Anda di halaman 1dari 7

DASAR TEORI BBLR

A. DEFINISI BBLR Bayi BBLR adalah berat badan kurang dari 2.500 gram yaitu karena umur hamil kurang dari 37 minggu atau berat badan lahir rendah dari semestinya sekalipun umur cukup atau karena kombinasi keduanya.(Manuaba, 1998 : 326). BBLR ialah bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir kurang dari 2.500 gram (sampai dengan 2.499 gram).(Sarwono, 2006 : 376) BBLR yaitu keadaan yang disebabkan oleh masa kehamilan kurang dari 37 minggu dengan berat badan yang sesuai atau bayi yang beratnya kurang dari berat semestinya menurut masa kehamilannya.(Sarwono, 2007 : 771) BBLR adalah kelahiran bayi kurang dari 37 minggu, bayi yang beratnya kurang dari seharusnya umur kehamilan. Bayi yang lahir dengan berat badan rendah dan tidak sesuai dengan tuanya kehamilan.(Rustam Mochtar, 1998 : 448)

B. PEMBAGIAN KEHAMILAN MENURUT WHO Untuk menentukan apakah bayi lahir itu premature SMK, matur normal dan KMK. WHO (1979) membagi umur kahamilan dalam 3 kelompok : 1. Preterm yaitu umur kahamilan kurang dari 37 minggu (259 hari) 2. Aterm yaitu umur kahamilan antara 37 42 minggu (259 293 hari) 3. Post term yaitu umur kahamilan lebih dari 42 minggu (294 hari)

C. KLASIFIKASI BBLR BBLR dapat diklasifikasikan sebagai berikut berdasarkan berat badan lahir : 1. BBLR (berat badan lahir rendah) Yaitu berat badan lahir < 2.500 gram 2. BBLSR (berat badan lahir sangat rendah) Yaitu berat badan lahir antara 1.000 1.500 gram 3. BBLASR (berat badan lahir amat sangat rendah) Yaitu berat badan lahir < 1.000 gram

D. MACAM MACAM BBLR Bayi BBLR dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu : 1. Prematuvitas Murni Masa gestasinya kurang dari 37 minggu dan berat badannya sesuai dengan berat badan untuk masa gestasi itu atau biasa disebut neonates kurang bulan. Sesuai mada kehamilan (NKB-SMK) 2. Dismaturitas Bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa gestasi itu. Berarti bayi mengalami retardasi pertumbuhan intrauterine dan merupakan bayi yang kecil untuk masa kehamilannya (KMK).

E. ETIOLOGI Faktor faktor yang dapat menyebabkan terjadinya persalinan dengan berat badan lahir rendah adalah : 1. Faktor Ibu a. Penyakit Penyakit yang berhubungan langsung dengan kehamilan misalnya Taksemia Gravidarum, perdarahan antepartum, trauma fisis dan psikologis. Penyakit lainnya ialah infeksi akut yang dapat merupakan faktor etiologi prematuritas. b. Usia kurang dari 20 tahun atau diatas 35 tahun Angka kejadian prematuritas tertinggi ialah pada usia ibu dibawah 20 tahun dan pada Multigravida yang jarak antara kelahirannya terlalu dekat. Kejadian terendah adalah pada usia ibu antara 26 35 tahun. c. Keadaan sosial ekonomi Keadaan ini sangat berperan terhadap timbulnya prematuritas. Kejadian tertinggi terdapat pada golongan sosial ekonomi yang rendah. Hal ini disebabkan oleh keadaan gizi kurang baik dan pengawasan antenatal yang kurang teratur. 2. Faktor pekerja yang terlalu berat 3. Faktor Kehamilan a. Hamil dengan hidramnion. b. Hamil ganda. c. Perdarahan Antepartum (plasenta previa). d. Komplikasi hamil ( pre-eklamsia/eklamsia dan ketuban pecah dini ) 4. Faktor Janin a. Cacat bawaan. b. Infeksi dalam rahim (Toxoplasmosis, Rubella, Citomegalovirus, Herpes,Sifilis atau disebut dengan TORCH)

F. PATOFISIOLOGI Salah satu patofisiologi dari BBLR yaitu asupan gizi yang kurang pada ibu ibu hamil yang kemudian secara otomatis juga menyebabkan kurangnya asupan gizi untuk janin sehingga menyebabkan berat badan lahir rendah. Apabila dilihat dari faktor kehamilan, salah satu etiologinya yaitu hamil ganda yang mana pada dasarnya janin berkembang dan tumbuh lebih dari satu, maka nutrisi atau gizi yang mereka peroleh pun dalam rahim tidak sama dengan janin tunggal, yang mana pada hamil ganda gizi dan nutrisi yang didapat dari ibu harus berbagai sehingga kadang salah satu dari janin pada hamil ganda juga mengalami BBLR. Kemudian jika dikaji dari faktor janin, salah satu etiologinya yaitu infeksi dalam rahim yang mana dapat mengganggu atau menghambat pertumbuhan janin dalam rahim yang bisa mengakibatkan BBLR pada bayi.

G. GAMBARAN KLINIS PADA BBLR 1. Berat badan kurang dari 2.500 gram 2. Panjang badan kurang dari 45 cm 3. Lingkaran kepala kurang dari 33 cm 4. Lingkaran dada kurang dari 30 cm 5. Umur kehamilan kurang dari 37 minggu 6. Kepala relatif lebih besar dari badannya 7. Kulit tipis dan transparan, rambut lanugo banyak, lemak kulit kurang 8. Pernafasan tak teratur dan dapat terjadi apnea ( gagal nafas ) 9. Kepala tidak mampu tegak atau reflek tonik leher lemah (Manuaba, 1998 : 328)

H. KOMPLIKASI ( PENYAKIT YANG MENYERTAI BBLR ) 1. Asfiksia 2. Hiperbillirubinemia karena immatur hati 3. Mudah terjadi infeksi karena gangguan imunologik 4. Pneumonia Aspirasi, terjadi karena reflek menelan dan batuk belum sempurna 5. Perdarahan mudah terjadi karena pembuluh darah yang rapuh 6. Sindroma gangguan pernafasan 7. Hipotermi 8. Hipoglikemi 9. Gangguan cairan dan elektrolit 10. Masalah pemberian ASI

Masalah jangka panjang yang mungkin timbul pada bayi dengan BBLR antara lain : 1. Gangguan perkembangan. 2. Gangguan pertumbuhan. 3. Gangguan penglihatan (Retinopati). 4. Gangguan pendengaran. 5. Penyakit paru kronis

I. PROGNOSIS BERAT BADAN LAHIR RENDAH Prognosis bayi berat badan lahir rendah ii tergantung dari berat ringannya masalah perinatal, misalnya masa gestasi (makin muda masa gestasi atau makin rendah berat bayi maka makin tinggi pula angka kematian. Asfiksia, sindrom gangguan pernafasan, perdarahan intraventrikuler, hiperbillirubinemia, hipoglikemi). Prognosis ini juga tergantung dari keadaan sosial ekonomi pendidikan orangtua dan perawatan pada saat kehamilan, persalina dan postnatal (pengaturan suhu lingkungan, pencegahan infeksi, pengawasan nutrisi, penimbangan ketat).

J. UPAYA PENCEGAHAN BIDAN DALAM TERJADINYA BBLR 1. Upayakan agar melakukan antenatal care yang baik, segera melakukan konsultasi dan merujuk penderita bila terdapat kelainan. 2. Meningkatkan gizi masyarakat sehingga dapat mencegah terjadinya persalinan dengan berat badan lahir rendah. 3. Tingkatkan penerimaan keluarga berencana. 4. Anjurkan lebih banyak istrahat, bila kehamilan mendekati aterm atau istirahat baring bila terjadi keadaan yang menyimpang dari keadaan normal kehamilan. 5. Tingkatkan kerjasama dengan dukun beranak yang masih mendapat kepercayaan masyarakat.

K. PERAWATAN ATAU PENATALAKSANAAN BAYI BBLR Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah pengaturan suhu lingkungan, pemberian makanan, menghindari infeksi, penimbangan secara ketat dan personal hygiene, dan siap sedia dengan tabung oksigen. Pada bayi premature makin pendek pada masa kehamilan, makin sulit dan banyak persoalan yang akan dihadapi dan ini akan menyebabkan tingginya angka kematian perinatal.biasanya kematian disebabkan oleh gangguan pernafasan, infeksi cacat bawaan dan trauma pada otak. 1. Pengaturan Suhu Lingkungan Bayi dimasukkan dalam incubator dengan suhu yang diatur : a. Bayi berat badan dibawah 2000 garam , 350C b. Bayi berat badan 2 kg sampai 2500 gram, 340C

Suhu incubator diturunkan 10C setiap minggu sampai bayi dapat ditempatkan pada suhu lingkungan sekitar 24 270C

2. Makanan Bayi BBLR Umumnya bayi prematur belum sempurna reflek mengisap dan batuknya. Kapasitas lambung masih kecil dan daya enzim pencernaan terutama lipase masih kurang. Maka makanan yang diberikan dengan pipet sedikit demi sedikit namun sering. Pemberian minuman bayi sekitar 3 jam setelah lahir dan didahului dengan mengisap cairan lambung. ASI merupakan makanan yang paling utama sehingga ASI lah yang lebih dahulu diberikan. Bila faktor mengisapnya kurang maka ASI dapat diperas dan diminumkan dengan sendok perlahan lahan atau dengan memasang sonde menuju lambung. Permulaan cairan yang diberikan sekitar 50 60 cc / kg BB / hari dan terus dinaikkan sampai mencapai sekitar 200 cc/kgh BB/hari, agar bayi tidak mendeita hipoglikemia dan hiperbillirubinemia. Bila Air Susu Ibu tidak ada, susunya dapat diganti dengan susu buatan yang mengandung lemak yang mudah dicerna bayi dan mengandung 20 kalori / 30 ml air atau sekurang-kurangnya bayi mendapat 110 kalori / kg berat badan per hari. 3. Menghindari Infeksi Bayi prematur mudah sekali terkena infeksi, karena daya tahan tubuh yang masih lemah, kemampuan leukosit masih kurang dan pembentukan antibody belum sempurna. Infeksi yang sering terjadi ialah infeksi silang melalui para dokter, perawat, bidan dan petugas lain yang berubungan dengan bayi. Untuk mencegah ini para petugas perlu disadarkan akan bahaya infeksi bayi, selanjutnya tindakan yang perlu dilakukan adalah : a. Diadakan pemisahan bayi yang kena infeksi dengan bayi yang tidak kena infeksi b. Mencuci tangan setiap kali sebelum dan sesudah memegang bayi. c. Membersihkan tempat tidur bayi segera, sesudah tida dipakkai lagi (paling lama seorang bayi memakai tempat tidur selama 1 minggu untuk kemudian dibersihkan dengan cairan antiseptik). d. Membersihkan ruangan pada waktu-waktu tetentu. e. Setiap bayi mempunyai perlengkpan sendiri. f. Setiap petugas yang menderita penyakit menular (infeksi saluran nafas, diare, konjungtivitis, dll) dilarang merawat bayi. g. Kulit dan tali pusat bayi harus dibersihkan sabaik-baiknya. h. Para pengunjung orang sakit hanya boleh melihat bayi dari belakang kaca. i. Melakukan Resusitasi

Melakukan resusitasi atau menghisap lender dengan menggunakan saction sampai bersih sehingga bayi dapat bernafas secara baik. 4. Penimbangan Ketat Perubahan berat badan mencerminkan kondisi gizi / nutrisi bayi dan berat kaitanya dengan daya tahan tubuh. Oleh sebab itu penimbangan berat badan harus dilakukan dengan ketat. 5. Personal Hygiene Pentingnya menjaga personal hygiene bayi, agar bayi merasa nyaman dan tidak gelisah. Apalagi pada bayi BBLR karena masih sangat rentan.

DAFTAR PUSTAKA

Bdzak Sensen, Low Dermik 2004. Buku Ajar Keperawatan maternitasJakarta : EGC. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak, 2007. Ilmu Kesehatan Anak Jilid 3. Jakarta : FKUI Prawirohardjo, sarwono. 2002. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Wong, Donna L. 2003. Perawatan Pediatrik. Jakarta : EGC Surasmi, Asrining. 2003. Perawatan Bayi Resiko Tinggi. Jakarta : EGC Saccharin, Rosa M. 1996. Prinsip Keperawatan Pediatrik. Jakarta : EGC.