Anda di halaman 1dari 82

KataPengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas perkenanNya, pertama kami memperoleh kepecayaan melaksanakan Program Hibah Kompetisi berbasis Institusi (PHKI) melalui dukungan Dikti, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Pemerintah Daerah Kota Bandung, Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung, Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Barat, dan Pemerintah Daerah Kabupaten Subang. Selain itu kami atas perkenanNya pula kami dapat menyajkan Buku Panduan Implementasi Lesson Study ini. Lesson Study merupakan model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan mutual learninguntukmembangunkomunitasbelajar. Buku ini dimaksudkan untuk memberi arahan dalam melaksanakan Program Pembinaan Guru Berkelanjutan melalui Implementasi Lesson Study di Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Subang. Buku panduan implementasi Lesson Study initerdiridariempatbab.Bab1merupakanalasanpentingnyamenerapkanLessonStudydalam meningkatkan kompetensi guru. Dalam Bab 2 diuraikan rencana program kerja implementasi Lesson Study di kabupaten/kota sasaran. Bab 3 menguraikan mekanisme kerja implementasi LessonStudysementaraBab4menyajikansecararinciprinsipprinsipLessonStudy. Buku ini disusun dalam rangka kerja sama dengan tema Penguatan Kemitraan Kelembagaan antara Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dengan Pemerintah Provinsi/Pemerintah Kabupaten/Kota dalam rangka Pembinaan Guru dalam Jabatan untuk meningkatkan daya saing daerah dalam bidang pendidikan dan pembangunan nasional yang disponsori oleh Dikti, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Pemerintah Daerah Kota Bandung, Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung, Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Barat, Pemerintah Daerah Kabupaten Subang, dan UPI. Oleh karen itu, pada kesempatan ini kami menyampaikan penghargaan yang tinggi kepada Dikti, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Pemerintah Daerah Kota Bandung, Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung, Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Barat, Pemerintah Daerah Kabupaten Subang, dan UPI atas dukungan terhadap implementasi Lesson Study di Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, KabupatenSubang. Akhirnya, kami dengan senang hati menerima kritik dan saran membangun untuk perbaikan bukuinidimasamendatang. Januari2010 KetuaPelaksanaPHKI

Program Hibah Kompesi berbasis Instusi (PHKI)

Penguatan Kemitraan Kelembagaan antara Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat

Implementasi Lesson Study


di Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Subang dalam rangka Pembinaan Guru dalam Jabatan berbasis Sekolah, Kolaboraf, dan Berkelanjutan

2010 - 2012

Kata Pengantar
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas perkenanNya, kami memperoleh kepecayaan melaksanakan Program Hibah Kompe si berbasis Ins tusi (PHKI) melalui dukungan Dik , Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Pemerintah Daerah Kota Bandung, Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung, Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Barat, dan Pemerintah Daerah Kabupaten Subang. Selain itu atas perkenanNya pula kami dapat menyajikan Buku Panduan Implementasi Lesson Study ini. Lesson Study merupakan model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolabora f dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar. Buku ini dimaksudkan untuk memberi arahan dalam melaksanakan Program Pembinaan Guru Berkelanjutan melalui Implementasi Lesson Study di Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Subang. Buku panduan implementasi Lesson Study ini terdiri dari empat bab. Bab 1 Pendahuluan. Dalam Bab 2 Prinsip-prinsip Lesson Study. Bab 3 Implementasi Lesson Study di kota Bandung,Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Subang sementara Bab 4 Mekanisme Pelaksanaan Kegiatan. Buku ini disusun dalam rangka kerja sama dengan tema Penguatan Kemitraan Kelembagaan antara Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dengan Pemerintah Provinsi/Pemerintah Kabupaten/Kota dalam rangka Pembinaan Guru dalam Jabatan untuk meningkatkan daya saing daerah dalam bidang pendidikan dan pembangunan nasional yang disponsori oleh Dik , Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Pemerintah Daerah Kota Bandung, Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung, Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Barat, Pemerintah Daerah Kabupaten Subang, dan UPI. Oleh karena itu, pada kesempatan ini kami menyampaikan penghargaan yang nggi kepada Dik , Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Pemerintah Daerah Kota Bandung, Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung, Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Barat, Pemerintah Daerah Kabupaten Subang, dan UPI atas dukungan terhadap implementasi Lesson Study di Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Subang. Akhirnya, kami dengan senang ha menerima kri k dan saran membangun untuk perbaikan buku ini di masa mendatang.

Januari 2010

DAFTAR ISI
Kata Pengantar ............................................................................... Daftar Isi ......................................................................................... Bab 1 Pendahuluan....................................................................... Bab 2 Prinsip-Prinsip Lesson Study ............................................... Bab 3 Implementasi Lesson Study di Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Subang....................................................... Bab 4 Mekanisme Pelaksanaan Kegiatan ..................................... Lampiran......................................................................................... i iii 1 14

32 57 63

iii

BAB 1 PENDAHULUAN
Latar Belakang Indek Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Jawa Barat menempati peringkat ke-14, jauh di bawah DKI Jakarta (peringkat ke-1) dan DI Yogyakarta (peringkat ke-4) berdasarkan Badan Pusat Statistik, 2005. Hal ini mengindikasikan bahwa mutu Sumber Daya Manusia (SDM) di Jawa Barat masih rendah. Rendahnya IPM Jawa Barat tercermin dari rendahnya mutu kehidupan bermasyarakat. Sebagai contoh, masyarakat kita sedang mengalami krisis budaya, budaya bersih, budaya tertib, dan budaya tepat waktu. Kita menyaksikan lingkungan yang kotor karena banyak orang membuang sampah sembarangan. Udara perkotaan yang panas dan kotor akibat terlalu banyak masyarakat menggunakan kendaraan bermotor walaupun untuk keperluan yang tidak produktif sehingga membuat kita sesak bernapas. Air sungai yang kotor dan tercemar dapat disaksikan ditengah kota besar akibat ulah masyarakat yang tidak bertanggung jawab. Budaya antri hampir tidak terlihat di negri kita, semuanya ingin duluan mendapat jatah pembagian yang kadang menyebabkan kecelakaan. Rambu-rambu lalu lintas cenderung untuk dilanggar, saling salib dan saling serobot menjadi biasa. Orang merokok ditempat umum tidak merasa bersalah, tidak peduli orang lain yang tidak suka asap rokok. Pejalan kaki tidak memperolah haknya karena troroar di kota menjadi tempat berjualan. Keterlambatan menjadi hal biasa, keterlambatan pesawat, keterlambatan kereta api, keterlambatan masuk kantor, keterlambatan hadir rapat. Itulah sebagian kecil contoh krisis budaya di negeri kita yang perlu diperbaiki terus menerus melalui pendidikan. Oleh karena salah satu komponen IPM adalah pendidikan maka dapat dikatakan bahwa mutu pendidikan di Jawa Barat masih rendah secara kolektif, tentunya banyak masyarakat yang berpendidikan tinggi tapi sebagian besar masyarakat masih rendah pendidikannya. Pendidikan dianggap tidak menjanjikan, tidak dianggap sebagai investasi masa depan bagi sebagian masyarakat Jawa Barat yang menyebabkan sebagian anak tidak sekolah/tidak melanjutkan sekolah yang berakibat rendahnya mutu SDM dan berujung pada rendahnya daya saing daerah.

Pendidikan bermutu Pendidikan bermutu yang diharapkan, bagaimana meningkatkan mutu pendidikan, dan dari mana kita memulainya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, bagaimana kalau kita mulai dari skala mikro yaitu sekolah. Dengan asumsi sekolah sebagai suatu sistem pendidikan yang terdiri dari berbagai unsur yang saling terkait (Gambar 1.1). Sekolah memiliki input (sumber daya yang tersedia untuk pendidikan), di sekolah berlangsung proses pendidikan (apa yang diajarkan dan bagaimana diajarkan), dan sekolah menghasilkan output (akibat suatu proses terhadap siswa berbagai latar belakang). Input terhadap sistem pendidikan meliputi anggaran, sumber daya manusia (guru yang berkualikasi dan staf), fasilitas, dan siswa berbagai latar belakang. Siswa dalam satu kelas memiliki latar belakang dan pengetahuan yang berbeda yang harus disikapi sebagai tantangan, bukan untuk dikeluhkan. Pengelola sekolah mengoptimalkan sumberdaya yang tersedia untuk pendidikan serta menciptakan etos kerja guru dan staf yang secara kolektif mampu menetapkan harapan yang ingin dicapai (pengetahuan, keterampilan, dan sikap lulusan yang diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat).
Gambar 1.1. Keterkaitan unsur sistem persekolahan

Gambar 1.1. Keterkaitan unsur sistem persekolahan

Kemudian pengelola sekolah menetapkan kebijakan yang realistik agar harapan dapat direalisasikan, salah satunya menfasilitasi guru-guru berpartisipasi dalam kegiatan pembinaan guru berbasis sekolah secara berkelanjutan untuk pembiasaan agar tumbuh sikap belajar sepanjang hayat (life-long learning). Kurikulum adalah konten pendidikan sebagai media interaksi antara guru dan siswa. Guru dengan etos kerja tinggi, pengetahuan materi subyek, dan pedagoginya mengolah kurikulum menjadi sajian materi ajar yang memungkinkan siswa tertarik, termotivasi, dan tertantang untuk terlibat secara aktif dalam belajar. Guru memfasilitasi
2

siswa belajar aktif dengan berbagai strategi dan perhatian shingga berdampak terhadap partisipasi dalam belajar (memiliki kesadaran belajar), hasil belajar (pengetahuan dan keterampilan), dan sikap (jujur, tanggung jawab, kreatif, kerjasama, toleran, peduli). Proses pendidikan merupakan central dalam sistem persekolahan dan mutu output sangat ditentukan oleh mutu proses. Input bermutu tidak akan menjamin output bermutu kalau proses tidak bermutu. Proses pendidikan bermutu akan berdampak terhadap output bermutu. Kalau proses pembelajaran bermutu ada jaminan output yang bermutu yang ditunjukkan bukan hanya oleh hasil ujian tapi juga oleh sikap terpuji. Sebagai acuan dalam peningkatan mutu pendidikan berikut akan dibahas secara singkat beberapa regulasi, antara lain Undang-Undang Sisdiknas, Peraturan Pemerintah No 19 tahun 2005, dan UU Guru dan Dosen. Landasan Hukum UU 20/2003 SISDIKNAS. Bagaimana memperbaiki krisis budaya di negeri kita? Jawabannya adalah melalui pendidikan yang merata dan bermutu, menjangkau semua anak bangsa dengan proses pendidikan yang bermutu. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3 berbunyi: Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Demikian baiknya tujuan pendidikan nasional kita untuk membentuk karakter anak bangsa yang berbudaya agar dihasilkan sumber daya manusia yang bermutu yang mampu mengelola sumber daya alam yang berlimpah oleh karena itu tujuan pendidikan nasional ini harus menjadi acuan kita dalam melaksanakan proses pendidikan di negeri ini. Tujuan pendidikan ini harus dipahami oleh semua masyarakat, tidak hanya oleh para pendidik. Untuk mencapai tujuan pendidikan nasional tersebut tentunya diperlukan usaha yang sistematik, sinergi, dan terus menerus. PP 19/2005 SNP. Kita masih menyaksikan kesenjangan antara praktek di lapangan dengan regulasi pendidikan. Sebagai contoh, Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Pasal 19 berbunyi: Proses pembelajaran harus interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi untuk aktif, kreatif, mandiri sesuai bakat, minat dan perkembangan sik & psikologis peserta didik. Sementara proses pembelajaran di sekolah belum memperoleh perhatian optimum. Sebagian kita sebagai guru/dosen beranggapan tugasnya
3

mentransfer pengetahuan kepada siswa/mahasiswa melalui ceramah. Materi yang terdapat di dalam buku teks harus disampaikan kepada peserta didik, tidak peduli apakah peserta didik memahami atau tidak. Sebagian kita juga hanya melatih menjawab soal-soal ujian. Sebagian guru/dosen tidak memikirkan metoda/strategi pembelajaran alternatif agar peserta didik dapat melakukan eksplorasi untuk membangun pengetahuannya. Kadang-kadang kita juga tidak peduli dengan kesulitan peserta didik dalam belajar, padahal setiap peserta didik punya hak belajar, hak untuk memperoleh layanan pembelajaran dengan baik. Sebagian besar siswa/ mahasiswa pun belum merasa belajar kalau belum mendapat ceramah dari guru/dosen. Tidak sedikit kepala sekolah atau pengawas yang tidak mengetahui bagaimana aktivitas pembelajaran di dalam kelas karena guru tertutup bagi siapapun. Kebanyakan kepala sekolah lebih cemas kalau siswanya tidak lulus UN (Ujian Nasional) dari pada siswanya tidak kreatif. Begitu pula, kebanyakan dinas pendidikan hanya mengukur keberhasilan pendidikan melalui NUN (Nilai Ujian Nasional), padahal NUN hanya mengukur sebagian kecil dari tujuan pendidikan nasional. UU 14/2005 GURU DAN DOSEN. Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang merupakan acuan tentang guru/dosen profesional. Pengakuan terhadap guru/dosen sebagai tenaga profesional akan diberikan manakala guru/dosen telah memiliki antara lain kualikasi akademik, kompetensi, dan sertikat pendidik yang dipersyaratkan (Pasal 8). Kualikasi akademik tersebut harus diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana atau diploma empat bagi seorang guru (Pasal 9). Sertikat pendidik diperoleh guru setelah mengikuti pendidikan profesi (Pasal 10 ayat (1)). Adapun jenis-jenis kompetensi yang dimaksud pada Undang-undang tersebut meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional (Pasal 10 ayat (1)). Berdasarkan hasil pertemuan Asosiasi LPTK Indonesia, penjabaran tentang jenis-jenis kompetensi tersebut adalah sebagai berikut. Kompetensi pedagogik yaitu kemampuan mengelola pembelajaran yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi pembelajaran, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Secara rinci kompetensi pedagogik meliputi : 1. Memahami karakteristik peserta didik dari aspek sik, sosial, moral, kultural, emosional, dan intelektual. 2. Memahami latar belakang keluarga dan masyarakat peserta didik dan kebutuhan belajar dalam konteks kebhinekaan budaya. 3. Memahami gaya belajar dan kesulitan belajar peserta didik
4

4. Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik 5. Menguasai teori dan prinsip belajar serta pembelajaran yang mendidik 6. Mengembangkan kurikulum yang mendorong keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran 7. Merancang pembelajaran yang mendidik 8. Melaksanakan pembelajaran yang mendidik 9. Mengevaluasi proses dan hasil pembelajaran Kompetensi kepribadian yaitu memiliki kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia. Kompetensi ini meliputi: 1. Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa. 2. Menampilkan diri sebagai pribadi yang berakhlak mulia dan sebagai teladan bagi peserta didik dan masyarakat. 3. Mengevaluasi kinerja sendiri 4. Mengembangkan diri secara berkelanjutan. Kompetensi profesional yaitu kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkannya membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi. Kompetensi ini mencakup: 1. Menguasai substansi bidang studi dan metodologi keilmuannya. 2. Menguasai struktur dan materi kurikulum bidang studi. 3. Menguasai dan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran. 4. Mengorganisasikan materi kurikulum bidang studi. 5. Meningkatkan kualitas pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas. Kompetensi sosial yaitu kemampuan berkomunikasi secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Dengan kompetensi ini, guru diharapkan dapat: 1. Berkomunikasi secara efektif dan empatik dengan peserta didik, orang tua peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, dan masyarakat. 2. Berkontribusi terhadap pengembangan pendidikan di sekolah dan masyarakat. 3. Berkontribusi terhadap pengembangan pendidikan di tingkat lokal, regional, nasional, dan global. 4. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) untuk berkomunikasi dan pengembangan diri.
5

Pertanyaan yang mungkin terlontar adalah bagaimana jaminan kinerja seorang guru yang telah lulus sertikasi guru? Mungkin saja sertikasi tidak berdampak terhadap kinerja manakala tidak diagendakan pembinaan guru berkelanjutan pasca sertikasi. Lantas bagaimana kita dapat melakukan pembinaan tehadap semua guru secara berkelanjutan? MGMP. MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) merupakan organisasi non-struktural berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No 38/1994. Menurut pedoman yang diterbitkan Direktur Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah, MGMP memiliki 5 tujuan berikut: a) Mendorong guru untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan mereka dalam merencanakan, melaksanakan, serta mengevaluasi kegiatan belajar dan mengajar. b) Wadah untuk merundingkan masalah yang dihadapi para guru dalam melaksanakan kewajiban sehari-hari mereka dan untuk mencari pemecahan yang sesuai dengan karakteristik mata pelajaran yang bersangkutan, guru, kondisi sekolah, dan masyarakat. c) Memberi kesempatan bagi para guru untuk berbagi informasi dan pengalaman mengenai pelaksanaan kurikulum, serta untuk mengembangkan sains dan teknologi. d) Menyediakan kesempatan bagi para guru untuk menyampaikan pendapat mereka pada pertemuan MGMP sehingga meningkatkan kemampuan mereka. e) Membangun kerjasama dengan lembaga-lembaga lain untuk menciptakan process belajar mengajar yang kondusif, efektif, dan menyenangkan. Jadi MGMP diharapkan dapat mengembangkan profesi guru, akan tetapi kenyataan di lapangan masih banyak hambatan dan masalah untuk mewujudkan tujuan MGMP karena beberapa alasan berikut: a) Organisasi MGMP berada pada tingkat kabupaten/kota sehingga kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan tidak efektif dan tidak mereeksikan kebutuhan serta kondisi guru. b) Kegiatan-kegiatan MGMP biasanya dirancang berbasis proyek, kalau ada biaya baru diadakan kegiatan, bukan atas inisiatif guru sendiri. c) Tidak seluruh guru mata pelajaran dapat mengikuti kegiatan MGMP, biasanya sekolah hanya mengirim wakil-wakilnya saja karena keterbatasan biaya yang disediakan sekolah. d) Guru-guru di daerah terpencil sulit menghadiri kegiatan MGMP yang biasanya diselenggarakan di pusat kabupaten/kota, karena hambatan waktu, transportasi, dan biaya.

e) Sejumlah kepala sekolah mengabaikan hari MGMP malah memberi tugas mengajar kepada guru pada hari pertemuan MGMP. Kesulitan ini biasanya dihadapi oleh para guru di sekolah-sekolah swasta. f) Sejumlah guru tidak merasa tertarik dengan kegiatan MGMP dan tidak berkewajiban menghadirinya karena guru kurang merasakan manfaat bagi dirinya. Pada kenyataannya sebagian besar guru tidak memperoleh pembinaan secara berkelanjutan. Mereka bekerja sendirian dengan memanfaatkan ilmu dan keterampilannya yang diperoleh dibangku kuliah, tidak memiliki kesempatan untuk memutahirkan baik pengetahuan materi subyek maupun keterampilan membelajarkan siswanya. Kegiatan pelatihan tingkat provinsi terbatas bagi sebagian kecil guru karena keterbatasan biaya dan kalaupun semua guru memperoleh kesempatan maka siswa akan dirugikan karena tidak ada guru yang mengajar. Selain itu, hasil pelatihan kurang terdiseminasikan kepada guru lain di daerah. Pekerjaan guru dalam melaksanakan pembelajaran paling sedikit terdiri dari 3 tahapan, yaitu (1) membuat perencanaan, (2) mengimplementasikan pembelajaran, dan (3) mereeksikan pembelajaran. Para guru belum terbiasa berkolaborasi bahkan cenderung tidak terbuka dalam melaksanakan tahapan-tahapan pembelajaran tersebut. Beberapa guru mungkin sudah bekerjasama pada tahap pertama, membuat perencanaan pembelajaran, melalui forum MGMP tapi untuk tahap kedua dan ketiga masih sangat jarang dilakukan. Hal ini dikerenakan, sebagian besar guru beranggapan bahwa tahap implementasi merupakan otoritas guru, tidak perlu diketahui orang lain, dan tabu orang lain menyaksikannya. Padahal umpan balik akan sangat berguna untuk perbaikan selanjutnya. Landasan Filoso. UPI dengan visi Pelopor dan Unggul (Leading and Outstanding) seyogiyanya berkontribusi terhadap pembangunan pendidikan di Provinsi Jawa Barat yang memiliki visi Jawa Barat Dengan Iman dan Taqwa Sebagai Provinsi Termaju di Indonesia dan Mitra Terdepan Ibukota Negara Tahun 2010. Untuk meningkatkan daya saing daerah maka mutu pendidikan di Jawa Barat harus ditingkatkan melalui kemitraan secara nyata antara UPI dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat dan Kabupaten/Kota untuk meningkatkan peran sekolah sebagai lembaga penghasil SDM yang bermutu, kreatif dan inovatif serta peduli lingkugan dalam bermasyarakat. Guru yang merupakan faktor kunci dan ujung tombak dalam peningkatan mutu pendidikan perlu dibantu dalam merencanakan dan mengimplementasikan pembelajaran yang atraktif, interaktif, dan inspiratif sehingga sekolah menjadi dambaan masyarakat Jawa Barat untuk menyekolahkan anak-anaknya.
7

Permasalahan mutu pendidikan disebabkan adanya kesenjangan antara regulasi pemerintah dan realita di lapangan serta kesenjangan pemerataan mutu pendidikan di Jawa Barat. Permasalahan pendidikan tersebut merupakan tantangan bagi kita untuk mencari solusinya agar mutu pendidikan di Jawa Barat meningkat terus. Untuk mengatasi permasalahan pendidikan tersebut, model Lesson Study akan diimplementasikan di 4 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat, yaitu Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Subang selama 3 tahun kedepan, mulai tahun 2010. Implementasi Lesson Study di 4 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat ini didukung oleh Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (DIKTI) melalui program PHKI (Program Hibah Kompetisi berbasis Institusi), Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Dinas Pendidikan Kota Bandung, Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung, Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat, dan Dinas Pendidikan Kabupaten Subang, serta Universias Pendidikan Indonesia (UPI). Program kemitraan melalui Program PHKI ini dilandasi atas beberapa alasan mendasar berikut. 1. UPI menyadari bahwa implementasi Tri Dharma UPI belum berkontribusi optimal terhadap peningkatan daya saing Jawa Barat karena imlementasinya belum terintegrasi. Telah banyak penelitian pendidikan dilakukan baik oleh dosen maupun mahasiswa dalam rangka tugas akhir skripsi (S1), tesis (S2), dan disertasi (S3), tetapi sebagian besar hasil penelitian tersebut tidak terdiseminasikan pada praktek nyata dalam keseharian pembelajaran di sekolah. Bahkan sebagian kepala sekolah memandang guru dan siswa hanya sebagai obyek penelitian dan latihan para dosen dan mahasiswa. Pengabdian kepada masyarakat masih bersifat insidental, pembinaan terhadap guru-guru di sekolah belum menjadi program UPI secara sistematik dan berkelanjutan. Pembekalan calon guru belum memanfaatkan hasil penelitian/pengembangan pembelajaran di sekolah-sekolah di Indonesia. Oleh karena itu, untuk meningkatkan mutu Tri Dharma UPI perlu diusahakan suatu terobosan mengintegrasikan secara optimal dharma-dharma perguruan tinggi (pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat) melalui penguatan kemitraan melembaga (Gamba 1.2).

Gambar 1.2. Model Integrasi Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui Pengembangan Lesson Study

Dengan demikian, UPI akan menghasilkan calon guru (pre-service) yang berkualitas, menghasilkan ilmu-ilmu pendidikan yang dapat diterapkan pada pembelajaran keseharian di sekolah serta dalam waktu bersamaan UPI membina guru-guru (in-service) agar mampu membuat sekolah menjadi lebih menjanjikan bagi masyarakat Jawa Barat untuk meningkatkan daya saing Jawa Barat. 2. UPI telah merintis pengembangan model pembinaan guru berbasis sekolah yang sistematik dan berkelanjutan melalui implementasi Lesson Study sejak tahun 2001. Kemudian, model ini telah diujicoba efektivitasnya pada tingkat kabupaten terhadap kurang lebih 600 guru matematika dan IPA SMP/MTs melalui kemitraan melembaga antara UPI dan Pemda Kabupaten Sumedang yang menunjukkan terjadinya peningkatan kompetensi guru-guru (2006 sekarang). Selain itu, UPI memperoleh kepercayaan dari Sampoerna Foundation memanfaatkan dana CSR (Corporate Social Responsibility) dalam membina 1500 guru melalui Lesson Study di Kabupaten Karawang Provinsi Jawa Barat, Kota Surabaya Provinsi Jawa Timur, Kota Pasuruan dan Kabupaten Pasuruan Provinsi Jawa Timur. 3. Pengembangan model pembinaan guru melalui Lesson Study didasarkn atas kolaborasi yang saling menguntungkan yang diperlihatkan dalam Gambar 1.3. Berdasarkan Gambar 1.3 dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Dalam rangka peningkatan mutu pendidikan, UPI berperan untuk menghasilkan calon guru yang bermutu, mengembangkan ilmu, dan mendiseminasikannya kedalam praktek nyata di sekolah. Untuk menghasilkan calon guru yang bermutu, tentunya UPI memerlukan umpan balik dari pengalaman nyata dalam membelajarkan siswa di sekolah dan kebutuhan guru dari dinas pendidikan. UPI juga memerlukan sekolah sebagai laboratorium untuk penelitian dan pengembangan ilmu kependidikan sekaligus melakukan ujicoba penerapan hasil kajian. Dosen dan guru harus berkolaborasi mengkaji pembelajaran dalam rangka peningkatan mutu pembelajaran yang kemudian disebarluaskan melalui bantuan teknis ke sekolah dan dinas pendidikan. b. Sekolah dan MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) memerlukan bantuan teknis dari UPI untuk melakukan intervensi terhadap siswa berupa inovasi pembelajaran agar pembelajaran berpusat pada siswa dan berdampak terhadap peningkatan mutu pendidikan. MGMP juga memerlukan bantuan teknis dari UPI untuk peningkatan profesionalitas guru mandiri. c. Dinas pendidikan memerlukan bantuan teknis dari UPI untuk melakukan pembinaan profesionalisme guru yang berkelanjutan. Bantuan teknis dari UPI dapat dilakukan melalui implementasi Lesson Study berbasis MGMP/sekolah. Melalui implementasi Lesson Study, dosen dan guru berkolaborasi mengkaji/melakukan inovasi pembelajaran secara berkelanjutan berlandaskan prinsipprinsip kolegialitas dan mutual learning.

UPI
Menghasilkan guru yang baik

Peningkatan mutu pendidikan


Pembinaan guru Intervensi profesional terhadap siswa

MGMP/Sekolah (Lesson Study)

Berbagi pengalaman Peluang diseminasi

DinasPendidikan/ LPMP

Gambar 1.3. Model Sinergi Peningkatan mutu Pendidikan berkelanjutan (Saito 2004)

10

Apabila kebutuhan Dinas Pendidikan akan pembinaan guru berkelanjutan dan hasil rintisan UPI dalam pengembangan model pembinaan guru berkelanjutan dipadukan dalam suatu jejaring kemitraan yang melembaga maka kami berkeyakinan visi UPI dan visi Provinsi Jawa Barat dapat terealisasi secara perlahan yang mengakibatkan peningkatan daya saing Jawa Barat dalam pembangunan pendidikan. Tujuan dan Sasaran Program kemitraan antara Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat di Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Subang melalui dukungan program PHKI (Program Hibah Kompetisi berbasis Institusi) Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (DIKTI) bertjuan meningkatkan kompetensi guru melalui pembinaan guru berkelanjutan menerapkan Lesson Study berbasis MGMP dan Lesson Study berbasis Sekolah. Melalui program ini diharapkan dikembangkan Model Lesson Study yang cocok untuk budaya Indonesia. Sasaran dari program kemitraan untuk 4 kabupaten/kota (Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Subang) adalah kurang lebih sepuluh ribu guru yang terdiri dari sasaran utama sebanyak 7.558 guru (1.560 guru SMA/MA/SMK, 5.640 guru SMP/MTs, 100 kepala sekolah, dan 8 pengawas), ditambah sasaran imbas sebanyak 2.560 guru SD/SMP/MTs/SMA/MA/SMK. Sasaran guru SMP/MTs meliputi guru mata pelajaran Matematika, IPA, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris. Dinas Pendidikan kabupaten/kota sasaran merekrut sekolah dan guru berdasarkan komitmennya melakukan perbaikan mutu pembelajaran sebagai sasaran utama kegiatan Leson Study dan menetapkannya delam bentuk Surat Keputusan. Semua guru SMP/MTs akan memperoleh kesempatan mengikuti pembinaan berkelanjutan menerapkan Lesson Study berbasis MGMP melalui pendampingan oleh dosen UPI secara berkala, 2 kali dalam sebulan, untuk mengkaji/melakukan inovasi pembelajaran berbasis hands-on activity, mind-on activity, daily life, dan local materials agar pembelajaran menjadi atraktif, inspiratif, dan membuat siswa kreatif di 8 wilayah per kabupaten/kota sasaran secara paralel. Kegiatan Lesson Study berbasis MGMP akan dilaksanakan di suatu sekolah bergiliran di dalam suatu wilayah. Sementara guru-guru SMA akan dibina oleh dosen UPI secara berkala, 2 kali dalam sebulan, melalui Lesson Study berbasis sekolah, melibatkan semua guru dari 10 SMA/MA/MK piloting. Kegiatan Lesson Study berbasis sekolah akan dilaksanakan disetiap sekolah piloting.
11

Selain kepada guru, pembinaan berkala juga akan diberikan kepada para kepala sekolah dan kepada para pengawas sebagai supervisor untuk menjamin mutu pendidikan di wilayah binaannya serta sustainability. Untuk mengukur keberhasilan implementasi program, Satuan Penjaminan Mutu (SPM) UPI akan mengkoordinasikan Tim Monev internal untuk melakukan monitoring pengelolaan program implementasi sementara keberhasilan akademik akan dievaluasi secara berkala oleh Tim Evaluasi. Prinsip cost sharing antara Sekolah, Dinas Pendidikan, UPI, dan Dikti akan diterapkan agar setiap lembaga yang terlibat merasa memiliki program sebagai jaminan sustainability pasca kerjasama. Contoh, sekolah bertanggung jawab atas transportasi dan konsumsi guru, transport dosen melakukan penelitian dan layanan masyarakat melalui pendampingan guru di sekolah menjadi tanggungan Dikti, monitoring dan pengelolaan merupakan tanggung jawab UPI. Pengalaman berharga (best practice) yang diperoleh dari implementasi program unggulan ini akan di-share dalam suatu forum diseminasi berupa koferensi Lesson Study setiap tahun dan website. Pada akhir program kerjasama, diharapkan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dapat mengambil inisiatif untuk melanjutkan program pembinaan guru melalui implementasi Lesson Study. Output, outcomes, dan dampak 1. Output. Output yang diharapkan dari program kemitraan adalah terjadinya peningkatan kompetensi guru di kabupaten sasaran. Peningkatan kompetensi guru dapat terlihat dari beberapa aspek berikut: (a) kemampuan guru dalam mengemas materi ajar sehingga mudah dipahami siswa, (b) kemampuan guru membelajarkan siswa, guru mampu memfasilitasi siswa mengkonstruk pengetahuan melalui eksplorasi bahan ajar, berbagi ide, dan saling belajar diantara siswa, (c) kemampuan guru dalam melakukan inovasi pembelajaran melalui penelitian kolaboratif antara guru dan dosen agar terjadi peningkatan mutu pembelajaran yang terus menerus, (d) kemampuan guru dalam berkomunikasi yang efektif baik secara oral melalui forum ilmiah maupun tulisan melalui jurnal ilmiah. 2. Outcomes. Outcomes yang diharapkan dari program kemitraan adalah terjadinya peningkatan kemampuan belajar siswa di sekolah sasaran. Hal ini tercapai apabila siswa menyenangi pembelajaran, siswa senang belajar di sekolah, siswa memanfaatkan berbagai sumber belajar, dan siswa memiliki kesadaran belajar secara mandiri.

12

3. Dampak. Secara akumulasi, program pembinaan guru-guru dalam jabatan (in-service) secara sistematik dan berkelanjutan melalui implementasi Lesson Study diharapkan berdampak terhadap hasil belajar siswa (pengetahuan, keterampilan, dan sikap) di sekolah sasaran, pemerataan mutu pendidikan di kabupaten sasaran, dan peningkatan mutu perkuliahan di UPI, terjadinya sustainability pasca program kejasama disetiap lembaga yang terlibat. Kemudian, diharapkan pula Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat dapat mengambil inisiatif mendiseminasikan pengalaman berharga ke kabupaten/ kota lain. Selanjutnya, keberhasilan kabupaten/kota sasaran dalam meningkatkan mutu pendidikan akan menjadi sumber inspirasi dan atraktif bagi praktisi, pengambil kebijakan, dan pengamat pendidikan dari kabupaten/kota lain, provinsi lain, bahkan negara lain untuk berkunjung/belajar ke kabupaten/kota sasaran. Hal ini merupakan peluang bagi kabupaten/kota sasaran untuk berkembang menjadi kabupaten/kota wisata berbasis pendidikan yang akan berimplikasi terhadap peningkatan pendapatan daerah. Dengan demikian, peningkatan mutu pendidikan melalui perbaikan mutu guru akan berdampak terhadap peningkatan daya saing daerah. Selanjutnya, pada Bab-bab berikutnya akan dibahas secara rinci rencana implementasi Lesson Study, prinsip-prinsip Lesson Study dan teknis pelaksanaan Lesson Study sebagai acuan implementasi Program Kemitraan melalui Program PHKI di 4 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat, yaitu Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Subang selama 3 tahun kedepan, mulai tahun 2010.

13

BAB 2 PRINSIP-PRINSIP LESSON STUDY


Bagi yang belum mengenal, Lesson Study diartikan sebagai metode atau pendekatan pembelajaran. Padahal Lesson Study bukan metode pembelajaran, juga bukan pendekatan pembelajaran. Sebenarnya, Lesson Study adalah suatu strategi untuk meningkatkan mutu pembelajaran melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegialitas dan mutual learning. Oleh karena tugas guru adalah membelajarkan siswa maka Lesson Study di negeri asalnya, Jepang, merupakan model pembinaan (pelatihan) guru berkelanjutan secara konsisten sejak seabad lalu. Keampuhan Lesson Study dalam meningkatkan mutu pembelajaran yang berdampak terhadap mutu SDM Jepang diakui di seluruh dunia dan sekarang Lesson Study dikembangkan dimana-mana termasuk di Amerika Serikat. Kita baru beberapa tahun saja belajar dari Jepang melalui JICA experts dan beberapa dosen yang berkesempatan menyaksikan langsung kegiatan Lesson Study di Jepang. Jadi kita harus bersabar untuk merasakan hasilnya. Sebagian orang juga bertanya, apa bedanya dengan PTK (Penelitian Tindakan Kelas)? Jawabya adalah Lesson Study lebih luas dari PTK. Pada dasarnya Lesson Study adalah penelitian pembelajaran, mengkaji pembelajaran dengan memberi tindakan agar pembelajaran menjadi lebih baik. Melalui Lesson Study, guru dapat melakukan kajian pembelajaran terhadap suatu kelas dengan topik berbeda (Penelitian Tindakan Kelas) dan melakukan kajian pembelajaran pada beberapa kelas paralel untuk topik yang sama (Penelitian Tindakan). PENGERTIAN LESSON STUDY Lesson Study di Indonsia dapat diartikan sebagai model pembinaan (pelatihan) profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegialitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar. Apabila kita cermati denisi Lesson Study maka kita menemukan 7 kata kunci yaitu pembinaan profesi, pengkajian pembelajaran, kolaboratif, berkelanjutan, kolegialitas, mutual learning, dan komunitas belajar. Lesson Study bertujuan untuk melakukan pembinaan profesi pendidik secara berkelanjutan agar

14

terjadi peningkatan profesionalitas pendidik terus menerus yang tercermin dari peningkatan mutu pembelajaran. Kalau tidak dilakukan pembinaan terus menerus maka profesionalitas guru dapat menurun dengan bertambahnya waktu. Bagaimana membinanya, yaitu melalui pengkajian pembelajaran secara terus menerus dan berkolaborasi. Pengkajian pembelajaran harus dilakukan secara terus menerus karena beberapa alasan antara lain: (1) tidak ada pembelajaran yang sempurna, selalu ada celah untuk memperbaikinya, (2) setiap siswa memiliki hak belajar, (3) pembelajaran harus memperhatikan keseimbangan antara peningkatan kemampuan berpikir dan peningkatan sikap, (4) pembelajaran harus berpusat pada siswa. Membangun komunitas belajar adalah membangun budaya yang memfasilitasi anggotanya untuk saling belajar, saling koreksi, saling menghargai, saling bantu, saling menahan ego. Membangun budaya tidak sebentar, memerlukan waktu lama. Berapa lama waktu diperlukan untuk membangun budaya komunitas belajar tidak ada batasnya. Pengkajian pembelajaran dimaksudkan untuk mencari solusi terhadap permasalahan pembelajaran agar terjadi peningkatan mutu pembelajaran terus menerus. Objek kajian pembelajaran dapat meliputi, antara lain, materi ajar, metode/strategi/pendekatan pembelajaran, LKS (Lembar Kerja Siswa), media pembelajaran, seting kelas, dan asesmen. Mengapa pengkajian pembelajaran dilakukan secara berkolaborasi? Karena lebih banyak masukan perbaikan akan meningkatkan mutu pembelajaran itu sendiri. Menurut sendiri rasanya persiapan pembelajaran sudah bagus dan ketika mendapat masukan dari orang lain bisa meningkatkan mutu persiapan pembelajaran. Prinsip kolegialitas dan mutual learning (saling belajar) diterapkan dalam berkolaborasi ketika melaksanakan kegiatan Lesson Study. Dengan kata lain, peserta kegiatan Lesson Study tidak boleh merasa superior (merasa paling pintar) atau imperior (merasa rendah diri) tetapi semua peserta kegiatan Lesson Study harus diniatkan untuk saling belajar. Peserta yang sudah paham atau memiliki ilmu lebih harus mau berbagi dengan peserta yang belum paham, sebaliknya peserta yang belum paham harus mau bertanya kepada peserta yang sudah paham. Keberadaan nara sumber dalam forum Lesson Study harus bertindak sebagai fasilitator, bukan instruktur. Fasilitator harus dapat memotivasi peserta mengembangkan potensi yang dimiliki para peserta agar para peserta dapat maju bersama. Pengkajian pembelajaran dilaksanakan dalam tiga tahapan, seperti diperlihatkan dalam Gambar 2.1.

15

IMPLEMENTASI PERENCANAAN Berkolaborasi merencanakan pembelajaran berpusatpadasiswa Seorangguru mengajaryanglain mengobservasi, mengumpulkan datatentang aktivitassiswa

REFLEKSI Mendiskusikan temuantentang aktivitassiwa belajar& tindaklanjut

Gambar 2.1. Siklus Pengkajian Pembelajaran dalam Lesson Study

Kalau pelatihan konvensional bersifat top-down, artinya materi pelatihan sudah disiapkan dan diberikan oleh instruktur, sebaliknya pelatihan melalui Lesson Study bersifat bottom-up karena materi pelatihan berbasis permasalahan yang dihadapi para guru di sekolah, kemudian dikaji secara kolaboratif dan berkelanjutan. Lesson Study dilaksanakan dalam tiga tahapan yaitu tahapan pertama adalah perencanaan (secara kolaborasi mencari solusi inovatif atas permasalahan dalam pembelajaran untuk mengakti an siswa), tahapan kedua adalah implementasi (ujicoba inovatif pembelajaran pada kelas nyata, seorang guru mengajar dan guru lain mengobservasi/mencatat aktivitas siswa), dan tahapan ketiga adalah reeksi (membahas temuan tentang aktivitas siswa dan merancang tindak lanjut) yang berkelanjutan. Dengan kata lain Lesson Study merupakan suatu cara peningkatan mutu pendidikan yang tak pernah berakhir. Secara ringkas, gambaran umum dan tujuan utama Lesson Study serta hubungannya dengan empat kompetensi guru yang diharapkan UU No 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen, diperlihatkan dalam Gambar 2.2.

16

Gambar 2.2. Gambaran umum dan Tujuan utama lesson study serta hubungannya dengan kompetensi guru

PELAKSANAAN LESSON STUDY Berikut adalah paparan ringkas mengenai tahapan pelaksanaan Lesson Study. Tahap Pertama. Kegiatan Lesson Study dimulai dari tahap perencanaan yang bertujuan untuk merancang pembelajaran yang dapat membelajarkan siswa agar pembelajaran berpusat pada siswa, bagaimana supaya siswa berpartisipasi aktif dan berpikir dalam proses pembelajaran. Beberapa guru dapat berkolaborasi atau guru-guru dan dosen dapat pula berkolaborasi untuk memperkaya ide-ide dalam membuat perencanaan yang lebih baik. Berikut adalah beberapa tip untuk merencanakan pembelajaran. 1. Merumuskan tujuan jangka panjang. Sebelum memulai kegiatan Lesson Study sebaiknya direnungkan goal yang ingin dicapai dalam 3 tahun kedepan. Mengapa harus mengakaji pembelajaran? Mutu pembelajaran yang diharapkan? Mutu output (pengetahuan, keterampilan, kesadaran belajar, dan sikap) yang diharapkan?
17

2. Pemilihan topik kajian. Topik yang akan dikaji dalam satu semester dipilih berdasarkan kurikulum yang berlaku, topik yang tersedia dan sulit serta mewakili kelas, misal satu topik dari masing-masing kelas (kelas 7, 8, dan 9 untuk SMP/MTs atau kelas 10, 11, 12 untuk SMA/ MA). 3. Analisis permasalahan. Diskusikan permasalahan yang dihadapi dalam membelajarkan topik tersebut berdasarkan pengamalan sebelumnya. Permasalahan dapat berupa materi bidang studi, misal miskonsepsi yang sering terjadi. Permasalahan dapat juga berhubungan dengan (1) pedagogi, yaitu bagaimana mengembangkan metode pembelajaran yang tepat agar pembelajaran lebih efektif dan esien; dan (2) permasalahan fasilitas, yaitu bagaimana mensiasati kekurangan fasilitas pembelajaran. 4. Merumuskan solusi. Selanjutnya para guru bersama-sama mencari solusi terhadap permasalahan yang dihadapi. Kalau sering terjadi miskonsepsi, diskusikan konsep yang sebenarnya. Kalau diantara yang hadir tidak meyakinkan konsep yang sebenarnya maka manfaatkanlah fasilitas internet untuk mencari informasi berkenaan dengan konsep yang sedang dibahas. Bila kita sudah memahami konsep tersebut, kemudian kirkan bagaimana mengemasnya melalui media yang tepat sehingga siswa tertarik dan tertantang untuk terlibat dalam belajar dalam artian siswa harus difasilitasi untuk berpikir. Selanjutnya, pikirkan pula strategi atau cara menyampaikannya sehingga siswa dapat memahami konsep tersebut. Lesson Study tidak membatasi suatu metoda atau strategi dan mungkin menerapkan beberapa metoda pembelajaran, yang penting siswa terlibat dalam belajar, siswa diajak berpikir. Beberapa prinsip pembelajaran berikut dapat menjadi acuan dalam perencanaan dan implementasi pembelajaran (disarikan dari Buku Petunjuk Guru untuk Pembelajaran lebih Baik oleh JICA Experts, Program SISTTEMS). a) Dua jenis pembelajaran, jenis latihan dan eksplorasi. Jenis pertama, siswa menguasai pelajaran melalui serangkaian latihan. Sementara jenis kedua, siswa memahami suatu konsep melalui eksperimen atau proses berpikir dan akhirnya menemukan konsep. Kedua jenis pembelajaran bisa digabung dengan berbagai variasi. Variasi 1, siswa melakukan latihan kemudian eksplorasi. Variasi 2, kebalikan dari variasi 1 siswa melakukan eksplorasi kemudian latihan. Variasi 3, siswa melakukan eksplorasi kemudian latihan dan selanjutnya eksplorasi. b) Tiga kegiatan dalam pembelajaran: pertanyaan, pencarian jawaban, dan latihan. Guru melontarkan pertanyaan kepada seluruh siswa,
18

siswa memikirkan/mencari jawaban, kemudian siswa melakukan latihan untuk menguasai pengetahuan baru. Rangkaian ketiga kegiatan ini perlu diulang sesering mungkin selama pembelajaran. Umumnya, siswa menjawab serempak, bersama-sama, hal ini perlu dihindari karena kita tidak jelas siswa mana yang menguasai dan siswa mana yang hanya ikut-ikutan bersuara. Oleh karena itu perlu dipikirkan jenis pertanyaanya, dengan pertanyaan yang menantang, mengapa..., bagaimana... siswa tidak akan sepontan serempak menjawab tapi berpikir terlebh dulu. c) Ragam cara melaksanakan pembelajaran: ceramah, kegiatan individu, dan kegiatan kelompok. Dalam melaksanakan pembelajaran, berbagai kombinasi dapat terjadi. (1) Guru hanya mengajarkan isi buku dengan cara ceramah (sama sekali tidak disarankan)
Ceramah

(2) Siswa melakukan eksperimen atau mencari informasi (jenis ekplorasi yang mendorong siswa bereksplorasi mencari pengetahuan baru)
Ceramah Eksperimen atau pengumpulan informasi (kegiatan kelompok) Diskusi (Kegiatan kelompok) Ceramah

(3) Siswa dengan berbagai cara memecahkan pertanyaan (pembelajaran jenis latihan)
Ceramah Kegiatan individu/ Kegiatan kelompok Ceramah

(4) Siswa melakukan latihan


Ceramah Kegiatan Individu Penjelasan (ceramah) Kegiatan kelompok Kesimpulan (ceramah)

(5) Siswa melakukan eksplorasi pada setengah pembelajaran pertama dan latihan pada setengah pembelajaran kedua (siswa mencari rumus dan menggunakan rumus untuk menjawab soal)
Ceramah Kegiatan individu/ Kesimpulan Ceramah kegiatan kelompok (ceramah) Kegiatan Individu Kesimpulan (ceramah)

19

(6) Siswa menemukan suatu keteraturan kemudian menerapkannya (siswa mencoba menemukan sendiri suatu keteraturan dari suatu contoh soal yang tidak asing bagi mereka lalu melakukan eksplorasi lebih lanjut pada kegiatan kelompok kedua, dan akhirnya siswa melakukan latihan dalam kelompok untuk memecahkan pertanyaan serupa)
Kegiatan Kelompok Ceramah Kegiatan Kelompok Ceramah/ Kegiatan Individu Kegiatan Kelompok

d) Dari kongkrit ke abstrak, dari abstrak ke kongkrit. Selalu memulai dengan yang kongkrit kemudian melangkah ke abstrak. Jangan memulai dengan hal yang abstrak dan terus dalam kebastrakan. e) Tiga kelompok siswa. Berdasarkan kemampuannya siswa dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok. Kelompok A: siswa cerdas yang dapat dengan mudah memahami suatu pembelajaran, jumlahnya seditkit sekitar 10% di suatu kelas. Kelompok B: siswa yang kemampuannya biasa-biasa saja dan membutuhkan sedikit waktu untuk memahami pembelajaran, sekitar 60-70%. Kelompok C: siswa yang lambat, tidak mudah memahami pembelajaran, sekitar 10-20%. Jangan hanya memperhatikan siswa yang cerdas saja di kelompok A karena kelompok B dan C akan tertinggal. Kita harus mengkondisikan siswa Kelompok C berkomunikasi dengan siswa Kelompok A dan B dengan mendorong siswa Kelompok C bertanya kepada siswa di Kelompok A dan B untuk menjelaskan cara memecahkan suatu persoalan. Jangan meminta siswa Kelompok A mengajari siswa Kelompok C karena akan membuat siswa Kelompok C rendah hati. f) Mengapa kegiatan kelompok? Ada 4 alasan: (1) bagi siswa yang lambat (Kelompok C) dapat belajar lebih baik dengan bantuan siswa Kelompok A atau B karena siswa Kelompok C sungkan bertanya kepada guru ketika mendapat kesulitan tapi umumnya tidak ragu bertanya kepada temannya. Bagi siswa cerdas (Kelompok A) dapat memperdalam pemahamannya dengan memberi penjelasan atas suatu konsep kepada siswa yang lambat (Kelompok C). Siswa dapat menyelesaikan permasalahan dengan mendengarkan pemikiran dan gagasan siswa lain. Para siswa dapat membangun persahabatan yang lebih baik. g) Diskusi. Para siswa saling berkomunikasi aktif satu sama lain disebut diskusi. Akan tetapi, diskusi tidak selalu aktif secara visual dan tidak selalu melibatkan banyak siswa. Berbagai bentuk diskusi:

20

(1) Seorang siswa dengan tenang memikirkan sesuatu: Mengapa bisa seperti ini? Ini adalah bentuk diskusi. (2) Siswa yang lambat belajarnya dengan diam-diam meminta temannya menunjukkan cara memecahkan suatu perosoalan dan siswa yang duduk disebelahnyapun memberi bantuan. Ini adalah bentuk lain diskusi. (3) Kita meminta pendapat siswa dan seorang siswa mengungkapkan pendapatnya. Tanpa membenarkan atau menyalahkan jawaban yang diberikan, kita meminta siswa-siswa lain menanggapi pendapat temannya. Seorang siswa lain memberikan pendapatnya. Ini juga bentuk diskusi. h) Apakah LKS diperlukan? LKS tidak selalu diperlukan, apalagi LKS yang hanya mengisi titik-titik tidak merangsang siswa berpikir. Kita dapat menggunakan latihan soal yang ada di buku paket. Kalau mau, LKS menyertakan pertanyaan dan tugas yang membuat siswa berpikir Mengapa? atau Bagaimana? Selanjutnya berapa jumlah LKS harus diberikan kepada tiap kelompok. Pengalaman, ketika diberi satu LKS per kelompok, siswa cerdas saja yang menguasai LKS sementara siswa lain tidak bekerja. Ketika diberi satu LKS per siswa, siswa tidak berdiskusi tapi bekerja sendiri-sendiri. Oleh karena itu, bergantung pada tujuan pembelajaran. Bila kita mengharapkan siswa bekerjasama atau berkolaborasi maka cukup 1 LKS yang menantang per kelompok. Bila kita mengharapkan siswa melakukan latihan maka setiap siswa harus mendapat LKS. 5. Merancang pembelajaran. Rancangan pembelajaran atau skenario dituangkan dalam format RPP yang berlaku. Walaupun kita sudah membuat RPP, namun pelaksanaan di kelas bisa berubah bergantung situasi kelas dan kita harus melakukan adaptasi, yang lebih penting siswa memahami persoalan yang dibahas. Dari rancangan pembelajaran tersebut, dua hal yang harus selalu dalam ingatan kita yaitu tujuan pembelajaran dan prediksi reaksi siswa. Kalau tujuan pembelajaran jelas maka kita tidak akan tersesat selama pembelajaran. Dengan memikirkan antisipasi terhadap reaksi siswa, kita dapat merespon reaksi siswa dengan lebih baik.

21

Gambar 2.3. Suasana akrab tahap Perencanaan kegiatan Lesson Study

6. Siapa menjadi guru model dan di sekolah mana? Selanjutnya rencanakan open lesson untuk mengimplementasikan rancangan pembelajaran. Open lesson dilaksanakan di sekolah tempat guru model mengajar pada kelasnya sehingga tidak masalah beradaptasi. Diharapkan semua guru mendapat giliran menjadi guru model. Bagi guru model jangan khawatir. Perlu diingat, pembelajaran pada saat open lesson bukan pertunjukan mengajar yang harus nampak sempurna. Dengan open lesson justru kita akan melakukan perbaikan pembelajaran. Observer di dalam kelas bukan untuk mengevaluasi guru mengajar tapi untuk memperoleh inspirasi yang dapat diterapkan pada kelas kita melalui pengumpulan data tentang aktivitas siswa belajar (siswa mana yang belajar dan mengapa dia belajar?, siswa mana yang tidak belajar dan mengapa?) Guru model mempersiapkan denah tempat duduk siswa untuk menjadi acuan bagi observer. Gambaran kegiatan perencanaan pembelajaran (tahap Perencanaan) diperlihatkan dalam gambar 2.3. Tahapan kedua dalam Lesson Study adalah pelaksanaan (Implementasi) pembelajaran untuk mengujicoba rancangan pembelajaran yang telah dirumuskan dalam tahap perencanaan pada kelas nyata (tidak memilih siswa-siswa pandai dari beberapa kelas paralel supaya pembelajaran nampak bagus). Sebelumnya, dalam perencanaan telah disepakati siapa guru model yang akan mengimplementasikan pembelajaran dan sekolah yang akan menjadi tuan rumah. Tahapan ini bertujuan untuk mengujicoba efektivitas model pembelajaran yang telah dirancang dan ditindaklanjuti
22

dengan melakukan perbaikan pembelajaran di kelas masing-masing. Guruguru lain dari sekolah yang bersangkutan atau dari sekolah lain, kepala sekolah, pengawas bertindak sebagai pengamat (observer) pembelajaran. Begitu pun dosen-dosen, mahasiswa, atau komite sekolah dapat melakukan pengamatan dalam pembelajaran tersebut. Kepala sekolah (minimal kepala sekolah tuan rumah) terlibat dalam pengamatan pembelajaran dan akan lebih baik apabila kepala sekolah memandu kegiatan ini. Sebelum pembelajaran dimulai sebaiknya dilakukan brieeng kepada para pengamat dengan agenda berikut: 1. Guru model menginformasikan rencana pembelajaran secara singkat, topik? Kelas? Tujuan/target pembelajaran? Rencana skenario pembelajaran? 2. Mengingatkan sikap observer selama pembelajaran berlangsung, pengamat tidak mengganggu kegiatan pembelajaran, tidak ngobrol sesama pengamat, tidak keluar masuk kelas, mengkondisikan HP tidak berbunyi, tidak menghalangi pandangan siswa. Pengamat berdiri (kecuali yang sakit) di sebelah kiri, sebelah kanan, dan di belakang dalam ruangan kelas. 3. Observer mengamati dan mencatat (pada buku khusus observasi Lesson Study) aktivitas siswa selama pembelajaran. Fokus pengamatan ditujukan pada tiga hal berikut: (1) apakah siswa belajar dan bagaimana prosesnya?, (2) adakah siswa yang tidak belajar dan mengapa tidak belajar?, (3) bagaimana usaha guru memotivasi siswa yang tidak belajar? 4. Denah tempat duduk siswa perlu dimiliki oleh para pengamat sebelum pembelajaran dimulai agar dapat mengamati siapa yang belajar dan siapa yang tidak belajar. Para pengamat dipersilahkan mengambil tempat di ruang kelas yang memungkinkan dapat mengamati aktivitas siswa. Biasanya para pengamat berdiri di sisi kiri dan kanan di dalam ruang kelas agar aktivitas siswa teramati dengan baik. Ketika siswa sedang diskusi kelompok pengamat dapat mendekati siswa untuk mendengar pembicaraan dalam diskusi dan segera kepinggir ketika guru menginterupsi untuk memberi penjelasan sehingga pendangan siswa tidak terhalangi. 5. Selama pembelajaran berlangsung para pengamat dapat melakukan perekaman kegiatan pembelajaran melalui video camera atau photo digital untuk keperluan dokumentasi dan bahan studi lebih lanjut dengan catatan cameramen atau lampu camera tidak menganggu atau mengahalangi aktivitas siswa.

23

6. Keberadaan para pengamat di dalam ruang kelas disamping mengumpulkan informasi juga dimaksudkan untuk belajar dan memperoleh inspirasi dari pembelajaran yang sedang berlangsung dan bukan untuk mengevaluasi guru. Gambar 2.4 memperlihatkan suasana pembelajaran dalam rangka Lesson Study (open lesson).

Gambar 2.4. Suasana open lesson. Guru model memberikan bantuan kepada siswa sementara observer mengamati dan mencatat aktivitas siswa

Peran guru model dalam open lesson adalah memfasilitasi siswa agar terlibat dalam belajar. Siswa diajak berpikir dan bertukar pendapat dengan temannya. Beberapa tip untuk guru model (disarikan dari Buku Petunjuk Guru untuk Pembelajaran lebih Baik oleh JICA Experts, Program SISTTEMS): 1. Membuat setiap siswa memahami materi pembelajaran. Dalam pembelajaran, guru harus selalu mengingat hal-hal berikut: (a) Apa yang saya harapkan untuk dipahami siswa? (b) Apakah semua siswa dapat memahami materi? Jika tidak, mengapa dan bagian mana yang sulit dipahami siswa? (c) Apa yang harus saya lakukan untuk membantu siswa yang mendapat kesulitan? (d) Apakah para siswa saling mendengarkan satu sama lain? Guru harus dapat membuat keputusan cepat tentang apa yang harus dilakukan berikutnya berdasarkan kondisi dan reaksi siswa.

24

2. Tetap menarik perhatian siswa. Tetaplah menarik perhatian siswa dengan cara: (a) membuat pengantar pembelajaran yang atraktif, (b) menggunakan material, topik, atau kegiatan yang kongkrit, (c) melakukan penyesuaian waktu, dan (d) meminta siswa yang mulai kehilangan konsentrasi memperhatikan kembali pembelajaran. 3. Jangan bicara terlalu banyak. Apabila guru terus-menerus berbicara selama satu jam, siswa tentu akan merasa bosan. Guru mengurangi porsi bicaranya seminimal mungkin. Sebaliknya, seorang guru harus mampu mendengar bisikan-bisikan para siswa sekalipun. Hmm, saya tidak mengerti... Oh, saya bisa! Ini susah.... Mengapa begini? Saya coba deh, tapi ...., Oh, jadi saya bisa pakai rumus yang kemaren!. Guru harus Bermulut kecil, bertelinga besar. 4. Berikan penjelasan yang diperlukan. Jangan bicara terlalu banyak beberapa guru menyalah artikan, akibatnya guru tidak memberikan penjelasan kepada siswa. Ini salah. Guru harus memberikan penjelasan yang memadai tentang: (a) langkah-langkah yang harus dilakukan dalam suatu eksperimen atau kegiatan kelompok, (b) mengapa suatu jawaban itu salah? 5. Gunakan papan tulis dengan baik. Manfaatkan papan tulis dengan optimal: (a) menuliskan dengan huruf besar dan jelas, (b) pikirkan baik-baik apa yang akan ditulis/digambar pada papan tulis dan dimana harus menulis/menggambarnya, (c) berikan kepada siswa waktu yang cukup untuk menyalin di papan tulis. 6. Bagaimana mengatur meja siswa. Tiga jenis seting meja dan kursi: (a) seting konvensional, (b) seting huruf U, dan (c) seting kelompok.

25

Masing-masing seting memiliki kelebihan dan kekurangan:


Kelebihan Siswa dapat dengan mudah melihat tulisan pada papan tulis Siswa mudah berganti posisi ke seting kelopok dengan memutar kursi siswa yang duduk di barisan depan Seting huruf U Guru dapat memantau secara mudah aktivitas siswa beserta ekspresi wajah siswa walau siswa yang duduk di baris belakang Siswa mudah berganti posisi ke seting kelompok dengan memutar kursi siswa yang duduk di barisan depan Seting Siswa dengan mudah dapat kelompok berdiskusi dengan siswa lain Jenis seting Seting Konvensional Kekurangan Guru agak sulit memantau siswa yang duduk di belakang

Siswa yang duduk di barisan samping agak sulit melihat tulisan pada papan tulis

Beberapa siswa kesulitan melihat tulisan pada papan tulis Guru kesulitan memantau aktivitas semua siswa

Jika siswa dapat dengan mudah memindahkan meja maka guru dapat mengubah seting meja beberap kali selama pembelajaran berdasarkan topik atau isi pembelajaran. Bila seting huruf U dipandang lebih efektif maka pada pembelajaran biasanyapun (sehari-hari) dapat menggunakan seting huruf U untuk semua mata pelajaran. Untuk keperluan open lesson, perlu disediakan tempat untuk berdiri observer pada sisi kiri, kanan, dan belakang di dalam kelas. 7. Mendeteksi siswa yang mengalami kesulitan. Di setiap kelas selalu ada siswa yang lambat memahami pembelajaran. Salah satu tugas guru adalah mendeteksi siswa yang mengalami kesulitan. Hal ini dapat dilihat melalui ekspresi wajah dan tubuh serta pergerakan mata siswa. Contoh kejadian yang sering ditemukan, antara lain: Siswa hanya menyalin catatan siswa lain Siswa mencoba menyembunyikan catatan mereka dari guru Siswa hanya menonton siswa lain yang sedang beraktivitas di kelompoknya
26

Siswa aktif berpartisipasi dalam kegiatan kelompok tetapi tidak dapat menyimpulkan hasil kegiatan atau tidak mengisi LKS Siswa mendengarkan guru dengan pikiran kosong Siswa semacam ini membutuhkan perhatian guru. Kelas yang ideal adalah kelas dimana siswanya secara lugas dapat berkata Saya tidak mengerti, mohon dijelaskan. 8. Bagaimana membantu siswa yang mengalami kesulitan. Ketika siswa mengalami kesulitan, jangan mencoba mengajar siswa tersebut secara individu tetapi mintalah siswa lain membantunya. Inilah pentingnya kerja kelompok. Langkah yang bisa diambil adalah: (a) Minta siswa melakukan kegiatan kelompok. (b) Mendekati siswa yang mengalami kesulitan dan bertanya, Bagian mana yang tidak dipahami? Guru harus mendengarkan dengan cermat dan mengetahui secara tepat bagian yang tidak dipahami. (c) Katakan kepada siswa tersebut, Bertanyalah kepada teman kamu di kelompokmu atau di kelompok lain. Guru menyaksikan komunikasi yang terjadi. 9. Bagaimana memperhatikan siswa yang pandai. Guru tidak perlu memberi perhatian khusus kepada siswa pandai karena mereka bisa memahami pembelajaran tanpa banyak bantuan guru, yang penting menjaga motivasi siswa-siswa pandai. Berikan tugas yang menantang dan biarkan berpikir. Biarkan mereka membantu siswa yang lambat dalam kelompoknya. 10. Kapan memulai dan menghentikan kegiatan kelompok. Salah satu alasan mengapa kegiatan kelompok tidak berjalan efektif karena guru sering kali tidak tahu kapan memulai atau menghentikan kegiatan kelompok pada waktu yang tepat. Kegiatan kelopok dapat dimulai ketika: (a) siswa diberi tugas untuk dikerjakan dan (b) siswa diharapkan dapat berpikir, berbicara, dan belajar bersama-sama. Menurut pengalaman, jumlah siswa per kelompok biasanya antara 3 4 orang (kalau mungkin 2 putra dan 2 putri) dengan duduk selang-seling. Kegiatan kelompok harus dihentikan pada saat: (a) hampir semua kelompok telah menyelesaikan tugas atau pekerjaan mereka, tidak perlu menunggu semua kelompok selesai dan (b) banyak kelompok yang mendapat kesulitan dan guru harus memberi penjelasan. Selalu ada kelompok siswa pandai selesai lebih dulu maka guru harus memberi tugas tambahan dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi untuk mencegah siswa pandai mengalami kebosanan. Guru harus mempersiapkan tugas tambahan ini saat merancang pembelajaran. 11. Bagaimana merancang presentasi siswa. Umumnya ketika kegiatan kelompok selesai, guru cenderung meminta semua kelompok

27

mempresentasikan hasil pekerjaan mereka tanpa mempertimbangkan waktu dan perhatian siswa lain. Dari pengalaman, banyak presentasi siswa berjalan tidak efektif dan hanya membuang-buang waktu. Petunjuk dasar tentang presentasi: (a) Jika jenis pembelajaran berbentuk latihan maka presentasi siswa tidaklah diperlukan, cukup dengan membacakan jawaban dan membetulkan kesalahan siswa. (b) Jika jenis pembelajaran berbentuk eksplorasi maka presentasi siswa harus dilakukan. Untuk menghargai pekerjaan mereka, semua kelompok mengumpulkan hasil pekerjaan mereka. Guru harus memeriksa terlebih dulu beragam jawaban dan hanya meminta beberapa kelompok mempresentasikan hasil pekerjaan mereka, hasil yang salah dan yang benar. Ketika seorang mempresentasikan hasil, siswa lain harus memperhatikan dan setelah presentasi oleh satu kelompok dilanjutkan dengan diskusi, siswa lain harus memberi tanggapan dan kondisikan agar terjadi diskusi diantara siswa. Presentasi dapat dilakukan di tengah-tengah pelaksanaan kegiatan kelompok. 12. Berterima kasih kepada siswa yang melakukan kesalahan. Guru harus menghargai dan berterima kasih kepada siswa yang melakukan kesalahan. Kesalahan siswa menunjukkan bahwa pembelajaran masih harus ditingkatkan. Belajarlah dari kesalahan mereka untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Ketika siswa melakukan kesalahan, banyak guru berpikir bahwa siswa kurang cerdas, siswa tidak belajar sebelumnya, siswa tidak siap belajar. Siswa membuat kesalahan karena guru tidak membelajarkan siswa dengan baik dan tidak dapat membuat siswa memahami suatu konsep. Media, LKS, eksperimen, atau kegiatan kelompok tidak memberikan kontribusi terhadap pembelajaran siswa. Memarahi siswa yang membuat kesalahan sangatlah tidak baik karena siswa akan kehilangan kemauan untuk belajar, siswa akan sering diam di kelas, dan guru tidak bertanggung jawab dengan melemparkan kesalahan kepada para siswa. Ketika siswa membuat kesalahan, guru harus dapat mengetahui alasan kesalahan tersebut dan membetulkannya. Jangan pernah membiarkan suatu kesalahan tanpa terkoreksi. 13. Minta siswa mencatat. Terkadang siswa perlu mempelajari kembali apa yang didapat di kelas untuk dapat memahami dengan baik. Mencatat merupakan bagian penting dari pembelajaran. Mintalah siswa mencatat. 14. Menggunakan waktu dengan esien. Di SMP di Indonesia, umumnya satu pembelajaran memakan waktu 80 menit (40 menit x 2 jam pelajaran). Pola pembelajaran yang umum dilakukan guru adalah 20 menit pendahuluan, 40 menit kegiatan kelompok, dan 20 menit
28

presentasi. Jika guru mengikuti pola ini secara kaku tanpa diiringi variasi metoda pembelajaran maka guru hanya akan membuang-buang waktu selama pembelajaran. Bagaimana menghindari hal ini? Pendahuluan Pendahuluan tidak perlu memakan waktu 20 menit. Pendahuluan sebaiknya menarik, singkat dan tidak bertele-tele. Setelah berhasil menarik perhatian siswa, guru harus melangkah ke bagian pembelajaran selanjutnya tanpa membuang terlalu banyak waktu. Kegiatan kelompok Kegiatan kelompok tidak boleh dilakukan terburu-buru. Seandainya LKS terdiri dari dua tugas, guru tidak boleh meminta siswa mengerjakan keduanya sekaligus tapi mengerjakan satu per satu. Ketika tugas pertama selesai, guru sebaiknya meminta siswa mengubah posisi duduk ke posisi ceramah. Setelah mendiskusikan hasil dan memberian penjelasan, guru meminta siswa kembali ke posisi kelompok, dan mulai tugas kedua. Ketika menemukan siswa mengalami kesulitan dengan tugasnya, guru harus melakukan intervensi dan meminta siswa menghentikan pekerjaan dan kembali ke formasi ceramah untuk klarikasi tugas yang diberikan. Jangan pernah menugaskan siswa mengerjakan sesuatu ketika mereka masih bingung karena hanya akan membuang waktu percuma. Jika siswa bekerja lebih cepat dari yang diduga, guru harus menghentikn kegiatan, jangan membiarkan waktu terbuang percuma. Presentasi Sangatlah membuang waktu jika guru meminta semua kelompok melakukan presentasi, dan semua melakukan presentasi yang sama. Untuk menghindari masalah ini, guru bisa saja menugaskan hanya satu kelompok untuk melakukan presentasi, lalu minta semua mendiskusikan apa yang telah dipresentasikan. Cara lain adalah meminta tiap kelompok menuliskan atau menggambarkan hasil kegiatan mereka pada kertas dan menempelkannya di papan tulis. Guru cukup meminta beberapa perwakilan kelompok yang hasil pekerjaannya menarik untuk didiskusikan. Komentar JICA expert: banyak guru Indonesia mengeluh kekurangan waktu untuk memenuhi tuntutan kurikulum. Akan tetapi yang sebenarnya terjadi adalah mereka tidak dapat menggunakan waktu pembelajaran secara efektif dan esien.
29

Tahapan ketiga dalam kegiatan Lesson Study adalah reeksi. Setelah selesai pembelajaran langsung dilakukan diskusi antara guru dan pengamat yang dipandu oleh kepala sekolah atau fasilitator MGMP untuk membahas pembelajaran. Seting tempat duduk dikondisikan sedekimian rupa sehingga semua peserta reeksi dapat saling berintraksi dengan mudah, misal seting tempat duduk yang melingkar seperti pada gambar 2.5. Guru model mengawali diskusi dengan menyampaikan kesan-kesan dalam melaksanakan pembelajaran, sejauh mana harapannya tercapai. Selanjutnya pengamat diminta menyampaikan komentar berdasarkan fakta (mendahulukan fakta dar pada opini) yang diperoleh dari pengamatan untuk menjawab pertanyaan (1) apakah siswa belajar dan bagaimana prosesnya?, (2) adakah siswa yang tidak belajar dan mengapa tidak belajar?, (3) bagaimana usaha guru memotivasi siswa yang tidak belajar? Pemandu mengangkat isu yang perlu didiskusikan dan meminta pendapat pengamat lain untuk menanggapinya. Pemandu tidak perlu menyimpulkan pendapat-pendapat para pengamat, biarkan saja sebagai alternatif solusi untuk perbaikan pembelajaran. Tentunya, kritik dan saran untuk guru disampaikan secara bijak demi perbaikan pembelajaran. Sebaliknya, guru harus dapat menerima masukan dari pengamat untuk perbaikan pembelajaran berikutnya. Berdasarkan masukan dari diskusi ini dapat dirancang kembali pembelajaran berikutnya dan pengamat menerapkan perbaikan pembelajaran di kelas masingmasing, kemudian hasil implementasi di masing-masing kelas di-share dengan teman pada pertemuan berikutnya. Misal, Pa Dadang melakukan open lesson pada kelas 7A, setelah mendapat masukkan, Pa Dadang menerapkan hasil reeksi tersebut pada kelas 7B. Observer yang mengajar pada kelas 7 menerapkan juga masukan eeksi pada kelas masing-masing. Kemudian hasil penerapan pada kelas biasa dibahas pada pertemuan berikutnya. Semua kelas paralel harus memperoleh inovasi pembelajaran. Dengan demikian semua siswa di sekolah sasaran di wilayah MGMP memperoleh dampak dari inovasi pembelajaran. Suasana diskusi pasca pembelajaran (tahap reeksi) diperlihatkan dalam gambar 2.5. Pelatihan melalui Lesson Study harus dilakukan secara berkelanjutan agar berdampak terhadap mutu pembelajaran. Untuk menjamin keberlanjutan pelatihan guru melalui model Lesson Study maka diperlukan keterlibatan kepala sekolah, pengawas, dinas pendidikan, dan komite sekolah. Pelatihan guru melalui Lesson Study dilaksanakan secara kolaboratif dan mutual learning. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh practical knowledge maupun the wisdom of practice yang muncul selama kegiatan Lesson
30

Study. Keberadaan nara sumber bukan untuk menceramahi peserta tetapi lebih sebagai fasilitator untuk memfasiltasi agar terjadi sharing pendapat dan pengalaman diantara peserta sehingga komunitas belajar terbangun sebagai forum pengembangan diri.

Gambar 2.5. Suasana diskusi pasca pembelajaran (tahap SEE)

Dosen pendamping harus memberikan komentar terhadap kegiatan open lesson sebelum kegiatan reeksi diakhiri. Komentar dosen pendamping meliputi aspek materi ajar, pembelajaran, dan Lesson Study. Bagian mana yang sudah bagus untuk dipertahankan dan bagian mana yang perlu perbaikan serta solusi alternatifnya. Kepala sekolah dan pengawas melakukan pemantauan terhadap hasil kegiatan Lesson Study, apakah terjadi perubahan pada pembelajaran biasa sebagai bahan workshop evaluasi pada akhr semester. Kepala sekolah dapat mengundang komite sekolah menyaksikan open lesson.

31

BAB 3 IMPLEMENTASI LESSON STUDY DI KOTA BANDUNG, KABUPATEN BANDUNG, KABUPATEN BANDUNG BARAT, DAN KABUPATEN SUBANG

Implementasi Lesson Study di empat kabupaten/kota sasaran melalui Program Penguatan Kemitraan Kelembagaan antara Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dengan Pemerintah Kabupaten/Kota dalam rangka Pembinaan Guru dalam Jabatan untuk meningkatkan daya saing daerah dalam bidang pendidikan dan pembangunan nasional akan diuraikan secara rinci. Melalui program kemitraan ini diharapkan dapat menghasilkan model pembinaan guru berkelanjutan melalui implementasi Lesson Study pada level provinsi sehingga menjadi masukan kepada pemerintah pusat untuk diseminasi ke provinsi lain. Secara ringkas aktivitas implementasi Lesson Study di empat kabupaten/kota sasaran diperlihatkan dalam Gambar 3.1. Program pengembangan akan diawali dengan kegiatan sosialisasi kepada stakeholder di kabupaten/kota sasaran yang bertujuan untuk memperkenalkan program kerjasama agar tumbuh rasa memiliki (ownership) dan memberi prioritas terhadap pembinaan guru berkelanjutan dan berbasis sekolah sehingga semua guru di kabupaten/kota sasaran memperoleh kesempatan untuk memutahirkan secara terus menerus pengetahuan dan keterampilan dalan membelajarkan siswa. Dengan demikian secara kolektif usaha perbaikan mutu pembelajaran secara terus menerus pada level kelas diharapkan berdampak terhadap peningkatan daya saing daerah. Stakeholder dimaksud meliputi Muspida kabupaten/kota, Bapeda, DPRD, Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, Dewan Pendidikan, BKD (Badan Kepegawaian Daerah), K3S, PGRI, dan MGMP. Baseline survey akan dilakukan sebelum implementasi program pengembangan untuk mengetahui kondisi awal. Data akan dikumpulkan oleh Tim Evaluasi melalui angket dan wawancara kepada pejabat dinas pendidikan, pengawas, kepala sekolah, guru, dan siswa. Selain itu, observasi pembelajaran melalui perekaman video akan dilakukan terhadap beberapa
32

perwakilah guru sasaran. Tim Evaluasi juga akan melakukan monitoring proses implementasi program kerjasama untuk memperoleh umpan balik dalam rangka perbaikan implementasi program selanjutnya.
Sosialisasi Program Lesson Study

Baselin survey

Pelatihan Kepala Sekolah (tiap semester)

Pelatihan Fasilitator MGMP (tiap 3 bulan)

Lesson Study berbasis MGMP (tiap 2 minggu)

Lesson Study berbasis Sekolah (tiap 2 minggu)

Workshop Evaluasi (tiap semester)

Forum MGMP (tiap semester)

Konferensi Lesson Study (tiap tahun)

Endline survey

Gambar 3.1. Alur Program Pengembangan

Pelatihan kepala sekolah dan pengawas tentang Lesson Study akan dilaksanakan 2 kali dalam setahun untuk memberikan pemahaman tentang esensi pembinaan guru berkelanjutan melalui Lesson Study agar kepala sekolah dan pengawas dapat mendukung dan menjamin penerapan hasil kegiatan Lesson Study dalam pembelajaran keseharian di sekolah sasaran (Lihat Silabus pada Lampiran). Pelatihan fasilitator LSMGMP/LSBS akan dilaksanakan 4 kali dalam setahun untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan para fasilitator dalam membelajarkan siswa dan mengelola kegiatan LSMGMP/LSBS. Fasilitator dipilih dari guru yang memenuhi kriteria untuk menjadi leader dalam
33

kegiatan LSMGMP/LSBS. Fasilitator harus berdedikasi, berkomitmen, dan memiliki leadership untuk memajukan pendidikan. Fasilitator memiliki latar belakang pendidikan minimal S1 pendidikan bidang studi yang sesuai dengan tugas mengajarnya atau tidak mismatch antara latar belakang pendidikan dan tugas mengajar. Fasilitator juga melek ICT. Lesson Study berbasis MGMP (LSMGMP) dan berbasis Sekolah (LSBS) merupakan kegiatan utama dalam program pengembangan untuk guru SMP/MTS. Kegiatan LSMGMP bertujuan untuk mengembangkan model kegiatan MGMP menerapkan Lesson Study. Kegiatan LSMGMP dilaksanakan 2 kali dalam sebulan melalui pendampingan oleh dosen UPI di tiap wilayah keja MGMP. Para guru dan dosen berkolaborasi mengkaji pembelajaran (research lesson) agar pembelajaran lebih berpusat pada siswa melalui hands-on and mind-on activity, daily life, dan local materias. Mengawali kegiatan LSMGMP akan diadakan sosialisasi program kerjasama untuk menyamakan pemahaman awal tentang prinsip-prinsip Lesson Study. Siklus kanjian pembelajaran melalui implementasi Lesson Study diperlihatkan pada Gambar 3.2.
IMPLEMENTASI PERENCANAAN Berkolaborasi merencanakan pembelajaran berpusatpadasiswa Seorangguru mengajaryanglain mengobservasi, mengumpulkan datatentang aktivitassiswa

REFLEKSI Mendiskusikan temuantentang aktivitassiwa belajar& tindaklanjut

Gambar 3.2. Sikus kanjian pembelajaran melalui implementasi Lesson Study

Pada tahap perencanaan, para guru dan dosen secara kolaboratif memilih topik yang akan dikaji dalam satu semester, melakukan analisis permasalahan pembelajaran, dan mencari solusi terhadap permasalahan tersebut yang dituangkan dalam rencana pembelajaran (RPP). Pada tahap implementasi atau disebut juga open lesson, seorang guru mengimplementasikan rencana pembelajaran di kelas nyata sementara guru lain dan dosen bertindak sebagai observer di dalam kelas untuk mengumpulkan data tentang aktivitas siswa. Tahap reeksi dilaksanakan langsung setelah pembelajaran selesai, melaksanakan diskusi untuk membahas temuan tentang aktivitas
34

siswa, siswa mana yang belajar dan bagaimana belajarnya, siswa mana yang tidak belajar dan mengapa tidak belajar. Merencanakan tindaklanjut untuk diterapkan pada kelas masing-masing. Hasil temuan dari kelas masingmasing dibahas pada pertemuan berikutnya. Pendampingan oleh dosen UPI secara sistematik dan berkala merupakan proses pembiasaan bagi guru agar tumbuh budaya inovatif dalam pembelajaran sehingga tumbuh kesadaran untuk melakukan self improvement pasca program kerjasama. Sekolahsekolah dalam satu wilayah bergiliran menjadi tuan rumah melaksanakan kegiatan Lesson Study. Open Lesson Study dilaksanakan di sekolah tempat guru model betugas. Lesson Study berbasis Sekolah (LSBS) merupakan kegiatan utama untuk guru SMA/MA/SMK dalam program pengembangan ini. Kegiatan LSBS bertujuan untuk melakukan reformasi sekolah. Oleh karena itu seluruh guru dari sekolah piloting terlibat dalam kegiatan LSBS. Seperti pada kegiatan LSMGMP, kegiatan LSBS dilaksanakan 2 kali dalam sebulan melalui pendampingan oleh dosen UPI di tiap sekolah piloting LSBS. Para guru dan dosen berkolaborasi mengkaji pembelajaran agar pembelajaran lebih berpusat pada siswa melalui hands-on and mind-on activity, daily life, dan local materias. Mengawali kegiatan LSBS akan diadakan sosialisasi program kerjasama untuk menyamakan pemahaman awal tentang prinsip-prinsip Lesson Study. Pada tahap perencanan, para guru dan dosen secara kolaboratif memilih topik yang akan dikaji dalam satu semester, melakukan analisis permasalahan pembelajaran, dan mencari solusi terhadap permasalahan tersebut yang dituangkan dalam rencana pembelajaran (RPP). Pada tahap implementasi atau disebut juga open lesson, seorang guru mengimplementasikan rencana pembelajaran di kelas nyata sementara guru lain dan dosen bertindak sebagai observer di dalam kelas untuk mengumpulkan data tentang aktivitas siswa. Tahap reeksi dilaksanakan langsung setelah pembelajaran selesai, melaksanakan diskusi untuk mereeksikan efektivitas pembelajaran dan merencanakan kembali perbaikan pembelajaran untuk diterapkan pada kelas masingmasing pada pembelajaran biasa. Pendampingan oleh dosen UPI secara sistematik dan berkala merupakan proses pembiasaan bagi guru agar tumbuh budaya inovatif dalam pembelajaran sehingga tumbuh kesadaran untuk melakukan self improvement pasca program kerjasama. Pada setiap open lesson kepala sekolah sangat diharapkan berinisiatif mengundang guru-guru SMA/MA/SMK dari sekolah lain yang berdekatan yang belum melaksanakan LSBS untuk mengimbaskan best practice LSBS. Workshop evaluasi merupakan suatu forum untuk membahas permasalahan dalam implementasi program dan mencari solusinya guna
35

memberi umpan balik sehingga implementasi program selanjutnya berjalan lebih baik. Perwakilan kepala sekolah, pengawas, fasilitator, dan tim Evaluasi akan mempresentasikan perkembangan implementasi Lesson Study. Workshop evaluasi akan dilaksanakan setiap semester (lihat silabus pada Lampiran). Forum MGMP merupakan suatu forum untuk mendiseminasikan pengalaman berharga (best practice) implementasi Lesson Study kepada guru lain yang belum terlibat di kabupaten/kota sasaran. Forum MGMP dilaksanakan setiap semester. Rincian kegiatan dapat dilihat pada Silabus terlampir). Konferensi Lesson Study dimaksudkan untuk mengadakan tukar menukar pengalaman dan saling benchmarking tentang mutu implementasi Lesson Study dan hasil kajian pembelajaran baik hasil pengalaman dari kabupaten/kota sasaran maupun dari kabupaten/kota lain di Indonesia bahkan internasional. Kegiatan konferensi dilaksanakan setiap tahun. Endline survey akan dilaksanakan pada akhir kegiatan menggunakan instrumen serupa dan hasilnya akan dibandingkan dengan baseline survey sehingga diketahui peningkatan hasil kegiatan program pengembangan. Aktivitas program pengembangan akan diuraikan sebagai berikut. Aktivitas-1. Penanaman Pemahaman Model Pengembangan Profesi Guru berkelanjutan melalui implementasi Lesson Study Latar belakang Selama ini belum ada sistem pembinaan guru yang sistematik dan berkelanjutan bagi semua guru untuk memutahirkan pengetahuan dan ketrampilan dalam membelajarkan siswa di kabupaten/kota sasaran. Pembinaan guru dilakukan melalui pelatihan konvensional, dengan blok waktu, perwakilan guru dari kabupaten, diundang ke Bandung untuk dilatih dalam bidang tertentu, misal matematika atau metode mengajar, secara parsial di suatu lembaga pelatihan atau di suatu hotel dalam kurun waktu tetentu. Pembinaan guru melalui pelatihan konvensional ini sudah berlangsung sejak lama, sayangnya mutu pendidikan masih rendah. Hal ini disebabkan (1) materi yang dilatihkan bersifat top down belum tentu sesuai dengan kebutuhan masing-masing guru di daerah dengan kondisi sekolah yang berbeda, (2) hasil pelatihan tidak tersosialisasikan kepada guru lain yang jumlahnya ribuan di suatu kabupaten karena tidak ada kesempatan untuk sosialisasi kepada guru-guru lain, (3) sebagian besar guru di kabupaten tidak pernah memperoleh penyegaran pengetahuan
36

atau keterampilan, (4) tidak meratanya pemahaman para pengambil kebijakan tentang pembinaan guru. Rasional Pendekatan Lesson Study diyakini akan memberikan alternatif solusi terhadap permasalahan pembinaan guru. Lesson Study merupakan suatu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran berbasis sekolah secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandasan prinsipprinsip kolegialitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar. Dengan kata lain Lesson Study merupakan model pelatihan guru dalam jabatan yang bersifat bottom up karena materi pelatihan bergantung pada permasalahan yang dihadapi para guru dan nara sumber lebih berperan sebagai fasilitator untuk memberdayakan potensi para guru mengembangkan pembelajaran yang berpusat pada siswa berbasis hands-on activity, mind-on activity, daily life, dan local materials. Para guru belajar dari pembelajaran. Model pelatihan guru melalui Lesson Study memungkinkan semua guru di kabupaten sasaran berpartisipasi dalam program ini karena kegiatan pelatihan dilaksanakan secara paralel di wilayah-wilayah binaan yang merupakan kelompok beberapa sekolah (10 15 sekolah) yang berdekatan sehingga transpotasi tidak menjadi kendala. Kegiatan Lesson Study akan dilaksanakan secara berkala agar terbangun budaya kerja yang inovatif, pada hari MGMP yang ditetapkan oleh dinas pendidikan kabupaten sasaran agar tidak mengganggu tugas guru mengajar, di sekolah sasaran secara bergiliran. Dengan demikian diperlukan pemahaman yang sama dari stakeholder untuk mensinergikan kebutuhan guru dan kebijakan pembinaan guru di daerah. Tujuan Secara umum kegiatan ini bertujuan untuk membangun persepsi stakeholder tentang pembinaan guru berkelanjutan melalui implementasi Lesson Study yang dapat dirinci sebagai berikut: a. Meningkatkan pemahaman pengambil kebijakan di daerah tentang paradigma pembinaan guru berkelanjutan melalui implementasi Lesson Study. b. Meningkatkan pemahaman para kepala sekolah dan pengawas tentang peran sekolah sebagai sumber belajar bagi guru, belajar dari pembelajaran, dan menjamin hasil kegiatan lesson study diterapkan pada pembelajaran sehari-hari. c. Meningkatkan pemahaman para fasilitator tentang loso dan praktek Lesson Study untuk mengembangkan potensi guru membelajarkan siswa.
37

Mekanisme dan Rancangan a. Membangun persepsi stakeholder tentang pembinaan guru berkelanjutan melalui implementasi Lesson Study Sosilisasi program pengembangan kepada stakeholder mengawali kegiatan program kerjasama dengan Pemerintah Daerah. Stakeholder di daerah meliputi Komisi Pendidikan DPRD, BAPEDA, BKD, Dewan Pendidikan, dan Dinas pendidikan. Melalui sosialisasi ini diharapkan diperoleh dukungan implementasi program sehingga ada jaminan sustainability pasca implementasi program. Sosialisasi akan dilakukan oleh pakar pendidikan dari UPI yang akan memaparkan pendekatan Lesson Study dalam melakukan perubahan paradigma pelatihan guru dalam jabatan dari top down menjadi bottom up, dari insidental menjadi berkelanjutan dengan memanfaatkan pembelajaran sebagai sumber belajar. Selain itu akan diperkenalkan pula program kerjasama antara UPI dengan Pemerintah Daerah. b. Peningkatan pemahaman Kepala Sekolah dan Pengawas tentang implementasi Lesson Study Kepala sekolah dan pengawas merupakan kunci penting dalam pembinaan guru di sekolah. Oleh karena itu kepala sekolah dan pengawas harus memfasilitasi guru belajar dari pembelajaran melalui implementasi Lesson Study. Aktivitas ini akan dilaksanakan setiap semester untuk membangun komitmen kepala sekolah dan pengawas dalam mendukung dan menjamin penerapan hasil pelatihan berbasis Lesson Study ke dalam pembelajaran keseharian. Sub-aktivtas ini akan dilaksanakan dalam bentuk workshop sehari. Pengetahuan atau keterampilan yang akan dilatihkan dalam 3 tahun meliputi: (1) Prinsip-prinsip Lesson Study, (2) Peran kepala sekolah dan pengawas dalam implementasi Lesson Study, (3) Teknik observasi pembelajaran, (4) Teknik reeksi pasca pembelajaran, (5) Teknik memandu diskusi, (6) Collaborative learning, (7) Strategy penjaminan mutu Lesson Study, (8) Strategy penjaminan keberlanjutan. Melalui pelatihan yang berkala diharapkan kepala sekolah dan pengawas merasakan manfaat implementasi Lesson Study dalam meningkatkan mutu pembelajaran. c. Peningkatan pemahaman Fasilitator tentang implementasi Lesson Study Sub-aktivitas ini akan dilaksanakan dalam bentuk workshop pembekalan bagi dosen dan pelatihan fasilitator MGMP. (1) Workshop pembekalan bagi dosen. Dosen berperan sebagai pendamping untuk memfasilitasi guru dalam mengkaji pem38

belajaran inovatif sehingga pembelajaran berpusat pada siswa. Aktivitas ini dimaksudkan untuk menyamakan persepsi dosen pendamping tentang strategi pendampingan guru melalui prinsip kolegialitas. Dosen akan direkrut dari FPMIPA, FPBS, FPIPS, dan FPEB berdasarkan komitmen untuk melaksanakan penelitian kolaboratif, pengabdian kepada masyarakat melalui pendampingan guru dan melakukan perbaikan mutu perkuliahan. Pembekalan bagi dosen akan dilaksanakan melalui sharing pengalaman antara dosen FPMIPA yang sudah berpengalaman dengan dosen FPBS, FPIPS, dan FPEB serta observasi/reeksi pembelajaran. (2) Pelatihan Fasilitator MGMP. Fasilitator MGMP adalah guru pilihan dari 8 wilayah kerja MGMP di suatu kabupaten sasaran sebagai penggerak kegiatan Lesson Study berbasis MGMP. Kriteria pemilihan fasilitator MGMP antara lain, sarjana pendidikan bidang study, tidak mismatch antara tugas mengajar dengan latar belakang pendidikan, dapat bekerjasama, memiliki keterampilan ICT, dan aktif dalam kegiatan MGMP. Kegiatan pelatihan fasilitator MGMP akan dilaksanakan 4 kali per tahun di sekolah sasaran secara bergiliran. Materi pelatihan dalam 3 tahun antara lain sebagai berikut: (1) Prinsip-prinsip Lesson Study, (2) Teknik penyusunan rencana pembelajaran dan lembar kerja siswa yang berpusat pada siswa, (3) Peran fasilitator MGMP dalam implementasi Lesson Study, (4) Teknik observasi dan reeksi pembelajaran, (5) Teknik memandu diskusi pasca pembelajaran, (6) Pengelolaan kelas yang efektif, (7) Collaboratif learning, (8) Strategi penjaminan mutu Lesson Study, (9) Strategy penjaminan keberlanjutan (sustainability) Lesson Study. d. Peningkatan Kepedulian Mutu Implementasi Lesson Study Mutu implementasi Lesson Study merupakan kunci sustainability, manakala implementasi Lesson Study tidak bermutu maka implementasi Lesson Study akan dirasakan membosankan dan tidak akan berdampak pada peningkatan mutu pendidikan yang akhirnya tidak ada jaminan sustainability. Sebaliknya, bila implementasi Lesson Study bermutu maka Program Lesson Study akan berdampak terhadap peningkatan mutu pendidikan di Jawa Barat dan ada jaminan sustainability. Semua komponen, baik pelaku, pendukung, maupun stakeholder perlu peduli dengan mutu implementasi Lesson Study agar usaha perbaikan mutu pendidikan di Jawa Barat dapat terwujud. Untuk meningkatkan kepedulian terhadap mutu implementasi Lesson Study, diperlukan pertemuan-pertemuan berkala diantara para pelaku, pendukung, dan stakeholder dengan strategi sebagai berikut:
39

(1) Joint Coordinating Commitee (JCC) Meeting akan dilaksanakan 1 kali per tahun untuk membahas rencana implementasi dan hasil kegiatan. Peserta JCC meeting terdiri dari (1) Rektor UPI sebagai ketua, (2) Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat sebagai wakil ketua, (3) Setda Provinsi Jawa Barat, (4) Kepala BAPPEDA Provinsi Jawa Barat, (5) Kepala LPMP Jawa Barat, (6) Kepala P4TK IPA, (7) Kepala BPG Jawa Barat, (8) Kepala Kanwil Depag Jawa Barat, (9) Kepala Diklat Depag Jawa Barat, (10) Pembantu Rektor UPI bidang Akademik dan Kemahasiswaan, (11) Pembantu Rektor UPI Bidang Keuangan dan Sumber Daya, (12) Pembantu Rektor UPI Bidang TIK dan Kerjasama, (13) Pembantu Rektor UPI Bidang Perencanaan dan Pengembangan, (14) Ketua SPM UPI, (15) Ketua SAI, (16) Ketua Dewan Pendidikan Provinsi Jawa Barat, (17) Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung, (18) Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung, (18) Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat, (19) Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Subang. (2) Management Meeting akan dilaksanakan 2 kali per tahun untuk membahas sistem pengelolaan kegiatan dan rencana serta hasil kegiatan tiap semester. Peserta management meeting terdiri dari (1) Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung, (2) Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung, (3) Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat, (4) Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Subang, (5) Dekan FPMIPA, (6) Dekan FPBS, (7) Dekan FPIPS, (8) Dekan FPEB, (9) Direktur Direktorat Perencanaan dan Pengembangan, (8) Direktur Direktorat Keuangan, (9) Direktur Direktorat Akademik, (9) Kepala Biro Aset dan Fasilitas, (10) PIC Lesson Study, (11) PIC Pelatihan, dan (12) PIC Learning Resource Center/Publikasi. Rapat dipimpin oleh Ketua Pelaksana Kegiatan. (3) Task Team Meeting akan dilaksanakan 4 kali per tahun untuk membahas kemajuan implementasi kegiatan program pengembangan pembinaan guru berkelanjutan melalui implementasi Lesson Study. Peserta Task Team meeting terdiri dari (1) Direktur Direktorat Perencanaan dan Pengembangan, (2) PIC Lesson Study, (3) PIC Pelatihan, dan (4) PIC Learning Resource Center/Publikasi, (5) Task Team LS Matematika, (6) Task Team LS IPA, (7) Task Team LS Bahasa, (8) Task Team LS IPS, (9) Task Team Evaluasi Program. (4) Rapat koordinasi antara pengelola UPI dengan pengelola Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota akan dilaksanakan minimal 2 bulan sekali atau ketika diperlukan untuk berkoordinasi. Materi koordinasi antara lain berkenaan dengan hal teknis implementasi program pengembangan.
40

Jadwal Pelaksanaan
Rencana Aktivitas 3 tahun Membangun persepsi stakeholder tentang pembinaan guru berkelanjutan melalui implementasi Lesson Study Peningkatan pemahaman Kepala Sekolah dan Pengawas tentang implementasi Lesson Study Peningkatan pemahaman Fasilitator tentang implementasi Lesson Study Peningkatan Kepedulian Mutu Implementasi Lesson Study Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 X

a.

b.

c.

d.

Indikator Keberhasilan Aktivitas Indikator Kinerja Utama


Indikator 1) Persentasi pejabat PEMDA yang berpartisipasi 2) Keterlaksanaan kegiatan workshop kepala sekolah dan pengawas 3) Persentase partisipasi kepala sekolah dan pengawas dalam workshop Lesson study 4) Persentasi partisipasi kepala sekolah tuan rumah dan pengawas dalam open lesson 5) Persentasi jumlah guru yang difasilitasi kepala sekolah mengikuti kegiatan Lesson Study berbasis MGMP 6) Persentasi partisipasi fasilitator MGMP dalam pelatihan fasilitator Awal Akhir Tahun 1 80% 2 kali 80% Akhir Akhir Tahun 2 Tahun 3

2 kali 85%

2 kali 85%

90%

90%

90%

10%

20%

30%

80%

80%

80%

41

Indikator Kinerja Tambahan


Tambahan 1) Persentasi kesediaan kepala sekolah mengikuti program Lasson Study 2) Dukungan anggaran pendamping dari dinas pendidikan Awal Akhir Akhir Akhir Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3 85% 90% 95% 50% 60% 70%

Keberlanjutan Bentuk jaminan keberlanjutan aktivitas ini terletak pada sumber pembiayaan yang berasal dari Dinas Pendidikan kabupaten dan sekolah sasaran kecuali transpor dosen UPI serta pengakuan dari stakeholder sehingga stakeholder memberi dukungan melanjutkan kegiatan pembinaan guru berkelanjutan melalui implementasi Lesson Study. Beberapa strategi berikut akan dilakukan oleh Dinas Pendidikan kabupaten sasaran: (1) Dinas Pendidikan kabupaten sasaran melaporkan kemajuan kegiatan pembinaan guru berkelanjutan melalui implementasi Lesson Study kepada stakeholder DPRD, BAPEDA, BKD, Dewan Pendidikan minimal setahun sekali, (2) kemajuan kegiatan pembinaan guru berkelanjutan melalui implementasi Lesson Study menjadi salah satu agenda pertemuan rutin MKS (Musyawarah Kepala Sekolah). Penanggungjawab Aktivitas Drs. Harun Imansyah, M.Ed. Aktivitas-2. Pengembangan Profesionalitas Guru melalui Implementasi Lesson Study Latar belakang Dalam paradigma lama, mengajar berarti guru mentransfer pengetahuan kepada siswa, sehingga siswa menghapal fakta-fakta yang mengakibatkan siswa tidak termotivasi untuk belajar. Dalam paradigma baru, siswa belajar, guru memfasilitasi agar siswa mampu belajar sehingga terjadi perubahan tingkah laku pada siswa, siswa menjadi memahami suatu fenomena. Untuk mengubah paradigma lama (mengajar, teaching) ke paradigma baru (belajar, learning) ternyata tidak mudah terjadi dengan sendiriya. Salah satunya disebabkan tidak ada pembinaan guru yang sistematik dan berkelanjutan, tidak ada penyegaran guru secara berkala untuk memutahirkan pengetahuan materi subyek dan keterampilan membelajarkan siswa. Pelatihan guru yang ada bersifat insidental
42

dan dinikmati oleh sebagian kecil guru kemudian hasil pelatihan tidak berdampak terhadap pembelajaran keseharian karena materi pelatihan tidak memecahkan permasalahan di sekolah. Sebagian kepala sekolah juga tidak memfasilitasi sharing hasil pelatihan kepada guru lain ketika yang bersangkutan kembali ke sekolah. Kegiatan MGMP yang pada awalnya dirancang untuk meningkatkan profesionalitas guru tidak berjalan optimal, kalaupun ada, kegiatannya lebih bersifat administratif, menyusun RPP dan soal Ulangan Umum, tidak diterapkan di dalam kelas, tidak berdampak pada peningkatan mutu pembelajaan. Sebagian besar guru tidak merasakan manfaat mengikuti kegiatan MGMP sehingga kegiatan hanya diikuti oleh beberapa guru saja dengan frekuensi yang rendah. Program pengabdian kepada masyarakat oleh LPTK juga tidak sistematik dan tidak berkelanjutan. Begitu juga penelitian pendidikan yang dilakukan oleh dosen dan mahasiswa tidak berdampak terhadap peningkatan mutu pendidikan karena guru dan siswa hanya bertindak sebagai obyek penelitian. Sasaran aktivitas ini adalah semua guru di kabupaten sasaran secara bertahap. Sasaran utama adalah para guru SMP/MTs untuk mata pelajaran Matematika, IPA, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris di kabupaten sasaran serta guru dan SMA/MA/SMK untuk semua mata pelajaran. Sementara sasaran imbasnya adalah guru SD/MI. Dosen pendamping yang akan dilibatkan adalah dosen-dosen dari Program Studi Pendidikan Matematika, IPA, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan IPS. Rasional Sebagai solusi terhadap permasalahan yang dipaparkan pada bagian latar belakang di atas, diusulkan pendekatan Lesson Study karena Lesson Study merupakan suatu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandasan prinsipprinsip kolegialitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar. Dosen memberikan pendampingan secara berkala terhadap guru dalam melakukan inovasi pembelajaran sebagai bentuk layanan masyarakat dari UPI yang melembaga. Guru dan dosen berkolaborasi melakukan penelitian pembelajaran melalui siklus Perencanaan-implementasireeksi untuk mencari solusi terhadap masalah pembelajaran di sekolah sebagai bentuk dharma penelitian. Guru perannya sejajar sebagai peneliti sehingga hasil penelitian berbasis kelas akan langsung diterapkan pada kegiatan pembelajaran dalam keseharian untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Hibah penelitian kolaboratif inovasi pembelajaran tersedia
43

secara kompetitif bagi dosen pendamping yang melibatkan mahasiswa tugas akhir dan atau mahasiswa PPL di sekolah sasaran. Kemudian dosen membawa pengalaman nyata pembelajaran di sekolah sebagai bahan perkuliahan di kampus. Para guru SMP/MTs dan SMA/MA/SMK dari 4 kabupaten/kota akan terlibat dalam kegiatan Lesson Study. Jumlah SMP/MTs jauh lebih banyak daripada jumlah SMA/MA/SMK di suatu kabupaten. Contoh, di Kabupaten Bandung terdapat 68 SMP/MTs negeri dan 30 SMA/MA/SMK negeri. Mengingat banyaknya SMP/MTs di suatu kabupaten maka model Lesson Study berbasis MGMP (LSMGMP) akan diterapkan untuk membina para guru SMP/MTs melalui pendampingan oleh dosen UPI secara berkala 2 kali dalam sebulan di 8 wilayah kerja MGMP secara paralel pada hari MGMP supaya tidak mengganggu tugas guru mengajar. Setiap wilayah MGMP beranggotakan antara 10 hingga 15 SMP/MTs. Kegiatan LSMGMP akan dilaksanakan di salah satu SMP/MTs di wilayah kerja MGMP secara bergiliran, diikuti oleh 30 40 guru mata pelajaran yang didampingi oleh 1 2 dosen. Kasus SMA/MA/SMK, jumlahnya sedikit namun berjauhan jarak satu sekolah ke sekolah lain sehingga untuk pendampingan guru-guru SMA/ MA/SMK akan menerapkan model Lesson Study berbasis Sekolah (LSBS), melibatkan semua guru dari sekolah sasaran dan kegiatan pendampingan pun dilaksanakan di sekolah tersebut. Kepala sekolah dan pengawas harus melakukan observasi baik pada open lesson dan pembelajaran sebagai bahan workshop evaluasi pada akhir semester. Tujuan Secara umum kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru yang dapat dirinci sebagai berikut: a. Meningkatkan kemampuan guru dalam membelajarkan siswa sehingga pembelajaran berpusat pada siswa berbasis hands-on activity, mindon activity, daily life, dan local materials. b. Meningkatkan kemampuan guru dalam melakukan penelitian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan agar terjadi peningkatan mutu pembelajaran yang terus menerus (continoues quality improvement in learning). c. Meningkatkan kemampuan guru dalam berkomunikasi melalui ICT (Information and Communication Technology) atau forum ilmiah sebagai media peningkatan diri (self improvement).

44

Mekanisme dan Rancangan a. Pemberdayaan Guru SMP/MTs melalui implementasi Lesson Study berbasis MGMP Para guru SMP/MTs dari kabupaten/kota sasaran dapat mendaftar menjadi peserta dengan menyerahkan biodata. Para guru mengkaji pembelajaran secara berkelanjutan di tiap wilayah kerja MGMP, paling sedikit 5 pertemuan per semester dengan frekuensi pertemuan 2 kali per bulan. Fasilitator MGMP bertanggung jawab terhadap pelaksanaan kegiatan di tiap wilayah. Agenda kegiatan pada setiap pertemuan adalah sebagai berikut: (1) Pertemuan ke-1 (Perencanaan): (1) Saling mengenal satu sama lain, pengenalan program dan prinsip lesson study pada pertemuan pertama pada semester pertama. Melakukan pemilihan topik kajian dalam satu semester berdasarkan kurikulum yang berlaku. Topik kajian dapat dipilih dari kelas 7, 8, dan 9 masing-masing satu topik dan analisis permasalahan dalam pembelajaran untuk topik pilihan (materi ajar, metode/strategi pembelajaran, LKS, media pembelajaran), (2) diskusi pendalaman materi ajar, dan (3) pengembangan teaching kit (lesson plan, LKS, dan teaching materials serta asesmen), (4) mendiskusikan skenario pembelajaran dan seting kelas, (3) menyusun denah kelas, dan (5) mempersiapkan lembar observasi. Menyepakati siapa yang mengajar dan sekolah untuk pertemuan berikutnya dalam satu semester. Persiapan dilanjutkan di rumah dan komunikasi/konsultasi dapat dilakukan melalui e-mail. atau cara komunkasi lain. (2) Pertemuan ke-2 s.d. ke-5 (Implementasi & Reeksi): (1) fasilitator memandu brieng sebelum pembelajaran untuk memberi kesempatan kepada guru menyampaikan rencana open lesson (tujuan, target aktivitas siswa yang diharapkan, skenario), mengingatkan para observer tentang tata tertib dalam melakukan observasi (tidak melakukan intervensi terhadap guru dan siswa serta tidak ngobrol selama mengobservasi kelas, mengamati dan mencatat aktivitas siswa), (2) open lesson (pembelajaran oleh seorang guru model sementara guru lain sebagai observer), focus observasi pembelajaran adalah aktivitas siswa: apakah siswa belajar dan bagaimana prosesnya? Adakah siswa yang tidak belajar dan apa penyebabnya? Bagaimana usaha guru memotivasi siswa yang tidak belajar?, dan (3) diskusi pasca pembelajaran dan rencana tindak lanjut untuk diterapkan di kelas masing-masing. Fasilitator sebagai pemandu pertama memberi kesempatan kepada guru model tentang kesan dalam open lesson (apa yang tercapai apa
45

yang belum tercapai). Kemudian pemandu mengundang observer untuk menyampaikan temuannya kerkenaan dengan aktivitas siswa. Pemandu mengangkat isu-isu untuk didiskusikan. Pemandu harus dapat memberi kesempatan kepada semua observer untuk berbagi temuan. Diskusikan rencana tindaklanjut perbaikan pembelajaran yang harus dilakukan oleh para observer di kelas masing-masing dan membawa temuannya untuk berbagi pengalaman pada pertemuan berikutnya. Pertemuan ke-2 s.d. ke-5 dilaksanakan di sekolah tempat guru model berdomisili. Hasil penelitian dapat dipresentasikan pada konferensi Lesson Study. Setiap tahap kegiatan, terutama open lesson dapat direkam melalui video sebagai bahan pembelajaran lebih lanjut. Dosen pendamping melaporkan setiap kegiatan ke sekretariat. Para dosen dan guru berkolaborasi menulis artikel berdasarkan hasil kajian pembelajaran untuk diseminarkan atau dipublikasikan melalui jurnal. (3) Langkah-langkah pertemuan ke-1 s.d. ke-5 dilakukan pada semester berikutnya dengan topik berbeda dan guru berbeda di sekolah yang berbeda pula. b. Pemberdayaan Guru SMA/MA/SMK melalui implementasi Lesson Study berbasis Sekolah Para guru SMA/MA/SMK, melalui pendampingan oleh dosen UPI, berkolaborasi mengkaji pembelajaran secara berkelanjutan di suatu sekolah. Kepala sekolah bertanggung jawab terhadap pelaksanaan kegiatan LSBS di sekolah masing-masing. Agenda kegiatan pada setiap pertemuan adalah sebagai berikut: (1) Perencanaan: pada pertemuan pertama akan diperkenalkan program kerjasama dan prinsip-prinsip lesson study. Menyusun rencana kegiatan implementasi lesson study berbasis sekolah untuk satu semester, jadwal open lesson, daftar guru yang akan open lesson, akan lebih baik apabila setiap guru memperoleh kesempatan menjadi guru model minimal setahun sekali. Para guru mata pelajaran di suatu sekolah, misal guru-guru matematika berkolaborasi melalui koordinasi Kepala Sekolah (1) melakukan pemilihan topik kajian dan analisis permasalahan dalam pembelajaran (materi ajar, metode/strategi pembelajaran, LKS, media pembelajaran), (2) diskusi pendalaman materi ajar, dan (3) pengembangan teaching kit (lesson plan, LKS, dan teaching materials), (4) mendiskusikan skenario pembelajaran dan seting kelas, (3) menyusun denah kelas, dan (5) mempersiapkan lembar observasi.
46

(2) Implementasi & Reeksi: semua guru di sekolah sasaran LSBS berpartisipasi dalam kegiatan open lesson (1) fasilitator memandu brieng sebelum open lesson untuk memberi kesempatan kepada guru model menginformasikan rencana pembelajaran yang direncanakan, mengingatkan para observer tentang aturan-aturan dalam melakukan observasi (tidak mengintervensi guru atau siswa, tidak ngobrol, mengamati dan mencatat aktivitas siswa) (2) open lesson (pembelajaran oleh seorang guru model sementara guru lain sebagai observer), focus observasi pembelajaran adalah aktivitas siswa: apakah siswa belajar dan bagaimana prosesnya? Adakah siswa yang tidak belajar dan apa penyebabnya? Bagaimana usaha guru memotivasi siswa yang tidak belajar?, dan (3) diskusi pasca pembelajaran dan rencana tindak lanjut dipimpin oleh kepala sekolah untuk diterapkan di kelas masing-masing. Pemandu memberi kesempatan pertama kepada guru model untuk menyampaikan kesannya, observer menyampaikan hasil temuan untuk didiskusikan. Semua observer menyampaikan hasil temuan yang didahului oleh fakta aktivitas siswa. Selanjutnya merencanakan tindaklanjut perbaikan pembelajaran oleh observer pada kelas masing-masing dan berbagai (share) masing-masing temuan pada pertemuan berikutnya. (4) Dosen UPI memberikan pendampingan 2 kali per bulan. Implementasi perbaikan rencana pembelajaran dengan topik sama dilakukan pada pembelajaran keseharian dan dapat dihadiri oleh guru-guru lain sebagai bentuk penelitian tindakan (action research) untuk menghasilkan suatu model pembelajaran yang lebih baik. Hasil penelitian dapat dipresentasikan pada konferensi Lesson Study. Setiap tahap kegiatan, terutama open lesson dapat direkam melalui video sebagai bahan pembelajaran lebih lanjut. Kepala sekolah merancang jadwal open lesson bagi guru-guru secara bergiliran sehingga setiap guru memperoleh kesempatan menjadi guru model minimal 1 kali dalam setahun. Dosen pendamping melaporkan setiap kegiatan ke sekretariat. Para dosen dan guru berkolaborasi menulis artikel berdasarkan hasil kajian pembelajaran untuk diseminarkan atau dipublikasikan melalui jurnal. c. Pelacakan Hasil Implementasi Lesson Study Pelacakan hasil implementasi Lesson Study dimaksudkan untuk mengetahui kemajuan hasil dalam rangka memberi umpan balik terdahap perbaikan implementasi Lesson Study. Kegiatan ini akan dilaksanakan dalam bentuk baseline survey, monitoring dan
47

evalusi, serta endline survey oleh Tim Evaluasi Program berdasarkan model evaluasi program CIPP (Context, Input, Process, Product) dari Stuebeam. Dengan demikian kegiatan evaluasi program akan mencakup evaluasi konteks dan evaluasi input pada tahap perencanaan program, evaluasi proses (monitoring) pada tahap implementasi program, evaluasi produk yang mencakup evaluasi keluaran pada tahap akhir pelaksanaan program, serta evaluasi dampak pada tahap pacsa pelaksanaan program. Evaluasi konteks merupakan need assessment kebutuhan pengembangan pembinaan guru berkelanjutan melalui implementasi Lesson Study pada target program. Sasaran evaluasi mencakup permasalahan yang dihadapi para pendidik, kelemahan yang ada pada aspek pembelajaran, media dan alat pembelajaran, aktivitas laboratorium, bahan ajar, asesmen pelajaran, dan sebagainya. Evaluasi input berfokus pada pengumpulan informasi input yang penting seperti prol peserta didik (antara lain kapasitas belajar, tingkat motivasi dan prestasi belajar), prol pendidik (antara lain latar belakang pendidikan dan pengalaman mengajar, mismatch, sikap terhadap suatu inovasi, budaya kerja), serta fasilitas belajar yang tersedia. Evaluasi proses (dapat disebut monitoring) berkenaan dengan kajian seberapa jauh pelaksanaan operasional kegiatan Lesson Study berjalan secara efektif ke arah pengembangan profesional pendidik yang diharapkan. Evaluasi proses bersifat sebagai evaluasi formatif, sehingga temuan-temuan dari evaluasi proses perlu segera disampaikan sebagai umpan balik kepada pihak-pihak terkait, khususnya manajemen program untuk ditindaklanjuti. Evaluasi produk meliputi dua aspek, yakni evaluasi keluaran (output) dan evaluasi dampak (impact). Evaluasi keluaran terarah pada hasil langsung (direct) program, baik perubahan-perubahan pada kinerja mengajar pendidik maupun kinerja belajar peserta didik yang teramati pada akhir implementasi program. Kerangka acuan program evaluasi Lesson Study dapat diilustrasikan dalam Gambar 3.3. Pada gambar itu diperlihatkan bahwa pelaksanaan evaluasi konteks dan evaluasi input dilakukan secara terpadu dalam kegiatan yang dinamakan baseline survey.

48

Melalui baseline survey akan dijaring informasi kondisi nyata sebelum implementasi program Lesson Study melalui angket dan wawancara kepada pimpinan Dinas Pendidikan, Kepala Sekolah, guru, dan siswa. Tes akademik akan dilakukan untuk menjaring kemampuan belajar siswa. Observasi dan perekaman pembelajaran oleh perwakilan guru juga akan dilakukan untuk melengkapi data baseline survey. Monitoring melalui observasi langsung selama berlangsungnya kegiatan Lesson Study akan dilakukan di beberapa wilayah. Hasil monitoring akan dibahas pada kegiatan Workshop Evaluasi yang akan diselenggarakan 2 kali dalam setahun sebagai umpan balik untuk perbaikan pelaksanaan kegiatan program Lesson Study pada semester berikutnya. Pada akhir implementasi program akan dilakukan endline survey menggunakan instrumen angket, wawancara, tes akademik, dan observasi yang serupa digunakan untuk baseline survey. Selain itu observasi perkuliahan oleh dosen pendamping akan dilakukan untuk mengetahui dampak program pengembangan terhadap mutu perkuliahan.

KOMPONEN

FUNGSI

PROSEDUR

Konteks

Asesmen Kebutuhan Baseline survey

Input MONOTORING EVALUATION Proses

Kondisi Lokasi

Formatif

Monitoring

Output (sumatif)

End-line survey

Produk Dampak (sustainability) Studi Dampak

Gambar 3.3. Kerangka Kerja Evaluasi Program Lesson Study

49

Jadwal Pelaksanaan
Rencana Aktivitas 3 tahun Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 X X X X X X X X X X

1. Pemberdayaan Guru SMP/ MTs melalui implementasi Lesson Study berbasis MGMP 2. Pemberdayaan Guru SMA/MA/SMK melalui implementasi Lesson Study berbasis Sekolah 3. Pelacakan hasil implementasi X Lesson Study

Indikator Keberhasilan Aktivitas Indikator Kinerja Utama


Indikator Utama 1) Jumlah guru yang berani membuka kelas untuk diobservasi 2) Persentasi kehadiran guru pada kegiatan Lesson Study 3) Jumlah perangkat pembelajaran yang diujicoba 4) Jumlah judul hasil penelitian tindakan yang dipublikasikan Tambahan 1) Derajat kepuasan siswa dalam belajar 2) Kemampuan belajar siswa 3) Indek kinerja dosen pendamping dalam perkuliahan Awal Akhir Akhir Akhir Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3 144 80% 144 20 384 80% 384 40 384 80% 384 40

30% 2,00

2,5 50% 2,50

3 60% 2,75

3,5 70% 3,00

Keberlanjutan Aktivitas ini akan berlanjut manakala aktivitas ini dirasakan manfaatnya oleh guru, kepala sekolah dan dinas pendidikan sehingga mereka memiliki program ini (ownership). Usaha yang akan dilakukan untuk menjamin sustainability adalah membangun ownsership dan mempersiapkan leadership, antara lain sebagai berikut: (1) sejak awal akan dipahamkan bahwa ini bukan proyek tapi program, perogram peningkatan mutu
50

pendidikan, milik kita, (2) setiap sekolah bertanggung jawab atas pembiayaan guru, (3) beberapa guru pilihan dari tiap wilayah kerja MGMP akan dilatih sebagai fasilitator MGMP sebagai motor penggerak dalam peningkatan mutu secara terus menerus, (4) kepala sekolah dan pengawas akan dilatih sebagai fasilitator dan supervisor yang berfungsi sebagai pembina dan tim monev pasca program kerjasama. Penanggungjawab Aktivitas Dr. Asep Supriatna, M.Si. Aktivitas-3. Pengembangan Model Diseminasi Best Practice Hasil Implementasi Lesson Study Latar belakang Jumlah guru di suatu kabupaten cukup banyak, contoh di Kabupaten Bandung terdapat 28482 guru (data Disdik Kabupaten Bandung, 2008) dengan mutu guru yang tidak merata, di daerah perkotaan mugkin relatif lebih bermutu dari pada di daerah terpencil. Hal ini disebabkan tidak meratanya kesempatan pelatihan bagi guru-guru, di daerah perkotaan guru-guru lebih mudah dan sering memperoleh pelatihan dibandingkan dengan guru-guru di daerah terpencil. Memang tidak mungkin dalam waktu bersamaan memberikan pelatihan kepada semua guru di suatu kabupaten karena keterbatasan tenaga dan dana. Program pengembangan pembinaan guru berkelanjutan melalui implementasi Lesson Study ini akan dilakukan secara bertahap. Sasaran utama dari program implementasi Lesson Study adalah guru matematika, IPA, IPS, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris SMP/MTs/SMA/MA/SMK sedangkan guru-guru SD/MI merupakan sasaran imbas di kabupaten sasaran. Oleh karena itu perlu dikembangkan suatu strategi/metode yang efektif dan esien untuk mengimbaskan pengalaman berharga implementasi Lesson Study kepada semua guru terutama di kabupaten sasaran bahkan ke kabupaten lain agar semua guru memiliki akses terhadap pembinaan berkelanjutan. Rasional Strategi yang diusulkan sebagai solusi terhadap perluasan akses pembinaan guru berkelanjutan adalah melalui Forum MGMP. Forum ini dirancang sebagai forum diseminasi untuk mengimbaskan pengalaman hasil implementasi Lesson Study kepada para kepala sekolah, pengawas dan guru sasaran imbas yang akan dilaksanakan 2 kali dalam setahun,
51

dengan harapan para guru sasaran imbas menerapkan program Lesson Study sebagai bentuk pembinaan guru berkelanjutan. Dengan demikian jumlah guru yang memperoleh pembinaan berkelanjutan akan bertambah setiap semester. Namun demikian mutu implementasi Lesson Study perlu dijamin melalui benchmarking implementasi Lesson Study ke kabupaten lain, provinsi lain, bahkan ke negara lain melalui konferensi Lesson Study yang akan dilaksanakan setiap tahun. Untuk menarik perhatian dan meyakinkan sasaran diseminasi maka program diseminasi ini perlu didukung oleh sistem dokumentasi dan publikasi melalui perekaman video dan publikasi kegiatan implementasi Lesson Study melalui media cetak dan elektronik. FPMIPA UPI memiliki pengalaman menyelenggarakan International Conference on Lesson Study tahun 2008 dan 2009. Tujuan Secara umum kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan model diseminasi hasil implementasi Lesson Study yang dapat dirinci sebagai berikut: a. Mengembangan sistem pengimbasan pengalaman berharga (best practice) Lesson Study secara berkala kepada sasaran imbas. b. Mengembangkan sistem benchmarking untuk menjamin mutu implementasi Lesson Study melalui konferensi tahunan Lesson Study. c. Mengembangkan Learning Resource Center dan publikasi melalui perekaman video dan publikasi cetak/elektronik hasil kegiatan Lesson Study. Mekanisme dan Rancangan a. Pengembangan Sistem Pengimbasan best practice Lesson Study melalui Forum MGMP Kegiatan Lesson Study dilaksanakan di 8 wilayah MGMP di setiap kabupaten sasaran. Setiap akhir semester tiap wilayah MGMP tersebut menyelenggarakan Forum MGMP untuk mendiseminasikan pengalaman berharga implementasi Lesson Study melalui mekanisme sebagai berikut. (1) Setiap wilayah MGMP berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan kabupaten sasaran mengundang 1 gugus KKG (kelompok Kerja Guru) SD sebagai sasaran imbas yang terdiri dari 40 orang, meliputi kepala SD, pengawas SD, dan guru SD yang berdekatan dengan sekolah center (sekolah yang menjadi pusat kegiatan MGMP menerapkan Lesson Study) untuk mengikuti Forum MGMP. Setiap

52

(2)

(3)

(4) (5)

(6)

sekolah (SMA) piloting LSBS juga melakukan pengimbasan ke SMA/ MA sekitarnya yang belum melaksanakan LSBS atas inisiatif kepala sekolah. Kegiatan Forum MGMP meliputi pengenalan prinsip-prinsip Lesson Study oleh kepala sekolah tuan rumah atau fasilitator, praktek Lesson Study berupa open lesson dan reeksi pasca pembelajaran. Pada sesi praktek Lesson Study, peserta mengobservasi pembelajaran oleh guru model (salah seorang fasilitator MGMP di sekolah center) untuk mengumpulkan data tentang aktivitas siswa (Apakah siswa belajar dan bagaimana prosesnya? Adakah siswa yang tidak belajar dan mengapa? Bagaimana usaha guru memotivasi siswa yang tidak belajar?). Setelah mengobservasi pembelajaran dilanjutkan dengan diskusi diantara guru model dan peserta untuk mereeksikan pembelajaran. Kemudian peserta diminta merancang action plan untuk dilaksanakan pasca mengikuti Forum MGMP. Peserta Forum MGMP melaksanakan kegiatan pembinaan guru berkelanjutan melalui implementasi Lesson Study di KKG masingmasing. KKG tersebut selanjutnya mengimbaskan ke KKG lain yang berdekatan sehingga semua guru di kabupaten sasaran memperoleh kesempatan mengikuti pembinaan berkelanjutan. Nara sumber pada kegiatan Forum MGMP adalah kepala sekolah tuan rumah fasilitator MGMP, dan dosen UPI. Pada semester kedua kegiatan Forum MGMP yang serupa dilaksanakan dengan peserta yang sama pada semester pertama untuk mengetahui kemajuan implementasi Lesson Study dan sebagai pemantapan bagi KKG tersebut. Pada semester ketiga kegiatan Forum MGMP yang serupa dilaksanakan dengan peserta yang berbeda dengan peserta pada semester pertama dan kedua yaitu KKG lain untuk memperluas sasaran imbas.

b. Pengembangan Sistem Benchmarking melalui Konferensi Lesson Study Kegiatan Lesson Study telah diimplementasikan di beberapa kabupaten/ kota di Indonesia, di Kabupaten Sumedang, Bantul, dan Pasuruan sejak tahun 2006, di Kabupaten Karawang, Kota Surabaya, dan Kota Pasuruan sejak tahun 2008, di Kota Padang, Kota Banjar Baru, dan Kota Minahasa Utara sejak tahun 2009. Konferensi tahunan Lesson Study merupakan forum komunikasi untuk benchmarking melalui sharing pengalaman implementasi Lesson Study. (1) Konferensi Lesson Study akan dilaksanakan setiap tahun di Kampus UPI karena ruangan konferensi yang refresentatif dengan kapasitas 350 orang tersedia di Auditorium FPMIPA UPI. FPMIPA UPI memiliki
53

pengalaman melaksanakan The 1st International Conference on Lesson Study pada bulan Juli 2008, mendatangkan nara sumber Lesson Study dari Jepang, Thailand, dan Singapura. The 2nd International Conference on Lesson Study akan diselenggarakan FPMIPA UPI pada tanggal 31 Juli dan 1 Agustus 2009 dengan nara sumber Lesson Study dari Jepang, Malaysia, dan Singapura. (2) Konferensi Lesson Study sekaligus menjadi bagian terintegrasi dalam program UPI untuk memberi kesempatan kepada perwakilan kelompok MGMP dari kabupaten sasaran untuk mempresentasikan pengalaman implementasi Lesson Study. (3) Konferensi akan mengundang pembicara dari kabupaten/kota yang telah mengimplementasikan Lesson Study seperti disebutkan di atas. (4) Keynote speaker akan didatangkan dari Jepang, Singapore, Malaysia, atau negara-negara Afrika mengingat UPI memiliki jejaring internasional melalui Asia-Africa Dialogue on Education Development. c. Pengembangan Learning Resource Center dan Sistem Publikasi Hasil Implementasi Lesson Study Pembelajaran dalam rangka implementasi Lesson Study merupakan peristiwa yang tak akan terulang karena itu peristiwa tersebut perlu direkam melalui video oleh tenaga yang ahli. Hasil rekaman video pembelajaran ini akan digunakan sebagai sumber belajar bagi guru lain yang tidak sempat mengobservasi langsung dan bagi calon guru di UPI. Pengalaman berharga dari implementasi Lesson Study akan menjadi sumber inspirasi bagi guru lain karena itu hasil-hasil terbaik dari implementasi Lesson Study akan di publikasikan melalui media elektronik dan cetak. UPI telah memiliki website www.icls.upi.edu sebagai sarana publikasi dan komunikasi tentang Lesson Study. Mekanisme dokumentasi dan publikasi akan diuraikan sebagai berikut. (1) Learning Resource Center. Learning Resource Center akan mengolah hasil-hasil kegiatan Lesson Study berupa rekaman video pembelajaran, teaching materials, dan artikel hasil kajian inovasi pembelajaran sedemikian rupa sehingga mudah diakses sebagai bahan pelajaran bagi guru dan calon guru di Indonesia bahkan manca negara. Ruangan Learning Resource Center akan dilengkapi dengan fasilitas multimedia sehingga memungkinkan calon guru atau guru yang berdomisili dekat dengan UPI dapat mempelajari hasil-hasil inovasi pembelajaran. Selain itu fasilitas ICT akan memberi kesempatan kepada guru atau calon guru diseluruh pelosok tanah air mengakses hasil-hasil inovasi pembelajaran melalui website.
54

(2) Sistem Publikasi. Setiap dosen pendamping melaporkan kegiatan setiap bertugas mendampingi guru di sekolah. Laporan-laporan tersebut akan diolah oleh penanggung jawab aktivitas sehingga menjadi tulisan yang layak ditayangkan pada website www.icls.upi. edu, jurnal, dan News Letter. Setiap wilayah MGMP didorong untuk menyumbang artikel pengalaman implementasi lesson study. Jadwal Pelaksanaan
Rencana Aktivitas 3 tahun a. Pengembangan Sistem Pengimbasan best practice Lesson Study melalui Forum MGMP b. Pengembangan Sistem Benchmarking melalui Konferensi Lesson Study c. Pengembangan Sistem Dokumentasi dan Publikasi Hasil Implementasi Lesson Study Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 X X X X X X

Indikator Keberhasilan Aktivitas


Indikator Utama 1) Jumlah guru sasaran imbas forum MGMP 2) Jumlah KKG yang mengimplementasikan Lesson Study 3) Jumlah guru pemakalah dari kabupaten sasaran 4) Jumlah judul video pembelajaran Tambahan 1) Jumlah rekaman video pembelajaran yang dimanfaatkan dalam perkuliahan 2) Jumlah artikel yang ditulis dosen Awal Akhir Tahun 1 Akhir Tahun 2 Akhir Tahun 3 1560/ kab 24/kab 30/kab 140/kab 30

520/kab 1080/kab 8/kab 10/kab 32/kab 10 16/kab 20/kab 108/kab 20

32

40

48

55

Keberlanjutan Aktivitas ini terutama dilaksanakan oleh dinas pendidikan kabupaten sebagai pembiasaan sehingga pasca kerjasama dinas pendidikan telah memiliki pola untuk memperluas pembinaan guru berkelanjutan melalui Forum MGMP. Fasilitator MGP akan dilatih teknik perekaman video pembelajaran, teknik editing video, dan pemanfaatnya sehingga dalam 3 tahun kerjasama para fasilitator sudah terbiasa melakukan dokumentasi. UPI telah membentuk pusat kajian Lesson Study disebut ICLS (Indonesia Center for Lesson Study) sebagai lembaga yang akan mengontrol implementasi Lesson Study melalui tagihan publikasi pada konferensi tahunan Lesson Study. Penanggungjawab Aktivitas Dr. Nahadi, M.Pd. M.Si.

56

BAB 4 MEKANISME PELAKSANAAN KEGIATAN

A. Organisasi Pelaksanaan Kegiatan 1. Struktur Organisasi Pelaksanaan Kegiatan Pelaksanaan kegiatan program pengembangan pembinaan guru berkelanjutan melalui implementasi Lesson Study akan diintegrasikan secara melembaga ke dalam organisasi UPI. Eksekusi kegiatan PHKI tema C ini akan dilaksanakan oleh ICLS (Indonesia Center for Lesson Study) sebagai bagian dari Pusat Inovasi Pembelajaran dan Profesionalisme Guru yang akan ditetapkan dalam waktu dekat. Pusat ini akan berada dibawah LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat). Pengelolaan keuangan akan dilakukan oleh Direktorat Keuangan UPI sementara Biro Aset dan Fasilitas UPI akan mengelola pengadaan barang dan jasa untuk mendukung implementasi program pengembangan. Satuan Penjaminan Mutu (SPM) dan Satuan Audit Internal (SAI) UPI akan mengkoordinasikan Tim Monev Internal untuk melakukan monitoring atas pengelolaan program PHKI tema C. Untuk mengimplementasikan program PHKI tema C pada tingkat universitas, ketua ICLS akan dibantu oleh 3 PIC (Person In Charge) yaitu PIC Pelatihan, PIC Lesson Study, dan PIC Learning Resource Center (LRC) dan Publikasi. Pada tingkat fakultas, program pengembangan akan dilaksanakan oleh 5 Task Team yaitu Task Team Lesson Study Matematika, Task Team Lesson Study IPA, Task Team Lesson Study Bahasa, Task Team Lesson Study IPS, dan Task Team Evaluasi Program. Struktur organisasi pelaksanaan program pengembangan di UPI diperlihatkan dalam Gambar 4.1. Setiap kabupaten/kota sasaran juga memiliki struktur ogranisasi implementasi Lesson Study yang melembaga. Kepala dinas pendidikan kabupaten/kota sebagai penanggung jawab dan mendelegasikan kepada seorang ketua pelaksana, salah seorang kabid dibantu oleh koordinator kegiatan.

57

58
Penanggung Jawab Rektor UPI Tim monev internal SPM & SAI Pembantu Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Pembantu Rektor Bidang Rencana dan Pengembangan Pembantu Rektor Bidang TIK dan kerjasama FPIPS LPPM FPBS FPMIPA PKTK PKOK FPEB Dir Akad PIPP-ICLS PHKI C DirKeu Biro Aset dan Fasilitas Dir Renbang PIC Lesson Study PIC Pelatihan PIC LRC dan Publikasi Task Team LS MGMP Sains Task Team LS MGMP Bahasa Task Team LS IPS Task Team Eva Program

Pembantu Rektor Bidang Sumberdaya dan Keuangan

FIP

Dir Mhs

Task Team LS MGMP Matematika

Gambar 4.1. Struktur Organisasi Program Pengembangan

2. Uraian Tugas Rincian tugas setiap komponen organisasi akan diuraikan sebagai berikut: Rektor UPI dibantu oleh para pembantu rektor bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan program pengembangan pembinaan guru berkelanjutan melalui implementasi Lesson Study. Tim Monev Internal akan dikoordinasikan oleh Satuan Penjamiman Mutu (SPM) dan Satuan Audit Internal (SAI) UPI yang berperan melaksanakan pemantauan pengelolaan pelaksanaan kegiatan program PHKI tema C. Ketua Pelaksana yang ditugaskan kepada Ketua Pusat Inovasi Pembelajaran dan Profesionalisme Guru ICLS bertanggung jawab atas implementasi seluruh kegiatan program pengembangan pembinaan guru berkelanjutan melalui implementasi Lesson Study. Direktur Keuangan dan Kepala biro Aset dan Fasilitas berperan membantu Ketua Pelaksana dalam pengelolaan keuangan dan pengadaan barang dan jasa untuk memperlancar kegiatan program pengembangan pembinaan guru berkelanjutan melalui implementasi Lesson Study. PIC Lesson Study, PIC Pelatihan, PIC LRC/Publikasi) berperan untuk mengkoordinasikan implementasi bidang Lesson Study, Pelatihan, dan Learning Resource Center/Publikasi dalam rangka mensukseskan kegiatan program pengembangan pembinaan guru berkelanjutan melalui implementasi Lesson Study. Merancang program, mekasanakan, dan melaporkan pelaksanaan kegiatan program pengembangan pembinaan guru berkelanjutan melalui implementasi Lesson Study dalam rangka Pogram PHKI tema C. Task Team yang terdiri dari Task Team LS Matematika, Task Team LS IPA, Task Team LS Bahasa, Task Team LS IPS, Task Team Evaluasi Program berperan untuk melaksanakan kegiatan program pengembangan melalui pendampingan para guru secara berkala di wilayah binaan MGMP/Sekolah sesuai bidang studinya dan mendokumentasikan serta melaporkan hasil kegiatan pengembangan. Ketua Task Team bertanggung jawab untuk mengkoordinasikan para dosen pendamping sebagai anggota task team. Dosen pendamping berperan memfasilitasi terjadinya saling berbagi pengetahuan (knowledge sharing) diantara para guru dan knowledge creation melalui riset pembelajaran secara kolaboratif.

59

3. Mekanisme koordinasi Struktur organisasi kemitraan kegiatan program pengembangan pembinaan guru berkelanjutan melalui implementasi Lesson Study diperlihatkan dalam Gambar 4.2. Kemudian mekanisme koordinasi pelaksanaan kegiatan program pengembangan akan dilaksanakan melalui Joint Coordination Commitee Meting, Management Meeting, dan Task Team Meeting, dan local coordination meeting diuraikan sebagai berikut: a. Joint Coordination Commitee (JCC) Meeting akan dilaksanakan 1 kali per tahun untuk membahas rencana implementasi dan hasil kegiatan. Peserta JCC meeting terdiri dari (1) Rektor UPI sebagai ketua, (2) Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat sebagai wakil ketua, (3) Setda Provinsi Jawa Barat, (4) Kepala BAPPEDA Provinsi Jawa Barat, (5) Kepala LPMP Jawa Barat, (6) Kepala P4TK IPA, (7) Kepala BPG Jawa Barat, (8) Kepala Kanwil Depag Jawa Barat, (9) Kepala Diklat Depag Jawa Barat, (10) Pembantu Rektor UPI bidang Akademik dan Kemahasiswaan, (11) Pembantu Rektor UPI Bidang Keuangan dan Sumber Daya, (12) Pembantu Rektor UPI Bidang TIK dan Kerjasama, (13) Pembantu Rektor UPI Bidang Perencanaan dan Pengembangan, (14) Ketua SPM UPI, (15) Ketua SAI, (16) Ketua Dewan Pendidikan Provinsi Jawa Barat, (17) Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung, (18) Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung, (18) Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat, (19) Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Subang. b. Management Meeting akan dilaksanakan 2 kali per tahun untuk membahas sistem pengelolaan kegiatan dan rencana serta hasil kegiatan tiap semester. Peserta management meeting terdiri dari (1) Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung, (2) Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung, (3) Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat, (4) Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Subang, (5) Dekan FPMIPA, (6) Dekan FPBS, (7) Dekan FPIPS, (8) Dekan FPEB, (9) Direktur Direktorat Perencanaan dan Pengembangan, (8) Direktur Direktorat Keuangan, (9) Direktur Direktorat Akademik, (9) Kepala Biro Aset dan Fasilitas, (10) PIC Lesson Study, (11) PIC Pelatihan, dan (12) PIC Learning Resource Center/Publikasi. Rapat dipimpin oleh Ketua Pelaksana Kegiatan. c. Task Team Meeting akan dilaksanakan 4 kali per tahun untuk membahas kemajuan implementasi kegiatan program pengembangan pembinaan guru berkelanjutan melalui implementasi Lesson Study. Peserta Task Team meeting terdiri dari (1) Direktur Direktorat Perencanaan dan
60

Pengembangan, (2) PIC Lesson Study, (3) PIC Pelatihan, dan (4) PIC Learning Resource Center/Publikasi, (5) Task Team LS Matematika, (6) Task Team LS IPA, (7) Task Team LS Bahasa, (8) Task Team LS IPS, (9) Tim Evaluasi Program.

Disdik Prov Jawa Barat

UPI

Disdik Kab/Kota

Kanwil Depag

Ketua Pelaksana

LPMP

PIC

Task Team

MGMP SMP/MTs wilayah

SMA/MA/SMK

Matematika

Sains

Bahasa

SMP/MTs

SMP/MTs

SMP/MTs

SMP/MTs

SMP/MTs

Gambar 4.2. Organisasi Kerjasama

d. Rapat koordinasi antara pengelola UPI dengan pengelola Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota akan dilaksanakan minimal 6 kali per tahun atau ketika diperlukan untuk berkoordinasi. Materi koordinasi antara lain berkenaan dengan hal teknis implementasi program pengembangan.

61

B. Stang dan capacity building Susunan Pania Program Pengembangan Penanggung Jawab : Prof. Dr. Sunaryo Kartadinata, M.Pd. (Rektor UPI) Tim Pengarah : 1. Prof. Dr. Chaedar Alwasilah, M.A. (Pembantu Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan) 2. Prof. Dr. Ishak Abdulhak, M.Pd. (Pembantu Rektor Bidang Keuangan dan Sumber Daya) 3. Prof. Dr. Rusli Lutan, M.Pd. (Pembantu Rektor Bidang TIK dan Kerjasama) 4. Prof. Dr. Utari Sumarmo, M.Pd. (Pembantu Rektor Bidang Perencanaan dan Pengambangan) 5. Prof. Dr. Ahman, M.Pd. (Dekan FIP) 6. Prof. Dr. Idrus Aandi, S.H., M.Pd. (Dekan FPIPS) 7. Prof. Dr. Nenden Sri Lengkanawati, M.Pd. (Dekan FPBS) 8. Dr. Asep Kadarohman, M.Si. (Dekan FPMIPA) 9. Prof. Dr. Mukhidin, M.Pd. (Dekan FPTK) 10. Dr. Yuda M. Saputra, M.Pd. (Dekan FPOK) 11. Prof. Dr. Edi Suryadi, M.Pd. (Dekan FPEB) 12. Prof. Dr. Sumarto, M.Pd. (Ketua LPPM) 13. Prof. Dr. Dadang Sunendar, M.Pd. (Direktur Direktorat Akademik) 14. Dr. Cecep Darmawan (Direktur Direktorat Kemahasiswaan) Koordinator Program : Prof. Dr. E. Aminudin Azis, M.A. (Direktur Direktorat Perencanaan dan Pengembangan) Ketua Pelaksan : Sumar Hendayana, Ph.D. Bendahara : Dr. Memen Kustiawan, S.E., M.Si., Ak. (Direktur Direktorat Keuangan) Peralatan : Dr. Yahya Sudarya, M.Pd (Kepala Biro Aset dan Fasilitas) Tim Monev : Prof. Dr. A. Azis Wahab, M.A. (Ketua SPM) PIC Lesson Study : Dr. Asep Supriatna, M.Si. PIC Pelatihan : Drs. Harun Imansyah, M.Ed. PIC LRC/Pubikasi : Dr. Nahadi, M.Ed., M.Si. Ketua Task Team LS Matematika : Dr. Turmudi, M.Ed. Ketua Task Team LS IPA : Dr. Anna Permanasari, M.Si. Ketua Task Team LS Bahasa : Dr. Dadang Sundana, M.Pd. Ketua Task Team LS IPS : Dr. Karim Suryadi, M.Si. Ketua Task Team Evaluasi Pogram: Dr. Ida Kaniawati, M.Si. Sekretariat : Drs. A. Budhi Salira, S.Pd., M.Si.
62

LAMPIRAN
SILABUS JADWAL KEGIATAN

SILABUS
A. Silabus Pelatihan Kepala Sekolah (Aktivitas 1.2) 1. Identitas Nama kegiatan Beban Semester Frekuensi Peserta Nara Sumber Penyelenggara 2. Tujuan Pelatihan Kepala Sekolah bertujuan untuk membangun komitmen para kepala sekolah sasaran untuk mendukung implementasi Lesson Study yang dapat membangun komunitas belajar agar terjadi peningkatan mutu pembelajaran berkelanjutan. 3. Deskripsi Pelatihan kepala sekolah merupakan salah satu kegiatan penting dalam pembinaan guru berkelanjutan melalui implementasi Lesson Study karena kepala sekolah sebagai pemimpin kemajuan di sekolahnya. Materi pelatihan meliputi prinsip-prinsip Lesson Study, peran kepala sekolah dalam implementasi Lesson Study, teknik mengobservasi open lesson, teknik reeksi pasca pembelajaran, teknik memandu diskusi pasca pembelajaran, collaborative learning dalam Lesson Study, serta strategi penjaminan mutu dan keberlanjutan (sustainability) Lesson Study. Metode diskusi dan observasi diterapkan pada pelatihan kepala sekolah. Fasilitas multimedia digunakan dalam penyampaian materi pelatihan untuk mempermudah penguasaan pemahaman dan keterampilan Lesson Study. Keberhasilan pelatihan diukur melalui angket setelah kegiatan pelatihan. 4. Pendekatan Metoda Media 5. Evaluasi Partisipasi diskusi Angket
65

: Pelatihan Kepala Sekolah dan Pengawas : 8 jam per semester : 1 s.d 6 (April 2010 s.d. Juli 2012) : 2 kali per tahun : 100 Kepala sasaran, 8 pengawas, 8 Fasilitator : Dosen UPI : Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota sasaran

: Diskusi, pemecahan masalah, dan observasi : LCD dan video pembelajaran

6. Rincian Materi Pelatihan


Pertemuan 1 (Maret 2010) Sesi pagi: Rancangan program kerjasama dalam pembinaan guru berbasis sekolah dan berkelanjutan, Prinsip-prinsip Lesson Study (Apa, Mengapa, dan Bagaimana) Sesi siang: Peran kepala sekolah dan pengawas dalam implementasi Lesson Study & Video conference Sesi pagi: Open lesson Matematika /IPA (2 kelas paralel) Sesi siang: Reeksi pasca pembelajaran dengan penekanan pada teknik observasi open lesson dan teknik reeksi pasca pembelajaran

Pertemuan 2 (Juli 2010)

Pertemuan 3 Sesi pagi: Open lesson IPA (2 kelas paralel) (Januari 2011) Sesi siang: Reeksi pasca pembelajaran dengan penekanan pada Teknik memandu pasca open lesson Pertemuan 4 (Juli 2011) Sesi pagi: Open lesson Bahasa (2 kelas paralel) Sesi siang: Reeksi pasca pembelajaran dengan penekanan pada Collaborative learning dalam Lesson Study

Pertemuan 5 Sesi pagi: Open lesson IPS (2 kelas paralel) (Januari 2012) Sesi siang: Reeksi pasca pembelajaran dengan penekanan pada Strategi penjaminan mutu Lesson Study Pertemuan 6 (Juli 2012) Sesi pagi: Open lesson IPA (2 kelas paralel) Sesi siang: Reeksi pasca pembelajaran dengan penekanan pada Strategi penjaminan keberlanjutan (sustainability) Lesson Study

7. Referensi Sumar Hendayana, dkk. (2006). Lesson Study: Suatu Strategi untuk Meningkatkan Keprofesionalan Pendidik (Pengalaman IMSTEP-JICA). Bandung: UPI Press.

66

B. Silabus Pelatihan Fasilitator MGMP (Aktivitas 1.3) 1. Identitas Nama kegiatan Beban Semester Frekuensi Peserta Nara Sumber Penyelenggara 2. Tujuan Pelatihan fasilitator dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan para fasilitator dalam membelajarkan siswa dan mengelola kegiatan LSMGMP atau LSBS. 3. Deskripsi Fasilitator adalah guru mata pelajaran yang dipilih untuk menjadi leader dalam kegiatan LSMGMP atau LSBS. Setiap wilayah MGMP diwakili oleh 4 fasilitator yang mewaliki bidang study matematika, IPA, dan Bahasa serta mewakili sekolah yang tersebar di wilayah MGMP SMP. Sementara fasilitator SMA terdiri dari 10 guru yang mewakili 10 sekolah piloting LSBS per kabupaten. Fasilitator harus berdedikasi, berkomitmen, dan memiliki leadership untuk memajukan pendidikan. Fasilitator memiliki latar belakang pendidikan minimal S1 pendidikan bidang studi yang sesuai dengan tugas mengajarnya atau tidak missmatch antara latar belakang pendidikan dan tugas mengajar. Materi pelatihan meliputi prinsip-prinsip pembelajaran (student centered), Lesson Study, peran fasilitator dalam implementasi Lesson Study, teknik mengobservasi open lesson, teknik reeksi pasca pembelajaran, teknik memandu diskusi pasca pembelajaran, teknik pengembangan video pembelajaran, teknik penyusunan persiapan pembelajaran yang berpusat pada siswa, teknik penyusunan Lembar Kerja Siswa (LKS) yang mendorong kreativitas siswa, pengelolaan kelas yang efektif, collaborative learning dalam Lesson Study, serta strategi penjaminan mutu dan keberlanjutan (sustainability) Lesson Study. Metode diskusi dan observasi diterapkan pada pelatihan fasilitator. Fasilitas multimedia digunakan dalam penyampaian materi pelatihan untuk mempermudah penguasaan pemahaman dan keterampilan Lesson Study. Keberhasilan pelatihan diukur melalui angket setelah kegiatan pelatihan.
67

: Pelatihan Fasilitator : 2 x 16 jam per semester : 1 s.d 6 (April 2010 s.d. Oktober 2012) : 4 kali per tahun : 32 Fasilitator LSMGMP, 10 Fasilitator LSBS : Dosen UPI : Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota sasaran

4. Pendekatan Metoda Media 5. Evaluasi Partisipasi diskusi Angket 6. Rincian Materi


Pertemuan 1 (April 2010) Hari-1: Rancangan program kerjasama, Prinsip-prinsip learning dan Lesson Study (Apa, Mengapa, dan Bagaimana), peran fasilitator, sistem komunikasi , publikasi, dan sharing online Hari-2: Open lesson matematika (paralel 2 kelas), reeksi. Calon guru model dijajagi seminggu sebelumnya Hari-1: Open lesson ke-1 ekonomi (paralel 2 kelas) dan reeksi Hari-2: Open lesson ke-2 ekonomi (topik sama) dan reeksi Hari-1: Open lesson ke-1 Bahasa Indonesia (paralel 2 kelas) dan reeksi Hari-2: Open lesson ke-2 Bahasa Indonesia (topik sama) dan reeksi Hari-1: Open lesson ke-1 IPA (paralel 2 kelas) dan reeksi Hari-2: Open lesson ke-2 IPA (topik sama) dan reeksi

: Diskusi, pemecahan masalah, dan observasi : LCD dan video pembelajaran

Pertemuan 2 (Juli 2010) Pertemuan 3 (September 2010) Pertemuan 4 (Nov 2010)

Pertemuan 5 Hari-1: Open lesson ke-1 Biologi (paralel 2 kelas) dan reeksi (Januari 2011) Hari-2: Open lesson ke-2 Biologi (topik sama) dan reeksi Pertemuan 6 (Maret 2011) Pertemuan 7 (Juli 2011) Pertemuan 8 (Oktober 2011) Hari-1: Open lesson ke-1 Bahasa Inggris (paralel 2 kelas) dan reeksi Hari-2: Open lesson ke-2 Bahasa Inggris (topik sama) dan reeksi Hari-1: Open lesson ke-1 Sejarah (paralel 2 kelas) dan reeksi Hari-2: Open lesson ke-2 Sejarah (topik sama) dan reeksi Hari-1: Open lesson ke-1 Fisika (paralel 2 kelas) dan reeksi Hari-2: Open lesson ke-2 Fisika (topik sama) dan reeksi

Pertemuan 9 Hari-1: Open lesson ke-1 Geogra (paralel 2 kelas) dan reeksi (Januari 2012) Hari-2: Open lesson ke-2 Geogra (topik sama) dan reeksi Pertemuan 10 Hari-1: Open lesson ke-1 Kimia (paralel 2 kelas) dan reeksi (April 2012) Hari-2: Open lesson ke-2 Kimia (topik sama) dan reeksi

68

Pertemuan 11 Hari-1: Open lesson ke-1 Matematika (paralel 2 kelas) dan (Juli 2012) reeksi Hari-2: Open lesson ke-2 Matematika (topik sama) dan reeksi Pertemuan 12 Hari-1: Open lesson ke-1 Bahasa Indonesia (paralel 2 kelas) (Otober 2012) dan reeksi Hari-2: Open lesson ke-2 Bahasa Indonesia (topik sama) dan reeksi

7. Referensi Sumar Hendayana, dkk. (2006). Lesson Study: Suatu Strategi untuk Meningkatkan Keprofesionalan Pendidik (Pengalaman IMSTEP-JICA). Bandung: UPI Press.

69

C. Silabus Workshop Evaluasi (Aktivitas-2) 1. Identitas Nama kegiatan Beban Semester Frekuensi Peserta Workshop Evaluasi 8 jam per semester 1 s.d 6 (Desember 2010 s.d. Desember 2012) Tiap semester 14 Fasilitator MGMP, 14 kepala sekolah, 8 pengawas, 4 Disdik Nara Sumber : Dosen UPI Penyelenggara : Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota sasaran Workshop evaluasi bertujuan untuk berbagi hasil dan dampak kegiatan Lesson Study serta mencari solusi terhadap permasalahan yang ditemukan selama implementasi Lesson Study agar terjadi peningkatan mutu implementasi Lesson Study yang terus menerus (continuous improvement). 3. Deskripsi Workshop evaluasi merupakan suatu forum diskusi untuk berbagi pengalaman dalam implementasi Lesson Study di masing-masing wilayah. Perwakilan kepala sekolah, fasilitator, dan pengawas dari masing-masing wilayah menyampaikan temuannya berupa best practice dan permasalahannya untuk selanjutnya dikomentari serta dicari solusi terhadap permasalahan yang ditemukannya. Isu yang menjadi kajian dalam workshop Lesson Study meliputi teknik mengobservasi open lesson, teknik reeksi pasca pembelajaran, teknik memandu diskusi pasca pembelajaran, teknik penyusunan persiapan pembelajaran yang berpusat pada siswa, teknik penyusunan Lembar Kerja Siswa (LKS) yang mendorong kreativitas siswa, pengelolaan kelas yang efektif, collaborative learning dalam Lesson Study, serta strategi penjaminan mutu dan keberlanjutan (sustainability) Lesson Study. Metode diskusi diterapkan pada workshop evaluasi. Fasilitas multimedia digunakan dalam workshop ini. 4. Pendekatan Metoda Media : Diskusi : LCD dan video pembelajaran : : : : :

2. Tujuan

70

5. Evaluasi Partisipasi diskusi Angket 6. Kegiatan


Pertemuan 1 (Desember 2010) Perbandingan baseline survey dengan kegiatan Lesson Study semester ganjil 2010/2011 Diskusi permasalahan dan solusi kegiatan Lesson Study semester ganjil 2010/2011 Perkembangan dari baseline survey sampai dengan kegiatan Lesson Study semester genap 2010/2011 Diskusi permasalahan dan solusi kegiatan Lesson Study semester genap 2010/2011 Perkembangan dari baseline survey sampai dengan kegiatan Lesson Study semester ganjil 2011/2012 Diskusi permasalahan dan solusi kegiatan Lesson Study semester ganjil 2011/2012 Perkembangan dari baseline survey sampai dengan kegiatan Lesson Study semester genap 2011/2012 Diskusi permasalahan dan solusi kegiatan Lesson Study semester genap 2011/2012 Perkembangan dari baseline survey sampai dengan kegiatan Lesson Study semester ganjil 2012/2013 Diskusi permasalahan dan solusi kegiatan Lesson Study semester ganjil 2012/2013

Pertemuan 2 (Juni 2011)

Pertemuan 3 (Desember 2011)

Pertemuan 4 (Juni 2012)

Pertemuan 5 (Desember 2012)

7. Referensi Harry Firman, dkk. (2007). Monitoring dan Evaluasi Program Lesson Study: Lesson Learnt dari JICA-SISTTEMS. Bandung: UPI Press. Sumar Hendayana, dkk. (2006). Lesson Study: Suatu Strategi untuk Meningkatkan Keprofesionalan Pendidik (Pengalaman IMSTEP-JICA). Bandung: UPI Press.

71

D. Silabus Forum MGMP (Aktivitas-3) 1. Identitas Nama kegiatan Beban Semester Frekuensi Peserta Forum MGMP 8 jam per semester 2 s.d 6 (Desember 2010 s.d. Desember 2012) tiap semester 4 Kepala UPTD, 10 Kepala SD, 10 Pengurus KKG, 6 Pengawas SD Nara Sumber : Fasilitator LSMGMP dan Kepala sekolah Penyelenggara : Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota sasaran Forum MGMP merupakan suatu forum untuk mendiseminasikan pengalaman dan pelajaran berharga serta hasil yang diperoleh dari kegiatan Lesson Study kepada KKG SD di kabupaten/kota sasaran. Setelah mengikuti kegiatan Forum MGMP, sangat diharapkan peserta mengimplementasikan Lesson Study di SD dengan koordinasi Kepala UPTD dan Ketua KKG. Selanjutnya dengan inisiatif Kepala UPTD dan Ketua KKG mendiseminasikan kegiatan Lesson Study ke SD lain. 3. Deskripsi Dalam forum MGMP, fasilitator berbagi pengalaman berharga dalam implemetasi Lesson Study. Kegiatan Forum MGMP dilaksanakan di setiap wilayah MGMP, jadi 8 wilayah per kabupaten melaksanakan kegiatan ini pada akhir semester. Sementara peserta belajar Lesson Study melalui observasi open lesson dan diskusi pasca pembelajaran. Peserta untuk pertemuan Forum MGMP ke-2 diusahakan sama dengan yang pertama untuk pemantapan dan melaporkan hasil implementasi Lesson Study di SD. Peserta untuk Forum MGMP ke-3 berbeda dengan peserta pada Forum ke-1/ke-2. Isu penting yang menjadi kajian dalam forum MGMP meliputi teknik mengobservasi open lesson, teknik reeksi pasca pembelajaran, teknik memandu diskusi pasca pembelajaran, Metode diskusi dan observasi diterapkan pada forum MGMP. Fasilitas multimedia digunakan dalam forum ini. : : : : :

2. Tujuan

72

4. Pendekatan Metoda Media 5. Evaluasi Partisipasi diskusi Angket 6. Rincian Materi


Pertemuan 1 (Desember 2010) Pertemuan 2 (Juni 2011) (Angkatan I) Prinsip-prinsip Lesson Study Observasi open lesson dan reeksi pembelajaran (Angkatan I) Laporan hasil implementasi Lesson Study di SD Observasi open lesson dan reeksi pembelajaran (dapat dilaksanakan di salah satu SD) (Angkatan II) Prinsip-prinsip Lesson Study Observasi open lesson dan reeksi pembelajaran (Angkatan II) Laporan hasil implementasi Lesson Study di SD Observasi open lesson dan reeksi pembelajaran (dapat dilaksanakan di salah satu SD) (Angkatan III) Prinsip-prinsip Lesson Study Observasi open lesson dan reeksi pembelajaran

: Diskusi observasi : LCD dan video pembelajaran

Pertemuan 3 (Desember 2011) Pertemuan 4 (Juni 2012)

Pertemuan 5 (Desember 2012)

73

Program Hibah Kompetensi berbasis Institui (PHKI): Penguatan Kemitraan UPI dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat Implementasi Lesson Study di Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Subang Rencana Operasional (Plan of Operation)
Kegiatan 1 Persiapan 1.1 PenyusunanPanduan 1.2 PenyusunandokumenMoU 1.3 PendataanpesertaolehDisdikterkait 1.4 PenyusunanTOR 1 2 Koordinasi(Aktivitas1) 2.1 KoordinasidenganDisdikterkait 2.2 JCCmeeting 2.3 Managementmeeting 2.4 TaskTeammeeting MoU&SosialisasiProgramkepadaStakeholder (Aktivias1) BaselineSurvey(aktivitas2) 4.1 PenyusunaninstrumenLSMGMP/LSBS 4.2 Pengumpulandata 4.3 PengolahandatadanPelaporan Pelatihan(Aktivitas1) 5.1 Pembekalandosenpendamping 5.2 Pelatihankepalasekolah&Pengawas 5.3 PelatihanFasilitator LessonStudy(Aktivitas2) 6.1 LessonStudyberbasisMGMP 6.2 LessonStudyberbasisSekolah 1 1 1 2 2 3 1 2 3 4 4 TahunI,2010 Juni Juli

Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Agust

Sept

Okt

Nov

Des

1 2 5 3 6

1 1

2 1 2

7 8 9

EvaluasiProgram(Aktivitas2) WorkshopEvaluasi(Aktivitas2) LearningResourceCenter&Publikasi (Aktivitas3) 9.1 ProduksiTeachingMaterials 9.2 ProduksiVideoPembelajaran 9.3 Publikasi 1 1

10 ForumMGMP(Aktivitas3) 11 EndlineSurvey(Aktivitas2) 11.1 Penyiapaninstrumen 11.2 Pengumpulandata 11.3 PengolahandatadanPelaporan 12 Laporan 12.1 LaporanAktivitas 12.2 Laporantahunan 12.3 Laporanakhir

74

Program Hibah Kompetensi berbasis Institui (PHKI): Penguatan Kemitraan UPI dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat Implementasi Lesson Study di Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Subang Rencana Operasional (Plan of Operation)
Kegiatan 1 Persiapan 1.1 PenyusunanPanduan 1.2 PenyusunandokumenMoU 1.3 PendataanpesertaolehDisdikterkait 1.4 PenyusunanTOR 4 2 Koordinasi(Aktivitas1) 2.1 KoordinasidenganDisdikterkait 2.2 JCCmeeting 2.3 Managementmeeting 2.4 TaskTeammeeting MoU&SosialisasiProgramkepadaStakeholder (Aktivias1) BaselineSurvey(aktivitas2) 4.1 PenyusunaninstrumenLSMGMP/LSBS 4.2 Pengumpulandata 4.3 PengolahandatadanPelaporan Pelatihan(Aktivitas1) 5.1 Pembekalandosenpendamping 5.2 Pelatihankepalasekolah&Pengawas 5.3 PelatihanFasilitator LessonStudy(Aktivitas2) 6.1 LessonStudyberbasisMGMP 6.2 LessonStudyberbasisSekolah 7 3 5 6 7
12

Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

TahunII,2011 Juni Juli

Agust

Sept

Okt

Nov

Des

5 9 10

6 11 2 4

7 12

3 5 6

4 5 7

6 8

2 1

2 1

3 2

7 8 9

EvaluasiProgram(Aktivitas2) WorkshopEvaluasi(Aktivitas2) LearningResourceCenter&Publikasi (Aktivitas3) 9.1 ProduksiTeachingMaterials 9.2 ProduksiVideoPembelajaran 9.3 Publikasi 1 2 2 3 2 3

10 ForumMGMP(Aktivitas3) 11 EndlineSurvey(Aktivitas2) 11.1 Penyiapaninstrumen 11.2 Pengumpulandata 11.3 PengolahandatadanPelaporan 12 Laporan 12.1 LaporanAktivitas 12.2 Laporantahunan 12.3 Laporanakhir

2 1

75

Program Hibah Kompetensi berbasis Institui (PHKI): Penguatan Kemitraan UPI dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat Implementasi Lesson Study di Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Subang Rencana Operasional (Plan of Operation)
Kegiatan 1 Persiapan 1.1 PenyusunanPanduan 1.2 PenyusunandokumenMoU 1.3 PendataanpesertaolehDisdikterkait 1.4 PenyusunanTOR 4 2 Koordinasi(Aktivitas1) 2.1 KoordinasidenganDisdikterkait 2.2 JCCmeeting 2.3 Managementmeeting 2.4 TaskTeammeeting MoU&SosialisasiProgramkepadaStakeholder (Aktivias1) BaselineSurvey(aktivitas2) 4.1 PenyusunaninstrumenLSMGMP/LSBS 4.2 Pengumpulandata 4.3 PengolahandatadanPelaporan Pelatihan(Aktivitas1) 5.1 Pembekalandosenpendamping 5.2 Pelatihankepalasekolah&Pengawas 5.3 PelatihanFasilitator LessonStudy(Aktivitas2) 6.1 LessonStudyberbasisMGMP 6.2 LessonStudyberbasisSekolah 13 5 9 10 11
14

Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

TahunIII,2012 Juni Juli

Agust

Sept

Okt

Nov

Des

5 15 16

6 17 3 6

7 18

12

5 9 10

6 5 11

6 12

2 1

2 1

3 2

7 8 9

EvaluasiProgram(Aktivitas2) WorkshopEvaluasi(Aktivitas2) LearningResourceCenter&Publikasi (Aktivitas3) 9.1 ProduksiTeachingMaterials 9.2 ProduksiVideoPembelajaran 9.3 Publikasi 1 4 2 5 4 5

10 ForumMGMP(Aktivitas3) 11 EndlineSurvey(Aktivitas2) 11.1 Penyiapaninstrumen 11.2 Pengumpulandata 11.3 PengolahandatadanPelaporan 12 Laporan 12.1 LaporanAktivitas 12.2 Laporantahunan 12.3 Laporanakhir

2 1

76

Program Hibah Kompetisi berbasis Institusi (PHKI): Penguatan Kemitraan UPI dengan Pemirintah Provinsi Jawa Barat melalui Implementasi Lesson Study di Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Subang

Jadwal Kegiatan Semester 1, Januari - Juli 2010


KotaBandung KabBandung KabBandungBarat KabSubang Keterangan

Tanggal

Wednesday,February03,2010

Managementmeeting1

MembahasJadwal, Organisasitiaplembaga terkait,PersiapanMoU& PendataanGuru

Baselinesurvey

Baselinesurvey

Baselinesurvey

Baselinesurvey MoU&sosialisasi MoU&sosialisasi MoU&sosialisasi MoU&sosialisasi


PelatihanKepalaSekolah& Pengawas1 PelatihanKepalaSekolah& Pengawas1 PelatihanKepalaSekolah& Pengawas1 PelatihanKepalaSekolah& Pengawas1 PelatihanFasilitator1 PelatihanFasilitator1 PelatihanFasilitator1 PelatihanFasilitator1

Monday,February08,2010 Tuesday,February09,2010 Wednesday,February10,2010 Thursday,February11,2010 Friday,February12,2010 Saturday,February13,2010 Monday,February15,2010 Tuesday,February16,2010 Wednesday,February17,2010 Thursday,February18,2010 Friday,February19,2010 Saturday,February20,2010 Monday,March01,2010 Tuesday,March02,2010 Wednesday,March03,2010 Thursday,March04,2010

Monday,March15,2010

Tuesday,March16,2010

Wednesday,March17,2010

Thursday,March18,2010

77

Tuesday,April13,2010 Wednesday,April14,2010 Friday,April16,2010 Saturday,April17,2010 Tuesday,April20,2010 Wednesday,April21,2010 Friday,April23,2010 Saturday,April24,2010 Thursday,June24,2010

Managementmeeting2

PersiapanJCCmeeting

78
KotaBandung
JCCmeeting

Program Hibah Kompetisi berbasis Institusi (PHKI): Penguatan Kemitraan UPI dengan Pemirintah Provinsi Jawa Barat melalui Implementasi Lesson Study di Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Subang
KabBandung
SosialisasiPKHI& PresentasikanBaseline survey

Jadwal Kegiatan Semester 2, Juli - Desember 2010


KabBandungBarat KabSubang Keterangan

Tanggal

Thursday,July01,2010 PelatihanKepalaSekolah& Pengawas2 PelatihanKepalaSekolah& Pengawas2 PelatihanKepalaSekolah& Pengawas2 PelatihanKepalaSekolah& Pengawas2 PelatihanFasilitator2 PelatihanFasilitator2 PelatihanFasilitator2 PelatihanFasilitator2 MulaiLSMGMP&LSBS PelatihanFasilitator3 PelatihanFasilitator3 PelatihanFasilitator3 PelatihanFasilitator3 PelatihanFasilitator4 PelatihanFasilitator4 PelatihanFasilitator4 PelatihanFasilitator4 WokshopEvaluasi1 WokshopEvaluasi1 WokshopEvaluasi1 WokshopEvaluasi1 ForumMGMP1 ForumMGMP1 ForumMGMP1 ForumMGMP1 ForumMGMPdilaksanakandi setiapwilayahpadaakhir semester JadwalrincidikeluarkanDisdik

Wednesday,July14,2010

7/15/2010

7/16/2010

7/17/2010

Monday,July19,2010 Tuesday,July20,2010 Wednesday,July21,2010 Thursday,July22,2010 Friday,July23,2010 Saturday,July24,2010 Tuesday,July27,2010 Wednesday,July28,2010

Monday,August09,2010

Monday,September13,2010 Tuesday,September14,2010 Thursday,September16,2010 Friday,September17,2010 Monday,September20,2010 Tuesday,September21,2010 Thursday,September23,2010 Friday,September24,2010 Monday,November15,2010 Tuesday,November16,2010

Thursday,November18,2010 Friday,November19,2010 Monday,November22,2010 Tuesday,November23,2010 Thursday,November25,2010 Friday,November26,2010 Thursday,December02,2010 Friday,December03,2010 Monday,December06,2010 Tuesday,December07,2010 Wednesday,December08,2010 Thursday,December09,2010 Friday,December10,2010 Saturday,December11,2010