenal 4 macam, yaitu

1. Surfaktan Kationik : Surfaktan kationik yaitu surfaktan yang bagian alkilnya terikat pada suatu kation, umumnya merupakan garam-garam ammonium kuarterner atau amin. C12H25Cl + N(CH3)3 Contoh : Benzalkonium klorida Dodekildimetilbenzilammonium klorida Heksadekiltrimetilammonium klorida Senyawa Amonium kuartener garam alkil trimethil ammonium, garam dialkil-dimethil ammonium, garam alkil dimethil benzil ammonium. [C12H25N-(CH3)3] + Cl-

2. Surfaktan Anionik : surfaktan yang bagian alkilnya terikat pada suatu anion. Umumnya merupakan garam natrium, akan terionisasi menghasilkan Na+ dan ion surfaktannya bermuatan negatif. Surfaktan anionik umumnya diproduksi secara besar-besaran pada industri detergen. Menurut U.S. Tarrif Commision Statistic pada tahun 1957, detergen anionik yang digunakan adalah sekitar 75% dari seluruh surfaktan yang digynakan, dan hampir 95% darinya adalah alkil-alkil sulfat dan alkil benzen sulfonat. Jenis ini merupakan komponen polutan utama detergen pada air permukaan. Contoh : Natrium lauril sulfat

Natrium dodekil sulfonat Natrium dodekil benzensulfonat Sabun alkali

: C12H23CH2SO3-Na+ : C12H25ArSO3-Na+

garam alkana sulfonat, garam olefin sulfonat, garam sulfonat asam lemak rantai panjang.

3. Surfaktan Nonionik : surfaktan yang bagian alkilnya tidak bermuatan. Sejenis ini tidak berdisosiasi dalam air, tetapi bergantung pada struktur (bukan keadaan ion-nya) untuk mengubah hidrofilitas yang membuat zat tersebut larut dalam air. Surfaktan nonionik biasanya digunakan bersama-sama dengan surfaktan aniomik. Jenis ini hampir semuanya merupakan senyawa turunan poliglikol, alkiloamida atau ester-ester dari polihidroksi alkohol. Contoh : Tween 80 Span 80 Pentaeritritit palmitat Polioksietilendodekileter : CH3(CH2)14COO-CH2- C(CH2OH)3 : C12H25-O-(CH2-CH2O)2H

Ester gliserin asam lemak, ester sorbitan asam lemak, ester sukrosa asam lemak, polietilena alkil amina, glukamina, alkil poliglukosida, mono alkanol amina, dialkanol amina dan alkil amina oksida.

4. Surfaktan Zwitterion/Amfolitik : surfaktan yang bagian alkilnya mempunyai muatan positif dan negatif. Jenis ini mengandung gugus yang bersifat anionic dan kationik seperti pada asam amino. Dengan demikian, protein susu kasein adalah salah satu biosurfaktan yang termasuk jenis ini. Molekulnya biasanya mengandung gugus karboksilat atau fosfat sebagai anion, dan gugus ammonium kuarterner sebagai kation. Jenis ini relati mahal dibandingkan dengan yang lainnya. Contoh : Heksadekilamin propionat Dodekilamin propionat : C18H35-NH2+-CH2-CH2-COO: C18H25-NH2+-CH2-CH2-COO-

surfaktan yang mengandung asam amino, betain, fosfobetai

Pemakaian Surfaktan di Bidang Farmasi


1. Surfaktan Nonionik
Surfaktan nonionik banyak digunakan sebagai bahan deterjen, wetting agent dan emulsifier. Beberapa kategori dari surfaktan nonionik memilikitoksisitas yang rendah dan digunakan pada farmasi, kosmetika dan produk makanan. Konsentrasi surfaktan nonionik biasanya berada dalam selang 25% sampai dengan 75% dalam formulasuatu produk

Sebagai Emulgator (Penstabil Emulsi) Emulsi dapat distabilkan dengan penambahan emulgator yang mencegah koslesensi, yaitu penyatuan tetesan besar dan akhirnya menjadi satu fase tunggal yang memisah. Bahan pengemulsi (surfaktan) menstabilkan dengan cara menempati daerah antar muka antar tetesan dan fase eksternal dan dengan membuat batas fisik disekeliling partikel yang akan brekoalesensi. Surfaktan juga mengurangi tegangan antar permukaan dari fase dan dengan membuat batas fisik disekeliling partikel yang akan berkoalesensi. Surfaktan juga mengurangi tegangan antar permukaan dari fase, hingga meninggalkan proses emulsifikasi selama pencampuran. Contohnya : Tween 80 dan Span 80 ( Surfaktan Nonionik ) Menurut teori umum emulsi klasik bahwa zat aktif permukaan mampu menampilkan kedua tujuan yaitu zat-zat tersebut mengurangi tegangan permukaan (antar permukaan) dan bertindak sebagai penghalang bergabungnya tetesan karena zat-zat tersebut diabsorbsi pada antarmuka atau lebih tepat pada permukaan tetesan-tetesan yang tersuspensi. Zat pengemulsi memudahkan pembentukan emulsi dengan 3 mekanisme : 1. Mengurangi tegangan antarmuka-stabilitas termodinamis 2. Pembentukan suatu lapisan antarmuka yang halus-pembatas mekanik untuk penggabungan. 3. Pembentukan lapisan listrik rangkap-penghalang elektrik untuk mendekati partikel.

Emulsi yang digunakan dalam farmasi adalah satu sediaan yang terdiri dari dua cairan tidak bercampur, dimana yang satu terdispersi seluruhnya sebagai globula-globula terhadap yang lain. Walaupun umumnya kita berpikir bahwa emulsi merupakan bahan cair, emulsi dapat dapat diguanakan untuk pemakaian dalam dan luar serta dapat digunakan untuk sejumlah kepentingan yang berbeda.

Mekanisme kerja emulgator surfaktan, yaitu : 1. Membentuk lapisan monomolekuler : surfaktan yang dapat menstabilkan emulsi bekerja dengan membentuk sebuah lapisan tunggal yang diabsorbsi molekul atau ion pada permukaan antara minyak/air. Menurut hukum Gibbs kehadiran kelebihan pertemuan penting mengurangi tegangan permukaan. Ini menghasilkan emulsi yang lebih stabil karena pengurangan sejumlah energi bebas permukaan secara nyata adalah fakta bahwa tetesan dikelilingi oleh sebuah lapisan tunggal koheren yang mencegah penggabungan tetesan yang mendekat.

2. Membentuk lapisan multimolekuler : koloid liofolik membentuk lapisan multimolekuler disekitar tetesan dari dispersi minyak. Sementara koloid hidrofilik diabsorbsi pada pertemuan, mereka tidak menyebabkan penurunan tegangan permukaan. Keefektivitasnya tergantung pada kemampuan membentuk lapisan kuat, lapisan multimolekuler yang koheren.

3. Pembentukan kristal partikel-partikel padat : mereka menunjukkan pembiasan ganda yang kuat dan dapat dilihat secara mikroskopik polarisasi. Sifat-sifat optis yang sesuai dengan kristal mengarahkan kepada penandaan Kristal Cair. Jika lebih banyak dikenal melalui struktur spesialnya mesifase yang khas, yang banyak dibentuk dalam ketergantungannya dari struktur kimia tensid/air, suhu dan seni dan cara penyiapan emulsi. Daerah strukturisasi kristal cair yang berbeda dapat karena pengaruh terhadap distribusi fase emulsi.

Sebagai Wetting Agent pada Suspensi Dalam pembuatan suspensi, pembasahan partikel dari serbuk yang tidak larut di dalam cairan pembawa adalah langkah yang penting. Kadang-kadang adalah sukar mendispersi serbuk, karena adanya udara, lemak dan lain lain kontaminan .Serbuk tadi tidak dapat segera dibasahi, walaupun BJ nya besar mereka mengambang pada permukaan cairan. Pada serbuk yang halus mudah kemasukan udara dan sukar dibasahi meskipun ditekan di bawah permukaan cairan. Serbuk dengan sudut kontak 900 akan menghasilkan serbuk yang terapung keluar dari cairan. Sedangkan serbuk yang mengambang di bawah cairan mempunyai sudut kontak yang lebih kecil dan bila tenggelam, menunjukkkan tidak adanya sudut kontak . Serbuk yang sulit dibasahi air , disebut hidrofob , seperti sulfur , carbo adsorben, Magnesii Stearat dan serbuk yang mudah dibasahi air disebut hidropofil seperti toluen , Zincy Oxydi , Magnesii Carbonas . Dalam pembuatan suspensi penggunaan surfaktan ( wetting agent ) adalah sangat berguna

dalam penurunan tegangan antar muka akan menurunkan sudut kontak , pembasahan akan dipermudah. Contohnya adalah tween, span dan gliserin ( Surfaktan Nonionik ). Gliserin dapat berguna di dalam penggerusan zat yang tidak larut karena akan memindahkan udara diantara partikel partikel hingga bila ditambahkan air dapat menembus dan membasahi partikel karena lapisan gliserin pada permukaan partikel mudah campur dengan air. Maka itu pendispersian partikel dilakukan dengan menggerus dulu partikel dengan gliserin, propilenglikol, koloid gom baru diencerkan dengan air.

2. Surfaktan Anionik
Sebagai Sistem Dispersi Padat pada Kerja Obat Di bidang farmasi ini NaLS (Natrium Lauri Sulfat) berfungsi sebagai sistem dispersi padat pada kerja obat.

3. Surfaktan Kationik
Pengawet Benzalkonium klorida (Sufaktan Kationik) merupakan surfaktan yang digunakan sebagai pengawet pada Injeksi Epinefrin HCl yang berfungsi sebagai anti mikrobal. Karena pada injeksi ini digunakan pemakaian dosis ganda, sehingga diperlukan penambahan pengawet. Karena dalam pengambilannya selalu berulang sehingga kemungkinan terkontaminasi dengan udara sangat mudah.

Sumber : http://alizaala.blogspot.com/p/surfaktan-anionik.html http://drutama.wordpress.com/2012/11/18/suspensi/ http://farmasibidangkumerryst.blogspot.com/2013/01/sediaan-liquid-farmasi.html http://id.wikipedia.org/wiki/Surfaktan http://jurnalilmiahfarmasi.blogspot.com/2010/10/jurnal-farmasi-elektroforesis.html http://muhammadcank.files.wordpress.com/2010/02/emulsi.doc http://www.academia.edu/652078/Penggunaan_Surfaktan_Metil_Ester_Sulfonat_dalam_Formula _Agen_Pendesak_Minyak_Bumi