Anda di halaman 1dari 26

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Persalinan premature adalah persalinan yang dimulai setiap saat setelah awal minggu gestasi ke-20 sampai akhir minggu gestasi ke-37 (Varney, 2007). Persalinan Preterm adalah persalinan yang terjadi pada kehamilan kurang dari 37 minggu (20-37 minggu) atau dengan berat janin kurang dari 2500 gram (Manuaba, 1999). Masalah utama dari persalinan premature adalah perawatan bayinya, semakin muda usia kehamilannya semakin besar morbiditas dan mortalitasnya. Persalinan premature adalah penyebab utama terjadinya morbiditas dan mortalitas neonatal di seluruh dunia, yaitu sebesar 60-80%. Di Indonesia angka morbitas pada premature mencapai 19% dan merupakan penyebab utama kematian perinatal. Apabila kelahiran di Indonesia diperkirakan sebanyak 5.000.000 orang pertahun, maka dapat diperhitungkan kematian bayi sebanyak 56/1000 KH, menjadi sebesar 280.000 per tahun. Dimana artinya sekitar 2,2-2,6 menit satu bayi meninggal (Dhina Novi Ariana, 2011). Penyebab kematian bayi premature antara lain Asfiksia (49-60%), infeksi (2434%), BBLR (15-20%), trauma persalinan (2-7%), dan cacat bawaan (1-3%) (Manuaba, 1999). Untuk mengukur derajat kesehatan suatu Negara, salah satunya dapat menggunakan nilai AKB (Angka Kematian Bayi). AKB adalah suatu nilai yang mengakumulasi jumlah kematian bayi yang terjadi pada suatu Negara persatuan waktu. Pada tahun 2009, menurut hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) AKB di Indonesia mencapai 31/1000 KH (Kelahiran Hidup). Menurut Millenium Development Goals (MDGs) ke-4 2015, target AKB suatu Negara adalah 17/1000 KH. Jadi Indonesia masih belum mencapai target tersebut 1.2 Tujuan a. Mengetahui definisi dari kehamilan prematur. b. Mengetahui etiologi dari kehamilan prematur.Mengetahui patofisiologi dari kehamilan prematur. c. Mengetahui WOC dari kehamilan prematur. d. Mengetahui manifestasi klinis dari kehamilan prematur. e. Mengetahui pemeriksaan diagnostik untuk kehamilan prematur. f. Mengetahui penatalaksanaan untuk kehamilan prematur. g. Mengetahui komplikasi dari kehamilan prematur. h. Mengetahui prognosis dari kehamilan prematur. i. Mengetahui asuhan keperawatan dari kehamilan prematur. 1.3 Manfaat a. Mahasiswa mampu memahami konsep dan proses keperawatan pada klien dengan kehamilan prematur. b. Mahasiswa mengetahui proses keperawatan yang benar sehingga dapat menjadi bekal dalam persiapan praktek di rumah sakit maupun di masyarakat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Persalinan Preterm adalah persalinan yang terjadi pada kehamilan kurang dari 37 minggu (20-37 minggu) atau dengan berat janin kurang dari 2500 gram (Manuaba, 1999). Partus Preterm, pada haid teratur, persalinan preterm dapat didefinisikan sebagai persalinan yang terjadi antara usia kehamilan 2037 minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir (HPHT). Persalinan Preterm adalah persalinan yang terjadi pada kehamilan kurang dari 37 minggu (20-37 minggu) atau dengan berat janin kurang dari 2500 gram (Manuaba, 1999). Masalah utama dari persalinan premature adalah perawatan bayinya, semakin muda usia kehamilannya semakin besar morbiditas dan mortalitasnya. 2.2 Etiologi Penyebab sekitar 50% kelahiran premature tidak diketahui. Namun, sepertiga persalinan premature terjadisetelah ketuban pecah dini (PROM). Komplikasi kehamilan lain, yang berhubungan dengan persalinan premature, meliputi kehamilan multi janin,hidramnion, serviks tidak kompeten, plasenta lepas secara premature dan infeksi tertentu (seperti, polinefritis dan korioamnionitis) (Andersen, Merkatz, 1990). a. KPD Menurut Wiknjosastro (2008) ketuban pecah dini ditandai dengan keluarnya cairan berupa air-air dari vagina setelah kehamilan berusia 22 minggu dan dapat dinyatakan pecah dini jika terjadi sebelum proses persalinan berlangsung. Dari sudut medis secara garis besar 50% persalinan preterm terjadi spontan, 30% akibat ketuban pecah dini (KPD), dan sisanya 20% dilahirkan atas indikasi ibu/ janin. Pecahnya kulit ketuban secara spontan sebelum kehamilan cukup bulan banyak dihubungkan dengan amnionitis yang menyebabkan terjadinya lokus minoris pada kulit ketuban. Amnionitis ini diduga sebagai dampak asendens infeksi saluran kemih. Ketuban pecah dini dapat disebabkan oleh berbagai hal seperti; serviks inkompeten, peningkatan tekanan intrauterin misalnya overdistensi uterus pd keadaan hidramnion, trauma, kelainan letak misalnya letak lintang sehingga tidak ada bagian terendah yang menutupi pintu atas panggul (PAP) yang dapat menghalangi tekanan terhadap membran bagian bawah (Kamisah: 2009). b. Infeksi Infeksi intrauterin meliputi korioamnionitis, infeksi intraamnion, amnionitis, merupakan infeksi akut pada cairan ketuban, janin dan selaput korion yang disebabkan oleh bakteri. Ada sekitar 25 % infeksi intrauterin disebabkan oleh ketuban pecah dini. Makin lama jarak antara ketuban pecah dengan persalinan, makin tinggi pula resiko morbiditas dan mortalitas ibu dan janin. Hal ini ditambah lagi dengan perubahan suasana vagina selama kehamilan yang menyebabkan turunnya pertahanan alamiah terhadap infeksi. Pada umumnya infeksi intrauterin merupakan infeksi yang menjalar keatas setelah ketuban pecah. Bakteri yang potensial patogen (aerob, anaerob) masuk kedalam air ketuban, diantaranya adalah (1) streptococcus golongan B, (2) Escherichia coli, (3) streptococcus

anaerob, dan (4) spesies bacteroides. Korioamnionitis dapat terjadi jauh sebelum persalinan memasuki fase aktif atau malahan sebelum trimester ketiga. Antara infeksi dan persalinan preterm terdapat interaksi: korioamnionitis-pembebasan prostaglandin-partus prematuruspembukaan serviks uteri-korioamnionitis. Setelah terjadi invasi mikroorganisme ke dalam cairan ketuban, janin akan terinfeksi karena janin menelan atau teraspirasi air ketuban, ditandai dengan terjadinya takikardi yaitu denyut jantung bayi > 160 kali permenit ( Cunningham et al, 2005). c. Kelainan Uterus Berdasarkan naskah dari American College of Obstetrician and Gynecologist (2001) inkompetensia serviks adalah peristiwa klinis berulang yang ditandai dengan dilatasi serviks yang berulang, persalinan spontan pada trimester II yang tidak didahului dengan KPD, perdarahan atau infeksi. Uterus yang tidak normal mengganggu resiko terjadinya abortus spontan dan persalinan preterm. Pada serviks inkompeten dimana serviks tidak dapat menahan kehamilan terjadi dilatasi serviks yang mengakibatkan kulit ketuban menonjol keluar pada trimester 2 dan awal trimester 3 dan kemudian pecah, yang biasanya diikuti oleh persalinan. Terdapat penelitian yang menyatakan bahwa risiko terjadinya persalinan preterm akan makin meningkat bila serviks < 30 mm, hal ini dikaitkan dengan makin mudahnya terjadi infeksi amnion bila serviks makin pendek (Jenny, 2008). d. Vaginosis Bakterialis Vaginosis bakterialis adalah sebuah kondisi ketika flora normal vagina predominan-laktobasilus yang menghasilkan hidrogen peroksida digantikan oleh bakteri anaerob Gardnerella vaginalis, spesies Mobiluncus, dan Mycoplasma hominis. Vaginosis bakterialis telah lama dikaitkan dengan kelahiran preterm spontan, ketuban pecah preterm, infeksi korion dan amnion, serta infeksi cairan amnion ( Cunningham et al, 2005). e. Komplikasi medis dan obstetri Beberapa komplikasi langsung dari kehamilan yaitu preeklampsia/eklamsia, ketuban pecah dini, perdarahan antepartum dan lain-lain. Keadaan tersebut dapat mengganggu kesehatan ibu dan pertumbuhan janin dalam kandungan sehingga meningkatkan resiko kelahiran bayi prematur. Preeklamsia/eklampsia pada ibu hamil mempunyai pengaruh langsung terhadap kualitas janin karena terjadi penurunan darah ke plasenta yang mengakibatkan janin kekurangan nutrisi sehingga terjadi gangguan pertumbuhan janin. Sedangkan, perdarahan antepartum yaitu keadaan perdarahan yang keluar dari vagina ibu hamil pada usia kehamilan lebih dari 28 minggu, dapat diakibatkan oleh dua hal yaitu plasenta previa (plasenta menutupi sebagian atau seluruh mulut rahim) dan solusio plasenta (plasenta terlepas dari tempat melekatnya) yang diakibatkan oleh suatu sebab seperti trauma/ kecelakaan dan tekanan darah tinggi, dapat mengancam nyawa ibu maupun janin sehingga meningkatkan indikasi untuk mengakhiri persalinan yang berdampak terjadinya persalinan preterm (Intan, 2010; Cunningham et al, 2005). Sekitar 28% kelahiran preterm diindikasikan disebabkan oleh

preeklampsia (43%), gawat janin (27%), pertumbuhan janin terhambat (10%), ablasio plasenta (7%), dan kematian janin (7%). Sekitar 72% disebabkan oleh persalinan preterm spontan dengan atau tanpa pecah ketuban. Sedangkan kehamilan ganda atau hidroamnion juga merupakan kausa dari kelahiran preterm akibat dari distensi uterus yang berlebihan. Usia kehamilan makin pendek pada kehamilan ganda, 25% bayi kembar 2, 50% bayi triplet, dan 75% bayi kuadriplet lahir 4 minggu sebelum kehamilan cukup bulan ( Cunningham et al, 2005). f. Penyakit sistemik kronis pada ibu: diabetes mellitus, penyakit jantung, hipertensi, penyakit ginjal dan paru kronis (Jenny, 2008). Factor resiko partus premature antara lain : a. Umur ibu Usia reproduksi yang optimal bagi seorang ibu adalah 20-35 tahun. Pada umur kurang dari 20 tahun, organ-organ reproduksi belum berfungsi dengan sempurna, rahim dan panggul ibu belum tumbuh mencapai ukuran dewasa sehingga bila terjadi kehamilan dan persalinan akan lebih mudah mengalami komplikasi dan pada usia lebih dari 35 tahun organ kandungan sudah tua sehingga jalan lahir telah kaku dan mudah terjadi komplikasi (Jenny, 2008). b. Paritas Paritas menunjukkan jumlah anak yang pernah dilahirkan oleh seorang wanita. Paritas merupakan faktor penting dalam menentukan nasib ibu dan janin baik selama kehamilan maupun selama persalinan. Pada ibu dengan primipara yaitu wanita yang melahirkan bayi hidup untuk pertama kalinya, maka kemungkinan terjadinya kelainan dan komplikasi cukup besar baik pada kekuatan his (power), jalan lahir (passage) dan kondisi janin (passager). Menurut sebuah penelitian Dewi Ana Sari dan Wewengkang Margaretha di Rumah Sakit WS Makassar tahun 2004-2005, persentase tertinggi karakteristik ibu dengan persalinan preterm adalah dengan paritas 0 atau primipara yaitu sebanyak 44,93%. c. Keadaan sosial ekonomi Sosial ekonomi masyarakat sering dinyatakan dengan pendapatan keluarga, mencerminkan kemampuan masyarakat dari segi ekonomi dalam memenuhi kebutuhan hidupnya termasuk kebutuhan dan kesehatan dan pemenuhan zat gizi. Selain itu juga sosial ekonomi seseorang mempengaruhi kemampuan ibu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai misalnya, kemampuan untuk melakukan kunjungan prenatal untuk memeriksakan keadaan janin, mengetahui ada atau tidaknya komplikasi kehamilan. Wanita pada tingkat sosial ekonomi (pekerjaan dan pendidikan) lebih rendah mempunyai kemungkinan 50% lebih tinggi mengalami persalinan kurang bulan dibandingkan dengan tingkat sosial ekonomi lebih tinggi. Frekuensi persalinan kurang bulan hampir 2 kali lipat pada buruh kasar dibandingkan dengan yang terpelajar (Jenny, 2008). d. Riwayat persalinan preterm sebelumnya Riwayat persalinan preterm dan abortus merupakan faktor yang sangat erat dengan persalinan preterm berikutnya. Risiko persalinan preterm berulang bagi mereka yang persalinan pertamanya preterm meningkat tiga kali lipat dibanding dengan wanita yang bayi pertamanya mencapai aterm dengan

persentase kemungkinan persalinan preterm berulang pada ibu hamil yang pernah mengalami 1 kali persalinan preterm sebesar 37%, sedangkan pada ibu yang pernah mengalami persalinan preterm 2 kali atau lebih mempunyai resiko 70% untuk mengalami persalinan preterm ( Cunningham et al, 2005). e. Faktor gaya hidup Perilaku seperti merokok, gizi buruk dan penambahan berat badan yang kurang baik selama kehamilan serta penggunaan obat seperti kokain atau alkohol telah dilaporkan memainkan peranan penting pada kejadian dan hasil akhir bayi dengan berat lahir rendah. Resiko kelahiran preterm meningkat, yaitu rata-rata dua kali lipat dari wanita bukan perokok, sedangkan resiko keguguran pada usia kehamilan antara minggu ke 28 sampai 1 minggu sebelum persalinan empat kali lebih tinggi dari yang bukan perokok ( Cunningham et al, 2005). 2.3 Manifestasi klinis Selain kontraksi uterus yang reguler baik nyeri atau tidak terasa nyeri, gejala-gejala seperti tekanan pada panggul (pelvis), kram seperti saat menstruasi, perubahan discharge vagina (cair atau berdarah), dan nyeri punggung bawah secara empiris berkaitan dengan kelahiran preterm. (Cunningham et al, 2005) 2.4 Patofisiologi Drife dan Magowan menyatakan bahwa 35% persalinan preterm terjadi tanpa diketahui penyebab yang jelas, 30% akibat persalinan elektif, 10% terjadi pada kehamilan ganda, dan sebagian lain sebagai akibat kondisi ibu atau janinnya. a. Infeksi Menurut Cunningham et al (2005) proses patogenesis persalinan diawali dengan Invasi bakteri yang akan mengawali aktivasi fosfolipase A2 yang memecah asam arakidonat dari selaput amnion janin, sehingga asam arakidonat bebas meningkat untuk sintesis prostaglandin. Endotoksin didalam air ketuban kemudian merangsang sel desidua untuk menghasilkan sitokin dan prostaglandin yang dapat menginisiasi proses persalinan. Proses persalinan preterm yang dikaitkan dengan infeksi diperkirakan diawali dengan pengeluaran produk sebagai hasil dari aktivasi monosit. Berbagai sitokin, termasuk interleukin-1, tumor necrosing factor (TNF-), dan interleukin-6 adalah produk sekretorik yang dikaitkan dengan persalinan preterm. Sementara itu, platelet activating factor (PAF) yang ditemukan dalam air ketuban terlibat secara sinergik pada aktivasi sitokin tadi. PAF juga diduga dihasilkan dari paru dan ginjal janin. Dengan demikian janin memainkan peran yang sinergik dalam mengawali proses persalinan preterm yang disebabkan oleh infeksi. Bakteri sendiri mungkin menyebabkan kerusakan membran lewat pengaruh langsung dari protease. b. Vaginosis Bakterial Vaginosis bakterial adalah bukan keadaan infeksi namun adalah suatu keadaan dimana flora vagina normal (laktobasilus penghasil hidrogen peroksida) diganti dengan kuman-kuman anaerobik meliputi Gardnerella

vaginalis, spesies Mobiluncus dan Mycoplasma hominis ( Cunningham et al 2005; Wiknjosastro 2008). Menurut Cunningham et al (2005) data dari penelitian hewan, in vitro dan manusia seluruhnya memberikan gambaran yang konsisten bagaimana infeksi bakteri menyebabkan persalinan prematur spontan. Invasi bakteri rongga koriodesidua, yang bekerja melepaskan endotoksin dan eksotoksin, mengaktivasi desidua dan membran janin untuk menghasilkan sejumlah sitokin, termasuk tumor necrosing factor (TNF-), interleukin-1, interleukin-1, interleukin-6, interleukin-8, dan granulocyte colonystimulating factor. Selanjutnya, sitokin, endotoksin, dan eksotoksin merangsang sintesis prostaglandin dan pelepasan dan juga mengawali neutrophil chemotaxis, infiltrasi, dan aktivasi, yang memuncak dalam sistesis dan pelepasan metalloprotease dan zat bioaktif lainnya. Prostaglandin merangsang kontraksi uterus sedangkan metalloprotease menyerang membran korioamnion yang menyebabkan pecah ketuban. Metalloprotease juga meremodeling kolagen dalam serviks dan melembutkannya. Jalur yang lain mungkin memiliki peranan yang sama baik. Sebagai contoh, prostaglandin dehydrogenase dalam jaringan korionik menginaktivasi prostaglandin yang dihasilkan dalam amnion yang mencegahnya mencapai miometrium dan menyebabkan kontraksi. Infeksi korionik menurunkan aktivitas dehidrogenase ini yang memungkinkan peningkatan kuantitas prostaglandin untuk mencapai miometrium. Jalur lain dimana infeksi menyebabkan persalinan prematur melibatkan janin itu sendiri. Pada janin dengan infeksi, peningkatan hipotalamus fetus dan produksi corticotropinreleasing hormone (CRH) menyebabkan meningkatnya sekresi kortikotropin janin, yang kembali meningkatkan produksi kortisol adrenal fetus. Meningkatnya sekresi kortisol menyebabkan meningkatnya produksi prostaglandin. Juga, ketika fetus itu sendiri terinfeksi, produksi sitokin fetus meningkat dan waktu untuk persalinan jelas berkurang. Namun, kontribusi relatif kompartemen maternal dan fetal terhadap respon peradangan keseluruhan tidak diketahui.

Adopted from: Lockwood CJ, Kuczynski E. Risk stratification and pathological mechanisms in preterm delivery. Paediatr Perinat Epidemiol. 2001;15 Suppl 2:78-89.

2.5 WOC (Web of Caution) Terlampir. 2.6 Pemeriksaan diagnostic a. Sediaan apus Vagina dan Serviks b. Urin Rutin dan Kultur c. Ultrasonografi Pengkajian Gestasi (dengan berat badan janin 500 2500 gram) 2.7 Penatalaksanaan a. Pertimbangan Penatalaksanaan Obstetri/ perinatal Apabila usaha untuk mempertahankan kehamilan sesuai usia kehamilan normal sudah tidak memungkinkan untuk dilakukan lagi. Maka solusi yang ada adalah mengambil jalan terminai kehamilan, atau melakukan partus preterm. Sebelum melakukan jalan terminasi partus preterm, ada beberapa pertanyaan yang harus menjadi pertimbangan, antara lain: 1) Berapa besar kemampuan klinik untuk menjaga kehidupan bayi preterm? 2) Berapa besar peluang/ kemungkinan hidup bayi dengan berat lahir dan usia gestasi tersebut? 3) Bagaimana persalinan akan dilakukan?pervaginam atau perabdominam (Sectio Cesarea)? 4) Komplikasi apa yang mungkin timbul? Apakah alat / sarana / kemampuan yang ada memadai?

5) Bagaimana pertimbangan dari pihak pasien / keluarga, tentang kemungkinan keadaan bayi yang kurang baik, konsekuensi perawatan bayi premature yang lama dan berat, dan sebagainya? b. Penatalaksanaan medic kasus yang terjadi pada usia kehamilan belum cukup bulan dengan adanya resiko partus premature : 1) Infeksi Untuk menangani terjadinya infeksi pada ibu hamil dilakukan terapi farmakologi dengan antibiotika spectrum luas dosis tinggi. Demam/ hiperpireksia yang terjadi pada ibu juga harus mendapat perhatian untuk di intervensi, sebab hiperpireksia dapat berakibat buruk pada sirkulasi janin. 2) Kontraksi Kontraksi yang beresiko untuk terjadi nya persalinan preterm adalah kontraksi (HIS) yang terjadi dengan frekuensi 3-4 kali perjam.dalam 48 jam menjelang terjadinya partus kontraksi (HIS) akan meningkat sampai 2-4 kali tiap 10 menit dengan intensitas yang makin kuat, semakin lama frekuensi kontraksi akan makin meningkat. Apabila kontraksi terjadi sebelum usia kehamilan cukup bulan, maka diberikan intervensi tokolisis agar partus tidak terjadi terlalu dini, dengan cara memberikan obat-obatan beta agonis (misalnya salbutamol, terbutalin), sambil terus mengawasi keadaan ibu dan keadaan janin. Pengobatan dapat diberikan dengan IV, kemudian dilanjutkan dengan per-oral bila pasien pulang. Bila kontraksi hilang pemberian tokolisis dihentikan. 3) Pemicu pematangan paru janin Apabila partus preterm tidak dapat dihindari, sedangkan usia janin masih belum cukup bulan, maka ada kemungkinan paru-paru janin belum berkembang dengan benar. Maka untuk melakukan akselerasi pematangan paru janin dapat diberikan preparat kortikosteroid (misalnya deksamtason, betametason) yang akan menstimulasi produksi dan sekresi surfaktan di paru janin. Ideal pemberian terapi farmako ini minimal selama 2 x 24 jam. c. Metode yang digunakan untuk menghentikan kontraksi pada partus preterm Usaha untuk menghentikan partus preterm termasuk sulit untuk dilakukan, dan seringkali tidak efektif. Sehingga terdapat beberapa cara untuk menghambat terjadinya partus preterm. 1) Tirah baring Dengan ibu melakukan tirah baring posisi tubuhnya nyaman. Keberhasilan intervensi ini diperkirakan pada perasaan tentram pada diri ibu. 2) Magnesium Sulfat Peranan magnesium diperkirakan terletak pada sifat antagonisnya terhadap kalsium. Untuk menghindari intoksikasi oleh magnesium sulfat maka harus diperhatikan reflek patella tetap ada dan depresi respiratori. 3) Preparat agonis - adrenergic a) Isoksuprin

Preparat ini kurang begitu efektif dan bisa menimbulkan efek samping yitu takikardia dan hipotensi b) Ritodrin Merupakan obat satu-satunya yang mempunyai indikasi spesifik adalah untuk menghentikan persalinan preterm. c) Terbutalin Digunakan untuk menghentikan persalinan preterm dengan cara menghambat kontraksi miometrium. d) Fenoterol. Secara structural menyerupai ritodrin 4) Terapi Kombinasi Dari hasil penelitian beberapa ahli, terapi ritodrin dengan magnesium sulfat memberikan efek yang lebih ampuh dari pada satu obat saja. 5) Anti prostaglandin Preparat ini bekerja dengan menghambat kerja prostaglandin pada organ sasaran. 6) Preparat penghambat saluran kalsium 7) Narkotik dan sedative d. Penanganan partus preterm 1) Penanganan umum a) Lakukan evaluasi cepat keadaan ibu. b) Upayakan melakukan konfirmasi umur kehamilan bayi. 2) Prinsip penanganan a) Coba hentikan kontraksi uterus atau penundaan kehamilan, atau b) Persalinan berjalan teru dan siapkan penanganan selanjutnya. (Saifuddin, 2002) 3) Penanganan partus preterm Kelahiran harus dilakukan secara hati-hati dan perlahan-lahan untuk menghindari kompresi dan dekompresi kepala secara cepat. Oksigen diberikan lewat masker kepada ibu selama kelahiran. Ketuban tidak boleh dipecah secara artificial. Kantong ketuban berguna sebagai bantal bagi tengkorak prematur yang lunak dengan sutura-suturanya yang masih terpisah lebar. Epistomi mengurang tekanan pada cranium bayi. Forceps rendah dapat membentu dilatasi bagian lunak jalan lahir dan mengarahkan kepala bayi lewat perineum. Pada letak sungsang dengan partus preterm ekstraksi bokong tidak boleh dilakukan. Bahaya tambahan pada partus preterm adalah bahwa bokong tidak dapat menghasilkan pelebaran jalan lahir yang cukup untuk menyediakan ruang bagi kepala bayi yang relative besar. Kelahiran prespitatus san yang tidak ditolong berbahaya bagi bayi-bayi prematur. Seorang ahli neonates harus hadir pada saat kelahiran (Oxorn, 2003). 2.8 Komplikasi Komplikasi yang sering terjadi pada kejadian partus preterm pada neonates adalah adanya Sindroma Gawat Nafas. Sindroma Gawat Nafas merupakan komplikasi yang paling sering pada persalinan preterm. Insidennya lebih baik dengan adanya terapi yang lebih baru. Sindroma gawat nafas memegang peranan penting terhadap beberapa kondisi lain, seperti : a. Perdarahan Intra Ventrikuler b. Enterokolitis Nekotizing

c. Hipertensi Pulmonal Persisten d. Efek Samping pernafasan lainnya 2.9 Prognosis Saat ini kejadian partus prematur semakin sering terjadi, dimana keadaan ini berkaitan erat dengan morbiditas dan mortalitas bayi. Sebagian bayi yang meninggal pada 28 hari pertama memiliki bobot yang kurang dari 2500 gram pada saat lahir. Anoksia 12 kali lebih sering terjadi pada bayi-bayi prematur. Gangguan respirasi menyebabkan 44% kematian yang terjadi pada umur kurang dari 1 bulan. Jika berat badan bayi kurang dari1000 gram, angka mortalitas meningkat menjadi 74%. Karena lunaknya tulang kranialis dan immaturitas jaringan otak, bayi prematur lebih rentan terhadap kompresi kepala. Pada pusat pelayanan yang maju dengan fasilitas yang optimal, bayi yang lahir dengan berat 2000-2500 gram mempunyai harapan hidup lebih dari 97%, 1500-2000 gram lebih dari 90%, dan 1000-1500 gram sebesar 65-80%.

10

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN 3.1 Pengkajian a. Identitas klien : nama, umur, ras, gravida, alamat, dan nomor telepon, agama,status perkawinan, pekerjaan, dan tanggal anamnesis. b. Keluhan Utama : Untuk mengetahui keluhan yang dirasakan saat pemeriksaan serta berhubungan dengan persalinan. Pada kasus ibu hamil dengan partus prematurus keluhannya meliputi mules yang berulang pada usia kehamilan 20-37 minggu, keluar lendir bercampur darah, kram seperti menstruasi, nyeri punggung bawah, tekanan panggul yang terasa seperti bayi mendorong kebawah, cairan encer yang keluar dari vagina (Winkjosastro, 2010) c. Alasan datang : alasan wanita datang ke tempat bidan/klinik, yang diungkapkan dengan kata kata sendiri. d. Riwayat kehamilan sekarang : Tanggal dan jam terjadinya kontraksi, bentuk kontraksi, faktor pencetus terjadinya kontraksi, gejala lain yang berhubungan, hubungan fungsi tubuh dan aktifitas, bantuan kesehatan yang dilakukan dan dari siapa, penyuluhan yang pernah didapat, dan khekawatiran terhadap letak bayi. Pada ibu hamil dengan partus premature biasanya mempunyai riwayat kehamilan ganda, hidramnion, preeklampsia, perdarahan antepartum seperti solusio plasenta, plasenta previa, pecahnya sinus marginalis, ketuban pecah dini, serviks inkompetensia, infeksi pada vagina asenden (Nugroho, 2010). e. Riwayat kesehatan masa lalu. 1) Penyakit waktu kecil dan imunisasi. 2) Tes laboratorium akhir-akhir ini terhadap penyakit infeksi. 3) Penyakit berat misal pneumonia, hepatitis, damam rematik, difteri, dan polio. 4) Masuk rumha sakit. 5) Kecelakaan : fraktur, luka, dan lain lain. 6) Transfusi darah. 7) Kebiasan : pengguanaan alkohol,merokok 8) Pola tidur. 9) Diet. 10) Aktifitas. 11) Resiko dalam pekerjaan :posisi, tarikan, ventilasi, paparan racun kimiawi. 12) Penyakit spesifik. 13) Pengobatan yang didapat f. Riwayat keluarga. 1) Usia ayah dan ibu, juga statusnya. 2) Adakah anggota keluarga yang pernah mengalami gangguan persalinan yang sama. g. Riwayat mestruasi 1) Umur menarche. 2) Frekuensi, jarak/siklus jika normal. 3) Lamanya. 4) HPHT, lama dan jumlah normalnya.

11

h.

i.

j. k.

l.

m.

n.

5) Disminore. 6) Perdarahan uterus disfungsional, misalnya spotting, menoragia, dan lain-laian. Riwayat Obstetri. 1) Gravida/para 2) Tipe golongan darah (ABO dan Rh) 3) Kehamilan yang lalu : Tanggal terminasi, Usia genital, Tempat lahir, Masalah obstetrik, medis dan sosial yang lain, dalam kehamilan, dalam persalinan. Riwayat ginekologi 1) Infeksi vagina. 2) Penyakit menular seksual Riwayat seksual : Pola hubungan seksual, rekuensi berhubungan, dan masalah seksual lainya. Riwayat pernikahan. 1) Nikah atau tidak. 2) Berapa kali menikah. 3) Berapa lama menikah. Kalau orang hamil sudah lama menikah, nilai anak tentu besar sekali dan harus diperhitungkan dalam pimpinan persalinan. Pada ibu hamil dengan PARTUS PREMATUR terjadi 15% terjadi persalinan prematur pada kawin tidak sah (Nugroho, 2010). Pada ibu hamil dengan PARTUS PREMATUR terjadi 15% terjadi persalinan prematur pada kawin tidak sah (Nugroho, 2010). Riwayat keluarga berencana. Untuk mengetahui apakah pasien pernah ikut KB dengan kontrasepsi jenis apa, berapa lama, adakah keluhan selama menggunakan kontrasepsi dan apakah ada kegagalan dalam menjalankan program berKB (Sutjiati, 2010). Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu 1) Kehamilan. Untuk mengetahui berapa umur kehamilan, bagaimana letak janin dan berapa tinggi fundus uteri, apakah sesuai dengan umur kehamilan atau tidak. Pada ibu dengan PARTUS PREMATUR adanya riwayat abortus berulang dan perawatan prenatal care yang buruk (Wiknjsastro, 2010). 2) Persalinan. Spontan atau buatan, lahir aterm atau prematur, ada atau tidak perdarahan, waktu persalinan ditolong oleh siapa, dimana tempat melahirkan, ada atau tidak riwayat persalinan prematur sebelumnya. Pada ibu hamil dengan PARTUS PREMATUR memiliki riwayat abortus pada trimester II lebih dari 1 kali, riwayat persalinan preterm sebelumnya, operasi abdominal pada kehamilan preterm (Nugroho, 2010) 3) Nifas. Apakah ada luka episiotomi atau robekan jalan lahir yang telah dijahit. 4) Anak. Jenis kelamin, hidup atau mati, kalau sudah meninggal pada usia berapa dan sebab meninggal, berat badan dan panjang badan waktu lahir. Pola kebiasaan sehari-hari Pola kebiasaan seharihari yang perlu dikaji adalah :

12

1) Pola nutrisi. Makan teratur 3 kali sehari, 1 piring nasi, lauk, sayur dan buah, minum kurang lebih 8 gelas per hari, susu, teh dan air putih. Pada ibu yang kurang gizi dapat mempengaruhi terjadinya partus premature (Nugroho, 2010). 2) Pola Aktivitas. Apa aktivitas sehari-hari yang dilakukan ibu. Pada ibu hamil dengan PARTUS PREMATUR baianya melakukan pekerjaan yang terlalu berat (Nugroho, 2010). 3) Pola Seksual. Untuk mengetahui apakah hubungan seksual berlangsung dengan normal dan ada keluhan atau tidak. Pada ibu dengan PARTUS PREMATUR biasanya frekuensi hubungan seksual berlebihan terutama pada usia kehamilan tua dan dengan posisi yang tidak aman 4) Pola eliminasi. Untuk mengetahui frekuensi BAB dan BAK serta output cairan. Pada ibu hamil dengan PARTUS PREMATUR biasanya disebabkan oleh adanya infeksi saluran kemih atau bakterinuria ( Wiknjosasttro, 2010). 5) Perokok dan pemakai obat-obatan. Untuk mengetahui apakah ada kebiasaan merokok dan mengkonsumsi obat-obatan serta alkohol. Pada ibu dengan PARTUS PREMATUR biasanya perokok berat atau lebih dari 10 batang/hari (Wiknjsastro, 2010). 3.2 Pemeriksaan fisik a. Pemeriksaan umum 1) Keadaan umum. Untuk mengetahui keadaan umum ibu apakah baik, sedang atau buruk. 2) Kesadaran. Untuk mengetahui tingkat kesadaran yaitu composmentis, apatis, samnolen, atau koma. Normalnya kesadaran composmentis 3) Tekanan darah. Untuk mengetahui tekanan darah ibu, normal tekanan darah adalah 120/80 mmHg. Pada ibu hamil dengan PARTUS PREMATUR biasanya mengalami anemia selama kehamilannya (Nugroho, 2010). 4) Suhu. Apakah ada peningkatan suhu atau tidak. Normalnya suhu tubuh adalah 35,6 0 C 37,60C . pada ibu dengan PARTUS PREMATUR adanya demam yang akut (Oxorn, 2010). 5) Denyut nadi. Untuk mengetahui nadi pasien yang dihitung dalam menit. Batas normal 60-100x/menit. 6) Respirasi. Untuk mengetahui frekuensi pernafasan yang dihitung dalam 1 menit. Batas normal dalam 1 menit adalah 16-24 x/menit 7) Berat badan. Untuk mengetahui adanya kenaikan berat badan selama hamil. Penambahan berat badan rata-rata 0,3-0,5 kg/ minggu. Tetapi nilai normal untuk penambahan berat badan selama kehamilan 9-12 kg 8) Tinggi badan. Untuk mengetahui tinggi badan ibu hamil, kurang dari 145 cm atau tidak, termasuk resiko tinggi atau tidak 9) Lila. Untuk mengetahui lingkar lengan atas ibu, normalnya 23,5 cm b. Pemeriksaan fisik 1) Kepala a) Rambut : Untuk menilai warna, ketebalan, distribusi merata atau tidak.

13

b) Muka : Keadaan muka pucat atau tidak, adakah kelainan atau tidak, adakah oedema atau tidak. c) Mata : Conjungtiva warna pucat atau kemerahan, skelera putih atau tidak d) Hidung : Untuk mengetahui ada tidaknya polip e) Telinga: Bagaimana keadaan daun telinga, liang telinga, bentuk telinga, dan posisinya f) Mulut : Untuk mengetahui apakah mulut bersih dan kering, ada carries, dan karang gigi atau tidak 2) Leher : Untuk mengetahui apakah ada pembesaran vena juguluris, pembesaran kelenjar limfe dan tyroid 3) Dada dan axilla a) Mamae: Untuk mengetahui bentuk payudara dan pigmentasi puting, puting susu menonjol, benjolan abnormal dan kolostrum b) Axilla : Adakah tumor atau benjolan, adakah nyeri tekan atau tidak 4) Ekstremitas : Untuk mengetahui apakah ada oedema atau tidak, terdapat varicess atau tidak, reflex patella + / -. c. Pemeriksaan khusus obstetric 1) Inspeksi. Untuk mengetahui pembesaran perut sesuai usia kehamilan, bentuk abdomen, linea alba / nigra, striae albkan / lividae, kelainan dan pergerakan janin. 2) Palpasi 1) Tinggi fundus uteri. Untuk mengetahui TFU dengan cara menggunakan pita ukur, dilakukan pengukuran dengan menempatkan ujung pita ukur pada tepi atas sympisis pubis dan tetap menjaga pita ukur agar tetap menempel pada dinding abdomen da diukur jaraknya kebagian atas fundus uteri. Pada ibu hamil dengan PARTUS PREMATUR tinggi fundus uteri pada usia kehamilan 20 minggu sepusat atau 16-18 cm, usia kehamilan 28 minggu 24-26 cm, usia kehamilan 32 minggu 28-30 cm, usia kehamilan 36 minggu 32-34 cm. Leopold I : Menentukan TFU dan bagian apa yang terdapat pada fundus ibu Leopod II : Menentukan apa yang terdapat disebelah kanan dan kiri perut ibu Leopold III : Menentukan bagian apa yang terdapat dibawah perut ibu dan apakah sudah masuk PAP atau belum Leopold IV : Menentukan seberapa jauh bagian terendah janin masuk PAP (pada primipara masuk PAP pada usia kehamilan 36 minggu dan pada multipara saat persalinan) HIS / Kontraksi Untuk mengkaji frekuensi, lamanya dan kekuatan kontraksi. Pada ibu dengan partus prematurus iminens terjadinya kontraksi uterus yang teratur dengan jarak 7-8 menitatau kurang atau 2-3 kali dalam waktu 10 menit sekali atau 1-2 kali (Wiknjosastro, 2010) Tafsiran berat

14

Untuk memperkirakan berat badan janin. Pada ibu dengan partus prematurus iminens tafsiran berat janin adalah < 2500 gram. d. Pemeriksaan dalam anogenital 1) Vulva/vagina. Untuk mengetahui adakah edema, varises, luka, kemerahan atau tidak, pembesaran kelenjar bartolini, ada pengeluarann pervaginam atau tidak, ada pembukaan atau tidak, penipisan, presentasi, selaput ketuban masih utuh atau tidak dan sudah sejauh mana penurunan kepala. Pada ibu hamil dengan PARTUS PREMATUR adanya pengeluaran lendir kemerahan atau cairan pervaginam. Pada pemeriksaan dalam, pendataran 50-80 % atau lebih, pembukaan 2cm atau lebih (Saefuddin, 2009). 2) Perineum. Untuk mengetahui ada bekas luka atau tidak, ada keluhan atau tidak 3) Anus. Untuk mengetahui ada hemoroid atau tidak, ada kelainan atau tidak. 4) Pemeriksaan penunjang. Dilakukan untuk mendukung penegakan diagnosa. Pada kasus partus prematurus imminens data yang diperlukan adalah berupa USG (tebal serviks 2 cm), keadaan air ketuban, CTG (kesejahteraan janin), CRP (> 0,7 mg / ml ), leokosit dalam air ketuban (20 / ml atau lebih), leukosit dalam serum ibu (>13.000 / ml), kultur urine, pemeriksaan gas dan pH darah janin. e. Pemeriksaan diagnostic 1) Ultrasonografi adalah termasuk pengkajian getasi (dengan berat badan janin 500 sampai 2500 gram). 2) Tes nitrazin. Tergantung dari jumlah sel darah putih, jika mengalami peningkatan, maka itu menandakan adanya infeksi amniosentesis yaitu radio lesitin terhadap sfingomielin (L/S) mendeteksi fofatidigliserol (PG) untuk maturitas paru janin, atau infeksi amnioti. 3) Pemantauan elektronik. Memfalidasi aktifitas uterus / status janin. f. Pemeriksaan penunjang. 1) Pemeriksaan laboratorium. Untuk mengetahui kdar protein dan glukosanya, diperika darahnya untuk mngetahui faktor rhesus, golongan darah, Hb, dan penyakit rubella. 2) Pemeriksaan rontgen. Pemeriksaan rontgen baiknya dilakukan pada kehamilan yang sudah agak lanjut karena akan memperngharuhi sinar rontgen. 3) Pemeriksaan USG. Mendiagnosis adanya keabnormalan pada uterus dan pelvis selama kehamilan, diagnosis malformasi janin, untuk mengevaluasi pergerakan janin dan DJJ, dan untuk mngetahui posisi plasenta. 3.3 Diagnosa keperawatan a. Nyeri berhubungan dengan intensitas kontraksi uterus. b. Ansietas berhubungan dengan tidak adanya kemajuan, perasaan gagal, dan kebutuhan akan induksi persalinan. c. Resti cedera janin berhubungan dengan hipoksia 3.4 Intervensi keperawatan a. Diagnose : Nyeri berhubungan dengan intensitas kontraksi uterus.

15

Tujuan : Setelah dilakukan tinfakankeperawatan selama 1x 24 jam dapat menghilangkan nyeri. Kriteria hasil : 1) Tidak terjadi kontraksi Intervensi 1. Berikan agen tokolitik 2. Anjurkan klien untuk menggunakan teknk relaksasi. 3. Tinjau kembali teknik pernapasan. 4. Anjurkan perubahan posisi. 5. Lakukan tindakan untuk mengupayakan kenyamanan. 6. Upayakan lingkungan yang tenang. Kriteria hasil 1. Dengan pemberian agen tokolitik dapat mengurangi kontaksi dan menghilangkan nyeri 2. Teknik relaksasi dapat memberikan kenyamanan pada klien. 3. Teknik pernapasan juga dapat memberkan kenyamanan pada klien. 4. Perubahan posisi dapat lingkungan yang nyaman dan tenang. 5. Kenyamanan dapat mengurangi rasa nyeri yang dirasakan oleh klien. 6. Lingkungan yang tenang dapat meningkatkan koping terhadap nyeri.

b. Diagnose : Ansietas berhubungan dengan tidak adanya kemajuan, perasaan gagal, dan kebutuhan akan induksi persalinan. Tujuan : Setelah dilakukan asuhan selama 1x 24 jam ansietas teratasi. Criteria hasil : 1) Ketakutan dan ansietas tentang serangan vertigo berkurang atau hilang 2) Mencapai pengetahuan dan keterampilan untuk berkompromi dengan vertigo. 3) Merasakan berkurangnya ketegangan, ansietas dan ketidakpastian. 4) Klien mampu memanfaatkan teknik manajemen stres bila diperlukan. 5) Klien mampu menghindari peristiwa yang menjengkelkan. 6) Klien mampu mengulangi instruksi yang diberikan dan menyebutkan pemahaman mengenai penanganan.

Intervensi

Rasional

16

1. Bantu pasien mengidentifikasi keterampilan koping yang telah dilakukan dengan berhasil pada masa lalu.

2.

Beri informasi mengenai vertigo dan penanganannya.

1. Memandukan intervensi terapeutik dan partisipatif dalam perawatan diri, keterampilan koping pada masa lalu dapat mengurangi ansietas. 2. Meningkatkan pengetahuan membantu mengurangi ansietas. 3. Meningkatkan kesadaran dan pemahaman hubungan antara tingkat antietas dan perilaku. 4. Memperbaiki manajemen stress, mengurangi frekwensi dan beratnya serangan fertigo. 5. Situasi penuh stress dapat memperberat gejala kondisi ini. 6. pengetahuan pasien membantu mengurangi ansietas.

3. Dorong pasien mendiskusikan ansietas dan gali keprihatinan mengenai serangan vertigo. 4. Ajarkan pasien teknik penatalaksanaan stress atau lakukan rujukan bila perluh. 5. Beri upaya kenyamanan dan hindari aktivitas yang menyebebkan stress. 6. Instruksikan pasien dalam aspek program pengobatan.

c. Diagnosa : Resti cedera janin berhubungan dengan resiko ARDS. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x 24 jam tidak terjadi ARDS. Criteria hasil : 1) Janin yang meragukan tidak akan terjadi. 2) Bayi akan lahir dengan selamat Intervensi Rasional

1. Kaji reaksi denyut jantung Pengkajian akan menentukan (DJJ) terhadap kontraksi kesejahteraan janin, ARDS untuk mendeteksi deselerasi dicegah atau diatasi. atau bradikardi. 2. Jika status janin meragukan, a. Atur posisi maggie miring ke samping. b. Hentikan pemberian oksitosin. c. Tingkatkan IV rumatan. d. Berikan oksigen dan beri tahu dokter.

17

3.5 Kasus Ny. D berumur 23 tahun adalah seorang primigravida yang bekerja sebagai buruh tekstil.. Ia datang ke rumah sakit bersalin Kasih Bunda pada tanggal 14 Maret 2014 pukul 19.00 WIB ditemani oleh suaminya. Saat datang, Ny D mengeluhkan rasa mulas seperti ingin buang air besar dan juga nyeri pada bagian punggung bawah serta terasa keluar cairan seperti lendir yang bercampur darah. Usia kehamilan klien ini baru menginjak 29 minggu. Saat melakukan pemeriksaan kehamilan dulu didapatkan hasil bahwa Ny. D mempunyai riwayat pre-eklamsia dan diabetes saat hamil. Selain itu, dari hasil pemeriksaan fisik juga didapatkan bahwa kaki klien mengalami pembengkakan. Klien mengatakan takut dan cemas mengenai kondisi kandungannya. PENGKAJIAN 1) Anamnesa A. Identitas klien : Nama istri: Ny. D Nama Suami : Tn. B Umur : 23 tahun Umur : 27 tahun Agama : Islam Agama : Islam Ras : Jawa Ras : Jawa Alamat : Mulyorejo Alamat : Mulyorejo Pendidikan: SMA Pendidikan : SMA Pekerjaan : buruh tekstil Pekerjaan : Wiraswasta Gravida : ke-1 Tanggal anamnesis: 14 Maret 2014 pukul 19.00 WIB B. Keluhan Utama Ibu mengeluhkan rasa mulas seperti ingin buang air besar dan juga nyeri pada bagian punggung bawah serta terasa keluar cairan seperti lendir yang bercampur darah.
C. Alasan datang :

Ibu hamil anak pertama dan usia kehamilannya baru 29 minggu. Akan tetapi, saat ini terasa keluar lender bercampur darah dari vaginanya D. Riwayat kehamilan sekarang. Ibu mengalami kontraksi sejak pukul 17.30 dengan ritme yang tidak teratur dan semakin lama kontraksi semakin kuat. Saat awal terjadinya kontraksi ini ibu sedang berada di dapur dan menyiapkan makan malam untuk suami. Setelah itu, Ny. D mengatakan hal tersebut kepada suaminya dan oleh suaminya langsung dibawa ke rumah sakit. Ny. D rutin memeriksakan kehamilannya kepada bidan puskesmas. Dan dari kartu kehamilan didapatkan bahwa Ny. D memiliki riwayat pre-eklamsia dan diabetes saat hamil.
E. Riwayat kesehatan masa lalu.

1) Penyakit waktu kecil dan imunisasi : Ny. D melakukan imunisasi lengkap dan juga sudah melakukan imunisasi TT sebelum hamil. Klien tidak memiliki riwayat penyakit kronis hanya batuk pilek saja dan belum pernah MRS. 2) Tes laboratorium : tidak ditemukan infeksi 3) Penyakit berat : tidak ditemukan penyakit berat.

18

4) Kecelakaan : tidak ditemukan 5) Transfusi darah : golongan darah klien adalah A dan klien tidak pernah melakukan kegiatan donor darah 6) Kebiasan : klien bukan pengguna alkohol maupun perokok 7) Pola tidur : sejak hamil klien biasa tidur mulai pukul 21.00 04.30 dan tidak mengalami gangguan pola tidur yang berarti. 8) Diet : sejak didiagnosa mengalami pre- eklamsia, bidan meminta Ny. D untuk membatasi asupan lemak dan juga natrium (garam) karena terjadi pembengkakan di kaki. 9) Aktifitas : aktifitas Ny. D tergolong berat sebagai buruh tekstil. 10) Resiko dalam pekerjaan : kelelahan F. Riwayat keluarga. Tidak ada anggota keluarga yang mengalami kejadian partus prematur/ riwayat sakit tertentu. G. Riwayat mestruasi a. Umur menarche : 13 tahun b. Siklus : 28 hari c. Lamanya : 6-7 hari d. Frekuensi : teratur e. Sifat darah : encer f. Disminorhoe : tidak g. Banyaknya : 2 x ganti pembalut h. HPHT : 28 September 2013.
H. Riwayat Obstetri.

I. J.

K.

L.

M.

a. Gravida/para : primigravida b. Tipe golongan darah : A dengan Rhesus + c. Kehamilan yang lalu : - (kehamilan pertama) Riwayat ginekologi Tidak ditemukan riwayat Riwayat seksual. Klien dan suami mengatakan bahwa selama ini frekuensi berhubungan dalam seminggu adalah 2x. Riwayat pernikahan 1) Kawin : Iya 1x dengan suami sekarang 2) Usia kawin pertama : 21 th 3) Lamanya perkawinan 2 th Riwayat keluarga berencana Klien sejak awal tidak merencanakan program KB bersama suaminya karena mereka ingin cepat mempunyai anak. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu 1. Kehamilan Ini merupakan kehamilan pertama klien dengan keterangan sebagai berikut: HPHT klien adalah pada tanggal 28 September 2013, maka saat ini usia kehamilan klien adalah 29 minggu. Berdasarkan kartu kehamilan, letak janin normal (membujur). Sementara itu, tinggi fundus uteri ibu adalah 25,5cm. 2. Persalinan

19

Klien belum pernah mengalami persalinan ataupun abortus sebelumnya. 3. Nifas Tidak ada bekas apapun karena klien sebelumnya belum pernah melahirkan. N. Pola kebiasaan sehari-hari Pola kebiasaan seharihari yang perlu dikaji adalah : a. Pola nutrisi Klien makan 3x sehari, porsi sedang (makan hanya seadanya) b. Pola Aktivitas Aktifitas ibu tergolong berat yakni sebagai buruh tekstil. c. Pola Seksual Klien dan suami mengatakan bahwa selama ini frekuensi berhubungan dalam seminggu adalah 2x dengan posisi yang tidak disarankan. d. Pola eliminasi pola BAB : 1-2x sehari, pola BAK : 3-5x sehari dan BAK ibu tergolong sedikit- sedikit dengan jenis urin yang keruh. e. Perokok dan pemakai obat-obatan. Tidak ada riwayat perokok maupun pemakai obat- obatan. 2) Pemeriksaan A. Pemeriksaan Umum a. Keadaan umum. Saat dibawa ke rumah sakit ibu dalam keadaan lemah dan tak berdaya serta banyak mengeluarkan darah. b. Kesadaran. Kesadaran ibu composmentis. c. Tekanan darah. Tekanan darah ibu 120/90 mmHg. d. Suhu. Suhu tubuh ibu 36oC (masih dalam batas normal). e. Denyut nadi. Nadi apical cepat dan tidak teratur dalam batas normal (120160 detik per menit) f. Respirasi. 1) Dangkal, tidak teratur, terjadi pernapasan diafragmatik intermiten atau periodic (40-60 kali/menit) 2) Pernapasan cuping hidung, retraksi suprasternal atau substernal, g. Berat badan. Berat badan ibu saat ini adalah 65 kg, naik 15 kg dari awal kehamilan yang hanya 50 kg. h. Tinggi badan. Tinggi badan ibu adalah 160cm. i. Lila. Lingkar lengan atas ibu 23,5 cm. B. Pemeriksaan fisik 1. Kepala

20

a) Rambut : rambut berwarna hitam, tebal dengan distribusi yang merata di kepala. b) Muka : muka terlihat pucat karena ibu terlihat menahan nyeri. c) Mata : Conjungtiva warna pucat, skelera putih. d) Hidung : tidak ditemukan polip e) Telinga : bentuk telingan normal dan keadaan telinga bersih bebas dari serumen. f) Mulut : mulut terlihat kering, bersih dan tidak ada caries maupun karang gigi. 2. Leher Tidak terdapat pembesaran vena jugularis, kelenjar limfe maupun kelenjar tiroid. 3. Dada dan axilla Mamae : pembesaran simetris, areola mammae coklat, puting susu menonjol, colostrum tidak ada. Axilla : tidak ada tumor ataupun nyeri tekan. 4. Ekstremitas Ekstremitas tungkai simetris, edema ada pada ekstremitas bawah. Ada perdarahan pervaginam. C. Pemeriksaan khusus obstetri 1. Inspeksi Terdapat pembesaran abdomen sesuai umur kehamilan dengan striae nigra dan juga linea livide. 2. Palpasi 1) Tinggi fundus uteri Tinggi fundus uteri saat diukur di kartu kehamilan saat periksa seminggu yang lalu adalah 25,5 cm. Berdasarkan kartu kehamilan tersebut juga didapatkan data sebagai berikut: Leopold I : tinggi fundus uteri diatas pusar, bagian pada fundus adalah kepala dengan persentase melenting. Leopod II : bentuk/ posisi janin normal dengan punggung berada di sisi kiri ibu. Leopold III : belum terkaji Leopold IV : belum terkaji 2) HIS / Kontraksi Lama kontraksi adalah sekitar 1,5 jam dengan frekuensi tidak teratur antara 7-10 menit dua kali. 3) Tafsiran berat Berat janin: (TFU-12)x 155= 2092,5cm. 3. Auskultasi i. Lokasi DJJ : 2 jari dibawah pusat disebelah kanan perut ibu. ii. Frekuensi DJJ :135 x/menit b. Perkusi Reflek patella ka/ki : + (positif) D. Pemeriksaan dalam anogenital 1. Perineum : Tidak kaku 2. Dinding Vagina : Cekung

21

No 1

3. Ujung sacrum : Masih teraba 4. Portio : Masih tebal 5. Konsistensi : Lembut 6. Pembukaan : 3 cm 7. Dilatasi serviks : 30% 8. Ketuban : Cairan berkurang 9. Penurunan kepala : Hodge III, 3/5 E. Pemeriksaan penunjang a. Pemeriksaan laboratorium. Hb : 11 gr %, Gol Darah : A, Urine Glukosa : (-), Protein : +2, Alb : 2,5 gr/dl ANALISA DATA Data Etiologi Data subjektif: ibu mengatakan perutnya Partus premature mulas dan terasa nyeri Data objektif : ibu terlihat mengatupkan kontraksi uterus terus menerus rahang, pernapasan cepat dengan cuping hidung dan oto bantu napas, ibu terlihat nyeri akut menekan bagian abdomennya yang terasa nyeri.

Data subjektif: ibu mengatakan bahwa gerakan janin tidak terasa. Data obyektif: DJJ 135x/ menit dan gerakan janin lemah. Data subjektif: ibu bertanya terus tentang keadaan kandungannya. Data objektif: ibu terlihat cemas dan juga sering bertanya kepada petugas tentang tindakan yang dilakukan

Partus premature imaturitas organ bayi risiko tinggi cedera janin Partus premature keluar darah ansietas

DIAGNOSA KEPERAWATAN a. Nyeri akut berhubungan dengan intensitas kontraksi uterus. b. Resti cedera janin berhubungan dengan hipoksia. c. Ansietas berhubungan dengan tidak adanya kemajuan, perasaan gagal, dan kebutuhan akan induksi persalinan INTERVENSI KEPERAWATAN a. Dx. Nyeri akut berhubungan dengan intensitas kontraksi uterus. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x 24 jam dapat menghilangkan nyeri. Kriteria hasil : 1) Tidak terjadi kontraksi

22

Intervensi Kriteria hasil 2. Berikan agen tokolitik 7. Dengan pemberian agen 3. Anjurkan klien untuk tokolitik dapat mengurangi menggunakan teknk kontaksi dan menghilangkan relaksasi. nyeri 4. Tinjau kembali teknik 8. Teknik relaksasi dapat pernapasan. memberikan kenyamanan 5. Anjurkan perubahan posisi. pada klien. 6. Lakukan tindakan untuk 9. Teknik pernapasan juga mengupayakan dapat memberkan kenyamanan. kenyamanan pada klien. 7. Upayakan lingkungan yang 10. Perubahan posisi dapat tenang. lingkungan yang nyaman dan tenang. 11. Kenyamanan dapat mengurangi rasa nyeri yang dirasakan oleh klien. 12. Lingkungan yang tenang dapat meningkatkan koping terhadap nyeri. d. Dx. Resti cedera janin berhubungan dengan risiko ARDS Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x 24 jam tidak terjadi cedera maupun ARDS KH: a. Janin yang meragukan tidak akan terjadi b. Bayi akan lahir dengan selamat. Intervensi Rasional

3. Kaji reaksi denyut jantung Pengkajian akan menentukan (DJJ) terhadap kontraksi kesejahteraan janin, ARDS untuk mendeteksi deselerasi dicegah atau diatasi. atau bradikardi. 4. Jika status janin meragukan, e. Atur posisi maggie miring ke samping. f. Hentikan pemberian oksitosin. g. Tingkatkan IV rumatan. h. Berikan oksigen dan beri tahu dokter. e. Dx. Ansietas berhubungan dengan tidak adanya kemajuan, perasaan gagal, dan kebutuhan akan induksi persalinan. Tujuan: Setelah dilakukan asuhan selama 1x 24 jam ansietas teratasi.. KH:
23

7) Ketakutan dan ansietas tentang serangan vertigo berkurang atau

hilang
8) Mencapai pengetahuan dan keterampilan untuk berkompromi

dengan vertigo
9) Merasakan berkurangnya ketegangan, ansietas dan ketidakpastian 10) Klien mampu memanfaatkan teknik manajemen stres bila

diperlukan 11) Klien mampu menghindari peristiwa yang menjengkelkan. 12) Klien mampu mengulangi instruksi yang diberikan menyebutkan pemahaman mengenai penanganan. Intervensi Rasional 7. Bantu pasien mengidentifikasi keterampilan koping yang telah dilakukan dengan berhasil pada masa lalu.

dan

8.

Beri informasi mengenai vertigo dan penanganannya.

7. Memandukan intervensi terapeutik dan partisipatif dalam perawatan diri, keterampilan koping pada masa lalu dapat mengurangi ansietas. 8. Meningkatkan pengetahuan membantu mengurangi ansietas. 9. Meningkatkan kesadaran dan pemahaman hubungan antara tingkat antietas dan perilaku. 10. Memperbaiki manajemen stress, mengurangi frekwensi dan beratnya serangan fertigo. 11. Situasi penuh stress dapat memperberat gejala kondisi ini. 12. pengetahuan pasien membantu mengurangi ansietas.

9. Dorong pasien mendiskusikan ansietas dan gali keprihatinan mengenai serangan vertigo. 10. Ajarkan pasien teknik penatalaksanaan stress atau lakukan rujukan bila perluh. 11. Beri upaya kenyamanan dan hindari aktivitas yang menyebebkan stress. 12. Instruksikan pasien dalam aspek program pengobatan.

24

BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan Persalinan Preterm adalah persalinan yang terjadi pada kehamilan kurang dari 37 minggu (20-37 minggu) atau dengan berat janin kurang dari 2500 gram. Persalinan premature merupakan penyebab utama terjadinya morbiditas dan mortalitas neonatal di seluruh dunia, yaitu sebesar 60-80%. Di Indonesia angka morbitas pada premature mencapai 19% dan merupakan penyebab utama kematian perinatal. Penyebabnya pun bermacam-macam antara lain KPD (Ketuban Pecah Dini), infeksi, kelainan uterus, vaginosis bakterialis, komplikasi medis dan obstreti serta kelainan atau penyakit sistemis kronis pada ibu seperti DM, jantung maupun hipertensi. 4.2 Saran Melalui makalah ini diharapkan mahasiswa keperawatan dapat memberikan asuhan keperawatan yang tepat dan baik karena telah mengetahui penyebabnya serta cara pencegahan maupun pengobatannya terhadap klien dengan partus premature.

25

DAFTAR PUSTAKA Bobak. Lowdermilk. Jensen. 2004. Keperawaytan Maternitas. Jakarta: EGC Cunningham, F.G. 2005. Obstetri Williams Edisi 21. Jakarta : EGC. Dhina Novi Ariana, S. E. (2011). Faktor Risiko Kejadian Persalinan Prematur. http://jurnal.unimus.ac.id , 1-13. Hani, ummi. Kusbandian, Jiarti. Yulifiah, Rita. 2010. Asuhan kebidanan pada kehamilan Fisiologis. Jakarta: Salemba Medika. Herdman, T. Hearter. 2011. Diagnosis keperaewatan Definisi dan Klasifikasi 2012 2014. Jakarta: EGC. Manuaba, I. B. (1999). Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. Jakarta: Arcan. Nugroho, taufam.2010. Kasus Emergency Bidan. Yogyakarta: Nuna Medika Oxorn, H. (2003). Ilmu Kebidanan Patologi dan Fisiologi Persalinan Human of Labor and Birth. Jakarta: Yayasan Essentia Medica. Saifuddin, A. B. (2002). Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Varney, H. (2007). Buku Ajar Asuhan Kebidanan Edisi 4. Jakarta: EGC. Wijayarini, Maria A. 2005. Buku Ajar Keperawatan Maternitas Edisi 4. Jakarta : EGC.

26