Anda di halaman 1dari 7

BAB 1 1.

PENDAHULUAN Latar Belakang Perkembangan ekonomi pada masa neoliberalisme sekarang ini khususnya di Indonesia,

sudah mulai banyak diperdebatkan oleh kalangan-kalangan yang mulai tersadar akan kekejaman yang diciptakan oleh suatu sistem ekonomi politik di era globalisasi hari ini yang memiskinkan negara-negara berkembang. Salah satu gagasan ekonomi yang dalam beberapa waktu belakangan ini cukup banyak mengundang perhatian adalah mengenai 'ekonomi kerakyatan'. Di tengahtengah himpitan krisis ekonomi yang sedang melanda Indonesia, serta maraknya perbincangan mengenai globalisasi dalam pentas wacana ekonomi-politik dunia, kehadiran ekonomi kerakyatan dalam pentas wacana ekonomi-politik Indonesia cenderung dipandang seolah-olah merupakan gagasan baru dalam pentas ekonomi-polilik di Indonesia. Kesimpulan seperti itu tentu tidak dapat dibenarkan. Sebab, bila ditelusuri kebelakang, dengan mudah dapat diketahui bahwa perbincangan mengenai ekonomi kerakyatan sesungguhnya telah berlangsung jauh sebelum Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Pada mulanya adalah Bung Hatta, di tengah-tengah dampak buruk depresi ekonomi dunia yang tengah melanda Indonesia, yang menulis sebuah artikel dengan judul Ekonomi Rakyat di harian Daulat Rakyat (Hatta, 1954). Dalam artikel yang diterbitkan tanggal 20 Nopember 1933 tersebut, Bung Hatta secara jelas mengungkapkan kegusarannya dalam menyaksikan kemerosotan kondisi ekonomi rakyat Indonesia dibawah penindasan pemerintah Hindia Belanda.

1.2

Rumusan Masalah Dalam makalah kami kali ini, pembahasan mengenai gagasan ekonomi kerakyatan

koperasi oleh pemikiran Bung Hatta akan kami fokuskan melalui pertanyaan dalam rumusan masalah dibawah ini, yaitu: 1. Bagaimanakah konsep ekonomi kerakyatan Koperasi yang digagas oleh Bung Hatta? Apakah dalam perkembangannya untuk sekarang ini masih relevankah terhadap globalisasi ekonomi politik khusunya untuk Indonesia?

BAB 2 B.1

PEMBAHASAN Gagasan Mengenai Ekonomi Kerakyatan Yaitu Koperasi oleh Bung Hatta Sejarah koperasi di Indonesia sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Setelah Republik

Indonesia berdiri, salah satu proklamator, Mohammad Hatta, membuat gagasan cemerlang untuk menjadikan bangsa ini bisa mandiri. Untuk itu, Bung Hatta lebih memilih konsep

mengembangkan koperasi sebagai motor perekonomian Indonesia. Ia enggan mengadopsi sistem ekonomi yang diusung negara Barat lantaran tidak cocok diterapkan di Tanah Air. Hatta mengemukakan sebagai berikut: Yang dimaksud dengan usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan ialah kooperasi. Indonesia terlalu lama dijajah oleh kapital asing dengan organisasinya yang rapi , berupa badan-badan industri, dagang dan transpor. Terhadap kapital asing yang begitu kuat, yang mempergunakan orang-orang Cina dan orang-orang Asia lainnya sebagai kaki tangannya ke dalam masyarakat Indonesia, rakyat Indonesia tidak akan dapat memperbaiki ekonominya, apabila tidak ada organisasinya...... Tetapi kalau mereka bersatu dalam kooperasi, mereka memperoleh keberanian dalam melaksanakan usaha bersama di atas dasar tolongmenolong. Pada idea kooperasi tertanam pendapat, bahwa organisasi harus dihadapi dengan organisasi pula.1 Perhatian beliau yang dalam terhadap penderitaan rakyat kecil mendorongnya untuk mempelopori Gerakan Koperasi yang pada prinsipnya bertujuan memperbaiki nasib golongan miskin dan kelompok ekonomi lemah. Karena itu Bung Hatta diangkat menjadi Bapak Koperasi Indonesia. Gelar ini diberikan pada saat Kongres Koperasi Indonesia di Bandung pada tanggal 17 Juli 1953. Menyandang label Bapak Koperasi Indonesia, Bung Hatta memiliki misi untuk menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Semangatnya untuk mengentaskan kemiskinan dengan menyusun perekonomian atas asas kekeluargaan, lebih cocok dengan menerapkan manajemen koperasi. Konsep itu dirancangnya dengan penuh pertimbangan matang.

Mohammad Hatta, Teori Ekonomi, Politik Ekonomi, dan Orde Ekonomi. Dalam Mohammad Hatta, Membangun Ekonomi Indonesia, loc. Cit., hal. 61.

Koperasi sebagai suatu sistem ekonomi, mempunyai kedudukan (politik) yang cukup kuat karena memiliki dasar konstitusional, yaitu berpegang pada Pasal 33 UUD 1945, khususnya Ayat 1 yang menyebutkan bahwa: Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. Dalam Penjelasan UUD 1945 itu dikatakan bahwa bangun usaha yang paling cocok dengan asas kekeluargaan itu adalah koperasi. Tafsiran itu sering dikemukakan oleh Bung Hatta, yang sering disebut sebagai perumus pasal tersebut. Ketertarikannya kepada sistem koperasi agaknya adalah karena pengaruh kunjungannya ke negara-negara Skandinavia, khususnya Denmark, pada akhir tahun 1930-an. Bagi Bung Hatta, koperasi bukanlah sebuah lembaga yang antipasar atau nonpasar dalam masyarakat tradisional. Koperasi, baginya adalah sebuah lembaga self-help lapisan masyarakat yang lemah atau rakyat kecil untuk bisa mengendalikan pasar. Karena itu koperasi harus bisa bekerja dalam sistem pasar, dengan cara menerapkan prinsip efisiensi. Koperasi juga bukan sebuah komunitas tertutup, tetapi terbuka, dengan melayani nonanggota, walaupun dengan maksud untuk menarik mereka menjadi anggota koperasi, setelah merasakan manfaat berhubungan dengan koperasi. Dengan cara itulah sistem koperasi akan mentransformasikan sistem ekonomi kapitalis yang tidak ramah terhadap pelaku ekonomi kecil melalui persaingan bebas (kompetisi), menjadi sistem yang lebih bersandar kepada kerja sama atau koperasi, tanpa menghancurkan pasar yang kompetitif itu sendiri. Di Indonesia, Bung Hatta sendiri menganjurkan didirikannya 3 macam koperasi. Pertama, adalah koperasi konsumsi yang terutama melayani kebutuhan kaum buruh dan pegawai. Kedua, adalah koperasi produksi yang merupakan wadah kaum petani (termasuk peternak atau nelayan). Ketiga, adalah koperasi kredit yang melayani pedagang kecil dan pengusaha kecil guna memenuhi kebutuhan modal. Bung Hatta juga menganjurkan pengorganisasian industri kecil dan koperasi produksi, guna memenuhi kebutuhan bahan baku dan pemasaran hasil. Menurut Bung Hatta, tujuan koperasi bukanlah mencari laba yang sebesar-besarnya, melainkan melayani kebutuhan bersama dan wadah partisipasi pelaku ekonomi skala kecil. Tapi, ini tidak berarti, bahwa koperasi itu identik dengan usaha skala kecil.

Bung Hatta sadar, mayoritas masyarakat Indonesia masih hidup dalam jerat kemiskinan. Untuk bisa menyelesaikan persoalan mereka semua secara rata, pemilihan kebijakan dengan mendorong berkembangnya koperasi merupakan langkah tepat. Hal ini mengingat ciri usaha koperasi lebih mengutamakan perkumpulan anggotanya, bukan pemilik modal yang sangat sesuai dengan realita yang dihadapi bangsa ini.

B.2

Relevansi Konsep Koperasi Dalam Era Globalisasi Kekinian Membincangkan koperasi, yang ada dalam benak masyarakat selalu berkaitan dengan hal

negatif. Hal ini wajar karena citra koperasi dari waktu ke waktu semakin runyam. Kalau tidak bangkrut, aktivitasnya dapat dikatakan hidup segan mati tak mau. Kenyataan itu semakin diperkuat dengan data yang dilansir mantan gubernur Bank Indonesia Burhanudin Abdullah pada 2012. Meski jumlahnya terus meningkat hingga mencapai 190 ribu koperasi, pertumbuhannya sangat muram. Kurangnya perhatian pemerintah dalam membesarkan koperasi menjadi masalah kemeranaan itu. Dari total produk domestik bruto (PDB) sebesar Rp 8.241,9 triliun, kontribusi koperasi tidak lebih dua persen alias sekitar Rp 164,8 triliun. Mengacu sumbangsih koperasi terhadap PDB sebesar Rp 164 triliun dan jumlahnya sebanyak 190 ribu koperasi, dapat diambil kesimpulan asetnya sekitar Rp 860 juta. Penyumbang terbesar ekonomi Indonesia masih dipegang perusahaan besar yang dikuasai konglomerat. Mengingat koperasi sudah berusia lebih seabad, tentu layak dipertanyakan mengapa sumbangsihnya terhadap kue ekonomi terbilang sedikit. Di tengah menggejalanya mekanisme pasar bebas yang dianut pemerintah, peranan koperasi semakin tersisih. Kalau dibiarkan berlarut-larut, sangat mungkin keberadaannya tinggal menjadi slogan semata. Alhasil, pemerintah wajib membuat kebijakan khusus agar eksistensi badan usaha yang dijadikan soko guru ekonomi bangsa ini tetap terjaga. Catatan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop dan UKM) menyebutkan, jumlah koperasi meningkat dari 188 ribu pada 2011 menjadi 194 ribu pada 2012. Pun dengan anggotanya yang bertambah dari 30,8 juta pada 2011 menjadi 33,9 juta orang pada tahun lalu. Namun, segi kuantitas itu tidak bisa dibanggakan begitu saja. Ini lantaran dari 194 ribu koperasi, hanya 40 persen saja yang aktif. Sedangkan, sekitar 20 sampai 23 persen koperasi 4

berstatus tidak aktif. Sisanya tidak jelas sama sekali kegiatannya, dan bisa dianggap mengalami mati suri. Kondisi koperasi yang kebanyakan tidak sehat itu jelas sangat mengkhawatirkan. Koperasi yang merupakan jati diri bangsa bukannya semakin jaya, faktanya malah terpuruk. Peran pemerintah yang diharapkan dapat menghidupkan lagi koperasi masih kurang terlihat geloranya. Pantas saja, sumbangsih koperasi dengan mengacu pertumbuhan PDB nasional sangat rendah. Malahan, kalau aset koperasi sebanyak Rp 164 triliun dibandingkan 30 juta jumlah anggota, yang didapat setiap orang hanya Rp 5.400.2 Koperasi bisa lebih diandalkan sebagai organisasi yang dapat mengabdi dan memakmurkan orang yang terlibat di dalamnya. Apalagi, semangat koperasi yang dijalankan dengan gotong royong berdasarkan persamaan derajat, hak, dan kewajiban anggotanya sangat sesuai dengan nafas keadilan yang tertuang dalam Pancasila. Sayangnya, seiring berjalannya waktu, garis ekonomi yang diterapkan pemerintah tidak sejalan dengan nafas hidup koperasi. Dampaknya, ruang gerak koperasi tergencet oleh gurita perbankan yang memasuki setiap sendi kehidupan masyarakat. Masalah lain yang turut menyumbang terpinggirnya koperasi adalah disebabkan semakin sedikitnya pemahaman masyarakat terkait fungsi koperasi. Bisa jadi, karena tidak lagi dikelola secara amanah, atau mayoritas warga pernah punya pengalaman tidak mengenakkan saat bekerja sama dengan pengurus koperasi, membuatnya tidak lagi dirindukan masyarakat. Alhasil, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap koperasi semakin rendah. Konsekuensi itu membuat tidak sedikit koperasi tinggal papan nama saja.

http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/bisnis/13/06/19/monfs4-kembalikan-perankoperasidalam-sejahterakan-rakyat diakses 03 Oktober 2013

BAB 3 3.1

PENUTUP Kesimpulan Melihat kondisi krisis perekonomian yang hari ini terjadi dalam kehidupan berbangsa dan

bernegara serta terjadi di kancah internasional, kelompok kami berkesimpulan bahwa pemikiran dari Bung Hatta mengenai gagasan ekonomi kerakyatan koperasi justru menemukan relevansinya. Dapat disimpulkan bahwa: Pertama, dengan konsep koperasi Bung Hatta ini dapat menjamin kemakmuran bersama. Hal ini, karena Bung Hatta mengusung bentuk organisasi produksi yang bersifat kolektif dan beliau selalu menekankan kepada pentingnya membangun usaha bersama. Kedua, adanya penggabungan terhadap demokrasi politik dan demokrasi ekonomi. Konsep Bung Hatta mengenai demokrasi asli Indonesia, yang menggabungkan antara pemenuhan hak-hak politik, seperti rapat/pengambilan keputusan secara kolektif dan kepemilikan alat produksi secara kolektif. Ketiga, koperasi dirancang bukan hanya untuk menyatukan usaha kecil-kecil, tetapi juga bisa dipraktekkan dalam perekonomian negara. Tentu saja, ketika perekonomian negara sudah berbentuk usaha bersama Keempat, adanya peran negara yang kuat. Konsep Bung Hatta akan peran negara yang kuat ini tercermin pada konsep politik perekonomian. Politik perekonomian ala Bung Hatta, bercitacita mendatangkan kemakmuran. Kelima, adanya semangat percaya pada kekuatan sendiri (Self Help). Dengan melalui koperasi, Bung Hatta berharap agar rakyat menemukan kepercayaan diri dan dan bisa menggunakan kemampuannya untuk membangun ekonomi. Perlu diingat, koperasi merupakan perwujudan sistem ekonomi Pancasila yang berpihak kepada rakyat kecil. Kalau keadaan koperasi masih tersisihkan, korelasinya tentu kesejahteraan masyarakat, dalam hal ini anggota yang didominasi warga kelas bawah tetap tidak terangkat.

Daftar Pustaka Sumber Buku: Hatta, Mohammad. Kumpulan Karangan (II), Penerbitan dan Balai Buku Indonesia, Djakarta, 1957. Suleman, Zulfikri. Demokrasi untuk Indonesia: Pemikiran Politik Bung Hatta. Buku Kompas, Jakarta, 2010.

Sumber Internet: www.republika.co.id